Guru Geografi: Geografi Sejarah - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 10

Arti Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Seni dan Ilmu

Arti Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Seni dan Ilmu

Sejarah adalah ilmu yang bercerita tentang masa lalu dan sangat penting dipelajari sebagai panduan hidup di masa depan. Sejarah dapat dimaknai sebagai sebuah peristiwa, kisah, seni dan ilmu.

Pengklasifikasian tersebut berguna untuk memberikan gambaran bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu tapi memiliki aspek penting lain.

1. Sejarah sebagai peristiwa
Artinya peristiwa di masa lalu menjadi materi penting dalam pembahasan ilmu sejarah. Suatu peristiwa di masa lalu dapat dikategorikan sebagai peristiwa sejarah jika memenuhi syarat:
a. Objektif, artinya peristiwa tersebut didukung oleh fakta sejarah yang dapat menunjukkan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi di masa lalu.
b. Unik, artinya tidak ada peristiwa lain yang sama dan terjadi pada waktu bersamaan.
c. Penting, artinya peristiwa memiliki arti penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Meski semua kejadian atau peristiwa pada masa lalu merupakan bagian dari sejarah, sejarawan tidak begitu saja mampu merekonstruksi rangkaian peristiwa tersebut. Sejarawan harusmencoba meneliti, menelusuri awal mula kejadian suatu peristiwa atau mencari faktor-faktor penyebab kejadian tersebut.

Sejarawan juga harus mampu mengembangkan pembahasan peristiwa sejarha berdasarkan data dan fakta yang kuat.

2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah mempelajari kisah dan pengalaman di masa lalu. Melalui kia sejarah maka akan terlihat gerak dinamis yang terjadi di bumi dengan manusia sebagai objeknya. Sejarah sebagai kisah dapat memberikan contoh teladan bagi manusia untuk berpikir dan bertindak. 

Sejarah sebagai sebuah kisah merupakan hasil rekonstruksi sejarawan terhadap suatu peristiwa. Pelaku sejarah adalah seorang pendongeng sejarah itu sendiri. Untuk menyusun kisah sejarah maka diperlukan fakta-fakta dari berbagai sumber sejarah yang diperoleh dengan serangkaian penelitian sejarah.

3. Sejarah sebagai seni
Sejarah dapat bermakna seni yang menitikberatkan pada nilai estetika karena sejarah menghasilka berbagai macam produk-produk baik yang bersifat konkrit atau abstrak. Sejarah adalah pengetahuan tentang rasa, tidak hanya mempelajari segala yang bergerak dan berubah dalam ruang dan waktu namun juga melihat elemen unsur keindahan.

Berbagai produk seni sejarah seperti candi, manuskrip, babad, arca, punden berundak adalah karya seni hasil sejarah yang menjadi bagian dari fakta sejarah.

4. Sejarah sebagai ilmu
Sebagai ilmu artinya peristiwa sejarah memerlukan penelitian yang sistematis dan metode yang unik untuk mendapatkan bukti-bukti kejadian tersebut. Sejarawan perlu menggunakan metode-metode sejarah untuk menggali dan menemukan fakta sesungguhnya dari sebuah kejadian di masa lalu agar hasilnya objektif dan tidak terlalu melenceng dari kejadian aslinya.
Situs megalitik Gunung Padang memiliki nilai seni tingkat tinggi

Sabtu, Juli 31

Faktor Pesatnya Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia

Faktor Pesatnya Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia

Populasi penduduk Islam di Indonesia saat ini adalah yang terbesar di dunia dengan menyentuh angka 200 juta jiwa lebih atau 88% dari total populasi Indonesia.

Mengapa Islam sangat cepat diterima oleh penduduk Indonesia dan menyebar ke seluruh pelosok?. Tentunya ini menjadi sebuah pertanyaan bagi ahli sejarah.

Sebelum agama luar masuk ke Indonesia, masyarakat lokal kita lebih dulu menganut kepercayaan baik itu dinamisme maupun animisme. Sisa-sisa kepercayaan tersebut masih ada pada masyarakat tradisional di beberapa daerah seperti Sunda Wiwitan contohnya.

Agama luar yang pertama masuk ke nusantara adalah Hindu lalu disusul oleh Buddha, ini ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Buddha beserta peninggalan-peninggalannya.

Lalu Islam datang pertamakali menurut catatan sejarah adalah di wilayah Sumatera, dengan ditemukan batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang sama persis dengan nisan di wilayah Gujarat India. Ini menandakan bahwa Islam dibawa pertama kali oleh pedangan dari Gujarat. Setelah itu muncul lagi teori Mekah dan Persia.

Inti ajaran Islam pada dasarnya adalah sama hanya berbeda tradisi tertentu saja tergantung dari wilayah mana datangnya. Tidak diketahui persis sejak kapan Islam mulai masuk ke nusantara namun ahli sejarah berpendapat Islam dibawa sejak abad ke 7 yang didapat dari catatan pelancong dari Cina.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan agama Islam bisa cepat diterima oleh masyarakat di nusantara. Berikut ulasannya:
Makam Sultan Malik Al Shaleh 


1. Syarat Masuk Islam Mudah
Untuk masuk Islam seseorang hanya diminta untuk mengucapkan kalimat syahadat saja dua kali, tentunya ini menjadi kemudahan tersendiri dan tidak bertele-tele. Masyarakat kita lebih senang dengan sesuatu yang simple dan tidak memberatkan. Itulah mengapa Islam cepat menyebar ke semua kalangan masyarakat.

2. Tidak Ada Kasta
Sebelumnya masyarakat nusantara mengenal sistem kasta karena pengaruh Hindu Buddha, dimana hal ini membuat masyarakat terkotak-kotak dan tidak bisa beralih status sosial. Islam tidak memiliki pandangan kasta karena setiap manusia itu sama di mata Tuhan. Untuk mencapai sesuatu maka syariat utamanya adalah usaha dan tawakal.

3. Ibadah Mudah
Ritual ibadah dalam Islam sangat mudah dan murah seperti sholat lima waktu, puasa dan lainnya. Beda halnya dengan ibadah di agama lain sebelumnya yang memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Hal ini yang dipandang masyarakat menjadi kemudahan dalam menjalankan agama Islam.

4. Tasawuf
Beberapa ajaran Islam juga mengenal istilah tasawuf yang berasal dari wilayah Persia. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Aliran ini dikenal juga sebagai sufisme. 

Tasawuf merupakan ajaran memurnikan jiwa agar sampai kepada sang Pencipta. Hal ini mirip dengan ritual kepercayaan sebelumnya yang dianut masyarakat nusantara sehingga masyarakat cepat menangkap dan masuk ke dalam ajaran Islam tersebut.

5. Media Penyebaran
Islam mudah dikenal masyarakat juga karena kreatifitas para penyebar agama Islam itu sendiri. Islam masuk ke masyarakat melalui media seperti kesenian-kesenian yang dimodifikasi menjadi sarana dakwah. 

Selain itu berbagai macam karya sastra seperti hikayat, pantun menjadi bagian dari strategi menyebarkan agama Islam ke masyarakat. Hal ini mempermudah terhadap penyebaran agama Islam karena adanya keselarasan antara budaya masyarakat dengan Islam itu sendiri.

Masyarakat nusantara pada dasarnya suka mendengarkan cerita-cerita, sehingga para wali penyebar Islam menggunakan media cerita tersebut untuk menyebarkan Islam. Cerita disesuaikan dengan ajaran dan filosofi agama Islam.

6. Mengajarkan Kedamaian
Islam hadir membawa pesan damai dan dibawa dengan penuh kedamaian ke dalam masyarakat. Hal ini yang disambut baik oleh penduduk yang sebelumnya sering terlibat perang saudara atau perang antar kerajaan memperebutkan wilayah.

Sabtu, Maret 13

Teori Gujarat, Teori Mekkah, Teori Persia Tentang Masuknya Islam ke Nusantara

Teori Gujarat, Teori Mekkah, Teori Persia Tentang Masuknya Islam ke Nusantara

Agama Islam pada dasarnya lahir di Mekkah Saudi Arabia lewat perantara Nabi Muhammad SAW. Agama Islam kemudian lambat laun berkembang pesat hingga ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia.
 
Di Indonesia sendiri agama Islam berkembang sangat cepat hingga menjadi agama mayoritas hingga kini. Lalu seperti apa sejarah masuknya Islam ke nusantara?. Ada tiga teori utama yaitu Teori Gujarat, Teori Mekkah dan Teori Persia.
 
1. Teori Gujarat
Teori Gujarat didukung oleh Snouck Hurgronje, W.F Sutterheim dan B.H.M Vlekke. Islam diperkirakan masuk ke nusantara pada abada ke XIII dan dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat, India.
 
Dua bukti yang mendukung teori Gujarat adalah batu nisan Sultan Malik Al Saleh dan catatan Marcopolo. Batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang merupakan sultan Samudera Pasai (wafat pada tahun 1297) bercorak Gujarat.

Sementara itu tulisan Marcopolo seorang penjelajah asal Venezia Italia menyatakan bahwa saat itu ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 dan melihat banyak penduduk disana beragama Islam serta peran pedagang India dalam penyebaran agama tersebut.
Makam Sultan Malik Al Shaleh
2. Teori Mekkah
Teori Mekkah didukung oleh Buya Hamka dan J.C van Leur dimana Islam diperkirakan masuk ke nusantara pada abad ke VII dan dibawa langsung oleh para pedagang Arab. Buktinya adalah adanya pemukiman Islam di Baros pada tahun 674, sebelah pantai barat Sumatra.

Teori ini menyanggah teori Gujarat yang meyakini bahwa Islam berkembang di Samudera Pasai menganut mahzab Syafi'i, yaitu mahzab besar di Mesir dan Mekkah kala itu. Sementara di Gujarat bermahzab Hanafi pada masa yang sama.

Disamping itu sultan-sultan Pasai menggunakan gelar al-malik dimana gelar itu lazim digunakan di Mesir. Bukti lainnya bahwa Islam datang sebelum abad 13 adalah makam seorang wanita di Gresik yang tertulis nama Fatimah binti Maimun dengan angka 1082 dan temuan sejumlah makam Islam di Tralaya Jawa Timur dengan menggunakan tahun Saka.

3. Teori Persia
Teori Persia didukung oleh Husein Djajadiningrat, menyatakan agama Islam dibawa oleh para pedagang Persia sekitar abad ke 13. Bukti teori ini adalah adanya upacara Tabot yaitu peringatan terhadap wafatnya cucu nabi Husein bin Ali setiap 10 Muharram atau 1 Asyura. 

Upacara Asyura adalah ritual di daerah Persia yang menganut Syiah. Teori manakah yang benar?. Tentu tidak ada yang tahu pasti, yang jelas Islam nampaknya sudah berkembang sejak abad ke VII namun mulai pesat menyebar ke penjuru nusantara seiring mundurnya kerajaan bercorak Hindu Buddha dan semakin maraknya pedagang timur tengah yang masuk ke nusantara.

Minggu, Maret 1

Sejarah Pertempuran Puputan Margarana di Bali

Sejarah Pertempuran Puputan Margarana di Bali

Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu di bawah NICA. 

Melihat Indonesia sudah memerdekakan diri, Belanda menyusun konsep baru untuk negara jajahannya. Belanda yang ingin membentuk negara persemakmuran dibekas koloninya. 

Salah satunya Negara Indonesia Timur (NIT) yang meliputi wilayah Bali. Dalam rangka pembentukan negara baru ini, pada Mei 1946, Belanda sempat membujuk I Gusti Ngurah Rai untuk bergabung dan menjadi tentara bagi negara NIT yang akan dibentuk.

Ngurah Rai adalah mantan anggota KNIL yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda menjadi perwira di korps Projada. Ngurah Rai adalah perwira yang berpengaruh bukan karena kompetensinya saja tapi juga karena darah biru yang dimilikinya. 


Alasan itulah yang membuat Belanda mencoba memengaruhinya, akan tetapi bujukan Belanda ini ditolak mentah-mentah oleh Ngurah Rai. 

Bahkan Ngurah Rai melalui suratnya, meminta Belanda untuk meninggalkan Pulau Bali karena menganggu keamanan dan ketentraman Pulau Bali. Ngurah Rai dengan tegas memilih ikut kepada Republik Indonesia dan keputusan dari pimpinan di Jawa.
I Gusti Ngurah Rai
Dalam menghadapi pasukan Belanda yang sudah mendarat di Bali, maka Ngurah Rai meminta bantuan pasukan dari Jawa. Agar pasukan Jawa dapat sampai dengan selamat di Bali, maka Ngurah Rai mencoba menarik perhatian pasukan Belanda dengan cara bergerak ke arah timur Bali. 

Perjalanan pasukan ke arah Gunung Agung ini beberapa kali mendapat upaya penyergapan oleh Belanda, akan tetapi dapat dipatahkan oleh pasukan Ciung Wanara seperti pertempuran di Tanah Arun, pada tanggal 9 Juli 1946 yang dimenangkan oleh pasukan Ciung Wanara pimpinan Ngurah Rai.

Pertempuran yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan membuat Inggris mencoba mendamaikan Belanda dan Indonesia. Akhirnya melalui diplomasi, Inggris berhasil mendudukan Belanda dan Indonesia dalam perjanjian Linggarjati. 


Perjanjian yang berlangsung di Kuningan, Jawa Barat ini berlangsung dengan alot dan menghasilkan keputusan yang mengejutkan bagi sebagian pejuang Indonesia. 

Pada perjanjian ini Belanda mengakui Jawa, Madura, dan Sumatra sebagai wilayah kekuasaan Indonesia secara de Facto. Pengakuan ini adalah pilihan sulit bagi sebagaian pejuang terutama mereka yang berjuang di Indonesia timur. 

Perjanjian ini berarti juga menyerahkan wilayah timur Indonesia dalam kekuasaan Belanda kembali.

Kekecewaan ini dirasakan juga oleh masyarakat Bali, yang wilayahnya tidak menjadi bagian Republik Indonesia pasca perjanjian Linggarjati. Sebagai Komandan Resimen Sunda Kecil, Ngurah Rai berniat akan mempertahankan wilayah Bali dari Belanda. 


Setelah melakukan Long March ke arah timur Pulau Bali, Pasukan Ngurah Rai kembali ke arah barat Pulau Bali. Dalam perjalanan tersebut mereka singgah di desa Marga, di wilayah Tabanan.

Pada 18 November 1946, pasukan Ciung Wanara melakukan penyerangan ke tangsi Polisi NICA di Tabanan. Penyerbuan ini berhasil merampas senjata dan amunisi dari Belanda. 


Penyerbuan ini membuat Belanda marah, ditambah kepala Polisi NICA, yang bernama Wagimin ikut membelot dan bergabung dengan pasukan Ciung Wanara. Setelah melakukan pelucutan senjata, Ngurah Rai bersama pasukannya kembali ke desa Marga.

Belanda segera melakukan pencarian terhadap pasukan Ciung Wanara ke desa-desa. Akhirnya, Belanda berhasil menemukan pasukan Ciung Wanara yang sedang berada di desa Marga, Belanda segera mengepung desa tersebut. Ngurah Rai yang mengetahui pergerakan tentara Belanda ini segera menyebar pasukanya ke ladang jagung. 


Belanda mulai melakukan serangan kepada pasukan Ciung Wanara, tepat didepan garis pertahanan pasukan tersebut. Dengan mudah pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan menewaskan banyak pasukan Belanda. Belanda segera melakukan gerakan mundur hingga ke desa Tunjuk.

Belanda yang kalah dalam serangan pertama, mengerahkan semua kekuatannya di Bali untuk datang membantunya. Pengepungan ini dihadapi oleh Ngurah Rai dengan melebarkan pertahanannya, agar dapat memukul mundur dengan segera. 


Ribuan pasukan Belanda segera melakukan penyerangan terhadap pasukan Ngurah Rai yang berjumlah 96 orang. Belanda mencoba mendesak pasukan Ngurah Rai dengan cepat, bahkan pergerakan pasukan ini masih dibantu oleh pesawat pengebom yang didatangkan langsung dari Makasar.

Pasukan Ciung Wanara yang sudah mulai terdesak ini akhirnya mulai meneriakkan “puputan”. Dalam adat Hindu Bali, Puputan merupakan suatu perang suci yang akan dilakukan hingga titik darah pengahabisan. 


Dengan semangat yang berkobar, pasukan Ciung Wanara melawan gempuran tentara NICA dari darat dan dari udara dengan semangat pantang menyerah. Pasukan NICA hanya mampu mengepung dan menembaki dari garis pertahanannya.

Pada sore hari tidak terdengar lagi perlawanan dari pasukan Ciung Wanara. Seluruh pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang gugur, termasuk juga Ngurah Rai. Akan tetapi, Belanda kehilangan lebih dari 400 tentara yang tewas dalam pertempuran ini.


Kekalahan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin Oleh Ngurah Rai mempermudah usaha Belanda dalam membentuk Negara Indonesia Timur. Dengan terbentuknya negara-negara federasi di kawasan nusantara membuat Belanda kembali memainkan politik “adu dombanya”. 


Akan tetapi, negara Indonesia Timur ini harus bubar setelah pada tahun 1950, Republik Indonesia kembali bersatu. Untuk menghormati Ngurah Rai dan Pasukan Ciung Wanara yang gugur dalam puputan Margarana, pemerintah Indonesia membangun sebuah monumen, Taman Pujaan Bangsa.

Rabu, Januari 29

Perbedaan Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Nasional

Perbedaan Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Nasional

Tahapan akhir dalam penelitian sejarah adalah historiogafi. Historiografi terbentuk dari dua akar kata, yaitu history (sejarah) dan graph (tulisan). 

Jadi Historiografi artinya adalah tulisan sejarah, baik itu yang bersifat ilmiah (problem oriented) maupun yang tidak bersifat ilmiah (no problem oriented). 

Problem oriented artinya karya sejarah ditulis bersifat ilmiah dan berorientasi kepada pemecahan masalah (problem solving). 

Sedangkan no problem oriented adalah karya tulis sejarah yang ditulis tidak berorientasi kepada pemecahan masalah dan ditulis secara naratif.

Secara lebih luas Louis Gottschalk menyebutkan arti Historiografi sebagai berikut :
1. Historiografi merupakan bentuk publikasi
2. Historiografi merupakan sebagai hasil karya, baik berupa tulisan maupun bacaan
3. Historiografi merupakan proses penulisan sejarah
4. Historiografi merupakan kerja keilmuan di bidang sejarah


Historiografi sejarah biasanya memiliki subjektifitas tinggi karena interpretasi ada pada penulis itu sendiri. Oleh sebab itu sering terdapat catatan sejarah dalam versi berbeda tergantung siapa penulis dan sumber datanya.
Relief cerita sejarah nenek moyang di Candi Borobudur
Penulisan sejarah dalam perkembangannya seiring dengan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia, baik melalui upaya-upayanya maupun setelah mendapat pengaruh dari kebudayaan lain dan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ada 3 jenis historiografi yaitu:

a. Historiografi Tradisional
Historiografi Tradisional merupakan penulisan sejarah yang berasal dari masa tradisional, yakni masa kerajaan kerajaan kuno. Sifat Historiografi tradisonal sebagai berikut :
- Religio sentris/Istana sentris
- Religio Magis
- Raja/pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti)
- Regio sentris (kedaerahan)
    
b. Historiografi Kolonial

Historiografi Kolonial merupakan penulisan sejarah yang membahas masalah penjajahan. Sifat pokok Historiografi kolonial antara lain :
- Eropa sentris/Belanda sentris
- Permasalahan yang dibahas adalah aktivitas Bangsa Belanda
- Aktivitas rakyat tanah jajahan (Indonesia) hampir diabaikan sama sekali
 

Contoh Historiografi Kolonial : Indonesian Trade and Society karangan J.C. Van Leur, Indonesian Sociological Studies karangan Schrieke

c. Historiografi Modern/Nasional

Historiografi nasional merupakan penulisan sejarah yang mengungkapkan kehidupan bangsa Indonesia. Sifat Historiografi Nasional antara lain :
- Indonesia sentris
- Sesuai dengan cara pandang bangsa Indonesia
- Mengandung Character and nation building (pembangunan karakter bangsa)
- Disusun oleh orang orang Indonesia sendiri


Jadi alur sejarah kehidupan masyarakat Indonesia bisa dilihat dari mulai masa kerajaan kemudian masuk ke masa penjajahan kolonialimse lalu era kemerdekaan. 

Jumat, Agustus 30

Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56

Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56

Proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah awal mula terbentuknnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Lalu bagaimana sejarah singkat peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945?. Jadi ketika itu setelah Jepang menyerah kepada sekutu karena diserang bom atom Hiroshima dan Nagasaki. 

Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk memproklamirkan kemerdekaan nyatanya tidak berjalan mulus, ada perbedaan pendapat dalam pelaksanaan serta waktu proklamasi. 

Perbedaan pendapat ini terjadi antara golongan pemuda yaitu Sukarni, Adam Malik, Kusnaini, Syahrir, Soedarsono, Soepomo dan kawan-kawan yang agresif untuk melaksanakan proklamasi secepat mungkin.

Perbedaan itu memuncuak dengan diamankannya Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok Karawang agar menghindari pengaruh Jepang. 

Setelah diadakan pertemuan di Pejambon Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 dan diperoleh kepastian bahwa Jepang telah menyerah maka Dwitunggal Soekarno-Hatta setuju untuk dilaksanaka proklamasi kemerdekaan di Jakarta.

Untuk menyiapkan proklamasi itu maka pada tengah malam Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda di Oranye Nassau Boulevard (Jl. Imam Bonjol no 1) dimana telah berkumpul disana B.M Diah, Bakri, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, Chaerul saleh dkk untuk menegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak ukut campur tangan terkait proklamasi.

Setelah diperoleh kepastian maka Seokarno-Hatta mengadakan pertemuan pada larut malam dengan Ahmad Soebardjo, Soekarno, Chaerul Saleh, B.M Diah, Sayuti Melik, Dr. Buntaran, Iwa Kusumasumantri dan beberapa anggota PPKI untuk merumuskan redaksi naskah proklamasi. Pada pertemuan itu akhirnya konsep punya Soekarno yang diterima lalu diketik Sayuti Melik.

Di pagi hari pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta tepat pada Jumat Legi, jam 10 pagi waktu Indonesia barat (waktu 11.30 Jepang) Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi dengan khidmat dengan isi proklamasi berikut:
Pembacaan proklamasi oleh Soekarno 17 Agustus 1945
PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang menggenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno Hatta

Sabtu, Juli 20

Ciri Kehidupan Zaman Praaksara

Ciri Kehidupan Zaman Praaksara

Zaman sekarang tulisan udah banyak dimana-mana ya guys mulai dari tulisan Arab, Indonesia, Sansekserta, dan lainnya. 

Tapi tahu gak bahwa sebelum mengenal tulisan, perabadan manusia ada yang dikenal sebegai peradaban praaksara. 

Emejing banget kan dan gak kebayang gimana dulu manusia berkomunikasi tanpa tulisan.

Praaksara berasal dari kata pra dan aksara. Pra berarti ‘sebelum’ dan aksara adalah ‘tulisan’. 

Praaksara  adalah  zaman  ketika  manusia  belum  mengenal  aksara  atau  tulisan.  Dengan demikian, zaman praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan.

Selain istilah  praaksara,  dikenal  juga  istilah  yang  serupa  untuk  menggambarkan  masa  ketika suatu bangsa belum mengenal tulisan, yaitu nirleka. Kata nirleka berasal dari kata nir yang artinya ‘tanpa’  dan leka  artinya ‘tulisan’.

Jadi, nirleka  adalah  zaman  sebelum  mengenal tulisan. Sebelum  dikenal  dengan  istilah  praaksara,  gambaran  mengenai  perkembangan kehidupan  dan  budaya  manusia  sebelum  mengenal  tulisan  disebut  dengan  prasejarah. 

Akan tetapi, penamaan prasejarah dinilai kurang tepat karena jika dilihat dari segi bahasa, pengertiannya sudah tidak relevan.
Artefak kebudayaan Mesir kuno
Pra artinya ‘sebelum’ dan sejarah artinya ‘sejarah’. Jadi, jika diartikan, prasejarah adalah masa sebelum adanya sejarah yang berarti bahwa sebelum ada aktivitas kehidupan manusia, sedangkan pada masa manusia belum mengenal tulisan, sudah  memiliki  sejarah  dan  membentuk  suatu  kebudayaan.

Dengan  alasan  tersebutlah, para ahli sepakat mengganti istilah prasejarah menjadi praaksara. Para  ahli  sepakat  untuk  memberikan  batasan  pada  kedua  zaman,  antara  zaman praaksara  dan  zaman  sejarah.  

Batasan  yang  dipakai,  yaitu  mulai  adanya  tulisan  untuk mengacu  pada  zaman  sejarah  yang  kemudian  memunculkan  persepsi  bahwa  zaman praaksara  adalah  zaman  sebelum  mengenal  tulisan  dan  zaman  sejarah  adalah  zaman setelah adanya tulisan.

Seperti yang telah dijelaskan masa praaksara adalah zaman belum mengenal tulisan. Lalu, bagaimanakah  pola  kehidupan  manusia  praaksara  dapat  kita  ketahui?

Berikut  adalah sumber informasi yang digunakan untuk penelitian zaman praaksara.
a. Fosil
Fosil  adalah  sisa  tulang-belulang  binatang  atau  sisa  tumbuhan  zaman  purba  yang telah membatu karena proses kimiawi dan tertanam di dalam lapisan tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun.
b. Artefak
Artefak adalah benda-benda hasil kecerdasan manusia praaksara seperti perkakas, senjata,  atau  perhiasan  yang  dipakai  oleh  manusia  praaksara  sebagai  penunjang kehidupannya.

Untuk mengetahui usia dari fosil atau artefak, digunakan cara berikut ini.
1.) Kimiawi
Melalui cara kimia, fosil atau artefak diteliti unsur-unsur kimia yang dikandungnya.
2.) Tipologi
Melalui  cara  tipologi  dapat  diketahui  umur  fosil  atau  artefak  dengan  cara mengelompokkan  benda  temuan  ke  dalam  kelompok  yang  sejenis.  Semakin sederhana bentuk benda akan ditentukan semakin tua usia benda tersebut.
3.) Stratigrafi
Melalui stratigrafi, usia fosil atau artefak dapat diketahui dengan cara meneliti lapisan tanah tempat ditemukannya fosil atau artefak tersebut. Lapisan tanah atas berumur lebih muda dibandingkan lapisan tanah di bawahnya.

Kapan Berakhirnya Zaman Praaksara?
Berakhirnya zaman praaksara atau dimulainya zaman sejarah pada setiap bangsa memiliki perbedaan.   Hal   tersebut   tergantung   kepada   peradaban   masing-masing.   

Salah   satu contohnya  adalah  bangsa  Mesir  yang  sudah  mengenal  tulisan  sekitar  4000  SM.  

Artinya pada  saat  itu,  bangsa  Mesir  memasuki  zaman  sejarah,  sedangkan  di  Indonesia,  zaman sejarah dikenal bermula sejak ditemukannya Prasasti Yupa yang merujuk pada munculnya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur sekitar abad ke-5 M.

Senin, Mei 13

Periodisasi Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Moh. Yamin, H.J. de Graaf

Periodisasi Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Moh. Yamin, H.J. de Graaf

Periodisasi  adalah  pembabakan  waktu yang  merupakan  salah  satu  bentuk  penulisan sejarah dalam rangka memahami rangkaian peristiwa sejarah. 

Catatan periodisasi bersifat subjektif  dalam  kerangka  penulisannya.  Subjektif  artinya  tergantung  terhadap  tulisan sejarawan. 

Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo periodisasi dibuat berdasarkan derajat integrasi  yang  pernah  dicapai  Indonesia  pada  masa  lampau  yang  dipengaruhi  oleh faktor  ekonomi  yang  mampu  memengaruhi  perkembangan  politik,  kultur,  budaya,  dan perkembangan  sosial  di  Indonesia  sehingga  kita  dapat  membuat  periodisasi  yang  kita bedakan menjadi dua, yakni pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.

Pembabakan   pada   masa   itu   dinamakan   sebagai   masa   kerajaan.   Hal   tersebut disebabkan  karena  masyarakat  pada  saat  itu  masih  bersifat  istana  sentris  atau  berpusat kepada  raja.  Berikut  adalah  contoh  periodisasi  sejarah  Indonesia  menurut  beberapa tokoh.
Candi Borobudur mahakarya sejarah bangsa Indonesia
1. Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo
a. Prasejarah
b. Zaman Kuno
1.) Masa kerajaan-kerajaan tertua
2.) Masa Sriwijaya (dari abad VII – XIII atau XIV)
3.) Masa Majapahit (dari abad XIV – XV)
c. Zaman Baru
1.) Masa Aceh, Mataram, Makassar/Ternate/Tidore (sejak abad XVI)
2.) Masa perlawanan terhadap Imperialisme Barat (abad XIX)
3.) Masa pergerakan nasional (abad XX)
4). Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945)

2. Mohammad Yamin 
a. Zaman Prasejarah sampai tahun 0
b. Zaman Protosejarah, tahun 0 sampai abad ke-4
c. Zaman Nasional, dari tahun abad ke-4 sampai abad ke-6
d. Zaman Internasional, yaitu abad ke-16 sampai kira-kira tahun 1900
e. Abad Proklamasi mulai kira-kira tahun 1900

3. H.J. de Graaf
Dalam  buku  yang  berjudul Geschiedenis  van  Indonesia  tahun  1949,  H.J.  de  Graaf menuliskan periodisasi sejarah Indonesia sebagai berikut.
a. Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai 1650) yang meliputi:
1.) zaman Hindu;
2.) zaman penyiaran Islam dan berdirinya kerajaan Islam.
b. Bangsa Barat di Indonesia (1511-1800)
c. Orang Indonesia pada zaman VOC (1600-1800)
d. Organisasi VOC di luar Indonesia
e. Orang  Indonesia  dalam  lingkungan  Hindia  Belanda  (sesudah  1800)  diakhiri dengan pemerintahan Ratu Wilhelmina.

Tujuan periodisasi sejarah adalah sebagai berikut.
a. Memudahkan pembaca untuk mengerti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa  lampau  yang  dikelompokkan  dan  disederhanakan  menjadi  kesatuan sehingga memudahkan pengertian.
b. Melakukan penyederhanaan terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau. 
c. Menguraikan   peristiwa-peristiwa   sejarah   secara   kronologis   sehingga   akan memudahkan dalam upaya pemecahan suatu masalah.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close