News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Pertanian. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 18

Gagasan Revolusi Hijau Era Orde Baru

Gagasan Revolusi Hijau Era Orde Baru

Revolusi hijau merupakan suatu revolusi yang berkaitan dengan kegiatan pertanian. Gagasan tentang revolusi hijau berawal dari hasil penelitian ekonomi Thomas Robert Malthus.

Ia berpendapat bahwa masalah kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak bisa dihindari umat manusia. Kemiskinan dan kemelaratan muncul karena pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan.

Menurut Malthus, pertumbuhan penduduk bertambah berdasarkan deret ukur sementara produksi pangan bertambah menurut deret hitung.

Tulisan Malthus ini menyebar di Eropa dan Amerika Serikat sehingga muncul gerakan pengendalian penduduk dengan cara mengontrol kelahiran dan gerakan penelitian tentang bibit unggul pertanian. 

Revolusi hijau menjadi agenda dan usaha besar untuk meningkatkan produktifitas pangan di negara-negara miskin. Varietas padi-padian baru yang unggul seperti gandum, padi dan jagung dikembangkan untuk meningkatkan jumlah produksi.

Di Indonesia sendiri, revolusi hijau mulai gencar dilakukan pada era orde baru atau era Soeharto. Tidak heran negara kita mencapai swasembada pangan di tangan Soeharto, tapi itu dulu. 

Perang Dunia I telah melenyapkan banyak lahan pertanian di negara-negara Eropa yang mengancam ketahanan pangan masyarakat.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka negara-negara Eropa mulai gencar mengembangkan pertanian modernn untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Berbagai alat-alat mekanik modern seperti traktor, alat semprot hama, mesin penggiling padi merupakan salah satu hasil dari upaya revolusi hijau.

Perkembangan revolusi hijau selanjutnya terjadi pasca perang dunia II yang merupakan tragedi kemanusiaan terburuk yang merusak seluruh sendi kehidupan dunia.

Roda perekonomian dunia hancur karena peperangan yang berlangsung di hampir seluruh penjuru dunia. Lahan pertanian menjadi salah satu korban dari keganasan PD II. 

Akibat dari hancurnya lahan-lahan pertanian karena perang dunia, maka berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian melalui mekanisasi, pembukaan lahan baru, penggunaan pupuk dan mencari upaya untuk memberantas hama pertanian.
Mekanisasi pertanian
Revolusi hijau telah membawa perubahan pada beberapa negara seperti di India dan Filipina. India misalnya telah sukses melipatgandakan panen gandum dalam waktu enam tahun dan menjelang awal tahun 1970 sudah hampir dapat memenuhi kebutuhan sendiri.

Filipina juga akhirnya mampu mengakhiri setengah abad ketergantungannya terhadap impor beras pada akhirn 1960an dan berubah peran menjadi ekportir beras.

Selepas perang dingin, negara-negara berkembang mulai mendapatkan perubahan dari hasil revolusi hijau. Harapan masa depan petani mulai cerah dengan hasil pertanian yang melimpah.

Selain menemukan varietas baru dan unggul, penelitian-penelitian lainnya juga dilakukan mulai dari upaya pemulihan tanah, penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida. Daerah yang dulu mengalami kekurangan pangan kini bergeliat kembali karena hadirnya revolusi pertanian.
 
Revolusi hijau di Indonesia meliputi program intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi, mekanisasi dan rehabilitasi.
 
Intensifikasi pertanian adalah upaya meningkatkan produktifitas pertanian tanpa memperluas lahan. Hal ini bisa dilakukan dengan pemilihan bibit unggul, hidroponik, vertical garden, pemupukan dan irigasi.
 
Ekstensifikasi adalah upaya meningkatkan produktifitas pertanian dengan menambah lahan baru. Diversifikasi adalah upaya meningkatkan produktifitas pertanian dengan menanam lebih dari satu varietas dalam satu lahan. 

Mekanisasi adalah penggunaan alat-alat mekanik modern dalam kegiatan pertanian. Rehabilitasi adalah upaya pemulihan lahan yang awalanya tidak produktif menjadi produktif.

Senin, Mei 8

Tipe-Tipe Pertanian di Indonesia

Tipe-Tipe Pertanian di Indonesia

Bertani merupakan kegiatan mayoritas masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala. Tanah yang subur membuat Indonesia mayoritas merupakan masyarakat agraris. 

Pertanian pada umumnya banyak dilakukan di daerah dataran rendah meskipun di daerah dataran tinggi juga ada. Wilayah dataran rendah memiliki topografi 0-700 mdpl. 

Pada daerah ini terdapat cadangan air yang cukup banyak baik itu air permukaan maupun air tanah. Selain itu pertanian cocok dilakukan di tanah yang kaya unsur hara sehingga dapat merangsang pertumbuhan tanaman dengan baik. 

Menurut catatan sejarahnya, hingga kini ada enam tipe pertanian yang dilakukan masyarakat Indonesia.

Sistem Ladang
Merupakan sistem pertanian yang paling tradisional atau primitif. Sistem ladang merupakan peralihan dari tahap budaya mengumpulkan makanan ke budaya tanam-menanam. Dalam sistem ini, pengolahan tanah sangat minim dan produktifitasnya sangat tergantung pada ketersediaan lapisan humus yang ada. 

Sistem ini pada umumya terdapat di daerah dengan penduduk sedikit namun lahan cukup luas. Contoh tanaman budidaya tipe ladang antara lain jagung, umbi-umbian dan palawija. Tipe ladang berpindah juga masih banyak di temukan pada masyarakat pedalaman.
Tipe-Tipe Pertanian di Indonesia
Pertanian hidroponik era modern
Sistem Tegal Pekarangan
Sistem pertanian tegal pekarangan berkembang di daerah lahan kering yang jauh dari sumber air. Sistem ini diusahakan oleh penduduk setelah lama menetap di sana. 

Tingkat pengusahaan sistem ini termasuk rendah dan kurang intensif. Tanaman yang dibudidayakan biasanya yang tahan kekeringan seperti singkong dan kacang tanah.

Sistem Sawah
Merupakan sistem budidaya modern khususnya dalam pengolahan dan pengelolaan tanah dan air sehingga stablitas lingkungan sangat tinggi. Dampaknya kesuburan tanah dapat dipertahankan. 

Irigasi menjadi salah satu faktor pendukung sistem sawah. Sistem sawah tidak hanya untuk tanaman padi namun jenis lain seperti tebu dan tembakau juga bisa diusahakan. Sawah terbagi menjadi sawah tadah hujan, sawah irigasi dan sawah pasang surut.

Sistem Pekebunan
Perkebunan merupakan budidaya tanaman tipe musiman. Sistem ini makin berkembang diusahakan karena dapat dijadikan produk ekspor. Sistem perkebunan dulu banyak dikelola rakyat namun sekarang banya dikelola negara lewat PT Perkebunan Nusantara. Contoh komoditas perkebunan Indonesia antara lain kopi, karet, teh dan kakao.

Disamping tipe diatas kini metode pertanian semakin berkembang pesat seiring dengan menurunnya luas lahan. Contohnya adalah pertanian hidroponik dan vertical farming.

Gambar: indonesiana.tempo.co

Jumat, April 7

Keuntungan Multiple Cropping/Tumpangsari

Keuntungan Multiple Cropping/Tumpangsari

Bahan pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling penting untuk menunjnag kehidupan. Ada wilayah menjadi basis pertanian tertentu namun meskipun melimpah hasil panen, tetap krisis pangan terus menjadi ancaman seiring berambahnya populasi manusia dan gangguan iklim yang terus terjadi.

Krisis bahan pangan memerlukan suatu langkah yang cepat agar masalah tersebut dapat diatasi di masa depan. Peningkatan produktifitas pertanian harus dikembangkan lebih baik untuk memastikan ketahanan pangan negara tetap terjaga. Baca juga: Ciri awan cirrus, stratus dan cumulus

Ada banyak teknik untuk meningkatkan produktifitas pangan seperti meningkatkan intensitas tanam, berlatih multiple cropping, mengadopsi teknik hidroponik dan lainnya. Namun diantara beberapa teknik tersebut, multiple cropping adalah langkah yang paling efektif. 

Multiple cropping atau diversifikasi/tumpangsari pertanian adalah menanam lebihd ari satu jenis tanaman dalam satu lahan dalam satu musim tanam. Teknik ini membuat efektifitas dalam penggunaan tanah, air dan pupuk. Jadi hasil panen akan lebih meningkat dan petani lebih diuntungkan. Baca juga: Faktor cuaca suatu tempat
Keuntungan Multiple Cropping/Tumpangsari
Sistem Tumpangsari
Multiple cropping dapat dilakukan pada varietas tanaman tahunan. Ini memungkinkan negara menjadi mandiri dalam produksi pangan dan ekspor menjadi surplus sehingga devisa negara bertambah dan dapat digunakan untuk mebiayai program pembangunan di sektor lainnya.

Tanaman yang rentan terhadap serangan hama serangga dapat menurunkan hasil panen. Dengan multiple cropping, kejadian gagal panen karena agen biotik dapat diminimalkan. Salah satu tanaman dapat dapat menutupi tanaman lainnya sehingga menjadi agen pengendali hayati. 

Misalnya canola adalah tanaman tumpangsari dengan gandum. Serangga kutu gandum akan berpindah dari gandum ke canola. Baca juga: Memahami patahan lembang

Namun teknik tumpangsari ini harus memastikan pasokan air yang cukup untuk tumbuh kembang tanaman secara bersamaan. Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah perkembangan varietas yang memiliki tahap pertumbuhan kritis. Hal ini akan berpengaruh pada penggunaan pupuk dan nutrisi yang dibutuhkan sehingga biaya bisa diminimalisir.

Multiple cropping juga bisa membantu memelihara kesuburan tanah. Contohnya, tumpangari legume  dengan tanaman lain dapat meningkatkan proses fiksasi nitrogen yang nantinya akan meningkatkan kadar nutrisi tanah.
Keuntungan Multiple Cropping/Tumpangsari
Pertanian Tumpangsari
Keuntungan lain dari multiple cropping adalah pemanfaatn nutrisi tanah lebih efektif karena tanaman tumbuh bersamaan di lahan yang sama. Panen yang beranekaragam dalam satu musim dapat memberikan kesempatan pilihan dalam penggunaan komoditas pangan di masyarakat. 

Multiple cropping akan mempersempit ruang bagi gulma untuk tumbuh karena akan terjadi eksuidasi alleochemicals. Namun, gulma merupakan musuh tersembunyi yang dapat merusak tanaman. Mengurangi pertumbuhan gulma akan meningkatkan produktifias pertanian. Baca juga: Kondisi geografi Indonesia

Kurangnya informasi, penelitian dan sumber daya terampil menjadi alasan masih kurangnya pelaksanaan multiple cropping. Petani-petani harus diberikan ilmu dan keterampilan modern dalam mengelola lahan agar kesejahteraan mereka bisa meningkat.
Gambar: organic-center.org, buzzle.com

Kamis, Januari 19

Dampak Positif dan Negatif Revolusi Hijau

Dampak Positif dan Negatif Revolusi Hijau

Pertanian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan manusia dan sering mendorong lahirnya sebuah peradaban. Berdasarkan bukti peninggalan artefak, para ahli sejarah bersepakat bahwa kegiatan pertanian pertama kali dilakukan di kawasan Mesopotamia sekitar 8.000 SM. 

Mesopotamia merupakan daerah yang dibatasi oleh Sungai Eufrat dan Sungai Tigris (sekrang menjadi Irak dan Iran). Dahulu daerah ini masih sangat subur dan hijau dibanding keadaan pada saat ini yang gersang dan menjadi daerah perang yang tidak kunjung usai. Baca juga: Produk hasil vulkanisme

Di Indonesia sendiri, pembangunan pertanian mulai gencar dilakukan pada masa oerde baru era Soeharto yang identik dengan istilah Revolusi Hijau. Revolusi Hijau merupakan bagian dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem pertanian pada abad sekarang. 

Perubahan ini merubah tanam tradisional berubah menjadi pola tanam modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Dulu manusia bertani dengan model pertanian subsiten (untuk rumah tangga sendiri). Latar belakang dari Revolusi Hijau antara lain adalah sebagai berikut:

Baca juga:
Zonasi perairan laut dalam
Contoh soal HOTS geografi dan pembahasannya

1. Lahan pertanian hancur akibat dibombardir saat Perang Dunia I dan II.
2. Pertumbuhan penduduk yang meningkat tajam.
3. Makin banyaknya lahan tidur.
4. Adanya pengembangan produk pertanian.
5. Ingin mengubah mindset petani gaya lama menjadi petani gaya baru alias modern.

Revolusi hijau pada masa orde baru memberikan dampak yang positif dan negative ditinjau dari berbagai aspek. Berikut ulasannya:
Dampak Positif dan Negatif Revolusi Hijau
Pertanian Tumpang Sari
Dampak Positif
a. Berkembangnya tanaman varietas unggul berumur pendek sehingga dalam setahun bisa beberapa kali panen. Pekerja di sector pertanian juga semakin bertambah.
b. Pendapatan petani meningkat karena penggunaan teknologi modern.
c. Pengetahuan masyarakat tentang tata cara bercocok tanam semakin meningkat.
d. Indonesia mencapai swasembada pangan khususnya beras.

Dampak Negatif
a. Muncul kesenjangan pendapatan karena yang merasakan hanya petani pemilik modal besar saja.
b. Adanya pupuk kimia dan pembasmi hama membuat biaya produksi semakin meningkat.
c. Kesempatan kerja di desa berkurang karena perubahan sistem tani menjadi sistem upah.
d. Banyak permainan harga komoditasi oleh mafia pasar.

Baca juga: Jenis tumbuhan hutan hujan
Sumber: beritadaerah.co.id
Sejarah Irigasi di Dunia

Sejarah Irigasi di Dunia

Irigasi adalah bagian penting dalam kegiatan pertanian. Irigasi sudah sejak zaman dahulu dikenal manusia untuk mengairi lahan. Lalu sejak kapan irigasi berkembang di dunia?. Berikut ini kronologinya.

6000 Sebelum Masehi
Irigasi dikenal pertama kali di Mesir dan Mesopotamia menggunakan air dari Sungai Nil dan Eufrat/Tigris. Pada saat banjir di bulan Juli sampai Desember, air lalu disalurkan selama 40 sampai 60 hari. Air itu kemudian dikembalikan ke sungai pada masa pertumbuhan tanaman.

3500 Sebelum Masehi
Musim banjir tahunan di sepanjang Sungai  Nil tak tercatat secara berkala sehingga bangsa Mesir menciptakan alat ukur banjir atau Nilometer. Desainnya sederhana berupa kolom vertical yang dimasukan ke dalam sungai agar terlihat kedalamannya berapa. 

Desain kedua menggunakan tangga yang dimasukan ke sungai. Data ini kemudian diguanakan oleh Dukun Mesir kuno untuk memprediksi banjir.
Irigasi di Mesir Kuno
3100 Sebelum Masehi
Proyek irigasi pertama diciptakan di bawah pimpinan Raja Menes. Dia dan penerusnya menggunakan bendungan dan canal untuk mengalihkan banjir Nil ke sebuah danau yang disebut "Moeris".

2000 Sebelum Masehi
Pipa panjang dibuat dari semen dan hancuran batu oleh orang Romawi untuk menyalurkan air. Pipa yang sama digunakan seabad lalu untuk membawa air lembah San Gabriel California.

1792 Sebelum Masehi
Raja Babilonia, Hammurabi adalah raja pertama yang memiliki lembaga irigasi di dalam kerajaan. Lembaga ini bertugas mendistribusikan air secara proporsional berdasarkan luas lahan, petani bertugas memelihara saluran air dil lahannya, dan adminstrasi kolektif dari semua pengguna kanal.

1700 Sebelum Masehi
Tiang besar dengna palang seimbang, tali dan ember dipasang pada masa ini. Dengan menarik tali lalu menurunkan ember ke sunagi, operator lalu mengangkat air dari sungai. Tiang bisa berputar dan ember dikosongkan saat air dialihkan. Dengan metode ini air bisa didapat meski sungai belum banjir.

700 Sebelum Masehi
Roda Air Mesir (Noria), merupakan sebuah roda dengan ember dan pot Tanah liat dibuat melingkar. Roda diputar oleh aliran sungai. Aliran ini mengisi ember yang terendam aliran sungai kemudian otomatis akan berputar karena perbedaan berat. Model ini merupakan model irigasi otomatis tanpa tenaga manusia di dunia.

604-562 Sebelum Masehi
Taman Gantung Babilonia adalah salah satu keajaiban dunia kuno dan dibangun pada masa Nebukadnezar di Babilonia. Yang hilang dari sejarah adalah bagaimana taman tersebut diberi pengairan dan akhirnya metode yang digunakan adalah irigasi.
Sejarah Irigasi di Dunia
Taman Gantung Babilonia
550-331 Sebelum Masehi
Kareze di Mesopotamia, merupakan teknik yang memungkinkan penggunaan air Tanah sebagai sumber utama irigasi. Sebuah Qanat dibangun terlebih dahulu dengan menggali vertical hingga ke dalam Tanah. 

Setelah sumur Qanat itu selesai, lalu terowongan digali dengan arah horizontal ke ujung sumur. Lereng alami akan memungkinkan air sumur mengalir menurut gravitasi ke bawah terowongan. Qanat masih digunakan saat ini di Cina dan Maroko.

500 Sebelum Masehi
Roda Air Persia, digunakan pertamakali dan saat ini dikenal sebagai pompa. Perangkat ini merupakan rangkaian alat pengangkut air mirip Noria namun tidak menggunakan tenaga air sungai dan bisa menggunakan tenaga manusia.

250 Sebelum Masehi
Saat mengunjungi Mesir, Sarjana Yunani Archimedes menciptkaan perangkat pompa Archimedes yang terdiridari sekrup di dalam tabung hampa. Sekrup itu berbalik dan saat sia berotasi maka air akan terangkut.

500 Masehi
Penggunaan kincir angina pertamakali tidak diketahui meski gambar kincir angin pompa dari Persia diketahui. Desain ini punya layar vertical yang terbuat dari daun alang-alang atua kayu yang melekat pada poros pusat.

1800 Masehi
Irigasi di dunia pada masa ini mencakup 19 juta ha lebih. Saat ini sudah mencapai 600 juta ha. Baca juga: Geografi kota Yerusalem
Sumber:  www.irrigationmuseum.org, www.grouporigin.com, slideplayer.com
Tipe-Tipe Irigasi Pertanian

Tipe-Tipe Irigasi Pertanian

Pengairan atau irigasi merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan pertanian. Irigasi menurut sejarahnya sudah dikenal sejak peradaban manusia zaman dulu dan yang paling tua adalah di Mesir, Cina dan Mesopotamia. 

Keberadaan sungai besar seperti Nil, Eufrat, Tigris dan Yangtze membuat irigasi mulai diciptakan untuk mengairi lahan pertanian warga. Inilah kunci peradaban masa lalu yang sangat luar biasa.

Prinsip dasarnya, irigasi dilakukan dengan cara membuat saluran air dari sumber seperti danau atau sungai menuju lahan pertanian. Di zaman modern ini teknologi irigasi pertanian sudah berkembang pesat. Setidaknya ada empat jenis irigasi yang sering dipakai saat ini:

Baca juga:
11 jenis awan baru di dunia yang unik 
Apa itu hot spot island di tengah lautan?
Keuntungan multiple cropping pertanian

1. Irigasi permukaan (surface irrigation)
Irigasi ini adalah tipe irigasi paling kuno dan pertama dilakukan manusia. Caranya dilakukan dengan cara mengambil air langsung dari sumber air yang terdekat kemudian disalurkan ke lahan menggunakan saluran pipa/kanal dan nantinya air akan meresap sendiri ke dalam Tanah. Irigasi ini paling umum digunakan oleh petani di Indonesia saat ini karena metodenya paling sederhana.
Tipe-Tipe Irigasi Pertanian
Irigasi Permukaan
2. Irigasi bawah (sub surface irrigation)
Irigasi tipe ini hamper sama dengan irigasi permukaan namun bedanya, air disalurkan langsung ke dalam zona akar tanaman dengan menggunakan pipa atau saluran tertentu. Nantinya air akan masuk ke daerah akar dan diserap sendiri. Baca juga: Ciri dan bentuk ganggang hijau
Tipe-Tipe Irigasi Pertanian
Irigasi bawah
3. Irigasi tetes (drip irrigation)
Irigasi tipe ini adalah system irigasi dengan menggunakan pipa atau selang menuju tanaman. Nantinya dengan tekanan tertentu air akan mengalir dan menetes keluar dan biarkan meresap sendirinya ke dalam Tanah.
Tipe-Tipe Irigasi Pertanian
Irigasi tetes
4. Irigasi pancaran (sprinkle)
Merupakan tipe irigasi paling modern dengan cara menyalurkan air bertekanan dan nantinya menyebar seperti hujan ke semua lahan. Pancaran air tersebut diatur otomatis dengan mesin atau manual. Sistem ini banyak digunakan di Negara maju seperti AS, Selandia Baru dan Australia. Irigasi ini juga banyak digunakan untuk pemupukan. Baca juga: Konsep morfologi dalam geografi
Tipe-Tipe Irigasi Pertanian
Irigasi pancaran

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close