Hati-Hati Makan di Lesehan Malioboro

- June 30, 2017
Sebetulnya saya sedang libur ngblog saat lebaran ini tapi karena tiba-tiba ada inspirasi dari berita tentang lesehan malioboro yang viral. Beberapa media online kini sedang viral oleh berita tentang perlakuan pedagang di sekitaran lesehan Malioboro. Ada beberapa wisatawan yang kaget bukan kepayang saat membeli makanan yang harganya selangit. Saya hanya ingin menambahkan pengalaman saja beberapa tahun kebelakang saat makan di lesehan Malioboro. 

Lesehan di Malioboro memang menjadi salah satu ikon kota Jogjakarta. Setiap liburan tiba, maka lesehan ini selalu penuh oleh wisatawan. Namun anda teta harus berhati-hati memilih lokasi untuk makan karena jangan sampai anda menjadi jengkel bukan main. Kota Jogja memang terkenal dengan keramahannya namun ini tidak berlaku untuk beberapa mahluk di dalamnya.

Tahun lalu saat malam hari saya bersama teman-teman saya singgah di Malioboro dan makan di salah satu lesehan pinggir jalan. Menu yang kami pesan ya sederhana saja yaitu satu porsi ayam goreng dan minumannya. Satu porsi ayam goreng dan es teh kala itu dibanderol dengan harga yang cukup tinggi yaitu sekitar 30 ribuan. Mungkin ini yang termasuk salah satu dari beberapa sifat jelek orang Indonesia yaitu "memanfaatkan situasi". Memang pada saat liburan tiba, pastinya akan banyak wisawatan datang dan ini menjadi ladang uang tersendiri bagi pedagang. Tidak ada salahnya mengambil keuntungan dari kondisi liburan, tapi tetap berdagang juga ada adab nya toh?. Saya sarankan anda tanyakan dulu harga makanan di sana sebelum membelinya, itu hak anda sebagai konsumen tidak apa-apa.
Malioboro di malam hari
Satu hal lagi saat makan di lesehan, sering muncul anak kecil memberikan amplop yag tidak jelas asal usulnya untuk apa kepada pelanggan. Usut punya usut amplop tersebut dibagikan agar diisi uang oleh para pengunjung. Saya cari tahu ke teman ternyata ini adalah sindikat preman sana untuk mencari uang. Luar biadab bukan?, manusia macam apa mencari uang seperti itu. Saya tidak tahu apakah sekarang praktek macam itu masih ada atau tidak. Orang lain cape-cape kerja, ini malah nyodorin amplop aja minta duit seenaknya. Praktek culas seperti ini tentu harus mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Masyarakat harus dididik untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dan halal. Saya asli orang Jogja dan saya berharap pemerintah daerah dapat menata Malioboro agar lebih baik dan nyaman sebenar-benarnya.

Saat ini saya lebih memilih untuk makan di mall saja atau di luar Malioboro karena pengalaman buruk tersebut. Oh ya satu lagi, hati-hati jika anda nyewa becak di sana. Saya bukannya kasihan kepada tukang becak namun sekali lagi bahwa mentalitas manusia harus dibina agar sehat. Saya dulu pernah naik becak keliling-keliling dan singkat cerita ternyata abang-abang becak tersebut sudah join dengan toko-toko di sekitar Malioboro. Saya dipaksa turun untuk membeli salah satu produk oleh-oleh disana supaya ia dapat kupon undian motor. Enak aja, emangnya situ siapa nyuruh saya belanja. Lagi-lagi ini menjadi fenomena yang janggal bagi saya. Kalaupun saya mau membeli sesuatu ya karena butuh bukan karena dipaksa dan ada maunya. Saya dalam hal ini hanya berbagi pengalaman saya saja dan mari kita jaga kenyamanan Jogja dengan baik. Semua bisa dirubah asalkan kita sendiri mau berubah menajdi lebih baik.  
Gambar: tribunjogja
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search