Guru Geografi: Geografi Kota - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Kota. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 5

3 Pilar Pembangunan Wilayah

3 Pilar Pembangunan Wilayah

Perencanaan pembangunan wilayah kini sudah menjadi kebutuhan yang vital bagi kemajuan suatu daerah dan negara. Tanpa ada perencanaan yang matang maka pembangunan wilayah akan tidak berjalan baik. 

Perencanaan wilayah semakin relevan dalam mengimplementasikan kebijakan ekonomi dalam aspek kewilayahan. Hoover dan Giarratani menyimpulkan tiga pilar penting dalam proses pembangunan wilayah yaitu:
3 Pilar Pembangunan Wilayah
Proyek Bandara Kertajati Majalengka
1. Keunggulan komparatif (imperfect mobility of factor)
Pilar ini berkaitan dengan kondisi ditemukannya sumber-sumber daya tertentu yang secara fisik relatif sulit atau memiliki hambatan untuk digerakan antar wilayah. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor lokal yang khas seperti iklim dan budaya yang mengikat mekanisme produksi sumber daya tersebut sehingga wilayah memiliki komparatif. 

Sejauh ini karakteristik tersebut senantiasa berhubungan dengan produksi komoditas dari sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, pertambangan, kehutanan dan kelompok primer lainnya. Baca juga: Soal HOTS geografi dan jawabannya

2. Aglomerasi (imperfect divisibility)
Pilar aglomerasi merupakan fenomena eksternal yang berpengaruh bagi perilaku ekonomi berupa meningkatnya keuntungan ekonomi secara spasial. 

Hal ini terjadi karena berkurangnya biaya-biaya produksi akibat penurunan jarak dalam pengangkutan bahan baku dan distribusi produk.

3. Biaya transport (imperfect mobility of good and services)
Pilar ini merupakan yang paling kasat mata mempengaruhi perekonomian. Dampaknyaadalah biaya yang terkait dengan jarak dan lokasi tidak dapat lagi diabaikan dalam proses produksi dan pembangunan wilayah.

Faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan dan pekembangan wilayah antara lain keputusan lokasional, terbentuknya sistem perkotaan dan mekanisme aglomerasi.
Gambar: disini

Kamis, September 28

5 Faktor Jakarta Bisa Tenggelam Lebih Cepat

5 Faktor Jakarta Bisa Tenggelam Lebih Cepat

Halo teman-teman, melihat judul di atas tentunya sangat menyeramkan juga ya. Tapi apa daya memang begitu adanya kok, masa sih?. 

Memang benar ya, kota Jakarta bisa tenggelam dan nanti menjadi the next Atlantis?. Jakarta ibukota kita tercinta ini sekarang di satu sisi tengah mengalami pembangunan yang pesat di berbagai fasilitas umum, namun disisi lain kota ini sedang berada dibawah ancaman mengerikan yaitu TENGGELAM. Inilah 5 faktor mengapa Jakarta bisa tenggelam lebih cepat dari perkiraan.

1. Global Warming
Fenomena global warming ini sudah terjadi sejak era revolusi Industri. Kegiatan manusia semakin memperbanyak konsentrasi gas efek rumah kaca dari industri dan transportasi. Hal ini membuat suhu rata-rata atmosfer meningkat dari abad ke abad. 

Peningkatan suhu ini berdampak pada mencairnya es di kurub dan pegunungan. Dampak lanjutannya adalah meningkatnya permukaan air laut. Kota-kota yang berada di dekat pantai akan terkena dampak ini sehingga harus mewaspadainya.  
2. Pesatnya Pembangunan
Pembangunan disatu sisi membuat Jakarta semakin menjadi kota metropolitan namun di sisi lain pemangunan bangunan beton di berbagai sisi membuat permukaan Jakarta semakin menurun setiap tahun. 

Menurut data penelitian Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) saja di daerah Muara Baru dari tahun 1970an - 2010, terjadi penurunan 4 meter. Ini baru satu wilayah dan yang lainnya sama mengalami penurunan. 
3. Ledakan Penduduk
Jakarta adalah kota terpadat di Indonesia dengan total lebih dari 10 juta jiwa. Bisa dibayangkan pengapnya kota ini. Ledakan penduduk ini tentu akan berdampak pada kondisi lain.

Konsumsi air tanah melonjak tajam sehingga volume air tanah menurun dan rongga udara akan banyak menghiasi di bawahnya maka penurunan tanah adalah dampak paling akhir. Padatnya penduduk membuat kebutuhan fasilitas seperti rumah, apartemen, kantor, jalan, rel kereta dan lainnya meningkat. Beban dari pembangunan tersebut akan mempercepat penurunan daratan Jakarta. Gambar: disini
Banjir Jakarta tahun 2013
4. Pendangkalan Sungai
Ada belasan sungai yang bermuara di Jakarta sehingga saluran air tersebut harus dipelihara dengan baik. Namun kini pendangkalan sungai sudah banyak terjadi di semua sungai. 

Pendangakalan ini disebabkan faktor alami yaitu dari erosi sungai dan limbah masyarakat. Kombinasi antara sampah dengan sedimen lumpur ini membuat kedalaman sungai menurun. Jika hujan lebat di hulu maka daya tampung air sungai menurun sehingga air meluap dan membanjiri daerah disekitarnya. 

Masyarakat harus sadar agar tidak membuang sampah ke sungai karena ini adalah  bom waktu yang siap meledak. Sebenarnya salah satu faktor banjir sering terjadi di Jakarta yaitu karena budaya masyarakat yang buang sampah ke sungai dan mereka seolah tidak menyadarinya atau pura-pura amnesia. 
5. Tata Kota Buruk
Sebuah kota harus memiliki perencanaan wilayah yang baik agar bisa mendatangkan kenyamanan bagi setiap penghuninya. Jakarta saat ini memang tengah berbenah di berbagai sisi untuk berevolusi menjadi kota yang layak huni. 

Akan tetapi penataan ruang di Jakarta masih sangat jauh dari harapan. Persentase ruang terbuka hijau masih jauh dari standar pemerintah. Saluran-saluran air di Jakarta masih sempit, beda halnya dengan di Tokyo atau London. 

Bangunan-bangunan liar dan kumuh masih banyak berdiri. Hal ini menjadi bom waktu yang mengancam di masa depan. Lihat saja saat hujan datang, pasti beberapa lokasi sudah tergenang. Ini baru hujan sebentar, bagaimana kalau sehari semalam atua berhari-hari tentu sudah pasti akan banjir besar. 

Jakarta merupakan tempat muara belasan sungai dan berada di dataran rendah. Desain pembangunan sesuai karakteristik fisik wilayah dikedepankan agar masa depan Jakarta masih bisa terselamatkan. 

Kita harus mengambil pelajaran dari Amsterdam, meskipun berada di bawah muka air laut namun mereka berinisiatif membangun tanggul raksasa untuk mengontrol air laut agar tidak masuk ke darat. 

Gambar: disini

Minggu, September 17

Tata Ruang Kota Secara Umum

Tata Ruang Kota Secara Umum

Kota pada dasarnya merupakan hasil peradaban manusia sebagai tempat bermukim dan berbagai macam aktivitas sosial, ekonomi dan budaya di dalamnya. 

Sebagai pusat segala macam aktifitas, kota merupakan daerah yang dinamis dan akan selalu mengalami perkembangan khususnya dalam sisi tata ruang. Baca juga: Konsep trickle down effect

Seiring berjalannya waktu struktur ruang kota berevolusi mengikuti kebutuhan manusia didalamnya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat kota akan mempengaruhi perubahan dan perkembangan tata ruang kota sehingga membentuk zona-zona perkotaan. 

Menurut keruangannya, zona-zona sebuah kota dapat dibedakan sebagai berikut:
Tata Ruang Kota Secara Umum
Kawansan CBD Sudirman
1. Inti Kota
Inti kota atau core  merupakan pusat kota yang didalamnya berkumpul berbagai macam kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan pemrintahan. Hal itu karena inti kora memiliki berbagai macam sarana dan prasarana yang mendukung kegitan tersebut. 

Sarana dan prasana dalam inti kota seperti superblok, perkantoran, pasar, pemukiman, stasiun, terminal, sekolah, rekreasi hingga kesehatan.

Adanya semua fasilitas penunjang tersebur membuat inti kota selalu sibuk dan tak pernah tidur. Pusat kota sering disebut juga sebagai CBD atau Central Bussiness District. Baca juga: Ciri awan cirrus, stratus dan cumulus

2. Selaput Inti Kota
Wilayah kota ini merupakan daerah yang berlokasi di luar inti kota dan terbentuk karena adanya pengembangan inti kota ke arah luar. 

Pengembangan ini tergantung pada ruang yang tersedia, kebutuhan penduduk, teknologi, faktor geografi hingga kebijakan pemerintah. Perkembangan selaput inti kota dapat membentuk pola-pola unit kegiatan seperti:
1. Sentralisasi, yaitu munculnya gejala pengelompokkan aktifitas pada tempat tertentu. Daerah ini pada umumnya merupakan pusar keramaian sehingga dapat menjadi inti selaput kota.
2. Nukleasi, yaitu pusat daerah kegiatan yang hampir sama dengan sentralisasi namun ukurannya lebih kecil.
3. Desentralisasi, merupakan gejala pengelompokan yang menjauhi titik pusat sehingga akan menghasilkan inti baru.
4. Segregasi, merupakan kelompok pemukiman yang terpisah karena perbedaan status sosial seperti pemukiman kumuh, pemukiman kelas atas/cluster dan rusun.

3. Kota Satelit
Merupakan daerah yang memiliki sifat kekotaan akibat dari perkembangan inti kota. Hal ini disebabkan inti kota sudah tidak mampu memberi daya dukung terhadap aktifitas kehidupan kota inti. 

Kota Satelit sering menjadi pusat industri dan produksi yang nantinya akan dikirim ke CBD. Baca juga: Beda patahan dextral dan sinistral

4. Sub Urban
Merupakan suatu daerah yang lokasinya terletak di sekitar pusat kota dan menjadi rumah para pekerja dan industri manufaktur. 

Sub urban merupakan batas kota dan desa dimana sifat masyarakat desa masih dijumpai dan menjadi daerah peralihan. 

Gambar: disini

Senin, September 11

Faktor Perkembangan Kota di Indonesia

Faktor Perkembangan Kota di Indonesia

Perkembangan kota sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di dalamnya. 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kota di Indonesia. Kamu tentu pernah berfikir mengapa harga tanah/properti makin hari makin melambung tinggi?. 

Saat ini lahan dan transportasi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tata guna lahan dan sistem transportasi menjadi bagian sistem keruangan yang dipengaruhi faktor eskternal. 

Komponen kedua variabel tersebut terus berkembang karena perubahan teknologi, kebijakan politik, ekonomi, demografi hingga budaya.

Baca juga:
Perbedaan meteorologi dan klimatologi
Potensi air tanah dangkal dan dalam

Hasilnya adalah interaksi tata guna lahan dengan jaringan transportasi selalu dikontrol oleh kebijakan daerah, pemilik properti dan masyarakat. Inilah yang menghasilkan evolusi sebuah kota. 

Coba lihat dahulu daerah Cikarang adalah lahan yang sangat tidak produktif, sekarang sudah menjadi kota raksasa dengan fasilitas kelas atas di dalamnya. 

Atau coba lihat Majalengka yang dulu merupakan kota pensiun kini sedang berbenah menjadi kota metropolitan. Berikut ini faktor perkembangan kota di Indonesia lebih jelasnya:

1. Tata Guna Lahan
Komponen ini adalah yang paling stabil pada sebuah dinamika kota. Dampak utama dari perubahan tata guna lahan adalah fungsinya sebagai penggerak dan penarik mobilitas penduduk. P

erubahan tata guna lahan akan memicu lonjakan harga sewa/jual tanah dan menjadi salah satu strategi investasi jangka panjang.

2. Jaringan Transportasi
Kehadiran sarana dan prasarana transportasi yang handal sangat penting bagi dinamika sebuah kota. Di berbagai tempat banyak dijumpai terminal/stasiun yang dibangun sejak berabad lalu dan masih eksis hingga saat ini. 

Kontribusi transportasi adalah penyedia aksesibilitas penduduk. Baca juga: Sistem klasifikasi iklim Koppen
Faktor Perkembangan Kota di Indonesia
Pembangunan Stasiun Cikarang mendongkrak nilai harga tanah disekitarnya
3. Mobilitas
Perubahan fisik kota akan memicu gerakan-gerakan penduduk baik secara horizontal atau vertikal. Kehadiran transportasi massal membuat penduduk dapat mudah menglaju dari satu lokasi ke lokasi lain. Mobilitas juga akan membawa hal-hal baru, ide baru, modal baru dan variabel lainnya.

4. Pekerja
Kota dibangun untuk kegiatan bisnis, pendidikan, jasa, hingga pemerintahan. Hal ini akan berdampak pada pesatnya permintaan tenaga kerja ke kota tersebut. Komuter adalah suatu fenomena yang umum dijumpai di kota besar seperti Jabodetabek.

5. Pemukiman
Pemukiman adalah sumber pekerja dan berfungsi sebagai penggerak. Perbedaan tingkat pendapatan juga biasanya akan mempengaruhi terhadap unit lokasi perumahan setiap penduduk sehingga akan ada stratifikasi perumahan. 

Kaum elite akan beli rumah di cluster perumahan elit, kaum menengah di pemukiman biasa, kaum bawah akan bermukim di kontrakan atau rumah susun.  

Baca juga: Menghitung teori titik henti

Gambar: sindonews

Sabtu, Agustus 26

Fenomena Mobil Murah di Indonesia

Fenomena Mobil Murah di Indonesia

Halo sahabat sekalian, semoga sehat selalu dan tetap produktif. Kali ini saya akan berbicara sedikit tentang fenomena yang terkati geografi transportasi yaitu fenomena mobil murah yang semakin menginvasi Indonesia. 

Mobil murah?, siapa yang tidak tergiur dengan slogan tadi. Pertumbuhan manusia yang cepat ditambah kondisi ekonomi yang membaik membuat penduduk Indonesia sudah banyak yang membutuhkan kendaraan dengan harga murah.

Beberapa dekade lalu mungkin kita hanya mengenal beberapa jenis merek mobil saja, namun kini berbagai dealer mobil sudah menjamur. Mobil murah menjadi senjata bisnis negara-negara maju di negara berkembang. 

Jadi jangan heran jika banyak macet disana-sini. Kalaupun jumlah ruas jalan itu ditambah maka kemacetan pasti selalu ada, paling tidak hanya berkurang sedikit. Mengapa demikian?. 

Karena pertumbuhan volumen kendaraan tidak sebanding dengan pertumbuhan ruas jalan. Jika misal satu hari ada 1.000 mobil keluar dealer di Jakarta maka pertumbuhan jalan paling cuma 10 meter per hari. 100 mobil kali panjang mobil misal 2 m saja sudah 200 m bukan. Gambar: disini

Jadi ya, kita realistis saja bahwa mobil murah ini memang salah satu penyebab kemacetan lalu-lintas. Belum lagi adanya fenomena ojek berbasis daring dimana kini mobil pribadi berkeliaran tiap hari di jalanan mencari penumpang. 

Apakah itu melanggar?. Tidak, itu fenomena wajar dan sudah menjadi takdir di era digital saat ini.

Mobil murah merupakan tanda bahwa masyarakat Indonesia perekonomiannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi dengan fasilitas kredit kita membeli mobil yang sesuai budget kita. Jadi kemacetan di jalanan merupakan kombinasi berbagai faktor guys, rumit. 

Regulasi mobil murah+program kredit ringan+ojek daring+jalanan sempit+manajemen lalu lintas+motor semakin banyak dan lainnya. Saya yakin meskipun pajak mobil dinaikan atau harga mobil dinaikan, tetap saja akan laku.

Lalu bagaimana dengan kondisi transportasi massal di Indonesia. Memang pertumbuhannya semakin membaik namun tetap tidak bisa mengimbangi jumlah populasi di kota besar yang semakin tidak terkendali. 

Fenomena mobil murah memang menjadi salah satu tanda bahwa pertumbuhan industri Indonesia semakin meningkat namun tentu harus diimbangi manajemen lalu-lintas yang handal agar kemacetan bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan.

Sabtu, Agustus 19

Delta Mas, Jababeka, Meikarta and What Next?

Delta Mas, Jababeka, Meikarta and What Next?

Halo selamat pagi pemirsa sekalian, bagiamana kabarnya hari ini?. Semoga sehat selalu dan semakin produktif. Baiklah sesuai judul diatas, mungkin kalian ada yang sudah paham maksudnya, apalagi Meikarta yang iklannya sudah beredar di televisi. 

Saya tidak sama sekali bermaksud mengiklankan merek-merek di atas namun hanya ingin mengulas fenomenanya saja mengingat ini ada kaitannya dengan geografi khususnya materi kutub pertumbuhan. 

Delta Mas, Jababeka, Meikarta dapat didefinisikan sebagai sebuah kota mandiri yang memiliki beragama fasilitas kehidupan di dalamnya.

Kutub pertumbuhan pada dasarnya adalah sebuah wilayah yang menjadi leading atau pusat kekuatan. Kekuatan apa?. Paling penting dan utama adalah bisnis dan ekonomi. 

Kutub pertumbuhan ini seperti magnet atau drakula yang mengisap para manusia untuk menjadi makanannya. Dimana ada manusia disitu ada uang, inilah konsep utama bisnis saat ini. Gambar: disini
Delta Mas, Jababeka, Meikarta and What Next?
Proyek Kota Mandiri yang sedang dibangun dekat tol Cikampek
Saya sering bulak-balik melintasi jalur tol melewati Cikampek. Jalur Cikampek ini merupakan jalur emas dimana semua pergerakan barang jasa melintasi jalan tol ini. Saat ini bahkan sedang dibangun konstruksi jalan tol layang Cikampek II. 

Ini menandakan begitu pentingnya jalur ini bagi mobilitas manusia, barang dan jasa. Setiap hari kendaraan dari mulai mobil kecil, bis, truk trailer lalu lalang mengangkut komoditas melalui jalur ini. 

Selain itu yang tidak kalah penting, proyek kota mandiri yang sedang dibangun saat ini berada di jalur kereta cepat Jakarta-Bandung. Kok bisa tepat gitu sih?. Inilah bagian dari politik. Semua kebijakan apapun berkaitan erat dengan pemegang kekuasaan pada suatu negara.

Di sepanjang jalan tol Cikampek dari mulai keluar Bekasi hingga Kawarang sudah banyak berdiri kota-kota mandiri macam judul di atas. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?. Kebutuhan, Jakarta sebagai kota induk membutuhkan kota-kota satelit pendukung khususnya di sektor pemukiman.

Saya yakin mayoritas kini para pekerja di Jakarta memiliki hunian di luar Jakarta mengingat sudah tidak ada lagi perumahan dengan harga yang terjangkau disana. Jadi beruntunglah manusia yang hidup di Jakarta dari zaman dahulu, mendapatkan tanah disana.

Fenomena ini memaksa Jakarta membutuhkan kota satelit pendukung dan lahirlah Delta Mas, Jababeka dan saat ini Meikarta. Lalu siapa pengembang yang memiliki kota-kota tadi?. 

Saya tidak akan bahas disini, yang jelas dengan melihat logo di jalan tol pun pasti kalian tahu. Harga properti saat ini sudah semakin gila. Harga hunian paling murah di Meikarta saja di kisaran 400 jutaan. 

Lambat laun nanti konsep Megalopolis akan terbentang dari Jakarta-Bekasi-Karawang dan mungkin nanti hingga Kertajati Majalengka yang kini sedang dibangun bandara level internasional. 

Apakah kamu ingin punya investasi di kota mandiri tersebut?. Tentu bisa. Lalu apa yang bisa melawan inflasi?. Jawabannya adalah kreatifitas. Kreatifitas adalah kunci utama untuk melawan inflasi di era ekonomi liberal saat ini. 

Jika kamu hanya bergantung pada gaji yang tiap bulan kamu dapatkan, saya yakin tidak akan bisa alias sulit. Kamu nabung saat ini, kemudian 10 tahun lagi harga rumah sudah naik 100 kali lipat. 

Tidak seimbang bukan?. Buatlah sebuah produk/karya lalu posting di media sosial. Jika produk kamu bermanfaat pasti akan banyak transaksi.

Di era kapitalisme saat ini, siapa yang memiliki modal maka ia yang akan berkuasa. Kota-kota mandiri macam Delta Mas, Jababeka dan Meikarta adalah sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. 

Dengan modal hingga ratusan triliun, mereka bisa menyulap lahan tidak bertuan menjadi sebuah kota prestisius. Sekali lagi ini saya tidak diminta beriklan tentang produk-produk yang saya sebutkan, namun hanya mengulas fenomenanya saja. Kalau ada pihak yang diuntungkan, ya biarlah anggap saja amal. He.

Lalu setelah Delta Mas, Jababeka, Meikarta...what next?

Rabu, Agustus 16

Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli

Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli

Kota merupakan sebuah unit kehidupan manusia yang begitu penting saat ini. Lalu apa itu pengetian kota?. Dalam usaha merumuskan pengertian kota, para ahli punya macam-macam pendapat, masing-masing punya alasan tentunya. Berikut ini saya berikan contoh definisi kota menurut berbagai ahli geografi dari masa ke masa.

Mayer melihat kota sebagai temapt bermukim penduduknya. Baginya yang penting dengan sendirinya bukan rumah, jalan, tempat ibadah, kantor, taman dan lainnya. Tapi penghuni yang menciptakan semua itu. Meski kota sebagai pemukiman dan wadah komunikasi manusia itu penting, untuk memahami kota maka faktor manusianya juga penting.

Ini menyangkut nilai-nilai, peraaan, kenangan mereka bersama dalam berogranisasi. Kota memang mewujudkan hasil karya peradaban, meski lahirnya dari pedesaan juga. Pedesaan dirasa sebagai kawasan yang melingkupi kota, kota punya jiwanya sendiri, organisasinya, kesenian, dan kebudayaan sendiri. 
Pengertian Kota Menurut Berbagai Ahli
Kota adalah hasil karya manusia
Mumford lebih melihat kota sebagai suatu tempat pertemuan yang berkiblat keluar. Malah sebelum kota menjadi tempat tinggal tetap, manusianya bolak-balik dari desa untuk berjumpa dengan kerabatnya di kota secara teratur. Disitu kota terlihat sebagai magnet yang semakin kuat tarikannya baik bagi perekonomian maupun keagamaan.

Max Weber memandang kota itu sebagai sebuah wilayah yang penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar lokal. Adapun barang-barangnya dilokalisasi juga dan ditambah dari desa. Jadi pasar adalah ciri yang paling utama.

Christaller memang fungsi kota sebagai tempat penyelenggaraan dan penyediaan jasa-jasa bagi wilayah sekitarnya. Kota merupakan pusat pelayanan seperti dalam teorinya Central Place Theory. Jadi kota bukan berawal dari pemukiman namun dari hadirnya pusat pelayanan. Jangkauan pusat pelayanan menandakan kuat tidaknya pengaruh kota.

Sjoberg melihat lahirnya kota lebih diakibatkan karena timbulnya suatu golongan spesialis non agraris dimana yang berpendidikan merupakan penduduk paling penting. Mereka itu adalah ahli literasi yakini golongan pujangga, sastrawan, ahli agama, mereka adalah awal pendiri kota. Baru setelah itu muncul pembagian kerja dalam kehidupan kota.

Wirth merumuskan kota sebagai pemukiman yang relatif besar padat dan permanen dengan penduduk yang heterogen kedudukan sosialnya. Karena itu hubungan sosial antara penghuninya sangat longgar, acuh dan relasinya tidak pribadi.

Marx dan Engels memandang kota sebagai perserikatan yang dibentuk untuk melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat produksi untuk mempertahankan diri dari para penduduknya. Bedanya dengna desa, di kota terjadi pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi. Individu-individu terbagi atas dua golongan kegiatan itu sehingga terasa ada pemencilan.

Harris dan Ullman melihat kota sebagai suatu pusat untuk pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Manusia disitu unggul dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Namun disamping ada pertumbuhan kota, disana terjadi pemiskinan bagi kalangan yang termarjinalkan sehingga timbul berbagai masalah sosial. Baca juga: Konsep trickle down effect

Sumber: Daldjoeni. Geografi Kota dan Desa
Gambar: disini

Rabu, Agustus 9

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia

Faktor pendorong urbanisasi sangat banyak dan saya akan mencoba membahasnya satu per satu. 

Pemukiman kota tumbuh terus-menerus seiring bertambahnya penduduk di dunia dan pesatnya migrasi.

Pada awal abad ke 19, penduduk dunia yang tinggal di perkotaan hanya 10% saja namun saat ini sudah melewati angka  50%. 

Lahan-lahan hutan, pertanian kini banyak yang diubah menjadi pemukiman, apartemen, kota dan lainnya. 

Faktor Pendorong Urbanisasi di Indonesia
Urbanisasi adalah sebuah fenomena sosial

Adapun faktor-faktor pendorong urbanisasi menurut Whynne dan Hammond ada delapan yaitu:

1. Kemajuan bidang pertanian
Adanya mekanisasi pertanian mendorong beberapa hal seperti terserapnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri. Lainnya, bertambahnya produktifitas pertanian menjadikan pendapatan petani meningkat dan taraf hidupnya meningkat. 

 

Kemajuan teknologi membuat pengelolaaan lahan petanian lebih efisien dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja karena diganti oleh mesin. Selain itu upah yang rendah di sektor pertanian membuat mereka mencari lahan baru di kota.

2. Industrialisasi
Revolusi industri membuat dunia berubah cepat dan mesin-mesin kini sudah menguasai kehidupan. Banyak pabrik-pabrik yang dibangun di lokasi baru sehingga membutuhkan tenaga kerja baru. Seiring tumbuhnya industri maka kota baru akan terbentuk. Lihatlah Cikarang, Jababeka dan sekarang Meikarta sudah mulai didesain di Bekasi.

3. Adanya pasar
Berkembangnya industri akan melahirkan banyak kota baru yang menawarkan diri sebagai pasar industri tersebut. Luasnya pemasaran membuat kebutuhan pekerja semakin banyak dan para pekerja di desa mulai pindah ke kota.

4. Peningkatan layanan umum
Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan kegiatan perdagangan, taraf hidup dan memicu lahirnya organisasi berbasis ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa tumbuh di perkotaan mulai  dari hiburan, catering, kantor, wisata dan lainnya.

5. Kemajuan transportasi
Dibangunnya jalan raya, rel kereta, rute penerbangan membuat masyarakat dapat dengan mudah melakukan mobilitas. Akses yang baik, membantu seseorang untuk bergerak dari desa ke kota.

6. Tarikan sosial budaya
Di kota banyak hal menarik yang tidak ada di desa seperti bioskop, rekreasi, pendidikan hingga telekomunikasi. Desa sangat erat dengan adat yang kaku dan hal ini membuat masyarakatnya tidak betah dan ingin berubah untuk melihat masa depan yang lebih baik.

7. Pendidikan
Sarana pendidikan banyak tumbuh dengan baik di perkotaan dibandingkan pedesaan. Perguruan tinggi tidak ada di tingkat desa dan masyarakat desa yang ingin menimba ilmu harus merantau ke kota.

8. Pertumbuhan penduduk alami
Tingkat ekonomi penduduk kota yang tinggi mebuat pertumbuhan penduduk kota cenderung tinggi. Fasilitas kesehatan yang memadai membuat angka kelahiran meningkat dan menambah pesat kota.  

Baca juga: Konsep trickle down effect

Gambar: disini

Selasa, Agustus 8

Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL

Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL

Halo sahabat blogger sekalian, apa kabarnya hari ini?. Semoga sehat selalu ya. Kali ini saya akan sedikit membahas tentang apa bedanya antara LRT dengan MRT. 

Pertumbuhan penduduk di perkotaan saat ini sangat cepat khususnya di kota besar sehingga masyarakat membutuhkan moda transportasi yang cepat, aman dan efisien. 

Salah satu moda transportasi yang sedang dibangun saat ini di Indonesia adalah LRT dan MRT. Kalau kamu pergi ke Jakarta pasti sudah ada tiang pancang di samping tol Cikampek bukan?.

MRT merupakan singkatan dari Light Rail Transit sementara MRT merupakan singkatan dari Metro Rail Transit. MRT dan LRT sudah dikembangkan di negara maju sejak jaman dahulu dan hingga kini masih menjadi moda transportasi yang handal. Pada dasarnya baik MRT maupun LRT adalah salah dua moda transportasi massal yang anti macet.
Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL
Bentuk LRT Modern
LRT
Light Rail Transit telah dikembangkan secara khusus untuk mengangkut penumpang berpergian di dalam kota. Sistem kereta ini fokus pada skema perumahan lokal agar masyarakat bisa menjangkau titik-titik tertentu di dalam kota. 


Ada banyak lokasi pemberhentian atau transit dan ukurannya pun lebih kecil. LRT memiliki kecepatan yang relatif rendah dibanding MRT. LRT kini menjadi moda transportasi penting di kota kelas dunia seperti Singapura misalnya. T

rek LRT kini banyak dibangun melayang untuk menghemat lahan seperti LRT Bekasi-Jakarta.
Perbedaan Moda Transportasi LRT, MRT dan KRL
MRT di Munich Jerman
MRT
Mass Rapid Transit merupakan sistem kereta yang terdiri dari beberapa gerbong yang bergerak dengan kecepatan lebih tinggi dari LRT. MRT dibangun untuk memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk yang padat sehari-hari. 

MRT banyak dibangun di bawah tanah dan memiliki stasiun yang besar. Panjang rel MRT bisa mencapai 100 km lebih. 

Baik LRT atau MRT bisa digerakan dengan manual atau otomatis. LRT dan MRT menawarkan berbagai keuntungan. Pertama, keduanya merupakan jenis transportasi murah ongkos. Kemudian keduanya ramah lingkungan dan nyaman digunakan. Moda transportasi ini juga bebas macet.

Kelemahan moda transportasi massa ini adalah saat penumpang terlalu penuh maka gerbong akan dijejali banyak orang. Suasana pengap, panas dan bau juga bisa saja muncul. 

LRT dan MRT merupakan moda transportasi berbasis rel dan mendukung penggunaan KRL Commuter Line yang saat ini sudah banyak digunakan penduduk. 

KRL jalurnya masih berbarengan dengan jalur kereta jarak jauh sehingga waktu tempuhnya masih agak lambat. LRT dan MRT dibangun untuk mengurangi beban KRL di Jabodetabek. 
Gambar: disini, disini

Rabu, Juni 14

Pola Pengembangan Wilayah Negara Maju

Pola Pengembangan Wilayah Negara Maju

Negara maju pada dasarnya merupakan negara yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan produk bernilai jual tinggi sehingga pendapatan negaranya tinggi. 

Tidak selamanya negara yang memiliki wilayah luas dapat menjadi negara maju. Aspek penting dari maju tidaknya sebuah negara adalah kualitas manusia di dalamnya. 

Ada negara yang miskin sumber daya namun ia bisa menguasai dunia dengan produk-produk andalannya seperti Jepang, Korea, Amerika, Singapura dan lainnya. Lantas bagaimana pola pengembangan wilayah di negara maju?. 

Baca juga:
Perbedaan kerak benua dan kerak samudera 
Jenis-jenis pola aliran sungai

Berbicara pola pengembangan wilayah negara majua maka akan sangat berbeda dengan pola pengembangan di negara berkembang. Di negara berkembang, secara umum pola pertumbuhan wilayah sangat tidak teratur dan banyak yang tidak sesuai zonasi yang telah ditentukan pemerintah. 

Atau bahkan pemerintah tidak membangun wilayah sesuai karakteristiknya. Berikut ini beberapa contoh pola pengembangan wilayah di negara maju:

1. Merencanakan Sistem Zonasi
Sebelum membangun sebuah wilayah, maka akan ada riset atau penelitian awal terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk memastikan nantinya wilayah berkembang sesuai dengna potensinya dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Zona industri ditempat di lokasi yang jauh dair pemukiman, tempat pembuangan akhir sampah dibangun jauh dari kota. Hal ini dilakukan agar kualitas kehidupan penduduk di wilayah tetap terjaga. Coba lihat di Indonesia, contohnya tempat pembuangan akhir sampah dekat dengan kota. 

Dampaknya tiap hari bau busuk selalu dihirup warga. Ini membuat kualitas hidup menurun. Industri dibangun di wilayah yang bukan peruntukannya. 

2. Mereklamasi Lahan
Bagi negara-negara yang memiliki lahan sempit dan dekat laut, jalan reklamasi menjadi pilihan terbaik. Dengan mereklamasi laut mereka akan memperluas area negara. Contoh nyata adalah Singapura dan Uni Emirat Arab. Baca juga: Batas lempeng tektonik
Kota Dubai di UEA
3. Berbasis Teknologi 
Kota-kota di negara maju dikembangkan dengan basis teknologi yang tinggi dan ramah penduduk. Jalur transportasi sangat memadai, aman dan nyaman. Tidak ada kemacetan parah dan setiap lokasi dipantau oleh CCTV. 

Di Cina kini sudah ada jalur monorel yang menembus apartemen. Konsep kota masa depan kini sudah mulai dibangun oleh negara maju. Jadi kota-kota modern abad 21 yang sering kamu lihat di film fantasi atau Doraemon akan segera terwujud beberapa dekade ke depan.
Kota-kota di negara maju sudah menerapkan konsep berwawasan lingkungan dalam model pengembangannya. Lihat bandara Changi di Singapura yang kini disulap menjadi kawasan hutan tropis di dalamnya. 

Lihat juga Central Park di New York yang dibangun agar masyarakatnya bisa refreshing melepas kepenatan di sana. Baca juga: Pola Pengembangan Negara Berkembang

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close