Guru Geografi: Geografi Sejarah - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 1

Sejarah Pertempuran Puputan Margarana di Bali

Sejarah Pertempuran Puputan Margarana di Bali

Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu di bawah NICA. 

Melihat Indonesia sudah memerdekakan diri, Belanda menyusun konsep baru untuk negara jajahannya. Belanda yang ingin membentuk negara persemakmuran dibekas koloninya. 

Salah satunya Negara Indonesia Timur (NIT) yang meliputi wilayah Bali. Dalam rangka pembentukan negara baru ini, pada Mei 1946, Belanda sempat membujuk I Gusti Ngurah Rai untuk bergabung dan menjadi tentara bagi negara NIT yang akan dibentuk.

Ngurah Rai adalah mantan anggota KNIL yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda menjadi perwira di korps Projada. Ngurah Rai adalah perwira yang berpengaruh bukan karena kompetensinya saja tapi juga karena darah biru yang dimilikinya. 


Alasan itulah yang membuat Belanda mencoba memengaruhinya, akan tetapi bujukan Belanda ini ditolak mentah-mentah oleh Ngurah Rai. 

Bahkan Ngurah Rai melalui suratnya, meminta Belanda untuk meninggalkan Pulau Bali karena menganggu keamanan dan ketentraman Pulau Bali. Ngurah Rai dengan tegas memilih ikut kepada Republik Indonesia dan keputusan dari pimpinan di Jawa.
I Gusti Ngurah Rai
Dalam menghadapi pasukan Belanda yang sudah mendarat di Bali, maka Ngurah Rai meminta bantuan pasukan dari Jawa. Agar pasukan Jawa dapat sampai dengan selamat di Bali, maka Ngurah Rai mencoba menarik perhatian pasukan Belanda dengan cara bergerak ke arah timur Bali. 

Perjalanan pasukan ke arah Gunung Agung ini beberapa kali mendapat upaya penyergapan oleh Belanda, akan tetapi dapat dipatahkan oleh pasukan Ciung Wanara seperti pertempuran di Tanah Arun, pada tanggal 9 Juli 1946 yang dimenangkan oleh pasukan Ciung Wanara pimpinan Ngurah Rai.

Pertempuran yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan membuat Inggris mencoba mendamaikan Belanda dan Indonesia. Akhirnya melalui diplomasi, Inggris berhasil mendudukan Belanda dan Indonesia dalam perjanjian Linggarjati. 


Perjanjian yang berlangsung di Kuningan, Jawa Barat ini berlangsung dengan alot dan menghasilkan keputusan yang mengejutkan bagi sebagian pejuang Indonesia. 

Pada perjanjian ini Belanda mengakui Jawa, Madura, dan Sumatra sebagai wilayah kekuasaan Indonesia secara de Facto. Pengakuan ini adalah pilihan sulit bagi sebagaian pejuang terutama mereka yang berjuang di Indonesia timur. 

Perjanjian ini berarti juga menyerahkan wilayah timur Indonesia dalam kekuasaan Belanda kembali.

Kekecewaan ini dirasakan juga oleh masyarakat Bali, yang wilayahnya tidak menjadi bagian Republik Indonesia pasca perjanjian Linggarjati. Sebagai Komandan Resimen Sunda Kecil, Ngurah Rai berniat akan mempertahankan wilayah Bali dari Belanda. 


Setelah melakukan Long March ke arah timur Pulau Bali, Pasukan Ngurah Rai kembali ke arah barat Pulau Bali. Dalam perjalanan tersebut mereka singgah di desa Marga, di wilayah Tabanan.

Pada 18 November 1946, pasukan Ciung Wanara melakukan penyerangan ke tangsi Polisi NICA di Tabanan. Penyerbuan ini berhasil merampas senjata dan amunisi dari Belanda. 


Penyerbuan ini membuat Belanda marah, ditambah kepala Polisi NICA, yang bernama Wagimin ikut membelot dan bergabung dengan pasukan Ciung Wanara. Setelah melakukan pelucutan senjata, Ngurah Rai bersama pasukannya kembali ke desa Marga.

Belanda segera melakukan pencarian terhadap pasukan Ciung Wanara ke desa-desa. Akhirnya, Belanda berhasil menemukan pasukan Ciung Wanara yang sedang berada di desa Marga, Belanda segera mengepung desa tersebut. Ngurah Rai yang mengetahui pergerakan tentara Belanda ini segera menyebar pasukanya ke ladang jagung. 


Belanda mulai melakukan serangan kepada pasukan Ciung Wanara, tepat didepan garis pertahanan pasukan tersebut. Dengan mudah pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan menewaskan banyak pasukan Belanda. Belanda segera melakukan gerakan mundur hingga ke desa Tunjuk.

Belanda yang kalah dalam serangan pertama, mengerahkan semua kekuatannya di Bali untuk datang membantunya. Pengepungan ini dihadapi oleh Ngurah Rai dengan melebarkan pertahanannya, agar dapat memukul mundur dengan segera. 


Ribuan pasukan Belanda segera melakukan penyerangan terhadap pasukan Ngurah Rai yang berjumlah 96 orang. Belanda mencoba mendesak pasukan Ngurah Rai dengan cepat, bahkan pergerakan pasukan ini masih dibantu oleh pesawat pengebom yang didatangkan langsung dari Makasar.

Pasukan Ciung Wanara yang sudah mulai terdesak ini akhirnya mulai meneriakkan “puputan”. Dalam adat Hindu Bali, Puputan merupakan suatu perang suci yang akan dilakukan hingga titik darah pengahabisan. 


Dengan semangat yang berkobar, pasukan Ciung Wanara melawan gempuran tentara NICA dari darat dan dari udara dengan semangat pantang menyerah. Pasukan NICA hanya mampu mengepung dan menembaki dari garis pertahanannya.

Pada sore hari tidak terdengar lagi perlawanan dari pasukan Ciung Wanara. Seluruh pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang gugur, termasuk juga Ngurah Rai. Akan tetapi, Belanda kehilangan lebih dari 400 tentara yang tewas dalam pertempuran ini.


Kekalahan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin Oleh Ngurah Rai mempermudah usaha Belanda dalam membentuk Negara Indonesia Timur. Dengan terbentuknya negara-negara federasi di kawasan nusantara membuat Belanda kembali memainkan politik “adu dombanya”. 


Akan tetapi, negara Indonesia Timur ini harus bubar setelah pada tahun 1950, Republik Indonesia kembali bersatu. Untuk menghormati Ngurah Rai dan Pasukan Ciung Wanara yang gugur dalam puputan Margarana, pemerintah Indonesia membangun sebuah monumen, Taman Pujaan Bangsa.

Rabu, Januari 29

Perbedaan Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Nasional

Perbedaan Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Nasional

Tahapan akhir dalam penelitian sejarah adalah historiogafi. Historiografi terbentuk dari dua akar kata, yaitu history (sejarah) dan graph (tulisan). 

Jadi Historiografi artinya adalah tulisan sejarah, baik itu yang bersifat ilmiah (problem oriented) maupun yang tidak bersifat ilmiah (no problem oriented). 

Problem oriented artinya karya sejarah ditulis bersifat ilmiah dan berorientasi kepada pemecahan masalah (problem solving). 

Sedangkan no problem oriented adalah karya tulis sejarah yang ditulis tidak berorientasi kepada pemecahan masalah dan ditulis secara naratif.

Secara lebih luas Louis Gottschalk menyebutkan arti Historiografi sebagai berikut :
1. Historiografi merupakan bentuk publikasi
2. Historiografi merupakan sebagai hasil karya, baik berupa tulisan maupun bacaan
3. Historiografi merupakan proses penulisan sejarah
4. Historiografi merupakan kerja keilmuan di bidang sejarah


Historiografi sejarah biasanya memiliki subjektifitas tinggi karena interpretasi ada pada penulis itu sendiri. Oleh sebab itu sering terdapat catatan sejarah dalam versi berbeda tergantung siapa penulis dan sumber datanya.
Relief cerita sejarah nenek moyang di Candi Borobudur
Penulisan sejarah dalam perkembangannya seiring dengan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia, baik melalui upaya-upayanya maupun setelah mendapat pengaruh dari kebudayaan lain dan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ada 3 jenis historiografi yaitu:

a. Historiografi Tradisional
Historiografi Tradisional merupakan penulisan sejarah yang berasal dari masa tradisional, yakni masa kerajaan kerajaan kuno. Sifat Historiografi tradisonal sebagai berikut :
- Religio sentris/Istana sentris
- Religio Magis
- Raja/pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti)
- Regio sentris (kedaerahan)
    
b. Historiografi Kolonial

Historiografi Kolonial merupakan penulisan sejarah yang membahas masalah penjajahan. Sifat pokok Historiografi kolonial antara lain :
- Eropa sentris/Belanda sentris
- Permasalahan yang dibahas adalah aktivitas Bangsa Belanda
- Aktivitas rakyat tanah jajahan (Indonesia) hampir diabaikan sama sekali
 

Contoh Historiografi Kolonial : Indonesian Trade and Society karangan J.C. Van Leur, Indonesian Sociological Studies karangan Schrieke

c. Historiografi Modern/Nasional

Historiografi nasional merupakan penulisan sejarah yang mengungkapkan kehidupan bangsa Indonesia. Sifat Historiografi Nasional antara lain :
- Indonesia sentris
- Sesuai dengan cara pandang bangsa Indonesia
- Mengandung Character and nation building (pembangunan karakter bangsa)
- Disusun oleh orang orang Indonesia sendiri


Jadi alur sejarah kehidupan masyarakat Indonesia bisa dilihat dari mulai masa kerajaan kemudian masuk ke masa penjajahan kolonialimse lalu era kemerdekaan. 

Jumat, Agustus 30

Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56

Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56

Proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah awal mula terbentuknnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Lalu bagaimana sejarah singkat peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945?. Jadi ketika itu setelah Jepang menyerah kepada sekutu karena diserang bom atom Hiroshima dan Nagasaki. 

Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk memproklamirkan kemerdekaan nyatanya tidak berjalan mulus, ada perbedaan pendapat dalam pelaksanaan serta waktu proklamasi. 

Perbedaan pendapat ini terjadi antara golongan pemuda yaitu Sukarni, Adam Malik, Kusnaini, Syahrir, Soedarsono, Soepomo dan kawan-kawan yang agresif untuk melaksanakan proklamasi secepat mungkin.

Perbedaan itu memuncuak dengan diamankannya Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok Karawang agar menghindari pengaruh Jepang. 

Setelah diadakan pertemuan di Pejambon Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 dan diperoleh kepastian bahwa Jepang telah menyerah maka Dwitunggal Soekarno-Hatta setuju untuk dilaksanaka proklamasi kemerdekaan di Jakarta.

Untuk menyiapkan proklamasi itu maka pada tengah malam Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda di Oranye Nassau Boulevard (Jl. Imam Bonjol no 1) dimana telah berkumpul disana B.M Diah, Bakri, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, Chaerul saleh dkk untuk menegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak ukut campur tangan terkait proklamasi.

Setelah diperoleh kepastian maka Seokarno-Hatta mengadakan pertemuan pada larut malam dengan Ahmad Soebardjo, Soekarno, Chaerul Saleh, B.M Diah, Sayuti Melik, Dr. Buntaran, Iwa Kusumasumantri dan beberapa anggota PPKI untuk merumuskan redaksi naskah proklamasi. Pada pertemuan itu akhirnya konsep punya Soekarno yang diterima lalu diketik Sayuti Melik.

Di pagi hari pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta tepat pada Jumat Legi, jam 10 pagi waktu Indonesia barat (waktu 11.30 Jepang) Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi dengan khidmat dengan isi proklamasi berikut:
Pembacaan proklamasi oleh Soekarno 17 Agustus 1945
PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang menggenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno Hatta

Sabtu, Juli 20

Ciri Kehidupan Zaman Praaksara

Ciri Kehidupan Zaman Praaksara

Zaman sekarang tulisan udah banyak dimana-mana ya guys mulai dari tulisan Arab, Indonesia, Sansekserta, dan lainnya. 

Tapi tahu gak bahwa sebelum mengenal tulisan, perabadan manusia ada yang dikenal sebegai peradaban praaksara. 

Emejing banget kan dan gak kebayang gimana dulu manusia berkomunikasi tanpa tulisan.

Praaksara berasal dari kata pra dan aksara. Pra berarti ‘sebelum’ dan aksara adalah ‘tulisan’. 

Praaksara  adalah  zaman  ketika  manusia  belum  mengenal  aksara  atau  tulisan.  Dengan demikian, zaman praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan.

Selain istilah  praaksara,  dikenal  juga  istilah  yang  serupa  untuk  menggambarkan  masa  ketika suatu bangsa belum mengenal tulisan, yaitu nirleka. Kata nirleka berasal dari kata nir yang artinya ‘tanpa’  dan leka  artinya ‘tulisan’.

Jadi, nirleka  adalah  zaman  sebelum  mengenal tulisan. Sebelum  dikenal  dengan  istilah  praaksara,  gambaran  mengenai  perkembangan kehidupan  dan  budaya  manusia  sebelum  mengenal  tulisan  disebut  dengan  prasejarah. 

Akan tetapi, penamaan prasejarah dinilai kurang tepat karena jika dilihat dari segi bahasa, pengertiannya sudah tidak relevan.
Artefak kebudayaan Mesir kuno
Pra artinya ‘sebelum’ dan sejarah artinya ‘sejarah’. Jadi, jika diartikan, prasejarah adalah masa sebelum adanya sejarah yang berarti bahwa sebelum ada aktivitas kehidupan manusia, sedangkan pada masa manusia belum mengenal tulisan, sudah  memiliki  sejarah  dan  membentuk  suatu  kebudayaan.

Dengan  alasan  tersebutlah, para ahli sepakat mengganti istilah prasejarah menjadi praaksara. Para  ahli  sepakat  untuk  memberikan  batasan  pada  kedua  zaman,  antara  zaman praaksara  dan  zaman  sejarah.  

Batasan  yang  dipakai,  yaitu  mulai  adanya  tulisan  untuk mengacu  pada  zaman  sejarah  yang  kemudian  memunculkan  persepsi  bahwa  zaman praaksara  adalah  zaman  sebelum  mengenal  tulisan  dan  zaman  sejarah  adalah  zaman setelah adanya tulisan.

Seperti yang telah dijelaskan masa praaksara adalah zaman belum mengenal tulisan. Lalu, bagaimanakah  pola  kehidupan  manusia  praaksara  dapat  kita  ketahui?

Berikut  adalah sumber informasi yang digunakan untuk penelitian zaman praaksara.
a. Fosil
Fosil  adalah  sisa  tulang-belulang  binatang  atau  sisa  tumbuhan  zaman  purba  yang telah membatu karena proses kimiawi dan tertanam di dalam lapisan tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun.
b. Artefak
Artefak adalah benda-benda hasil kecerdasan manusia praaksara seperti perkakas, senjata,  atau  perhiasan  yang  dipakai  oleh  manusia  praaksara  sebagai  penunjang kehidupannya.

Untuk mengetahui usia dari fosil atau artefak, digunakan cara berikut ini.
1.) Kimiawi
Melalui cara kimia, fosil atau artefak diteliti unsur-unsur kimia yang dikandungnya.
2.) Tipologi
Melalui  cara  tipologi  dapat  diketahui  umur  fosil  atau  artefak  dengan  cara mengelompokkan  benda  temuan  ke  dalam  kelompok  yang  sejenis.  Semakin sederhana bentuk benda akan ditentukan semakin tua usia benda tersebut.
3.) Stratigrafi
Melalui stratigrafi, usia fosil atau artefak dapat diketahui dengan cara meneliti lapisan tanah tempat ditemukannya fosil atau artefak tersebut. Lapisan tanah atas berumur lebih muda dibandingkan lapisan tanah di bawahnya.

Kapan Berakhirnya Zaman Praaksara?
Berakhirnya zaman praaksara atau dimulainya zaman sejarah pada setiap bangsa memiliki perbedaan.   Hal   tersebut   tergantung   kepada   peradaban   masing-masing.   

Salah   satu contohnya  adalah  bangsa  Mesir  yang  sudah  mengenal  tulisan  sekitar  4000  SM.  

Artinya pada  saat  itu,  bangsa  Mesir  memasuki  zaman  sejarah,  sedangkan  di  Indonesia,  zaman sejarah dikenal bermula sejak ditemukannya Prasasti Yupa yang merujuk pada munculnya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur sekitar abad ke-5 M.

Senin, Mei 13

Periodisasi Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Moh. Yamin, H.J. de Graaf

Periodisasi Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Moh. Yamin, H.J. de Graaf

Periodisasi  adalah  pembabakan  waktu yang  merupakan  salah  satu  bentuk  penulisan sejarah dalam rangka memahami rangkaian peristiwa sejarah. 

Catatan periodisasi bersifat subjektif  dalam  kerangka  penulisannya.  Subjektif  artinya  tergantung  terhadap  tulisan sejarawan. 

Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo periodisasi dibuat berdasarkan derajat integrasi  yang  pernah  dicapai  Indonesia  pada  masa  lampau  yang  dipengaruhi  oleh faktor  ekonomi  yang  mampu  memengaruhi  perkembangan  politik,  kultur,  budaya,  dan perkembangan  sosial  di  Indonesia  sehingga  kita  dapat  membuat  periodisasi  yang  kita bedakan menjadi dua, yakni pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.

Pembabakan   pada   masa   itu   dinamakan   sebagai   masa   kerajaan.   Hal   tersebut disebabkan  karena  masyarakat  pada  saat  itu  masih  bersifat  istana  sentris  atau  berpusat kepada  raja.  Berikut  adalah  contoh  periodisasi  sejarah  Indonesia  menurut  beberapa tokoh.
Candi Borobudur mahakarya sejarah bangsa Indonesia
1. Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo
a. Prasejarah
b. Zaman Kuno
1.) Masa kerajaan-kerajaan tertua
2.) Masa Sriwijaya (dari abad VII – XIII atau XIV)
3.) Masa Majapahit (dari abad XIV – XV)
c. Zaman Baru
1.) Masa Aceh, Mataram, Makassar/Ternate/Tidore (sejak abad XVI)
2.) Masa perlawanan terhadap Imperialisme Barat (abad XIX)
3.) Masa pergerakan nasional (abad XX)
4). Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945)

2. Mohammad Yamin 
a. Zaman Prasejarah sampai tahun 0
b. Zaman Protosejarah, tahun 0 sampai abad ke-4
c. Zaman Nasional, dari tahun abad ke-4 sampai abad ke-6
d. Zaman Internasional, yaitu abad ke-16 sampai kira-kira tahun 1900
e. Abad Proklamasi mulai kira-kira tahun 1900

3. H.J. de Graaf
Dalam  buku  yang  berjudul Geschiedenis  van  Indonesia  tahun  1949,  H.J.  de  Graaf menuliskan periodisasi sejarah Indonesia sebagai berikut.
a. Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai 1650) yang meliputi:
1.) zaman Hindu;
2.) zaman penyiaran Islam dan berdirinya kerajaan Islam.
b. Bangsa Barat di Indonesia (1511-1800)
c. Orang Indonesia pada zaman VOC (1600-1800)
d. Organisasi VOC di luar Indonesia
e. Orang  Indonesia  dalam  lingkungan  Hindia  Belanda  (sesudah  1800)  diakhiri dengan pemerintahan Ratu Wilhelmina.

Tujuan periodisasi sejarah adalah sebagai berikut.
a. Memudahkan pembaca untuk mengerti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa  lampau  yang  dikelompokkan  dan  disederhanakan  menjadi  kesatuan sehingga memudahkan pengertian.
b. Melakukan penyederhanaan terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau. 
c. Menguraikan   peristiwa-peristiwa   sejarah   secara   kronologis   sehingga   akan memudahkan dalam upaya pemecahan suatu masalah.

Jumat, Mei 10

Perbedaan Fungsi Intrinsik dan Ekstrinsik Sejarah

Perbedaan Fungsi Intrinsik dan Ekstrinsik Sejarah

Kegunaan,  manfaat, atau  fungsi  sejarah  adalah  sebagai  sumber  pengetahuan.  Sejarah merupakan wadah untuk mengetahui peristiwa sejarah dengan berbagai permasalahannya. 

I Gede Widja mengemukakan sejarah bukan sekadar uraian cerita kehidupan masa lampau. 

Lebih jauh  lagi,  sejarah memiliki beberapa  kegunaan  sejarah  yang  dimaksud  adalah kegunaan  edukatif,  kegunaan inspiratif, dan kegunaan  rekreatif. 

Secara khusus, fungsi sejarah terbagi atas dua bagian, yaitu fungsi intrinsik dan fungsi ekstrinsik. 

Fungsi Intrinsik 
Ada  tiga  fungsi  sejarah  secara  intrinsik,  yaitu  sejarah  sebagai  ilmu,  sejarah  sebagai alat untuk mengetahui peristiwa masa lampau, dan sejarah sebagai profesi.
a. Sejarah  sebagai  ilmu  diartikan  bahwa  sejarah  adalah  keilmuan  yang  sangat terbuka. Siapa pun dapat menjadi seorang sejarawan selama ia menggunakan tata aturan metodologi dalam   keilmuan  sejarah.  

Artinya  sejarawan   tidak selalu  dari  seseorang  yang  memiliki  latar  belakang  keilmuan  sejarah  dalam pendidikannya.

b. Sejarah  sebagai  alat  untuk  mengetahui   peristiwa   masa   lampau. Artinya peristiwa  masa  lampau  dapat  dilihat  dari  bagaimana  proses  penyampaian tradisi  manusia  pada  masa  lampau.  

Ketika  manusia  yang  belum  mengenal tulisan proses penyampaian tradisi tersebut melalui lisan (tradisi lisan) seperti mitos, legenda,  hikayat,  cerita  rakyat, yang dalam kebenarannya sangat  sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. P

ada manusia yang sudah mengenal tulisan, pengetahuan terkait dengan masa lampau didapat melalui informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

c. Sejarah sebagai profesi. Artinya banyak profesi yang berkaitan dengan sejarah, misalnya guru sejarah, penulis sejarah, peneliti sejarah, dan sebagainya.
Bandung Lautan Api
Fungsi Ekstrinsik
Kuntowijoyo menjelaskan mengenai manfaat atau fungsi sejarah secara ekstrinsik antara  lain sebagai latar belakang, sebagai rujukan, sebagai pendidikan moral,sebagai  pendidikan penalaran, sebagai pendidikan politik, sebagai  pendidikan kebijakan, sebagai pendidikan perubahan, dan sebagai pendidikan masa depan. 

a. Sejarah sebagai Pendidikan Moral 
Sejarah  sangat  erat  kaitannya  dengan  moral. Hal tersebut  dikarenakan  peristiwa sejarah mengajarkan benar dan salah, baik dan buruk, berhak dan tidak berhak, cinta dan benci, pahlawan dan pengkhianat, beradab dan biadab, dan lain-lain. 

Tolak  ukur  moralitas  tersebut  menunjukkan  sejarah  bersentuhan  langsung dengan pendidikan moral. 

Misalnya, sejarah tentang bagaimana perjuangan bangsa Indonesia pada masa  revolusi  yang  mengajarkan  tentang  kedermawanan  dan  keberanian rakyat  Indonesia,  yang  dicontohkan  oleh  rakyat  Indonesia  di  pedesaan  yang mengorbankan  harta  bendanya  ketika  masa  sulit.  

Serta  para  pejuang  yang berani  dalam  berjuang  untuk  merebut  dan  mempertahankan  kemerdekaan Indonesia. 

b. Sejarah sebagai Pendidikan Penalaran 
Dengan mempelajari sejarah secara kritis dan menulis sejarah secara ilmiah, seseorang dapat  meningkatkan  daya  nalarnya.  Hal  tersebut  disebabkan  oleh  beberapa  hal sebagai berikut.

1.) Sejarah sebagai ilmu yang menjelaskan latar belakang terjadinya suatu peristiwa yang biasanya tidak terjadi hanya karena satu faktor saja, melainkan beberapa faktor yang saling berkaitan yang sering disebut dengan kekuatan sejarah.
2.) Sejarah bersifat kronologis dan diakronis yang artinya dalam sebuah peristiwa sejarah  sangat  memerhatikan  waktu.  Artinya  fungsi  sejarah  dapat  dikatakan juga sebagai cara untuk mendidik seseorang untuk memerhatikan waktu dalam menjalani kehidupannya. 
3.) Sejarah erat kaitannya dengan data atau fakta, artinya sejarah harus dituliskan berdasarkan  fakta.  Akan  tetapi,  tidak  semua  sumber  sejarah  memuat  fakta sejarah  dan  tidak  semua  fakta  yang  ditemukan  adalah  fakta  sejarah.  Artinya sejarah bermanfaat untuk melatih dan mendidik kita untuk memiliki daya nalar yang dilandasi oleh sikap kritis.

c. Sejarah sebagai Pendidikan Politik
Suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau erat kaitannya juga dengan pendidikan politik karena peristiwa tertentu biasanya menyangkut tindakan politik atau kegiatan yang bersifat politik. 

d. Sejarah sebagai Pendidikan Kebijakan
Sejarah  mengajarkan  tentang  kebijakan  atau  kebijaksanaan  dari  peristiwa  yang terjadi  pada  masa  lampau.  

Artinya  peristiwa  masa  lampau  dapat  dijadikan  sebagai rujukan  atau  acuan  bagi  seseorang  untuk  menghadapi  kehidupan  di  masa  yang akan datang. 

e. Sejarah sebagai Pendidikan Perubahan
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan segala perubahannya karena pada dasarnya kehidupan manusia terus berubah meskipun tingkatan waktunya pun berbeda  dari waktu ke  waktu. Perubahan pun terjadi  karena disengaja atau  tidak disengaja. 

f. Sejarah sebagai Pendidikan Masa Depan
Sejarah mengajarkan kita untuk bersikap kritis pada peristiwa masa lampau. Jika kita belajar sejarah secara kritis maka bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dengan bertolak pada kejadian di masa lalu. Sejarah kelam hendaknya dikubur dan jangan diulangi lagi dan diganti menjadi sejarah baru yang lebih baik.

Kamis, Mei 9

Konsep Diakronis dan Sinkronis Sejarah dan Contoh Soal

Konsep Diakronis dan Sinkronis Sejarah dan Contoh Soal

Pengertian Diakronis Secara etimologis, diakronis berasal dari  bahasa Yunani, yaitu dia dan khronos. 

Dia memiliki makna ‘melewati’ atau ‘melintas’, sedangkan khronos diartikan sebagai ‘perjalanan waktu’. 

Dengan  demikian, diakronis  dapat  diartikan  sebagai  peristiwa  yang  dalam  prosesnya melewati  atau  melintasi  perjalanan  waktu  karena  subjek  dalam  sejarah  berhubungan dengan  segala  sesuatu  dalam  sudut  pandang  waktu.  

Sejarah  sangat  mementingkan waktu proses sehingga sejarah selalu membicarakan mengenai satu peristiwa dari sudut pandang ruang dan waktu. Dalam ilmu sejarah, berpikir diakronis memiliki makna pemahaman terhadap suatu peristiwa  dengan  cara  penelusuran  pada  masa  lampau.  

Suatu  peristiwa  sejarah  tidak berdiri  sendiri,  tetapi  pasti  diiringi  oleh  peristiwa  sebelumnya  atau  yang  sering  disebut dengan  sifat  kausalitas  (sebab-akibat).  Dalam  kata  lain,  berpikir  diakronis  harus  bisa menjelaskan  peristiwa  secara  kronologis  dan  kausalitas.  

Jadi, pola berpikir  diakronis sangat mementingkan proses terjadinya suatu peristiwa.Dalam  menggunakan pendekatan diakronis, sejarawan  bertujuan  menganalisis dampak perubahan  variabel  pada  sesuatu sehingga  memungkinkan  sejarawan  untuk menafsirkan  sebab peristiwa  tertentu lahir dari peristiwa sebelumnya. 

Bahkan, hingga bagaimana peristiwa tertentu  berkembang/berlanjut.  

Contohnya dalam menjelaskan peristiwa detik-detik Sumpah Pemuda,  Oktober  1928  harus  dijelaskan  pula  peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya. Pendekatan  diakronis  adalah  salah satu yang menganalisis perubahan suatu peristiwa dari waktu ke waktu, yang memungkinkan seseorang untuk menilai bagaimana suatu  perubahan  itu  terjadi  sepanjang  masa.  

Selain  itu,  cara  berpikir diakronis dalam mempelajari sejarah artinya sejarah itu memanjang dalam waktu,  sedangkan  ilmu-ilmu sosial biasanya bersifat sinkronis yang artinya melebar dalam ruang. 
Pembacaan Proklamasi oleh Soekarno
Cara  berpikir sinkronis adalah memahami peristiwa dengan mengabaikan aspek perkembangannya,  dengan lebih memperluas ruang dalam suatu peristiwa. 

Cara berpikir sinkronis  sangat  memengaruhi  kelahiran  sejarah  baru  yang  sangat  dipengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial. Pengaruh tersebut dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu konsep, teori, dan permasalahan. 

Sebagai  contoh  berpikir  sinkronis  adalah  Proklamasi  Kemerdekaan  Indonesia  17 Agustus 1945 yang  dijelaskan dengan menggunakan aspek sosial, ekonomi, dan politik. 

Cara berpikir  sinkronis  dalam  mempelajari  sejarah,  yaitu  meneliti  gejala-gejala  yang meluas dalam ruang, tetapi dalam waktu yang terbatas. Kedua ilmu ini (sejarah dan ilmu sosial) saling berhubungan. 

Contoh soal USBN sejarah konsep diakronis dan sinkronis cek di link berikut: Soal Sejarah USBN

Selasa, Mei 7

Proses Berakhirnya Kekuasaan Jepang di Indonesia

Proses Berakhirnya Kekuasaan Jepang di Indonesia

Inilah kronologi berakhirnya kekuasaan Jepang yang singkat namun kejam di Indonesia. Menjelang tahun 1945, posisi Jepang dalam Perang Pasifik mulai terjepit. 

Jenderal Mac. Arthur, Panglima Komando Pertahanan Pasifik Barat Daya yang terpukul di Filipina mulai melancarkan pukulan balasan dengan siasat “loncat kataknya”. 

Satu per satu pulau-pulau antara Australia dan Jepang dapat direbut kembali. Pada bulan April 1944 Sekutu telah mendarat di Irian Barat. Kedudukan Jepang pun semakin terjepit.

Keeadaan makin mendesak ketika pada bulan Juli 1944 Pulau Saipan pada gugusan Kepulauan Mariana jatuh ke tangan Sekutu. Bagi Sekutu pulau tersebut sangat penting karena jarak Saipan - Tokyo dapat dicapai oleh pesawat pengebom B 29 USA. 

Hal itu menyebabkan kegoncangan dalam masyarakat Jepang. Situasi Jepang pun semakin buruk. Akibat faktor-faktor yang tidak menguntungkan tersebut, menyebabkan jatuhnya Kabinet Tojo pada tanggal 17 Juli 1944 dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso. 

Agar rakyat Indonesia bersedia membantu Jepang dalam Perang Pasifik, maka pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Thoiso mengumumkan janji pemberian kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari. Janji ini dikenal sebagai janji kemerdekaan Indonesia.

Sebagai realisasi dari janji kemerdekaan yang diucapkan oleh Koiso, maka pemerintah pendudukan Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Thumakici Harada pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI atau Dokuritsu Junbi Coosakai). 


Tugas BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang penting yang berhubungan dengan berbagai hal yang menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka. 
Kota Hiroshima pasca bom nuklir
BPUPKI memiliki anggota sebanyak 67 orang bangsa Indonesia ditambah 7 orang dari golongan Jepang. BPUPKI diketuai oleh dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat dan dibantu oleh dua orang ketua muda yaitu R.P. Suroso dan Ichibangse dari Jepang. 

Anggota BPUPKI dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 di gedung Cuo Sangi In, Jalan Pejambon Jakarta (sekarang gedung Departemen Luar Negeri).

Selama masa berdirinya, BPUPKI mengadakan sidang sebanyak dua kali. Sidang pertama berlangsung antara 29 Mei - 1 Juni 1945 membahas rumusan dasar negara. Sidang kedua berlangsung tanggal 10 - 16 Juli 1945 membahas batang tubuh UUD negara Indonesia merdeka.

Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945 dan gantinya dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI atau Dokuritsu Junbi Inkai) dengan ketua Ir. Soekarno. 

Sementara itu keadaan Jepang semakin terdesak setelah dua kota utama di bom oleh Sekutu. Tanggal 6 Agustus 1945 kota Hiroshima dijatuhi bom atom dengan melenyapkan 130 ribu jiwa. 

Selanjutnya di tanggal 9 Agustus 1945 kota Nagasaki dibom kembali yang pada akhirnya tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Inilah yang dimanfaatkan Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan NKRI. Sumber: BSE IPS Gambar: disini

Senin, April 15

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Dan Fungsinya

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Dan Fungsinya

Zaman  logam  merupakan  masa  mulai  dikenalnya  alat-alat  yang  berasal  dari  logam. Meskipun demikian, alat-alat yang terbuat dari batuan masih digunakan oleh masyarakat pada saat itu. 

Jenis logam yang banyak digunakan oleh masyarakat pada saat itu adalah perunggu dan besi. Alat-alat yang berasal dari besi dapat ditemukan di daerah Besuki (Jawa Timur) dan di kubur-kubur Wanasari (Jawa Tengah). 

Namun, alat-alat yang berasal dari besi ditemukan dengan jumlah lebih sedikit dibandingkan alat-alat yang terbuat dari perunggu. Dengan demikian,  beberapa  ahli  ada  yang  menyebut  zaman  logam  di  Indonesia  sebagai  zaman perunggu.  

Zaman  perunggu  di  Indonesia  meninggalkan  kebudayaan  berupa  kapak corong, nekara, perhiasan, bejana perunggu (ditemukan hanya dua buah di Sumatra dan Madura), dan arca-arca perunggu. 

1. Kapak Corong
Kapak  corong  banyak  ditemukan  di  Indonesia  di  daerah  Sumatra  Selatan,  Pulau Selayar,  Sulawesi  Selatan,  Sulawesi  Tengah,  Jawa,  Bali,  dan  Papua.  

Kapak  Corong memiliki  bentuk  seperti  corong  yang  pada  bagian  atasnya  memiliki  lubang,  yang memiliki  fungsi  untuk  memasukkan  tangkai  kayu.  

Kapak  corong  yang  digunakan untuk  tanda  kebesaran  atau  alat  upacara  dinamakan candrasa. Candrasa  banyak ditemukan di daerah Yogyakarta dan Pulau Roti, Nusa Tenggara.  

2. Nekara 
Nekara  adalah  alat  yang  digunakan  dalam  kegiatan  upacara-upacara  ritual  yang berbentuk  genderang  besar  yang  terbuat  dari  perunggu.  

Pada  beberapa  bagian Nekara  terdapat  hiasan  yang  memiliki  fungsi  sebagai  petunjuk  adanya  kegiatan upacara  dalam  sistem  kepercayaan  pada  saat  itu.  Selain  itu,  pada  nekara  terdapat lukisan  yang  memberikan  petunjuk  daerah  persebaran  kebudayaan  perunggu.

Sebagai contoh, nekara yang ditemukan di Pulau Selayar dan Kepulauan Kei terdapat lukisan berupa hewan-hewan yang berasal dari wilayah barat Indonesia seperti gajah, harimau,  dan  burung  merak.  

Hal  tersebut  menandakan  nekara  yang  ditemukan di  daerah  tersebut  merupakan  hasil  kebudayaan  yang  berasal  dari  wilayah  barat. Menurut  beberapa  ahli  bahwa  kebudayaan  perunggu  di  Indonesia  mendapatkan pengaruh  dari  wilayah  daratan  Asia.  

Hal  tersebut  dibuktikan  dengan  penemuan nekara  yang  terdapat  lukisan  orang  menunggang  kuda  beserta  pengiringnya  yang menggunakan pakaian Tartar. Pakaian Tartar menunjukkan bahwa pada saat itu sudah ada interaksi antara Indonesia dan Cina.
Hasil Kebudayaan Masa Perundagian Dan Fungsinya
Kapak corong dan candrasa (kiri ke kanan)

3. Patung Perunggu 
Patung  perunggu  di  Indonesia  banyak  ditemukan  di  daerah  Bangkinang  (Riau) dan  Limbangan (Bogor). Bentuk patung perunggu  pada  umumnya  dalam  bentuk perwujudan  manusia  (berupa penari  yang  bergaya  dinamis)  dan  binatang  seperti kerbau. 

4. Gelang dan Cincin Perunggu
Gelang  dan  cincin  perunggu  memiliki  fungsi  sebagai  alat  tukar  dan  juga  sebagai benda  pusaka.  Gelang  yang  memiliki  hiasan  biasanya  memiliki  ukuran  lebih  besar dan  tebal.  

Pada  masa  logam  dikenal  teknik  pembuatan  benda-benda  dari  logam dengan cara a circle perdue dan bivalve. Berikut adalah cara pembuatan alat-alat dari logam dengan menggunakan dua teknik tersebut

Teknik a circle perdue
Teknik a  circle  perdue  adalah  teknik  pembuatan  benda-benda  dari  logam dengan cara teknik cetak ulang. Adapun teknik ini memiliki kekurangan karena hanya  dapat  digunakan  satu  kali  dalam  satu  cetakan.  

Namun,  kelebihannya adalah bentuk yang diinginkan dapat terlihat memiliki detail yang sempurna. Berikut  langkah-langkah  pembuatan  benda-benda  dari  logam  dengan  cara teknik a circle perdue.
1.) Hal  yang  pertama  yang  harus  dilakukan  adalah  membuat  model  benda logam yang diinginkan menggunakan bahan dasar lilin.
2.) Kemudian lapisi model lilin menggunakan tanah liat hingga keras.
3.) Setelah  mengeras,  panasi  model  lilin  dengan  api  sehingga  lilin  mencair melalui  lubang  yang  sebelumnya  sudah  disiapkan  pada  bagian  bawah model. 
4.) Masukkan  logam  cair  pada  lubang  bagian  atas  model,  diamkan  hingga cairan logam mendingin. 
5.) Kemudian pecahkan model dari tanah liat tersebut sehingga akan terlihat hasil bentuk yang diinginkan.

Teknik bivalve
Teknik bivalve adalah teknik pembuatan benda-benda dari logam dengan cara teknik  dua  setangkup.  Teknik  ini  memiliki  kekurangan,  yaitu  adanya  rongga pada benda logam yang sudah jadi yang mengakibatkan kurang kuatnya benda tersebut. 

Namun, kelebihannya adalah cetakan dapat digunakan berulang kali. Berikut  langkah-langkah  pembuatan  benda-benda  dari  logam  dengan  cara teknik bivalve.
1.) Buatlah cetakan model dengan bentuk yang saling ditangkupkan.
2.) Tuangkan logam cair pada cetakan.
3.) Kemudian kedua cetakan saling ditangkupkan.
4.) Cetakan  dapat  dibuka  setelah  logam  dingin  dan  benda  logam  dapat digunakan.

Sabtu, Maret 23

Ciri Kehidupan Masa Praaksara Neolitikum

Ciri Kehidupan Masa Praaksara Neolitikum

Oke teman-teman kali ini kita akan belajar lagi tentang sejarah nih yaitu masa praaksara. Masa paraaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. 

Ada beberapa masa praksara dan salah satunya adalah neolitikum. Sebelumnya kita udah belajar kan tentang paleolitikum dan mesolitikum, jadi kini lanjut ke neolitikum.

R. Soekmono mengemukakan bahwa kebudayaan Neolitikum adalah kebudayaan yang menjadi dasar kebudayaan Indonesia saat ini. 

Kebudayaan Neolitikum adalah kebudayaan yang lebih maju dibandingkan dengan zaman sebelumnya, yang merupakan akibat dari adanya migrasi Proto Melayu dari wilayah Yunan ke wilayah Asia Tenggara. 

Bangsa Proto Melayu  tersebut  membawa  kebudayaan  berupa  kapak  persegi  dan  kapak  lonjong  yang menjadi  ciri  khas  dari  kebudayaan  Neolitikum.  Berikut  ini  bagan  sekilas  tentang  masa Neolitikum.

Kebudayaan  Neolitikum  dikenal  dengan  kapaknya  yang  sudah  halus,  hasil    dari keahlian  dalam  teknik  mengasah  benda-benda  seperti  kapak  dan  gerabah.  Berikut peninggalan hasil kebudayaan Neolitikum yang tersebar di wilayah-wilayah di Indonesia.

1. Kebudayaan Kapak Persegi
Kapak persegi menurut para ahli mulai masuk ke Indonesia melalui jalur barat dari Yunan ke Semenanjung Malaka dan tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,   Nusa Tenggara, dan Maluku.   

Beberapa daerah yang menjadi pusat dari kapak persegi adalah di Lahat Sumatra  Selatan, Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Karawang, dan Tasikmalaya (Jawa Barat), serta di Jawa Timur di daerah lereng selatan Gunung Ijen dan Pacitan.   

Kapak persegi  sendiri berbentuk  persegi  panjang  atau  trapesium. Kapak persegi umumnya terbuat dari batu chalchedon yang diperkirakan selain  untuk  alat  rumah  tangga  juga digunakan  sebagai  alat  kepercayaan  seperti  jimat, alat upacara, dan lambang kebesaran. Gambar: disini
Kapak lonjong neolitikum
2. Kebudayaan Kapak Lonjong
Kapak lonjong  adalah  kapak yang  memiliki penampang   berbentuk   lonjong,   ujungnya  yang agak  lancip  biasanya dipasangi  tangkai, sedangkan ujung  lainnya  yang  berbentuk  bulat  diasah  hingga tajam.  Kapak  lonjong  memiliki  dua  jenis,  yaitu  yang besar   disebut walzeinbeil  dan  yang  ukuran  kecil disebut kleinbeil. Kebudayaan kapak lonjong disebut juga  dengan  kebudayaan  Neolitikum  Papua  karena sebagian   besar  temuan  kapak  persegi  terdapat di  wilayah  Papua. 

Selain  Papua, kapak   lonjong ditemukan pula di daerah Flores, Maluku, Kepulauan Tanimbar, Leti,  Taulud,  Sangihe, dan  Sulawesi. Kebudayaan kapak lonjong menurut para ahli mulai masuk ke Indonesia melalui jalur timur dari Asia daratan ke Cina, Jepang, Pulau Formosa, dan Filipina. Persebarannya terdapat di daerah Minahasa, Maluku, dan Papua. 

Selain  kapak  persegi  dan  kapak  lonjong,  pada zaman  Neolitikum  juga  ditemukan  alat-alat lainnya seperti perhiasan dan tembikar. Daerah persebaran  tembikar   terdapat di wilayah Minangka Sipaka Sulawesi, Tangerang, Kendang  Lembu  Banyuwangi,  Yogyakarta,   Pacitan, serta  ditemukan  di  daerah  Sumatra  pada  lapisan teratas bukit-bukit kerang. 

Daerah   lainnya  adalah  Melolo  Sumba  yang banyak   ditemukan   gerabah atau  tembikar  yang berisi  tulang-belulang  manusia. Pada  zaman  Neolitikum,  tembikar memiliki  fungsi sebagai   alat   penampung   juga  digunakan  untuk kepentingan upacara-upacara berupa perhiasan-perhiasan.  

Menurut Marwati  Joned  Pusponegoro,  alat  berupa perhiasan  banyak  ditemukan  di  daerah  Pulau  Jawa  berupa  gelang-gelang  dan kalung yang terbuat dari batuan yang indah. 

Berikut ikhtisar kebudayaan neolitikum
1. Kehidupan sosial ekonomi
- food producing adalah bercocok tanam, huma dan ladang
- menetap
- peralatan sudah halus

2. Teknologi
- mengenal teknik pengairan dan pertanian
- mengenal ilmu astronomi terkait iklim
- mengenal dan menggunakan api

3. Hasil kebudayaan
- kapak persegi
- kapak lonjong
- gerabah
- belidung persegi

4. Manusia pendukung
- bangsa Proto Melayu

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close