Guru Geografi: Geografi Lingkungan | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 8

Sampah di Ekosistem Hutan Bakau Jakarta

Sampah di Ekosistem Hutan Bakau Jakarta

Rhizopora sp.
Beberapa pekan lalu saya dan keluarga (istri dan dua anak saya) coba-coba liburan di akhir pekan. Karena rumah kami di Bekasi maka saya searching lokasi yang berbau alam gitu aja deh. Namanya anak geografi ya pastinya senang bermain di alam.

Lalu kami searching di google dan dapatlah lokasi pilihannya yaitu Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara. Sebenarnya dulu pernah sekali mengungjungi tempat ini tapi karena kangen aja ingin lihat hutan bakau jadi ya sudah kita pergi lagi ke sana.

Dari rumah kami berangkat pakai mobil lewat tol Jatiasih sampai dengan PIK. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 40 menitan saja karena gak macet.

Setelah sampai di lokasi mobil di parkir dan kami beli tiket. Turun dari mobil ternyata lokasinya sedang banjir rob. Lokasi parkiran pun ada yang banjir dan beberapa ruas jalan utama menuju kawasan wisata juga tergenang.

Tiket masuk 3 orang dewasa pokonya 100 ribuan gitu. Setelah itu kami masuk ke dalam dan melihat kondisi hutan mangrove Jakarta saat ini. Untuk warung-warung makan masih ada yang buka sebagian, gak semuanya karena trafik pengunjung memang sedang turun.

Ada banyak jenis vegetasi hutan bakau atua mangrove, tapi kebanyakan di PIK ini yang saya temukan adalah jenis Rhizopora sp. Ciri dari vegetasi ini adalah akarnya yang mencuat bercabang-cabang ke bawah permukaan lumpur dan menggantung.
Sampah di area hutan bakau

Beberapa spesies flora lain juga ditemukan disini seperti pandan, selain itu ada kera juga yang hidup di dahan-dahan hutan.

Nah salah satu sisi negatif yang saya temui di hutan bakau ini adalah airnya yang tercemar sehingga bau. Polutan dari limbah pabrik dan domesti penduduk ibukota mengalir sampai ke muara. 

Selain itu sampah-sampah plastik juga banyak ditemukan tersangkut di akar-akar pohon. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan dan mengancam kelestarian ekosistem mangrove PIK Jakarta. 

Hutan mangrove memiliki berbagai macam fungsi dari mulai fungsi ekologi, ekonomi, sosial dan lainnya. Hutan mangrove adalah benteng kota dari ancaman abrasi dan tsunami yang bisa saja mengancam sewaktu-waktu.

Jadi pemerintah dan masyarakat tentunya harus bersinergi untuk menjaga salah satu kekayaan hutan Indonesia ini. Semoga kedepannya ada langkah konkrit untuk menghilangkan bau polusi dan sampah-sampah yang ada di ekosistem mangrove ini.

Sabtu, Agustus 31

Pengertian Iklim Mikro dan Komponennya (Suhu dan Kelembaban)

Pengertian Iklim Mikro dan Komponennya (Suhu dan Kelembaban)

Iklim adalah kondisi atmosfer dalam waktu lama dan meliputi wilayah luas. Kondisi iklim dipengaruhi berbagai faktor.

Untuk melihat perkembangan iklim maka ahli iklim membagi iklim kedalam iklim makro dan mikro. Kita akan coba ulas tentang iklim mikro karena sehari-hari kita bersinggungan dengan hal ini.

Iklim mikro menurut Tromp(1980) dalam Margaretha (2007) berhubungan dengan  tanaman di atas wialayah yang khas. 

Iklim mikro menggambarkan kondisi iklim  lingkungan sekitar yang berhubungan langsung dengan organisme hidup dekat  permukaan  bumi  maupun  pada  lingkungan terbatas.  

Dalam Kartasapoetra (2006), menjelaskan bahwa  kondisi  iklim  mikro  di  lingkungan  bervegetasi lebih baik dibandingkan dengan lapangan terbuka. 

Dalam Brown  dan  Gillespie (1995), dinyatakan bahwa  iklim  mikro  merupakan kondisi  iklim  pada suatu    ruang yang sangat  terbatas, yang dipengaruhi oleh radiasi matahari, suhu udara,  kelembaban udara dan  curah  hujan.  

Unsur-unsur  iklim mikro  memiliki peranan  yang   sangat   penting   dalam   menentukan kenyamanan suatu  wilayah/kawasan karena  unsur-unsur iklim tersebut  secara  langsung  mempengaruhi kegiatan manusia yang berada di dalamnya. 

Menurut Miller (1970) dalam Margaretha (2007) menyatakan bahwa iklim mikro banyak  dipengaruhi oleh  faktor  lokal diantaranya karakteristik  vegetasi, badan air yang  kecil  seperti  danau,  juga  aktivitas manusia dapat mengubah kemurnian pada iklim mikro diantaranya  intesitas  energi  radiasi matahari, struktur permukaan yang bervariasi dengan warna komposit dan karakteristiknya pada  permukaan bumi, distribusi daratan  dan  lautan  serta  pengaruh  pengunungan  atau bentuk topografi dan angin.
Ruang terbuka hijau penting pengatur iklim mikro
Suhu Udara
Suhu  adalah  derajat  panas  atau  dingin  yang diukur  berdasarkan    skala    tertentu    dengan menggunakan  termometer. Satuan  suhu  yang biasa   digunakan   adalah   derajat celcius, sedangkan di  Inggris dan  beberapa  negara lainnya dinyatakan dalam derajat fahrenheit.  

Di daerah  tropis, manusia  akan  merasa  relatif nyaman  jika  berada  pada  suhu  sekitar 27-28 derajat C. Suhu udara yang cukup  panas  pada suatu  area selain  karenaradiasi  matahari yang  tinggi  yaitu rata-rata  50%, juga  karena pantulan  dari perkerasan  jalan,  bangunan  maupun  pantulan perkerasan lainnya  yang ada pada tapak (Laurie, 1986). Menurut Handoko (1995), suhu udara sangat erat berhubungan dengan  radiasi  matahari.  

Pada siang hari  radiasi  terlebih  dahulu  akan memanaskan  tajuk  bagian  atas  kemudian makin ke bawah dan akhirnya lantai hutan. Pada malam hari  pendinginan  dimulai dari tajuk  bagian  atas dan  akhirnya lantai  hutan  sehingga  suhu  udara terendah  terdapat  pada tajuk  bagian  atas  dimana panas  yang  hilang  relatif  lebih  besar  daripada bagian hutan lainnya. Oleh sebab itu, tajuk hutan bagian  atas  merupakan  suatu  permukaan  radiasi yang aktif.

Kelembaban Udara
Kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di  udara. Menurut  Handoko  (1995), kelembaban  udara dapat dinyatakan  sebagai kelembaban  mutlak, kelembaban  nisbi, maupun defesit  tekanan  uap  air.

Angka  kelembaban relatif berkisar  antara  0-100%,  dimana  0% artinya  udara  kering, sedangkan 100%  artinya udara  jenuh dengan uap air, dimana  akan terjadi titik-titik  air.  Keadaan  kelembaban  yang tertinggi  ada  di  khatulistiwa, sedangkan  yang terendah pada lintang 40 derajat C, yang curah hujannya relatif kecil (Prawirowardoyo, 1996).

Minggu, Mei 19

Dimensi, Peran Penduduk Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Dimensi, Peran Penduduk Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan. 

Artinya pembangunan harus terus berlanjut dari satu generasi ke generasi selanjutnya agar kebutuhan manusia dapat terus terpenuhi dan peradaban semakin terus berjalan.

Secara garis besar, pembangunan berkelanjutan memiliki empat dimensi yaitu, dimensi ekologis, dimensi sosial-ekonomi-budaya, dimensi sosial politik dan dimensi hukum-kelembagaan.

 Dari sisi dimensi ekologis, secara prinsip agar dapat terjaminnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) diperlukan :

a)    Keharmonisan spasial (spatial suitability)
b)    Kapasitas asimilasi
c)    Pemanfaatan berkelanjutan


Syarat keharmonisan spasial adalah suatu wilayah pembangunan seperti kota dan kabupaten diharapkan tidak seluruhnya diperuntukan bagi zona pemanfaatan tapi harus pula dialokasikan sebagiannya untuk kawasan konservasi maupun preservasi. 


Keberadaan kawasan konservasi dan preservasi dalam suatu wilayah pembangunan sangat vital dalam memelihara berbagai proses penunjang kehidupan seperti membersihkan limbah secara alami, siklus unsur hara dan hidrologi serta sumber keanekaragaman hayati.

Dari dimensi sosial ekonomi, pola dan laju pembangunan harus dikelola sedemikian rupa sehingga total permintaannya (demand) terhadap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan tidak melampaui kemampuan suplainya. 


Kualitas dan jumlah permintaan tersebut ditentukan oleh jumlah penduduk dan standar kualitas kehidupan masyarakatnya. Secara sosial- ekonomi, konsep pembangunan berkelanjutan mensyaratkan bahwa manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembangunan suatu daerah harus diprioritaskan untuk kesejahteraan penduduk
Sampah produk peradaban manusia merusak lingkungan

Penduduk merupakan bagian penting atau titik sentral dalam pembangunan berkelanjutan, karena peran penduduk sejatinya adalah sebagai subjek dan objek dari pembangunan berkelanjutan. 

Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cepat, namun memiliki kualitas yang rendah, akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal antara kuantitas dan kualitas penduduk dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan yang semakin terbatas.

Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di suatu negara, diperlukan komponen penduduk yang berkualitas. 


Karena dari penduduk berkualitas itulah memungkinkan untuk bisa mengolah dan mengelola potensi sumber daya alam dengan baik, tepat, efisien, dan maksimal, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. 

Sehingga harapannya terjadi keseimbangan dan keserasian antara jumlah penduduk dengan kapasitas dari daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.

Konsep pembangunan berkelanjutan pada dasarnya mengandung tiga elemen dasar; tidak hanya elemen tradisional 'lingkungan' tetapi juga elemen 'sosial' dan 'ekonomi' dari pembangunan yang harus disertakan. 


Aspek 'manusia' kemudian menjadi salah satu isu sentral dalam pelaksanaan pembangunan perkotaan. 

Di lain pihak, secara teknis konsep pembangunan berkelanjutan dalam penataan ruang perkotaan mencakup hal-hal sebagai berikut :

1.    Pemanfaatan sumber daya perkotaan dengan menimbang wilayah yang lebih luas
2.    Pengembangan bentuk dan struktur perkotaan yang hemat energi
3.    Pemanfaatan lahan perkotaan yang menghindari kawasan peka lingkungan
4.    Penggunaan prosedur Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai salah satu dasar dalam penilaian usulan pembangunan kegiatan yang diduga akan memberi dampak penting terhadap lingkungan hidup perkotaan.


Sumber: Modul Pengembangan Guru

Rabu, Maret 27

Contoh Prinsip Ekoefisiensi Pembangunan Berkelanjutan

Contoh Prinsip Ekoefisiensi Pembangunan Berkelanjutan

Halo teman-teman kali ini kita akan mengulas materi tentang pembangunan berkelanjutan yaitu prinsip ekoefisiensi. 

Prinsip ekoefisiensi adalah gabungan dari kata eco dan efficient. Ekoefisiensi adalah suatu proses menghasilkan produk melalui teknologi namun dengan mengurangi penggunan sumber daya dan dampak lingkungan yang akan terjadi. 

Ekoefisensi berlaku bagi semua jenis industri baik primer, sekunder bahkan kuartener.

Penerapan konsep ekoefisiensi saat ini sangat penting dimana ketersediaan bahan baku mentah yang semakin berkurang akibat eksploitasi. 

Bisnis yang menggunakan prinsip ekoefisensi akan lebih menguntungkan dan kompetitif karena mereka menggunakan sedikit bahan baku alam, air, energi, mengurangi limbah dan polusi dan lebih menekankan pentingnya daur ulang dan rekayasa produksi menggunakan teknologi terbarukan.

Aspek utama dari prinisp ekoefisiensi adalah sebagai berikut:
1. Pengurangan konsumsi energi, air dan bahan mentah.
2. Mengurangi polusi dan limbah.
3. Perluasan fungsi produk atau layanan.
4. Penggabungan prinsip siklus hidup.
5. Mempertimbangkan daur ulang sebuah produk.
6. Peningkatan intensitas layanan.
Contoh Prinsip Ekoefisiensi Pembangunan Berkelanjutan
Genteng dari tanah liat lebih ramah lingkungan
Contoh-contoh kegiatan ekoefisiensi di berbagai bidang kehidupan yaitu:
1. Industri
- Membangun lokasi industri jauh dari pemukiman untuk meminimalisir kebisingan dan pencemaran.
- Membuat instalasi limbah terpadu agar tidak mencemari lingkungan.
- Menggunakan teknologi ramah lingkungan dan hemat listrik.

2. Kehutanan
- Pelaksanaan sistem tebang pilih artinya disesuaikan umur tumbuhan yang ideal untuk ditebang.
- Melakukan reboisasi setelah penebangan kayu.

3. Rumah Tangga
- Menghindari pola hidup konsumtif dan boros.
- Menghemat listrik dan air.
- Menggunakan genteng dari tanah liat agar bisa menyerap panas dengan baik.
- Mengelola keuangan rumah tangga secara baik
- Menggunakan paving block di jalan depan rumah dibaningkan aspal/beton.

4. Pertanian
- Melakukan multiple cropping.
- Tidak menggunakan pestisida.
- Mengaplikasikan hidroponik dan vertikal farming.
- Menghemat irigasi dengan menggunakan teknologi.

Kamis, Desember 6

Pengertian Deforestasi, Degradasi dan Fragmentasi Hutan

Pengertian Deforestasi, Degradasi dan Fragmentasi Hutan

Deforestasi adalah fenomena penghilangan wilayah hutan untuk kepentingan tertentu yang tidak berkaitan dengan fungsi hutan. 

Kegiatan deforestasi dilakukan untuk berbagai kepentingan seperti peternakan, pertanian dan perkotaan. Dalam kondisi ini maka pohon tidak akan ditanam kembali. 

Data menunjukkan bahwa sekitar 2.000 pohon ditebang setiap menit. Mengejutkan karena 36 juta hektar hutan hujan lenyap setiap tahun. Apakah ini hal serius? Tentu, sangat serius dan berbahaya.

Sejak revolusi industri beberapa abad lalu, setengah dari tutupan hutan dunia telah dihancurkan dan jutaan hewan dan mahluk hidup dalam ancaman kepunahan. 

Meski kita telah melakukan berbagai macam pendekatan pendidikan, sosialisasi dan sebagainya namun deforestasi tetap terjadi. Masih banyak manusia yang menghilangkan hutan untuk kepentingan pribadi.

Hutan ditebang untuk beberapa alasan seperti:
1. Dimanfaatkan kayu dan komponen lain untuk meubel, ekspor, kerajinan dan lainnya.
2. Untuk kepentingan pertanian seperti perkebunan sawit.
3. Membangun pemukiman transmigrasi atau industri baru.
4. Membuka area tambang batubara dan bahan galian lain.

Degradasi Hutan berbeda pengertiannya dengan deforestasi. Degradasi adalah penurunan kualitas dari fungsi hutan itu sendiri. Degradasi yang berkepanjangan dapat memusnahkan hutan di masa depan. 

Degradasi dapat menurunkan tingkat tutupan vegetasi, perubahan struktur dan pengurangan jumlah spesies yang ada di lingkungan tersebut. Gambar: disini
Pengertian Deforestasi, Degradasi dan Fragmentasi Hutan
Deforestasi hutan memprihatinkan
Faktor penyebab degradasi hutan antara lain:
1. Kebakaran
Di beberapa hutan tropis maupun boreal, kebakaran hutan masif bisa terjadi dalam satu waktu. Kebakaran ini bisa disebabkan oleh manusia, kecelakaan atau alamiah. Contohnya kebakaran hutan di California AS merusakan ribuan hektar lahan hutan. Kebakaran hutan berdampak pada populasi mahluk hidup yang ada di dalamnya.
2. Perubahan Iklim
Iklim ekstrim dapat menyebabkan degradasi hutan dan mengeringkan saluran air di sekitarnya. Hewan-hewan bisa bermigrasi dan mengurangi kualitas ekosistem hutan.
3. Pestisida dan Penyakit
Hama atau wabah penyakit bisa memicu degradasi hutan. Hutan yang terdegradasi bisa dipulihkan dengan beberapa tindakan. Milyaran hektar hutan di dunia perlu direhabilitasi dari degradasi.

Degradasi hutan juga berkaitan dengan fragmentasi hutan. Fragmentasi hutan membuat wilayah hutan yang tadinya luas menjadi terpecah-pecah sehingga ada sekat antara satu hutan dengan hutan lainnya. 

Hal ini tidak baik bagi keberlangsungan flora fauna di dalamnya karena lebih baik hidup di satu lokasi tanpa batas dibandingkan hutan yang terpisah-pisah. 

Deforertasi, degradasi dan fragmentasi hutan adalah masalah lingkungan yang terus terjadi dan menjadi keniscayaan. 

Kebutuhan mahluk hidup yang meningkat akibat peradaban memaksa hutan menjadi korban rakusnya manusia.

Selasa, Mei 22

Jumlah Pohon di Bumi Ada 3 Trilyun, Benarkah?

Jumlah Pohon di Bumi Ada 3 Trilyun, Benarkah?

Pohon adalah salah satu komponen penting dalam kehidupan di planet Bumi kita. Bayangkan jika gak ada pohon, memang akan ada oksigen?. 

Tentu tidak. Tapi apakah kamu pernah berfikir untuk menghitung jumlah pohon yang ada di dunia?. Gila aja, masa sampai segitunya sih?. 

Namun anda jangan salah, para peneliti dari Yale University AS telah membuat suat kajian penelitian tentang estimasi jumlah pohon yang ada di dunia dan hasilnya mengejutkan.

Menurut Yale University hingga kini setidaknya ada 3 trilyun pohon di dunia ini. WOo!!!. Data tersebut menunjukan 7,5 kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya dan setiap orang di dunia secara kasar diapit oleh 422 pohon selama hidupnya. Cukup bagus bukan?.

Bagaimana orang-orang bisa tahu jumlah pohon sampai 3 trilyun?. Apa mereka hitung satu per satu?. Sebuah tim internasional menggunakan satelit dan teknologi superkomputer untuk memetakan populasi pohon di dunia dan anda bisa mendapatkan hasilnya di jurnal Nature. 

Studi ini terinspirasi dari organisasi global bernama "Plant for the Planet" yang mengkampanyekan penanaman pohon di seluruh dunia untuk mengurangi efek perubahan iklim. Mereka meminta peneliti Yale University untuk memprakirakan total populasi pohon di dunia.
Jumlah Pohon di Bumi Ada 3 Trilyun, Benarkah?
Pohon adalah sahabat manusia
Akan tetapi angka tadi hanyalah perkiraan kasar karena menggunakan metode citra satelit dan perkiraan luas hutan namun tidak menggunakan data lapangan alias observasi. 

Para peneliti juga memastikan bahwa kawasan hutan terbesar di dunia ada di daerah tropis yaitu sekitar 43% pohon di dunia dapat ditemukan di tempat ini. Lokasi dengan kepadatan tumbuhan terbesar ada di wilayah Arktik Rusia, Skandinavia dan Amerika Utara.

Para peneliti ini berharap dengan adanya data inventarisasi pohon akan menghasilkan informasi penting tentang peran penting pohon dalam menyangga kehidupan dan keanekaragaman hayati dan penyimpan karbon. 

Studi mencatat juga bahwa kerapatan pohon dan keragaman spesies menurun drastis karena jumlah manusia di planet meningkat. Faktor alam seperti kekeringan banjir, deforestasi dan insektisida juga memegang peranan penting dalam menurunya jumlah populasi pohon di dunia. Jadi apakah kamu tertarik mendata jumlah pohon yang ada di lingkungan sekitarmu?.

Gambar: disini

Kamis, Maret 22

Banjir Bandang Cicaheum Akibat Faktor Alam dan Buruknya Tata Ruang

Banjir Bandang Cicaheum Akibat Faktor Alam dan Buruknya Tata Ruang

Kemarin, fenomena banjir bandang menerjang kota kembang Bandung terutama di Cicaheum. 

Banjir bandang ini terjadi Selasa sore hari dan mengakibatkan belasan kendaraan hanyut. Ada dua faktor yang mengakibatkan terjadinya banjir bandang di Bandung yaitu faktor cuaca ekstrim dan tata ruang.

Berdasarkan laporan analisa BMKG, didapat fakta bahwa pada Selasa kemarin terjadi pembentukkan awan Cb alias Cumulonimbus di atas Bandung bagian timur pada pukul 15.00 sehingga muncullah hujan lebat.

Pembentukkan awan konvektif di atas Bandung terjadi karena adanya anomali suhu permukaan lautdi perairan Jawa Barat yang cenderung menghangat. 

Kondisi itu meningkatkan peluang pembentukkan awan-awan potensial hujan. Menurut data BMKG, Maret adalah bulan dengan curah hujan tinggi untuk Bandung hingga Mei. 

Faktor diatas adalah faktor alam, jadi memang pada bulan ini Bandung dsk sudah mulai jatuh musim hujan. Kenapa di daerah lain tidak sama?. 

Ya memang begitu, pola musim di tiap daerah di Indonesia beda-beda lho!. Ada lebih dari 345 pola musim hujan di Indonesia!. 

Jadi masyarakat harus paham dengan hal ini. Apakah guru geografi mu sudah menjelaskan hal tersebut di sekolah?.
Banjir Bandang Cicaheum Akibat Faktor Alam dan Buruknya Tata Ruang
Banjir bandang menerjang Bandung
Oke lanjut lagi ke faktor kedua yaitu tata ruang. Bandung sudah menjadi kota yang padat penduduk dan dihuni bangunan-bangunan beton dan aspal. Minimnya saluran air di perkotaan akan menghambat laju limpasan air saat hujan. 

Dan inilah yang menjadi masalah di kota-kota besar di Indonesia. Rumah-rumah di bangun di sisi sungai bahkan di atasnya, gorong-gorong sungai sempit, udah gitu banyak sampahnya (hayo siapa yang buang sampah sembarangan?). 

Ketika hujan lebat terjadi di hulu maka secara gravitasi akan turun ke bawah. Bandung kota merupakan daerah cekungan, jadi jika hujan di hulu maka aliran air akan terhempas dan menuju hilir. 

Nah selain itu kita lihat bahwa banjir membawa lumpur, berarti ada erosi yang intens di daerah hulu. Erosi ini pasti karena tanah di hulu sudah banyak berkurang vegetasinya akibat pembangunan. Ini adalah masalah lain yang terkait tata ruang wilayah yang buruk.

Ketidaksiapan hilir menampung laju aliran air tersebutlah yang membuat banjir bandang terjadi seperti kemarin. Jadi mari kita sama-sama melihat fenomena ini agar bisa lebih cerdas dalam mengelola lingkungan. 

Bukan hanya pemerintah namun masyarakat juga harus cerdas dan jangan menyalahkan pemerintah terus. Harus kombinasi antara masyarakat dan pemerintah. 

Kapan terakhir kali gotong royong membersihkan got?. Mulailah dari hal-hal kecil, stop menggerutu dan mulai beraksi.

Gambar: Detiknews

Minggu, Maret 18

Hutan di Indonesia: Hujan, Musim, Sabana, Bakau, Gambut

Hutan di Indonesia: Hujan, Musim, Sabana, Bakau, Gambut

Hutan merupakan salah satu lingkungan alami di permukaan bumi ini. Hutan dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria. Ada banyak jenis hutan di Indonesia diantaranya hutan hujan, hutan musim, hutan sabana dan hutan gambut. 

Sebaran keempat jenis hutan ini tidak merata di Indonesia. Hutan memiliki peranan penting terutama sebagai penghasil oksigen di muka bumi. 

Hutan Hujan 
Hutan hujan atau rainforest merupakan jenis hutan yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi. Ciri-ciri hutan hujan torpis diantaranya: curah hujan tinggi, banyak tumbuhan kanopi, kelembaban tinggi, sinar matahari jarang masuk sampai ke tanah. 

Hutan hujan memiliki peranan penting sebagai penyimpan karbon, penyedia kayu, dan habitat flora fauna. Indonesia merupakan negara yang memilki hutan hujan terluas di dunia setelah Brasil dan Afrika Tengah. 

Hutan hujan juga banyak digunakan sebagai sarana penelitian dan pendidikan. Beberapa flora endemik yang hidup di hutan hujan Indonesia diantaranya Raflesia arnoldi, Kantung Semar, Rotan dan Anggrek Hitam. 

Sementara fauna yang hidup di hutan hujan Indonesia diantaranya Harimau, Macan Pohon, Orang Utan dan Cenderawasih. Sebaran hutan hujan Indonesia ada di Sumatera, Kalimantan, Sebagian Jawa dan Papua. 
Hutan di Indonesia
Hutan hujan Indonesia
Hutan Musim
Hutan musim adalah hutan yang memiliki corak khas ketika pergantian musim. Hutan musim di Indonesia banyak digunakan untuk kepentingan produksi. Ciri utama hutan musim adalah jenis vegetasi sedikit hanya satu atau dua, saat musim hujan daunnya lebat namun saat musim panas akan rontok. 

Contoh tumbuhan hutan musim adalah jati, ketapang dan sengon. Hutan musim di Indonesia banyak terdapat di Jawa. Hutan musim menempati urutan kedua dalam hal luas setelah hutan hujan di Indonesia. Baca juga: Rumus GDP, GNP dan GNI

Hutan Sabana
Hutan sabana adalah suatu padang rumput yang diselingi oleh tumbuhan kayu tipe akasia. Hutan sabana memiliki luas paling sempit diantara semua jenis hutan di Indonesia. Jenis flora dan fauna di hutan sabana sangat minim karena kondisi curah hujan rendah. 

Sebaran hutan sabana diantaranya di Nusa Tenggara, Madura dan Taman Nasional Baluran. Fauna khas sabana adalah kuda dan beberapa jenis rusa dan burung. 

Hutan Bakau
Hutan bakau atau mangrove merupakan hutan yang cukup unik karena hanya dijumpai di batas daratan dan lautan. Mangrove hanya tumbuh di daerah tropis saja. Ciri khas mangrove adalah memiliki akar menggantung yang banyak. 

Mangrove merupakan ekosistem yang berfungsi untuk mencegah abrasi laut dan rumah bagi biota perairan payau seperti ikan, kepiting, udang dan bangau. Sebaran mangrove atau bakau di Indonesia ada di pantai utara Jawa, selatan Kalimantan, Bali dan Kepulauan Riau. Baca juga: Ekosistem bioma air tawar

Hutan Gambut
Hutan gambut merupakan tipe hutan di daerah rawa. Indonesia punya total lahan gambut tropis terluas di dunia dengan total 22 juta hektar yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. 

Hutan gambut sangat rawan terhadap kebakaran lahan dan ini menjadi masalah di Indonesia. Lahan gambut Indonesia bisa menyimpan minimal 57 miliar ton karbon. 

Hutan gambut kini banyak disulap menjadi lahan perkebunan sawit sehingga rawan degradasi. Baca juga: Proses terbentuknya bahan galian

Gambar: disini
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close