Guru Geografi: Biogeografi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biogeografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 4

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Tingkatan Struktur Organisme Kehidupan

Kehidupan itu memiliki struktur yang sangat terogranisasi mulai dari molekul sampai bioma. Semua ini adalah ciptaan sempuran dari Tuhan.

Berikut ini struktur organisasi kehidupan dalam berbagai tingkatan dari terkecil sampai terbesar. Silahkan dibaca dan dipelajari.
 
1. Tingkat Molekul
Setiap inti sel mahluk hidup punya molekul organik yang berperan mengendalikan struktur dan fungsi dari setiap sel. Inti sel juga membawa informasi genetik yang diturunkan. 

Gen tersusun atas molekul organik berupa DNA (deoxyribonucleic acid). DNA memiliki kemampuan replikasi atau membentuk dirinya sendiri yaitu DNA, juga kemampuan mebentuk molekul lain atau RNA (ribonucleic acid) melalui transkripsi. RNA berperan sebagai pelaksana sintesis protein.

2. Tingkat Sel
Sel adalah unit kehidupan terkecil ya gan. Mahluk hidup uniseluluer seperti Protozoa, bakteri dan alga melakukan metabolismenya dalam sebuah sel karena adanya organel-organel yang menjalankan fungsi metabolisme. Mahluk hidup multiseluler seperti tumbuhan dan hewan dibangun dari berbagai macam sel yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda.

3. Tingkat Jaringan
Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Tubuh hewan tersusuna tas bermacam-macam jaringan seperti otot, darah atau epidermis. Porifera dan Coelenterata merupakan contoh mahluk hidup tingkat organisasi jaringan yang paling sederhana. Porifera dan Coelenterata memiliki dua lapisan sel pembentuk tubuh (diploblastik) yaitu lapisan terluar (ekdoterm) dan lapisan terdalam (endoderm).

4. Tingkat Organ
Organ adalah kumpulan jaringan dengan fungsi tertentu. Contoh organ dalam tubuh manusia adalah jantung, paru-paru dan lambung. Adapun organ tumbuhan contohnya akar, batang, daun, bunga dan buah.

5. Tingkat Sistem Organ
Sistem organ adalah susunan organ-organ yang saling berinteraksi dalam melaksanakan fungsi di dalam tubuh. Sebagai contoh sistem peredaran darah manusia yang terdiri dari jantung dan pembuluh darah, keduanya berfungsi mengedarkan darah ke seluruh tubuh.

6. Tingkat Individu
Di tingkat individu berlangsung mekanisme kompleks yang terjadi karena koordinasi dan regulasi bermacam-macam sistem tubuh. Contohnya manusia adalah individu yang terdiri atas bermacam-macam sistem organ mulai dari sistem gerak, sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem ekskresi, sistem reproduksi dan sistem imun.

7. Tingkat Populasi
Kumpulan individu yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan populasi. Di lingkungan sekitar kita ada bermacam-macam populasi seperti populasi rumput, populasi kucing, populasi cacing tanah dan lainnya.

8. Tingkat Komunitas
Kumpulan populasi yang berada pada waktu dan tempat yang sama dinamakan komunitas. Misalnya komunita padang sabana yang terdiri atas populasi rumput, populasi akasia, populasi belalang, populasi singa, populasi alang-alang.

9. Tingkat Ekosistem
Eksosistem adalah interaksi antara populasi-populasi penyusun komunitas dengan lingkungan abiotiknya (sinar matahari, air tanah udara).

10. Tingkat Bioma
Kumpulan ekosistem yang melingkupi wilayah yang luas akan membentuk bioma. Bioma dicirikan dengan kenampakan vegetasi yang khas dan dipengaruhi garis lintang. Contoh bioma adalah bioma gurun, bioma hutan huja, bioma hutan gugur, bioma taiga, bioma tundra, bioma sabana, bioma stepa.
Kenampakan bioma sabana

Minggu, November 8

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Ciri-Ciri dan Persebaran Bioma Gurun di Permukaan Bumi

Bioma gurun adalah salah satu bioma daratan yang bertipe arid atau kering. Gurun menutupi satu per lima daratan bumi.
 
Ciri fisik bioma gurun secara umum adalah curah hujan sangat rendah sepanjang tahun (kurang dari 50 centimeter).
 
Bioma gurun terbagi menjadi 4 tipe yaitu gurun arid, gurun semi-arid, gurun pesisir dan gurun dingin. Setiap gurun ini memiliki karakteristik mulai dari level kekeringan, iklim, suhu dan lokasi.
 
Kondisi Suhu 
Meski gurun punya variasi jenis seperti diatas, namun secara umum bioma ini dapat dideskripsikan secara umum. Fluktuasi suhu setiap hari (amplitudo harian gurun) sangat ekstrim dibandingkan daerah humid atau basah.

Saat siang hari gurun cepat menyerap panas namun saat malam hari sangat cepat melepas panas. Renahnya kelembaban udara di gurun juga sering disebabkan karena sedikitnya tutupan awan yang pada dasarnya mampu menyimpan panas.

Bioma gurun pasir

Curah Hujan di Gurun
Curah hujan di bioma gurun sangat unik. Saat terjadi hujan di daerah gurun, presipitasi selalu datang cepat dan singkat yang dipisahkan oleh periode musim panas panjang.
 
Hujan yang turun akan langsung mengalai evaporasi, bahkan di beberapa gurun yang sangat kering, presipitasi tidak sampai menyentuh tanah (hujan virga).
 
Tekstur pasir di gurun umumnya kuarsa dan tanah gurun sangat minim mengalami pelapukan.
 
Vegetasi yang hidup di daerah gurun sangat sedikit karena faktor kondisi cuaca dan tanah disana yang panas. Beberapa tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan gurun adalah kaktus, akasia dan palem (kurma). 
 
Untuk fauna bioma gurun, beberapa diantaranya adalah unta, kadal, ular, kalajengking, tikus, kucin gurun. 
 
Contoh fauna dan vegetasi gurun

Karakteristik Bioma Gurun
Berikut ini beberapa karakteristik fisik khusus dari gurun:
1. curah hujan < 250 mm per tahun.
2. amplitudo suhu (perbedaan suhu) harian siang dan malam ekstrim.
3. evaporasi tinggi.
4. tekstur pasir kuarsa.
5. biodiversitas minim 
 
Gurun pantai

Tipe-Tipe Bioma Gurun
1. Gurun Arid, memiliki ciri panas, kering dan terbentuk di wilayah lintang rendah. Suhu cenderung hangat sepanjang tahun, meski sangat panas saat puncak musim panas. Curah hujan di guru tipe ini sangat minim dan lebih dominan evaporasi. Gurun Arid tersebar di Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan dan Australia. Contoh gurun arid adalah Gurun Sonoran,Gurun Sahara dan Gurun Kalahari.
 
2. Gurun Semi-Arid, memiliki ciri tidak sepanas dan sekering gurun arid. Gurun tipe ini mengalami musim panas kering, musim dingin yang panjang dengan diselingi presipitasi. Gurun semi arid tersebar di Amerika Utara, Newfoundland, Greenland, Eropa dan Asia.
 
3. Gurun Pesisir, terbentuk di wilayah barat benua sekitar ekuator. Pada lokasi ini, arus laut dingin bergerak menyusuri pantai dan pesisir dan menghasilkan kabut tebal diatas gurun. Meski kelembaban di gurun pantai ini cukup tinggi, presipitasi tetap sangat jarang. Contoh gurun pantai/pesisir adalah Gurun Atacama dan Gurun Namibia.
 
4. Gurun Dingin, memiliki ciri suhu rendah dan musim dingin panjang. Gurun dingin terdapat di Arktik, Antartika dan diatas pegunungan tinggi. Banyak area bioma tundra yang berubah menjadi gurun dingin saat musim dingin. Gurun dingin menerima presiptasi cukup banyak dibanding gurun lain pada umumnya. Contoh gurun dingin adalah gurun Gobi di Asia.
Kaktus gurun
 Gambar: disini, disini, disini

Selasa, Agustus 25

Faktor Edafik Penyebaran Flora dan Fauna

Faktor Edafik Penyebaran Flora dan Fauna

Salah satu faktor penyebaran flora dan fauna di bumi adalah tanah atau edafik. Tanpa tanah maka tidak akan ada kehidupan yang kompleks di planet bumi ini.

Faktor edafik adalah faktor yang berkaitan dengan struktur dan komposisi tanah yang terdapat pada suatu wilayah tertentu.

Tanah adalah komponen utama habitat tumbuhan dimanapun. Tanah mengandung unsur mineral, organik, air dan udara. Tanah subur mengandung sekurang-kurangnya 40% mineral, 10% bahan organik, 15% air dan 25% udara.

Karakteristik tanah secara signifikan menentukan kemampuan perakaran dan asupan nutrisi terhadap tumbuhan melalui tekstur dan struktur tanah. Coba kamu ambil segenggam tanah di pekarangan rumah, pastinya akan ada tanah yang berbutir halus dan ada juga tanah yang berbutir kasar.
Faktor edafik berkaitan dengan tanah
Faktor edafik meliputi hal-hal berikut:
1. Kedalaman lapisan tanah atau solum tanah, memengaruhi akses terhadap air, nutrisi dan stabilitas struktural tumbuhan.

2. Tekstur dan struktur tanah memengaruhi kerapatan tanah (bulk density) dan stabilitas agregat tanah, ruang pori, udara tanah, serta ketersediaan air di dalam tanah. Kerapatan tanah yang sangat intens akan menghambat proses pembenihan.

3. Muatan materi organik di dalam tanah memengaruhi sifat tanah, stabilitas struktur tanah, kapasitas menahan air tanah, warna tanah, retensi dan mobilitas polutan serta kapasitas penyangga.

4. Derajat keasaman atau pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen dan larutan berair dan menunjukkan tingkat asam atau alkalinitas. Nilai pH tanah berpengaruh terhadap pada ketersediaan ion mineral dan sampai batas tertentu dapat menentukan jenis vegetasi yang akan tumbuh.

5. Kejenuhan basa yang menjadi pasokan nutrisi penting yang optimal diinginkkan untuk menghindari gejala kekurangan nutrisi, meningkatkan kerentanan terhadap hama dan penyakit, serta pengurangan hasil panen secara konsekuen.

Faktor penyebaran fauna terestrial sangat bergantung pada komunitas tumbuhan atau vegetasi pada suatu daerah. Jadi fauna atau hewam akan mengikuti persebaran tumbuhan sesuai dengan habitatnya.

Ada banyak jenis tanah di permukaan bumi ini khususnya di Indonesia mulai dari tanah vulkanik, tanah aluvial, tanah kapur, tanah laterit, tanah gambut dan lainnya. Vegetasi tanah vulkanik tentu akan berbeda dengan vegetasi pada tanah kapur misalnya.

Di tanah vulkanik banyak dijumpai pohon pinus sementara di tanah kapur banyak dijumpai pohon jati.

Fauna di daerah tanah bertipe basah dan lembab tentu akan berbeda pula dengan fauna di daerah tanah kering seperti di gurun. 

Jumat, Februari 21

Syarat Terjadinya Spesiasi Mahluk Hidup

Syarat Terjadinya Spesiasi Mahluk Hidup

Spesiasi merupakan proses pembentukan spesies, yang pada dasarnya dapat digunakan sebagai saksi hidup mengenai apa yang terjadi di masa lalu. 

Dengan begitu proses spesiasi dapat dianggap pula sebagai bukti otentik bahwa evolusi berlangsung.

Contoh spesiasi adalah burung finch Galapagos. Spesies yang berbeda dari burung ini hidup di pulau yang berbeda di kepulauan Galapagos, yang terletak di Samudra Pasifik Amerika Selatan. 

Burung finch diisolasi dari satu sama lain oleh laut. Selama jutaan tahun, setiap spesies burung finch mengembangkan paruh unik yang secara khusus disesuaikan dengan jenis makanan yang dimakannya. 

Beberapa finch memiliki paruh besar dan tumpul yang dapat memecahkan cangkang keras kacang dan biji. Burung finch lain memiliki paruh panjang dan tipis yang dapat mengisap bunga kaktus tanpa burung ditusuk oleh duri kaktus.  

Masih ada finch lain yang memiliki paruh ukuran sedang yang dapat menangkap dan menangkap serangga. Karena mereka terisolasi, burung-burung itu tidak berkembang biak satu sama lain dan karenanya berkembang menjadi spesies unik dengan karakteristik unik. Fenomena ini  disebut spesiasi allopatric.

Namun spesiasi dapat terjadi bilamana memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan itu adalah terjadinya perubahan lingkungan, adanya relung kosong dan ada keanekaragaman suatu kelompok.
Finch Galapagos

1. Adanya Perubahan Lingkungan
Pada materi biologi sebelumnya telah digambarkan bahwa perubahan-perubahan evolusi yang terjadi disebabkan oleh perubahan frekuensi suatu alel (gen yang memiliki lokus (posisi pada kromosom) yang sama, tetapi memiliki sifat bervariasi yang disebabkan mutasi pada gen asal) tertentu karena adanya kondisi lingkungan tertentu. 

Adanya bencana alam seperti glasiasi, vulkanisme atau pergerakan benua dan proses lainnya menyebabkan perubahan global yang menyebabkan timbulnya kepunahan masa di bumi.

Kepunahan masa ini akan menimbulkan relung-relung kosong yang dalam waktu lama relung tersebut baru akan terisi kembali. Apabila tidak ada relung yang kosong, tidak ada tempat bagi suatu spesies untuk mengalami spesiasi.

2. Adanya Relung (Niche) yang Kosong
Relung adalah tempat hidup dan interaksi suatu organisme. Suatu spesies selalu menempati relung tertentu. Suatu relung pada umumnya hanya dapat ditempati satu jenis saja. Bila relung itu kosing artinya tempat tersebut tidak dihuni suatu organisme. Dampaknya adalah banyak organisme yang berusaha menempati relung tersebut.

3. Adaya Keanekaragaman suatu Kelompok Organisme
Dalam ekosistem pasti akan ada ada sejumlah organisme yang mencoba mengisi relung yang kosong. Keberhasilan suatu organisme mengisi relung ditentukan oleh berapa besar kecocokan organisme tersebut dibandingkan dengan persyaratan dari relung yang kosong.

Minggu, Januari 19

Proses Evaporasi, Transpirasi dan Evapotranspirasi

Proses Evaporasi, Transpirasi dan Evapotranspirasi

Air mengalami perpindahan dari permukaan bumi ke atmosfer dalam dua bentuk mekanisme yaitu evaporasi dan transpirasi. 

Evaporasi dapat diartikan sebagai proses dimana air berubah wujud menjadi gas/uap. Evaporasi dapat terjadi dimana pun selama ada air disana. 

Evaporasi membutuhkan kelembaban atmosfer yang lebih sedikit dibandingkan evaporasi permukaan tanah (pada kelembaban relatif 100% tidak ada evaporasi). 

Evaporasi membutuhkan jumlah energi yang sangat besar, contohnya saja evapirasi 1 gram air membutuhkan 600 kalori energi panas.

Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tanaman melalui stomata. Stomata adalah lubang mikro yang ditemukan pada daun, menghubungkan ke jaringan tanaman. 

Pada kebanyakan vegetasi, transpirasi bersifat pasif karena dikontrol oleh kelembaban atmosfer dan tanah. Transpirasi pada tumbuhan hanya 1% saja yang digunakan untuk pertumbuhan. 

Transpirasi juga mengangkut nutrisi dari tanah menuju akar dan menyebarkannya ke jaringan tumbuhan agar tidak kering. Beberapa tanaman di lingkungan ekstrim punya kemampuan membuka dan menutup stomata. 

Adaptasi ini penting untuk membatasi kehilangan air dari jaringan tumbuhan. Tanpa adaptasi ini maka tanaman tidak dapat bertahan dibawah kondisi sangat panas/kering.
Proses evapotranspirasi
Kadang kita susah sekali membedakan antara evaporasi dan transpirasi sehingga sering menggabungkannya menjadi evapotranspirasi.  Jumlah evapotranspirasi di permukaan bumi dikontrol oleh 4 faktor yaitu:

1. Energi
Semakin besar energi tersedai maka jumlah evapotranspirasi akan meningkat. Seperti sudah disebutkan bahwa dibutuhkan 600 kalori panas untuk mebgubah 1 gram air menjadi gas/uap.
2. Gradien Kelembaban
Jumlah dan volume uap air di atmosfer akan meningkat pada udara kering dibandingkan udara basah.
3. Kecepatan Angin
Banyak petani kita mengamati bahwa tanaman membutuhkan air cukup banyak saat angin bertiup kencang dibandingkan saat angin sepoi-sepoi pada saat kondisi suhu yang sama. Fakta ini membuktikan bahwa angin meningkatkan potensi evapotranspirasi. 

Proses evapotranspirasi menggerakan uap air dari tanah atau permukaan air ke atas permukaan yang tipis hanya beberapa sentimeter diatas tanah/air. Saat lapisan ini jenuh air maka evapotranspirasi terhenti. 

Angin dapat melepas lapisan ini dengan udata kering yang akan meningkatkan potensi evapotranspirasi.
4. Ketersediaan Air
Evapotranspirasi tidak dapat terjadi jika tidak ada perairan.

Kebanykan evapotranspirasi terjadi di permukaan bumi pada samudera di daerah subtropik. Pada daerah ini, intensitasi radiasi memengaruhi proses penguapan. Evapotranspirasi akan melebihi presipitasi di wilayah tropis dan lintang tinggi selama musim panas. Jadi kuncinya ada pada pemanasan atau tingkat radiasi matahari.

Minggu, Mei 5

Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm

Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm

Tumbuhan atau vegetasi terebar secara tidak merata di permukaan bumi ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sebaran vegetasi salah satunya iklim dan cuaca.

Iklim adalah kondisi atmosfer dalam waktu lama dan meliputi wilayah yang luas. Kondisi iklim tiap daerah berbeda-beda.

Iklim ini cukup dominan mempengaruhi pola sebaran flora dan fauna. Setiap zona iklim punya komunitas tumbuhan dan hewan tersendiri.

Vegetasi di daerah tropis seperti Indonesia akan berbeda dengan vegetasi di wilayah Sahara tentunya. Salah satu komponen cuaca adalah suhu atau temperatur.

Suhu menujukkan energi yang dimiliki suatu benda. Suhu udara adalah derajat panas dan dingin udara di atmosfer. Suhu udara dipengaruhi beberapa faktor seperti lama penyinaran, letak lintang, tutupan vegetasi, awan dan ketinggian.

Khusus dalam dunia tumbuhan, suhu udara adalah salah satu faktor pengendali sebaran vegetasi sesuai dengan letak lintang, topografi dan ketinggiannya.

Augustin P de Candolle seorang botanis asal Siwss membagi jenis vegetasi atas dasar korelasinya dengan suhu ke dalam 3 kelas vegetasi.

1. Megaterm
Megaterm adalah jenis tumbuhan yang hidup di daerah bersuhu tinggi atau beriklim tropis dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Contohnya adalah vegetasi hutan hujan tropis seperti di Indonesia.

Dikarenakan lingkungannya sangat mendukung terhadap tumbuh kembang vegetasi maka hutan hujan punya spesies yang heterogen. Hutan tropis tersebar di Indonesia, Amazon, Afrika Tengah, Papua Nugini. Di Indonesia hutan hujan ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua.

2. Xerofita
Xerofita adalah jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah yang bersuhu tinggi atau beriklim tropis namun dengan curah  hujan rendah. Contohnya wilayah gurun dan ekosistem semiarid.

Kelas vegetasi ini juga masuk klasifikasi menurut kelembapan udara. Xerofita bisa ditemukan di wilayah pantai Parangtritis Yogyakarta.

3. Mesoterm
Mesoterm adalah jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah beriklim sedang atau subtropis dan punya pergantian suhu rendah dan tinggi. Contohnya adalah tumbuhan hutan gugur tropis. Daerah beriklim bercirikan musim kering yang panjang kemudian diikuti musim hujan yang lebat.

Di musim kering, vegetasi beradaptasi dengan merontokkan daunnya untuk mengurangi evaporasi. Vegetasi mesoterm di Indonesia ada di Jawa Tengah, Jawa Timut, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.
Perbedaan Megaterm, Xerofita, Mesoterm, Mikroterm dan Hekistoterm
Hutan pinus yang sejuk
4. Miroterm
Mikroterm adalah tipe vegetasi yang hidup di daerah beriklim dingin dengan suhu relatif lebih rendah sepanjang tahun. Vegetasi yang tumbuh di daerah ini umumnya pohon tinggi dengan daun jarum seperti pohon tipe konifer. Vegetasi ini banyak ditemukan di daerah lereng pegunungan seperti hutan pinus.

5. Hekistoterm
Hekistoterm adalah jenis vegetasi yang tumbuh dan berkembang di daerah kutub dengan suhu ekstrim dingin sepanjang tahu. Contohnya adalah tundra alpin sejenis lumut-lumutan.

Daerah kutub punya lama penyinaran yang minim alias singkat. Jadi vegetasi hekistoterm punya masa perkembangan yang singkat. Vegetasi ini di Indonesia bisa dijumpai di Puncak Jaya Wijaya.

Jumat, Mei 3

Ekosistem Bioma Hutan Taiga/Boreal di Bumi

Ekosistem Bioma Hutan Taiga/Boreal di Bumi

Bioma taiga dominan berlokasi di wilayah antara subtropik dan daerah kutub seperti di Semenanjung Skandinavia, Rusia, Siberia, Alaska dan Kanada. 

Bioma taiga bisa ditemukan juga pada wilayah pegunungan tinggi beriklim dingin. Bioma taiga merupakan bioma terluas di dunia dan hanya didominasi satu spesies pohon.

Ciri-Ciri Ekosistem Bioma Taiga
a. Perbedaan antara suhu musim panas dan musim dingin cukup tinggi. Di musim panas suhu sangat tinggi sebaliknya di musim dingin suhu sangat rendah.
b. Pertumbuhan terjadi pada musim panas yang berlangsung antara 3 sampai 6 bulan.

Flora Ekosistem Taiga
Karena keadaannya khusus ini mak ajenis vegetasi yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan pada bioma taiga adalah hanya tumbuhan tertentu saja. 

Oleh sebab itulah jenis vegetasi di hutan taiga tidak begitu banyak seperti halnya di hutan tropik. Ciri hutan taiga lainnya adalah vegetasi mengelompok dengan jenis yang sama.

Jenis tumbuhan yang hidup di hutan taiga adalah pohon jarum penghasil bahan kertas, korek api dan lainnya seperti konifer, spruce, alder, birch, juniper, cemara dll. 

Wilayah hutan tundra dan taiga dipisahkan garis yang dikenal sebagai batas pohon.
Hutan taiga di Siberia
Fauna Ekosistem Taiga
Dikarenakan jenis vegetasi yang merupakan produsen pada bioma ini minim maka jenis hewan yang mampu beradaptasi dengan bioma ini sedikit. 

Binatang khas taiga adalah moose dan hewan lainnya adalah beruang hitam, ajak dan marten. 

Selain itu pada bioma taiga juga banyak burung yang senang bermigrasi saat musim gugur dan dingin.

Pada musim dingin beberapa hewan seperti bajing, beruang dan serangga tidur berhibernasi cukup lama. 

Burung-burung pemakan serangga pindah ke daerah tropis sementara burung pemakan biji mencari biji konifer. 

Hewan seperti moose dan caribou tetap bertahan hidup. Lynx atau kucing buas dari Amerika Utara dan ajak berburu kelinci di hutan konifer sepanjang tahu.

Baca juga: Rangkuman bab dinamika biosfer

Minggu, Februari 17

Biologi Kelas 11: Sifat Fisika dan Kimia Protoplasma

Biologi Kelas 11: Sifat Fisika dan Kimia Protoplasma

Hai teman-teman, sekalian kali ini saya akan coba berbagi materi biologi terkait dengan sifat fisika dan kimia protoplasma. 

Protoplasma adalah senyawa kimia penyusun sel. Protoplasma merupakan istilah umum dari sitoplasma yang mengelilingi nukleus. 

a. Sifat Fisika
Protoplasma punya sifat fisika sebagai berikut:
1. Cairannya bsersifat koloid dengan ukuran partikel 0,001 -0,1 mikrometer
2. Cairannya dapat mengahantarkan arus listrik karena mengandung garam-garam elektrolit yang dapat terionisasi
3. Efek Tyndall yaitu kemampuan menghamburkan cahaya bila arah datangnya sinar mengenai sistem koloid.
4. Gerak Brown yaitu gerak partikel-partikel protoplasma yang tidak beraturan karena adanya molekul air. Partikel-partikel pada sistem koloid protoplasma bergerak secara zig-zag. Gerak Brown ini biasanya terjadi dalam larutan koloidal dan gerakannya tergantung pada temperatur serta ukuran partikel. Adanya gerak Brown menyebabkan berpencarnya parikel-partikel koloid ke seluruh bagian sel sehingga transportasi zat dapat terjadi guys.
5. Viskositas yaitu tegangan permukaan yang terjadi karena adanya tarikan antara partikel-partikel di permukaan matriks protoplasma dan partikel-partikel yang ada di bawahnya. Tegangan permukaan berubah-ubah tergantung dari kekentalan cairan dan suhu. Pada suhu tinggi protoplasma memiliki viskositas rendah.
6. Koagulasi yaitu penggumpalan partikle koloid sehingga terbentuk endapan. Koagulasi dapat terjadi secara fisik melaluli pemanasan, pendinginan dan pengadukan. Koagulasi juga dapat terjadi secara kimia melalui penambahan elektrolit dan pencampuran koloid yang berbeda muatan.
Biologi Kelas 11: Sifat Fisika dan Kimia Protoplasma
Ilustrasi protoplasma
b. Sifat Kimia
Sifat-sifat kimia yang dimiliki olhe protoplasma adalah sebagai berikut
1. Terdiri dari senyawa-senyawa organik dan anorganik
2. Mengandung enzim sebagai biokatalisator
3. Mempunyai pH netral sekitar 6,8-7,2

Contoh Soal Sifat Fisika dan Kimia Protoplasma
1. Senyawa organik yang menyusun protoplasma adalah ....
a. lipid, protein, air dan garam mineral
b. karbohidrat, protein, lipid dan garam mineral
c. karbohidrat, asam nukleat, lipid dan air
d. lipid, protein, CO2 dan N2
e. lipid, protein, karbohidrat dan asam nukleat

Contoh soal 2
2. Protoplasma memiliki beberapa sifat fisika dan kimia. Yang termasuk bukan sifat fisika protoplasma adalah ....
a. efek Tyndall
b. grak Brown
c. dapat mengalami perubahan kekentalan
d. tersusun dari senyawa organik dan anorganik

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close