Guru Geografi: Bencana Alam | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 10

Bencana Banjir Bandang di Sumatra Salah Manusia

Bencana Banjir Bandang di Sumatra Salah Manusia


Dalam kamus keilmuan, terminologi bencana dan fenomena alam adalah dua hal berbeda namun manusia tidak banyak memahaminya. Bumi ini dibangun dari perpaduan sistem endogen dan eksogen yang berkesiambungan.

Sejak awal pembentukkannya, dari mulai zaman Arkaekum, Paleozoikum, dan lainnya lingkungan terlebih dahulu terbentuk dari mulai entitas kecil, vulkanisme awal, vegetasi awal hingga terbentuk kehidupan modern sekarang.

Tuhan menyiapkan lingkungan terlebih dahulu sebelum manusia modern dapat hidup dan berkembang hingga saat ini. Lingkungan telah berproses lama, artinya memiliki hukum-hukum kaidah tertentu yang jika itu dilanggar maka mereka akan lebih galak membalas.

Erosi, sedimentasi, hujan ekstrem contohnya adalah mekanisme alami bumi dalam rangka menjaga keseimbangannya. Manusia sudah seharusnya mengikuti aturan ini jika ingin selamat. Prinsip fisis determinisme adalah suatu hal yang pakem. 

Masyarakat lokal adat di beberapa wilayah nusantara masih menganut pedoman ini sehingga relatif aman dari bencana besar seperti banjir bandang alias tsunami air tawar di Sumatra.

Man ecological dominant, inilah yang menjadi masalah dari semua masalah ekologis. Lahan-lahan vegetasi heterogen di sepanjang pegunungan Bukit Barisan disulap jadi perkebunan sawit demi syahwat ekonomi.

Hutan hujan dengan segala macam substrat di dalamnya menopang keseimbangan di kala cuaca ekstrem tiba, kini hilang sehingga air akan dengan mudah menghempaskan area di sepanjang daerah aliran sungai.

Manusia dengan kesombongannya melawan hukum alam yang sudah milyaran tahun lalu terbentuk. Akui saja kita tidak menghormati leluhur mahluk, sehingga jangan salahkan jika bencana terjadi dan kedepannya akan terus terjadi.

Sabtu, November 26

Ayat-Ayat Quran Tentang Bencana Alam [Gempa, Tsunami, Erupsi, Longsor, Hujan Batu]

Ayat-Ayat Quran Tentang Bencana Alam [Gempa, Tsunami, Erupsi, Longsor, Hujan Batu]


Sepanjang sejarah peradaban manusia di bumi, berbagai kejadian alam sering terjadi menimpa suatu bangsa/kaum tertentu.

Contohnya adalah banjir di zaman Nabi Nuh, kekeringan di masa Firaun, hingga bencana alam yang meluluhlantahkan kaum nabi Luth.

Semua fenomena alam tersebut adalah bagian dari teguran atau azab Allah terhadap kaum atau bangsa yang ingkar dan tidak mau patuh terhadap perintah Allah.

Secara ilmu pengetahuan, fenomena alam dapat dijelaskan mekanismenya. Namun jauh di balik itu semua ada aspek lain yang perlu dipahami jika bencana terjadi yaitu bisa jadi kita sudah jauh dari tuntunan Al Quran.

Semua sudah jelas di Quran bahwa bencana itu adalah akibat dari perilaku manusia yang kufur nikmat dan melampaui batas.

Fenomena geosfer yang sering dipelajari dalam geografi hendaknya dipadukan dengan ayat-ayat Quran agar terdapat koneksi yang mengarah pada ketahuhidan.

Dosa-dosa manusia membuat keseimbangan bumi semakin goyah sehingga Allah menjadi murka dan memberikan azab di dunia ini.

Berikut ini beberapa ayat Quran tentang kejadian bencana yang perlu kita renungkan agar semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah.

1. Q.S Al Baqoroh 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,

2. Q.S Ar Rum 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

3. Q.S Al Ankabut 40
فَكُلًّا اَخَذْنَا بِذَنْۢبِهٖۙ فَمِنْهُمْ مَّنْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ اَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ ۚوَمِنْهُمْ مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْاَرْضَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اَغْرَقْنَاۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Masing-masing (dari mereka) Kami azab karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan angin kencang (yang mengandung) batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Tidaklah Allah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.

4. Q.S Fushilat 16
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا صَرْصَرًا فِيْٓ اَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ لِّنُذِيْقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَخْزٰى وَهُمْ لَا يُنْصَرُوْنَ
Maka, Kami mengembuskan angin yang sangat dingin dan bergemuruh kepada mereka selama beberapa hari yang nahas karena Kami ingin agar mereka merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sungguh, azab akhirat lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan.

5. Q.S Al Araf 130
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan) kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran.

6. Q.S Adz Dzariyat 41
وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.

7. Q.S Adz Dzariyat 44
فَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ
Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya). (Kaum Samud)

8. Q.S Al Hijr 74
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ
Maka, Kami menjungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami menghujani mereka dengan tanah yang membatu. (Kaum Luth)

Rabu, November 23

Penyebab Gempa Cianjur Sangat Merusak dan Banyak Korban Jiwa

Penyebab Gempa Cianjur Sangat Merusak dan Banyak Korban Jiwa

Gempa bermagnitudo 5,6 skala Richter yang mengguncang wilayah Cianjur kemarin mengakibatkan kerusakan parah terutama disekitar pusat episentrum gempa.

Hingga hari ini tercatat ada 270 korban jiwa yang terdata oleh pemerintah dan angka ini berpotensi bertambah karena masih banyak keluarga yang melaporkan kehilangan anggota di bawah reruntuhan.

Jika kita lihat di berita dan media sosial, banyak rumah-rumah dan bangunan runtuh, jalanan terangkat dan longsor terjadi di jalan raya Puncak-Cianjur.

Lalu mengapa gempa darat kemarin begitu sangat merusak dan dampaknya besar?. Ada setidaknya dua faktor yang menyebabkan kondisi tersebut.

Faktor pertama adalah kondisi fisiografis wilayah episentrum gempa adalah wilayah perbukitan dengan kondisi topografi perbukitan dengan jenis tanah dominan vulkanik.

Tanah vulkanik adalah tanah hasil endapan erupsi gunung api. Umumnya tanah vulkanik ini tergolong jenis tanah muda sehingga memiliki butir yang halus.

Saat manusia membangun sebuah pemukiman atau bangunan di atas tanah vulkanik maka ketika getaran seismik terjadi, butiran tanah halus tersebut akan memperbesar tingkat kerusakan fondasi bangunan karena sifatnya belum begitu kokoh, daya ikat antar butir lemah.

Itulah mengapa banyak bangunan roboh dan tanah di sekitarnya terangkat, bisa dilihat di gambar di bawah ini. Panah atas menunjukkan rumah yang terangkat fondasinya, sementara panah kedua menunjukkan kondisi jalan yang terbelah dan amblas.
Kerusakan parah gempa Cianjur

Tanah vulkanik berbutir halus tidak kompak

Selanjutnya faktor yang mengakibatkan banyak bangunan roboh dan mengakibatkan korban jiwa adalah struktur bangunan yang tidak sesuai desain tahan gempa. Sebenarnya contoh bangunan tahan gempa adalah bangunan rumah adat Sunda tipe panggung pendek dengan konstruksi atap ijuk dan dinding bukan beton (bisa anyaman bambu atau kayu).

Akan tetapi saat ini filosofi pembangunan rumah tradisional sudah ditinggalkan masyarakat jadi akibatnya saat gempa terjadi maka rumah tidak akan kokoh. Masyarakat Sunda sejak dahulu sudah memiliki filosofi dan visi dalam membangun rumah.

Sama dengan masyarakat adat suku-suku lain di Indonesia, membangun rumah membutuhkan filosofi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Jika diadaptasi dengan bahan modern tentu pembangunan rumah tahan gempa akan membutuhkan biaya lebih mahal dibandingkan konstruksi standar biasa. Jadi pilihan sekarang ada di tangan pemerintah dan masyarakat, apakah akan terus menambah korban di masa depan atau mencoba untuk mencari solusi agar masyarakat dapat membangun rumah tahan gempa dengan biaya yang bisa ditekan.

Indonesia khususnya Jawa berada di zona rawan gempa jadi masyarakat di semua wilayah yang terutama dekat patahan/sesar harus waspada tingkat tinggi. Gempa adalah fenomena yang tidak bisa diprediksi, jika terjadi berlangsung cepat dan potensi melarikan diri sempit.

Jadi satu-satunya cara adalah mencoba membuat bangunan rumah yang strukturnya tahan gempa agar meminimalisir terjadinya runtuhan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Selasa, Mei 10

Bencana Geologi: Jenis-Jenis Bahaya Gunungapi

Bencana Geologi: Jenis-Jenis Bahaya Gunungapi

Gunungapi adalah salah satu fenomena alam yang memiliki ancaman bahaya bagi kehidupan. Bahaya Erupsi Gunungapi adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan/kegiatan gunungapi, berupa benda padat, cair dan gas serta campuran diantaranya yang mengancam atau cenderung merusak dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda dalam tatanan (lingkungan) kehidupan manusia.

Indonesia memiliki ratusan gunung api aktif di sepanjang batas subduksi lempeng seperti Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku. Gunungapi tersebut terbagi menjadi tipe A, B, C menurut sejarah letusannya.

Dampak letusan gunungapi terhadap lingkungan:
Dampak Negatif:
Bahaya langsung, terjadi pada saat letusan (lava, awan panas, jatuhan piroklastik/bom, lahar letusan dan gas beracun).

Bahaya tidak langsung, terjadi setelah letusan (lahar hujan, kelaparan akibat rusaknya lahan pertanian/perkebunan/ perikanan), kepanikan, pencemaran udara/air oleh gas racun: gigi kuning/ keropos, endemi gondok, kecebolan dan sebagainya.

Dampak Positif :
Bahan galian: seperti batu dan pasir bahan bangunan, peralatan rumah tangga,patung, dan lain lain.
Mineral : belerang, gipsum,zeolit dan juga mas (epitermal gold).
Energi panas bumi: listrik, pemanas ruangan, agribisnis
Mataair panas : pengobatan/terapi kesehatan.
Daerah wisata: keindahan alam
Lahan yang subur: pertanian dan perkebunan
Sumberdaya air: air minum, pertanian/peternakan, irigasi dan lainnya.

Berikut ini jenis-jenis bahaya gunung api
1. Awan panas
Awan Panas : Kecepatan sekitar 60 – 145 km/jam, suhu tinggi sekitar 2000 – 800oC, jarak dapat mencapai 10 km atau lebih dari pusat erupsi, sehingga dapat menghancurkan bangunan, menumbangkan pohon-pohon besar (pohon-pohon dapat tercabut dengan akarnya atau dapat terpotong pangkalnya).

Awan panas “Block and Ash Flow” arahnya mengikuti lembah; sedangkan awan panas “Surge” pelamparannya lebih luas dapat menutupi morfologi yang ada di lereng gunungapi sehingga daerah yang rusak/hancur lebih luas.

2. Guguran Longsoran Lava
Guguran atau longsoran lava pijar pada erupsi efusif, sumbernya berasal dari kubah lava atau aliran lava. Longsoran kubah lava dapat mencapai jutaan meter kubik sehingga dapat menimbulkan bahaya. Guguran kubah lava dapat membentuk awan panas. 

Contoh : G. Merapi – Jawa Tengah, G. Semeru – Jawa Timur. Jatuhan Piroklastik; Lemparan Bom yang di sebabkan oleh erupsi eksplosif dapat merusak/menghancurkan, menimbulkan korban manusia, menimbulkan kebakaran (hutan atau bangunan).
Guguran abu piroklastik
3. Lontaran Batuan Pijar
Pecahan batuan gunungapi, berupa bom atau bongkah batu gunungapi yang dilontarkan saat gunungapi meletus. Dapat menyebar kesegala arah. Dapat menyebabkan kebakaran hutan, bangunan dan kematian manusia, termasuk hewan.

4. Hujan Abu
Hujan material jatuhan yang terdiri dari material lepas berukuran butir lempung sampai pasir. Dapat menyebabkan kerusakan hutan dan lahan pertanian. Dapat meninggikan keasaman air. Dapat menyebabkan sakit mata dan saluran pernapasan. Pada saat hujan abu sebaiknya orang berlindung dibawah bangunan yang kuat serta memakai kacamata dan masker. Atap bangunan yang tertutup endapan abu harus segera dibersihkan.

5. Aliran Lava
Karena suhunya yang tinggi (700⁰C), volume lava yang besar, berat, sehingga aliran lava mempunyai daya perusak yang besar, dapat menghancurkan dan membakar apa yang dilaluinya.
Aliran lava
6. Lahar.
Kecepatan aliran lava sangat lamban antara 5–300 meter/hari, Kecepatannya tergantung dari viskositas dan kemiringan lereng. Manusia dapat menghindar untuk menyelamatkan diri. Lahar dapat dibedakan menjadi 2 jenis, lahar letusan dan lahar hujan.

Lahar letusan : Lahar ini terjadi akibat letusan eksplosif pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Luas daerah yang dilanda oleh lahar letusan tergantung kepada volum air di dalam kawah dan kondisi morfologi di sekitar kawah. Makin besar volum air di dalam kawah dan makin luas dataran daerah sekitarnya, maka makin jauh dan makin luas pula penyebaran laharnya.

Lahar hujan : Lahar hujan : lahar yang terbentuk akibat hujan. Bisa terjadi segera setelah gunungapi meletus atau setelah lama meletus. Faktor yang menentukan besar kecilnya lahar hujan adalah volume air hujan (curah hujan) yang turun diatas daerah endapan abu gunungapi dan volume endapan gunungapi yang mengandung abu sebagai sumber material pembentuk lahar. Di G. Merapi, curah hujan 70 mm/jam selama 3 jam mengakibatkan terjadinya lahar. Contoh lahar hujan yang terkenal adalah: G. Semeru, G. Merapi, G. Agung, juga G. Galunggung.
Aliran lahar gunung api

Minggu, Mei 8

Bahaya Mengintai Wisata Air Sungai, Danau dan Pantai

Bahaya Mengintai Wisata Air Sungai, Danau dan Pantai

Wisata adalah kegiatan yang seharusnya menyenangkan dan membuat hati gembira, akan tetapi kegiatan wisata bisa menjadi bencana jika tidak ada manajemen yang baik dari pengelola dan wisatawan itu sendiri.

Contoh kasus dalam hal ini adalah wisata yang berkaitan dengan air seperti sungai, danau, air terjuan dan pantai. Pada libur lebaran sudah pasti objek wisata tadi akan penuh sesak wisatawan dan menyebabkan kepadatan.

Selain itu dampak buruknya adalah kejadian meninggalnya wisatawan akibat terseret arus pantai, banjir bandang sungai, atau di air terjun.

Pada momen liburan kali ini saja pasti ada kejadian tersebut seperti banjir bandang di Citengah Sumedang, wisatawan di Pangandaran dan lainnya terseret arus, anak tenggelam di curug dan lainnya.

Mengapa tragedi di tempat wisata air ini selalu terjadi dari tahun ke tahun?. Hal ini tentu karena kebodohan wisatawan (yang utama) dan lemahnya mitigasi pengelola objek wisata.

Memang saat libur hari raya, objek wisata akan membludak dipadari wisatawan sehingga personil pengelola pun akan kesulitan mengatur kegiatan wisatawan terutama di pantai yang luas.

Maka dalam hal ini kesadaran pelaku wisata adalah yang utama. Seperti misal ada berita anak tenggelam di Grand Canyon Karawang. Ini murni acuhnya wisatawan terhadap bahaya arus sungai disamping manajemen wisata yang tidak memantau debit air dari hulu.

Curug atau air terjun memiliki kolam arus tinggi di bawahnya dan kita akan sulit keluar jika sudah tenggelam ke dalam. Jadi masyarakat kita seolah main-main dengan fenomena ganas.

Buruknya manajemen wisata masih menjadi masalah di negara berkembang. Membangun objek wisata di badan air alami memiliki dampak resiko yang perlu diantisipasi oleh pengelola.

Misalnya membangun resort di sisi sungai maka harus dipahami bahwa suatu saat hujan deras bisa tiba-tiiba turun di hulu dan dampaknya adalah air bah akan menerjang lokasi. Ini seperti kejadian di Citengah yang menghanyutkan satu anak.

Tidak ada koordinasi pengelola wisata sungai dengan BMKG dan diteruskan ke pengujung. Sementara itu air bah menerjang sungai sangat cepat hingga meluap dan merusak. Wilayah hulu memiliki kecepatan aliran tinggi karena kontur yang lebih terjal.
Wisata sungai memiliki resiko tinggi
Jangan sampai keceriaan berakhir duka di hari raya. Masyarakat juga seolah masih menyepelekan terhadap air. Di pantai saja misalnya banyak yang berenang sampai batas berbahaya. Ingat bahwa arus balik laut itu lebih kencang dan menarik tubuh manusia karena kelerengan pantai (rip current).

Apakah masyarakat kita tidak lulus geografi ketika di sekolah?. Ya ini kan seperti cambuk bagi pendidikan kita. Menanamkan pengetahuan dan kesadaran pada masyarakat negara berkembang sangat berat.

Memang takdir tidak bisa dilawan, tapi ada pengetahuan yang bisa kida pelajari untuk meminimalisir terjadinya bencana. Kejadian tenggelamnya anak di curug, di danau, di pantai sebenarnya bisa dihindari jika manusia sadar akan kekuatan alam.

Salah satu misi pendidikan geografi salah satunya adalah menanamkan kesadaran akan kekuatan alam khususnya badan air sehingga kita memiliki kehati-hatian saat berkunjung ke lokasi-lokasi tersebut.

Gambar: Republika

Sabtu, November 6

Ancaman Bencana Hidrometeorologi Semakin Nyata

Ancaman Bencana Hidrometeorologi Semakin Nyata

Menjelang akhir tahun 2021 ini beberapa wilayah di Indonesia mulai memasuki musim penghujan. Ancaman bencana hidrometeorologi mengancam masyarakat sehingga harus perlu diwaspadai.

Lalu apa itu bencana hidrometeorologi?. Bencana hidrometeorologi adalah sebuah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin. 

Banyak bencana yang termasuk ke dalam bencana hidrometeorologi, antara lain kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, rob dan lainnya.

Artinya bencana tersebut dikontrol oleh kondisi cuaca dan iklim. Semakin kesini ancaman bencana hidrometeorologi semakin nyata dan intensitasnya cenderung meningkat.

Menurut data hingga Oktober 2021, tercatat 2.208 bencana alam terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Banjir adalah jenis bencana yang mendominasi, kemudian disusul puting beliung dan longsor.

Perubahan iklim akibat global warming mulai merubah pola cuaca di dunia termasuk Indonesia. Sementara itu manusia sebagai agen paling dinamis di permukaan bumi seolah abai dan tidak peduli terhadap ancaman ini.

Pembangunan masif kota tapi tidak dengan didukung dengan perilaku masyarakat dan infrastruktur mitigasi bencana tidak dipedulikan.

Lihat saja jika kita bangun pemukiman, mall, jalan tol dan lainnya, sangat jarang dijumpai gorong-gorong air yang memadai. Tidak ada perencanaan untuk aliran air, yang penting untung dulu secara ekonomi.

Pemerintah sibuk berbenah ketika bencana sudah terjadi saja. Harusnya pembangunan kota harus seimbang antara kebutuhan manusia dengan kebutuhan ekologi.

Daerah hulu dan hilir sungai kini sudah masif dieksploitasi hanya karena motif ekonomi semata sehingga saat musim penghujan tiba, kita tinggal menunggu bencana saja.
 
Memang bencana bisa terjadi dimana saja akan tetapi kita setidaknya berupaya untuk mengurangi dampak yang terjadi agar meminimalisir korban jiwa.

Disamping itu perilaku masyarakat dan infrastruktur manajemen sampah masih buruk. Alur pembuangan sampah dari rumah menuju tempat pembuangan akhir masih carut marut.

Ditambah lagi perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan membuat bencana semakin dekat dengan kita.

Adanya korelasi positif pembangunan infrastruktur ekonomi dengan peningkatan kejadian bencana harus menjadi perhatian serius pemerintah.

Pemerintah jangan hanya fokus dan bangga dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, masuk jajaran G20 dan indikator ekonomi tek-tek bengek lain.

Semetara itu indikator ekologi diabaikan begitu saja, yang menjadi korban adalah masyarakat di bawah. Para pejabat negara mungkin enak-enak saja memiliki fasilitas rumah layak huni, akses keuangan melimpah, asuransi melimpah.

Sementara itu pada lapisan bawah, masyarakat hanya diberikan seadanya saja. Rumah dibangun di pinggir kali, yang penting murah kemudian dapat kredit ringan.

Setelah itu terjadi banjir lalu yang ada hanya nestapa dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nampaknya memang seperti omong kosong kalau bicara pembangunan ekologi di negara ini.

Karena fakta yang berbicara, kita belajar geografi, ekologi cuma hanya sebatas ingin mendapat nilai pada secarik ujian kertas ijazah. Sementara itu pada tataran pelakasanaan praktis di lapangan sama sekali jauh panggang dari api.

Senin, Juli 19

Penyebab Banjir Besar di Jerman Akibat 'Bernd'

Penyebab Banjir Besar di Jerman Akibat 'Bernd'

Banjir besar meluluhlantahkan Erope Tengah dan menimbulkan korban jiwa yang besar terutama di Jerman dan sebagian lagi di Belgia, Belanda dan Swiss. Ilmuwan percaya ini dipicu perubahan iklim.

Banjir besar di Jerman dan Eropa minggu ini disebabkan oleh daerah yang dingin dan bertekanan rendah yang oleh para ilmuwan Jerman dijuluki 'Bernd'. Sistem cuaca ini perlahan menyapu seluruh benua pada hari Rabu dan Kamis, curah hujan yang sangat tinggi terjadi di area terbatas, menyebabkan sungai dan sistem air tanah meluap.
 
Area bertekanan tinggi ini mengelilingi 'Bernd', sebuah sistem cuaca bertekanan rendah, yang menahan sistem pada tempat yang disebut sebagai Blok Rex. Udara mengalir dengan konsisten dari sistem bertekanan tinggi yang hampir tidak bergerak ke sistem bertekanan rendah yang lebih dingin dan lebih basah, menciptakan aliran presipitasi yang kuat.

Kerusakan dan korban tewas akibat cuaca ekstrim ini sangat masif. lebih dari 100 orang tewas di Jerman saja pada Jumat sore melebihi apa pun yang terjadi di abad ini. Daerah yang paling parah terkena dampak sejauh ini adalah di negara bagian Rhineland-Palatinate dan Rhine-Westphalia Utara di Jerman, serta di wilayah Belgia yang berbahasa Prancis dan, pada tingkat lebih rendah korban ditemukan di beberapa bagian Belanda dan Swiss.

Pemerintah Rhine-Westphalia Utara, negara bagian terpadat di Jerman, menerbitkan daftar 23 kota, kota dan distrik pedesaan yang terkena dampak banjir, termasuk kota-kota besar seperti Cologne dan Düsseldorf. 
Banjir besar di Jerman
 Ratusan orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian pihak terkait. Alasan utama jatuhnya korban yang banyak adalah runtuhnya banyak rumah di daerah yang paling terkena dampak karena kecepatan dan intensitas banjir dan tanah longsor yang terjadi.
 
Banyak rumah di daerah pedesaan di daerah yang paling parah terkena dampak merupakan bangunan tradisional ratusan tahun dan dibangun dengan konstruksi kerangka kayu yang dikenal sebagai Fachwerk yang menawarkan perlindungan yang relatif sedikit dalam kondisi bencana alam esktrim.

Badai hebat yang mengakibatkan banjir besar relatif sering terjadi di bagian Eropa, terjadi setidaknya empat kali dalam 20 tahun terakhir. Menurut para ilmuwan cuaca, badai minggu ini sangat menghancurkan karena dikelilingi oleh daerah bertekanan tinggi yang lambat berkembang, menyebabkan curah hujan yang tinggi bertahan di daerah yang sama.

Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer mengatakan ada sedikit keraguan bahwa banjir itu terkait dengan pemanasan global. Dan banyak ilmuwan berpikir pemanasan global umumnya berkaitan dengan peningkatan jumlah peristiwa cuaca ekstrem lain seperti termasuk gelombang panas dan kekeringan.

Namun Andreas Marx, seorang peneliti iklim di Helmholtz-Center for Environmental Research di Jerman, mengatakan tidak jelas apakah peristiwa individu seperti hujan lebat minggu ini dapat disalahkan pada perubahan iklim, meskipun umumnya suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan lebih banyak uap air berkumpul di atmosfer membentuk awan hujan yang masif. Gambar: catholicnews.com

Jumat, Maret 20

Pengertian Lockdown atau Karantina Wilayah dan Dampaknya

Pengertian Lockdown atau Karantina Wilayah dan Dampaknya

Saat ini dunia tengah dilanda pandemi Corona yang berawal dari Wuhan kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. 

Beberapa negara telah melakukan kebijakan lockdown alias karantina wilayah di negara masing-masing guna mencegah penyebaran virus yang masif.

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah kita perlu karantina wilayah seperti negara tetangga misalnya Malaysia dan Filipina yang sudah terlebih dahulu mengunci kota?. Data kasus posistif Corona di Indonesia terus meningkat terutama di Jakarta.

Pemerintah didesak segara melakukan langkah cepat agar virus tidak cepat meluas salah satunya lockdown alias karantina wilayah. 

Karantina wilayah sepenuhnya ada pada kewenangan pusat dan hingga kini presiden belum mengarah akan mengeluarkan kebijakan tersebut. Lalu apa yang dikhawatirkan presiden terkait lockdown?.
Lockdown Jakarat sekarang juga!
Menurut saya, karantina wilayah di negara lain berhasil karena mereka sudah mantap secara ekonomi anggaran dan yang paling penting budaya pola pikir masyarakatnya. Berikut ini dampak lockdown yang bisa terjadi jika dilakukan di Jabodetabek yang memiliki populasi lebih dari 20 juta jiwa.

Pertama dengan populasi sangat tinggi di Jabodetabek, pastinya jika karantina dilakukan maka pemerintah wajib menyuplai bahan kebutuhan pangan ke setiap pintu rumah tanpa terkecuali. 

Semua kebutuhan pokok masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah. Pertanyaannya apakah logistik kita sudah siap jika karantina dilakukan 2 minggu saja misalnya. Kemudian siapa nanti yang akan mendistribusikan bahan logistik ke rumah-rumah?.

Kedua, jika karantina wilayah dilakukan maka perputaran ekonomi akan terhenti dan ini menjadikan masyarakat miskin yang tidak punya tabungan akan semakin mengkhawatirkan. 

Negara maju boleh saja bangga karena punya cadangan uang banyak dan bisa memberikan insentif ke setiap masyarakatnya. Nah lain lagi ceritanya dengan Indonesia mas bro!.

Ketiga dari sisi budaya sosial, masyarakat kita itu tipikal yang masih sulit diatur. Pastinya tetap akan ada banyak kejadian seperti penjarahan, orang keluyuran dan lainnya jika opsi lockdown tetap dilakukan. Itu suuzon saya melihat berbagai kasus yang terjadi sebelumnya.

Menteri keuangan Sri Mulyani pun menyatakan bahwa anggaran sudah siap untuk karantina wilayah namun yang secara logistik yang masih belum siap. Selain itu di sisi sosial juga harus diantisipasi penyimpangan sosial yang akan terjadi kemudian.

Itulah beberapa dampak yang saya yakin presiden sendiri bingung setengah mati jika melakukan kebijakan ini. Namun sebenarnya memang tugas pemerintah memikirkan cara mengatur logistik dengan tepat selama lockdown. Pandemi virus seperti ini memang cara terbaik melawannya dengan karantina wilayah. 

Selama mobilitas manusia di Jabodetabek masih kencang maka virus akan semakin cepat menyebar. Jadi pemerintah harus memikirkan keselamatan masyarakat dalam menghadapi pandemi virus Corona ini. 

Sudahlah lupakan dulu investasi ekonomi, pemindahan ibukota yang ga jelas masih ngawang-ngawang. Alokasi semua dana yang tersedia untuk keselamatan rakyat dulu. Setelah itu beres silahkan mau ngapain lagi juga bisa. 

Kamis, Januari 16

Contoh Soal UNBK Energi Baru dan Terbarukan + Jawaban

Contoh Soal UNBK Energi Baru dan Terbarukan + Jawaban

Halo teman-teman sekalian kita akan bagikan lagi contoh soal latihan UNBK Geografi materi energi baru dan terbarukan. 

Pengertian energi baru dan terbarukan itu beda ya teman-teman. Simplenya, energi baru itu gak harus benar-benar baru tercipta atau belum pernah ada dalam peradaban manusia.

Energi baru adalah jenis energi yang pada saat ini belum digunakan massa oleh manusia karena masih dalam pengembangan peneliti. Contoh energi baru adalah energi surya. 

Dari dulu udah banyak berita ngulas energi ini namun masih belum digunakan masif seperti minyak dan gas atau batubara. 

Energi terbarukan adalah energi yang ketersediannya bisa dipulihkan setelah sumbernya digunakan atau habis. Contoh energi terbarukan adalah biomassa.

1.    Diketahui data fisik wilayah:
1)    Sinar matahari sepanjang tahun stabil
2)    Kecepatan angin 12m/detik
3)    Suhu harian tinggi
4)    Pantai terjal
5)    Suhu dibawah 0 derajat C
Energi terbarukan cocok dikembangkan pada wilayah dengan kondisi fisik pada angka ....
a.    1), 4), 5)
b.    1), 2), 3)
c.    2), 3), 5)
d.    3), 4), 5)
e.    1), 3), 5)


Kunci
Energi terbarukan yang cocok dikembangkan adalah:
1. sinar matahari sepanjang tahun>>>panel surya
2. kecepatan angin 12 m/detik>>> kincir angin
3. suhu harian tinggi>>>panel surya

2.    Energi terbarukan seperti energi surya cocok dikembangkan di wilayah Nusa Tenggara dikarenakan faktor ....
a.    Amplitudo suhu harian tinggi
b.    Arus permukaan sangat tinggi dalam setahun
c.    Cuaca panas berlangsung cukup panjang dalam setahun
d.    Angin bertipu kencang hingga 20 m/detik
e.    Merupakan pertemuan angin muson barat dan timur


Kunci

Nusa Tenggara memiliki cuaca panas yang cukup panjang yaitu 9 bulan dalam setahun (12 bulan) sehingga potensial untuk dikembangkan energi surya.

3.    Energi geotermal merupakan salah satu energi alternatif yang potensial dikembangkan di Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor ....
a.    Curah hujan tinggi sepanjang tahun
b.    Banyak terdapat bahan galian
c.    Merupakan wilayah pertemuan angin pasat
d.    Berada di zona ring of fire
e.    Ketersediaan melimpah di permukaan bumi


Kunci

Energi geotermal adalah energi panas bumi yang dihasilkan dari kontak magma dengan batuan dan air di bawah permukaan tanah. Energi panas bumi potensial dikembangkan di Indonesia karena wilayah kita berada di zona ring of fire sehingga banyak gunung api. Pembangkit geotermal tertua di Indonesia ada di Kamojang Jawa Barat.

4.    Sungai banyak terdapat di Indonesia dan berpotensi menjadi energi terbarukan. Salah satu syarat kondisi sungai dikembangkan menjadi pembangkit listrik adalah ....
a.    Banyak terdapat meander
b.    Debit air rendah dan banyak endapan
c.    Debit air stabil dan arus deras
d.    Banyak oxbow lake
e.    Kecepatan arus lambat dan sangat lebar


Kunci

Sungai sangat potensial untuk keperluan energi pembangkit listrik, tapi gak semua sungai bisa dijadikan pembangkit listrik karena syaratnya adalah:
1. punya debit air stabil agar mampu dialirkan menuju kincir turbin generator
2. arus deras untuk menghasilan energi tekan yang menggerakan generator

5.    Salah satu energi alternatif yang bisa dikembangkan dari hewan ternak terutama sapi atau kerbau adalah ....
a.    Biogas
b.    Biokerosin
c.    Bioetanol
d.    Geotermal
e.    Biomassa


Kunci

Sapi menghasilkan kotoran yang cukup banyak dan dalam kotoran ini mengandung gas yang jika diolah dapat menjadi sumber energi (biogas) untuk keperluan rumah tangga. Sudah banyak desa-desa di dunia dan Indonesia mengolah kotoran ternak menjadi biogas karena efisien dan ramah lingkungan.
Pengolahan Biogas Ruamh Tangga
6.    Energi biomassa lebih potensial dikembangkan di wilayah pedesaan. Hal ini karena faktor utama yaitu ....
a.    Sumber daya manusia banyak
b.    Ketersediannya melimpah
c.    Mudah diolah
d.    Alat mekanik tersedia banyak
e.    Masyarakat desa berpendidikan tinggi


Kunci
Energi biomassa adalah energi yang berasal dari mahluk hidup seperti tumbuhan atau hewan. Maka kenapa biomassa potensial dikembangkan di pedesaan karena ketersediannya melimpah. Kita dapat menemukan berbagai macam tumbuhan dan hewan di desa. Sapi kotorannya bisa diolah biogas atau gabah padi bisa untuk kompor sekam dan lainnya.

7.    Energi nuklir adalah salah satu energi yang efisien dan ramah lingkungan. Negara maju seperti Jepang, Perancis, Jerman sudah menggunakan energi ini dalam pembangunan. Penyebab energi nuklir masih dipertimbangkan digunakan di Indonesia adalah karena ada faktor resiko yang tinggi yaitu ....
a.    Banyak terjadi gempa
b.    Pemeliharaan mahal
c.    Membutuhkan sumber daya dengan skill khusus
d.    Intensitas pemanasan matahari tinggi
e.    Rawan fenomena tornado


Kunci

Nuklir adalah energi yang berasal dari bahan-bahan radioaktif seperti uranium. Siklus dari bahan bakar nuklir dimulai ketika uranium ditambang, diperkayakan, dan ddiproduksi menjadi bahan bakar nuklir, yang mana kemudian dimasukkan dalam pembangkit listrik tenaga nuklir. Setelah selesai digunakan, sisanya akan dimasukkan dalam mesin proses ulang (reprocessing plant). Dalam pemrosesan kembali nuklir, 95% dari sisa bahan bakar yang dipakai dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar baru. Nuklir sangat rentan terhadap getaran dan dapat memicu ledakan dan radiasi. Indonesia masih menimbang pemanfaatan nuklir untuk energi karena kerentanan gempa yang tinggi.

8.    Perhatikan peta! (SOAL WAWASAN UMUM)

Peta Indonesia
Wilayah bertanda B merupakan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu terbesar di Indonesia yaitu di wilayah ....
a.    Kamojang, Jawa Barat
b.    Dompu, Nusa Tenggara Timur
c.    Martapura, Kalimantan Selatan
d.    Sidrap, Sulawesi Selatan
e.    Dumai, Riau


Kunci
Wilayah B adalah Sidrap Sulawesi Selatan, tempat proyek taman kincir angin terbesar di ASEAN. PLTB Sidrap merupakan PLTB terbesar yang beroperasi di Indonesia. PLTB ini memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter. Masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW, sehingga total kapasitas yang dihasilkan oleh 30 turbin adalah 75 MW. Baca juga>>>Soal UNBK Konsep Geografi
PLTB Sidrap

Minggu, Januari 5

Fenomena Banjir dan Dendam Kesumat Cebong Kampret

Fenomena Banjir dan Dendam Kesumat Cebong Kampret

Banjir lagi-lagi terjadi di ibukota dan sekitarnya, kali ini pas di awal mula tahun 2020. 

Jika tahun 2018 akhir dulu ada tsunami yang melanda Anyer maka tahun ini pun ada fenomena bencana alam yang melanda negeri ini. Lalu ada apa sebenarnya dengan Indonesia ini?.

Banjir pada dasarnya adalah fenomena biasa yang bisa terjadi di wilayah manapun di dunia. Bahkan kota sekelas Paris, Venesia pun dilanda banjir. 

Nah yang paling heboh dari banjir di Indonesia adalah fenomena setelah banjir itu sendiri yaitu gelombang nynyir bermotif dendam kesumat. 

Saya sudah prediksi bahwa akan terjadi seperti ini. Lalu saya mau ulas mana dulu nih?. Saya ulas geografi dulu deh, tapi singkat aja supaya netizen paham. Kalau mau lengkapnya banyak jurnal ilmiah tentang lika-liku banjir Jakarta.

Geografi Jabodetabek
Perlu diingat bahwa banjir bandang awal tahun 2020 ini terjadi bukan hanya di Jabodetabek tapi di Banten dan Jawa Barat bahkan di luar Jawa juga terjadi. Namun itulah Jawa seperti menjadi sentral nya Indonesia.

Wilayah Ibukota kita ini secara geografi terletak di daerah dataran rendah aluvial dan dialiri oleh belasan sungai yang berhulu di daerah Puncak dan sekitarnya. Ini artinya secara alami saja daerah Jakarta dan sekitarnya itu rawan banjir. 

Saya pernah baca salah satu artikel tentang sejarah Jakarta dari jaman kerajaan Tarumanegara kalau gak salah. Raja Tarumanegara kala itu sudah memerintahkan rakyatnya untuk mengantisipasi banjir dengan membangun saluran dari hulu ke hilir. Jadi udah dari jaman kerajaan juga dicoba guys untuk meminimalisir.

Nah lanjut ke era VOC, gubernur jenderal Belanda selama memerintah Batavia gak ada satu pun yang bisa menyelesaikan banjir Jakarta. Mata-mata Amerika dulu pernah ngasih saran ke VOC agar tidak memindahkan pemerintahan dari Ambon ke Batavia karena akan menyusahkan gubernur selanjutnya terkait banjir ini.

Jadi VOC udah sadar bahwa kondisi Batavia itu geografinya kompleks, beda dengan di Belanda sekalipun Amsterdam berada di bawah level permukaan laut. Tapi Jakarta lain lagi karena memiliki hulu sungai yang bervariasi dan rawan hujan ekstrem.

Jadi singkatnya Belanda kala itu membangun banjir kanal barat, nah era Sutiyoso ditambah bangun kanal timur untuk merekayasa aliran. Jadi kunci utama adalah merekayasa limpasan dari belasan sungai agar tidak sampai ke pemukiman.

 Menurut Bang Yos, hal ini hanya bisa dilakukan jika konsep megapolitan dilaksanakan karena Jabodetabek gak bisa diselesaikan dengan ego sektoral masing-masing. Kaya sekarang tiap pemimpin daerah sok punya ide sendiri jadinya runyem.

Jadi secara natural emang Jabodetabek adalah wilayah floodplain dan pasti banjir saat penghujan. Ada 3 tipe banjir Jakarta yaitu banjir rob karena pasang laut, banjir lokal karena hujan didaerah tersebut dan yang paling mengerikan adalah banjir bandang kiriman seperti awal tahun 2020. Banjir kiriman ini yang perlu penanganan lintas sektoral dan nampaknya pemerintah pusat yang perlu tegas mengatur semua ini.

Lalu partisipasi apa yang wajib kita lakukan?. Simple aja sebenarnya seperti buang sampah jangan sembarangan, bangun selokan yang baik di rumah, tanam pohon disekitar rumah. Tapi nampaknya kalau soal sampah kita masih primitif, liat saja sampah berserakan dimana-mana di sudut kota. Jadi kalau netizen mesa meso saat banjir sama aja ngeludahin muka sendiri. Tapi namanya orang kita ini kan sifatnya watados alias wajah tanpa dosa jadi nampaknya sulit dirubah  sifatnya. Orang korupsi aja gak malu apalagi cuma buang sampah sembarangan,,wkwkkw.
Banjir Jakarta Tidak Akan Terselesaikan Jika
Dendam Politik Cebong Kampret
Nah sekarang lanjur ke bagian paling seru pastinya soal dendam cebong dan kampret. Jadi banjir itu biasa-biasa aja, nah yang lebih luar biasa adalah banjir nyinyir dua kubu yang panas sejak 2017. Mungkin orang kita masih teringat judul film Dendam Nyi Blorong, Dendam Nyi Roro Kidul dan lainnya jadi terbawa ke kehidupan nyata.

Lihatlah setelah banjir terjadi langsung muncul postingan ada yang nyinyir pernyataan gubernur, presiden, ada yang bikin hoax, ada yang nyalah-nyalahin dan wah banyak lagi deh. Saya pikir fenomena sosial seperti ini mencerminkan bangsa kita tengah mengalami dekadensi moral dan lebih memilih menjadi bangsa pendendam daripada pencari solusi.

Ada yang bandingin Jakarta ma Amsterdam lah (wawasan geografinya cetek ini), ada yang posting banjir Jepang bersih, ada berita menteri anu nyalahin gubernur lah, ada berita presiden sidak bendungan lah dan macem-macem. Semuanya adalah omong kosong gak ada gunanya. 

Fenomena ini mulai terjadi sangat intens sejak kasus Ahok hingga kini. Jadi saat ini ada dua kutub ekstrim kanan dan kiri yang terus saling ejek tiap hari. Tapi enak banget ya Pa Gubernur, Ahok atau Presiden dosanya berkurang terus karena dijulid rakyatnya sendiri.

Dendam itu adalah sifat setan dan memang sudah pasti banjir Jabodetabek tidak akan ada solusi sampai kiamat pun kalau perilaku masyarakatnya tidak insaf nyinyir dan bermaksiat lingkungan. Pemimpin pun harus introspeksi dalam mengambil kebijakan agar masalah besar ini bisa tuntas. 

Tanpa sadar kita terus bermaksiat lingkungan dimana-mana. Coba dari jaman orba misalnya, kenapa gubernur dulu biarkan orang urban bangun rumah di bantaran sungai?. Sekarang kan susah mau digusur, alibinya kan udah diijinkan dari dulu juga!. Jadi rakyat dan pemimpin nya pun sama-sama bodoh.

Ini bukan soal kasihan atau tidak kasihan tapi lebih kasihan lagi kalau bencana terjadi kan?. Harta benda hilang bahkan nyawa juga. Itu semua karena kita sendiri yang bermaksiat kepada lingkungan. 

Saya sendiri pernah liat ke mesjid ada acara tablig akbar lalu udah beres, sampah berserakan di depan mesjid. Helo, apa gunanya tausiyah di mesjid kalau perilaku tetap gak berubah?. Saya sendiri muslim dan jengkel lihat hal seperti ini. Simple tapi inilah peradaban kita yang harus direnungkan.

Jadi balik lagi ke dendam politik saat banjir yang semakin panas. Pola seperti ini harus distop dan tidak boleh ada lagi bermunculan thread berita atau medsos yang mempertentangkan pemimpin sekarang atau sebelumnya. 

Yakin gak bakalan beres sampai kiamat juga, bahkan Tuhan pun mungkin sudah murka melihat kelakukan bangsa ini yang ribut terus soal politik dan kekuasaan. 

Dalam Quran pun sudah ditulis bahwa "telah nampak kerusakan di bumi karena ulah manusia itu sendiri". Jadi banjir itu kata Tuhan karena kita sendiri. Lingkaran dendam ini jika tidak dihapus bisa jadi Tuhan akan berikan bencana yang lebih besar dikemudian hari. Nauzubillah.

Senin, Desember 16

Tahapan Mitigasi Bencana Tsunami

Tahapan Mitigasi Bencana Tsunami

Salah satu fenomena alam yang bisa mengancam kehidupan adalah gelombang tsunami.

Tsunami diartikan bencana alam yang berupa gelombang air laut yang menimpa daerah pantai. 

Faktor penyebab terjadinya tsunami adalah karena kegiatan seismik, meletusnya gunung api, longsoran bawah laut, dan  hantaman meteor ke dasar samudera.

Dari sejumlah faktor penyebab, yang paling sering terjadi adalah tsunami akibat gempa bumi. 


Gempa bumi sampai saat ini belum dapat diramalkan kapan akan terjadi. Oleh karena itu tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi juga sangat sangat sulit diprediksi. 

Bencana tsunami merupakan ancaman bagi wilayah pantai yang secara geologis rawan terhadap gempa bumi. 

Namun ancaman bencana tsunami baru dapat diprediksi setelah gempa bumi terjadi. Satu hal yang menyulitkan adalah jeda waktu antara gempa dan tsunami yang ditimbulkan sangat singkat. Akibatnya usaha untuk menyelamatkan diri dari tsunami waktunya sangat terbatas.
Peta Daerah Rawan Tsunami Indonesia
Indonesia adalah negara rawan tsunami karena posisinya yang berada di zona ring of fire dan diantara dua samudera besar. Tsunami Aceh pada tahun 2004 adalah contoh bencana alam terbesar yang melanda Indonesia setelah erupsi Krakatau dan Tambora berabad-abad lalu. 

Terakhir adalah tsunami di Palu yang disertai likuifaksi menjadi duka yang kembali melanda bangsa Indonesia. Sekitar 75% garis pantai Indonesia merupakan wilayah rawan tsunami dan ini menjadi sinyal yang patut diwaspadai masyarakat.

Jika ancaman tsunami tidak disadari oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tersebut, maka resiko yang dapat ditimbulkannya akan sangat serius. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko terhadap bencana yang mungkin terjadi, maka diperlukan mitigasi bencana tsunami.

Mitigasi terhadap ancaman bencana tsunami antara lain dapat dilakukan sebagai berikut.
1)    Pemetaan wilayah-wilayah yang rawan terhadap ancaman bencana tsunami 

2)    Penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi ancaman bencana tsunami di wilayah mereka 
3)    Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat mengenai karakteristik bencana tsunami.
4)    Mengenali tanda-tanda akan datangnya bencana tsunami.
5)    Memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana tsunami.
6)    Memberikan pelatihan, misalnya dengan simulasi bagaimana cara menyelamatkan diri ketika ada tsunami.
7)    Membuat jalur-jalur penyelamatan yang harus dilalui untuk menuju tempat yang aman dari bencana tsunami.
8)    Tidak mendirikan bangunan-bangunan fasilitas umum seperti kantor-kantor pelayanan pemerintah, pasar, dan lain-lain pada kawasan yang rawan terhadap ancaman bencana.
9)    Penamanan pepohonan di sepanjang pantai untuk mematahkan gelombang tsunami.
10)    Mengadakan alat peringatan dini (early warning system) terhadap ancaman bencana tsunami.


Sumber: Modul PPG Geografi
Faktor Resiko Bencana: Ancaman, Kerentanan, Kapasitas

Faktor Resiko Bencana: Ancaman, Kerentanan, Kapasitas

Bencana semakin hari semakin mengancam kehidupan manusia dimanapun berada.

Perubahan iklim akibat kegiatan manusia membuat cuaca semakin berubah dan fenomena meteorologi yang kompleks semakin banyak terjadi. 

Bencana alam adalah dampak dari fenomena alam yang tidak disikapi secara bijak oleh manusia.

Selain itu aktifitas tektonik yang semakin intens menjadi ancaman bagi kehidupan manusia yang semakin pesat membangun ruang hidup dalam bentuk bangunan-bangunan. 

Setiap wilayah pastinya punya potensi ancaman bencana yang wajib dipahami oleh penduduknya. Tidak semua fenomena alam dapat menjadi bencana, namun resiko bencana dapat dilihat dari berbagai faktor.
Fenomena tanah bergerak mengancam penduduk
Dampak suatu bencana diukur berdasarkan jumlah korban jiwa, kerusakan, atau kerugian yang ditimbulkannya. Resiko suatu bencana ditentukan oleh variabel-variabel sebagai berikut yaitu (1) ancaman/ bahaya (hazard), (2) kerentanan (vulnaribility), dan (3) kapasitas (capacity).

 1.    Ancaman/bahaya (Hazard)

Ancaman atau bahaya merupakan kondisi atau situasi yang memiliki potensi yang menyebabkan gangguan atau kerusakan terhadap orang, harta benda, fasilitas, maupun lingkungan. Ancaman bencana pada suatu wilayah bisa dilihat dari kondisi fisik wilayah maupun sosialnya.

2.    Kerentanan (Vulnaribility)

Kerentanan merupakan suatu kondisi yang menyebabkan menurunnya kemampuan seseorang atau masyarakat untuk menyiapkan diri, bertahan hidup, atau merespon potensi bahaya. 

Kerentanan masyarakat antara lain dipengaruhi oleh keadaan infrastruktur dan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang antara lain meliputi tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, kepercayaan. Buruknya infrastruktur, rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya tingkat kemiskinan akan menyebabkan tingkat kerentanan suatu wilayah akan semakin tinggi.

3.    Kapasitas (Capacity)

Kapasitas merupakan kekuatan dan sumber daya yang ada pada tiap individu dan lingkungan yang mampu mencegah, melakukan mitigasi, siap menghadapi dan pulih dari akibat bencana dengan cepat.

Berdasarkan tiga variabel di atas, resiko bencana (Risk) dapat diperkirakan. Risiko bencana merupakan interaksi antara tingkat kerentanan dengan bahaya yang ada. Ancaman bahaya yang berasal dari alam sifatnya tetap karena merupakan proses yang terjadi secara alamiah. 


Oleh karena itu untuk memperkecil resiko bencana yang ditimbulkan adalah dengan cara meningkatkan kemampuan untuk menghadapi ancaman bencana dengan cara mengurangi tingkat kerentanan.

Sumber: Modul PPG Geografi, detik.com

Rabu, November 6

Perbedaan Mitigasi Bencana Struktural dan Non Struktural

Perbedaan Mitigasi Bencana Struktural dan Non Struktural

Bencana atau disaster pada dasarnya adalah suatu kejadian yang berpotensi mengancam kehidupan manusia. 

Bencana alam adalah salah satu jenis bencana yang memerlukan penanganan yang holistik. 

Indonesia merupakan negara dengan kerentanan bencana alam terutama geologi yang tinggi karena posisinya berada di Ring of Fire.

Masyarakat harus cerdas dalam memahami sebuah fenomena alam yang berpotensi menjadi bencana alam. Dengan begitu resiko korban jiwa dapat diminimalisir sekecil mungkin.

Mitigasi bencana merupakan bagian aksi yang dilakukan pada bagian tahapan pra bencana dalam sistem manajemen penanggulangan bencana. 

Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, mengurangi konsekuensi akibat kejadian bencana, menghindari risiko, penerimaan risiko, memindahkan dan berbagi risiko.

Dengan kata lain mitigasi bertujuan untuk mengurangi risiko, dan fokus terhadap penyebab bencana dan mencoba untuk meminimalisasi bahaya. Prinsip utama yang bisa memandu upaya mitigasi yaitu :
a.    Mitigasi sebelum bencana (pre-disasater mitigation) membantu untuk memastikan proses recovery dampak berlangsung lebih cepat.
b.    Pengukuran pengurangan bahaya harus melingkupi semua jenis bahaya yang ada di suatu komunitas.
c.    Pengukuran potensi mitigasi harus dievaluasi cost-benefit dan konsisten terhadap keinginan dan prioritas komunitas.
d.    Pengukuran mitigasi harus melindungi sumberdaya alam dan budaya suatu komunitas.
e.    Program mitigasi yang efektif didasari perlunya kerjasama antara pemerintah, swasta dan komunitas masyarakat.

Mitigasi struktural dan non struktual
Mitigasi dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. 

Mitigasi struktural adalah upaya pengurangan dampak bencana melalui konstruksi atau perubahan lingkungan fisik dengan mengaplikasikan solusi bersifat teknis seperti membangun kontruksi bangunan yang baik, relokasi ke tempat yang lebih aman, modifikasi infrastruktur, pembangunan shelter dan sistem peringatan dini. 

Mitigasi non struktural adalah upaya dalam mengurangi risiko dengan cara memodifikasi perilaku manusia atau proses alam tanpa memerlukan struktur teknis. 

Cara ini dikenal dengan upaya manusia untuk beradaptasi dengan alam (man adapts to nature). 

Contohnya adalah membuat aturan/regulasi terkait bencana, mendesain program edukasi bencana untuk masyarakat dan melakukan konservasi lingkungan.

Berikut ini jenis tindakan mitigasi struktural dan non struktural
1. Mitigasi Struktural
- membangun struktur bangunan tahan panas dan anti gempa
- mendesain bangunan dengan atap runcing untuk menghindari endapan abu vulkanik
- membangun barak pengungsian permanen
- membuat jalur papan evakuasi
- menyiapkan fasilitasi transportasi untuk evakuasi
- membangun tempat penampungan yang baik 
- membangun dam penahan lahar panas/dingin
- membangun tanggul penahan tsunami

2. Mitigasi Non Struktural
- menghindari daerah aliran lahar
- peningkatan kewaspadaan terhadap resiko letusan gunung api
- mengidentifikasi daerah bahaya
- sosialisasi kebencanaan
- penyuluhan cara menghadapi bencana
- sosialisasi sistem peringatan dini bahaya

Kata kunci:
Mitigasi struktural lebih ke arah konstruksi bangunan anti bencana
Mitigasi non struktural lebih ke arah kebijakan 

Baca juga: Tahapan mitigasi gempa dan tsunami





Sumber: Modul Peningkatan Kompetensi Geografi

Selasa, April 23

Bencana Alam Geologis Gempa Bumi dan Longsor

Bencana Alam Geologis Gempa Bumi dan Longsor

Bencana alam merupakan fenomena alam yang bersifat merusak dan mengakibatkan korban jiwa. Kali ini kita akan belajar tentang bencana geologis. 

Bencana alam geologis adalah bencana alam yang terjadi akibat dari proses tektonisme yang berpotensi merusak lingkungan dan menyebabkan korban jiwa, gangguan sosial dan ekonomi. 

Contoh bencana geologis adalah gempa, tanah longose, tsunami dan erupsi. Kali ini kita akan bahas tentang gempa dan longsor dulu ya.

a. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getara bumi yang merupakan hasil pelepasan energi karena pecahan dan gerakan batuan di dalam bumi atau kerak bumi tiba-tiba. 

Skala kekuatan gempa bumi dicatat dalam skala richter dan intensitasi kekuatan biasa diukur dengan skala mercalli. Ada dua jenis gempa yang umum terjadi di dunia yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik.

Gempa tektonik adalah gempa yang terjadi karena proses tektonik yaitu pergeseran lempeng. Wilayah subduksi lempeng dan patahan adalah daerah yang sering dilanda gempa tektonik. Gempa tektonik adalah gempa yang paling merusak dan banyak menimbulkan korban jiwa. 

Gempa vulkanik adalah gempa yang terjadi karena adanya aktivitas gunung api dan biasa menjadi pertanda bahwa gunung akan meletus. Tekanan magma yang naik membuat lapisan kerak bumi menjadi bergetar.

Indonesia adalah negara yang punya kerentanan gempa tinggi karena berada di ring of fire dan menjadi lokasi pertemuan tiga lempeng aktif yaitu Eurasia, Indo Australia dan Pasifik. Gempa terakhir yang terjadi di Indonesia adalah gempa Lombok dan gempa Palu yang menelan banyak korban jiwa.
Indonesia rawan gempa bumi
b. Longor
Tanah longsor adalah gerakan tanah atau massa batuan yang menuruni lereng akibat pengaruh gravitasi bumi. Longsor dikendalikan oleh kondisi geologi, curah hujan dan kemiringan lereng. 

Tanah longsor adalah fenomena yang paling banyak menelan korban jiwa karena sifatnya yang sering tiba-tiba sehingga tidak ada waktu menyelamatkan diri. Ada beberapa jenis tanah longsor yaitu sebagai berikut:
1. Rayapan adalah gerakan massa tanah atau batuan yang bergerak dengan kecepatan lambat, kurang dari 1 meter/tahun. Tanah longsor rayapan muncul pada lereng landai yaitu antara 10-20 derajat. Rayapan tanah biasanya hanya merusak bangunan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
2. Luncuran adalah tanah longsor yang biasa muncul pada lereng dengan kemiringan 20-40 derajat. Kecepatan luncuran tanah mencapai 25 m/menit.
3. Jatuhan adalah keadaan ketika sejumlah besar batuan atau materi lain bergerak dengan jatuh bebas. Jatuhan sering muncul di sepanjang jalan atau tebing terjal.
4. Aliran tanah adalah keadaan ketika ada campuran tanah, batuan dan air yang membentuk suatu cairan kental. Awalnya aliran ini adalah endapan longsoran dalam suatu lembah dan karena kemiringan lereng, endapan itu meluncur dan berkembang menjadi massa pekat menuruni lereng.
Jenis longsoran tanah

Selasa, Januari 1

Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia

Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia

Tahun 2018 sudah berlalu dengan beberapa fenomena yang berubah menjadi bencana melanda Indonesia.

Terakhir tepat di penghujung tahun 2018 longsor terjadi di Sukabumi Jawa Barat dan melenyapkan puluhan rumah, sampai saat ini proses evakuasi masih dilakukan. 

Beberapa minggu dan bulan ke belakang fenomena alam terjadi mulai dari gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Palu sampai tsunami di Anyer. 

Semua kejadian tersebut memakan korban jiwa yang tidak bisa dibilang sedikit, ditambah lagi infrastruktur yang luluh lantah. Kerugian pasti triliunan rupiah dan perlu beberapa tahun untuk rekonstruksi.

Lalu bagaimana sebenarnya mitigasi bencana di negara kita?. Saya kira sampai saat ini istilah tersebut hanya sebatas slogan saja. Coba pas tsunami di Anyer kemarin, tidak ada sama sekali sirene peringatan tsunami dan orang-orang tentu tidak tahu apa yang akan terjadi. 

Lantas setelah itu pihak terkait memberikan pernyataan bahwa memang alat pendeteksi tsunami dicuri/rusak lah/tidak punya alat deteksi tsunami akibat vulkanik. Pernyataan tersebut sudah menandakan bahwa Indonesia sudah gagal secara masif dan sistemik dalam mitigasi bencana.

Kita terlena dengan megahnya pembangunan infrastruktur ekonomi, bisnis namun untuk urusan nyawa kita abai. Takdir kita berada di Ring of Fire lalu mengapa hal tersebut diabaikan?. Dari sisi manajemen ruang, masih banyak lokasi rawan bencana tapi dibangun tidak sesuai peruntukan. 

Okelah kalau memang itu buat bisnis, ekonomi tapi solusinya kenapa tidak diberikan akses bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri?. Tiga bencana geologi tahun 2018 sudah cukup bagi kita untuk introspeksi dalam hal memahami hakikat ruang Indonesia. Gambar: Republika
Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia
Shelter Tsunami Banten yang gagal menyelamatkan
Kalau boleh saya berargumen, saya yakin mayoritas masyarakat tidak peduli dengan ancaman dari sebuah bencana geologi apalagi masyarakat kurang berpendidikan. 

Mereka hanya memikirkan tentang bagaimana cara menyambung nyawa, ekonomi. Lagi-lagi kemiskinan menjadi rantai yang mengikat pola masyarakat Indonesia. Saat gempa di Jogja tahun 2006, saya ingat rumah nenek yang berarsitektur Joglo sama sekali tidak runtuh sementara rumah beton tembok runtuh hancur. 

Dari sini kita sudah bisa menilai bahwa nenek moyang kita dulu sebenarnya sudah memberikan pelajaran bahwa untuk hidup di negeri ini harus menyesuaikan diri. 

Rumah-rumah adat kita sebenarnya didesain untuk menghadapi gejala alam seperti Joglo, Gadang, Rumah Panggung Sunda dll. Lalu kenapa kita tidak meniru atau memodifikasinya namun dengan prinsip sama.

Lihat sekarang banyak rumah-rumah murah dibangun dengan bahan seadanya asalakan developer untung. Posibilitas hancur saat gejala tektonik pasti besar. Memang ironi sekali, semua balik lagi ke sistem negara ini. 

Bahan-bahan bangunan dan harga tanah mahal maka jalan terakhir adalah mengurangi kualitas bahan yang penting rumah jadi. 

Beberapa waktu lalu saya lihat juga salah satu akun medsos pemerintah yang mengajak tentang pentingnya segera pendidikan mitigasi bencana. Lah apakah pemerintah tidak tahu bahwa dalam kurikulum geografi ada materi mitigasi bencana. Semua tinggal aplikasikan, kontekstual mengapa membuat statement demikian?. 

Saya sebagai guru geografi tentu merasa ada yang aneh dan memang nampaknya pemerintah tidak tahu sama sekali isi kurikulumnya sendiri. Kalau kata geograf senior T. Bachtiar mitigasi Indonesia itu anget-anget tai ayam.

Fenomena alam akan terus terjadi dan tidak bisa diprediksi dan masyarakat Indonesia harus sadar tentang hal tersebut. Kita memang sudah terkunci dalam sistem pemerintahan model seperti ini, tapi paling tidak pemerintah harus berbenah jika tidak ingin korban semakin banyak di kemudian hari. 

Tapi maaf saja kalau saya mash pesimis melihat pola yang terjadi dari tahun ke tahun. Kok pesimis sih? Ya boleh dong, itu kan hak saya. Ini kan negara hukum, bebas berpendapat toh?.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done