Guru Geografi: Astronomi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 25

Fenomena Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

Fenomena Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

Tanggal 26 Desember 2019 besok akan terjadi gerhana matahari cincin yang bisa disaksikan di beberapa wilayah Indonesia. 

Gerhana matahari adalah fenomena di angkasa yang tidak terjadi setiap saat namun sangat fantastis jika menyaksikan kejadiannya. 

Jadi pastikan kamu bisa mengabadikan fenomena gerhana matahari cincin di penghujung tahun 2019 ini dengan baik.

Bagi yang masih bertanya-tanya, mengapa sih bisa terjadi gerhana matahari dan kok gak setiap hari terjadinya, kali ini saya akan kasih sedikit pemahaman supaya ga terlalu gagap ilmu banget ya gak.
Gerhana matahari cincin
Apa itu Gerhana Matahari?
Gerhana matahari terjadi saat bulan melintas tepat di diantara matahari dan bumi dalam satu garis lurus. Akibatnya bulan menutupi matahari dan wilayah yang tepat berada pada cakrawala tersebut akan gelap lho selama beberapa detik.

Jadi dalam astronomi, gerhana terjadi jika matahari bulan dan bumi berada pada garis lurus atau konjungsi istilahnya. Contoh sederhana kamu bertiga dengan teman kamu berdiri sejajar dalam satu garis, sederhana kan. Nah orbit bulan itu punya kedudukan sekitar 5 derajat dari orbit bumi dan matahari, jadi bulan punya kesempatan hanya 2 kali dalam setahun untuk bisa sejajar dengan orbit bumi dan matahari. 
Bidang orbit bulan
Bayangkan kalau orbit bulan sejajar dengan bumi dan matahari, bisa-bisa tiap hari gerhana. Itulah nikmat dan kasih Tuhan kepada mahluknya dengan sempurna memberikan jalan bagi tiap-tiap benda langit untuk beredar sesuai ketentuan sehingga segala sesuatu tetap dalam keseimbangan.
Jenis gerhana matahari
Tipe Gerhana Matahari
Bayangan bulan memiliki dua bagian yaitu umbra (inti) dan penumbra (samping). Terdapat 3 tipe gerhana matahari menurut posisi umbra dan penumbra tadi yaitu:
1. Total jika semua piringan bulan menutupi penuh matahari
2. Parsial/sebagian jika sebagian piringan matahari yang tertutup bulan
3. Cincin/Annular jika sedikit bagian cahaya matahari terlihat melingkar di sisi luar bulan

Jika terjadi gerhana total maka wilayah yang dilintasi gerhana akan seperti malam hari karena cahaya matahari sepenuhnya terhalang bulan. Tanggal 26 Desember 2019 sudah diramalkan terjadi gerhana matahari cincin jadi kamu akan melihat cincin cahaya disekitar bulan karena ada sedikit bagian matahari tidak tertutupi bulan.

Jangan lupa untuk sholat gerhana bagi yang muslim agar kita senatiasa bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan yang sudah diberikan. Untuk wilayah atau kota di Indonesia yang dilintasi gerhana matahari cincin silahkan cek di IG BKMG
Lokasi pemantauan gerhana matahari cincin di Indonesia

Selasa, Oktober 29

Kelimpahan Unsur Penyusun Jagat Raya

Kelimpahan Unsur Penyusun Jagat Raya

Pernahkah anda memikirkan tentang apa saja sih sebenarnya unsur penyusun alam semesta ini?. Memangnya bisa kita mengetahui komposisi alam semesta yang maha luas?. Unsur penyusun alam semesta dihitung dengan menganalisa cahaya yang dipancarkan dan diserap bintang, awan antar bintang dan objek lain. Tapi semuanya itu hanya prediksi hitungan matematis manusia ya.

Teleskop Hubble miliki NASA telah mempelajari komposisi gas antar galaksi dan menyimpulkan sekitar 75% jagat raya terdiri dari energi gelap yang tentunya memiliki atom berbeda dengan yang biasa kita temui di Bumi.

Jadi simpulannya komposisi alam semesta masih misteri dan kita hanya sebatas bisa melihat nebula, galaksi dan sedikit benda-benda asing lain yang bertebaran di jagat raya. Saat ini unsur terbesar di jagat raya adalah Hidrogen. 

Pada bintang hidrogen mengalami fusi menjadi helium. Bintang raksasa yang ukurannya 8 kali lebih besar dari matahari mensuplai hidrogen lalu helium mengalami fusi menjadi karbon. Karbon mengalami fusi menjadi oksigen yang kemudian mengalami fusi menjadi silikon dan sulfur.
Ledak supernova di alam semesta
Bintang kemudian kehabisan energi dan menjadi supernova dan meledak. Bintang yang kita temui saat ini adalah bukan bintang generasi pertama. Dan matahari pun kini umurnya di level pertengahan dan mengarah ke bintang merah dan mati. Bintang yang baru saja lahir mengandung lebih dari sekedar hidrogen tapi kita kenal dengan C-N-O siklus.

C adalah Carbon, N adalah Nitrogen, O adalah Oksigen. Carbon dan helium dan fusi bersama menjadi oksigen. Hal ini terjadi bukan hanya pada bintang raksasa tapi pada bintang ukuran menengah seperti matahari kita.

Alam semesta mencangkup macrocosmos dan microcosmos. Macrocosmos adalah benda-benda yang memiliki ukuran yang besar, sedangkan macrocosmos adalah benda yang berukuran kecil. Komposisi alam semesta hingga kini masih menjadi perdebatan, namun astronomer meyakini bahwa komposisi materi dan energi di jagat raya adalah:

1.    73% Energi Gelap (Dark Energy)
Sebagian besar alam semesta tersusun atas energi misterius yang belum kita ketahui asal usulnya. Energi gelap mungkin tidak memiliki massa, namun materi dan energi saling terkait.
2.    22% Materi Gelap (Dark Matter)

Merupakan komponen yang tidak memancarkan radiasi dalam berbagai macam spektrum gelombang. Para ahli tidak yakin seperti itu materi gelap namun argumen terbaik saat ini adalah materi gelap ialah substansi yang terdiri dari partikel sebanding neutrinos namun jauh lebih besar.
3.    4% Gas
Sebagian besar gas di alam semesta adalah hidrogen dan helium dan ditemukan diantara bintang. Gas tidak memancarkan cahaya namun dapat menyebar. Gas tidak bisa seterang bintang sehingga para ahli perbintangan menggunakan sinar X, infrared dan teleskop elektron untuk mendeteksi gas di luar angkasa.
4.    0,04% Bintang
Kita mungkin dapat melihat banyak bintang di langit saat malam, namun ternyata bintang yang terlihat banyak hanya persentase kecil dari jagat raya.
5.    0,3% Neutrinos
Merupakan partikel listrik netral yang bergerak seperti kecepatan cahaya.
6.    0,003% Elemen Berat
Hanya sebagian kecil dari alam semesta terdiri dari elemen yang lebih berat daripada hidrogen dan helium. Seiring waktu persentase ini akan tumbuh.

Kamis, Februari 8

Teori Asal Mula Jagat Raya Big Bang dan Keadaan Tetap

Teori Asal Mula Jagat Raya Big Bang dan Keadaan Tetap

Berbagai teori tentang pembentukan jagat raya dipelajari dalam ilmu yang dinamakan kosmologi. Albert Einstein merupakan ahli kosmologi modern pertama. 

Pada tahun 1915 ia menyempurnakan tentang teori umum relativitas yang kemudian diterapkan pada pendistribusian zat di ruang angkasa. 

Teori relativitas umum yang dikemukanan Enistein menginspirasi banyak ilmuwan lainnya termasuk Alexander Friedman yang merupakan fisikawan asal Rusia. Friedman menghasilkan model berdasarkan persamaan matematis yang Einstein tulis tentang evolusi alam semesta.

George Lemaitre seorang astrofisika berkebangsaan Belgia mengajukan teori bahwa alam semesta bermula dari  suatu atom purba tunggal bersifat panas dan padat yang kemudian meledak keluar. 

Teori ini akhirnya dikenal sebagai teori ledakan besar Big Bang. Pada tahun 1940an George Gamow ahli fisika Rusia-Amerika, merupakan salah satu pendukung teori ledakan besar. Dia menyatakan bahwa jika suatu ledakan besar telah terjadi pada pembentukkan alam semesta maka peristiwa itu akan menyisakan pijar susulan berupa jejak-jejak radiasi kosmis.

Pda tahun 1965, dua fisikawan bernama Arno Penzias dan Robert Wilason melakukan pencarian sinyal gelombang radio dari bagian tepi Galaksi Bima Sakti. 

Dalam percobaan itu secara tidak sengaja mereka menemukan sisa-sisa gelombang mikro yang diperkirakan Gamow. Hal ini menjadi salah satu bukti terjadinya ledakan besar pada pembentukkan alam semesta.
Teori Asal Mula Jagat Raya Big Bang dan Keadaan Tetap
Galaksi spiral di jagat raya
Pada tahun 1929, Edwin Hubble seorang astronom mengemukkan bahwa berbagai galaksi sebenarnya menjauhi kita, dengan kecepatan sampai beberapa ribu km per detik. 

Galaksi-galaksi tersebut termasuk Bima Sakti senantiasa menjaga keutuhan bentuk internalnya dalam waktu lama. 

Galaksi tersebut mengarungi ruang angkasa secara sendiri-sendiri seperti partikel yang bergerak mengarungi ruang angkasa. Hasil pengamatan Hubble merupakan bukti-bukti ledakan besar.

Teori Keadaan Tetap
Seorang astronom Inggris Fred Hoyle bersama Herman Bundi dan Thomas Gold mengajukan teori lain yaitu Keadaan Tetap. Teori ini menjelaskan bahwa jagat raya tidak bersifata sama dalam ruang angkasa, namun juga tiak berubah dalam waktu. 

Jadi asas kosmologi diperluas sedemikian rupa sehingga menjadi sempurna atau lengkap dan tidak bergantung pada peristiwa sejarah tertentu. Teori ini berlwanan dengan ledakan besar. Dalam teori ledakan besar, ruang angkasa berkembang menjadi lebih kosong ketika berbagai galaksi saling menjauh. 

Dalam teori keadaan tetap, terdapat anggapan bahwa zat bar selalu diciptakan dalam ruang angkasa diantara berbagai galaksi sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan galaksi yang menjauh. Para ahli astonomi mengatakan bahwa zat baru itu adalah hidrogen yaitu sumber yang menjadi asal usul bintang dan galaksi.

Pembentukan zat di ruang angkasa yang kosong itu diterima dengan skeptis oleh para ahli karena hal itu melanggar salah satu hukum fisika yaitu kekekalan zat. Zat tidak dapat dihilangkan dan diciptakan namun hanya dapat diubah menjadi energi. 

Sebaliknya sulit pula untuk menyanggah secara langsung proses pembentukkan zat itu karena menurut teori keadaan tetap, laju pertumbuhan zat sangat lambat yaiut satu atom setiap satu milyar tahun dalam satu volume luar angkasa. 

Baca juga: Soal Titik Henti dan cara menjawabnya
Gambar: disini

Senin, Januari 8

Konsep Jagat Raya Mengembang

Konsep Jagat Raya Mengembang

Pada awal abad ke 20  dunia ilmu pengetahuan dikejutkan dengan penemuan-penemuan baru diantaranya teori kuantum Planck, teori relativitas Einstein dan teori model penyusutan atom Rutherford. 

Kemudian muncul model kosmologi baru yang diciptakan oleh Einstein, de Sitter, Lemaitre dan Tolman yang mengatakan bahwa alam semesta berdimensi empat, melengkung, tak terbatas dan mengembang. 

Dengan mengamati letak garis-garis panjang gelombang cahaya dalam spektrum elektromagnetik sebuah galaksi, kemudian dibandingkan dengan garis-garis acuan pada spektrum elektromagnetik dari sebuah benda tak bergerak di Bumi maka akan diketahui gerak galaksi itu.

Jika galaksi memiliki inklinasi dengan garis pandangan yang bersudut kurang dari 90 derajat berarti satu sisi sedang bergerak menjauhi pengamat dan garis-garis spektrum dari bagian ini berpindah menuju bagian warna merah pada spektrum elektromagnetik. 

Sisi yang lain sedang mendekat dan garis-garisnya berpindah menuju bagian warna biru dari spektrum gelombang elektromagnetik. Efek ini dinamakan Efek Doppler dan ditemukan seorang ahli fisik Austria, Christian Doppler.
Konsep Jagat Raya Mengembang
Lengan galaksi dilihat dari bumi
Perkiraan bahwa galaksi-galaksi menjauhi bumi digunakan sebagai bukti teori jagat raya mengembang. Teori jagat raya mengembang artinya jagat raya dimulai dengan sebuah ledakan hebat dan sampai sekarang terus mengembang. 

Namun kebenaran teori ini pada dasarnya masih belum kuat karena adanya pandangan dari sejumlah astronom yang meragukan kebenaran efek Doppler dan memandang bahwa pergeseran mendekati warna merah pada garis-garis spektrum galaksi mugkin saja disebabkan oleh efek lain selain galaksi.

Meski begitu, teori ini tetap diterima karena penjelasan Doppler paling sesuai dengan anggapan bentuk jagat raya saat ini. Jagat raya mungkin saja sedang mengembang. Apalagi saat ini bermunculan teori-teori pendukungnya seperti teori gaya repulsi kosmis. 

Tidak seperti gaya gravitasi yang menyebabkan benda-benda langit tarik-menarik satu sama lain, gaya repulsi kosmis justru membuat benda-benda langit saling tolak-menolak. Jika gaya gravitasi lebih besar dari gaya repulsi kosmis, benda langit akan saling mendekat dan ruang angkasa menyusut. 

Sebaliknya jika gaya repulsi kosmis lebih besar dari gravitasi, maka ruang angkasa akan memuai. Pada beberapa galaksi spiral seperti Andromeda, Bima sakti, gaya gravitasi di antara keduanya lebih besar dari gaya tolaknya.

Selain itu pemancaran kabut-kabut ekstragalaksi dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan jaraknya merupakan petunjuk bahwa alam semesta memuai. Kecepatan kabut-kabut ekstra galaksi dan jaraknya sampai ke bumi dapat diketahui bahwa kecepatan bertambah 550 km/detik untuk tiap pertabahan jarak 1 megaparsek (3,262 juta tahun cahaya). 

Gambar: disini

Jumat, November 24

Pandangan Geosentris dan Heliosentris

Pandangan Geosentris dan Heliosentris

Sejak jaman dahulu manusia telah meneliti tentang pergerakan benda-benda langit di angkasa. Berbagai perdebatan muncul seiring dengan munculnya teori-teori baru tentang bagaimana gerakan benda langit yang benar. 

Dari semua pandangan tentang gerakan benda langit, pandangan geosentris dan heliosentris adalah yang paling terkenal. 

Kita tahu sekarang bahwa planet merupakan salah satu benda langit di tata surya ini. Namun bagaimana sebenarnya gerakan planet dan benda langit lainnya?. Baca juga: Ciri masyarakat desa menurut Parson

a. Pandangan Geosentris
Geosentris  merupakan sebuah sebuah paham yang menyatakan bahwa bumi meurpakna pusat tata surya. Teori ini dikemukakan oleh Ptolomeus dalam bukunya Almagest

Ia menyatakan bahwa semua benda langit bergerak mengelilingi sebuah titik yaitu Bumi. Pandangan ini diperoleh dari hasil pengamatan terhadap gerak semu matahari harian. Teori ini awalnya didukung oleh Socrates, Aristoteles dan Amazimandaros.

Pentingnya fenomena ini mengakibatkan kebudayaan Yunani kuno sangat ditentukan oleh keberadaan benda langit disekitarnya khususnya dalam penamaan hari, minggu dan tahun. Namun tidak semua orang Yunani percaya bahwa bumi berada di tengah. 

Aristrachus of Samos dikatakan NASA merupakan orang pertama yang tahu bahwa matahari berada di tengah alam semesta. Dia mengusulkannya pada abad ketiga sebelum masehi namun tidak begitu diperhatikan. Baca juga: Beda Arktik dan Antartika
Pandangan Geosentris dan Heliosentris
Geosentris dan heliosentris
b. Pandangan Heliosentris
Di bada pertengahan, para astronom Eropa menghadapi berbagai maslaah seperti gerhana yang tidak akurat hitungannya, pelaut yang perlu navigasi saat berlayar, kalender Julius yang tidak akurat saat Ekuinoks terjadi, dan masalah hari libut keagamaan yang tidak tepat sehingga revolusi astronomis mulai berkembang. Baca juga: Terbentuknya gurun pasir di bumi

Pandangan Heliosentris dipopulerkan oleh Copernicus pada 1543 yang menganggap matahari sebagai pusat tata surya dan semua benda langit mengelilingi matahari. Tentu ini teori yang bertentangan dengan geosentris dan menjadi sebuah kehebohan pada masanya. 

Dengan alat sederhana kala itu, Copernicus mempelajari gerakan matahari, planet dan bintang sampai pada kesimpulan bahwa dengan menempatkan matahari di tengah tat asurya dalam keadaan diam maka perhitungan benda langit akan lebih mudah. Teori ini punya kelemahan yaitu menyebutkan bahwa orbit planet adalah bulat bukan elips. 

Penyempurnaan teori ini dibahas oleh Johannes Kepler yang menghasilkan 3 hukum Kepler tentang gerakan benda langit. Mau tahu isi hukum Kepler?. Silahkan cek di artikel 3 Hukum Kepler dan penjelasannya.
Gambar: disini

Rabu, Oktober 11

Fenomena Perigee, Apogee, Sideris dan Sinodis

Fenomena Perigee, Apogee, Sideris dan Sinodis

Bulan merupakan satelit alami Bumi sehingga ia tentu bergerak mengitari bumi atau berevolusi. Ada beberapa fenomena yang terkait dengan pergerakan bulan ini yaitu perigee, apogee, sideris dan sinodis. 

Adapun gaya yang menyebabkan bulan bergerak mengitari bumi adalah gaya gravitasi bumi yang bekerja pada bulan. Arah revolusi bulan adalah arah timur. 

Bidang orbit bulan membentuk sudut 5 derajat (inklinasi 5 derajat) terhadap ekliptika bumi. Inklinasi adalah sudut bidang orbit bumi terhadap bidang orbit benda langit lainnya.

Sambil berevolusi dengan arah timur mengitari bumi, bulan juga berotasi dengan arah timur terhadap posisinya sendiri. Gerak bulan yang ketiga tentu saja gerak bulan bersama planet bumi sebagai induknya mengitari matahari.

Mengapa muka bulan yang terlihat hanya sebagian saja alias tetap dari Bumi?
Kamu mengetahui periode revolusi bumi kira-kira 365,25 hari dan periode rotasinya kira-kira 24 jam. 

Karena periode revolusi dan periode rotasi bumi tidak sama, maka seandainya kamu memandang bumi dari mars maka muka bumi yang meghadap mars selalu bergantian. Namun bulan memiliki sifat unik karena periode revolusi bulan sama dengan periode rotasinya yaitu 27,3 hari. 

Artinya sat kali bulan mengitari bumi maka satu kali juga bulan mengitar bumi. Ini menyebabkan muka bulan yang menghadap kita selalu separuh bagian saja. Separuh bagian lainnya selalu membelakangi bumi.
Fenomena Perigee, Apogee, Sideris dan Sinodis
Fase perubahan bulan
Apa itu perigee dan apogee?
Orbit bulan mengitari bumi tidaklah bulat sempurna namun elips yang hampir bulat. Ini menyebabkan jarak bulan dari bumi berubah sedikit selama bulan revolusi. Pada suatu masa bulan berada pada jarka paling dekat dengan bumi atau disebut perigee. 

Pada satu waktu, bulan juga berada paling jauh dengan bumi dan disebut apogee. Jarak paling dekat bulan dan umi adalah 384.400 km dan jarak paling jauh adalah 406.700 km.

Apa itu bulan sideris dan sinodis?
Ada dua macam periode rotasi bulan yaitu periode sideris dan sinodis. Periode sideris adalah periode rotasi bulan dengan mengacu ke suatu bintang jauh selain matahari. Satu bulan sideris kira-kira 27,3 hari. 

Periode sinodis adalah periode rotasi bulan dengan mengacu pada matahari. Satu bulan sinodis adalah selang waktu yang dipelrukan bulan untuk berevolusi 360 derajat mengitari matahari. Satu bulan sinodis atua komariah kira-kira 29,5 hari. Bulan sinodis adalah bulan berdasarkan perubahan fase bulan. Baca juga: Teori terbentuknya jagat raya

Gambar: disini

Selasa, Oktober 10

Fakta Tentang Permukaan Bulan

Fakta Tentang Permukaan Bulan

Sejak zaman dulu Bulan telah mempesonakan umat manusia. Ada yang mengibaratkan Bulan sebagai wajah wanita cantik, ada pula peribahasa bagai pungguk merindukan bulan.

Namun teknologi telah menguak bagaimana sejatinya bentuk bulan. Muka bulan yang menghadap ke bumi selalu sama kira-kira separuh bagian. Separuh bagian lagi selalu membelakangi bumi sehingga tidak pernah kita lihat. 

Saat bulan purnama kamu akan melihat bagian-bagian halus, datar dan agak gelap. Bagian ini disebut mare atau laut dalam bahasa latin karena dulu diperkirakan adalah samudera. Bidang gelap inilah yang kadang terkesan seperit bentuk wajah manusia.

Pada permukaan bulan terdapat ribuan kawah yang dihasilkan oleh hantaman meteor yang masuk ke permukaan bulan. Ini disebabkan bulan tidak punya atmosfer yang bisa menghancurkan batu meteor yang masuk ke bulan.
Permukaan bulan bopeng oleh hantaman meteor
Bulan punya garis tengah 350 km dan memiliki besar 1/4 Bumi. Jarak bumi ke bulan kira-kira 380.000 km. Mengapa oleh manusia, bulan tampak hampir sama besarnya dengan matahari?. Ini karena faktor jarak bulan yang lebih dekat dengan bumi. Bandingkan dengan jarak matahari yang mencapai 150 juta km dari bumi.

Bulan bersinar dan terlihat oleh kita terutama di malam hari. Bulan bercahaya karena mendapatkan pantulan dari matahari, jadi bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri. Bulan adalah satelit alami Bumi. 

Bulan bisa beredar dekat bumi karena pengaruh gravitasi bumi. Bulan memiliki gravitasi dan berpengaruh terhadap kehidupan di Bumi seperti gerhana dan pasang laut.

Gravitasi bulan kira-kira 1/6 kali gravitasi bumi dan jumlah ini terlalu lemah untuk dapat mengikat atmosfernya sehingga di bulan tidak tercipta atmosfer. Tidak adanya atmosfer di bulan menyebabkan terjadinya fenomena berikut:

1. Suhu permukaan bulan dapat berubah sangat cepat
Lapisan-lapisan atmosfer di bumi berfungsi menyaring dan mengatur sinar matahari yang mengenai dan yang dipantulkan oleh permukaan bumi, sehingga suhu di pemrukaan bumi tidak berubah dengan ekstrim. 

Karena di bulan tidak ada atmosfer maka suhu pada bagian yang terkena matahari bisa mencapai 100 derajat Celcius sementara suhu di bagian yang tidak kena matahari bisa mencapai -173 derajat Celcius.

2. Bunyi tidak dapat merambat di bulan
Untuk dapat merambat, gelombang bunyi memerlukan medium seperti udara. Karena di bulan tidak ada medium ini maka suara tidak dapat merambat disana. Ini menyebabkan bulan adalah tempat yang sangat sunyi.

3. Langit di bulan tampak hitam kelam
Langit di bumi tampak biru karena adanya debu-debu angkasa yang menghamburkan sinar matahari dan yang paling banyak dihamburkan adalah gelombang pendek warna biru. 

Bulan tidak punya atmosfer hingga mustahil terjadi penghamburan sinar. Ini menyebabkan tidak ada spektrum sinar matahari yang tercipta sehingga langit bulan selalu tampak gelap hitam kelam oleh pengamat di bumi.

4. Tidak mungkin ada kehidupan
Atmosfer bulan berfungsi mengatur siklus udara dan siklus air. Bulan tidak memilikii atmosfer sehingga di Bulan tidak tersedia udara dan air. Maka tidak mungkin ada kehidupan terbentuk secara alami kecuali ada rekayasa tingkat tinggi.
Gambar: disini

Selasa, September 19

Hipotesa Terjadinya Bumi dan Tata Surya

Hipotesa Terjadinya Bumi dan Tata Surya

Bumi ni sudah terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun lalu, namun bagaimana sebenarnya Tata Surya dan Bumi ini terbentuk. 

Ada beragam hipotesa tentang terjadinya bumi dan tata surya. Berikut ini 5 hipotesa tersebut:

1. Hipotesa Kabut
Hipotesa ini dinamakan juga solar nebula dan menjadi hipotesa paling tua dan terkenal. Hipotesis untuk dikemukakan oleh Imanuel Kant (1724-1804) seorang filsuf asal Jerman.

Menurutnya dahulu di jagat raya ini ada gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan. Bagian tengah kabut itu lama-lama menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari dan bagian kabut sekitarnya menjadi padat (planet dan satelitnya).

2. Hipotesa Planetesimal
Seorang ahli geologi dan ilmuwan Amerika bernama Thomas C. Chamberlain (1843-1928) melakukan penelitian yaitu The Origin of the Earth pada 1916. 

Menurut teori ini, matahari telah ada sebagai salah satu bintang di alam semesta. Pada suatu masa, ada sebuah bintang yang mendekat dan berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh. 

Akibatnya terjadi peristiwa pasang naik pada permukaan matahari maupun bintang. Sebagian dari massa matahari itu tertarik ke arah bintang. Pada saat bintang menjauh sebagian massa matahari jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi bertebaran di angkasa sekitar matahari. 

Materi yang bertebaran ini lah yang dinamakan planetesimal yang kemudian menjadi planet dan beredar di orbitnya.
Hipotesa Terjadinya Bumi dan Tata Surya
Nebula di alam semesta src: pixabay
3. Hipotesa Pasang Surut Bintang
Pada 1917 sarjana Inggris, James Jeans (1877-1946) dan Herald Jeffries mengeluarkan hipotesa tidal James-Jeffries. 

Menurut hipotesa ini pada suatu saat sebuah bintang yang hampir sama besarnya dengan matahari melintas dekat matahari. Hal ini menimbulkan gaya pasang pada matahari. Pasang ini berbentuk seperti cerutu yang sangat besar. 

Bentuk cerutu yang sangat besar ini kemudian bergerak mengelilingi matahari dan mengalami perpecahan menjadi sejumlah butiran tetesan kecil. 

Butir-butir tetesan yang terbesar diantaranya karena daya tariknya dapat menarik butir-butir yang kecil sehingga akhirnya membentuk gumpalan sebesar planet yang ada sekarang.

4. Hipotesa Ledakan Bintang
Seorang astronom Inggris Fred Hoyle (1956) berpendapat kemungkinan matahari memiliki teman sebuah bintang lain yang pada mulanya berevolusi satu sama lain. 

Ada juga diantaranya yan memadat dan mungkin terjebak ke dalam orbit matahari. Banyak bintang yang meledak mennjadi supernova ditemukan oleh NASA. 

5. Hipotesa Kuiper
Astronom Gerard P. Kuiper (1905-1973) mengemukakan bahwa alam semesta tersusun atas formasi bintang-bintang. Menurut dia, dua pusat awan yang memadat berkembang dalam suatu awan antarbintang dari gas hidrogen. 

Pusat yang satu lebih besar daripada pusat yang lainnya dan kemudian memadart menjadi bintang tunggal yaitu matahari. Kejadian berikutnya kabut menyelimuti pusat yang lebih kecil yang disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik dari massa yang lebih besar. 

Gaya ini menyebabkan awan yang lebih kecil terpecah pecah menjadi awan lebih kecil lagi dan disbeut protoplanet. Setelah periode waktu yang lama protoplanet itu menjadi planet yan ada sekarang ini. 

Jika kedua awan itu punya ukuran yang sama maka akan membentuk bintang ganda. Formasi bintang ganda sering terjadi di alam semesta. 

Saat matahari memadat matahari akan menjadi begitu panas sehingga sebagian besar energi matahari dipancarkan. 

Energi itu cukup kuat untuk mendorong gas-gas yang lebih terang seperti hdrogen dan helium dari awan ayng menyelubungi protoplanet yang paling dekat matahari.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close