Guru Geografi: Geografi Kota | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 16

Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli

Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli

Kota merupakan sebuah unit kehidupan manusia yang begitu penting saat ini. Lalu apa itu pengetian kota?. Dalam usaha merumuskan pengertian kota, para ahli punya macam-macam pendapat, masing-masing punya alasan tentunya. Berikut ini saya berikan contoh definisi kota menurut berbagai ahli geografi dari masa ke masa.

Mayer melihat kota sebagai temapt bermukim penduduknya. Baginya yang penting dengan sendirinya bukan rumah, jalan, tempat ibadah, kantor, taman dan lainnya. Tapi penghuni yang menciptakan semua itu. Meski kota sebagai pemukiman dan wadah komunikasi manusia itu penting, untuk memahami kota maka faktor manusianya juga penting.

Ini menyangkut nilai-nilai, peraaan, kenangan mereka bersama dalam berogranisasi. Kota memang mewujudkan hasil karya peradaban, meski lahirnya dari pedesaan juga. Pedesaan dirasa sebagai kawasan yang melingkupi kota, kota punya jiwanya sendiri, organisasinya, kesenian, dan kebudayaan sendiri. 
Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli
Kota adalah hasil karya manusia
Mumford lebih melihat kota sebagai suatu tempat pertemuan yang berkiblat keluar. Malah sebelum kota menjadi tempat tinggal tetap, manusianya bolak-balik dari desa untuk berjumpa dengan kerabatnya di kota secara teratur. Disitu kota terlihat sebagai magnet yang semakin kuat tarikannya baik bagi perekonomian maupun keagamaan.

Max Weber memandang kota itu sebagai sebuah wilayah yang penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar lokal. Adapun barang-barangnya dilokalisasi juga dan ditambah dari desa. Jadi pasar adalah ciri yang paling utama.

Christaller memang fungsi kota sebagai tempat penyelenggaraan dan penyediaan jasa-jasa bagi wilayah sekitarnya. Kota merupakan pusat pelayanan seperti dalam teorinya Central Place Theory. Jadi kota bukan berawal dari pemukiman namun dari hadirnya pusat pelayanan. Jangkauan pusat pelayanan menandakan kuat tidaknya pengaruh kota.

Sjoberg melihat lahirnya kota lebih diakibatkan karena timbulnya suatu golongan spesialis non agraris dimana yang berpendidikan merupakan penduduk paling penting. Mereka itu adalah ahli literasi yakini golongan pujangga, sastrawan, ahli agama, mereka adalah awal pendiri kota. Baru setelah itu muncul pembagian kerja dalam kehidupan kota.

Wirth merumuskan kota sebagai pemukiman yang relatif besar padat dan permanen dengan penduduk yang heterogen kedudukan sosialnya. Karena itu hubungan sosial antara penghuninya sangat longgar, acuh dan relasinya tidak pribadi.

Marx dan Engels memandang kota sebagai perserikatan yang dibentuk untuk melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat produksi untuk mempertahankan diri dari para penduduknya. Bedanya dengna desa, di kota terjadi pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi. Individu-individu terbagi atas dua golongan kegiatan itu sehingga terasa ada pemencilan.

Harris dan Ullman melihat kota sebagai suatu pusat untuk pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Manusia disitu unggul dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Namun disamping ada pertumbuhan kota, disana terjadi pemiskinan bagi kalangan yang termarjinalkan sehingga timbul berbagai masalah sosial. Baca juga: Konsep trickle down effect

Sumber: Daldjoeni. Geografi Kota dan Desa
Gambar: disini

Rabu, Agustus 9

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor pendorong urbanisasi sangat banyak dan saya akan mencoba membahasnya satu per satu. 

Pemukiman kota tumbuh terus-menerus seiring bertambahnya penduduk di dunia dan pesatnya migrasi.

Pada awal abad ke 19, penduduk dunia yang tinggal di perkotaan hanya 10% saja namun saat ini sudah melewati angka  50%. 

Lahan-lahan hutan, pertanian kini banyak yang diubah menjadi pemukiman, apartemen, kota dan lainnya. 

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia
Urbanisasi adalah sebuah fenomena sosial

Adapun faktor-faktor pendorong urbanisasi menurut Whynne dan Hammond ada delapan yaitu:

1. Kemajuan bidang pertanian
Adanya mekanisasi pertanian mendorong beberapa hal seperti terserapnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri. Lainnya, bertambahnya produktifitas pertanian menjadikan pendapatan petani meningkat dan taraf hidupnya meningkat. 

 

Kemajuan teknologi membuat pengelolaaan lahan petanian lebih efisien dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja karena diganti oleh mesin. Selain itu upah yang rendah di sektor pertanian membuat mereka mencari lahan baru di kota.

2. Industrialisasi
Revolusi industri membuat dunia berubah cepat dan mesin-mesin kini sudah menguasai kehidupan. Banyak pabrik-pabrik yang dibangun di lokasi baru sehingga membutuhkan tenaga kerja baru. Seiring tumbuhnya industri maka kota baru akan terbentuk. Lihatlah Cikarang, Jababeka dan sekarang Meikarta sudah mulai didesain di Bekasi.

3. Adanya pasar
Berkembangnya industri akan melahirkan banyak kota baru yang menawarkan diri sebagai pasar industri tersebut. Luasnya pemasaran membuat kebutuhan pekerja semakin banyak dan para pekerja di desa mulai pindah ke kota.

4. Peningkatan layanan umum
Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan kegiatan perdagangan, taraf hidup dan memicu lahirnya organisasi berbasis ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa tumbuh di perkotaan mulai  dari hiburan, catering, kantor, wisata dan lainnya.

5. Kemajuan transportasi
Dibangunnya jalan raya, rel kereta, rute penerbangan membuat masyarakat dapat dengan mudah melakukan mobilitas. Akses yang baik, membantu seseorang untuk bergerak dari desa ke kota.

6. Tarikan sosial budaya
Di kota banyak hal menarik yang tidak ada di desa seperti bioskop, rekreasi, pendidikan hingga telekomunikasi. Desa sangat erat dengan adat yang kaku dan hal ini membuat masyarakatnya tidak betah dan ingin berubah untuk melihat masa depan yang lebih baik.

7. Pendidikan
Sarana pendidikan banyak tumbuh dengan baik di perkotaan dibandingkan pedesaan. Perguruan tinggi tidak ada di tingkat desa dan masyarakat desa yang ingin menimba ilmu harus merantau ke kota.

8. Pertumbuhan penduduk alami
Tingkat ekonomi penduduk kota yang tinggi mebuat pertumbuhan penduduk kota cenderung tinggi. Fasilitas kesehatan yang memadai membuat angka kelahiran meningkat dan menambah pesat kota.  

Baca juga: Konsep trickle down effect

Gambar: disini

Selasa, Agustus 8

Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL

Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL

Halo sahabat blogger sekalian, apa kabarnya hari ini?. Semoga sehat selalu ya. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang apa bedanya antara LRT dengan MRT. 

Pertumbuhan penduduk di perkotaan saat ini sangat cepat khususnya di kota besar sehingga masyarakat membutuhkan moda transportasi yang cepat, aman dan efisien. 

Salah satu moda transportasi yang sedang dibangun saat ini di Indonesia adalah LRT dan MRT. Kalau kamu pergi ke Jakarta pasti sudah ada tiang pancang di samping tol Cikampek bukan?.

MRT merupakan singkatan dari Light Rail Transit sementara MRT merupakan singkatan dari Metro Rail Transit. MRT dan LRT sudah dikembangkan di negara maju sejak jaman dahulu dan hingga kini masih menjadi moda transportasi yang handal. Pada dasarnya baik MRT maupun LRT adalah salah dua moda transportasi massal yang anti macet.
Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL
Bentuk LRT Modern
LRT
Light Rail Transit telah dikembangkan secara khusus untuk mengangkut penumpang berpergian di dalam kota. Sistem kereta ini fokus pada skema perumahan lokal agar masyarakat bisa menjangkau titik-titik tertentu di dalam kota. 


Ada banyak lokasi pemberhentian atau transit dan ukurannya pun lebih kecil. LRT memiliki kecepatan yang relatif rendah dibanding MRT. LRT kini menjadi moda transportasi penting di kota kelas dunia seperti Singapura misalnya. T

rek LRT kini banyak dibangun melayang untuk menghemat lahan seperti LRT Bekasi-Jakarta.
Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL
MRT di Munich Jerman
MRT
Mass Rapid Transit merupakan sistem kereta yang terdiri dari beberapa gerbong yang bergerak dengan kecepatan lebih tinggi dari LRT. MRT dibangun untuk memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk yang padat sehari-hari. 

MRT banyak dibangun di bawah tanah dan memiliki stasiun yang besar. Panjang rel MRT bisa mencapai 100 km lebih. 

Baik LRT atau MRT bisa digerakan dengan manual atau otomatis. LRT dan MRT menawarkan berbagai keuntungan. Pertama, keduanya merupakan jenis transportasi murah ongkos. Kemudian keduanya ramah lingkungan dan nyaman digunakan. Moda transportasi ini juga bebas macet.

Kelemahan moda transportasi massa ini adalah saat penumpang terlalu penuh maka gerbong akan dijejali banyak orang. Suasana pengap, panas dan bau juga bisa saja muncul. 

LRT dan MRT merupakan moda transportasi berbasis rel dan mendukung penggunaan KRL Commuter Line yang saat ini sudah banyak digunakan penduduk. 

KRL jalurnya masih berbarengan dengan jalur kereta jarak jauh sehingga waktu tempuhnya masih agak lambat. LRT dan MRT dibangun untuk mengurangi beban KRL di Jabodetabek. 
Gambar: disini, disini

Rabu, Juni 14

Pola Pengembangan Wilayah Negara Maju

Pola Pengembangan Wilayah Negara Maju

Negara maju pada dasarnya merupakan negara yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk bernilai jual tinggi sehingga pendapatan negaranya tinggi. 

Tidak selamanya negara yang memiliki wilayah luas dapat menjadi negara maju. Aspek penting dari maju tidaknya sebuah negara adalah kualitas manusia di dalamnya. 

Ada negara yang miskin sumber daya namun ia bisa menguasai dunia dengan produk-produk andalannya seperti Jepang, Korea, Amerika, Singapura dan lainnya. Lantas bagaimana pola pengembangan wilayah di negara maju?. 

Baca juga:
Perbedaan kerak benua dan kerak samudera 
Jenis-jenis pola aliran sungai

Berbicara pola pengembangan wilayah negara majua maka akan sangat berbeda dengan pola pengembangan di negara berkembang. Di negara berkembang, secara umum pola pertumbuhan wilayah sangat tidak teratur dan banyak yang tidak sesuai zonasi yang telah ditentukan pemerintah. 

Atau bahkan pemerintah tidak membangun wilayah sesuai karakteristiknya. Berikut ini beberapa contoh pola pengembangan wilayah di negara maju:

1. Merencanakan Sistem Zonasi
Sebelum membangun sebuah wilayah, maka akan ada riset atau penelitian awal terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memastikan nantinya wilayah berkembang sesuai dengna potensinya dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Zona industri ditempat di lokasi yang jauh dair pemukiman, tempat pembuangan akhir sampah dibangun jauh dari kota. Hal ini dilakukan agar kualitas kehidupan penduduk di wilayah tetap terjaga. Coba lihat di Indonesia, contohnya tempat pembuangan akhir sampah dekat dengan kota. 

Dampaknya tiap hari bau busuk selalu dihirup warga. Ini membuat kualitas hidup menurun. Industri dibangun di wilayah yang bukan peruntukannya. 

2. Mereklamasi Lahan
Bagi negara-negara yang memiliki lahan sempit dan dekat laut, jalan reklamasi menjadi pilihan terbaik. Dengan mereklamasi laut mereka akan memperluas area negara. Contoh nyata adalah Singapura dan Uni Emirat Arab. Baca juga: Batas lempeng tektonik
Kota Dubai di UEA
3. Berbasis Teknologi 
Kota-kota di negara maju dikembangkan dengan basis teknologi yang tinggi dan ramah penduduk. Jalur transportasi sangat memadai, aman dan nyaman. Tidak ada kemacetan parah dan setiap lokasi dipantau oleh CCTV. 

Di Cina kini sudah ada jalur monorel yang menembus apartemen. Konsep kota masa depan kini sudah mulai dibangun oleh negara maju. Jadi kota-kota modern abad 21 yang sering kamu lihat di film fantasi atau Doraemon akan segera terwujud beberapa dekade ke depan.
Kota-kota di negara maju sudah menerapkan konsep berwawasan lingkungan dalam model pengembangannya. Lihat bandara Changi di Singapura yang kini disulap menjadi kawasan hutan tropis di dalamnya. 

Lihat juga Central Park di New York yang dibangun agar masyarakatnya bisa refreshing melepas kepenatan di sana. Baca juga: Pola Pengembangan Negara Berkembang

Sabtu, April 29

Pengertian Kota Menurut Ahli Geografi

Pengertian Kota Menurut Ahli Geografi

Kamu yang tinggal di kota tentu akan mudah menjawab jika diberikan pertanyaaan, apa itu definisi kota?. Ada yang menjawab macet, banyak gedung, jalan, mall dan lainnya. 

Namun dalam usaha merumuskan pengertian kota, para ahli geografi memiliki pendapat masing-masing yang beralasan. Berikut ini pengertian menurut para ahli:

Mayer, melihat kota sebagai tempat bermukim penduduknya, baginya yang penting bukan rumah, jalan, rumah ibadah, kantor, taman, sungai dan lainnya melainkan penghuninya yang menciptakan semua bangunan tadi. 

Meski sebagai pemukiman dan wadah komunikasi manusia penting, untuk memahami kota lewat faktor manusianya yang sangat esensial.

Ini menyangkut nilai, perasaan, kenangan mereka dalam berorganisasi. Kota memang mewujudkan penciptaan peradaban meski awal mulanya berasal dari pedesaan.

Mumford, lebih melihat kota sebagai suatu tempat pertemuan yang berkiblat ke luar. Malahan sebelum kota menjadi tempat tinggal tetap, orang-orangnya bolak-balik dari desa untuk berkunjung secara teratur. 

Di situ kota seperti magnet yang semakin besar tarikannya baik dari sisi ekonomi maupun keagamaan. Sebaliknya desa adalah bentuk pemukiman yang penduduknya berkiblat ke dalam dan menolak orang luar, sifat orangnya relatif kaku dan serba curiga.
Pengertian Kota Menurut Ahli Geografi
Kota Bandung Paris van Java
Max Weber, memandang kota adalah jika penghuninya sebagian besar penghuninya mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat. Adapun barang kebutuhannya dibuat setempat pula dan ada yang dipasok dari pedesaan. Ini adalah sifat dasar dari kosmopolitan kota yang menjadi hakikat kota. Jadi sifat kota lebih pada pasarnya.

Christaller, dengan central place theory nya menunjukan fungsi kota sebagai penyelenggaraan dan penyediaan jasa bagi wilayah di sekitarnya. Kota merupakan pusat pelayanan. 

Jadi kota bukan pusat pemukiman pada awalnya melainkan pusat pelayanan. Sejauh mana sebuah kota menjadi pusat pelayanan bergantung kepada sejauh mana pedesaan disekitarnya memanfaatkan jasa-jasa kota.

Sjoberg, melihat lahirnya kota lebih dari timbulnya suatu golongan spesialis non agraris dimana yang berpendidikan merupakan bagian penduduk yang terpenting. 

Mereka itu adalah para kaum literat seperti pujangga, sastrawan, ahli agama. Setelah semua berkumpul barulah ada pembagian kerja tertentu dalam kehidupan kota.

Wirth, memandang kota sebagai suatu pusat permukiman yang relatif besar padat dan permanen dengan penduduk yang heterogen kedudukan sosialnya. Karena itu hubungan sosial antara penghuninya longgar, acuh dan relasi nya sangat kendur atau kekerabatan tidak erat.

Marx dan Engels, memandang kota sebagai perserikatan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat produksi untuk memertahankan diri para penduduknya. 

Bedanya dengan desa, di kota terjadi pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi. Individu-individu terbagi atas dua golongan kegiatan itu sehingga terasa ada pemisahan.

Harris dan Ullaman, melihat kota sebagai pusat untuk pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Manusia disana unggul dalam mengeksploitasi bumi, buktinya pertumbuhan kota pesat dan terus mekar. Namun selain mekar, pemiskinan juga terjadi pada manusianya sehingga muncul berbagai masalah sosial.

Sumber: Geografi Kota Dan Desa, Daldjoeni.
Gambar: news.bbc.co.uk

Senin, April 24

Perkembangan Kota di Indonesia

Perkembangan Kota di Indonesia

Kota merupakan hasil dari perwujudan aktifitas manusia dengan lingkungannya. Pekembangan sebuah kota dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kondisi manusia yang bermukim di dalamnya. 

Dalam sejarahnya, kota pada dasarnya berkembang dari satu unit kampung yang berkembang dari waktu ke waktu. Namun saat ini, kota bisa dibangun secara instan karena faktor tertentu seperti adanya program pemerintah. 

Di Indonesia sendiri, sejarah kota-kota besar sangat bervariasi dan kebanyakan berasal dari sejarah awal mula kehidupan manusia di dalamnya terjadi. Berikut ini sejarah perkembangan kota di Indonesia. 

1. Kota Pusat Perkebunan
Indonesia terkenal memiliki morfologi yang bervariasi terutama dataran tinggi. Kota-kota di Indonesia beberapa berasal dari kegiatan perkebunan yang sudah dimulai sejak zaman kolonial. Kota tersebut diantaranya Bandung, Bogor, Deliserdang dan Brastagi.
Kota Bandung saat ini, pic: bandung.bisnis.com
2. Kota Pusat Pertambangan
Ditemukannya bijih mineral di beberapa lokasi mengakibatkan munculnya pertambangan. Kegiatan pertambangan lambat laun tumbuh pesat dan menghasilkan kota. Beberapa kota besar yang lahir dari kegiatan pertambangan diantaranya Sawahlunto, Tembagapura dan Bontang.
Kota Bontang di Kalimantan Timur, pic: badaklng.co.id
3. Kota Pusat Industri dan Perdagangan
Pertumbuhan manusia membuat kebutuhan semakin banyak. Pelaku industri kemudian masuk menancapkan pabriknya di beberapa lokasi. Lokasi pabrik kemudian berkembang dengan dibangunnya jalan, pemukiman dan lahirlah kota baru. Contoh kota yang berbasis industri diantaranya Karawang, Jababeka dan Batam.
Kawasan Industri Karawang
4. Kota Pusat Pendidikan dan Kebudayaan
Adanya lembaga-lembaga pendidikan terkemuka dan budaya lokal yang khas menjadi suatu daerah menjadi pusat kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Contohnya adalah Jogjakarta dan Denpasar. Baca juga: Bedanya lokasi absolut dan relatif
Jogjakarta pusat kebudayaan dan pendidikan, pic: oia.ukdw.ac.id
5. Kota Pusat Pemerintahan
Adanya kegiatan pemerintahan membuat berbagai aktifitas semakin pesat sehingga menghasilkan kutub pertumbuhan. Contoh paling nyata adalah Jakarta dan Surabaya.
Kota Jakarta di pagi hari, flikr.com
6. Kota Pusat Pelabuhan
Aktivitas bongkar muat barang membuat daerah sekitar pelabuhan berkembang semakin menyebar. Jakarta, Semarang dan Surabaya pada awalnya merupakan sebuah pelabuhan yang berkembang menjadi kota pusat pemerintahan hingga saat ini.

Pelabuhan Sunda Kelapa, pic: port.trikarsa.com
Perkembangan kota juga dapat dilihat dari jumlah penduduknya. Menurut jumlah populasinya, kota dibagi menjadi:
- kota kecil, populasi 20.000 - 100.000 jiwa.
- kota besar, populasi 100.000 - 1 juta jiwa.
- kota metropolitan, populasi > 1 juta jiwa. 

Baca juga ya!:
Faktor perkembangan kota di Indonesia
Ciri masyarakat pedesaan menurut Parson

Minggu, Maret 26

Struktur Kota: Teori Inti Ganda Harris-Ullman

Struktur Kota: Teori Inti Ganda Harris-Ullman

Jika dua teori ruang kota sebelumnya masih membentuk pola melingkar maka Harris-Ullman memberikan pandangan berbeda mengenai pola ruang kota. 

Teori ini dikemukakan pada tahun 1945 dalam buku berjudul Readings in Urban Geography

Harris dan Ullman berpendapat meskipun pola konsentris dan sektoral dalam sebuah kota itu ada namun kenyataannya lebih kompleks dari apa yang ada dalam teori Burgess dan Hoyt.

Menurut Haris dan Ullman, pertumbuhan kota berawal dari suatu pusat dengan arah yang rumit dan tidak terstruktur. 

Hal ini disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan menjelma menjadi pusat pertumbuhan. 

Di sekitar inti-inti pertumbuhan baru itu akan mengelompok tata guna tanah yang bersambungan secara fungsional. 

Kondisi seperti itu akan melahirkan struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan. Baca juga: Faktor pro dan anti natalitas
Struktur Kota: Teori Inti Ganda Harris-Ullman
Pola kota Teori Inti Ganda
Tempat-tempat yang bertipe inti atau nucleus itu misalnya bandara, kompleks industri, kampus, pelabuhan atau stasiun besar. 

Nucleus bukan hanya milik kota namun juga desa-desa besar atau kota-kota kecil yang pusatnya merupakan pusat pelayanan penduduk. 

Baca juga:
Asas kewarganegaraan Indonesia
Faktor cuaca daerah bisa cepat berubah

Setelah itu disekelilingnya muncul pengelompokkan tata guna lahan dengan perhitungna keuntungan ekonomis. 

Industri akan mencari lokasi dekat terminal transportasi, perumahan baru mencari lokasi dekat pusat perbelanjaan dan lainnya. 

Teori Burgess dan Hoyt hanya menunjukkan contoh dari realitas saja. Sebenarnya ciri-ciri penyebaran jenis tata guna lahan ditentukan oleh faktor-faktor yang unik berupa situs kota dan sejarahnya pula. 

Memang ada beberapa kota yang memiliki pola sama seperti Burgess atau Hoyt hingga saat ini. 

Akan tetapi dengan pekembangan peradaban dan teknologi, kini sebaran kutub pertumbuhan semakin beragam di berbagai lokasi dan tidak hanya di tengah kota. 

Baca juga: Soal PTS Hots bab interaksi wilayah 

Gambar: harrisullman.weebly

Sabtu, Maret 25

Struktur Kota: Teori Sektor Homer Hoyt

Struktur Kota: Teori Sektor Homer Hoyt

Jika sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang Teori Konsentrik milik Burgess, kali ini giliran Teori Sektor yang akan kita pelajari. Teori ini diciptakan oleh Homer Hoyt di tahun 1930an dan menurutnya pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor-sektor daripada sistem gelang konsentris. 

Hoyt pun meneliti kota Chicago dan meneliti pusat CBS dan berpendapat bahwa pengelompokan tata guna lahan menjulur seperti irisan kue tart. Bersama itu terjadilah perbedaan kawasan kota berdasarkan jenis gedung maupun kekompok penduduk tanpa ada latar belakang kejadiannya.

Baca juga:
Definisi bencana kekeringan
Ciri masyarakat desa menurut Parson

Dengan begitu, pendirian perumahan bagi kaum elite akan mendorong naiknya harga tanah yang berlokasi di daerah tepian. Perumahan kaum buruh akan meluaskan diri dengan cara menyambung pada kompleks yang telah ada dan menghasilkan industri baru. Kota akan memekarkan diri mengikuti pola irisan kue tart yang disebut sektor.
Teori Ruang Kota Sektor Homer Hoyt
Muncul pertanyaan, perkembangan sektor itu dilatarbelakangi oleh sifat manusia atau kepentingan ekonomi manusia kota?. Para geograf masih menghubungkan lagi dengan latar belakang geografi alam dari kota yang bersangkutan serta rute-rute transportasi. Tanah yang datar memungkinkan pembuatan jaringan jalan, rel, dan terusan yang murah. 

Dampaknya sebuah kota industri cenderung untuk berkembang dengan arah memanjang. Dengan demikian pula lokasi kota yang ada di daerah lereng bukit maka akan cenderung melengkung mengikuti topografi lereng tersebut. Ini berkaitan dengan pola pemukiman penduduk disekitarnya. Baca juga: Faktor perkembangan kota di Indonesia

Hoyt menemukan fakta bahwa pajak tanah dan bangunan berbeda-beda berdasarkan sektor-sektor kota. Jadi pajak tertinggi tidak harus berada di dekat pusat kota. Selain itu makin ke pusat kota maka bangunan kota semakin kuno sementara semakin ke luar perindustrian semakin berkembang pesat. Baca juga: Tata ruang Jakarta masa ke masa
Gambar: bbc.uk
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close