News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 1

Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia

Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia

Tahun 2018 sudah berlalu dengan beberapa fenomena yang berubah menjadi bencana melanda Indonesia.

Terakhir tepat di penghujung tahun 2018 longsor terjadi di Sukabumi Jawa Barat dan melenyapkan puluhan rumah, sampai saat ini proses evakuasi masih dilakukan. 

Beberapa minggu dan bulan ke belakang fenomena alam terjadi mulai dari gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Palu sampai tsunami di Anyer. 

Semua kejadian tersebut memakan korban jiwa yang tidak bisa dibilang sedikit, ditambah lagi infrastruktur yang luluh lantah. Kerugian pasti triliunan rupiah dan perlu beberapa tahun untuk rekonstruksi.

Lalu bagaimana sebenarnya mitigasi bencana di negara kita?. Saya kira sampai saat ini istilah tersebut hanya sebatas slogan saja. Coba pas tsunami di Anyer kemarin, tidak ada sama sekali sirene peringatan tsunami dan orang-orang tentu tidak tahu apa yang akan terjadi. 

Lantas setelah itu pihak terkait memberikan pernyataan bahwa memang alat pendeteksi tsunami dicuri/rusak lah/tidak punya alat deteksi tsunami akibat vulkanik. Pernyataan tersebut sudah menandakan bahwa Indonesia sudah gagal secara masif dan sistemik dalam mitigasi bencana.

Kita terlena dengan megahnya pembangunan infrastruktur ekonomi, bisnis namun untuk urusan nyawa kita abai. Takdir kita berada di Ring of Fire lalu mengapa hal tersebut diabaikan?. Dari sisi manajemen ruang, masih banyak lokasi rawan bencana tapi dibangun tidak sesuai peruntukan. 

Okelah kalau memang itu buat bisnis, ekonomi tapi solusinya kenapa tidak diberikan akses bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri?. Tiga bencana geologi tahun 2018 sudah cukup bagi kita untuk introspeksi dalam hal memahami hakikat ruang Indonesia. Gambar: Republika
Gagalnya Mitigasi Bencana Indonesia
Shelter Tsunami Banten yang gagal menyelamatkan
Kalau boleh saya berargumen, saya yakin mayoritas masyarakat tidak peduli dengan ancaman dari sebuah bencana geologi apalagi masyarakat kurang berpendidikan. 

Mereka hanya memikirkan tentang bagaimana cara menyambung nyawa, ekonomi. Lagi-lagi kemiskinan menjadi rantai yang mengikat pola masyarakat Indonesia. Saat gempa di Jogja tahun 2006, saya ingat rumah nenek yang berarsitektur Joglo sama sekali tidak runtuh sementara rumah beton tembok runtuh hancur. 

Dari sini kita sudah bisa menilai bahwa nenek moyang kita dulu sebenarnya sudah memberikan pelajaran bahwa untuk hidup di negeri ini harus menyesuaikan diri. 

Rumah-rumah adat kita sebenarnya didesain untuk menghadapi gejala alam seperti Joglo, Gadang, Rumah Panggung Sunda dll. Lalu kenapa kita tidak meniru atau memodifikasinya namun dengan prinsip sama.

Lihat sekarang banyak rumah-rumah murah dibangun dengan bahan seadanya asalakan developer untung. Posibilitas hancur saat gejala tektonik pasti besar. Memang ironi sekali, semua balik lagi ke sistem negara ini. 

Bahan-bahan bangunan dan harga tanah mahal maka jalan terakhir adalah mengurangi kualitas bahan yang penting rumah jadi. 

Beberapa waktu lalu saya lihat juga salah satu akun medsos pemerintah yang mengajak tentang pentingnya segera pendidikan mitigasi bencana. Lah apakah pemerintah tidak tahu bahwa dalam kurikulum geografi ada materi mitigasi bencana. Semua tinggal aplikasikan, kontekstual mengapa membuat statement demikian?. 

Saya sebagai guru geografi tentu merasa ada yang aneh dan memang nampaknya pemerintah tidak tahu sama sekali isi kurikulumnya sendiri. Kalau kata geograf senior T. Bachtiar mitigasi Indonesia itu anget-anget tai ayam.

Fenomena alam akan terus terjadi dan tidak bisa diprediksi dan masyarakat Indonesia harus sadar tentang hal tersebut. Kita memang sudah terkunci dalam sistem pemerintahan model seperti ini, tapi paling tidak pemerintah harus berbenah jika tidak ingin korban semakin banyak di kemudian hari. 

Tapi maaf saja kalau saya mash pesimis melihat pola yang terjadi dari tahun ke tahun. Kok pesimis sih? Ya boleh dong, itu kan hak saya. Ini kan negara hukum, bebas berpendapat toh?.

Kamis, Maret 22

Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Bencana

Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Bencana

Bencana atau disaster adalah fenomena yang dapat mengancam kehidupan manusia. Bencana dapat digolongkan menjadi bencana alam atau bencana sosial. 

Indonesia adalah negara yang punya kerentanan bencana khususnya bencana geologi yang tinggi lho guys!. Lalu apa yang harus dilakukan masyarakat untuk mengantispasi hal tersebut?. 

Dibutuhkan mitigasi bencana yang tepat untuk meminimalisir kerugian akibat fenomena alam yang bisa mengakibatkan bencana. 

Mitigasi didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 

Berdasarkan siklus waktunya, penanganan bencana meliputi 4 tahapan yaitu:

Baca juga:
Contoh soal studi kasus geografi di UN
Tipe-tipe erupsi gunung api di dunia

1. Mitigasi merupakan tahapan awal penanggulangan bencana alam untuk mengurangi dan meminimalkan dampak bencana. Mitigasi adalah kegiatan sebelum bencana terjadi alias preventif. 

Contohnya nih kegiatan simulasi bencana di sekolah, pembuatan papan evakuasi, menanam bakau di pantai, reboisasi, penyuluhan ke desa dan lainnya. 

Upaya preventif ini sebagai bagian dari penyampaian ilmu tentang mitigasi bencana.

2. Kesiagpsiagaan adalah perencanaan terkait cara merespons suatu bencana. Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan bencana lain yang mungkin akan terjadi. 

Tujuan dari kegiatan ini adalah meminimalkan korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana dan pelayanan umum yang meliputi upaya mengurangi tingkat resiko, pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, serta pelatihan warga di wilayah rawan bencana.

3. Respons adalah upaya meminimalkan bahaya ang diakibatkan bencana. Tahap ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana. 

Rencana penanggulangan bencana dilaksanakan dengan fokus pada upaya pertolongan korban bencana dan antisipasi kerusakan yang terjadi akibat bencana. 

4. Pemulihan adalah upaya mengembalikan kondisi masyarakat seperti semula. Tahap ini juga disebut rekonstruksi ulang dan sebagai sarana evaluasi untuk mitigasi di masa depan.
Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Bencana
Banjir di Cicaheum akibat tata ruang buruk di perkotaan



Pengertian Adapatasi Bencana
Adapatasi adalah upaya menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan melakukan perubahan yang mengarah pada peningkatan daya tahan dan daya lenting terhadap perubahan tersebut. 

Contohnya nih adaptasi terhadap perubahan iklim, maka masyarakat yang bermukim di pesisir harus mulai menanam mangrove atau bakau untuk mencegah abrasi. Baca juga: Potensi fisik NKRI yang luas biasa

Adaptasi berbagai macam bidang kehidupan harus diperhatikan oleh masyarakat agar tidak terjadi bencana di masa depan.
1. Adaptasi bidang pertanian
Petani harus memiliki skill melihat pola cuaca di wilayahnya sehingga bisa menentukan musim tanam yang tepat dan jenis tanaman yang tepat sesuai musimnya. Petani harus harus mewaspadai daerha rawan longsor sehingga tidak bertani di daerah tersebut.
2. Adaptasi bidang kehutanan
Seringnya muncul titik api di musim kemarau harus diwaspadai dengan cara memantau perkembangan titik api dengan SIG dan inderaja. Pemadam juga harus siap siaga di tempat.
3. Adaptasi bidang kesehatan
Pemerintah harus meningkatkan fasilitas kesehatan hingga penjuru negeri untuk memaksimalkan pelayanan dan mengurangi kejadian seperti gizi buruk dan wabah penyakit.
4. Adaptasi bisang perkotaan
Wilayah perkotaan kini rawan banjir sehingga kota harus didesain ramah lingkungan. Saluran drainase perbaiki dan jangan bangun rumah di pinggir sungai agar tidak menghambat lajua aliran air. 
 
Baca juga: Soal UTBK Mitigasi Bencana HOTS + Kunci

Gambar: detiknews
 
Mau tahu contoh nyata fenomena longsor yang menimbun satu desa?. Yuk simak penelusuran saya di chanel Susur Desa Kota berikut ini. Jangan lupa subscribe ya!.

Kamis, Januari 25

Fenomena Alam Bukan Bencana, Pahami!

Fenomena Alam Bukan Bencana, Pahami!

Halo teman-teman sekalian apa kabarnya hari ini, semoga sehat selalu dan senantiasa produktif. Kali ini saya akan sedikit beropini tentang fenomena gempa yang baru saja terjadi di Banten kemarin. 

Gempa bumi mengguncang Banten hingga sampai Jakarta dan membuat panik warga. Lalu apakah gempa itu termasuk fenomena alam atau bencana?.

Perlu dipahami oleh semua manusia bahwa seringkali kita belum bisa membedakan mana fenomena alam dan mana bencana. Bumi ini dan semua isi alam semesta ini sudah diciptakan Tuhan dengan sangat sempurna. 

Semua hal di alam semesta ini akan mengarah kepada suatu titik keseimbangan. Begitupun di bumi ini berbagai gejala alam seperti hujan, gempa, gunung api dan lainnya pada dasarnya adalah suatu fenomena alam, bukan bencana. 

Fenomena alam ini diciptakan untuk mencapai suatu keseimbangan di dalamnya. Tidak mungkin kita bisa membangun sebuah kota jika tidak ada batu dan tanah hasil erupsi gunung api misalnya. Baca juga: Zonasi laut menurut intensitas cahaya

Begitupun gempa bumi pada dasarnya adalah suatu mekanime untuk mencapai keseimbangan alam. Lalu apa bedanya dengan bencana?. 

Suatu fenomena alam bisa dikatakan bencana jika ia membuat banyak korban jiwa. Apakah kita bisa menghindari bencana?. Tentu semua fenomena alam memiliki posisi dan sebaran masing-masing. 

Tugas kita adalah bagaimana meminmalisir bencana yang disebabkan fenomena alam tadi.
Fenomena Alam Bukan Bencana, Pahami!
Indonesia ada di jalur aktif tektonik
Jadi pendidikan dan pemahaman akan kondisi ruang tempat kita hidup harus benar-benar ditanamkan. Indonesia berada di jalur megathrust Sunda dan cincin api Pasifik dan menjadi rumah dari berbagai fenomena alam seperti erupsi, gempa dan erosi. 

Nenek moyang kita dulu sudah memahami hal ini, maka rumah-rumah mereka didesain panggung atau ceker ayam untuk memimalisir dampak fenonema alam. Ini adalah kecerdasan manusia kita sejak dahulu. 

Jika tidak mau terkena longsor, ya jangan buat rumah di daerah rawan erosi atau jika tidak mau kena banjir ya buatlah saluran air yang baik dan jangan hanya membangun jalan dan beton gedung saja. Baca juga: Pelapukan fisika, kimia dan mekanik

Jadi bencana adalah sebuah pilihan dan tergantung dari sejauhmana pemahaman manusia tentang fenomena alam ini. Rumah nenek saya di Jogja ketika gempa 2006 tidak rubuh karena konstruksinya mengikuti pola ceker ayam sementara rumah satunya yang pakai tembok rubuh. 

Inilah nilai kearifan lokal yang sangat penting untuk dipahami bersama agar fenomena alam tidak menjadi bencana. Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini jika dipadukan dengan kearifan lokal bisa menjadi langkah preventif dalam mengatasi berbagai fenomena alam. 

Jadi fenomena alam adalah mekanisme alami untuk mencapai keseimbangan sementara bencana adalah dampak berupa korban atau kerusakan karena fenomena alam tersebut. 
Gambar: disini

Rabu, Januari 17

Pengikisan dan Gerakan Tanah

Pengikisan dan Gerakan Tanah

Coba kamu perhatikan ketika terjadi banjir, airnya pasti keruh terlihat seperti kopi susu atau cokelat susu. Air banjir keruh karena bermuatan bahan sedimen. 

Oleh sebab itu kita akan belajar tentang pengikisan dan gerakan tanah. Sebenarnya bukan hanya air banjir saja yang bermuatan, tapi saat huja besar dan air mengalir di halaman rumahmu pasti airnya akan keruh. 

Darimana asalnya muatan bahan endapan sedimen itu?. Tentu dari bahan tanah yang tererosi dan hanyut.

Pengikisan atau erosi termasuk salah satu proses alam yang menuju kepada perendahan permukaan bumi. Pengikisan atau erosi disebabkan oleh air mengalir, gerakan tanah, angin, gelombang laut dan es. Kita akan bahas tentang pengikisan oleh air dan gerakan tanah dulu.

Pengikisan oleh Air
Erosi yang paling dominan di negara tropis seperti Indonesia adalah oleh bantuan air. Sebenarnya ada atau tidaknya pembukaan tanah oleh aktifitas manusia, air yang mengalir akan selalu meng erosi tanah. 

Jadi ada bahan material yang terangkut. Ini adalah fenomena alam wajar dan erosi ini mengatur kesimbangan bumi. Dalam jangka waktu ribuan hingga jutaan tahun tentu terjadi pula perendahan permukaan bumi atau disebut juga denudasi.

Jika pengikisan makin besar sebagai akibat kegiatan manusia maka pengikisan tersebut dinamakan pengikisan atau erosi yang dipercepat. Di Indonesia terutama di pulau Jawa terjadi pengikisan yang dipercepat. Namun beberapa daerah di luar Jawa pun banyak terjadi seperti di Sumbawa.
Pengikisan dan Gerakan Tanah
Runtuhan tanah di tebing
Salah satu contoh yang sangat terkenal akan ketandusan akibat perbuatan manusia ialah daerah Maja di Jawa Barat. Sejak sebelum perang dunia kedua, orang telah memberi kepadanya julukan tanah sekarat daerah Maja.

Fenomena semacam ini tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apa sebabnya?. Karena air hujan yang jatuh tidak mudah lagi terhambat. Akibatnya ialah banjir kian memuncak. Sebaliknya pada musim kemarau sungai-sungai jadi kering kerontang.

Salah satu cara untuk memperbaiki tanah yang rusak itu ialah reboisasi. Tanah itu dijadikan hutan kembali seperti sediakala. Dengan demikian pengikisan bisa dikurangi. Cara lain ialah terasering, artinya lereng dibuat berjenjang. Dalam hal ini jenjang-jenjang itu menghalangi pula penghanyutna tanah. Tentu saja cara ini kurang baik jika dibandingkan dengan yang pertama. Tetapi keuntungannya ialah tanah terpakai untuk pertanian.

Tidak semua tanah dapat dibuat terasering. Misalnya tanah napal. Tanah semacam itu jika digemburkan bahkan jadi makin mudah hanyut.
Pengikisan dan Gerakan Tanah
Rayapan tanah akibat gravitasi
Gerakan Tanah
Kamu tentu sudah sering lihat fenomena longsor. Longsor atau landslide ialah meluncurnya massa tanah yang terletak pada tempat yang miring. Kejadian itu termasuk salah satu diantara gejala gerakan tanah. 

Jenis-jenis lainnya adalah runtuhan tanah dan aliran tanah. Gerakan tanah merupakan fenomena umum terjadi di pegunungan yang berlerang curam. Banjarnegara dan Wonosobo adalah contoh daerah rawan gerakan tanah dan pernah memakan korban jiwa.

Di Majalengka ada daerah bernama Desa Cigintung yang sekarang mati karena bencana gerakan tanah. Sekarang desa tersebut menjadi desa wisata bencana. Daerah luar Jawa pun rawan gerakan tanah seperti di pegunungan Puncak Jaya Wijaya. Namun karena masih sedikit penduduk maka jarang memakan korban jiwa.

Gerakan tanah yang pernah mengakibatkan korban ribuan orang terjadi di Bali pada 1917. Bencana gerakan tanah itu berbarengan dengan gempa bumi hebat yang melanda Bali. 

Pada longsoran massa tanah yang bergerak seringkali masih nampak gumpalan-gumpalannya. Bergeraknya tidak terlalu cepat namun terus-menerus. Pohon-pohon pun dapat ikut bergerak meksi jadi condong. Ini dinamakan rayapan tanah atau soil creeps.

Pada runtuhan massa tanah, gerakan tanah sangat cepat dan banyak terjadi di lereng curam sehingga meningkatkan kecepatan longsoran. Pada aliran tanah, yang kelihatan bergerak adalah lumpur. Lumpur itu meluncur ke bawah mengikuti lereng atau lembah. 

Gambar: disini, disini

Kamis, Desember 7

Jenis dan Faktor Bencana Kekeringan

Jenis dan Faktor Bencana Kekeringan

Pada artikel sebelumnya saya sudah jelaskan tentang definisi kekeringan dari berbagai sudut. Kali ini saya akan jelaskan jenis dan penyebab kekeringan.

Ada beberapa indikator yang digunakan para pakar untuk melihat apakah suatu kondisi disebut kekeringan atau tidak. Indikator ini  membantu pemerintah daerah untuk merencanakan mitigasi bencana kekeringan yang tepat sesuai kondisinya. Berikut ini jenis-jenis kekeringan:

1. Kekeringan meteorologi
Kekeringan meteorologi ini dipengaruhi minimnya kelembaban cuaca yang diakibatkan curah hujan minim dan kondisi lain seperti angin fohn, suhu tinggi dan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari kondisi rata-rata daerah dalam jangka waktu panjang.

Biasanya indikator yang digunakan adalah potensi krisis air berkepanjangan. Kekeringan meteorologi dapat berawal dan berakhir dengan cepat. 

Baca juga:
Dampak revolusi hijau era modern
Pola angin muson di Indonesia dan dampaknya

2. Kekeringan pertanian
Kekeringan ini terjadi saat kelembaban udara berkurang drastis sampai mempengaruhi pada kelembaban tanah. Dalam hal ini tanaman dan hewan terpengaruh dan evaporasi juga terpengaruh. Tanah retak-retak adalah bukti kekeringan melanda area pertanian.

3. Kekeringan hidrologi
Kekeringan ini terjadi akibat kurangnya air permukaan dan suplai air di dalam tanah. Kekeringan ini biasanya tidak terjadi bersamaan dengan kekeringan meteorologi. Di sisi lain penurunan kuantitas dan kualitas air permukaan dan sub permukaan adalah dampak dari kekeringan meteorologi.

4. Kekeringan sosial ekonomi
Kekeringan ini terjadi ketika pasokan beberapa barang dan jasa seperti energi, makanan dan air minum berkurang karena perubahan kondisi cuaca dan hidrologi. 

Membludaknya populasi manusia dan meningkatnya kebutuhan barang dan jasa membuat volume air menyusut. Butuh waktu lama untuk merecovery kekeringan ini.
Jenis dan Faktor Bencana Kekeringan
Kekeringan mengancam umat manusia
Faktor-Faktor Terjadinya Kekeringan
1. Kurangnya curah hujan
Kekeringan bisa terjadi bila minimnya curah hujan (hujan dan salju) di satu daerah. Perhatikan bahwa kekurangan hujan saja tidak berarti bisa disebut kekeringan. Beberapa daerah bisa berbulan-bulan tanpa hujan, dan itu akan terlihat 'normal' bagi mereka. 

2. Aliran air permukaan sedikit
Beberapa daerah juga terdistribusi dengan baik dengan air permukaan (sungai dan sungai) yang memiliki sumber dari gunung dan daerah aliran sungai yang jauh. Permukaan air ini bisa mengering jika aliran dari sumbernya ke hulu terpengaruh.


 Debu hidrolik dan sistem irigasi merupakan beberapa kegiatan ekonomi yang dapat mengurangi jumlah air yang mengalir ke daerah lain di hilir. Baca juga: Jenis-jenis pola aliran sungai

3. Kegiatan manusia 

Hutan (pohon) memainkan peran kunci dalam siklus air, karena membantu mengurangi penguapan, menyimpan air dan juga berkontribusi pada kelembaban atmosfer dalam bentuk transpirasi.

Ini berarti, menebang pohon (deforestasi) atas motof ekonomi, akan meningkatkan laju air permukaan menjadi penguapan. 

Ini juga akan mengurangi kemampuan tanah untuk menahan air dan memudahkan kekeringan terjadi. Ini bisa memicu kondisi pengeringan, terutama untuk badan air yang lebih kecil. Menebang pohon diketahui bisa mengurangi potensi daerah aliran sungai.

4. Global Warming
Meskipun beberapa orang tidak menerima bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat, perlu dicatat bahwa tindakan manusia telah memberi kontribusi pada lebih banyak gas rumah kaca di atmosfer. 


Akibatnya suhu yang lebih hangat, sering mengakibatkan lebih banyak kekeringan dan kebakaran semak/lahan. Kondisi ini juga cenderung mempercepat kondisi kekeringan.

Baca juga: disini

Senin, Desember 4

Penyebab dan Usaha Mengurangi Resiko Banjir di Daerah

Penyebab dan Usaha Mengurangi Resiko Banjir di Daerah

Musim hujan pasti akan datang di semua wilayah Indonesia dan masyarakat harus siap menghadapinya. Masalahnya Indonesia punya kerentanan banjir yang tinggi.

Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering selama beberapa waktu karena meningkatnya volume air pada sungai atau tubuh air lainnya. Banjir umumnya terjadi ketika jumlah air di permukaan daratan melebihi jumlah air ang dapat ditampung oleh aliran sungai atau tubuh tanah.

Ada dua penyebab utama banjir yaitu curah hujan tinggi dan kegiatan manusia. Curah hujan tinggi di daerah terutama di musim hujan dapat menyebabkan banjir. 

Hal ini disebabkan kemampuan sungai untuk meloloskan air hujan dan limpasan permukaan tidak sebanding dengan jumlah air yang diterima. Curah hujan tinggi membuat tanah tidak kuat menahan dan menyerap air karena telah jenuh sehingga air hujan lalu mengalir sebagai limpasan di permukaan tanah atau tergenang. 

Apa bedanya banjir dengan genangan air?. Genangan air sifat airnya tidak mengalir deras, sementara banjir sifat airnya deras dan bervolume tinggi.

Kegiatan manusia juga mempengaruhi peningkatan potensi banjir di daerah. Pembuatan jalan beraspal, bangunan beton, penebangan hutan semuanya berpengaruh pada peningkatan kerentanan bencana banjir. Fenomena banjir dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
Penyebab dan Usaha Mengurangi Resiko Banjir di Daerah
Banjir di Pacitan akhir tahun 2017
a. Banjir sungai, adalah banjir yang terjadi akibat meluapnya air sungai melewati tanggul sungai.
b. Banjir pesisir, adalah tergenangnya ailayah daratan sepanjang pantai akibat air pasang tinggi serta ditambah hujan deras dan hembusan angin laut.
c. Gelombang badai, adalah banjir yang disebabkan kenaikan permukaan air diatas batas rata-rata akibat badai.
d. Banjir pedalaman, adalah banjir yang disebabkan hujan sedang terus-menerus selama berhari-hari, hujan deras dalam waktu singkat atau timbunan material yang menghambat aliran sungai.
e. Banjir bandang, adalah banjir yang disebabkan hujan sangat deras dalam wkatu singkat. Ciri banjir ini adalah aliran air yang sangat deras dan meluas hingga menyapu wilayah sekitar sungai.

Limpasan hujan yang melalui hutan gundul atau daerah minim tutupan vegetasi dapat menimbulkan banjir. Beberapa dampak yang ditimbulkan banjir adalah:
a. merusak rumah, jalan dan jembatan.
b. menggenangi daerha pertanian
c. mengakibatkan polusi air di pemukiman sehingga menjadi media penyebaran penyakit
d. memutus jalan penghubung antar wilayah

Daerah yang rawan banjir diantaranya daerah dataran rendah cekungan atau daerah perbukitan dengan sungai yang memanjang menuruni lereng. 

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko banjir adalah:
1. Reboisasi di wilayah hulu agar menambah daya resap air.
2. Pembuatan teras-teras di lahan miring untuk mengurangi erosi.
3. Pembuatan tanggul di tepi sungai.
4. Pengerukan dasar sungai secara periodik.
5. Melarang pembuangan limbang ke sungai.
6. Membuat bendungan penampung air.
7. Membuat gorong-gorong di bawah tanah untuk meloloskan air dari permukaan tanah/jalan.  

Gambar: disini

Rabu, November 29

Definisi Bencana Kekeringan

Definisi Bencana Kekeringan

Kekeringan atau drought selalu sulit untuk didefinisikan karena sering digunakan dalam berbagai jenis konteks. Bencana kekeringan sering muncul disaat musim kemarau.

Secara sederhana, ketiadaan air dalam jangka waktu lama di suatu daerah dapat dikatakan tidak normal dari biasanya, dapat dikatakan mengalami kekeringan. Distribusi air di permukaan bumi tidaklah merata meskipun volume air di bumi tetap. 

Beberapa lokasi memiliki banyak air tawar seperti danau, sungai, laguna, kolam dan lainnya yang terus diisi ulang oleh curah hujan, limpasan dan air bawah tanah. Sementara di daerah lain dikenal memiliki jumlah air sangat minim. Baca juga: Faktor penyebab bencana kekeringan

Oleh karenanya, jika suatu daerah biasanya memiliki curah hujan tinggi kemudian tiada hujan dalam beberapa minggu sehingga manusia, tumbuhan dan hewan mengalami kekurangan air, itu bisa dikatakan kekeringan. 

Pada saat yang sama kondisi ini mungkin sangat normal untuk lokasi yang  sulit air dan selama beberapa bulan tanpa hujan pun itu adalah normal.
Definisi Bencana Kekeringan
Kekeringan menyebabkan kegiatan pertanian terganggu
"petani mengeluh kelembaban tanah sangat minim dan mempengaruhi masa tanam, ini dikatakan kekeringan".
"ahli cuaca mengatakan kekeringan bila dalam jangka waktu relatif lama tidak ada curah hujan dalam suatu wilayah"
"ahli hidrologi melihat tidak ada aliran permukaan di sungai atau saluran air lain, ini bisa dikatakan kekeringan"

Dengan pemikiran di atas, kita bisa menggambarkan kekeringan sebagai suatu fenomena suatu daerah yang mengalami ketidakcukupan air dalam jangka waktu relatif lama yang mempengaruhi kehidupan mahluk di dalamnya.

Kekeringan mungkin tidak menjadi masalah serius hanya karena kurangnya atau tidak adanya presipitasi. Namun ini bisa menjadi masalah jika mulai mempengaruhi persediaan air untuk beragam fungsi seperti irigasi, kota, industri, energi dan ekosistem.

Manusia sering tidak melihat kekeringan seperti bencana lain yaitu tornado, angin topan atau banjir karena sifatnya yang tidak merusak sekaligus. Namun dalam jangka waktu lama yang berkelanjutan, kekeringan bisa menyebabkan kerusakan serius dan mengancam kehidupan manusia dan mahluk lainnya. 

Di Indonesia daerah yang rawan kekeringan adalah daerah seperti karst di Gunung Kidul dan daerah di Nusa Tenggara yang memiliki curah hujan rendah. Baca juga: Ayat quran terkait geografi
Gambar: disini

Selasa, September 12

Mengapa Tornado Sering Terjadi di Amerika?

Mengapa Tornado Sering Terjadi di Amerika?

Halo sahabat geografi sekalian, kali ini saya akan sedikit membahas tentang mega disaster yang sedang melanda Amerika yaitu Badai Irma. 

Badai Irma meskipun namanya cantik, tapi ia adalah sebuah badai siklon raksasa yang sangat berbahaya. Badai Irma termasuk Tornado kategori 5 atau yang tertinggi levelnya. 

Terus, mengapa kok Amerika Serikat sering diserang tornado setiap tahun, padahal mereka kan negara canggih?. 

Itu gak ada kaitannya dengan kecanggihan negara bro, tapi memang kondisi fisikalnya memungkinkan tornado terjadi di Amerika. Lebih dari 1.000 tornado terjadi di Amerika setiap tahunnya.

Baca juga:
Pembahasan SBMPTN Geografi 2014
Pembahasan SBMPTN Geografi 2015

Amerika Serikat banyak dihantam tornado karena kehadiran Pegunungan Rocky dan Teluk Meksiko. Kedua kondisi alam tersebut menciptakan tiga bahan utama yang diperlukan untuk terbentuknya tornado. 

Selain itu ada 3 faktor lain yang membentuk tornado yaitu, udara hangat yang lembab, udara sejuk yang kering danangin horisontal yang naik.
Mengapa Tornado Sering Terjadi di Amerika?
Hurikan Irma yang berbahaya
Selain itu karena rotasi bumi, angin hampir selalu belok ke arah barat karena efek Coriolis. Garis lintang tengah dunia yaitu antara 30 dan 50 derajat adalah lingkungan terbaik bagi sebuah badai torndao untuk berkembang. 

Ini adalah wilayah dimana udara dingin kutub bertemu dengan udara hangat dari khatulistiwa dan memunculkan hujan konvektif di batas pertemuannya. 

Selain itu udara di lintang tengah selalu berhembus dengan kecepatan berbeda dan arah berbeda pada tingkat atmosfer tertentu sehingga memfasilitasi rotasi sel tornado.

Jadi yang namanya tornado/taifun itu selalu muncul di lintang tengah ya dan gak bakal ada di khatulistiwa seperti indonesia. Tornado akan berbelok arah saat mencapai khatulistiwa karena efek Coriolis. Paling kalau di Indonesia hanya skala lokal yaitu Angin Puting Beliung. Baca juga: Bedanya siklon dan puting beliung

Tornado paling banyak menghantam wilayah timur Amerika Serikat seperti Oklahoma, Kansas dan baru-baru ini Florida. Hurikan Irma memaksa lebih dari 6 juta orang mengungsi untuk menghindari bencana besar ini. 

Lalu kenapa badai siklon di Amerika selalu pakai nama perempuan yaitu Katrina, Harvey, Irma, Moore dll. Itu sejarahnya sejak Perang Dunia II saat para tentara AS sering menggunakan nama anak/isterinya untuk kode penerbangan/kondisi cuaca saat perang. Jadi nama tornado di Amerika juga untuk mengklasifikasikan kekuatan dan jenis tornado yang berbeda.  

Baca juga: Soal konsep geografi dan jawabannya
Gambar: disini

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close