Guru Geografi: Biogeografi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 15

Perbedaan Bioma Hutan Tropis Basah dan Kering

Perbedaan Bioma Hutan Tropis Basah dan Kering

Hutan tropis dapat dijumpai di wilayah sekitar ekuator atau khatulistiwa dengan ciri-ciri curah hujan tinggi >2.000 mm per tahun dan suhu rata-rata 25⁰C. Hal inilah yang menyebabkan biodiversitas hutan hujan sangat tinggi.

Hutan hujan tropis paling luas adalah Amazon yang dikenal dengan nama selva. Hutan yang berlokasi di Amerika selatan ini memiliki 4 lapisan yaitu emerjen, kanopi, hutan muda dan semak belukar.

Emerjen adalah lapisan paling atas dari hutan tropis sehingga paling banyak menerima penyinaran matahari. Di bawah emerjen ada kanopi yaitu pepohonan bedaun rapat sehingg membentuk payung raksasa dan menghalangi matahari masih ke dalam.

Pada lapisan tengah, tumbuh pohon-pohon mudah yang merupakan turunan pohon raksasa di atasnya. hutan muda. Lapisan ini disebut hutan mudah. Sementara di bagian bawa terdapat lantai hutan yang berupa semak belukar, lumut, pakis, tumbuhan epifit, jamur dan lainnya.

Hutan tropis dibedakan menjadi dua yaitu hutan tropis basah (oceanik) dan hutan tropis kering (continental).

1. Hutan Tropis Basah
Wilayah zona hutan tropis basah berada di sekitar lintang tropis (0⁰-23,5⁰ LU/LS) dengan kadar kelembaban dan penguapan sangat tinggi, curah hujan yang sangat besar. Hal ini terjadi karena wilayah daratan tersebut dikelilingi oleh lautan luas. Faktor itulah meyebabkan keanekaragaman flora di daerah ini sangat banyak. Citi-ciri fisik hutan tropis basah adalah kelembaban udara relatif tinggi > 60%, gradien termis harian relatif rendah sekitar 2⁰ - 5⁰C, dan suhu rata-rata sekitar 26⁰C.
Zona hutan tropis

Wilayah dengan ciri fisik di atas terdapat di Amerika selatan, semenanjung Amerika Tengah, Pesisir Afrika bagian barat dan timur, Madagaskar dan Asia Tenggara. Hutan tropis basah memiliki karakteristik:
a. jenis vegetasi yang hidup bervariasi (lebih dari 100 spesies).
b. senantiasa rimbun dan sangat rapat, sepanjang tahun hijau lebat.
c. pada umumnya pohon yang tumbuh dapat mencapai > 60 meter, terdapat beragam jenis epifit dan tumbuhan melilit.
Peta sebaran hutan hujan

2. Hutan Tropis Kering
Hutan tropis kering adalah wilayah hutan tropis yang ada di pedalaman daratan atau benua yang sudah tidak dipengaruhi oleh angin laut. Ciri fisik hutan tropis kering adalah kelembaban udara relatif rendah  < 50%, gradien termis harian relatif tinggi yaitu > 10⁰C, dan suhu rata-rata relatif lebih tinggi yaitu 31⁰C.

Hutan tropis kering sering memiliki ciri fisik yang sangat berbeda dibandingkan hutan tropis basah. Walaupun secara lokasi memiliki kesamaan yaitu di sekitar lintang tropis, tapi daerah hutan tropis kering tidak memiliki biodiversitas flora fauna seperti hutan tropis basah. Kawasan hutan tropis kering meliputi Asia Barat, Afrika bagian tengah dan Asia Timur bagian tengah.

Meski terdapat perbedaan dari jumlah vegetasi yang tumbuh namun karakteristik dasar hutan tropis kering sama dengan hutan tropis basah yaitu pepohonannya berdaun lebat dan membentuk kanopi yang mengakibatkan lantai dasar hutan gelap dan memungkinkan semak belukar seperti liana dan epifit berkembang dengan baik.
Lantai hutan hujan yang lembab

Sabtu, Mei 14

Faktor Tidak Meratanya Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi

Faktor Tidak Meratanya Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi

Persebaran lingkungan fisiografis yang meliputi air, kesuburan tanah, sinar matahari dan ainnya tidaklah merata di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan persebaran flora dan fauna pun tidak merata di seluruh permukaan bumi.

Berikut ini deskripsi faktor-faktor yang persebaran flora dan fauna di permukaan bumi.

1. Elevasi dan Morfologi
Suatu tempat memiliki ketinggian tertentu jika dihitung dari permukaan air laut. Semakin ke arah pegunungan makan semakin tinggi suatu tempat, inilah yang dinamakan elevasi tempat. Elevasi adalah ketinggian suatu tempat dari permukaan air laut.

Sementara itu, morfologi adalah bentuk bentang alam atau relief yang berbentuk pegunungan, perbukitan, dataran tinggi, dataran rendah, lereng, jurang, ngarai, dan lainnya.

Pengaruh elevasi dan morfologi terhadap eprsebarna flora dan fauna adalah semakin tinggi letak suatu tempat dari permukaan air laut maka tempat tersebut akan memiliki kecenderungan suhu yang semakin rendah serta kelembaban udara dan curah hujan yang lebih tinggi.

Kondsi tinggi rendahnya permukaan bumi ini membuat flora dan fauna memiliki spesifikasi kondisi alam yang sesuai dengan karakter masing-masing. Misalnya di dataran rendah akan banyak dijumpai kelapa, padi, tebu, sawit, singkong. Sementara itu di dataran tinggi akan ditemui pohon pinus, teh, kopi, pakis dan lainnya.
Ekosistem pinus
2. Letak Lintang
Letak geografis suatu tempat ditentukan berdasarkan besar kecilnya angka lintang. Angka lintang geografis yang semakin besar menunjukkan lokasinya semakin dekat menuju ke kutub, baik ke kutub utara dan kutub selatan.

Daerah yang letak lintang geografisnya makin besar maka akan makin sedikit mendapatkan penyinaran matahari. Kondisi ini membuat jenis flora dan fauna semakin dekat ke kutub maka semakin sedikit jumlah dan jenisnya.

Walaupun ada pengecualian untuk daerah padang pasir yang secara fisik tidak memenuhi syarat bagi kehidupan, tidak memungkinkan adanya kehidupan dalam jumlah relatif banyak. Wilayah tropis adalah surga bagi flora fauna karena kondisi iklim yang cocok. Intensitas penyinaran stabil sepanjang tahun serta kelembaban udara tinggi membuat beragam flora fauna hidup pada wilayah ini.
Sebaran ekosistem berdasarkan kondisi cuaca iklim

3. Cuaca Iklim
Faktor klimatologis adalah faktor kondisi iklim pada suatu tempat. Keadaan iklim tidak hanya ditentukan oleh letak lintang namun juga ada kaitannya dengan topografi maupun arah angin. Hal ini mempengaruhi terhadap kondisi atmosfer pada wilayah tersebut.

Kondisi wilayah yang memiliki kelembaban tinggi dan penyinaran yang cukup memungkinkan flora dan fauna tersebara dalam jumlah banyak. Sementara itu daerah di permukaan bumi yang kondisi kelembaban udaranya rendah dengan suhu yang dingin atau sangat panas maka akan mengurangi jumlah keragaman flora dan fauna. Contoh daerah minim flora fauna adalah gurun dan padang es.

4. Kesuburan Tanah
Tanah disebut subur jika secara fisik memiliki unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman secara umum. Kondisi ideal tanah subur terdiri atas 45% mineral, 45% bahan organik, 5% air dan 5% udara.

Pada wilayah dengan kondisi tanah subur maka berbagai vegetasi dapat dengan mudah dijumpai dari yang mulai berkuran kecil hingga raksasa. Beberapa jenis tanah kategori subur yang menjadi sarana pendukung kehidupan flora dan fauna adalah tanah vulkanis, podsolik, margalit, aluvial. 

Sementara itu tanah yang kurang subur alias miskin hara diantaranya adalah laterit, pasir, kapur, terarosa. Jenis vegetasi dan fauna yang hidup pada tanah tersebut terbatas karena kondisi tidak mendukung tumbuh kembang organisme yang bersangkutan.
Gurun tandus

Rabu, Agustus 4

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Kehidupan itu memiliki struktur yang sangat terogranisasi mulai dari molekul sampai bioma. Semua ini adalah ciptaan sempuran dari Tuhan.

Berikut ini struktur organisasi kehidupan dalam berbagai tingkatan dari terkecil sampai terbesar. Silahkan dibaca dan dipelajari.
 
1. Tingkat Molekul
Setiap inti sel mahluk hidup punya molekul organik yang berperan mengendalikan struktur dan fungsi dari setiap sel. Inti sel juga membawa informasi genetik yang diturunkan. 

Gen tersusun atas molekul organik berupa DNA (deoxyribonucleic acid). DNA memiliki kemampuan replikasi atau membentuk dirinya sendiri yaitu DNA, juga kemampuan mebentuk molekul lain atau RNA (ribonucleic acid) melalui transkripsi. RNA berperan sebagai pelaksana sintesis protein.

2. Tingkat Sel
Sel adalah unit kehidupan terkecil ya gan. Mahluk hidup uniseluluer seperti Protozoa, bakteri dan alga melakukan metabolismenya dalam sebuah sel karena adanya organel-organel yang menjalankan fungsi metabolisme. Mahluk hidup multiseluler seperti tumbuhan dan hewan dibangun dari berbagai macam sel yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda.

3. Tingkat Jaringan
Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Tubuh hewan tersusuna tas bermacam-macam jaringan seperti otot, darah atau epidermis. Porifera dan Coelenterata merupakan contoh mahluk hidup tingkat organisasi jaringan yang paling sederhana. Porifera dan Coelenterata memiliki dua lapisan sel pembentuk tubuh (diploblastik) yaitu lapisan terluar (ekdoterm) dan lapisan terdalam (endoderm).

4. Tingkat Organ
Organ adalah kumpulan jaringan dengan fungsi tertentu. Contoh organ dalam tubuh manusia adalah jantung, paru-paru dan lambung. Adapun organ tumbuhan contohnya akar, batang, daun, bunga dan buah.

5. Tingkat Sistem Organ
Sistem organ adalah susunan organ-organ yang saling berinteraksi dalam melaksanakan fungsi di dalam tubuh. Sebagai contoh sistem peredaran darah manusia yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah, keduanya berfungsi mengedarkan darah ke seluruh tubuh.

6. Tingkat Individu
Di tingkat individu berlangsung mekanisme kompleks yang terjadi karena koordinasi dan regulasi bermacam-macam sistem tubuh. Contohnya manusia adalah individu yang terdiri atas bermacam-macam sistem organ mulai dari sistem gerak, sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem ekskresi, sistem reproduksi dan sistem imun.

7. Tingkat Populasi
Kumpulan individu yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan populasi. Di lingkungan sekitar kita ada bermacam-macam populasi seperti populasi rumput, populasi kucing, populasi cacing tanah dan lainnya.

8. Tingkat Komunitas
Kumpulan populasi yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan komunitas. Misalnya komunita padang sabana yang terdiri atas populasi rumput, populasi akasia, populasi belalang, populasi singa, populasi alang-alang.

9. Tingkat Ekosistem
Eksosistem adalah interaksi antara populasi-populasi penyusun komunitas dengan lingkungan abiotiknya (sinar matahari, air tanah udara).

10. Tingkat Bioma
Kumpulan ekosistem yang melingkupi wilayah yang luas akan membentuk bioma. Bioma dicirikan dengan kenampakan vegetasi yang khas dan dipengaruhi garis lintang. Contoh bioma adalah bioma gurun, bioma hutan huja, bioma hutan gugur, bioma taiga, bioma tundra, bioma sabana, bioma stepa.
Kenampakan bioma sabana

Minggu, November 8

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Bioma gurun adalah salah satu bioma daratan yang bertipe arid atau kering. Gurun menutupi satu per lima daratan bumi.
 
Ciri fisik bioma gurun secara umum adalah curah hujan sangat rendah sepanjang tahun (kurang dari 50 centimeter).
 
Bioma gurun terbagi menjadi 4 tipe yaitu gurun arid, gurun semi-arid, gurun pesisir dan gurun dingin. Setiap gurun ini memiliki karakteristik mulai dari level kekeringan, iklim, suhu dan lokasi.
 
Kondisi Suhu 
Meski gurun punya variasi jenis seperti diatas, namun secara umum bioma ini dapat dideskripsikan secara umum. Fluktuasi suhu setiap hari (amplitudo harian gurun) sangat ekstrim dibandingkan daerah humid atau basah.

Saat siang hari gurun cepat menyerap panas namun saat malam hari sangat cepat melepas panas. Renahnya kelembaban udara di gurun juga sering disebabkan karena sedikitnya tutupan awan yang pada dasarnya mampu menyimpan panas.

Bioma gurun pasir

Curah Hujan di Gurun
Curah hujan di bioma gurun sangat unik. Saat terjadi hujan di daerah gurun, presipitasi selalu datang cepat dan singkat yang dipisahkan oleh periode musim panas panjang.
 
Hujan yang turun akan langsung mengalai evaporasi, bahkan di beberapa gurun yang sangat kering, presipitasi tidak sampai menyentuh tanah (hujan virga).
 
Tekstur pasir di gurun umumnya kuarsa dan tanah gurun sangat minim mengalami pelapukan.
 
Vegetasi yang hidup di daerah gurun sangat sedikit karena faktor kondisi cuaca dan tanah disana yang panas. Beberapa tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan gurun adalah kaktus, akasia dan palem (kurma). 
 
Untuk fauna bioma gurun, beberapa diantaranya adalah unta, kadal, ular, kalajengking, tikus, kucin gurun. 
 
Contoh fauna dan vegetasi gurun

Karakteristik Bioma Gurun
Berikut ini beberapa karakteristik fisik khusus dari gurun:
1. curah hujan < 250 mm per tahun.
2. amplitudo suhu (perbedaan suhu) harian siang dan malam ekstrim.
3. evaporasi tinggi.
4. tekstur pasir kuarsa.
5. biodiversitas minim 
 
Gurun pantai

Tipe-Tipe Bioma Gurun
1. Gurun Arid, memiliki ciri panas, kering dan terbentuk di wilayah lintang rendah. Suhu cenderung hangat sepanjang tahun, meski sangat panas saat puncak musim panas. Curah hujan di guru tipe ini sangat minim dan lebih dominan evaporasi. Gurun Arid tersebar di Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan dan Australia. Contoh gurun arid adalah Gurun Sonoran,Gurun Sahara dan Gurun Kalahari.
 
2. Gurun Semi-Arid, memiliki ciri tidak sepanas dan sekering gurun arid. Gurun tipe ini mengalami musim panas kering, musim dingin yang panjang dengan diselingi presipitasi. Gurun semi arid tersebar di Amerika Utara, Newfoundland, Greenland, Eropa dan Asia.
 
3. Gurun Pesisir, terbentuk di wilayah barat benua sekitar ekuator. Pada lokasi ini, arus laut dingin bergerak menyusuri pantai dan pesisir dan menghasilkan kabut tebal diatas gurun. Meski kelembaban di gurun pantai ini cukup tinggi, presipitasi tetap sangat jarang. Contoh gurun pantai/pesisir adalah Gurun Atacama dan Gurun Namibia.
 
4. Gurun Dingin, memiliki ciri suhu rendah dan musim dingin panjang. Gurun dingin terdapat di Arktik, Antartika dan diatas pegunungan tinggi. Banyak area bioma tundra yang berubah menjadi gurun dingin saat musim dingin. Gurun dingin menerima presiptasi cukup banyak dibanding gurun lain pada umumnya. Contoh gurun dingin adalah gurun Gobi di Asia.
Kaktus gurun
 Gambar: disini, disini, disini

Selasa, Agustus 25

Faktor Edafik Penyebaran Flora dan Fauna

Faktor Edafik Penyebaran Flora dan Fauna

Salah satu faktor penyebaran flora dan fauna di bumi adalah tanah atau edafik. Tanpa tanah maka tidak akan ada kehidupan yang kompleks di planet bumi ini.

Faktor edafik adalah faktor yang berkaitan dengan struktur dan komposisi tanah yang terdapat pada suatu wilayah tertentu.

Tanah adalah komponen utama habitat tumbuhan dimanapun. Tanah mengandung unsur mineral, organik, air dan udara. Tanah subur mengandung sekurang-kurangnya 40% mineral, 10% bahan organik, 15% air dan 25% udara.

Karakteristik tanah secara signifikan menentukan kemampuan perakaran dan asupan nutrisi terhadap tumbuhan melalui tekstur dan struktur tanah. Coba kamu ambil segenggam tanah di pekarangan rumah, pastinya akan ada tanah yang berbutir halus dan ada juga tanah yang berbutir kasar.
Faktor edafik berkaitan dengan tanah
Faktor edafik meliputi hal-hal berikut:
1. Kedalaman lapisan tanah atau solum tanah, memengaruhi akses terhadap air, nutrisi dan stabilitas struktural tumbuhan.

2. Tekstur dan struktur tanah memengaruhi kerapatan tanah (bulk density) dan stabilitas agregat tanah, ruang pori, udara tanah, serta ketersediaan air di dalam tanah. Kerapatan tanah yang sangat intens akan menghambat proses pembenihan.

3. Muatan materi organik di dalam tanah memengaruhi sifat tanah, stabilitas struktur tanah, kapasitas menahan air tanah, warna tanah, retensi dan mobilitas polutan serta kapasitas penyangga.

4. Derajat keasaman atau pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dan larutan berair dan menunjukkan tingkat asam atau alkalinitas. Nilai pH tanah berpengaruh terhadap pada ketersediaan ion mineral dan sampai batas tertentu dapat menentukan jenis vegetasi yang akan tumbuh.

5. Kejenuhan basa yang menjadi pasokan nutrisi penting yang optimal diinginkkan untuk menghindari gejala kekurangan nutrisi, meningkatkan kerentanan terhadap hama dan penyakit, serta pengurangan hasil panen secara konsekuen.

Faktor penyebaran fauna terestrial sangat bergantung pada komunitas tumbuhan atau vegetasi pada suatu daerah. Jadi fauna atau hewam akan mengikuti persebaran tumbuhan sesuai dengan habitatnya.

Ada banyak jenis tanah di permukaan bumi ini khususnya di Indonesia mulai dari tanah vulkanik, tanah aluvial, tanah kapur, tanah laterit, tanah gambut dan lainnya. Vegetasi tanah vulkanik tentu akan berbeda dengan vegetasi pada tanah kapur misalnya.

Di tanah vulkanik banyak dijumpai pohon pinus sementara di tanah kapur banyak dijumpai pohon jati.

Fauna di daerah tanah bertipe basah dan lembab tentu akan berbeda pula dengan fauna di daerah tanah kering seperti di gurun. 

Jumat, Februari 21

Syarat Terjadinya Spesiasi Mahluk Hidup

Syarat Terjadinya Spesiasi Mahluk Hidup

Spesiasi merupakan proses pembentukan spesies, yang pada dasarnya dapat digunakan sebagai saksi hidup mengenai apa yang terjadi di masa lalu. 

Dengan begitu proses spesiasi dapat dianggap pula sebagai bukti otentik bahwa evolusi berlangsung.

Contoh spesiasi adalah burung finch Galapagos. Spesies yang berbeda dari burung ini hidup di pulau yang berbeda di kepulauan Galapagos, yang terletak di Samudra Pasifik Amerika Selatan. 

Burung finch diisolasi dari satu sama lain oleh laut. Selama jutaan tahun, setiap spesies burung finch mengembangkan paruh unik yang secara khusus disesuaikan dengan jenis makanan yang dimakannya. 

Beberapa finch memiliki paruh besar dan tumpul yang dapat memecahkan cangkang keras kacang dan biji. Burung finch lain memiliki paruh panjang dan tipis yang dapat mengisap bunga kaktus tanpa burung ditusuk oleh duri kaktus.  

Masih ada finch lain yang memiliki paruh ukuran sedang yang dapat menangkap dan menangkap serangga. Karena mereka terisolasi, burung-burung itu tidak berkembang biak satu sama lain dan karenanya berkembang menjadi spesies unik dengan karakteristik unik. Fenomena ini disebut spesiasi allopatric.

Namun spesiasi dapat terjadi bilamana memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan itu adalah terjadinya perubahan lingkungan, adanya relung kosong dan ada keanekaragaman suatu kelompok.
Finch Galapagos

1. Adanya Perubahan Lingkungan
Pada materi biologi sebelumnya telah digambarkan bahwa perubahan-perubahan evolusi yang terjadi disebabkan oleh perubahan frekuensi suatu alel (gen yang memiliki lokus (posisi pada kromosom) yang sama, tetapi memiliki sifat bervariasi yang disebabkan mutasi pada gen asal) tertentu karena adanya kondisi lingkungan tertentu. 

Adanya bencana alam seperti glasiasi, vulkanisme atau pergerakan benua dan proses lainnya menyebabkan perubahan global yang menyebabkan timbulnya kepunahan masa di bumi.

Kepunahan masa ini akan menimbulkan relung-relung kosong yang dalam waktu lama relung tersebut baru akan terisi kembali. Apabila tidak ada relung yang kosong, tidak ada tempat bagi suatu spesies untuk mengalami spesiasi.

2. Adanya Relung (Niche) yang Kosong
Relung adalah tempat hidup dan interaksi suatu organisme. Suatu spesies selalu menempati relung tertentu. Suatu relung pada umumnya hanya dapat ditempati satu jenis saja. Bila relung itu kosing artinya tempat tersebut tidak dihuni suatu organisme. Dampaknya adalah banyak organisme yang berusaha menempati relung tersebut.

3. Adaya Keanekaragaman suatu Kelompok Organisme
Dalam ekosistem pasti akan ada ada sejumlah organisme yang mencoba mengisi relung yang kosong. Keberhasilan suatu organisme mengisi relung ditentukan oleh berapa besar kecocokan organisme tersebut dibandingkan dengan persyaratan dari relung yang kosong.

Minggu, Januari 19

Proses Evaporasi, Transpirasi dan Evapotranspirasi

Proses Evaporasi, Transpirasi dan Evapotranspirasi

Air mengalami perpindahan dari permukaan bumi ke atmosfer dalam dua bentuk mekanisme yaitu evaporasi dan transpirasi. 

Evaporasi dapat diartikan sebagai proses dimana air berubah wujud menjadi gas/uap. Evaporasi dapat terjadi dimana pun selama ada air disana. 

Evaporasi membutuhkan kelembaban atmosfer yang lebih sedikit dibandingkan evaporasi permukaan tanah (pada kelembaban relatif 100% tidak ada evaporasi). 

Evaporasi membutuhkan jumlah energi yang sangat besar, contohnya saja evapirasi 1 gram air membutuhkan 600 kalori energi panas.

Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tanaman melalui stomata. Stomata adalah lubang mikro yang ditemukan pada daun, menghubungkan ke jaringan tanaman. 

Pada kebanyakan vegetasi, transpirasi bersifat pasif karena dikontrol oleh kelembaban atmosfer dan tanah. Transpirasi pada tumbuhan hanya 1% saja yang digunakan untuk pertumbuhan. 

Transpirasi juga mengangkut nutrisi dari tanah menuju akar dan menyebarkannya ke jaringan tumbuhan agar tidak kering. Beberapa tanaman di lingkungan ekstrim punya kemampuan membuka dan menutup stomata. 

Adaptasi ini penting untuk membatasi kehilangan air dari jaringan tumbuhan. Tanpa adaptasi ini maka tanaman tidak dapat bertahan dibawah kondisi sangat panas/kering.
Proses evapotranspirasi
Kadang kita susah sekali membedakan antara evaporasi dan transpirasi sehingga sering menggabungkannya menjadi evapotranspirasi.  Jumlah evapotranspirasi di permukaan bumi dikontrol oleh 4 faktor yaitu:

1. Energi
Semakin besar energi tersedai maka jumlah evapotranspirasi akan meningkat. Seperti sudah disebutkan bahwa dibutuhkan 600 kalori panas untuk mebgubah 1 gram air menjadi gas/uap.
2. Gradien Kelembaban
Jumlah dan volume uap air di atmosfer akan meningkat pada udara kering dibandingkan udara basah.
3. Kecepatan Angin
Banyak petani kita mengamati bahwa tanaman membutuhkan air cukup banyak saat angin bertiup kencang dibandingkan saat angin sepoi-sepoi pada saat kondisi suhu yang sama. Fakta ini membuktikan bahwa angin meningkatkan potensi evapotranspirasi. 

Proses evapotranspirasi menggerakan uap air dari tanah atau permukaan air ke atas permukaan yang tipis hanya beberapa sentimeter diatas tanah/air. Saat lapisan ini jenuh air maka evapotranspirasi terhenti. 

Angin dapat melepas lapisan ini dengan udata kering yang akan meningkatkan potensi evapotranspirasi.
4. Ketersediaan Air
Evapotranspirasi tidak dapat terjadi jika tidak ada perairan.

Kebanykan evapotranspirasi terjadi di permukaan bumi pada samudera di daerah subtropik. Pada daerah ini, intensitasi radiasi memengaruhi proses penguapan. Evapotranspirasi akan melebihi presipitasi di wilayah tropis dan lintang tinggi selama musim panas. Jadi kuncinya ada pada pemanasan atau tingkat radiasi matahari.

Minggu, Mei 5

Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm

Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm

Tumbuhan atau vegetasi terebar secara tidak merata di permukaan bumi ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sebaran vegetasi salah satunya iklim dan cuaca.

Iklim adalah kondisi atmosfer dalam waktu lama dan meliputi wilayah yang luas. Kondisi iklim tiap daerah berbeda-beda.

Iklim ini cukup dominan mempengaruhi pola sebaran flora dan fauna. Setiap zona iklim punya komunitas tumbuhan dan hewan tersendiri.

Vegetasi di daerah tropis seperti Indonesia akan berbeda dengan vegetasi di wilayah Sahara tentunya. Salah satu komponen cuaca adalah suhu atau temperatur.

Suhu menujukkan energi yang dimiliki suatu benda. Suhu udara adalah derajat panas dan dingin udara di atmosfer. Suhu udara dipengaruhi beberapa faktor seperti lama penyinaran, letak lintang, tutupan vegetasi, awan dan ketinggian.

Khusus dalam dunia tumbuhan, suhu udara adalah salah satu faktor pengendali sebaran vegetasi sesuai dengan letak lintang, topografi dan ketinggiannya.

Augustin P de Candolle seorang botanis asal Siwss membagi jenis vegetasi atas dasar korelasinya dengan suhu ke dalam 3 kelas vegetasi.

1. Megaterm
Megaterm adalah jenis tumbuhan yang hidup di daerah bersuhu tinggi atau beriklim tropis dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Contohnya adalah vegetasi hutan hujan tropis seperti di Indonesia.

Dikarenakan lingkungannya sangat mendukung terhadap tumbuh kembang vegetasi maka hutan hujan punya spesies yang heterogen. Hutan tropis tersebar di Indonesia, Amazon, Afrika Tengah, Papua Nugini. Di Indonesia hutan hujan ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.

2. Xerofita
Xerofita adalah jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah yang bersuhu tinggi atau beriklim tropis namun dengan curah  hujan rendah. Contohnya wilayah gurun dan ekosistem semiarid.

Kelas vegetasi ini juga masuk klasifikasi menurut kelembapan udara. Xerofita bisa ditemukan di wilayah pantai Parangtritis Yogyakarta.

3. Mesoterm
Mesoterm adalah jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah beriklim sedang atau subtropis dan punya pergantian suhu rendah dan tinggi. Contohnya adalah tumbuhan hutan gugur tropis. Daerah beriklim bercirikan musim kering yang panjang kemudian diikuti musim hujan yang lebat.

Di musim kering, vegetasi beradaptasi dengan merontokkan daunnya untuk mengurangi evaporasi. Vegetasi mesoterm di Indonesia ada di Jawa Tengah, Jawa Timut, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.
Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm
Hutan pinus yang sejuk
4. Miroterm
Mikroterm adalah tipe vegetasi yang hidup di daerah beriklim dingin dengan suhu relatif lebih rendah sepanjang tahun. Vegetasi yang tumbuh di daerah ini umumnya pohon tinggi dengan daun jarum seperti pohon tipe konifer. Vegetasi ini banyak ditemukan di daerah lereng pegunungan seperti hutan pinus.

5. Hekistoterm
Hekistoterm adalah jenis vegetasi yang tumbuh dan berkembang di daerah kutub dengan suhu ekstrim dingin sepanjang tahu. Contohnya adalah tundra alpin sejenis lumut-lumutan.

Daerah kutub punya lama penyinaran yang minim alias singkat. Jadi vegetasi hekistoterm punya masa perkembangan yang singkat. Vegetasi ini di Indonesia bisa dijumpai di Puncak Jaya Wijaya.
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close