News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 6

Daerah Rawan Gempa Bumi di Indonesia

Daerah Rawan Gempa Bumi di Indonesia

Gempa bumi atau earthquake merupakan fenomena getaran yang terjadi di permukaan bumi karena sebab tertentu dan paling banyak karena pergerakan lempeng. 

Indonesia merupakan negara yang rentan sekali terhadap serangan gempa bumi karena lokasinya yang terletak di pertemuan 3 lempeng aktif yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. 

Interaksi ketiga lempeng tersebut menghasilkan busur kepulauan vulkanik. Dua pegunungan muda yang melewati Indonesia adalah Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania.

Baca juga: Perbedaan Sirkum Pasifik dan Mediterania
Indonesia merupakan daerah pertemuan lempeng (daerah subduksi) sehingga daerah yang dekat dengan zona subduksi tersebut rawan gempa, daerah-daerah tersebut antara lain adalah:

1) Sepanjang pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa
2) Daerah sebelah barat Pulau Sumatera dan sebelah selatan Pulau Jawa
3) Daerah kepulauan Nusa Tenggara dan Pulau Bali
4) Pulau Sulawesi dan Maluku
5) Irian bagian utara
Daerah Rawan Gempa Bumi di Indonesia
Busur vulkanik kepulauan Indonesia
Untuk wilayah pembagian daerah aktifitas gempa berdasarkan sejarah gempa yang pernah terjadi antara lain sebagai berikut :
1) Daerah sangat aktif. Magnitude lebih dari 8, meliputi Halmahera dan pantai utara Papua
2) Daerah aktif. Magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi, meliputi lepas Pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara dan Banda.
3) Daerah lipatan dan retakan. Magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi, meliputi pantai barat Sumatra, kepulauan Suna dan Sulteng.
4) Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi. Yaitu di Sumatra, Jawa bagian utara dan Kalimatan bagian timur.
5) Daerah gempa kecil. Magnitude kurang dari 5 jarang terjadi. Yaitu di daerah pantai timur Sumatera dan Kalimantan tengah.
6) Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa. Yaitu daerah pantai selatan Irian dan Kalimantan bagian barat. Gambar: disini


Baca juga
Konsep Geografi versi Peter Hagget
Faktor kerentanan bencana di Indonesia

Selasa, September 5

Jenis-Jenis Tanah Longsor Menurut BNPB

Jenis-Jenis Tanah Longsor Menurut BNPB

Tanah longsor merupakan salah satu jenis bencana geologi yang paling berbahaya bagi manusia. Fenomena alam ini sering terjadi di Indonesia saat musim hujan.

Menurut pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tanah longsor diartikan sebagai perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau material campuran yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. 

Longsor ini bisa dipicu oleh manusia atau diawali dari kegiatan manusia. Baca juga: Faktor cuaca iklim suatu daerah

Faktor alam yang bisa menyebabkan longsor antara lain topografi yang miring, curah hujan tinggi, jenis dan struktur tanah, erupsi gunung api dan gempa. 

Sementara itu perilaku manusia yang bisa memicu longsor antara lain pertanian di lereng terjal, penebangan liar dan pemotongan lereng. Jenis tanah longsor menurut BNPB ada 6 tipe yaitu:

1. Longsoran Translasi 
Longsoran translasi merupakan gerakan massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau bergelombang-landai.
2. Longsoran Rotasi 
Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir cekung
3. Pergerakan Blok 
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata.
4. Runtuhan Batu 
Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas dan terjadi pada lereng yang
5. Rayapan Tanah 
Rayapan Tanah merupakan jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus dan bergerak hampir tidak dapat dikenali.
6. Aliran Bahan Rombakan 
Aliran bahan rombakan ini terjadi ketika massa tanah bergerak di dorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. 

Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai radius ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai disekitar gunung api.

 Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak. Contoh longsor ini terjadi awal tahun 2017 di Ponorogo Jawa Timur. Baca juga: Faktor keterdapatan sumber daya alam Indonesia
Jenis-Jenis Tanah Longsor Menurut BNPB
Longsor besar di Ponorogo tahun 2017
Itulah jenis-jenis tanah longsor menurut BNPB. Tanah longsor adalah bencana geologi yang paling banyak menelan korban jiwa karena sifatnya yang cepat dan tiba-tiba. 

Oleh karena itu masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor harus berhati-hati. Baca juga: Bioma wilayah perairan
 
Mau tahu contoh desa yang terkubur longsor di Majalengka?. Simak video penelusuran saya berikut ini, jangan lupa subscribe ya!

Rabu, Mei 10

Sebaran Daerah Rawan Bencana Alam Indonesia

Sebaran Daerah Rawan Bencana Alam Indonesia

Bencana atau disaster merupakan suatu peristiwa yang mengancam kehidupan mahluk hidup disekitarnya. Bencana dapat dibagi menjadi bencana alam dan bencana sosial. Bencana alam merupakan bencana yang disebabkan oleh fenomena alam. 

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi. Setiap tahun berbagai bencana alam sering terjadi baik ketika musim hujan maupun kemarau. 

Berikut ini sebaran daerah rawan bencana alam di Indonesia berdasarkan data BNPB.

Gempa Bumi
Gempa bumi yang paling membahayakan adalah gempa tektonik atau karena pergeseran lempeng tektonik. Gempa tektonik banyak terjadi di daerah zona subduksi atau patahan. Daerah tersebut adalah Aceh, Padang, Nias, Jambi, Bengkulu, Lampung, Tasikmalaya, Jogjakarta, Sulawesi, Maluku dan Papua. Baca juga: Jenis erosi sungai

Erupsi
Erupsi adalah peristiwa meletusnya gunung api. Daerah-daerah yang berada disekitar gunung api aktif termasuk zona rawan bencana ini seperti Gunung Sinabung, Merapi, Tangkubanperahu, Lokon, Kelud, Semeru, Bromo dan Soputan.

Longsor
Longsor adalah pergerakan tanah di daerah yang curam. Semua daerah yang berada di lereng bukit memiliki potensi longsor contohnya di Banjarnegara, Wonosobo, Ponorogo, Ciwidey dan Purworejo. Longsor sering terjadi di Indonesia karena curah hujan yang tinggi.
Sebaran Daerah Rawan Bencana Alam Indonesia
Longsor paling banyak menelan korban jiwa
Banjir
Banjir banyak terjadi saat musim hujan tiba. Biasanya banjir terjadi di daerah dataran rendah atau daerah yang dialiri sungai seperti Jakarta, Bandung dan Bekasi. Banjir juga bisa diakibatkan oleh pasang laut (banjir rob) seperti di daerah Semarang.
Tsunami
Tsunami dipicu dari adanya gempa runtuhan di dasar laut atau erupsi gunung api di laut. Daerah yang menghadap samudera luas berpotensi terkena tsunami seperti pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Kekeringan
Kekeringan disebabkan oleh musim kemarau panjang atau karena anomali cuaca seperti El Nino. Daerah rawan kekeringan di Indonesia diantaranya Gunung Kidul, Pacitan, Sulawesi Tengah dan Lombok. Baca juga: Jenis-jenis tanah longsor di Indonesia

Kebakaran lahan
Kebakaran lahan banyak terjadi di daerah yang banyak hutan gambut seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatera Selatan dan Jambu.

Gas Beracun
Gas beracun berasal dari gejala post vulkanik seperti di Kawah Domas, Ijen dan Dieng. Gas beracun ini tidak berasa dan berbau sehingga agak sulit dideteksi oleh manusia. Baca juga: Faktor penyebab bencana kekeringan

Angin Puting Beliung
Angin puting beliung terjadinya karena adanya pusat tekanan rendah di suatu wilayah. Bebrapa daerah yang pernah diterjang angin puting beliung diantaranya Sukabumi, Banten, Jawa Timur dan Sumatera bagian barat.

Gambar: metrotvnews.com
 
Mau tahu contoh desa yang ditinggalkan penduduknya karena longsor dan rayapan tanah?. Simak penelusuran saya berikut ini, jangan lupa subscribe chanelnya ya!.

Rabu, Maret 1

Penyebab Longsor Terjadi Tiba-Tiba

Penyebab Longsor Terjadi Tiba-Tiba

Longsor atau landslide merupakan fenomena gerakan massa tanah batuan dari atas bukit menuruni lereng dengan kecepatan tinggi. Longsor merupakan bencana yang sering terjadi di musim hujan tiba dan banyak menelan korban jiwa. 

Longsor memang sering terjadi tiba-tiba, mendadak dengan waktu singkat namun banyak menelan korban jiwa karena sering terjadi saat malam hari atau masyarakat tidak sempat menyelamatkan diri. Baca juga: Jenis-jenis gumuk pasir di dunia

Manusia yang tinggal di daerah rawan longsor harus memahami dan mengantisipasi akan datangnya longsor. Curah hujan, kemiringan lereng, struktur kekompakan tanah dan aktifitas manusia memengaruhi terjadinya longsor. 
Penyebab Longsor Terjadi Tiba-Tiba
Bencana Longsor di Indoensia
Alam ini sudah diciptakan Tuhan dengan sempurna dan didesain agar kehidupan bisa berjalan seimbang. Pada dasarnya morfologi wilayah di Indonesia terutama yang berbukit semuanya rawan longsor. Tidak ada bukit yang tidak rawan longsor. Bagaimana menjelaskan konsep tersebut?.

Semua bisa dijelaskan dengan konsep kondisi kritis atau level kritis lereng. Longsor dapat terjadi bilamana kondisi kritisnya sudah maksimum dan terlampaui oleh gangguan. Gangguan ini bisa dipicu oleh faktor alami maupun manusia. 

Baca juga:
Dampak letusan gunung api lokal dan global 
Ciri daerah suburban atau pinggiran

Gangguan ini juga bisa berupa munculnya pembebanan baru atau adanya sayatan/pemotongan lereng. Contoh sederhana memahaminya adalah saat anda membuat teras atau tumpukan pasir di pantai. 

Jika tumpukan pasir sudah menjadi gunung dan besar maka pasir akan longsor dengan sendirinya bukan?. Inilah yang disebut beban kritis yang terlampaui. Gambar: foxnews.com

Jadi yang namanya benda apapun sebenarnya di alam ini punya batas kritis masing-masing. Contoh lainnya, sistem kekebalan tubuh manusia juga kalau sudah melewati batas kritis maka akan terjadi infeksi atau penyakit. Inilah keseimbangan alam. Intinya kita harus bisa menjaga agar batas kritis suatu bukit tidak meningkat. 

Kalaupun memang kondisi alamiahnya sudah rawan longsor karena faktor kemiringan dan struktur tanah yang labil maka lebih baik pemukiman di sana di relokasi ke tempat yang aman. Baca juga: Contoh batuan metamorf

Kamis, Februari 16

Faktor Bencana di Indonesia

Faktor Bencana di Indonesia

Bencana atau disaster adalah suatu hal yang biasa terjadi di muka bumi ini. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di dunia. Sebagai masyarakat kita perlu mewaspadai bencana alam ini.

Bencana secara harfiah dapat diartikan sebagai peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alamiah, manusia dan non alam sehingga menimbulkan korban jiwa dan dampak negatif lainnya seperti kerusakan lingkungan, psikologi dan kerugian harta benda.

Bencana tidak bisa dipediksi pasti namun kita bisa meminimalisir korban jiwa yang ditimbulkan dengan usaha preventif. Lalu apa saja faktor-faktor kerentanan bencana di Indonesia?. Ada faktor alami dan non alami sejatinya. Berikut penjelasannya.
Faktor Bencana di Indonesia
Bencana banyak disebabkan manajemen lingkungan buruk
1. Faktor Geologi
Secara geologi Indonesia berada di daerah Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Hal ini tentu berdampak pada potensi bencana gempa dan erupsi gunung api di Indonesia. Selain itu karena berada di wilayah ekuator, maka curah hujan juga kadang tinggi sekali dan bisa memicu banjir di puncak musim penghujan. Sementara pada musim kemarau, kekeringan sering terjadi di beberapa lokasi.  
2. Memilih Lokasi Pemukiman
Morfologi atau relief daerah di Indonesia sangat beranekaragam mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, pantai, rawa dan lainnya. Setiap morfologi punya keunikan, keuntungan dan kerugian masing-masing.  

Contohnya, pantai yang menghadap samudera lepas banyak menyimpan sumber daya hayati namun di sisi lain menyimpan bahaya tsunami. Daerah di pegunungan sangat kaya akan tanah subur namun juga rentan longsor dan banjir bandang. 
3. Kemiskinan
Tidak dipungkiri bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi. Hal itu akan berdampak pada minset masyarakat itu sendiri. Masyarakat miskin jika tidak dikelola maka bisa memicu berbagai perilaku seperti membangun pemukiman kumuh yang nanti memicu banjir. 
4. Urbanisasi
Urbanisasi membuat kota-kota besar semakin padat. Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan masalah baru di perkotaan mulai dari kriminalitas, kemacetan, banjir dan lainnya.  
5. Kerusakan Lingkungan
Eksploitasi sumber daya alam membuat alam menjadi semakin kritis. Contohnya kebakaran hutan dan lahan beberapa tahun ini terjadi karena adanya oknum yang membuka lahan dengan cara membakar.  
6. Budaya
Budaya merupakan kebiasaan yang dipelihara dan melekat dalam diri pribadi masyarakat. Buang sampah sembarangan menjadi salah satu budaya beberapa penduduk di negara ini yang masih belum bisa diselesaikan. Sampah yang dibuang hari demi hari tentu akan menggunung dalam setahun, dua tahun dan dampaknya adalah saat musim hujan tiba banjir datang karena saluran air semuanya tersumbat sampah. 
7. Pola Tata Ruang
Perencaan wilayah yang buruk mengakibatkan bencana lebih mudah menghampiri. Daerah resapan air yang harusnya diperuntukan untuk ruang hijau kini banyak yang dialihfungsikan menjadi bangunan beton. Tentu hal ini akan memicu bencana di kemudian hari. Daerah sempada sungai yang dibangun jalan dan pemukiman tentu akan mempersempit jalan air.

Rabu, Februari 15

Darimana Api itu Muncul?

Darimana Api itu Muncul?

Beberapa tahun ini bencana kebakaran lahan sering melanda Indonesia di musim kemarau. Dari sekian banyak bencana, kebakaran lahan (wildfire) menjadi salah satu bencana yang sulit dikendalikan dan mungkin paling berbahaya.

Kebakaran lahan itu diawali dari adanya api?. Nah sebelum membahas tentang faktor dan tata cara penanggulangan kebakaran lahan, saya akan jelaskan dulu darimana api itu bisa muncul. Baca juga: Batuan beku intrusif dan ekstrusif

Api berasal dari adanya pembakaran. Pembakaran merupakan sebuah reaksi yang mencakup tiga hal: Panas, Bahan Bakar dan Oksigen. Ketiga unsur tersebut harus ada jika ingin menghasilkan api. Jadi lingkungan non oksigen tidak dapat menghasilkan api. Jika panas tidak ada, bahan bakar habis atau tiada oksigen maka api akan lenyap.
Darimana Api itu Muncul?
Segitiga Api
Oksigen
Ini adalah gas sederhana yang ada di atmosfer kita. Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung sekitar 21% oksigen. Bahkan hanya 16% oksigen yang dibutuhkan untuk menghasilkan api. Ketika bahan bakar dibakar, maka ia akan bereaksi dengna oksigen di sekitarnya. 

Reaksi kimia ini melepas panas dan produk lainnya seperti gas, asap dan debu. Reaksi ini dinamakan reaksi oksidasi. Inilah yang menyebabkan asap dapat berbahaya karena tergantung dari bahan apa yang terbakar. Baca juga: Memperbesar dan memperkecil peta

Bahan Bakar
Bahan Bakar adalah bahan yang mudah terbakar. Materi ini dapat berwujud padat, gas atau cair. Contoh bahan bakar padat adalah kayu, daun kering, kertas. Contoh bahan bakar cair adalah bensin dan minyak tanah. Contoh bahan bakar gas adalah elpiji. Bahan bakar dengan kelembaban rendah cenderung terbakar dengan cepat dibandingkan bahan bakar dengan kelembaban tinggi.

Panas
Panas merupakan energi. Kamu tidak dapat melihatnya tapi bisa merasakannya. Panas akan menghilangkan uap air dari bahan bakar terdekat, menghangatkan udara sekitar dan menyiapkan jalan agar api dapat mudah terbakar. 
Sumber: http://eschooltoday.com/

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close