UN 2017 Dihapus, Lalu Apa Gantinya?

- November 27, 2016
Akhir pekan ini dunia pendidikan Indonesia kembali diramaikan dengan berita Menteri Pendidikan yang menghapus Ujian Nasional atau UN tahun 2017. Keputusan tersebut tinggal menunggu instruksi presiden Joko Widodo. Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi program tersebut?. Pelaksanaan UN memang dari tahun sebelumnya banyak menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. 

Lalu jika UN ditiadakan, gantinya apa?. Menteri pendidikan mengungkapkan bahwa ujian akhir nantinya akan dikembalikan ke daerah. Untuk tingkat SMA/SMK akan diatur oleh propinsi sedangkan untuk SD/SMP diatur di tingkat kota/kabupaten. Jadi tetap saja ada ujian to?.

Sebenarnya namanya pendidikan tentu salah satu alat ukur hasil pencapaian siswa adalah dengan ujian tertulis. Hidup saja kan ada ujiannya, masa mengerjakan soal ujian saja takut?. Soal hasil ya ga usah dipikirkan, yang penting kan seberapa besar daya perjuangannya dulu. Saya sebagai pendidik, sampai saat ini masih bingung dengan mental anak-anak Indonesia. Banyak dari mereka yang tidka siap diuji dan ingin cepat lulus. Dengan kata lain mental inlander masih tertanam dalam diri masyarakat kita.

Dalam pelaksanaan ujian pun, tindak kecurangan banyak terjadi dan sampai-sampai distribusi "soal ujian" saja harus dikawal pihak polisi. Nampaknya hal ini cuma ada di Indonesia. Jika mental anak dan guru itu bagus, sebenarnya tidak ada kata takut dalam mengerjakan soal ujian. Toh nilai angka tidak sepenuhnya memengaruhi takdir kesuksesan seseorang. Saya mengamati sejak dulu ada sekolah yang takut nilai anak-anak nya jelek sehingga akan merusak citra sekolah lalu akhirnya mereka membuat kecurangan masif. 

Niat baik untuk menaikan nilai anak malah menghasilkan kejelekan dan dosa. Memang guru-guru kita terlalu baik sampai-sampai tidak enak hati melihat nilai anak-anak jelek. Tapi itulah dunia pendidikan Indonesia saat ini. Kalaupun UN dihapus dan masih ada Ujian Akhir, apakah kecurangan bisa dihindari?. Pendidikan yang hanya berfokus pada nilai angka 0-100 hanya akan membuat anak-anak semakin tertekan. Semoga sekolah di Indonesia semakin baik dalam mengelola mental anak-anak agar tidak takut menghadapi Ujian. Masih banyak ilmu yang lebih penting di sekolah dari sekedar memikirkan skor ujian.
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search