News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, April 11

10 Faktor Mobilitas Sosial

10 Faktor Mobilitas Sosial

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya mobilitas sosial. Mobilitas sosial memiliki arti yang berbeda dengan mobilitas penduduk atau migrasi yang merupakan perpindahan penduduk dari satu lokasi ke lokasi lain. 

Mobilitas sosial lebih mengarah pada perubahan perilaku manusia dalam lingkungannya. Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadinya mobilitas sosial diantaranya:

1. Motivasi
Setiap individu punya keinginan tidak hanya untuk memiliki kehidupan yang baik tapi juga untuk memeperbaiki status sosialnya. Dalam sistem terbuka, setiap orang punya kesempatan untuk mencapati status apapun. 

Keterbukaan ini memotivasi orang untuk bekerja keras dan memperbaiki keterampilan sehingga ia dapat mencapai status sosial yang lebih tinggi. Tanpa motivasi tersebut maka mobilitas sosial individu tidak dapat terjadi. Baca juga: Asas kewarganegaraan Indonesia

2. Prestasi dan Kegagalan
Prestasi dapat dicapai dari kinerja yang ekstra dan membuahkan hasil yang menarik perhatian publik terhadap kemampuan seseorang. Tidak semua prestasi menghasilkan mobilitas sosial. Prestasi akan memengaruhi status jika mereka sangat luar biasa. 

Kegagalan dan perilaku buruk memiliki efek yang sama terhadap mobilitas ke arah bawah. Kebangkrutan akan menurunkan derajat seseorang dari kelas atas ke kelas bawah. Ia tidak akan menerima undangan pesta, makan malam atau lainnya karena penurunan status tersebut. 

Jika ia sudah menikah, istrinya mungkin akan menceraikan dia. Dia harus mencari perusahaan atau tempat lain karena kalan bersaing dengan orang yang lebih baik.

3. Pendidikan
Pendidikan tidak hanya membantu seseorang untuk memperoleh pengetahuan, namun juga paspor untuk porsi kerja yang lebih tinggi. Untuk menjadi seorang guru maka anda harus mendapatkan lisensi guru di Perguruan Tinggi begitupun untuk menjadi profesi lain. Dalam pendidikan modern, pendidikan merupakan modal dasar untuk mencapai strata yang lebih tinggi. 

4. Keterampilan
Seseorang perlu keterampilan untuk bisa survive di kehidupannya. Berbagai pelatihan seperti kursus menjahit, kursus menyetir menjadi bagian dari dari kebutuhan manusia. Orang yang bisa mengemudikan mobil kini bisa mendapatkan posisi di berbagai perusahaan kelas besar dan mendapat gaji yang tinggi. Baca juga: Beda geosentris dan heliosentris
 
Kualitas manusia memengaruhi statusnya di masyarakat
5. Migrasi
Migrasi juga memfasilitasi mobilitas sosial. Manusia pindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mendapatkan tempat dan fasilitas yang lebih baik. Kesempatan mungkin lebih terbuka di tempat lain untuk mengembangkan skillnya. 

Orang-orang ini memanfaatkan peluang tersebut untuk memperbaiki posisi sosial mereka. Lihat saja sekarang Jabodetabek yang penuh sesak oleh kaum urban yang mencari penghidupan di lautan manusia.

6. Industrialisasi
Revolusi industri membuat sebuah sistem sosial baru dimana orang diberikan status sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Industrialisasi menghasilkan produksi massal dengan harga yang relatif lebih murah. Semakin banyak jenis industri maka semakin beragam spesialisasi kerja dan membuka kesempatan masyarakat untuk memilih pekerjaan sesuai skillnya.

7. Urbanisasi
Urbanisasi adalah pergerakan penduduk dari desa ke kota. Orang desa yang dulunya punya strata sosial di bawah, setelah pindah ke kota bisa jadi berubah. Orang kota terkenal tidak mengenal satu sama lain dan tidak peduli dengan orang lain. Posisi individu sebagian besar tergantung pada pendidikan, pekerjaan dan skill, bukan dari latar belakang asal muasal lahirnya.

8. Legislasi
Berlakunya undang-undang juga dapat memfasilitasi mobilitas sosial. Contoh di Indonesia adalah dengan diakuinya agma Kong Hu Cu, maka secara tidak langsung menaikan derajat orang Cina di Indonesia.

Mereka kini menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan undang-undang anti rasial di Amerika Serikat yang memfasilitasi ras kulit hitam untuk berkembang. Baca juga: Mengatasi kipas laptop panas dan bising

9. Politisasi
Partai Politik dapat membangun sebuah kebijakan untuk menerima tuntuan mereka. Dengan bantuan wakil di parlemen, beberapa orang mungkin menjadi pimpinan politik, menteri atau kepala negara. Dalam hal ini parpol memfasilitasi mobilitas sosial dalam pemerintahan.

10. Modernisasi
Modernisasi melibatkan pengetahuan ilmiah dan teknologi. Hal ini mengacu pada rasionalitas dan cara hidup sekuler. Perkembangan negara memengaruhi terhadap pola konsumsi, pola perdagangan dan pola sosial. 

Kini semua orang bisa berlomba mendapatkan status sosial dengan cara apapun. Media sosial menjadi senjata andalan untuk ajang show up bagi seseorang. 
Gambar: hrmagazine.co.uk

Rabu, Maret 8

Dampak Positif dan Negatif Globalisasi

Dampak Positif dan Negatif Globalisasi

Globalisasi menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari dan masyarakat harus siap menghadapi dampak yang ditimbulkannya. Globalisasi mencakup semua aspek kehidupan manusia mulai dari makanan, minuman, fashion, gaya hidup, pola pikir sampai ideologi.

 Globalisasi adalah buah dari pesatnya perkembangan iptek dan peradaban manusia. Berikut dampak positif dan negatif dari globalisasi

Dampak Positif
1. Investasi yang masuk melalui perusahaan transnasional membantu negara menyediakan lapangan kerja baru dan keterampilan bagi masyarakat lokal.
2. Perusahaan transnasional membawa modal dan mata uang asing ke ekonomi lokal dengan cara membeli sumber daya lokal, produk dan jasa. Uang tambahan akan didapatkan jika investasi ini digunakan untuk membangun sarana pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.
3. Adanya ide baru, pengalaman, gaya hidup dan budaya lain. Orang bisa menemukan mencicipi makanan dan produk baru yang sebelumnya tidak tersedia di negara mereka.
4. Globalisasi meningkatkan kesadaran akan peristiwa-peristiwa penting di dunia contohnya saat terjadi bencana tsunami Aceh maka negara di dunia lainnya langsung bergerak memberikan bantuan secara cepat.
5. Globalisasi membantu manusia sadar akan isu-isu global seperti pemanasan global sehingga mengingatkan pentingnya pembangunan berkelanjutan untuk generasi masa depan. 
Dampak Positif dan Negatif Globalisasi
Produk Barat Senjata Globalisasi, pic: rahulmitra.files.wordpress.com
Dampak Negatif
1.Globalisasi hanya kepentingan negara kaya yang terus mendominasi perdagangan dunia dengan mengorbankan negara berkembang. Peran negara berkembang di pasar dunia sebagian besar hanya untuk menyiapkan tenaga dan bahan baku murah di negara maju.
2. Tidak ada jaminan kekayaan dari investasi asing dapat menguntungkan masyarakat lokal. Faktanya, keuntungan mayoritas kembali dikirim ke negara asal sehingga mereka hanya pinjam tempat di negara ini. Kemandekan ekonomi membuat negara berkembang membuat jalan pintas dengan membuat kebijakan lunak tentang pendirian perusahaan transnasional.
3. Tidak ada landasan hukum internasional yang ketat tentang aturan main perusahaan transnasional. Mereka bisa mencemari lingkungan, mengabaikan keselamatan pekerja dan membeirkan upah yang kecil dan jaminan hidup yang buruk.
4. Globalisasi dipandang banyak orang sebagai ancaman dari keberagmaan budaya di dunia. Globalisasi dikhawatirkan menghambat ekonomi lokal, tradisi dan bahasa sehingga yang ada hanya budaya kapitalis. Contohnya kini sistem pendidikan banyak yang mengambil Cambridge yang belum tentu cocok diterapkan di Indonesia misalnya.
5. Masuknya pekerja asing akan menghancurkan kesempatan kerja orang lokal.

Itulah dampak positif dan negatif globalisasi dan kita harus punya tameng untuk menangkal pengaruh negatifnya. Peradaban manusia terus berkembang namun perkembangan tersebut harus membuat manusia semakin beradab bukan semakin tidak bermoral.

Sabtu, Februari 25

Ciri-Ciri Wilayah Suburban atau Fringe

Ciri-Ciri Wilayah Suburban atau Fringe

Di sekitar pusat kota biasanya ada wilayah dengna bermacam-macam tata guna lahan terutama untuk pemukiman penduduk. Pertumbuhan kota ke arah luar melahirkan wilayah pinggiran kota yang dalam kamus geografi disebut suburan, suburbia atau fringe. (Sub artinya bawah, urbis artinya kota).

Memang pada masa Romawi, karena kota itu diabtas oleh benteng yang tinggi maka daerah di luar kota akan berada di luar benteng. Lebih ke luar lagi dinamakan rus atau pedesaan. Rus ini merupakan awal dari kata rural atau wilayah pedesaan.

Dalam bahasa Inggris dipakai juga istilah fringe untuk suburbian atau dalam bahasa Indonesia artinya wilayah pinggiran. Karena perkembangan kota dan pedesaan sendiri melahirkan urbanisasi maka muncul wilayah antara kota dan desa yang dinamakan rural-urban fringe yang hakikatnya dapat sebagai bagian dari kota maupun desa. Baca juga: Definisi bencana kekeringan
Wilayah Suburban atau Fringe
Kondisi Daerah Suburban
Kurtz dan Eicher mengajukan lima definisi dari rual-urban fringe dari berbagai refensi yaitu:
a. Kawasan dimana pola penggunaan lahan rural dan urban saling bertemu atau mendesak ke batas kota.
b. Rural-urban fringe meliputi semua suburban, kota satelit dan teritorial lain yang berlokasi langsung di luat kota dimana tenaga kerja terlibat di bidang non agraris.
c. Suatu kawasan yang lokasinya di luar perbatasan kota yang resmi namun masih ada di dalam jarak melaju (commuting distance).
d. Kawasan di luar kota yang penduduknya berkiblat ke kota.
e. Suatu kawasan pedesaan yang terbuka dan dihuni oleh penduduk yang bekerja di kota.
f. Suatu daerah dimana bertemu mereka yang bekerja di kota atau di desa.

Jika kembali ke tahun 1940 an, masalah rural-ruban fringe masih sederhana sekali. Secara geografis cukup dikatakan bahwa wilayah suburbia itu non mans lands. Ada pendekatan lain juga dari Nichols yaitu jika penduduknya agraris maka masuk rural namun jika non agraris masuk urban, sesederhana itukah?.

Ciri-Ciri Sub Urban
Ada empat faktor tumbuhnya wilayah pinggiran menurut geograf Whynne-Hammond: Pertama, meningkatnya pelayanan transportasi kota seperti moda trem, bis kota, kereta dan lainnya yang memudahkan orang untuk bertempat tinggal jauh dari tempat kerjanya. 

Ditambah lagi setelah tumbuhnya pasar kendaraan bermotor pribadi maka terjadilah eksploitasi wilayah suburban. Sekarang lahan-lahan kosong di pedesaan menjadi kawasan perumahan penduduk pindahan dari kota. Harga murah juga menjadi pertimbangan utama. 

Kedua, bertambahnya penduduk suburban karena adanya rus urbanisasi atau penduduk baru dari wilayah di sekitarnya. Ketiga, meningkatknya taraf hidup atau kesejahteraan penduduk suburban, memungkinkan orang mendapatkan rumah yang lebih bagus entah itu menyewa atau membeli sendiri. 

Baca juga:
Geografi negara Perancis
Geografi negeri kincir angin Belanda

Keempat adalah maraknya fasilitas kredit rumah murah yang melancarkan jual beli rumah murah. Masyarakat dengan penghasilkan pas-pasan pun kini bisa membeli rumah dengan cepat lewat jalur kredit. 

Secara spasial, suburban ini terletak di agricultural hinterland namun secara ekologis merupakan daerah yang menjadi sasaran invasi penduduk baru serta bangunan baru. Dapat disimpulkan bahwa suburban ini dibangun tanpa rencana sehingga terkesan semrawut. 

Ini karena pertumbuhan di kutub pertumbuhan sangat pesat sehingga manusia tidak memikirkan daerah pinggiran ini. Baca juga: Terbentuknya gurun pasir di bumi

Daerah suburban ini juga sering mejadi incaran kaum elit yang sudah tidak bisa membeli lahan di pusat kota sehingga beralih ke daerah pinggiran. Batas pasti untuk daerah suburban ini masih imajiner namun secara kasat mata bisa dilihat dari berbagai aspek seperti adanya pemukiman yang berdempetan dengan sawah misalnya atau ada perkampungan yang dibelakangnya ada tembok batas pagar pemukiman mewah misalnya.
Garis Isotim dan Isodapen Teori Weber

Garis Isotim dan Isodapen Teori Weber

Kali ini saya akan membahas sedikit tentang konsep isotim dan isodapen dalam Teori Lokasi Weber. Weber dalam menyusun teori the least cost location juga sama seperti Christaller yaitu melakukan penyederhanaan dalam membayangkan bentang alam (homogen dan flat atau datar). Selain itu mereka juga mengesampingkan perhitungan upah buruh dan jangkauan pemasaran produksi.  

Baca juga: 
Klasifikasi kota menurut fungsinya
Definisi ruang, tempat dan lokasi

Namun hal yang terkait bahan mentah ia bedakan antara jenis yang keterdapatannya terbatas atau di lokasi tertentu misal batubara, bijih emas, minyak bumi dan sumber daya yang terletak di mana saja seperti air dan tanah. 

Bahan baku yang terbatas harus dilakukan eksplorasi terlebih dahulu sementara yang tidak terbatas tidak begitu sulit ditmeukan.

Perumusan biaya terendah memuat anggapan bahwa aktifitas produksi (pabrik atau usaha) lokasinya harus di tempat yang memungkinkan terbentuknya overall transport cost yang minimal. Dalam gambar di bawah ada satu lokasi bahan mentah serta pasar tunggal M. 

Dengan anggapan bahwa biaya angkut per unit beban itu sama maka biaya-nya dari titk bahan mentah masing-masing dalam hal ini R dapat dilukiskan isotim (garis hitam melingkar putus-putus) yang konsentris dengan jarak yang sama. 

Masing-masing isotim menunjukkan lokasi dari titik-titik dimana biaya transportasi ke sana angka nya sama. Biaya angkut total dapat dihitung dengan cara menjumlah nilai dari isotim yang saling beririsan (warna merah). Baca juga: Potensi air tanah dalam dan permukaan
Isotim dan Isodapen Teori Weber
Isotim dan Isodapen
Garis penghubung titik-titk dengan total biaya transportasi yang sama dinamakan isodapen. Garis ini membatasi cost gradient (derajat naiknya biaya) bagi komoditas. Sebenarnya dengan pendekatan tadi, Weber melakukan kesalahan karena ia melebihkan arti atau pentingnya transport cost. Baca juga: Geografi Catalonia Spanyol

Setelah disadari, lalu muncullah modifikasi segitiga lokasinya. Salah satu faktor pendorong usaha modifikasi adalah berbedanya labour cost, sehingga daerah yang berisi tenaga kerja murah dapat menjadi alasan didirikannya pabrik di daerah tersebut. Dengan kata lain pabrik dapat saja tergoda untuk mendirikan usaha di lokasi titik upah minimum.  

Jumat, Februari 24

Teori Segitiga Lokasi Alfred Weber

Teori Segitiga Lokasi Alfred Weber

Teori ini didasarkan pada "biaya minimum" untuk menentukan lokasi didirikannya industri manufaktur. Ada banyak teori lokasi yang berkembang dan Teori Segitiga Weber ini menjadi salah satu teori umum yang masih dikenal hingga saat ini. 

Teori Lokasi Weber mengacu pada suatu daerah yang terisolasi dengan karakteristik topografi homogen. Teori ini sering disebut juga sebagai Teori Segitiga Optimum. 

Baca juga:
Ciri wilayah suburban atau pinggiran
Memahami pendekatan kelingkungan geografi

Weber mengklaim bahwa harga akan dipengaruhi oleh biaya transportasi, biaya upah dan faktor aglomerasi. Untuk memperkirakan pemilihan lokasi industri, Weber membuat rumus indeks material yaitu perbandingan berat bahan baku dengan barang jadi.

- Jika Indeks Material > 1 maka industri diletakkan dekat bahan baku.
- Jika Indeks Material < 1 maka industri diletakkan dekat dengan pasar.
- Jika Indeks Material = 1 maka industri diletakkan di tengah.
Teori Segitiga Lokasi Alfred Weber
Segitiga Lokasi Weber

Adapun teori ini didasari oleh asumsi sebagai berikut:
1. Lokasi bahan baku sudah diketahui sejak awal.
2. Pola distribusi konsumsi barang sudah diketahui dan hanya ada satu pusat pembelian untuk satu unit produksi.
3. Distribusi tenaga kerja sudah diketahui termasuk tingkat upah dari satu daerah ke daerah lain. Ini artinya tenaga kerja tidak bersifat mobile dan tidak dipengaruhi oleh lokasi industri.
4. Sistem transportasi seragam, dalam ini Weber berasumsi bahwa hanya ada satu moda transportasi utama waktu itu yaitu kereta api. Jadi biaya transportasi akan dipengaruhi beban dan jarak tempuhnya. Hal ini juga secara matematik, morfologi daerah tersebut datar.
5. Meski ia tidak secara spesifik menyebutkan, namun karakteristik budaya dan situasi politik pada masa itu adalah konstan.

Evaluasi Teori Weber
Teori Weber yang mengaitkan biaya transportasi melupakan bahwa tarif angkutan tidak selalu berbanding lurus dengan jarak. Tarif ini juga tidak selalu dipengaruhi bahan material atau barang jadi.

Weber lebih menekankan faktor permintaan tanpa melibatkan penawaran. Namun apresiasi juga harus diberikan kepada teori ini karena biaya transportasi merupakan salah satu faktor mendasar untuk menentukan lokasi industri saat ini. 

Baca juga: Potensi air tanah dalam dan permukaan
Gambar: e-education.psu.edu

Rabu, Januari 25

11 Faktor Penentuan Lokasi Industri

11 Faktor Penentuan Lokasi Industri

Pada prinsipnya lokasi industri dapat dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi meski pertimbangan non ekonomi juga dapat memengaruhi lokasi beberapa unit industri. 

Memaksimalkan keuntungan adalah tujuan paling penting dalam menentukan lokasi untuk mendirikan industri atau usaha. 

Ada beberapa faktor yang menarik untuk beberapa jenis industri tentang penentuan lokasinya. Berikut ini faktor-faktor tersebut:

1. Ketersediaan Bahan Baku
Dalam menentukan lokasi industri, kedekatan dengan sumber bahan baku sangat penting. Kedekatan dengan sumber bahan baku akan mengurangi biaya produksi industri. 

Untuk sebagian besar dari industri besar, biaya bahan baku membentuk sebagian dari total biaya. Oleh karena itu, sebagian besar industri berbasis agro-dan hutan akan terletak di sekitar sumber pasokan bahan baku.

Baca juga:
Sifat fisik dan kimia air laut
Perkembangan kota di Indonesia

2. Ketersediaan Tenaga Kerja
Cukup pasokan tenaga kerja murah dan terampil diperlukan untuk perkembangan industri. Daya tarik dari industri terhadap pusat-pusat tenaga kerja tergantung pada rasio biaya tenaga kerja terhadap total biaya produksi yang Weber menyebut 'Indeks Biaya Buruh'. Contohnya ketersediaan tenaga terampil pembuat rokok membuat pabrik rokok berkembang pesat di Kudus dan sekitarnya.

3. Jarak ke Daerah Pemasaran
Akses ke pasar merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan. Industri yang menghasilkan komoditas yang mudah rusak atau besar yang tidak dapat diangkut melalui jarak jauh umumnya terletak di dekat pasar. 

Industri yang terletak di dekat pasar bisa dapat mengurangi biaya transportasi dalam mendistribusikan produk jadi seperti dalam kasus roti dan roti, es, kaleng, kaleng manufaktur, dll. Aksesibilitas pasar lebih penting dalam hal industri manufaktur barang bukan barang-barang produksi.

4. Fasilitas Transportasi
Transportasi pada umumnya mempengaruhi lokasi industri. Transportasi dengan tiga mode, yaitu, air, jalan, dan rel secara kolektif memainkan peran penting. Jadi titik-titik persimpangan air, jalan raya dan rel kereta api menjadi pusat bersenandung dari kegiatan industri. 

Selanjutnya, mode dan kebijakan transportasi Pemerintah jauh mempengaruhi lokasi unit industri. Jalan top lintas jawa membaut industri berderet di sepanjang tol untuk memudahkan distribusi. Baca juga: Sirkulasi angin muson di Indonesia

5. Energi
Faktor lain yang mempengaruhi lokasi industri adalah ketersediaan listrik, air, angin, batubara, gas dan minyak bumi. Air dan tenaga angin banyak dicari sebagai sumber pasokan listrik sebelum penemuan mesin uap. 

Selama abad kesembilan belas, kedekatan dengan batubara-bidang menjadi pokok menemukan pengaruh pada pengaturan dari industri baru, terutama, untuk industri berat. 

Dengan diperkenalkannya sumber daya seperti listrik, gas, minyak, dll faktor daya menjadi lebih fleksibel mengarah ke penyebaran dan desentralisasi industri.
11 Faktor Penentuan Lokasi Industri
Kemudahan Transportasi menjadi penting dalam industri
6. Layanan
Keberadaan layanan penunjang kegiatan publik bisa memengaruhi penempatan sebuah industri. Pemerintah mengklasifikasikan beberapa daerah sebagai daerah terbelakang di mana pengusaha akan diberikan berbagai insentif seperti subsidi, atau penyediaan keuangan di tingkat konsesi, atau penyediaan fasilitas pendidikan dan pelatihan. 

Beberapa pengusaha yang dibangun oleh insentif tersebut dapat maju ke depan untuk mencari unit mereka di daerah tersebut. Baca juga: Ciri pembangunan berkelanjutan

7. Keuangan
Keuangan diperlukan untuk mendirikan sebuah industri, untuk pengelolaan, dan juga pada saat ekspansi. Ketersediaan modal dengan harga murah dari kepentingan dan dalam jumlah yang cukup adalah faktor mendominasi mempengaruhi lokasi industri.

8. Cuaca
Pertimbangan Alam dan iklim meliputi faktor cuaca seperti topografi suatu daerah, fasilitas air, fasilitas drainase, pembuangan produk limbah, dll. Faktor-faktor ini kadang-kadang mempengaruhi lokasi industri. 

Misalnya, dalam kasus industri tekstil katun, iklim lembab memberikan keuntungan tambahan karena frekuensi benang mengalami kerusakan akan rendah. 

Contohnya Iklim lembab dari Bombay di India dan Manchester di Inggris menawarkan lingkup yang besar untuk pengembangan industri tekstil katun di pusat-pusat mereka. Baca juga: Klasifikasi iklim Schmidt Ferguson

9. Anggapan Pribadi
Dalam menentukan lokasi industri, kadang seseorang mungkin punya intuisi pribadi dalam menentukannya. Contohnya dulu Pabrik Ford mulai memproduksi motor dan mobil di Detroit yang merupakan rumah pendirinya yaitu Henry Ford. Hal ini sangat jarang terjadi saat ini.

10. Pertimbangan Strategi
Di era modern, pertimbangan strategi sangat memainkan perna penting dalam pentuan lokasi industri. 

Selama masa perang, lokasi yang aman adalah strategi penting. Hal ini karena pada masa perang, target utama serangan udara adalah pabrik senjata dan amunisi. Rusia punya pengalaman tentang pertimbangan ini. 
  
11. Ekonomi Eksternal
Ekonomi eksternal timbul karena pertumbuhan anak perusahaan di berbagai negara. Saat persaingan industri mulai ketat, maka strategi pun bermunculan untuk mendapatkan pasar yang lebih besar.  Baca juga: Mengapa negara beriklim subtropis lebih maju?

Gambar: morethanshipping.com

Minggu, Januari 22

Perbedaan Pasar Modern dan Tradisional

Perbedaan Pasar Modern dan Tradisional

Pasar merupakan salah satu lokasi penting bagi manusia karena di sana hampir semua barang kebutuhan diperjualbelikan. Pasar sudah ada sejak jaman dahulu dan hingga saat ini ada dua istilah pasar yang melekat di masyarakat yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Disini saya hanya ingin menuliskan perspektif terhadap kedua pasar tersebut. 

Kemarin saya pergi ke salah satu pasar modern yang menjual berbagai macam aneka buah dan sayuran di Bekasi. Saya memang senang buah dan sayuran karena berbagai manfaatnya. Singkat cerita saya masuk ke pasar tersebut yang berada di dalam salah satu mall. 

Saat masuk ke dalam, anek abuah dan sayuran tertata rapi, bersih, dan indah dipandang. Tentu saja saya betah berlama-lama di sini. Melihat sayuran dan buah tersebut membaut pikiran saya sudah fresh.
Perbedaan Pasar Modern dan Tradisional
Sayuran Yang Segar dan Indah Dipandang
Di pasar modern ini belanja bukan lagi sekedar membeli barang namun menawarkan sebuah nilai estetika. tersendiri. Saya sangat senang sekali saat melihat aneka buah dan sayuran berjejer rapi dengan warna-warni yang indah. Tidak ada lantai becek, bau, pengap dan panas saya rasakan. Tentu hal ini adalah salah satu keunggulan pasar modern yang tidak dimilik pasar tradisional.
Perbedaan Pasar Modern dan Tradisional
Buah-Buahan Yang Menyehatkan
Berbicara tentang pasar tradisional, dulu saat saya mengerjakan skripsi, tema yang yang diangkat juag tentang pasar tradisonal. Saya heran saya apakah memang image pasar tradisional di Indonesia itu memang harus kumuh, becek, bau, pengap?. 

Apakah in itidak bisa dirubah sama sekali. Apa sih arti dari tradisional itu?. Kalau menurut saya tradisional disini adalah ada pada budaya tawar menawarnya. 

Memang pasar tradisional harus tetap ada dan saya pun sering membeli barang di sana. Tapi apakah konsep kebersihan lingkungan dan kenyamanan tidak bisa dimasukan dalam pasar tradisional?. Jangan-jangan memang tradisional disini memang menggambarkan tradisi masyarakat kita yang jorok.  

Tentu bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu. Lihat saja pasar tradisional di luar negeri, begitu bersih, rapi, nyaman dan menggambarkan tradisi masyarakatnya yang bersih. Kapan ya Indonesia bisa seperti itu?

Jumat, Januari 20

Jenis Bahan Galian A, B dan C

Jenis Bahan Galian A, B dan C

Bahan Galian atau deposit bahan galian banyak tersebar di Indonesia dari Sabang hingga Merauke seperti emas, batubara, timah, tembaga sampai pasir. Semua itu digunakan dalam kehidupan manusia saat ini. Berdasarkan UU No 11 Tahun 1967, bahan galian diartikan sebagai unsur-unsur kimia, mineral, bijih,  dan segala macam batuan berjenis mulia yang berasal dari endapan alami. 

Baca juga: 
Geologi patahan lembang Bandung
Fenomena pra dan pasca vulkanisme 
Menghitung iklim Schmidt Ferguson 
Kumpulan rumus hitung peta dan pemetaan lengkap

Endapan itu bisa dalam wujud padat, cair maupun gas. Ada tiga klasifikasi bahan galian dalam UU tersebut yaitu A, B dan C. Dasar dari klasifikasi tersebut adalah mengacu pada faktor berikut:
- nilai strategis/ekonomis bahan galian bagi penduduk dan Negara
- genesa pembentukannya
- penggunaan bahan galian untuk industry
- pengaruhnya bagi masyarakat umum
- kesempatan pengembangan usaha
- sebaran pembangunan daerah
Jenis Bahan Galian A, B dan C
Deposit Bahan Galian Emas
Golongan A (Bahan Galian Strategis)
Merupakan bahan galian strategis untuk pertahanan dan keamanan Negara dan menjamin kestabilan ekonomi Negara. Pengelolaannya diatur Negara dan pihak swasta yang diberi kewenangan. Bahan galian ini juga masuk komoditas ekspor, contohnya adalah:
- minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi dan gas alam
- bitumen padat dan aspal
- antrasit, batubara
- uranium, radium, thorium
- nikel, kobalt, timah, alumunium

Golongan B (Bahan Galian Vital)
Merupakan bahan galian yang mampu menghidupi hajat hidup orang banyak dan dikelola oleh swasta yang diizinkan Negara, contohnya adalah:
- emas, perak, platina, air raksa, intan
- besi, mangan, krom, wolfram
- yodium, brom, khlir, belerang
- kriolit, fluorspar dan barit
- korundum, zircon, pasir kwarsa

Golongan C (Bahan Galian Industri)
Merupakan bahan galian yang digunakan untuk industry dan tidak ada di bahan galian A dan B, contohnya:
- kapur, pasir, marmer
- kaolin, granit, andesit, batu tulis, batuapung
- asbes, grafit, magnesit, fospat, halit
- tawas, oker, leusit, gypsum

Mau pembahasan lengkap soal UN Geografi 2017, biar makin mantap nanti belajaranya?. Cek dibawah ini, jangan lupa share ya ke teman-teman!.
Pembahasan soal UN Geografi no 1 -5 Konsep Geografi
Pembahasan soal UN Geografi no 6-10 Perkembangan Bumi
Pembahasan soal UN Geografi no 11-15 Litosfer

Rabu, Desember 21

Teori Lokasi Pertanian Von Thunen

Teori Lokasi Pertanian Von Thunen

Johan Heinrich von Thunen ialah seorang petani sukses dengan teori lokasi briliannya dalam wilayah isolasi di Mecklenburg Jerman. Teori ini melandasi masalah klasik dalam analisa lokasi yaitu lokasi produsen di area yang melayani konsumen harus berada di tengah. 

Meski ada syarat berlakunya namun teori ini menandai awal signifikan dalam analisis lokasi dan matematika ekonomi. Analisa ini juga tidak hanya diterapkan untuk lokasi pertanian saja namun dapat diadopsi untuk lokasi manufaktur.

Jika ekonomi modern dimulai dengan Adam Smith, teori lokasi dimulai oleh von Thunen (1826). Dia adalah peletak dasar model analisa dasar hubungan antara pasar,  produksi dan jarak dengan objek kajiannya adalah lahan pertanian. Biaya transportasi komoditas pertanian yang berbeda ke pusat kota ditentukan oleh penggunaan lahan di sekitar kota.

Kegiatan paling produktif akan semakin mendekati pasar dan aktifitas yang tidak cukup produktif akan semakin menjauhi pasar. Model ini memiliki beberapa asumsi dasar yang mencerminkan kondisi pertanian di sekitar Jerman pada awal abad ke 19.

- Isolasi. Ada satu pasar yang terisolasi dan tidak memiliki interaksi dengan daerah luar.
- Karakter lahan. Tanah di sekitar pasar bertipe datar dan kesuburannya relatif seragam.
- Angkutan. Pada masa itu tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut komoditas ke pasar kecuali dengan kuda dan gerobak. Biaya transporatasi tergantung dari jenis komoditas yang diangkut ke pasar serta jarak tempuhnya.
Teori Lokasi Pertanian Von Thunen
Teori Lokasi Von Thunen, pic: quizlet
Semua penggunaan lahan akan memaksimalkan produktifitas (sewa) dalam kasus ini tergantung pada lokasi lahan ke pasar. Peran petani adalah untuk memaksimalkan keuntunganya yaitu dengan rumus harga pasar dikurangi biaya angkut dan produksi. Kegiatan yang paling produktif (berkebun atua memerah susu) atau yang memiliki biaya angkut tinggi (kayu bakar) akan ditempatkan dekat pasar. Dalam gambar dapat dilihat model penggunaan lahan von Thunen yaitu: 

- kiri, menunjukkan daerah pertanian yang terisolasi dengan tipe homogen dan diilustrasikan dengan bentuk lingkaran sempurna.
- kanan, menunjukan potensi dampak dari modifikasi biaya transportasi (sungai) dan pasar di tengah.

Hubungan antara tata guna lahan pertanian dengan jarak pasar sangat sulit dijelaskan dalam ekonomi kontemporer saat ini. Namun hubungan yang kuat antara sistem transportasi dan pola penggunaan lahan dapat ditemukan di Amerika Utara.

Selasa, Desember 20

Range dan Threshold Central Place Theory

Range dan Threshold Central Place Theory

Sebelumnya saya sudah menulis postingan tentang hierarki Teori Tempat Sentral dan sekarang saya akan coba berikan sedikit tulisan tentang perbedaan Range dan Threshold

Teori Tempat Sentral merupakan salah satu teori wilayah yang digunakan untuk menjelaskan penataan ruang, ukuran dan jumlah pemukiman. 

Teori ini dikemukakan oleh Christaller di Jerman selatan tahun 1933. Di Jerman selatan ia melihat bahwa kota-kota dengan ukuran tertentu memiliki jarak sama. 

Dengan melihat pola keruangannya ia mencoba membuat model geometris lokasi pemukiman di sana.

Baca juga: Dampak interaksi desa kota

Adapun asumsi dari teori ini adalah sebagai berikut:
- daerahnya datar atau homogen
- populasi merata sama banyak
- jumlah sumber daya alam relatif sama
- biaya transportasi sama ke semua arah
- daya beli konsumen semua sama
- bertipe pasar persaingan sempurna

Range dan Threshold Central Place Theory
Pola Teori Tempat Sentral, pic: people.uwec.edu
Ada dua konsep dasar lain untuk menjelaskan teori ini yaitu range dan threshold. Threshold merupakan minimal populasi yang dibutuhkan untuk terciptanya pelayanan barang atau jasa. 

Range adalah jarak maksimum penduduk untuk mendapatkan pelayanan atau jasa. Dari kedua konsep ini maka batas minimum dan maksimum pelayanan dalam ruang dapat diukur secara imajiner dalam bentuk pola. 

Transportasi yang sama ke segala arah maka akan menyebabkan masing-masing tempat sentral memiliki bentuk melingkar

Namun bentuk melingkar dari daerah pasar mengakibatkan ada daerah lain yang belum terlayani. Untuk mengatasi masalah ini, Christaller menyarankan bentuk heksagon seperti sarang lebah. 

Dengan begitu semua wilayah akan terlayani dengan garis heksagon sebagai jaring pelayanannya. 
Range dan Threshold Central Place Theory
Range dan Threshold, pic: cronodon.com
Apakah teori ini bisa berlaku saat sekarang?. Tentunya bisa-bisa saja namun dengan berkembangnya transportasi dan teknologi saat ini nyaris tidak ada batas untuk menyekat pelayanan suatu barang dan jasa. 

Selama ada sarana transportasi dan komunikasi semua wilayah bisa terlayani hanya yang membedakan mungkin waktu tempuhnya saja. 

Sekarang orang bisa belanja hanya dengan bermodalkan smartphone, memesan lalu barang diantar melalui jasa ekspedisi. 

Baca juga : Konsep trickle down effect pembangunan wilayah

Sabtu, Desember 17

Teori Tempat Sentral Christaller

Teori Tempat Sentral Christaller

Perkembangan ilmu tentang geografi khususnya lokasi  terus berkembang sampai saat ini, namun salah satu teori lokasi terkenal adalah Teori Tempat Sentral atau Central Place Theory yang dikemukakan oleh Walter Christaller. 

Penentuan lokasi pemukiman, pusat kegiatan, proyek, pelayanan dan lain-lain merupakan persoalan untuk pelaku industri. Baca juga: Stalaktit atau stalagmit?

Walter Christaller adalah seorang geografi Jerman (1933) yang mengemukakan central place theory . Tempat yang sentral diasumsikan sebagai tempat yang memberikan peluang kepada manusia yang jumlahnya maksimum untuk berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan maupun sebagai pihak yang dilayani. 

Tempat semacam itu digambarkan sebagai titik simpul-simpul dari suatu bentuk geometrik heksagonal yang memiliki kawasan pengaruh yang luas terhadap tempat-tempat di sekitarnya. Baca juga: Geografi Negara Indonesia

Tempat sentral memiliki hierarki pengaruh yang dibedakan menjadi K 3, K 4 dan K 7. Kawasan tempat sentral K 3 merupakan hasil dari kawasan sentral (1) ditambah dengan 1/3 bagian dari kawasan tetangga yang berada dalam pengaruh tempat sentral tersebut. K 3 merupakan hierarki tempat sentral pada kasus pasar optimum. 

K 4 merupakan kawasan pengaruh 1/2 dari enam kawasan tetangga ditambah kawasan sentral (1). K 4 merupakan hierarki tempat sentral pada situasi lalu lintas optimum. K 7 merupakan kawasan pengaruh terhadap 6 kawasan tetangganya. K 7 disebut juga sebagai tempat sentral situasi administratif optimum. Sumber: is.mendelu.cz

Memperhatikan hierarki K di atas maka untuk membangun dan menentukan lokasi pasar berdasarkan asas pemasaran maka sekurang-kurangnya lokasi pasar tersebut harus ada pada kawasan yang diharapkan memiliki pengaruh dalam kegiatannya terhadap partisipasi penduduk 1/3 dari enam kawasan tetangganya. Untuk keberhasilan lokasi tadi, wajib diperhatikan jalan dengan alat angkutannya dan  tempat parkir bagi pendatang. Baca juga: Geografi Islandia
Teori Tempat Sentral ChristallerTeori Tempat Sentral Christaller
Teori Tempat Sentral Christaller
Selanjutnya luas pengaruh pasar sebagai tempat yang sentral bergantung pada jenis pasar tersebut dan jenis serta volume barang yang diperdagangkan. Luas kawasan pengaruh pasar bahan pangan akan berbeda dengan pasar modal atua uang. Tempat sentral pada kasus hierarki lalu lintas optimum dapat dijadikan landasan untuk membangun dan menentukan terminal atau stasiun. 

Perhitungan lokasi terminal kendaraan berdasarkan asas lalu liintas sekurang-kurangnya harus memiliki kawasan pengaruh 1/2 dari enam kawasan tetangga. Dengan demikian penentuan lokasi ini harus ada pada tempat yang mudah dijangkau oleh para pemakai angkutan umum yang secara sentral memiliki radius relatif sama ke segala arah. Baca juga: Geografi Catalonia Spanyol

Pusat kegiatan adminstratif pemerintahan (kecamatan, kota, ibukota) memiliki kawasan pengaruh yang lebih luas daripada pasar dan lalu lintas. Oleh karena itu lokasinya wajib diperhitungkan secara matang. Kawasan K 7 ini memiliki daya akomodasi yang tinggi, lokasinya harus mampu menjangkau dan dijangkau kawasan yang di bawah kekuasaannya. Lokasi tersebut harus bisa dijangkau oleh berbagai rute angkutan umum. 

Dengan dmeikian baik dalam mengelola maupun dalam melayani kepentingan masyarakat di kawasan tersebut tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Untuk menetukan lokasi pusat administrasi pemerintahan, analisa lokasi memiliki nilai strategis. Pusat pemerintahan merupakan pusat pembangunan dan lokasi yang tepat akan memudahkan pengembangan wilayah ke depannya.  Baca juga: Ekosistem bioma air tawar


Baca juga:  
Angin fohn dan dampaknya
Konsep trickle down effect pembangunan wilayah
Sumber: Geografi Pembangunan. Nursid Sumaatmadja.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close