Guru Geografi: Geografi Desa - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Desa. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 11

Ciri Desa Tradisional, Swadaya, Swakarya dan Swasembada

Ciri Desa Tradisional, Swadaya, Swakarya dan Swasembada

Setiap desa mempunyai terbentuk oleh unsur-unsur desa dan unsur desa inilah yang selanjutnya akan menentukan potensi desa yang bersangkutan. 

Perkembangan suatu desa akan dipengaruhi baik oleh unsur maupun potensi desa. Berdasarkan perkembangannya, desa dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

1. Desa tradisional, atau pra desa yaitu tipe desa pada masyarakat terasing yang seluruh kehidupannya tergantung pada alamsekitarnya. Ketergantungan itu misalnya dalam hal cara bercocok tanam,  cara membuat rumah, pengolahan makanan dan lain-lainnya. 


Pada desa semacam ini penduduk cenderung tertutup atau kurang komunikasi dengan pihak luar. Sistem perhubungan dan komunikasi tidak berkembang. Contoh: Desa pada Suku Baduy, Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi.
Desa kasepuhan tradisional Ciptagelar
2. Desaswadaya
Desa swadaya merupakan tipe desa dengan ciri-ciri:
-    penduduknya jarang, masih terikat pada adat istiadat;
-    lembaga sosial yang ada masih sederhana;
-    tingkat pendidikan masyarakatnya rendah, produktivitas tanah rendah;
-    kegiatan penduduk dipengaruhi oleh keadaan alam;
-    topografi berupa pegunungan atau perbukitan;
-    lokasi terpencil;
-    mayoritas penduduk sebagai petani;
-    kegiatan ekonomi masyarakat bersifat subsisten;
-    masyarakt juga tertutup terhadap pihak luar, sehingga sistem perhubungan dan transportasi kurang berkembang.


3. Desa swakarya
Desa swakarya adalah desa yang sudah lebih berkembang maju, dengan ciri-ciri:
-    adat istiadat mengalami perubahan;

-    pengaruh dari  luar mulai masuk sehingga masyarakatnya mengalami perubahan cara berpikir;
-    mata pencaharian mengalami diversivikasi;
-    lapangan kerja bertambah sehingga produktivitas meningkat;
-    gotong royong lebih efektif;
-    pemerintah desa berkembang baik;
-    masyarakat desa mampu meningkatkan kehidupannya dengan hasil kerjanya sendiri;
-    bantuan pemerintah hanya sebagai stimulan saja.


4. Desa swasembada

Desa swasembada adalah desa yang telah maju, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-    Ikatan adat istiadat yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi sudah tidak berpengaruh terhadap masyarakat;
-    Lokasi desa swasembada biasanya dekat dengan kota kecamatan, kota kabupaten, kota provinsi, yang tidak  masuk wilayah kelurahan;
-    semua keperluan hidup pokok dapat disediakan desa sendiri;
-    alat teknis yang digunakan untuk memenuhi keperluan hidup lebih modern;
-    lembaga sosial ekonomi dan budaya sudah dapat menjaga kelangsungan hidup penduduknya;
-    mata pencaharian penduduk beragam, perdagangan dan jasa sudah berkembang;
-    pendidikan dan keterampilan penduduk sudah tinggi;
-    hubungan dengan daerah sekitarnya berjalan lancar;
-    kesadaran penduduk mengenai kesehatan tinggi;
-    gotong royong masyarakat tinggi.

Kamis, Desember 5

Potensi Desa Rendah, Sedang dan Tinggi

Potensi Desa Rendah, Sedang dan Tinggi

Perkembangan desa di Indonesia bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya. Ada yang cepat berkembang dan ada juga yang lambat. 

Faktor pemicunya adalah kondisi potensi desa dan mentalitas aparatur desa tersebut. Tetapi yang utama adalah faktor sumber daya manusia alias skill dan visi seorang pemimpin desa.

Potensi desa satu dengan yang lain, baik potensi alam maupun manusianya dapat berbeda-beda. Padahal potensi desa merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap perkembangan desa. 

Dengan demikian tingkat perkembangan desa satu dengan yang lain juga tidak sama. Perkembangan desa berdasarkan potensinya apat dikelompokkan menjadi:

1)    Desa dengan potensi tinggi, yaitu desa yang memilki lahan pertanian yang subur, topografi datar atau agak miring, dilengkapi dengan fasilitas irigasi teknis. Oleh karena itu desa seperti ini mempunyai kemampuan besar untuk berkembang lebih lanjut;
2)    Desa dengan potensi sedang, yaitu desa yang memiliki lahan pertanian agak subur, irigasi sebagian teknis, sebagian non teknis, topografi tidak rata.Hal ini mengakibatkan perkembangan desa yang lambat;

3)    Desa dengan potensi yang rendah, memiliki lahan pertanian yang tidak subur, topografi berbukit, sumber air sulit diperoleh, pertanian tergantung pada curah hujan. Hal ini merupakan penghambat, sehingga desa sulit berkembang;
Kreatifitas kunci maju tidaknya desa jaman now
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi maju mundurnya desa atau perkembangan desa, antara lain:
1)    Potensi desa yang mencakup potensi alami dan non alami;
2)    Interaksi desa dengan kota;
3)    Lokasi desa terhadap daerah sekitarnya yang lebih maju.

Unsur-Unsur desa

Sebagai daerah otonom desa memiliki beberapa unsur pembentuknya, yaitu:
1)   Daerah, terdiri atas tanah-tanah yang produktif dannon produktif serta penggunaannya, lokasi, luas, batas yang merupakan lingkungan geografis setempat. Wilayah desa umumnya digunakan untuk permukiman, pekarangan dan lahan pertanian;
2)   Penduduk meliputi jumlah,pertumbuhan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian;
3)   Tata kehidupan, meliputi organisasi pemerintahan, organisasi sosial, adat istiadat, dan seluk beluk kemasyarakatan yang terkait dengan desa tersebut.


Ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan hidup (living unit) yang tidak lepas satu sama lain. Daerah menyediakan kemungkinan hidup. Penduduk dapat menggunakannya untuk mempertahankan hidup. Sedang tata kehidupan, akan memberi jaminan ketenteraman dan keserasian hidup bersama di desa.


Desa-desa yang menjalin keharmonisan antara alam dengan manusia akan sentiasa lestari dan kehidupannya tentram karena nilai-nilai kearifan lokal dijaga dengan baik. Setiap desa memiliki potensi bak potensi alamiah maupun potensi non alamiah. 

Jika sebuah desa minim potensi alamiah maka penduduknya harus kreatif menciptakan sesuatu yang bernilai jual. Bisa dengan home industri atau membangun desa wisata dengan kreatifitas penduduk untuk menarik pengunjung datang.

Senin, Desember 11

Konsep Trickle Down Effect Pembangunan Wilayah

Konsep Trickle Down Effect Pembangunan Wilayah

Pembangunan terus berkembang di berbagai wilayah permukaan bumi tak terkecuali Indonesia. Akan tetapi pembangunan tidak selamanya menghasilkan dampak positif di negara berkembang.

Kali ini akan dibahas sedikit tentang konsep trickle down effect dalam pembangunan wilayah. Modernisasi pedesaan saat ini memiliki dampak negatif yang cukup terlihat jelas.

Kota tak mampu membangun pedesaan disekitarnya, bahkan meningkatkan keterbelakangan karena relasi hanya berjalan satu arah, padahal untuk meningkatkan level kehidupan di desa perlu relasi dua arah.

Dilihat dari sisi budaya, manusia kota itu menempati wilayah pinggiran. Menurut Stonequist, orang kota ini secara kultural tak lain adalah blasteran manusia berbudaya barat, sebaliknya yang berkepribadian asli, pribumi secara budaya adalah orang yang ada di desa. 

Di Indnoesia para ekonomi kini menggalakan gagasan bagaimana cara membangun namun memihak rakyat. Jika yang dipakai sebagai pedoman tata kerja membangun itu meniru pengalaman di Eropa Barat yang ditandai oleh revolusi industri dan terjadi perembesan atua penetesan ke bawah (trickle down). Kota industri dulu yang berhasil kemudian merembes ke kawasan sekitarnya.

Di Indonesia, pembangunan industri mendahului pembangunan pertanian. Mereka yang hidup miskin adalah petani gurem, buruh, nelayan kecil, peternak dan warga desa yang bermukim di wilayah pedalaman terisolasi. 

Penduduk miskin struktural inilah yang mendasari lahirnya program Inpres Desa Tertinggal tahun 1995.
Konsep Trickle Down Effect Pembangunan Wilayah
Sawah semakin menyusut karena pembangunan
Menurut Mubyarto, kemiskinan adalah kondisi serba kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan dasar bagi anak-anak. Membangun desa miskin berarti meningkatkan kemampuan rakyat dengan cara menggali potensi desanya. 

Kombinasi antara potensi fisik desa dengan skill atau keterampilan penduduknya akan membuat perkembangan desa semakin pesat. Inilah yang kini sedang gencar dilakukan di Indonesia agar ketimpangan kota dan desa tidak begitu besar. 

Trickle down effect pembangunan wilayah pada dasarnya mengorbankan petani. Lahan menyempit, harga gabah menurun, upah rendah, permainan mafia beras dll adalah sekelumit efek permebesan dari pembangunan wilayah. 

Gambar: disini

Rabu, November 1

Ciri-Ciri Masyarakat Pedesaan Menurut Talcot Parsons

Ciri-Ciri Masyarakat Pedesaan Menurut Talcot Parsons

Masyarakat pedesaan merupakan suatu komunitas yang sangat jauh dari kesan modern dan cenderung lebih tradisional. 

Seorang ahli sosiologi Talcot Parsons menjelaskan bahwa masyarakat desa sebagai masyarakat gemeinshcaft memiliki karkateristik sebagai berikut:

a. Afektifitas adah kaitannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan dan kemesraan. Perwujudan dalam sikap dan perbuatan tolong-menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.

b. Orientasi kolektif sifat ini  merupakan konsekuensi dari afektifitas yaitu mementingkan kepentingan bersama, tidak suka menonjolkan diri tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, initnya semua harus menunjukkan keseragaman perasaan.

c. Partikularisme pada dasarnya merupakan semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atua daerah tertentu. Perasaan subjektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.

d. Askripsi yaitu hubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja namun merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturuan.

e. Kekabaran merupakan sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian di atas, Parson dapat melihat desa yang masih murni tanpa ada campur tangan pengaruh dari luar atau globalisasi.
Ciri-Ciri Masyarakat Pedesaan Menurut Talcot Parsons
Bertani adalah ciri khas pedesaan
Masyarakat pedesaan memiliki sifat yang kaku tapi sangat ramah. Biasanya adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, namun asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.

Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti petani yang menyiapkan bahan pangan, tenaga kerja kasar dan lainnya. Masyarakat desa mengenal berbagai macam gejala sosial seperti konflik, pertentangan dan kompetisi. 

Pertengkara yang terjadi biasanya berakar pada masalah rumah tangga yang sering menjalar ke luar rumah. Pertentangan disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan, psikologi dan hubungan dengan magic. 

Pertentangan ini biasanya berakar dari kebiasaan masyarakat. Masyarakat desa seperti biasa memiliki saingan satu sama lain dalam berbagai aspek. Wujud persaingan ini bisa positif dan negatif. 
 
Gambar: disini

Selasa, September 19

Fungsi Desa Bagi Wilayah Sekitarnya

Fungsi Desa Bagi Wilayah Sekitarnya

Desa merupakan wilayah administrasi yang berada di bawah kabupaten. Apakah kamu senang tinggal di desa?.

Indonesia dibangun dari desa-desa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Desa memiliki fungsi yang sagnat vital bagi wilayah disekitarnya diantaranya:

1. Sumber bahan mentah 
Desa menyediakan kebutuhan pokok bagi wilayah perkotaan, misalnya beras, padi, sayurna, ikan dan buah-buahan. Desa terkenal dengan daerah agraris sehingga hampir semua bahan pangan berasal dari desa. Baca juga: Soal konsep geografi dan jawabannya

2. Sumber tenaga kerja
Pemanfaatan potensi tenaga kerja produktif di pedesaan menjadi masalah khususnya bagi desa yang penduduknya mayoritas petani. Umumnya penduduk usia produktif tidak bekerja di desa alias menganggur. 

Hal ini karena sempitnya lapangan kerja dan upah buruh yang kecil. Hal ini yang memicu urbanisasi pekerja dari desa ke kota.

3. Mitra pembangunan
Dua fungsi desa di atas menunjukkan adanya interaksi desa kota dan interaksi yang berkelanjutan tersebut membuat desa kota menjadi sebuah mitra. 

Desa memasok bahan mentah ke kota sementara kota memasok bahan jadi ke desa. Baca juga: Soal USBN geografi 2017 dan jawabannya
Desa sebagai pelestari kearifan lokal
4. Sebagai hinterland
Disini desa bertindak sebagai daerah penyokong atau penyuplai kebutuhan penduduk kota. Desa menjadi pendukung pemekaran daerah kota. 

Tidak masalah bahwa Jakarta memasok susu kuda liar dari desa di Sumbawa misalnya. Ini berarti Kota Jakarta disokong pula kebutuhannya oleh desa yang jauh di Flores sana. 

5. Pelestari kebudayaan lokal
Kearifan lokal kini hanya bisa kamu jumpai di masyarakat desa. Hal ini menjadikan budaya lokal sebagai potensi desa dan harus dilestarikan. 

Desa saat ini berfungsi sebagai pelestari kebudayaan lokal dan nilai-nilai kearifan nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah ada sejak jaman dahulu. 

Kini banyak desa-desa wisata berkembang untuk menarik wisatawan dan menampilkan sisi kearifan lokal yang masih terpelihara. Baca juga: Soal Prinsip Geografi dan Pembahasannya

Gambar: disini

Rabu, Agustus 9

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor pendorong urbanisasi sangat banyak dan saya akan mencoba membahasnya satu per satu. 

Pemukiman kota tumbuh terus-menerus seiring bertambahnya penduduk di dunia dan pesatnya migrasi.

Pada awal abad ke 19, penduduk dunia yang tinggal di perkotaan hanya 10% saja namun saat ini sudah melewati angka  50%. 

Lahan-lahan hutan, pertanian kini banyak yang diubah menjadi pemukiman, apartemen, kota dan lainnya. 

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia
Urbanisasi adalah sebuah fenomena sosial

Adapun faktor-faktor pendorong urbanisasi menurut Whynne dan Hammond ada delapan yaitu:

1. Kemajuan bidang pertanian
Adanya mekanisasi pertanian mendorong beberapa hal seperti terserapnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri. Lainnya, bertambahnya produktifitas pertanian menjadikan pendapatan petani meningkat dan taraf hidupnya meningkat. 

 

Kemajuan teknologi membuat pengelolaaan lahan petanian lebih efisien dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja karena diganti oleh mesin. Selain itu upah yang rendah di sektor pertanian membuat mereka mencari lahan baru di kota.

2. Industrialisasi
Revolusi industri membuat dunia berubah cepat dan mesin-mesin kini sudah menguasai kehidupan. Banyak pabrik-pabrik yang dibangun di lokasi baru sehingga membutuhkan tenaga kerja baru. Seiring tumbuhnya industri maka kota baru akan terbentuk. Lihatlah Cikarang, Jababeka dan sekarang Meikarta sudah mulai didesain di Bekasi.

3. Adanya pasar
Berkembangnya industri akan melahirkan banyak kota baru yang menawarkan diri sebagai pasar industri tersebut. Luasnya pemasaran membuat kebutuhan pekerja semakin banyak dan para pekerja di desa mulai pindah ke kota.

4. Peningkatan layanan umum
Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan kegiatan perdagangan, taraf hidup dan memicu lahirnya organisasi berbasis ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa tumbuh di perkotaan mulai  dari hiburan, catering, kantor, wisata dan lainnya.

5. Kemajuan transportasi
Dibangunnya jalan raya, rel kereta, rute penerbangan membuat masyarakat dapat dengan mudah melakukan mobilitas. Akses yang baik, membantu seseorang untuk bergerak dari desa ke kota.

6. Tarikan sosial budaya
Di kota banyak hal menarik yang tidak ada di desa seperti bioskop, rekreasi, pendidikan hingga telekomunikasi. Desa sangat erat dengan adat yang kaku dan hal ini membuat masyarakatnya tidak betah dan ingin berubah untuk melihat masa depan yang lebih baik.

7. Pendidikan
Sarana pendidikan banyak tumbuh dengan baik di perkotaan dibandingkan pedesaan. Perguruan tinggi tidak ada di tingkat desa dan masyarakat desa yang ingin menimba ilmu harus merantau ke kota.

8. Pertumbuhan penduduk alami
Tingkat ekonomi penduduk kota yang tinggi mebuat pertumbuhan penduduk kota cenderung tinggi. Fasilitas kesehatan yang memadai membuat angka kelahiran meningkat dan menambah pesat kota.  

Baca juga: Konsep trickle down effect

Gambar: disini

Minggu, April 30

3 Unsur Kehidupan Desa dan Cirinya

3 Unsur Kehidupan Desa dan Cirinya

Desa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. Negara Indonesia bisa lahir dari desa-desa di penjuru pelosok Nusantara. Desa di Jawa pada awalnya dihuni oleh penduduk satu keturunan, mereka punya nenek moyang yang sama yaitu para cikal bakal pendiri pemukiman yang bersangkutan.

Jika suatu desa kemudian sudah padat, masalah-masalah ekonomi bermunculan beberapa keluarga keluar untuk mendirikan pemukiman baru dengan cara membuka hutan, atau disebut tetruka. 

 Di Tapanuli, pembukaan desa baru menurut Marbun sebagian disebabkan keinginan kelompok baru dalam proses mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat atau karena tanah desa tak memadai lagi menghidupi penghuninya.

Dapat dikatakan bahwa di masa lalu desa sebagai kesatuan masyarakat memiliki 3 hal yang dalam ungkapan Jawa adalah : rangkah (wilayah), darah (satu keturunan), dan warah (adat). 

Maka sangat tepat bila Bintarto menyebutkan bahwa hingga kini tiga unsur kehidupan desa di Jawa yaitu daerah, penduduk dan kehidupan.
3 Unsur Kehidupan Desa dan Cirinya
Kampung Naga Tasikmalaya
Daerah dalam arti tanah-tanah pekarangan dan pertainan beserta penggunaannya termasuk pula aspek lokasi, luas, batas yang kesemuanya itu merupakan lingkungan geografis setempat. Ada desa yang berlokasi di pegunungan, dataran rendah, rawa hingga di pinggir pantai. 

Kemudian penduduk, ini meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran serta mata pencahariannya. Warah adalah ajaran tentang tata hidup, pergaulan dan ikatan-ikatannya sebagai masyarakat desa. 

Dengan sendirinya tata kehidupan itu tidak dapat dilepaskan dari pola perilaku masyarakat desa secara keseluruhan. Tata kehidupan sendiri sering diakibatkan oleh adaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Artinya perilaku manusia di dalamnya mengikuti kondisi lingkungan yang ada.

Kesimpulannya, setiap desa pasti punya 'geographical setting' dan 'human effort' masing-masing yang berbeda. Ada desa yang sumber daya melimpah dimana-mana namun semangat membangun, keterampilan dan pendidikan masyarakatnya rendah sehingga tidak maju. 

Sebaliknya ada desa yang memiliki sumber daya terbatas namun dapat maju pesat karena kemampuan penduduknya dalam mengatasi hambatan geografis tersebut.

Sumber: Geografi Desa dan Kota, Daldjoeni.
Gambar: fickr

Kamis, April 27

Ciri Sosial Masyarakat Desa

Ciri Sosial Masyarakat Desa

Jika kamu memilih, mendingan hidup di kota atau di desa?. Kalau saya lebih memilih untuk tinggal di pedesaan. 

Desa dan kota merupakan dua daerah yang memiliki karakteristik yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan dalam interaksi kehidupan saat ini. 

Kali ini kita akan bahas dulu tentang karakteristik sosial masyarakat desa. Desa dapat diartikan sebagai suatu perwujudan dari interaksi manusia dengan lingkungan fisiknya. Secara administratif, desa berada di bawah kabupaten. 

Baca juga:
Peta sebaran fauna di dunia Wallacea
Potensi fisik dan non fisik desa

1. Sistem Kekerabatan Erat
Masyarakat desa memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Kehidupan mereka relatif berkelompok dan berlandaskan asas kekeluargaan. 

Kegiatan bertani sering dilakukan bersama-sama dan tidak berasaskan spesialisasi keahlian, yang penting dia punya tenaga dan fisik yang baik. 

Jika ada pembangunan fasilitas umum, masyarakat desa sering bergotong royong untuk menyelesaikannya seperti jembatan, mesjid, jalan dan rumah.  

Dalam hal ini, Emile Durkeim menyebutnya sebagai solidaritas mekanik atua geminschaft yang artinya kelompok yang semua anggotanya saling terikat secara emosional.

2. Pola Kehidupan Diatur Kondisi Alam
Penduduk desa umumnya memiliki kegiatan sehari-hari seperti petani atau nelayan.  Artinya mereka sangat bergantung dengan kondisi alam seperti cuaca. 

Jika musim hujan tiba, maka masyarakat desa akan turun ke sawah untuk bercocok tanam sedangkan saat musim kemarau tiba mereka tidak pergi ke sawah namun mencari pekerjaan lain seperti menjadi buruh bangunan atau berdagang. 

Nelayan di pantai akan libur melaut jika cuaca buruk dan kembali melaut jika cuaca sudah membaik. Baca juga: Klasifikasi awan menurut bentuk dan ketinggian
Ciri Sosial Masyarakat Desa
Salah satu desa adat tradisional di Bali
3. Mata pencaharian homogen
Masyarakat di desa secara umum memiliki jenis pekerjaan mayoritas homogen. Ada desa yang mayoritas petani, nelayan atau pengrajin. Hanya beberapa orang saja yang menekuni pekerjaan lain seperti berdagang atau menjadi guru dan lainnya.  

4. Terikat Adat Istiadat
Masyarakat desa umumnya yang masih tradisional masih sangat terikat oleh adat istiadat. Aturan adat sangat mengikat kehidupan setiap orang. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan penduduknya. 

Golongan orang tua atau sesepuh adalah orang penting yang sering dimintai nasihat bila ada kesulitan. Tokoh-tokoh adat sangat disegani dan semua kebijakan harus disetujui terlebih dahulu oleh kepala adat. Adat istiadat harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh setiap orang. Hal ini menjadi kearifan lokal tersendiri yang yang harus dilestarikan.

5. Pola Pikir Tradisional
Karena jauh dari modernisasi dan pendidikan memadai, maka pola pikir masyarakat desa cenderung masih tradisional atau kuno. 

Ada beberapa desa yang masih enggan menerima perubahan. Mereka menganggap perubahan dan modernitas hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan mereka yang sudah berlaku sejak zaman nenek moyang. 

Baca juga: Perkembangan kota di Indonesia

Gambar: barunatirtaagung.com

Senin, April 17

Dampak Interaksi Desa dan Kota

Dampak Interaksi Desa dan Kota

Kota dan Desa sama-sama merupakan suatu wilayah penghidupan bagi manusia di atasnya. Kota identik dengan kehidupan yang glamor, keras, individual dan rumit. 

Sementara desa terkenal dengan kehidupan yang tenteram, alami, kekeluargaan dan nyaman. Semua kota secara umum pada awalnya berkembang dari pedesaan yang tumbuh dari waktu ke waktu. 

Saat ini desa dan kota merupakan dua bagian sistem kehidupan yang saling berinteraksi satu sama lain. Desa saat ini bertugas sebagai hinterland atau daerah penyokong kota. Beberapa kebutuhan kota dipasok dari desa terutama bahan kebutuhan pangan. 

Interaksi desa dan kota saat ini semakin intens sehingga menghasilkan dampak bagi kedua belah pihak. Berikut ini dampak interaksi desa dan kota di Indonesia.
Dampak Interaksi Desa dan Kota
Desa kini berkembang menjadi daerah wisata
Dampak Positif
Dampak positif interaksi desa dan kota bagi kota adalah Kota akan menerima pasokan pekerja kelas menengah bawah dari desa untuk sektor industri, Bahan pangan tersedia mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, Pertumbuhan kota semakin pesat karena banyaknya pembangunan dan Pendapatan daerah meningkat karena banyaknya penduduk yang hijrah ke kota.

Sementara itu dampak positif bagi desa adalah Pendapatan masyarakat desa relatif meningkat, Tingkat pendidikan, kesehatan masyarakat desa mulai membaik, Pola pikir mulai rasional seiring masuknya informasi dan teknologi, Fasilitas jalan mulai banyak dibangun, Banyak sektor wisata alam mulai dibangun di desa untuk memenuhi kebutuhan wisata masyarakat kota.

Dampak Negatif
Dampak negatif interaksi desa kota bagi kota adalah Banyak muncul slum area atau pemukiman kumuh di penggiran kota, Kota semakin padat dan menimbulkan kemacetan, Polusi meningkat, Volume sampah meningkat dan merusak lingkungan dan Kriminalitas meningkat.

Sementara itu dampak negatif bagi desa adalah Desa semakin kekurangan tenaga produktif, Arus modernisasi merusak tata kehidupan tradisional masyarakat desa, Lahan pertanian semakin berkurang karena ekspansi bisnis penduduk kota dan Pencemaran mulai banyak berkembang di desa.

Itulah beberapa dampak interaksi desa dan kota baik yang positif maupun negatif. Masih banyak lagi dampak lain yang ditimbulkan dan itu merupakan sesuatu yang alami terjadi.

Baca juga: 
Air tanah freatik dan artesis
Menghitung sex ratio dan dependency ratio

Gambar: visitingjogja.com

Sabtu, Maret 25

Faktor Pendorong dan Penarik Urbanisasi di Indonesia

Faktor Pendorong dan Penarik Urbanisasi di Indonesia

Urbanisasi pada dasarnya merupakan fenomena migrasi penduduk dari desa ke kota. Migrasi ini sudah umum terjadi di berbagai negara di di dunia termasuk Indonesia. Urbanisasi sangat erat kaitannya dengan kawasan perkotaan. 

Di Indonesia sendiri, urbanisasi mulai terjadi setelah tahun 1980an dimana kondisi perekonomian mulai berkembang pesat khususnya di daerah pusat pertumbuhan seperti Jakarta dan sekitarnya.

Urbanisasi kini semakin tidak terkendali dan menyebabkan terjadinya ketimpangan wilayah dan masalah perkotaan. 
 
Bila tidak ditanggulangi maka akan mengakibatkan bencana kota yang lebih serius. Lalu apa saja faktor pendorong dan penarik urbanisasi?. Berikut ini beberapa faktor tersebut:
Faktor Pendorong dan Penarik Urbanisasi di Indonesia
Urbanisasi membuat kota semakin padat
Faktor Pendorong
1. Sempitnya lapangan kerja di pedesaan
Desa sangat identik dengan wilayah pertanian dengna spesialisasi pekerjaan yang tidak tinggi. Mayoritas sektor yang berkembang adalah pertanian sehingga masyarakat perlu mencari lapangan kerja baru di luar aktifitas pertanian. 
 
2. Upah di desa rendah
Karena lapangan kerja sedikit dan tidak membutuhkan spesialisasi khusus maka upah di desa pastinya sangat rendah. Namun hal tersebut juga didukung oleh biaya hidup yang minim di desa. Semakin hari kebutuhan semakin banyak dan masyarakat membutuhkan penghasilan di atas rata-rata.
 
3. Adat Istiadat yang Kaku
Desa sangat identik dengan adat istiadat yang mengekang erat setiap kehidupan manusianya. Kadang, sistem adat yang kaku ini menyebabkan manusia tidak bisa berkembang di tengah kemajuan zaman sehingga masyarakat memilih untuk pergi dari desa mencari kebebasan. 
 
4. Fasilitas Sosial Minim
Sudah jelas sekali bahwa fasilitas sosial mulai dari pendidikan, kesehatan, hiburan dan ekonomi di desa masih jauh dari yang ada di kota. 

Faktor Penarik
1. Upah Kerja Relatif Tinggi
Daerah perkotaan menyediakan beragam jenis lapangan kerja dan dengan standar gaji yang relatif tinggi. Spesialisasi pekerjaan dari mulai kelas kuli bangunan, pekerja kantor, kontraktor dan lainnya tersedia di kota. Masyarakat tinggal memilih pekerjaan apa yang sesuai dengan keahliannya.
 
2. Ajakan dari Saudara
Biasanya banyak sekali kerabat keluarga yang sukses di kota lantas membawa serta kerabatnya saat pulang kampung. Cerita kesuksesan mereka menjadi motivasi keluarga lain untuk ikut mengadu nasib di perkotaan.
 
3. Gaya Hidup Bebas
Kota tidak mengenal adat istiadat dan semua perilaku sosial relatif bebas dilakukan. Hali ini yang mendorong beberapa orang untuk pergi meninggalkan kekakuan sistem sosial di desa.
 
4. Fasilitas Sosial Mudah Didapat
Beragam fasilitas mulai dari pendidikan, ekonomi, transportasi, telekomunikasi yang baik sangat mudah dijumpai di kota. Masyarakat akan sangat tertarik untuk mendapatkan beragam fasilitas sosial tersebut.

Baca juga:
Bedanya stalaktit dan stalagmit
Geografi Sesar Lembang Bandung yang mengancam

Sabtu, Maret 11

4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan

4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan

Dunia dimulai dengan munculnya sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah yaitu desa. Lambat laun pemukiman berkembang dan menghasilkan pola pemukiman atau ruang yang bervariasi. 

Tipe pola pemukian desa di dunia sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi terutama fisiografis wilayahnya. Saat dunia semakin berkembang pesat, para penghuni desa mulai meninggalkan daerahnya menuju desa. Baca juga: Rumus teori titik henti

Akan tetapi beberap orang memilih tinggal di desa dengan tujuan masing-masing. Pemukiman di desa menawarkan suasana kesejukan, udara segar dan kehidupan yang serasi dengan alam. Ada banyak jenis pola pemukiman atau keruangan desa. Berikut ini contohnya:

1. Clustered Rural Settlements
Pola pemukiman desa ini cenderung berkelompok dimana sejumlah keluarga tinggal berdekatan satu sama lain dengan area di sekitarnya berupa lahan pertanian. Biasanya pola pemukiman memusat ada di daerah dataran rendah subur dengan sumber air yang baik atau lembah, contohnya Kampung Naga di Neglasari Tasikmalaya. 

Baca juga:
Fungsi lahan bagi kehidupan 
Jenis-jenis presipitasi

Pemukiman desa model ini biasanya akan dijumpai rumah, lumbung padi, gudang perkakas, tempat ibadah hingga sekolah. Setiap penduduk yang hidup disana akan diberikan sebidang lahan atau menyewa lahan untuk diusahakan. 

Saat populasi tumbuh semakin pesat maka pemukiman baru akan dibangun di dekat rumah yang sudah ada. Pola pemukiman seperti ini membuat kekerabatan diantara penduduk sangat erat karena jarak yang berdekatan. Gambar: researchgate.net
4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan
Pola Ruang Desa Mengelompok
2. Circular Rural Settlements
Pola pemukiman ini membentuk lingkaran dengan ruang terbuka di tengah-tengah pemukiman. Pemukiman dibangun mengikuti garis lingkaran dari pusat daerah terbuka. Pengaturan bangunan biasanya akan dilakukan sesuai kesepakatan atau hukum adat. Model ini menyerupai pola ruang Von Thunen karena strukturnya melingkar dengan titik pusat di tengahnya. Gambar: geo-mexico.com
4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan
Pola Ruang Desa Melingkar
3. Linier Rural Settlements
Pola pemukiman ini berbentuk memanjang mengikuti suatu kenampakan seperti sungai, rel kereta atau jalan raya. Transportasi utama mengandalkan sungai atau jalanan sempit jika diantara rel kereta atau jalan raya. 

Banjarmasin menjadi salah satu daerah dengan banyak pemukiman memanjang di pinggir sungai sehingga menghasilkan budaya sungai. Gambar: rogpalmer.cantabphotos.com
4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan
Pola Ruang Desa Memanjang
4. Dispersed Rural Settlements
Pola pemukiman ini tersebar tidak merata di berbagai titik dan biasanya berada di wilayah seperti pegunungan karst dan perbukitan. Para penduduk cenderung terisolasi satu sama lain dengan kondisi transportasi yang sulit. Gambar: geograph.ie
4 Tipe Pola Pemukiman Pedesaan
Pola Ruang Desa Menyebar
Itulah empat pola keruangan desa di dunia beserta karakteristiknya. Pemilihan lokasi pemukiman memang kadang cenderung subjektif namun kadang objektif pula. 

Ada penduduk yang senang hidup berkelompok dan ada juga yang hidup ingin terpisah satu sama lain. Namun di balik itu semua, setiap desa punya potensi yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Baca juga: Gerak semu harian dan tahunan matahari

Sabtu, Februari 25

Ciri-Ciri Wilayah Pedesaan

Ciri-Ciri Wilayah Pedesaan

Mendengar kata desa tentu sudah tidak asing di telinga kita. Desa biasa diartikan oleh orang tua kita dahulu sebagai tempat lahir. 

Sebuah desa dapat dihuni oleh beberapa kelompok keluarga saja hingga desa dengan penduduk yang sudah banyak. 

Persebaran desa sangat dipengaruhi oleh latar belakang kondisi geografisnya. 

Kondisi geografis nantinya akan memengaruhi pola kehidupan manusia di dalamnya. Berikut ini ciri-ciri wilayah pedesaan:

Baca juga:
Bedanya lokasi absolut dan relatif
Air tanah freatis dan artesis

a. Desa dan masyarakatnya punya kekerabatan erat dengan alam. Kondisi cuaca dan iklim sangat berpengaruh terhadap kegiatan manusia. Dengan demiian seolah-olah alam mengatur pola aktifitas pertanian masyarakat desa. 

Jauh di masa lalu, hanya dikenal dua kali panen dalam satu tahunn yaitu padi basah dan padi kering. 

Saat ini dengan adanya revolusi hijau, berbagai jenis varietas padi ditemukan dengan musim tanam lebih pendek. Ada yang setahun bisa empat kali dipanen atau tumbuh dalam waktu 90-100 hari saja.

b. Penduduk di desa adalah satu unit sosial dan unit kerja. Jumlah penduduk desa relatif tidak besar dan struktur ekonominya pada dasarnya agraris. 

Namun saat ini ada pengecualian karena berkembangnya pendidikan dan sektor ekonomi sehingga ada sedikit pergeseran pola hidup. 

Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa desa mengalami proses urbanisasi atua pengkotaan sehingga memerlihatkan ciri-ciri kekotaan secara fisik, ekonomi dan budaya.
Ciri-Ciri Wilayah Pedesaan
Asrinya Pedesaan di Tatar Pasundan (Kampung Naga)
c. Masyarakat desa menjalin sebuah paguyuban atau gemeinschaft (ikatan kekeluargaan erat). Pada prinsipnya kontrol kemasyrakatan di desa masih ditentukan oleh adat, nilai

Penjelasan di atas sebenarnya mendeksripsikan desa sebagaimana kita kenal sejak lama, namun kini seiring berkembangnya zaman maka konsepsi desa perlu dirubah kebali. 

Pendidikan, jalan raya, fasilitas kesehatan yang meningkat membuat taraf hidup masyarakat desa ikut meningkat. 

Bagi kota, desa berfungsi sebagai penyuplai material dan tenaga kerja. Dalam perkembangannya, desa-desa yang berkembang pesat berevolusi mejadi self sufficing village atau desa swasembada. Gambar: flickr

Menurut dirjen Pembangunan Desa, ciri-ciri desa adalah sebagai berikut:
- perbandingan lahan dengan manusia cukup besar.
- lapangan kerja dominan gararis.
- hubungan antar warga sangat akrab.
- tradisi lama, adat istiadat masih berlaku.

Kamis, Februari 16

Perkembangan Desa Tradisional, Swadaya, Swakarya dan Swasembada

Perkembangan Desa Tradisional, Swadaya, Swakarya dan Swasembada

Desa merupakan unit kesatuan pemerintahan yang berada di bawah kabupaten. Menurut Bintarto, desa merupakan perpaduan antara kegiatan mansuia dan lingkungan yang bercorak agraris serta jauh dari kota. Ciri-Ciri Desa adalah sebagai berikut:
- perbandingan julah luas lahan dengan manusia cukup besar.
- lapangan kerja masih berpusat di sektor agraris.
- hubungan kekerabatan masih kuat.
- masyarakat desa masih memegang nilai adat istiadat leluhur.
- lingkungannya sangat jauh dari polusi.

Desa dapat berkembang karena dorongan potensi dan unsur desa di dalamnya. Perkembangan setiap desa berbeda-beda yaitu sebagai berikut:

Desa Tradisional
Merupakan model desa yang kehidupan masyrakatnya masih cenderung terasing dan kebutuhan hidup masih bergantung dari alam. Masyarakat desa tradisional cenderung tertutup dan jarang berinteraksi dengan penduduk luar. Jarak yang terpencil dan sulit diakses membuat desa ini lambat untuk berkembang.

Desa Swadaya
Merupakan model desa yang memiliki ciri masyarakat yang masih terikat pada tradisi dan memiliki lembaga sosial sederhana. Sebagian besar masyarakat memenuhi kebutuhan dengan produksi sendiri atau subsitance farming.  

Desa swadaya umumnya terpencil dan masih belum berinteraksi dengan masyarakat luar sehingga pembangunannya berjalan lambat.
Perkembangan Desa Tradisional, Swadaya, Swakarya dan Swasembada
Pembangunan Jalan Mendongkrak Ekonomi Desa
Desa Swakarya
Merupakan desa yang sudah berkembang lebih maju dan ditandai dengan mulai masuknya pengaruh dari luar. Desa ini disebut juga sebagai desa peralihan. Diversifikasi mata pencaharian juga mulai muncul pada desa ini. 

Masyarakat desa swakarya mampu melakukan interaksi dengna darah lain seperti melalui penjualan produksi ke darah lain untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga desa mulai berkembang dengan baik dan gotong-royong berjalan dengan efektif. 

Desa Swasembada
Merupakan desa yang telah maju dan adat istiadat sudah mulai memudar. Desa sawasembada mampu mengembangkan potensi desanya dengan optimal. Interaksi masyarakat luar berjalan baik untuk fungsi perdagangan dan pemanfaatan teknologi. Mata pencaharian sudah bervariasi dan industri mulai berkembang dengan pesat.

Minggu, Februari 5

Potensi Desa Indonesia: Fisik dan Non Fisik

Potensi Desa Indonesia: Fisik dan Non Fisik

Kalian tentu pernah berlibur ke kampung halaman kakek/nenek di desa bukan?. Desa merupakan unit pemerintahan dalam kabupaten di Indonesia. 

Negara Indonesia ini pada dasarnya bisa muncul dari adanya komunitas-komunitas desa dari Sabang sampai Merauke. Menurut data BPS 2012 saja, ada sekitar 79 ribu lebih desa yang terdaftar di Indonesia. 

Hal tersebut menajdi sebuah kekayaan dan potensi yang luar biasa sebenarnya bagi pembangunan. Ada dua jenis potensi desa yaitu potensi yang bersifat fisik dan non fisik. Saat ini sudah banyak desa-desa yang berkembang dengan memaksimalkan potensi desa nya.

Baca juga:
Geografi negara Belanda
Dampak interaksi desa dan kota

Potensi Fisik Desa
Potensi fisik merupakan semua hal yang berkaitan dengan sumber daya alam atau fisikal seperti tanah, air, cuaca, hewan ternak atau perkebunan. 

Desa di Indonesia berlokasi di daerah yang beragam mulai dari dataran rendah, pantai, perbukitan hingga pegunungan. Setiap lokasi punya potensi yang berbeda. 
Potensi Desa Indonesia: Fisik dan Non Fisik
Embung Nglanggeran dengan latar gunung api purba
Saya ambil contoh misalnya Desa Nglanggeran di Yogyakarata yang saat ini sudah menjadi desa wisata kelas dunia. 

Adanya fenomena gunung api purba dapat dimaksimalkan dengan baik oleh pemuda-pemudi desa hingga akhirnya menjadi daya tarik wisata dan menjadi sumber pendapatan desa dan masyarakat. 

Ini merupakan salah satu contoh pemanfaatan potensi desa yang baik. Setiap desa pasti unik dan jika sudah dikenali potensinya maka dapat dimaksimalkan untuk menunjang kehidupan. 

Hal ini akan mengurangi laju urbanisasi karena masyarakat sudah sejahtera di desa. Baca juga: Geografi Eurasia lengkap

Potensi Non Fisik
Potensi non fisik merupakan semua potensi yang berkaitan dengan aspek sosial masyarakat desa. Contohnya adalah tata pemerintahan, adat istiadat, aparatur desa dan lembaga desa. Tata kehidupan sendiri dapat dipengaruhi oleh kondisi alam desa. 

Contohnya di Bromo ada istilah upacara adat Kesodo yang dilakukan untuk meminta keselamatan dan keberkahan. Hal ini sebenarnya menjadi daya tarik wisata tersendiri. 

Lain halnya di Kuningan Jawa Barat ada upacara Seren Taun di komunitas Cigugur saat musim panen tiba. Itulah potensi desa di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan masyarakat.

Gambar: geoparks.id

Baca juga:
Contoh konsep geografi morfologi
Fenomena hujan virga di atmosfer

Kamis, Desember 29

Pola Pemukiman Desa Menurut P. H Landis

Pola Pemukiman Desa Menurut P. H Landis

Persebaran desa sangat bergantung pada keadaan fisiografis alamnya sehingga bentuknya akan sangat bervariasi di tiap daerah. Penduduk yang menempati permukaan bumi akan mencari lokasi yang cocok dalam hubungannya dengan alasan yang berlainan, antara lain lokasinya strategis dekat jalan, terjangkau transportasi, bebas bencana, aman dan lainnya. 

Tentunya setiap manusia sangat mendambakan hidup di lingkungan yang nyaman, aman dan bisa beraktifitas dengan baik tanpa ancaman. Menurut Pane H. Landis seorang sosiolog pedesaan menjelaskan bahwa pola sebaran lokasi pemukiman teurama di desa dibedakan menjadi empat kategori yaitu:
Pola Pemukiman Desa Menurut P. H Landis
Desa Dekat Lahan Pertanian, pic: cdn.yourarticlelibrary.com
a. The Farm Village Type
Tipe desa ini penduduknya tinggal bersama di suatu tempat dengan lahan pertanian di sekitarnya. Masyarakat berkegiatan ekonomi di lahan pertanian tersebut.

b. The Nebulous Farm Type
Tipe desa yang sebagian besar penduduknya tinggal bersama di suatu tempat dengan lahan pertanian di sekitarnya. Sebagian keil penduduk tersebar di luar pemukiman pokok. Sebenarnya tipe ini sama dengan tipe the farm village namun karena terlalu padat ada beberapa penduduk yang bermukim di luat pemukiman inti.

c. The Arranged Isolated Farm Type
Tipe desa yang penduduknya bermukim di sepanjang jalan utama desa yang terpusat pada pusat perdagangan dan lahan pertanian berada di sekitar pemukiman. Masing-masing unit keluarga terisolasi. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain terlalu jauh. Pola pemukiman di sepanjang sungai dan pantai merupakan tipe desa ini.

d. The Pure Isolated Type
Tipe desa ini penduduknya tinggal secara terpisah dengan lahan pertanian dan masing-masing berpusat pada pusat perniagaan. Tipe ini biasa terjadi pada daerah dengan tingkat kesuburan yang tidak merata. Baca juga: Konsep trickle down effect

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close