Guru Geografi: Geografi Kota - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 3

Geografi Kota: 3 Kota Ideal Menurut Weber

Geografi Kota: 3 Kota Ideal Menurut Weber

Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan yang bercorak materialistis didalamnya dan banyak bangunan-bangunan tinggi.

Fungsi kota bermacam-macam mulai dari fugnsi budaya, administratif dampai ekonomi. Terkait dengan fungsi kota ini, Max Weber seorang geograf Jerman melihat ada hubungan kuat antara pasar dengan kota.

Berdasarkan hubungan ini, Weber menyatakan bahwa ada tiga kota yang tergolong ideal bagi kehidupan yaitu sebagai berikut:

1. Kota konsumen adalah kota tempat pasar bergantung pada belanja konsumen.
2. Kota produsen adalah kota tempat pasar bergantung pada keberadaan industri di dalam kota.
3. Kota pedagang adalah kota yang bergantung pada keuntungan yang berasal dari penjualan barang-barang luar negeri yang dijual secara lokal, barang-barang lokal yang dijual di luar negeri atau dari perantara penjualan barang-barang suatu negara di negara lain.
Gemerlap kota Jakarta di malam hari
Max Weber memandang suatu tempat itu disebut kota jika penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat.

Jadi konsep pasar ini sangat penting dalam pandangan Weber terkait kota. Sebagai suatu sistem kehidupan, masyarakat kota tentunya akan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan transaksi antar individual.

Transaksi ini tentunya akan dilakukan baik dalam skala kecil maupun besar. Kota bisa hidup dan berkembang karena adanya perputaran transaksi antar masyarakat di dalamnya.

Jika dilihat pada jaman sekarang, semakin besar populasi kota maka perputaran barang dan jasa semakin besar. Dampaknya adalah pajak daerah semakin besar sehingga kota punya banyak dana untuk mengembangkan diri.

Itulah konsep ideal kota menurut Weber, meskipun dalam kenyataannya tidak ada kota yang ideal sebagai kota konsumen saja misalnya. Pastinya minimal ada dua jenis kegiatan dominan dalam kota sehingga roda ekonomi kota berjalan dengan baik.

Minggu, Januari 5

Definisi Lokasi, Situs dan Situasi Kota

Definisi Lokasi, Situs dan Situasi Kota

Geografi identik dengan lokasi dan segala hal yang menjadi unsur-unsur di dalamnya. Salah satu wilayah hasil peradaban manusia adalah kota. 

Kota adalah jejaring kehidupan manusia yang kompleks. Para geografi dalam mempelajari kota selalu memperhatikan tempat kota dan persebaran kota dalam ruang.

Untuk masing-masing ada letaknya yang khusus dan terjadi 3 istilah yaitu lokasi, situs dan situasi kota. 

Lokasi kota jika mau dilukiskan dengan tepat maka harus memakai angka sekian derajat astronomis lintang dan bujur. 

Jadi lokasi atau letak dalam hal ini diartikan posisinya di permukaan bumi. Lokasi terbagi menjadi lokasi absolut dan relatif dalam konsep geografi.

Lain halnya dengan letak yang yang dinamakan situs (site). Suatu situs biasanya berupa kenampakan alam tertentu karena suatu sebab menguntungkan letak kota yang bersangkutan. 

Contohnya lereng pegunungan, tepi sungai atau dataran tinggi. Dengan begitu maka dapat disusun berbagai tipe situs kota. Situs ini sedikit banyak memengaruhi proses lahir dan berkembangnya kota di tahap selanjutnya.
Kota Purwokerto metropolitan
Adapun situasi (situation) kota adalah letak kota dalam makan posisi terhadap wilayah disekelilingnya. 

Letak yang strategis untuk perdagangan dikarenakan kota terdapat di wilayah simpul atau titik silang jaringan transportasi, merupakan situasi. 

Selain itu letak strategis untuk menjadi ibukota kabupaten, karena posisinya yang sentral juga termasuk situasi.

Perlu dicatat bahwa perubahan zaman dapat mengurangi atau menambah mutu situasi kota. Jadi kota bisa semakin maju atau mundur. 

Contohnya dulu Banyumas adalah ibukota karesidenan namun fungsinya digantikan oleh Purwokerto. 

Penyebabnya adalah kota Purwokerto dilalui jalur kereta api dan sekarang kota ini menjadi berkembang pesat dan menjadi kotamadya sementara Banyumas disiapkan kembali menjadi ibukota kabupaten Banyumas seperti di zaman sebelumnya.

Dalam meneliti asal usul kota maka para geograf mencari situs kota yang bersangkutan pada masa lalu dengan begitu akan ditemukan apa yang dinamakan pre-urban-nucleus nya. 

Berbekal kondisi alami ini maka kota menempuh proses perkembangan baik fisik maupun sosial ekonominya. 

ntuk perencanaan kota selanjutnya maka dibutuhkan pemekaran dengan berbagai ramalan perkembangannya disegala bidang tergantung situasi kota di kemudian hari.

Rabu, Agustus 28

Pengertian Urban Sprawl, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Pengertian Urban Sprawl, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Dalam kamus perkotaan kini terdapat istilah urban sprawl, mau tau tentang fenomena tersebut?. Urban Sprawl pada dasarnya adalah kata lain untuk urbanisasi.  

Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari wilayah pedesaan ke wilayah perkotaan. 

Dampak dari pergerakan penduduk ini adalah adanya penyebaran kota di batas pinggiran dekat perdesaan.

Urban sprawl didefinisikan sebagai munculnya perumahan dengan kepadatan rendah dan fasilitas komersial lain diatas lahan yang belum berkembang. 

Banyak orang yang datang dan menetap di wilayah urban sprawl untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.

Daerah pinggiran kota saat ini semakin sesak karena wilayah kota utama yang sudah overpopulasi sehingga kota akan berusaha mendesak wilayah batas terluar dan munculnya fenomena urban sprawl. 

Contoh fenomena ini bisa dilihat dari menjamurnya zona pemukiman baru di luar Jakarta seperti arah Citayam, Maja, Bekasi Utara, Cileungsi dll.
Urban sprawl pinggiran kota
Faktor Penyebab 
Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena urban sprawl muncul akhir-akhir ini diantaranya:
1. Harga Tanah Murah
Biaya pembelian tanah di pinggiran kota biasanya lebih rendah sehingga banyak para pengembang atau masyarakat mengincar daerah pinggiran sebagai sasaran ekspansi bisnis baru. Developer pemukiman juga banyak mengincar wilayah seperti ini.

2. Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan daerah yang pesat seperti jalan raya, tol, kereta api, bandara dan lainnya menjadi pembukan jalan berkembannya wilayah pinggiran. Kehadiran jalan raya membuka jalan bagi masyarakat untuk melintas dan tentunya akan sangat menguntungkan jika memiliki fungsi bisnis di daerah tersebut.

3. Kenaikan Standar Hidup
Adanya kenaikan kesejahteraan terutama pendapatan seseorang maka ia punya kemampuan membayar lebih untuk berpergian bolak-balik jarak jauh untuk bekerja dan kembali ke rumah. Kaum seperti ini lebih memilih punya rumah agak jauh dari kota. 

4. Perencanaan Kota Kurang
Ada kota-kota yang sangat buruk dalam hal kualitas hidup seperti macet, polusi, tidak ada pohon, panas dan lainnya. Sehingga orang akan mencari lokasi baru untuk menemukan kedamaian di daerah pinggiran. 

5. Tarif pajak rumah rendah

Kota biasanya akan memiliki pajak properti tinggi, dan biasanya Anda dapat menghindari pajak ini dengan tinggal di pinggiran luar karena pajak biasanya lebih rendah daripada mereka akan berada dalam pusat bisnis atau CBD.

6. Peningkatan pertumbuhan penduduk

Faktor lain yang berkontribusi terhadap urban sprawl adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi. Seiring bertambahnya jumlah penduduk kota yang tumbuh di luar kapasitas, masyarakat setempat terus menyebar lebih jauh dari pusat kota.

7. Preferensi konsumen

Orang dalam kelompok berpenghasilan tinggi memiliki preferensi lebih kuat terhadap rumah yang lebih besar, lebih banyak kamar, balkon yang lebih besar dan rumput yang lebih besar. 

Hal ini juga menyebabkan perkotaan karena pilihan ini tidak tersedia di kota-kota ramai. Orang umumnya melihat keluar untuk daerah pemukiman low-density di mana mereka bisa mendapatkan rumah sesuai dengan preferensi mereka.

Dampak Urban Sprawl diantaranya adalah:
1. Peningkatan biaya hidup, perubahan infrastruktur dan bangunan akan menambah beban pengeluaran harian. Pajak akan meningkat kemudian biaya transportasi ke tempat kerja dan lainnya.

2. Kemacetan, semakin padat pemukiman maka lalu lintas dipastikan makin ramai dan ini akan memicu kemacetan di beberapa titik, polusi dan kecelakaan di jalan raya.

3. Kesehatan, saat menggunakan kendaraan bahkan untuk jarak dekat, maka orang akan lebih rentan terkena obesitas dan kepadatan kendaraan juga akan memicu darah tinggi dan penyakit degeneratif lain.

4. Lingkungan, saat pengembang mulai gencar mematok tanah di wilayah pinggiran maka mereka tidak menyadarai tentang kehidupan flora fauna diatasnya yang akan terganggu. 

5. Sosial, ketika orang sering bergerak jauh ke tempat kerja maka biasanya banyak daripada mereka tidak punya tetangga dekat karena pergi pagi buta dan pulang malam hari. Ada beberapa kasus seperti itu dan ini tentunya menjadi masalah sosial yang serius.

Seperti yang dapat Anda lihat, Urban Sprawl adalah sesuatu yang akan terus terjadi selama kita hidup di bumi ini.  

Ini bukan sesuatu yang akan berubah, tapi seiring waktu daerah pedesaan akan menjadi lebih padat karena pembangunan dan perubahan. 

Ada yang menganggap ini baik dan ada pula yang menganggap ini buruk. Pertumbuhan penduduk adalah sebuah keniscayaan dan lahan akan menjadi taruhannya.

Populasi memerlukan ruang tempat tinggal dan wilayah-wilayah yang tadinya koson antah berantah bisa jadi di masa depan disulap menjadi pemukiman penduduk.

Rabu, Juni 19

7 Pengertian Urbanisasi Versi De Bruijne

7 Pengertian Urbanisasi Versi De Bruijne

Teman-teman tentu sudah familiar tentang kata urbanisasi kan?. Pastinya kita akan menjawab urbanisasi adalah perpindahan dari desa ke kota. 

Jawaban tersebut memang benar, namun tahukah kamu bahwa ada definisi urbanisasi lainnya yang dikemukakan oleh seorang geograf yaitu De Bruijne.

Urbanisasi sebenarnya itu adalah pengkotaan yaitu proses menjadi kota, jadi logisnya nih yang mengalami pengkotaan itu justru daerah permukiman yang bukan kota. Pengkotaan juga dapat diterapkan pada suatu negeri.

Pengkotaan adalah keadaan meningkatnya bagian penduduknya yang bermukim di kota. Kemudian kota-kota itu sendiri yang tumbuh dan meluas atau mekar istilahnya, pinggiran yang semula pedesaan lambat laun berubah jadi kota. 

Adapun dalam bahasa sehari-hari, urbanisasi diasosiasikan dengan arus penduduk desa yang masuk ke kota.
Kota besar padat bangunan
Grunfeld dalam membicarakan kekisruhan arti diatas lalu mengusulkan ada dua jenis urbanisasi yaitu pengkotaan fisik dan pengkotaan mental. 

Pertama menunjuk pada perkembangan kota dalam arti luas areal, jumlah dan kepadatan penduduk, pembangunan gedung, variasi tata guna lahan yang non agraris. 

Yang kedua menyangkut perkembangan orientasi nilai-nilai dan kebiasaan hidup meniru apa yang ada di kota besar.

Lalu ketidaksepahaman arti membuat Grunfeld mendefinisikan kota sebagai suatu tipe pemukiman yang secara nasional kepadatan penduduknya tinggi, struktur mata pencahariannya non agraris, tata guna lahan bervariasi dan banyak gedung-gedung yang rapat.

Dari sanalah muncul definisi urbanisasi yang jumlah ada 7 dikumpulkan geograf  De Bruijne yaitu:
1. Pertumbuhan persentase penduduk yang bertempat tinggal di perkotaan, baik secara mondial, nasional maupun regional.
2. Berpindahnya penduduk ke kota dari desa.
3. Bertambahnya penduduk bermatapencaharian non agraris di pedesaan.
4. Tumbuhnya suatu pemukiman menjadi kota.
5. Mekarnya atau meluasnya struktur artefaktial-morfologis suatu kota di kawasan sekelilingnya.
6. Meluasnya pengaruh suasana ekonomi keota ke pedesaan.
7. Meluasnya pengaruh suasana sosial, psikologis dan kultural kota ke pedesaan, atau meluasnya nilai dan norma kekotaan ke kawasan luar.

Sumber: Daldjoeni. Geografi Kota dan Desa

Senin, Februari 12

Soal Titik Henti di UN Geografi dan Cara Jawabnya

Soal Titik Henti di UN Geografi dan Cara Jawabnya

Halo teman-teman sekalian, bagaimana kabarnya hari ini?. Semoga baik-baik saja dan senantiasa produktif. Apa yang akan kita bahas kali ini?.

Kali ini saya akan membagikan tips menjawab soal titik henti di UN Geografi. Titik henti atau breaking point adalah teori yang dikemukakan Reilly untuk menentukan lokasi paling tepat untuk membangun suatu pusat pelayanan. 

Indikator yang digunakan adalah jarak dan populasi dua tempat. Konsep ini mengadopsi dari hukum Gravitasi Newton. 

Baca juga:

Contoh soal Titik Henti
1. Dikethui dua kota A dan B. Jarak kota A ke B adalah 75 km sementara jumlah populasi kota A adalah 250.000 jiwa sementara kota B adalah 100.000 jiwa. Dimanakah lokasi titik hentinya?.
Titik Henti Pasti, src: Valentina Kasperova
Seringkali siswa bingung darimana cara menarik titik poinnya?. Dari A atau B. Logikanya titik henti ditetapkan lebih dekat ke arah kota dengan penduduk lebih sedikit untuk memancing kota kecil lebih interaksi dengan pusat pelayanan. 

Kota yang lebih banyak populasinya secara logika asumsi sudah memiliki daya interaksi besar karena populasinya tinggi. Untuk lebih mudahnya seperti ini:

1. Untuk lebih mudah menghitung maka usahakan cari kota dengan penduduk banyak lalu dibagi penduduk sedikit.
2. Jika penduduk A/B maka titik hentik ditarik dari B. Sementara jika B/A maka titik henti ditarik dari A.

Bagaimana?. Masih bingung?. Coba banyak berlatih di rumah. Pokonya yang namanya titik henti itu digunakan untuk menentukan posisi paling tetap untuk mendirikan sebuah lokasi pelayanan, industri atau pusat kegiatan lainnya.

 Dengan harapan lokasi yang pas dan paling strategis akan memikat penduduk sekitar untuk datang menuju lokasi pelayanan tersebut. Jadi bagi kamu yang ingin mendirikan toko atau pom bensin atau apalah maka konsep ini bisa digunakan untuk mengukur lokasi paling strategis. 

Baca juga:

Kamis, Januari 4

Dasar-Dasar Mendefinisikan Kota

Dasar-Dasar Mendefinisikan Kota

Kota atau city merupakan sebuah hasil karya peradaban manusia modern. Dalam memberikan definisi kota, para ahli kota mengajukan beberapa aspek yang akan menjadi perhatian masing-masing sehingga bisa berbeda-beda. 

Jadi definisi kota tidak dipandang dalam satu aspek saja namun banyak hal seperti jumlah penduduk, sosial, ekonomi dan hukum.

1. Morfologi
Paling mudah memang membandingkan bentuk fisik kota dengan fisik pedesaan, di kota kita lihat gedung tinggi, berdekatan dan di desa rumahnya sederhana dan tersebar di mana-mana misalnya.

Namun perkembangan zaman juga memerlihatkan kaburnya perbedaan bentuk fisik kota dan desa. Saat ini daerah pinggiran sudah memiliki bentuk fisik bangunan gaya kota dan modern.

2. Jumlah Penduduk
Kota diukur berdasarkan jumlah penduduknya artinya maka ukuran besar tidaknya kota adalah populasi penduduknya. Di Albania, Denmark, Swedia daerah berpenduduk 200 orang sudah disebut kota. 

Di Kanada syaratnya 1.000 orang, AS 1.500 dan Ghana 5.000. Di Indonesia sendiri setiap sensus nasional selalu berubah definisi kota tersebut sehingga untuk melakukan perbandingan jumlah kota antar dasawarsa cukup sulit.

Kini untuk sementara di Indonesia dipakai kriteria kota berikut:
1. Kota Kecil, 20.000-50.000 orang
2. Kota Sedang, 50.000 - 100.000 orang
3. Kota Besar, 100.000-1.000.000 orang
4. Kota Metropolitan, 1.000.000 -10.000.000 orang
5. Kota Megapolitan, > 10 juta
Dasar-Dasar Mendefinisikan Kota
KRL sarana transportasi massa kota modern
3. Hukum
Definisi kota dalam hal ini dikaitkan dengan danya hak-hak hukum tersendiri bagi penghuninya. Di masa Hindia Belanda, kota seperti Salatiga, Sukabumi, Probolinggo berstatus hamite, dengan alasan jumlah penduduk yang beretnis Eropa 10% lebih, mereka ini tidak di bawah kekuasaan bupati lalu kota diatur menurut hukum Belanda ditempatkan dibawah kekuasaan  walikota. 

Di masa kemerdekaan, jumlah kotamadya bekas hamite terus bertambah dengan alasan lain seperti otonomi.

4. Ekonomi
Ciri kota dalam hal ini adalah hidup yang non agraris, kota fungsi khasnya lebih ke arah kkultural, industri, perdagangan dan jasa. Dari aspek itu yang paling menonjol adalah perniagaan. Adanya pusat keramaian seperti mall dan pasar menjadi ciri kota zaman sekarang.

5. Sosial
Hubungan atau realsi antar penduduk secara sosial di kota tidak melebur seperti di desa. Di kota pendudunya serba tertutup, lugas, acuh, bebas bergaul dan tanpa norma yang jelas. 

Mereka hidup seperti terkotak-kotak oleh kepentingan masing-masing sehingga tidak ada yang mengekang dan hidup sesuka hati. Gambar: disini

Selasa, November 14

Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta

Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta

Jakarta merupakan kota metropolitan terbesar saat Indonesia dan menjadi ibukota negara. Seperti apa sejarah tata ruang kota Jakarta dari masa lalu hingga sekarang?. 

Kota Jakarta dahulu bernama Batavia sampai perang dunia kedua. Pada zaman VOC di muara Ciliwung, orang-orang Belanda mendirikan benteng untuk menahan serangan-serangan musuh setempat atau kompeni lain. 

Benteng tersebut dinamai Batavia untuk menghormati nenek moyang bangsa Belanda yaitu suku Bataven. Sebelum kedatangan belanda ke Indonesia, pelabuhan disana bernama Sunda Kelapa dan kemudian berubah menjadi Jayakarta yang pada tahun 1596 sudah dipimpin seorang adipati.

Sebagai pusat perdagangan Asia Tenggara, Batavia maju pesat hingga disaingi oleh Singapura buatan Raffles. Oleh sebab itu Batavia dijuluki Ratu Negeri Timur. Di Tahun 1673, populasi Jakarta mencapai 32.000 jiwa (padahal kota Frankfurt dan Main di Jerman masih 19.000 saat itu). 

Kemudian pada tahun 1830 tumbuh menjadi dua kali lipat, dan menjelang abad ke 19 penduudk Batavia sudah mencapai 115.000 jiwa.

Sejarah kota Batavia sejak dibukanya Weltevreden dijelaskan Wirjomantono yaitu: Daerah baru ini semula berpusat di lapangan Monas kemudian meluas ke arah Menteng dan Gondangdia. 

Sejak tahun 1797 pusat pemerintahan ada di kawasan Monas hingga sekarang. Selepas masa Daendels, gubernur jenderal van der Capellen (1820) menempati gedung istana Merdeka sekarang.
Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta
Pelabuhan Batavia abad ke 17
Perluasan kota mula-mula meliputi garden city yaitu gondangida baru dan menteng. Antara tahun 1860-1875 Batavia telah meluas meliputi kawasan dari pelabuhan Amsterdam (Tanjung Priuk) sampai Jatinegara (Meester Cornelis). 

Di masa lalu itu dari Gambir dibangun jalur kereta api menuju Bogor dan selesai pada akhir abad 18. Jalur kereta api sangat membantu pertumbuhan Jakarta ke arah timur di awal abad ke 20. 

Stasiun-stasiun kemudian ditambah untuk mendukung ekonomi lewat Pasar Senen, Pasar Manggarai dan Pasar Jatinegara.

Istana untuk gubernur jenderal dibereskan pada 1912 meski tidak ditinggali karena lebih banyak yang tinggal di istana Bogor. Istana Jakarta lebih dikhususkan untuk pertemuan penting dengan Volkstraad dan penerimaan tamu negara.

Untuk meramaikan Batavia sebagai kota perdagangan, dibuka bagian kawasan Glodok untuk Pecinan sementa sebagai ciri kota internasional baru maka diramaikan pula kawasan disekitar stasiun Gambir dan dibuka kawasan Pintu besar.

Perkembangan kota dari Batavia ke Jakarta tidak bisa dilepaskan dari peran perkembangan kawasan Gunung Sahari. Kedua hal ini memberikan pengertian baru bagi pasar tradisional Jawa mingguan yang didukung oleh deretan pertokoan yang rutin menjual kebutuhan sehari-hari dan kelontong.

Setelah Indonesia merdeka, di kawasan Merdeka Selatan sejak tahun 1960 dibangun gedung-gedung baru seperti gedung kedutaan Amerika dan Bank Indonesia di Jalan Thamrin. 

Soekarno lalu memerintahkan pendirian Monumen Nasional dengan bentuk kombinasi lingga yoni dengan tinggi melebihi menara Eiffel. Konsep tersebut mengandung makan simbolik persatuan kekuatan dasar dualistik untuk bangsa Indonesia merdeka.

Selepas kemerdekaan dan ibukota kembali ke Jakarta (sempat pindah ke Yogyakarta), dibangunlah kota Kebayoran Baru. Dalam waktu relatif singkat, kota-kota luar ini menyatu dengan Jakarta Raya. 

Pada 1948 populasi Jakarta masih 1.740.252 jiwa dan pada 1963 menjadi 3.100.000 dan terus meningkat sampai sensus 1980 mencatat angka 6.503.449 (11.023 jiwa per km persegi).
Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta
Proyek MRT di kota Jakarta saat ini
Sebuah gagasan pada tahun 1953 memproyeksikan luas kota menjadi 162 km persegi yang akan dibatasi oleh lingkaran jalan merangkap batas perluasan kota. Sejak 1959 perkembangan Jakarta menjadi bagian dari politik mercusuar dimana Indnoesia dijadikan pusat The New Emerging Forces.

Peristiwa G 30 S PKI tahun 1965 hanya mampu menghentikan sementara pengembangan tata ruang ibukota ini. Lau di era orde baru 1965-1985 rencan Induk pengembangan Jakarta dibuat. 

Bentuk dan arah perkembangannya ditentukan agar mekarnya seimbang ke segala arah dengan titik pusat Tugu Nasional di Medan Merdeka. Radius pancarnya semula 15 km kemudian diperpanjang menjadi 50 km sehingga mencakup Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. 

Konsep ini yang sekarang menjadi Megapolitan Jabodetabek. Perkembangan tata ruang Jakarta ini terus berlanjut hingga sekarang. Perluasannya kini sudah mencapai Cikarang di timur, di barat sudah mencapai Maja dan di selatan sudah menuju ke arah Sukabumi. 

Baca juga: Konsep trickle down effect
Gambar: disini,disini

Sabtu, November 11

Smart Waste Management Untuk Kota Bekasi Sehat

Smart Waste Management Untuk Kota Bekasi Sehat

Kota merupakan sebuah perwujudan hasil karya cipta dan karsa manusia di dalamnya. Penduduk kota semakin semakin bertambah seiring derasnya laju urbanisasi. Kota Bekasi adalah satu kota yang menjadi sasaran kaum urban dekade terakhir ini. 

Salah satu dampak dari konsentrasi penduduk yang pesat adalah sampah. Ya, sampah menjadi suatu fenomena yang hingga kini masih belum dipikirkan solusinya. Saya sudah setahun lebih pindah ke Kota Bekasi dan melihat sampah menjadi masalah yang harus segera dipecahkan. 

Bau sampah seringkali tercium saat pagi atau malam dan usut punya usut ini berasal dari TPA Bantargebang. Bau busuk sampah terbawa angin hingga ke pusat kota, OMG!. Saya sendiri sering jengkel dengan kondisi tersebut karena mengganggu aktifitas. 

Bau busuk ini kebanyakan tentu berasal dari pembusukan sampah organik. Bagaimana mau sehat warganya kalau kondisi lingkungannya buruk?. Kota Bekasi kini sedang meluncurkan program smart city yang tengah booming dan menjadi konsep kota abad 21. 
Smart Waste Management Untuk Kota Bekasi Sehat
Tumpukan sampah di salah satu pasar kota Bekasi. Dokumen pribadi
Smart city tentu bukan hanya sekedar memanfaatkan teknologi dalam kehidupan penduduk namun tujuan utamanya adalah bagaimana dengan teknologi masyarakat kota menjadi benar-benar smart dalam perilakunya, khususnya dalam manajemen sampah. Masalah sampah menurut saya bukan berada di akhir alias di Tempat Pembuangan Akhir namun berawal dari rumah. 

Jadi konsep yang saya tuangkan adalah bagaimana mengelola sampah dari rumah. Intinya setiap rumah tangga harus sudah bisa mendaur ulang sampah di rumah (khususnya yang organik) menjadi kompos. 

Darimana alatnya?. Mahal tidak?. Nah ini yang harus dipikirkan oleh enginer kita supaya bisa membuat alat pengubah sampah organik menjadi kompos secara murah. Saya sempat menemukan video di youtube tentang alat pengubah sampah organik di dapur menjadi kompos. 

Saya yakin enginner-enginner Indonesia juga bisa membuatnya dan segera diaplikasikan ke seluruh rumah tangga di Indonesia. Saya disini hanya menuangkan ide saja, jadi kurang lebih alurnya seperti ini:

Opsi Pertama
1. Setiap rumah harus memiliki instalasi pengumbah sampah organik menjadi kompos.
2. Kompos yang yang sudah jadi setiap hari dikirim ke suatu lokasi (bisa saja disebut bank kompos). Bank kompos ini dibuat bisa per kelurahan atau kecamatan.
3. Kompos kemudian dikirim ke bank sampah untuk ditukar dengan uang. Bisa jadi penghasilan sampingan kan?. 
4. Bank sampah bisa menjual komposnya ke para pelaku industri, petani atau stake holder lain.
5. Pembelian alat daur ulang sampah organik bisa juga memakai sistem DP lalu sisanya nyicil lewat hasil kompos tadi ke bank sampah. 
Smart Waste Management Untuk Kota Bekasi Sehat
Alur smart waste management
Opsi Kedua
1. Setiap rumah mengirim sampah organik ke bank sampah yang ada di kelurahan. (opsi jika sulit membeli alat daur ulang sampah organik di rumah.
2. Dalam hal ini setiap kelurahan harus punya satu unit lokasi pengubah sampah organik menjadi kompos.
3. Setelah sampah disetor ke kelurahan, hasil kompos kemudian bisa ditukar dengan uang sesuai berat kompos yang dihasilkan.

Dampak dari adanya manajemen sampah ini adalah akan menghilangkan distribusi sampah organik yang bau dari setiap rumah menuju TPA. Sampah organik di TPA lah yang menyebabkan bau busuk tercium di Kota Bekasi. 

Jika dari skala rumah saja sudah bersih dari sampah organik maka di TPA pun mungkin hanya ada sampah berjenis anorganik saya yang tidak mengeluarkan bau. 

Jadi pada intinya kita menyediakan sebuah program yang akan mengubah perilaku masyarakat kota dan dampak akhirnya adalah kota menjadi bersih karena memang perilaku masyarakatnya sendiri sudah bersih dari rumah. Inilah yang dinamakan smart city.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close