Guru Geografi: Biogeografi | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, April 11

Teori-Teori Evolusi Pra-Darwin [Kreasionisme, Katastropisme, Gradualisme, Unifromitarianisme, Lamarck]

Teori-Teori Evolusi Pra-Darwin [Kreasionisme, Katastropisme, Gradualisme, Unifromitarianisme, Lamarck]

Sebelum hipotesa teori evolusi kimia dan evolusi biologi ditemukan, sudah banyak ahli botanical dan biologi berpendapat mengenai evolusi yang mengakibatkan terbentuknya biodiversitasi di planet bumi.

Beberapa teori evolusi yang lahir sebelum teori Darwin adalah kreasionisme, katastropisme, gradualisme, uniformitarianisme dan teori Lamarck.

1. Teori Kreasionisme
Teori kreasionisme adalah sebuah teori mengenai penciptaan yang terjadi dalam sekali waktu kehidupan sekaligus lengkap kemudian selesai begitu saja dan tidak ada lagi evolusi atau perubahan fisiologis. Paham kreasionisme ini dianut berdasarkan keyakinan agama dan juga keterangan Aristoteles.

Teori kresionisme dianggap tidak valid karena pada faktanya banyak spesies yang hidupnya tidak sekaligus ada pada satu zaman. Contohnya masa hidup dinosaurus tidak bersamaan dengan masa hidup manusia. Dinosaurus lebih awal muncul, kemudian jenis hewan burung adalah tipe pendatang alias baru dibandingkan mahluk seperti trilobite dan ammonite.
Fosil Amonite
2. Teori Katastropisme
Teori Katastropisme adalah paham tentang keanekaragaman mahluk hidup dihasilkan oleh nenek moyang yang umum dan muncul atau punahnya mahluk hidup disebabkan bencana alam. Teori ini dikemukakan oleh George Cuvier, seorang paleontologi (ahli fosil).

Teori katastropisme adalah teori yang mengemukakan bahwa perubahan besar dalam kehidupan di Bumi terjadi akibat dari peristiwa bencana atau bencana alam yang sangat besar dan mendadak, seperti tabrakan asteroid atau ledakan gunung berapi. Teori ini berbeda dengan teori evolusi yang menjelaskan perubahan kehidupan secara bertahap melalui seleksi alam.

Menurut teori katastropisme, peristiwa bencana tersebut menyebabkan kepunahan besar-besaran spesies tertentu dan membuka peluang bagi spesies lain untuk berevolusi dan berkembang. Teori ini didukung oleh bukti-bukti fosil dan geologis, yang menunjukkan adanya kepunahan besar-besaran spesies di masa lalu yang diikuti oleh kemunculan spesies baru.

Namun, teori katastropisme juga kontroversial karena tidak semua perubahan besar dalam kehidupan di Bumi dapat dijelaskan dengan peristiwa bencana alam yang besar dan mendadak. Beberapa perubahan besar dapat terjadi akibat faktor-faktor lain seperti perubahan iklim, seleksi alam, dan interaksi antara spesies. Oleh karena itu, teori katastropisme masih menjadi topik yang diperdebatkan di kalangan ilmuwan.

3. Teori Gradualisme
Teori gradualisme James Hutton adalah teori geologi yang dikembangkan oleh ahli geologi Skotlandia bernama James Hutton pada abad ke-18. Teori ini menyatakan bahwa perubahan geologi terjadi secara perlahan-lahan melalui proses alami yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang. Menurut Hutton, batuan-batuan dan lapisan-lapisan geologi terbentuk melalui proses yang berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Hutton percaya bahwa proses-proses seperti erosi, pengendapan, pemadatan, dan metamorfosis terjadi secara konstan dan berkelanjutan di alam, dan bahwa perubahan tersebut terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap sejarah geologi Bumi dalam skala waktu yang sangat panjang untuk memahami geologi secara keseluruhan.

Teori gradualisme James Hutton menjadi dasar bagi pengembangan teori evolusi oleh Charles Darwin, karena teori ini menyatakan bahwa perubahan biologi juga terjadi secara perlahan-lahan melalui proses seleksi alam yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang.

4. Teori Uniformitarianisme
Teori uniformitarianisme adalah teori geologi yang menyatakan bahwa proses alam yang terjadi di Bumi saat ini merupakan hasil dari proses yang sama yang terjadi di masa lalu dan akan terus terjadi di masa depan. Teori ini menunjukkan bahwa kondisi geologi saat ini merupakan hasil dari proses yang berlangsung secara lambat dan terus-menerus selama jutaan tahun.

Istilah uniformitarianisme pertama kali digunakan oleh ahli geologi Skotlandia bernama James Hutton dan kemudian dikembangkan oleh ahli geologi lainnya seperti Charles Lyell. Teori ini menolak pandangan kuno yang mengatakan bahwa perubahan geologi disebabkan oleh bencana alam seperti banjir besar atau gempa bumi, dan menekankan pentingnya pengamatan langsung terhadap proses alam yang berlangsung saat ini untuk memahami perubahan geologi secara keseluruhan.

Teori uniformitarianisme juga berimplikasi pada teori evolusi, karena teori ini menunjukkan bahwa proses seleksi alam yang terjadi saat ini juga berlaku untuk masa lalu dan akan terus berlaku di masa depan. Teori ini menjadi dasar bagi ilmu geologi modern dan memungkinkan para ilmuwan untuk memahami sejarah geologi Bumi secara lebih baik.

5. Teori Lamarck
Teori genetika Lamarck adalah teori yang dikemukakan oleh ahli biologi Prancis bernama Jean-Baptiste Lamarck pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Teori ini menyatakan bahwa perubahan dalam organisme terjadi karena penggunaan atau ketidakgunaan suatu bagian tubuh dan perubahan tersebut dapat diturunkan kepada keturunannya.

Menurut Lamarck, organisme yang menggunakan suatu bagian tubuh secara terus-menerus akan mengembangkan bagian tubuh tersebut menjadi lebih baik, sementara organisme yang tidak menggunakan suatu bagian tubuh akan mengalami penurunan fungsi atau bahkan hilang. Perubahan ini akan diturunkan kepada keturunan organisme tersebut, sehingga populasi organisme akan berevolusi secara bertahap.

Teori genetika Lamarck kemudian menjadi kontroversial dan ditolak oleh ilmuwan lainnya karena tidak dapat didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang kuat. Teori ini tidak dapat menjelaskan bagaimana informasi genetik dapat ditransmisikan ke keturunan, serta tidak dapat menjelaskan bahwa tidak semua perubahan yang terjadi dalam organisme dapat diwariskan ke keturunan.

Namun, konsep penting yang diperkenalkan oleh Lamarck, yaitu bahwa organisme berevolusi sebagai respons terhadap lingkungannya, masih tetap berlaku dalam teori evolusi modern. Selain itu, beberapa penemuan baru seperti epigenetika menunjukkan bahwa lingkungan dan faktor non-genetik dapat memengaruhi ekspresi gen dan turut berkontribusi pada evolusi.

Senin, Maret 6

Komponen Abiotik Pembentuk Ekosistem

Komponen Abiotik Pembentuk Ekosistem


Bumi tersusun atas berbagai macam ekosistem darat maupun perairan dimana keduanya memiliki komponen masing-masing. 

Menurut struktur ekosistemnya, komponen ekosistem dapat dibedakan menjadi dua yaitu abiotik dan biotik. Berikut ulasannya:

A. Komponen Abiotik
Komponen abiotik adalah komponen berupa material fisik benda dan kimiawi yang ada pada suatu ekosistem sebagai medium atau substrat untuk berlangsungnya kehidupan.

Contoh komponen abiotik adalah udara, air, tanah, garam mineral, sinar matahari, suhu, kelembaban dan derajat keasaman (pH).

1. Udara
Udara adalah sekumpulan gas yang menyelimuti lapisan atmosfer bumi. Udara bersih dan kering di atmosfer memiliki komposisi 78,09% Nitrogen, 21,94% Oksigen, 0,032% Karbondioksida dan gas lainnya dalam persentase kecil.

Selain itu, udara memiliki gas yang jumlahnya dapat berubah-rubah seperti uap air, ozon, sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Udara berperan dalam menunjang kehidupan penghuni ekosistem seperti oksigen untuk respirasi mahluk hidup dan karbondioksida untuk fotosintesa tumbuhan.

2. Air
Air mengandung berbagai jenis unsur atau senyawa kimia dalam jumlah yang bervariasi seperti natrium, kalsium, amonium, nitrat, nitrit dan fosfat. Jumlah unsur yang terkandung dalam air ini bergantung pada kualitas udara dan tanah yang dilalui air.

Air dapat berubah wujud menjadi uap, cairan, atau cairan dan es tergantung suhu di lingkungan sekitarnya. Volume air di bumi jika dipersentase adalah 97% air laut, 2% gletser di kedua kutub dan 0,75% air darat.

3. Tanah
Tanah adalah bahan bentukkan alam hasil proses pelapukan maupuan sintesis mineral. Komponen utama tanah adalah minral, bahan organik, udara, air. Semua mahluk hidup membutuhkan tanah untuk hidup. Tumbuhan mengambil air dan mineral dari perakaran bawah tanah. Manusia menggunakan tanah untuk kegiatan pertanian, peternakan, bangunan, dan lainnya.

4. Garam Mineral
Vegetasi menyerap garam mineral dari dalam tanah untuk proses pertumbuhan. Hewan dan manusia memerlukan garma mineral untuk menjaga keseimbangan asam basa, mengatur kerja organ tubuh dan proses metabolisme.

5. Sinar Matahari
Sinar matahari adalah energi terbesar bagi planet bumi. Dalam ekosistem, energi dialirakan dari satu tingkat trofik ke tingkat trofik berikutnya dalam wujud transformasi energi.

Sebagian kecil sinar matahari yang mencapai permukaan bumi dimanfaatkan tumbuhan untuk fotosintesis dan diubah menajdi energi potensial dalam bentuk akrbohidrat. Energi potensial yang dihasilkan oleh tumbuhan akan diubah menjadi energi kinetik oleh hewan dan manusia.

6. Suhu 
Suhu adalah derajat energi panas yang berasal dari radiasi sinar terutama bersumber dari matahari. Suhu uadara di berbagai ekosistem berbeda-beda tergantung letak lintang dan ketinggian. Semakin dekat ekuator maka insolasi semakin tinggi dan level suhu semakin tinggi sepanjang tahun, dan berdampak pada biodiversitas flora fauna di lokasi tersebut.

Sebaliknya semakin jauh dari ekuator maka insolasi semakin menurun sehingga biodiversitas semakin menurun seiring letak lintang yang semakin tinggi (dekat kutub).

7. Kelembapan
Kelembapan dalam ekosistem dipengaruhi oleh intensitas penyinaran, angin dan curah hujan. Kelembapan memengaruhi pertumbuhan vegetasi dan fauna. Wilayah lembap cenderung akan menghasilkan jenis vegetasi dan fauna yang beragam dibandingkan wilayah kering.

8. pH
Keadaan pH tanah berpengaruh pada kehidupan tumbuhan. Tumbuhan akan berkembang baik pada tanah dengan nilai pH diantara 5,8-7,2. Nilai pH tanah dipengaruhi oleh curah hujan, penggunaan pupuk, aktivitas akar tanaman dan penguraian tanah.

9. Topografi
Topografi adalah keadaan elevasi muka bumi. Di troposfer berlaku rumus bahwa setiap ketinggian tempat naik 100 meter maka suhu akan turun sekitar 0,6 derajat celcius. Hal ini tentu akan berdampak pada jenis vegetasi dan fauna yang berkembang di wilayah tersebut. Suhu adalah indikator pembatas terhadap keragamam spesies pada suatu topografi. Ahli botani yang mencoba mengklasifikasi iklim berdasarkan ketinggian dan jenis vegetasi adalah F.W Junghuhn.

Jumat, September 30

Persebaran Wilayah Fauna Dunia menurut Alfred Russel Wallace

Persebaran Wilayah Fauna Dunia menurut Alfred Russel Wallace

Wallace membagi zona fauna dunia menjadi 6 yaitu neartik, paleartik, neotropik, oriental, ethiopian dan australis. 

Fauna di dunia berkembang sejak zaman kambrium hingga sekarang (holosen). Persebaran fauna di dunia tidak merata karena faktor penghambat seperti fisiografis wilayah.

Fisiografis wilayah meliputi laut, rawa, sungai, gunung, padang pasir, iklim, dan edafik. Letak posisi benua di bumi juga berubah dari zaman ke zaman sehingga mempengaruhi pola persebaran fauna yang ada saat ini.

a. Wilayah Neartik
Wilayah fauna neartik persebarannya meliputi Amerika Utara, Greenland dan Meksiko bagian utara. Zona Amerika Utara bagian timur memiliki fisiografis hutan gugur, Amerika Utara bagian tengah meliputi padang rumput dan Amerika utara bertipe hutan konifer.

Lingkungan Greenland ditutupi salju dengan ketebalan antara 2-15 m. Fauna zona neartik diantaranya beruang cokelat, berang-berang, antelop, karibu, bison dan kalkun. 

Beberapa fauna salju lain seperti beruang kutub, serigala dan beruang grizzly ditemukan di zona neartik.

b. Wilayah Neotropik
Wilayah fauna neotropik mencakup Meksiko bagian selatan, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Fauna neotropik sebagian besar hidup di hutan hujan tropis seperti Amazon dan wilayah beriklim sedang di selatan Argentina dan Chile.

Fauna khas neotropik adalah anaconda, armadillo, alpaka, trenggiling, arapaima, burung burung kaiman, kapibara.

c. Wilayah Australis
Wilayah fauna Australis mencakup Australia, Maluku, Papua dan Selandia Baru. Sebagian besar wilayah zona Australis beriklim tropis dan sebagian beriklim sedang. Kondisi sebagian besar Australia beriklim ganas seperti gurun Victoria.

Contoh fauna Australis adalah kangguru, platipus, buaya, kiwi, wallaby, koala, cenderawasih, kasuari, Tasmanian Devils.

d. Wilayah Oriental
Wilayah fauna oriental meliputi Asia bagian tengah ke selatan dan tenggara. Di Indonesia, fauna oriental mencakup Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Bali.

Wilayah oriental sebagian besar memiliki hutan hujan tropis sehingga biodiversitasnya tinggi. Contoh fauna oriental adalah harimau, gajah, orang utan, badak, macan tutul, bekantan.

e. Wilayah Paleartik
Wilayah fauna paleartik meliputi hampir seluruh Eurasia, sebagian daerah Himalaya, Afganistan, Pakistan, Turki, Afrika Utara, Inggris, Jepang.

Lingkungan fisiografis wilayah paleartik cukup bervariatif dari sisi iklim dan kenampakan alam. Fauna paleartik diantaranya lynx, landak, rusa kutub, serigala, bison.

f. Wilayah Ethiopian
Wilayah fauna Ethiopian mencakup Afrika di bawah Sahara sampai Madagaskar dan Arab bagian selatan. Kenampakan fsiografis zona ethiopian terdiri atas gurun pasir, hutan hujan hingga sabana. Fauna ethiopian antara lain kuda nil, singa, zebra, hyena, simpanse, babon, jerapah, gajah.

Gambar: bigcommerce.com

Kamis, September 29

Jenis-Jenis Hutan di Indonesia: Hutan Tropis, Hutan Musim, Sabana, Bakau

Jenis-Jenis Hutan di Indonesia: Hutan Tropis, Hutan Musim, Sabana, Bakau

Hutan adalah salah satu wilayah ekosistem yang pasti dijumpai di wilayah permukaan bumi terutama di ekuator. Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki persebaran jenis hutan ang bervariatif di dunia.

Berbagai jenis hutan dari dataran rendah hingga dataran tinggi terbentuk di kepulauan Indonesia. Berikut ini beberapa jenis hutan di Indonesia yaitu:

1. Hutan musim
Hutan musim ini tersebar di wilayah yang dipengaruhi oleh perubahan musim. Saat kemarau tiba, vegetasi di hutan musim akan meranggas dan kembali mekar di saat musim penghujan. Hutan musim sering disebut juga hutan homogen atau satu jenis tumbuhan saja. Vegetasi umum khas wilayah hutan musim adalah jati dan jambu mete.

Persebaran hutan musim di Indonesia adalah di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

2. Hutan Hujan
Hutan hujan tropis, adalah hutan yang terdapat di wilayah yang memiliki curah hujan relatif tinggi. Vegetasi pada hutan ini berdaun lebat dan dasar hutan yang lembap dan gelap karena sinar matahari tidak dapat menembus kerapatan dedaunan. Tanah dan udara di hutan tropis sangat lembap karena uap air sulit terevaporasi. Banyak tumbuhan merambat, lumut dijumpai di hutan hujan. 

Persebaran hutan hujan di Indonesia adalah di Sumatra, Kalimantan, Papua dan sebagian Sulawesi dan Jawa.
Hutan Tropis

3. Hutan bakau
Hutan bakau atau mangrove banyak tumbuh di daerah dataran rendah pantai berlumpur dengan arus laut tidak besar. Ekosistem mangrove ini bermanfaat untuk menahan abrasi dan menjadi rumah bagi biota-biota seperti kepiting, ikan, bangau, burung-burung dan lainnya.

Persebaran bakau di Indonesia ada di Sumatera bagian timur, Jawa utara, Bali dan Papua.

4. Hutan Sabana
Sabana atau savana adalah padang rumput yang tumbuh di wilayah dengan curah hujan minim. Hutan sabana banyak ditumbuhi rumput dengan beberapa vegetasi keras seperti akasia atau lontar di dalamnya. Hutan sabana banyak tersebar di Nusa Tenggara dan ujung timur Jawa. Selain itu sabana bisa dijumpai di lereng bayangan gunung api seperti di kaki Gunung Ciremai atau Gunung Merbabu.
Sabana Merbabu

Lalu apa saja manfaat dari hutan-hutan yang ada di Indonesia?. Berikut penjelasannya.
1. Menyimpan serta mengatur persediaan air karena akar, batang dan daun berfungsi menyerap, menahan air dari hujan.
2. Menyuburkan tanah karena sisa-sisa tumbuhan dan hewan mati dapat membentuk humus/bunga tanah yang penting bagi nutrisi tanaman dan hewan.
3. Mengontrol erosi, longsor karena daya ikat akar terhadap butir-butir tanah.
4. Menjaga keseimbangan air tanaha karena curah hujan ditangkap oleh tubuh hutan.
5. Menghasilkan bahan-bahan industri yang penting bagi kehidupan manusia.
6. Menyerap polusi sehingga membantu mengurangi terjadinya global warming.
7. Hutan adalah rumah/habitat bagi berbagai hewan/biota Indonesia yang unik.

Minggu, Mei 15

Perbedaan Bioma Hutan Tropis Basah dan Kering

Perbedaan Bioma Hutan Tropis Basah dan Kering

Hutan tropis dapat dijumpai di wilayah sekitar ekuator atau khatulistiwa dengan ciri-ciri curah hujan tinggi >2.000 mm per tahun dan suhu rata-rata 25⁰C. Hal inilah yang menyebabkan biodiversitas hutan hujan sangat tinggi.

Hutan hujan tropis paling luas adalah Amazon yang dikenal dengan nama selva. Hutan yang berlokasi di Amerika selatan ini memiliki 4 lapisan yaitu emerjen, kanopi, hutan muda dan semak belukar.

Emerjen adalah lapisan paling atas dari hutan tropis sehingga paling banyak menerima penyinaran matahari. Di bawah emerjen ada kanopi yaitu pepohonan bedaun rapat sehingg membentuk payung raksasa dan menghalangi matahari masih ke dalam.

Pada lapisan tengah, tumbuh pohon-pohon mudah yang merupakan turunan pohon raksasa di atasnya. hutan muda. Lapisan ini disebut hutan mudah. Sementara di bagian bawa terdapat lantai hutan yang berupa semak belukar, lumut, pakis, tumbuhan epifit, jamur dan lainnya.

Hutan tropis dibedakan menjadi dua yaitu hutan tropis basah (oceanik) dan hutan tropis kering (continental).

1. Hutan Tropis Basah
Wilayah zona hutan tropis basah berada di sekitar lintang tropis (0⁰-23,5⁰ LU/LS) dengan kadar kelembaban dan penguapan sangat tinggi, curah hujan yang sangat besar. Hal ini terjadi karena wilayah daratan tersebut dikelilingi oleh lautan luas. Faktor itulah meyebabkan keanekaragaman flora di daerah ini sangat banyak. Citi-ciri fisik hutan tropis basah adalah kelembaban udara relatif tinggi > 60%, gradien termis harian relatif rendah sekitar 2⁰ - 5⁰C, dan suhu rata-rata sekitar 26⁰C.
Zona hutan tropis

Wilayah dengan ciri fisik di atas terdapat di Amerika selatan, semenanjung Amerika Tengah, Pesisir Afrika bagian barat dan timur, Madagaskar dan Asia Tenggara. Hutan tropis basah memiliki karakteristik:
a. jenis vegetasi yang hidup bervariasi (lebih dari 100 spesies).
b. senantiasa rimbun dan sangat rapat, sepanjang tahun hijau lebat.
c. pada umumnya pohon yang tumbuh dapat mencapai > 60 meter, terdapat beragam jenis epifit dan tumbuhan melilit.
Peta sebaran hutan hujan

2. Hutan Tropis Kering
Hutan tropis kering adalah wilayah hutan tropis yang ada di pedalaman daratan atau benua yang sudah tidak dipengaruhi oleh angin laut. Ciri fisik hutan tropis kering adalah kelembaban udara relatif rendah  < 50%, gradien termis harian relatif tinggi yaitu > 10⁰C, dan suhu rata-rata relatif lebih tinggi yaitu 31⁰C.

Hutan tropis kering sering memiliki ciri fisik yang sangat berbeda dibandingkan hutan tropis basah. Walaupun secara lokasi memiliki kesamaan yaitu di sekitar lintang tropis, tapi daerah hutan tropis kering tidak memiliki biodiversitas flora fauna seperti hutan tropis basah. Kawasan hutan tropis kering meliputi Asia Barat, Afrika bagian tengah dan Asia Timur bagian tengah.

Meski terdapat perbedaan dari jumlah vegetasi yang tumbuh namun karakteristik dasar hutan tropis kering sama dengan hutan tropis basah yaitu pepohonannya berdaun lebat dan membentuk kanopi yang mengakibatkan lantai dasar hutan gelap dan memungkinkan semak belukar seperti liana dan epifit berkembang dengan baik.
Lantai hutan hujan yang lembab

Sabtu, Mei 14

Faktor Tidak Meratanya Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi

Faktor Tidak Meratanya Persebaran Flora Fauna di Permukaan Bumi

Persebaran lingkungan fisiografis yang meliputi air, kesuburan tanah, sinar matahari dan ainnya tidaklah merata di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan persebaran flora dan fauna pun tidak merata di seluruh permukaan bumi.

Berikut ini deskripsi faktor-faktor yang persebaran flora dan fauna di permukaan bumi.

1. Elevasi dan Morfologi
Suatu tempat memiliki ketinggian tertentu jika dihitung dari permukaan air laut. Semakin ke arah pegunungan makan semakin tinggi suatu tempat, inilah yang dinamakan elevasi tempat. Elevasi adalah ketinggian suatu tempat dari permukaan air laut.

Sementara itu, morfologi adalah bentuk bentang alam atau relief yang berbentuk pegunungan, perbukitan, dataran tinggi, dataran rendah, lereng, jurang, ngarai, dan lainnya.

Pengaruh elevasi dan morfologi terhadap eprsebarna flora dan fauna adalah semakin tinggi letak suatu tempat dari permukaan air laut maka tempat tersebut akan memiliki kecenderungan suhu yang semakin rendah serta kelembaban udara dan curah hujan yang lebih tinggi.

Kondsi tinggi rendahnya permukaan bumi ini membuat flora dan fauna memiliki spesifikasi kondisi alam yang sesuai dengan karakter masing-masing. Misalnya di dataran rendah akan banyak dijumpai kelapa, padi, tebu, sawit, singkong. Sementara itu di dataran tinggi akan ditemui pohon pinus, teh, kopi, pakis dan lainnya.
Ekosistem pinus
2. Letak Lintang
Letak geografis suatu tempat ditentukan berdasarkan besar kecilnya angka lintang. Angka lintang geografis yang semakin besar menunjukkan lokasinya semakin dekat menuju ke kutub, baik ke kutub utara dan kutub selatan.

Daerah yang letak lintang geografisnya makin besar maka akan makin sedikit mendapatkan penyinaran matahari. Kondisi ini membuat jenis flora dan fauna semakin dekat ke kutub maka semakin sedikit jumlah dan jenisnya.

Walaupun ada pengecualian untuk daerah padang pasir yang secara fisik tidak memenuhi syarat bagi kehidupan, tidak memungkinkan adanya kehidupan dalam jumlah relatif banyak. Wilayah tropis adalah surga bagi flora fauna karena kondisi iklim yang cocok. Intensitas penyinaran stabil sepanjang tahun serta kelembaban udara tinggi membuat beragam flora fauna hidup pada wilayah ini.
Sebaran ekosistem berdasarkan kondisi cuaca iklim

3. Cuaca Iklim
Faktor klimatologis adalah faktor kondisi iklim pada suatu tempat. Keadaan iklim tidak hanya ditentukan oleh letak lintang namun juga ada kaitannya dengan topografi maupun arah angin. Hal ini mempengaruhi terhadap kondisi atmosfer pada wilayah tersebut.

Kondisi wilayah yang memiliki kelembaban tinggi dan penyinaran yang cukup memungkinkan flora dan fauna tersebara dalam jumlah banyak. Sementara itu daerah di permukaan bumi yang kondisi kelembaban udaranya rendah dengan suhu yang dingin atau sangat panas maka akan mengurangi jumlah keragaman flora dan fauna. Contoh daerah minim flora fauna adalah gurun dan padang es.

4. Kesuburan Tanah
Tanah disebut subur jika secara fisik memiliki unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman secara umum. Kondisi ideal tanah subur terdiri atas 45% mineral, 45% bahan organik, 5% air dan 5% udara.

Pada wilayah dengan kondisi tanah subur maka berbagai vegetasi dapat dengan mudah dijumpai dari yang mulai berkuran kecil hingga raksasa. Beberapa jenis tanah kategori subur yang menjadi sarana pendukung kehidupan flora dan fauna adalah tanah vulkanis, podsolik, margalit, aluvial. 

Sementara itu tanah yang kurang subur alias miskin hara diantaranya adalah laterit, pasir, kapur, terarosa. Jenis vegetasi dan fauna yang hidup pada tanah tersebut terbatas karena kondisi tidak mendukung tumbuh kembang organisme yang bersangkutan.
Gurun tandus

Rabu, Agustus 4

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Kehidupan itu memiliki struktur yang sangat terogranisasi mulai dari molekul sampai bioma. Semua ini adalah ciptaan sempuran dari Tuhan.

Berikut ini struktur organisasi kehidupan dalam berbagai tingkatan dari terkecil sampai terbesar. Silahkan dibaca dan dipelajari.
 
1. Tingkat Molekul
Setiap inti sel mahluk hidup punya molekul organik yang berperan mengendalikan struktur dan fungsi dari setiap sel. Inti sel juga membawa informasi genetik yang diturunkan. 

Gen tersusun atas molekul organik berupa DNA (deoxyribonucleic acid). DNA memiliki kemampuan replikasi atau membentuk dirinya sendiri yaitu DNA, juga kemampuan mebentuk molekul lain atau RNA (ribonucleic acid) melalui transkripsi. RNA berperan sebagai pelaksana sintesis protein.

2. Tingkat Sel
Sel adalah unit kehidupan terkecil ya gan. Mahluk hidup uniseluluer seperti Protozoa, bakteri dan alga melakukan metabolismenya dalam sebuah sel karena adanya organel-organel yang menjalankan fungsi metabolisme. Mahluk hidup multiseluler seperti tumbuhan dan hewan dibangun dari berbagai macam sel yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda.

3. Tingkat Jaringan
Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Tubuh hewan tersusuna tas bermacam-macam jaringan seperti otot, darah atau epidermis. Porifera dan Coelenterata merupakan contoh mahluk hidup tingkat organisasi jaringan yang paling sederhana. Porifera dan Coelenterata memiliki dua lapisan sel pembentuk tubuh (diploblastik) yaitu lapisan terluar (ekdoterm) dan lapisan terdalam (endoderm).

4. Tingkat Organ
Organ adalah kumpulan jaringan dengan fungsi tertentu. Contoh organ dalam tubuh manusia adalah jantung, paru-paru dan lambung. Adapun organ tumbuhan contohnya akar, batang, daun, bunga dan buah.

5. Tingkat Sistem Organ
Sistem organ adalah susunan organ-organ yang saling berinteraksi dalam melaksanakan fungsi di dalam tubuh. Sebagai contoh sistem peredaran darah manusia yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah, keduanya berfungsi mengedarkan darah ke seluruh tubuh.

6. Tingkat Individu
Di tingkat individu berlangsung mekanisme kompleks yang terjadi karena koordinasi dan regulasi bermacam-macam sistem tubuh. Contohnya manusia adalah individu yang terdiri atas bermacam-macam sistem organ mulai dari sistem gerak, sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem ekskresi, sistem reproduksi dan sistem imun.

7. Tingkat Populasi
Kumpulan individu yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan populasi. Di lingkungan sekitar kita ada bermacam-macam populasi seperti populasi rumput, populasi kucing, populasi cacing tanah dan lainnya.

8. Tingkat Komunitas
Kumpulan populasi yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan komunitas. Misalnya komunita padang sabana yang terdiri atas populasi rumput, populasi akasia, populasi belalang, populasi singa, populasi alang-alang.

9. Tingkat Ekosistem
Eksosistem adalah interaksi antara populasi-populasi penyusun komunitas dengan lingkungan abiotiknya (sinar matahari, air tanah udara).

10. Tingkat Bioma
Kumpulan ekosistem yang melingkupi wilayah yang luas akan membentuk bioma. Bioma dicirikan dengan kenampakan vegetasi yang khas dan dipengaruhi garis lintang. Contoh bioma adalah bioma gurun, bioma hutan huja, bioma hutan gugur, bioma taiga, bioma tundra, bioma sabana, bioma stepa.
Kenampakan bioma sabana

Minggu, November 8

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Bioma gurun adalah salah satu bioma daratan yang bertipe arid atau kering. Gurun menutupi satu per lima daratan bumi.
 
Ciri fisik bioma gurun secara umum adalah curah hujan sangat rendah sepanjang tahun (kurang dari 50 centimeter).
 
Bioma gurun terbagi menjadi 4 tipe yaitu gurun arid, gurun semi-arid, gurun pesisir dan gurun dingin. Setiap gurun ini memiliki karakteristik mulai dari level kekeringan, iklim, suhu dan lokasi.
 
Kondisi Suhu 
Meski gurun punya variasi jenis seperti diatas, namun secara umum bioma ini dapat dideskripsikan secara umum. Fluktuasi suhu setiap hari (amplitudo harian gurun) sangat ekstrim dibandingkan daerah humid atau basah.

Saat siang hari gurun cepat menyerap panas namun saat malam hari sangat cepat melepas panas. Renahnya kelembaban udara di gurun juga sering disebabkan karena sedikitnya tutupan awan yang pada dasarnya mampu menyimpan panas.

Bioma gurun pasir

Curah Hujan di Gurun
Curah hujan di bioma gurun sangat unik. Saat terjadi hujan di daerah gurun, presipitasi selalu datang cepat dan singkat yang dipisahkan oleh periode musim panas panjang.
 
Hujan yang turun akan langsung mengalai evaporasi, bahkan di beberapa gurun yang sangat kering, presipitasi tidak sampai menyentuh tanah (hujan virga).
 
Tekstur pasir di gurun umumnya kuarsa dan tanah gurun sangat minim mengalami pelapukan.
 
Vegetasi yang hidup di daerah gurun sangat sedikit karena faktor kondisi cuaca dan tanah disana yang panas. Beberapa tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan gurun adalah kaktus, akasia dan palem (kurma). 
 
Untuk fauna bioma gurun, beberapa diantaranya adalah unta, kadal, ular, kalajengking, tikus, kucin gurun. 
 
Contoh fauna dan vegetasi gurun

Karakteristik Bioma Gurun
Berikut ini beberapa karakteristik fisik khusus dari gurun:
1. curah hujan < 250 mm per tahun.
2. amplitudo suhu (perbedaan suhu) harian siang dan malam ekstrim.
3. evaporasi tinggi.
4. tekstur pasir kuarsa.
5. biodiversitas minim 
 
Gurun pantai

Tipe-Tipe Bioma Gurun
1. Gurun Arid, memiliki ciri panas, kering dan terbentuk di wilayah lintang rendah. Suhu cenderung hangat sepanjang tahun, meski sangat panas saat puncak musim panas. Curah hujan di guru tipe ini sangat minim dan lebih dominan evaporasi. Gurun Arid tersebar di Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan dan Australia. Contoh gurun arid adalah Gurun Sonoran,Gurun Sahara dan Gurun Kalahari.
 
2. Gurun Semi-Arid, memiliki ciri tidak sepanas dan sekering gurun arid. Gurun tipe ini mengalami musim panas kering, musim dingin yang panjang dengan diselingi presipitasi. Gurun semi arid tersebar di Amerika Utara, Newfoundland, Greenland, Eropa dan Asia.
 
3. Gurun Pesisir, terbentuk di wilayah barat benua sekitar ekuator. Pada lokasi ini, arus laut dingin bergerak menyusuri pantai dan pesisir dan menghasilkan kabut tebal diatas gurun. Meski kelembaban di gurun pantai ini cukup tinggi, presipitasi tetap sangat jarang. Contoh gurun pantai/pesisir adalah Gurun Atacama dan Gurun Namibia.
 
4. Gurun Dingin, memiliki ciri suhu rendah dan musim dingin panjang. Gurun dingin terdapat di Arktik, Antartika dan diatas pegunungan tinggi. Banyak area bioma tundra yang berubah menjadi gurun dingin saat musim dingin. Gurun dingin menerima presiptasi cukup banyak dibanding gurun lain pada umumnya. Contoh gurun dingin adalah gurun Gobi di Asia.
Kaktus gurun
 Gambar: disini, disini, disini

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done