Guru Geografi: Geografi Sosial - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 20

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya

Interaksi sosial merupakan salah satu ciri dari kehidupan manusia. Ada banyak sekali bentuk-bentuk interaksi sosial dalam masyarakat. 

Manusia tidak bisa hidup sendiri karena pada dasarnya kita adalah mahluk sosial. Berikut ini contoh-contoh interaksi sosial.
a. Interaksi Sosial Asosiatif
Interaksi sosial secara asosiatif memiliki sifat positif, artinya proses interaksi sosial yang cenderung  menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok. Proses asosiatif memiliki bentuk-bentuk antara lain sebagai berikut

1) Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antarindividu ataupun kelompok untuk mencapai kepentingan dan tujuan yang serupa, serta menyadarinya bermanfaat untuk dirinya atau orang lain. 

Kerja sama akan bertambah kuat jika terdapat bahaya bahaya dari luar dan juga tindakan-tindak luar yang menyinggung kesetiaan yang telah tertanam dalam kelompok, dalam diri seseorang, atau segolongan orang-orang. 

Contohnya, kerja sama antara prajurit dalam satu kesatuan terjalin ketika menghadapi musuh dalam sebuah medan pertempuran. 

Proses sosial erat kaitannya dengan kerja sama ialah konsensus. Konsensus terjadi kalau dua pihak atau lebih ingin memelihara adanya hubungan dan masing-masing memandang sebagai kepentingan sendiri. 

Dalam mengadakan konsensul dapat muncul jika anggota kelompok mempunyai perbedaan pendapat. Dalam konsensus, pertentangan kepentingan terlihat nyata, tetapi tidak sebesar di konflik. 

Bentuk-Bentuk Kerja Sama - Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki bentuk-bentuk antara lain lain sebagai berikut

a) Kerukunan atau gotong royong ialah bentuk kerja sama yang dilakukan secara sukarela demi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang berkaitan langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam gotong royong.
b) Bargaining, yaitu kegiatan perjanjian pertukaran barang ataupun jasa dua organisasi ataupun lebih
c) Kooptasi, yaitu prosedur penerimaan unsur-unsur baru di kepemimpinan dan pelaksanaan ketatanegaraan organisasi sebagai satu-satunya tips untuk menghindari adanya konflik yang dapat mengguncang organisasi
d) Koalisi, adalah kombinasi yang dilakukan dari dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Koalisi menghasilkan keadaan dengan tidak stabil karena ke-2 organisasi memiliki struktur tersendiri.
e) Joint-venture, adalah bentuk kerja sama dalam perusahaan proyek khusus, seperti pengeboran minyak dan juga perhotelan.

2) Akomodasi (accomodation)
Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri individu atau kelompok manusia dengan semula saling bertentangan untuk upaya mengatasi ketegangan. Akomodasi berarti adanya keseimbangan interaksi sosial dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. 

Akomodasi seringkali merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan cara menghargai kepribadian yang berkonflik ataupun paksaan (tekanan).  

Bentuk-Bentuk Akomodasi - Akomodasi sebagai proes mempunyai beberapa bentuk antara lain sebagai berikut

a) Koersi adalah bentuk dari akomodasi yang berlangsung karena paksaan kehendak suatu pihak terhadap pihak lain yang lemah dengan didominasi suatu kelompok atas kelompok lain. Contohnya sistem rezim (pemerintahan) totaliter.
b) Kompromi adalah bentuk dari akomodasi yng pihak-pihak terlibat perselisihan saling meredakan tuntutan sehingga tercapai suatu penyelesaian. Sikap dasar kompromi adalah semua pihak bersedia merasakan dan memahami keadaan pihak lain. Contohnya: perjanjian gencatan senajata antara kedua negara yang sedang terlibat perang.
c) Arbitrase adalah bentuk akomodasi yang terjadi apabila terdapat pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai kompromi sendiri. Maka dari itu diundanglah kelompok ketiga yang tidak berat sebelah (netral) untuk mengusahakan penyelesaian. Pihak ketiga tersebut berasal dari badan yang berwenang. Contohnya: penyelesaian pertentangan antara pengusaha dan serikat buruh diselesaikan melalui arbitrase (pihak ketiga yang netral).
d) Mediasi adalah pihak ketiga untuk penengah atau juru damai. Keputusan berdamai tergantung pihak-pihak yang betikai. Contohnya: mediasi pemerintah Republik Indonesia untuk mendamaikan faksi-faksi yang bersilih di kamboja.
e) Konsiliasi ialah upaya mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih untuk tercapainya suat persetujuan bersama. Konsiliasi bersifat lebih lunak dan membuka kesempatan mengadakan asimilasi. Contohnya, panitia tetap penyelesaian masalah ketenagakerjaan mengundang perusaan dan wakil karyawan untuk menyelesaikan masalah.
f) Toleransi adalah bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan resmi karena tanpa disadari dan direncanakan, adanya keinginan untuk menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan.
g) Stalemate adalah bentuk dari akomodasi yang terjadik ketika kelompok terlibat pertentangan dengan kekuatan seimbang. Dengan kesadaran ke-2 belah pihak maka tidak ada yang maju ataupun mundur sehingga pertentangan akan berhenti dengan sendirinya.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya
Berkomunikasi adalah sarana interkasi sosial
3) Asimilasi (assimilation) 
Asimilasi adalah usaha-usaha untuk meredakan perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, prosedur asimilasi akan timbul bila ada kelompok-kelompok yang mempunyai perbedaan kebudayaan. Kemudian, individu-individu dalam kelompok tersebut berinteraksi secara langsung secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah dan menyesuaikan diri.

Dalam asimilasi penyerapan terjadi proses identifikasi diri dengan kepentingan-kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila dua kelompok atau dua orang berbuat asimilasi, maka batas-batas antarkelompok akan hilang dan keduanya melebur menjadi satu kelompok baru. Faktor-Faktor Mempermudah/Mendorong Asimilasi - Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi ialah 
a) Sikap toleransi
b) Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi (tiap-tiap individu mendapat kesempatan yang serupa untuk mencapai kedudukan khusus atas dasar kemampuan & jasanya)
c) Sikap menghargai orang-orang asing dan kebudayaannya
d) Tingkahlaku yang terbuka dari golongan penguasa dalam masyarakat
e) Adanya Persamaan pada unsur kebudaaan
f) Perkawinan campuran (amalgamasi)
g) Adanya musuh bersama dari luar.

Faktor-Faktor Penghalang/Penghambat Asimilasi - Sebaliknya, faktor-faktor yang menjadi penghalang terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut
a) Terisolasinya kehidupan suatu kelompok tertentu dalam masyarakat. Misalnya, orang indian di Amerika Serikat yang diharuskan bertempat tinggal di wilayah-wilayah khusus (reservation).
b) Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi
c) Memiliki perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi
d) Terdapat perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lain.
e) Terdapat perbedaan warna kulit atau ciri-ciri badaniah.
f) Terdapat in group feeling yang kuat. Artinya, adanya suatu perasaan yang kuat bahwa individu terikat di dalam kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan
g) Terdapat gangguan golongan minoritas terhadap golongan yang berkuasa. Contoh, perlakuan kasar terhadap orang-orang jepang yang tinggal di Amerika Serika sesudah pangkalan Armada Laut Amerika Serikat Pearl Harbor diserang secara mendadak oleh tentara Jepang pada tahun 1941.
h) Memiliki perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi.

4) Akulturasi (Aculturation)
Akulturasi adalah proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kultur suatu kelompok, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asli. 

Akulturasi merupakan hasil dari perpaduan kedua kebudayaan dalam waktu lama. Unsur kebudayaan asing sama-sama diterima oleh kelompok yang berinteraksi, selanjutnya diolah tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan yang asli sebagai penerima.

Kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam bertemu di Indonesia kemudian menciptakan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu
Musik Melayu bertemu dengan musik portugis dibawa oleh para penjajah menghasilkan musik keroncong

b. Interaksi Sosial Disosiatif 
Interaksi sosial disosiatif disebut juga dengan oposisi, yang artinya interaksi sosial yang menjurus kepada konflik dan menciptakan kerenggangan dalam berinteraksi. Interaksi sosial disosiatif dibedakan menjadi beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut

1) Persaingan (competition) 
Persaingan merupakan proses sosial ketika terdapat ke-2 pihak atau lebih saling berlomba melakukan sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingn terjadi jikalau beberapa pihak menginginkan sesuatu dengan jumlah yang terbatas ataupun menjadi pusat perhatian umum. 

Seperti, ribuan remaja bersaing agar masuk jajaran 12 besar penyanyi idola. Persaingan dilakukan atas norma dan nilai yang diakui bersama dan berlaku di masyarakat tersebut. 

Kemungkin kecil, persaingan menggunakan kekerasan ataupun ancaman. Jadi, dapat disebut bahwa persaingan dilakukan dengan sehat atau sportif. Persaingan disertai dengn kekerasan, bahaya, atau keinginan untuk merugikan pihak lain, hal ini dinamakan dengan persaingan tak sehat dan bukan lagi disebut dengan persaingan akan tetapi telah menjurus kepada permusuhan atau persengketaan.

Hasil dari persaingan harus diterima dengan kepala dingin, tanpa dendam sedikit pun. Mulai dari awal, Setiap pihak yang bersaing menyadari akan ada yang menang dan kalah. Macam-Macam Contoh Persaingan - Perhatikan beberapa contoh persaingan berikut ini

a) Contoh persaingan pada bidang ekonomi: persaingan antara produsen barang sejenis dalam merebut pasar yang terbatas
b) Contoh persaingan dalam sesuatu kedudukan: persaingan untuk menduduki jabatan strategis
c) Contoh persaingan dalam hal kebudayaan: persaingan dalam penyebaran ideologi, pendidikan, dan unsur kebudayaan yang lain.
Fungsi Persaingan - Persaingan memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai berikut.
a) Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yag sama-sama menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi seluruhnya secara serentak. Contohnya, membangun jalan desa atau memperbaiki pos keamanan di permukiman.
b) Menyalurkan kepentingan dan nilai dalam masyarakat, paling utama kepentingan dan nilai dengan menimbulkan konflik. Contohnya, dalam Provinsi Aceh warganya tak boleh berpakaian minim ataupun pendek, mereka harus berpakaian islami.
c) Menyeleksi individu dengan pantas memperoleh kedudukan dan peran yang sesuai secara kemampuannya.

2) Kontravensi 
Kontravensi adalah sikap menentang dengan tersembunyi agar tidak adanya perselisihan (konflik) terbuka. Kontravensi merupakan proses sosial dengan tanda ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan dengan tidak diungkapkan secara terbuka. 

Penyebab kontravensi adalah perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dan pendirian kalangan lainnya dalam masyarakat ataupun dapat juga pendirian menyeluruh masyarakat.

Macam-Macam Bentuk Kontrakvensi 
a) Kontravensi umum, seperti penolakan, keengganan, protes, perlawanan, gangguan, dan mengancam pihak lawan.
b) Kontravensi sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang di depan umum.
c) Kontravensi intensif, seperti penghasutan dan penyebaran desas-desus.
d) Kontravensi rahasia, seperti membocorkan rahasia atau berkhianat.
e) Kontravensi taktis, misalnya mengejutkan kelompok lawan provokasi dan intimidasi.
3) Pertikaian 

3)     Pertikaian
Pertikaian adalah proses sosial sebagai bentuk lanjut dari kontravensi. Dalam pertikaian, perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena adanya perbedaan yang semakin tajam antara kalangan tertentu dalam masyarakat. 

Kondisi perbedaan yang semakin tajam mengakibatkan amarah dan rasa benci yang mendorong adanya tindakan untuk melukai, menghancurkan, atau menyerang pihak lain. Jadi, pertikaian muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain lewan ancaman atau kekerasan.

4) Pertentangan atau konflik (conflict) 
Pertentangan atau konflik adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Konflik biasa terjadi dengan disertai ancaman atau kekerasan. 

Konflik terjadi karena adanya perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun kelompok, dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat dengan menimbulkan disorganisasi sosial.

Perbedaan-perbedaan ini akan memuncak menjadi pertentangan karena keinginan-keinginan individu tidak dapat diakomodasikan. Akibatnya, tiap individu atau kelom berusaha menghancurkan lawan dengan ancaman atau kekerasan. 

Pertentangan kebanyakan yang berperan adlaam perasaan. Persaan dapat mempertajam adanya perbedaan sehingga kedua pihak berusaha saling menghancurkan. 

Contohnya perasaan yang menimbulkan konflik adalah benci, iri dan sentimen. Pertentangan tidak selalu bersifat negatif. Pertentangan menjadi alat untuk menyesuaikan norma-norma yang telah ada sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pertentangan juga menghasilkan suatu kerja sama karena kedua pihak saling introspeksi untuk mengadakan perbaikan-perbaikan. Contoh dampak positif pertentangan (konflik) adalah perombakan aturan-aturan yang membatasi hak politik warga negara di masa Orde Baru.

Bentuk-Bentuk Pertentangan - Pertentangan memiliki bentuk-bentuk khusus antara lain sebagai berikut
a) Pertentangan pribadi, adalah individu yang sejak mereka mulai berkenalan sudah tidak slaing menyukai. Awal buruk dikembangkan akan menimbulkan kebencian. Masing-masing pihak akan berusaha menghancurkan pihak lawan. 
b) Pertentangan rasial, adalah pertentangan yang terjadi karena kepentingan kebudayaan. Keadaan bertambah buruk jika terdapat salah satu ras yang menjadi golongan minoritas. 
c) Pertentangan antarkelas sosial, adalah pertentangan yang terjadi karena terdapat perbedaan kepentingan, misalnya perbedaan kepentingan antara majikan dan buruh. 
d) Pertentangan politik. adalah pertentangan yang terjadi antargolongan dalam masyarakat antara negara-negara berdaulat. Contohnya, pertentangan yang terjadi antarpartai poltiik menjelang pemilu atau pertentangan antarnegara. 
e) Pertentangan yang bersifat internasional, adalah pertentangan yang disebabkan oleh kepentingan yng lebih luas menyangkut kepentingan nasional dan kedaulatan masing-masing negara. Jika terdapat pihak yang tak dapat mengendalikan diri, maka akan terjadi peperangan.  

Gambar: disini
Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Perubahan adalah suatu hal yang pasti di bumi selai mati. Salah satu bentuk perubahan adalah perubahan sosial. 

Dalam perubahan sosial ini terdapat faktor pendorong dan faktor penghambat. Berikut ini penjelasannya:

a. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan
1) Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain
Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. 

Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.
2) Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.
3) Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain
Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.
4) Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
5) Sistem Terbuka Masyarakat (Open Stratification)
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial ertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para indi idu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
6) Heterogenitas Penduduk
Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.
7) Orientasi ke Masa Depan
Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
8) Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.
9) Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya
Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.
Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah hal umum di masa kini
b. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan
1) Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis
2) Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).
3) Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional
Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konser atif (kolot).
4) Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan
Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.
5) Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat (Vested Interest)
Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.
6) Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing)
Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.
7) Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis
Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
8) Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. 

Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.
9) Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya
Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.

Gambar: disini

Kamis, Februari 15

Contoh Bentuk Penyimpangan Sosial Dalam Keluarga dan Masyarakat

Contoh Bentuk Penyimpangan Sosial Dalam Keluarga dan Masyarakat

Penyimpangan sosial adalah suatu fenomena adanya perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Norma harus dipatuhi agar kehidupan manusia berjalan rukun, aman dan damai. 

Namun tetap saja manusia sering melakukan penyimpangan sosial karena faktor-faktor tertentu. Berikut ini contoh bentuk penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat:

a. Penyimpangan Sosial dalam Keluarga
1) tindak kekerasan antara suami dan istri. Suami atau istri yang melakukan kekerasan terhadap pasanganya, baik secara fisik maupun mental dianggap telah melakukanpenyimpangan social.
2) orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak atau sebaliknya baik secara fisik maupun mental juga dianggap sebagai pelaku penyimpangan social dalam keluarga.
3) tindakan kekerasan dalam keluarga atau rumah tangga ini menyebabkan cedera, cacat, atau bahkan hilangnya nyawa seseorang. Tindakan tersebut tergolong tindakan criminal yang harus diproses secara hukum.
Tawuran adalah conth perilaku menyimpang 
b. Penyimpangan Sosial dalam Masyarakat
1) penyalahgunaan narkoba
narkoba singkatan dari narkotika, psikotoprika, dan bahan aditif lainnya. Obat-obatan yang tergolong narkoba seperti : morfin, heroin, kokain, dan ekstasi pada dasarnya bermanfaat bagi dunia kedokteran selama diberikan atas rekomendasi dokter dan debgan dosis yang tepat. 

Narkoba menjadi terlarang dan berbahaya apabila disalahgunakan. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba tanpa rekomendasi dokter, ia akan kecanduan narkoba. 

Penggunaan narkoba dengan dosis yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya drownsiness, yaitu penurunan kesadaran seperti setengah tidur dengan ingatan yang kacau. Dalam bahasa anak-anak sekarang disebut teller.
2) tawuran pelajar
tawuran pelajar merupakan perkelahian antar pelajar secara missal. Tawuran berbeda dengan perkelahian biasa dan dapat digolongkan sebagai patologis (penyakit) karena kompleksitas, penyebab, dan akibatnya berbeda. Tawuran memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
a) tawuran merupakan hasil dari adanya ikatan persahabatan yang tinggi akan tetapi, mengandung gejala konflik sosial yang tersembunyi dan agresivitasnya negative pada pribadi individu yang bersangkutan.
b) sasaran tawuran tidak begitu jelas bagi pelaku itu sendiri. Oleh karena itu, sasaran serangan dari tawuran biasanya membabi buta dan akhirnya merugikan kelompok-kelompok lainya.
c) tawuran dapat mengembangkan sifat keberanian yang semu pada diri remaja. Mereka bersembunyi dalam kelompok dan dalam suasana yang kacau.
d) tawuran dapat merusaj sportivitas karena dalam kemelut itu tidak aturan yang jelas.
e) Tawuran atau perkelahian pelajar dapat digolongkan sebagai yang menyimpang karena hal itu bertentangan dengan nilai dan masyarakat juga kaidah agama.
3) perilaku seksual di luar nikah
perilaku seksual diluar nikah merupakan tindakan penyimpangan perilaku individu yang menyangkut moral dan melanggar norma-norma kesusilaan. Penyebab perilaku ini diantaranya pelacuran, homo, seksualitas, perkosaan, kumpul kebo, dan pelecehan seksual.
4) Pembunuhan
pembunuhan adalah menghilangkan nyawa seseorang, baik dilakukuan secara sengaja, direncanakan, maupun secara tidak sengaja. Pembunuhan merupakan salah satu bentuk tindak kejahatan.

 Pembunuhan biasanya dilakukuan dalam situast emosi yang meledak-ledak dengan kemarahan yang tidak terkontrol. Tindakan pembunuhan termasuk tindakan kejahatan yang tidak berprikemanusiaan dan pelakunya berarti harus dihukum secara berat.
5) Pornografi
pornogafi termasuk perilaku menyimpang karena karena melanggar nilai dan norma masyarakat. 

Pornografi dapat membuat orang melakukan perbuatan yang menyimpang. Misalnya, melakukan masturbasi atau onani untuk memenuhi dorongan seksualnya, atau bahkan dapat mendorong orang berbuat kejahatan, seperi pelecehan seksual dan pemerkosaan.
6) Judi
sejarah perjudian bermula dari permainan pengisi waktu senggang. Tujuan judi pada waktu itu hanya untuk menghibur hati, jadi sifatnya rekreatif dan netral.

Sekarang jadi beralih fungsi, judi bertujuan untuk merangsang kegairahan dan menaikan ketegangan serta pengharapan untuk menang.

Penyimpangan sosial merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Jika penyimpangan sosial terjadi terus-menerus tanpa ada tindakan nyata maka suatu masyarakat dan bangsa bisa hancur karena sisi kemanusiaannya telah hilang. Kontrol penyimpangan sosial ada di dalam masyarakat itu sendiri dibantu oleh pihak aparatur hukum. 

Gambar: disini

Senin, Desember 4

Bentuk Interaksi Sosial: Kerjasama

Bentuk Interaksi Sosial: Kerjasama

Proses sosial dikatakan asosiatif bila proses itu mengarah pada bentuk kerjasama dan menciptakan kesatuan. 

Menurut Soerjono Soekanto, proses sosial yang bersifat asosiatif mempunyai empat bentuk, yaitu: kerjasama (kooperasi), akomodasi, asimilasi dan amalgamasi. Kali ini saya akan bahas dulu tentang konsep kerjasama dalam interaksi sosial.

Untuk memahami konsep ini saya akan mengajak Anda terlebih dahulu untuk memahami karakteristik masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang komunalistik, yaitu masyarakat yang menghargai nilai-nilai hidup bersama, tolong menolong, gotong royong, bekerjasama, dan lain-lain. 


Masyarakat seperti ini merupakan masyarakat yang menghindari kehidupan yang individualistik, persaingan, dan konflik. Sebaliknya negara yang mengembangkan ideologi liberalisme seperti negara-negara Barat justru lebih menghargai nilai-nilai individualistik dan  persaingan. 

Nilai-nilai kebudayaan masyarakat seperti itu mempengaruhi cara berpikir, berperasaan, dan  bertindak anggota masyarakatnya. Masyarakat yang komunalistik akan mendorong masyarakatnya untuk lebih mementingkan kerjasama daripada persaingan atau konflik. 
Bentuk Interaksi Sosial: Kerjasama
Gotong royong di desa
Anda sebagai guru tentu pernah mendapatkan tugas dari sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Pekerjaan seperti itu sangat berat bila dikerjakan sendiri dan mungkin hasilnya tidak maksimum. 

Sebaliknya, bila dikerjakan bersama dengan teman sejawat tugas tersebut terasa ringan dan hasilnya bisa optimum. Anda masih ingat pepatah masyarakat kita “berat sama dipikul ringan sama dijinjing.”

Pepatah tersebut menggambarkan dalam kehidupan sosial untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, baik berat maupun ringan, akan lebih mudah bila dikerjakan secara bersama-sama.Interaksi antar teman dalam menyelesaikan pekerjaan disebut dengan kerjasama (kooperasi). 


Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan kerjasama adalah usaha bersama antara orang perorang atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. 

Kerjasama dapat terjadi antara orang perorang atau antarkelompok. Kerjasama terjadi digerakkan oleh adanya tujuan bersama yang ingin dicapai. Pelaksanaan kerjasama juga dibutuhkan iklim yang menyenangkan. 

Kerjasama tersebut akan bertambah kuat bila ada bahaya dari luar yang mengancam. Kerjasama dapat terjadi pada kelompok primer, seperti keluarga, dan kelompok sekunder seperti organisasi dan perusahaan.

Kerjasama pada kelompok primer, seperti dalam keluarga, lebih banyak bersifat spontan, tidak ada perencanaan terlebih dahulu. Individu-individu anggota keluarga cenderung membaurkan diri dengan sesamanya di dalam kelompok, dan masing-masing berusaha menjadi bagian dari kelompoknya. 

Dalam kelompok primer ini orang perorang lebih senang bekerja dalam tim selaku anggota tim daripada bekerja sendiri sebagai perorangan. Kerjasama yang terjadi pada kelompok sekunder lebih bersifat direncanakan secara rasional dan sengaja daripada bersifat spontan atau berdasarkan emosi solidaritas. 

Kelompok-kelompok sekunder merupakan kelompok yang bersifat terencana dan diatur, serta umumnya tidak bersifat tatap muka. Kerjasama dalam kelompok sekunder tidak hanya melibatkan anggota organisasi setempat, tetapi melibatkan juga individu-ndividu lain yang melintasi batas-batas daerah atau negara. 

Contoh, kerjasama internasional antarnegara. Kerjasama dapat diupayakan melalui berbagai bentuk. Di antara bentuk-bentuk kerjasama ini mungkin di antara Anda  pernah melakukan. Ada empat bentuk kerjasama yang selama ini terjadi di masyarakat, yaitu:

1. Tawar menawar (bargainning)
Adalah bagian dari proses pencapaian kesepakatan untuk pertukaran barang atau jasa. Contohnya kerjasama antara pedagang dan pembeli.
2. Kooptasi (cooptation)
Adalah usaha ke arah kerjasama yang dilakukan dengan jalan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan jalannya organisasi atua kelompok.
3. Koalisi (coaliton)
Adalah usaha dua organisasi atau lebih yang mengejar tujuan tertentu yang sama dengan cara yang kooperatif. Contohnya koalisi partai politik di parlemen.
4. Patungan (joint-ventura)
Adalah usaha bersama untuk mengusahakan suatu kegiatan demi keuntungan bersama yang akan dibagi nanti secara proporsional dengan cara saling mengisi kekurangan masing-masing partner. Contohnay joint ventura antara Pertamina dengan Exon Mobil.
Gambar: disini

Senin, November 27

Pengertian dan Syarat Interaksi Sosial

Pengertian dan Syarat Interaksi Sosial

Manusia merupakan mahluk sosial alias tidak bisa hidup sendiri. Manusia selalu berinteraksi dalam kehidupannya. Kali ini akan bahas tentang pengertian dan syarat interaksi sosial dalam bermasyarakat. 

Pertama-tama saya akan mengajak Anda untuk memahami hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Manusia sebagai individu membutuhkan individu lain dan harus berinteraksi dengan individu lain. 

Menurut Anda apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi yang baru lahir dan apa yang terjadi bila bayi tersebut ditinggal sendiri tanpa ada orang lain di sekitarnya?.

Anda tentu setuju dengan saya bahwa bayi yang baru lahir seperti itu hanya bisa melakukan gerakan yang sangat terbatas dan hanya bisa menangis, tanpa bisa melakukan apapun bila bayi tersebut membutuhkan sesuatu, misalnya makan dan minum. 

Mustahil bayi yang baru lahir dapat memenuhi kebutuhan makan dan minum sendiri, demikian juga dengan kebutuhan lain. Bila tidak ada orang lain, misalnya orangtua, saudara, dan lain-lain, maka bayi itu mungkin akan meninggal. 

Demikian pula ketika tumbuh menjadi remaja, dewasa, dan tua sekalipun, seseorang tidak akan mungkin memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. 

Anda seperti orang lain tentu juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak mungkin semua kebutuhan itu dipenuhi sendiri. Anda niscaya membutuhkan orang lain. Untuk memenuhinya Anda harus melakukan interaksi sosial. 

Nah, di sini kita akan membicarakan konsep  interaksi sosial. Menurut Anda, apakah yang dimaksudkan dengan interaksi sosial. Coba bandingkan jawaban Anda dengan pengertian di bawah ini!

Interaksi sosial adalah proses di mana orang-orang yang menjalin kontak dan berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Interaksi sosial terjadi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Yang terpenting dalam interaksi sosial adalah pengaruh timbal balik. 
 
Bagaimana, kamu sudah ngerti kan sekarang tentang definisi interaksi sosial?. Sekarang kita lanjut melihat syarat interaksi sosial.
Pengertian dan Syarat Interaksi Sosial
Manusia mahluk yang selalu berinteraksi
Syarat Interaksi Sosial
Agar interaksi sosial dapat berlangsung dibutuhkan dua syarat yaitu: adanya kontak sosial dan komunikasi.  Pernahkan Anda  memegang sebuah patung? Apakah patung tersebut memberikan reaksi balik?.

Tentu saja tidak ada reaksi balik. Kontak dengan benda mati tidak dapat dikategorikan sebagai kontak sosial karena tidak ada reaksi dari benda mati tersebut. Bagaimana bila yang Anda pegang itu adalah bagian tubuh tertentu dari seorang teman yang berlawanan jenis kelamin? 

Bagaimana reaksi dari teman tersebut? Apakah dia hanya diam saja seperti benda mati. Tentu saja tidak. Dia akan memberikan reaksi terhadap tindakan Anda tersebut. 

Teman Anda tentu akan marah dan menganggap sebagai bentuk penghinaan dan pelecehan atau  merupakan tantangan untuk berkelahi. Tindakan yang Anda lakukan dapat dikategorikan sebagai kontak sosial karena mendapatkan reaksi dari orang lain.

Kontak sosial tidak hanya tergantung pada tindakan seseorang, tetapi juga sangat tergantung pada reaksi terhadap tindakan itu. Dengan demikian kontak sosial terjadi bila melibatkan antarmanusia  dan saling memberikan aksi dan reaksi. 

Kontak sosial tidak dapat terjadi antara manusia dengan benda mati. Kontak sosial dapat berlangsung melalui dua bentuk, yaitu: kontak sosial secara langsung (face to face) dan secara tidak langsung (melalui media perantara).

Kita mempunyai kebiasaan berjabat tangan bila bertemu dengan saudara atau teman. Kita juga pernah mengirim pesan singkat (SMS), menelepon, dan mengirim surat kepada orang lain. 

Berjabat tangan merupakan contoh kontak sosial face to face, sedangkan mengirim SMS, menelepon dan berkirim surat merupakan contoh kontak sosial yang dilakukan secara tidak langsung karena menggunakan perantara. 

Pada zaman modern seperti sekarang orang menjalin kontak sosial dengan orang lain tidak harus dilakukan secara langsung (face to face), melainkan bisa memanfaatkan media sebagai perantara, seperti handphone, telepon rumah, surat, internet, telegram, e-mail, dan bahkan orang. Namun ada norma-norma sosial yang mengatur penggunaan media-media itu. Bila norma-norma itu dilanggar akan mendapatkan sanksi. 

Kontak sosial saja belum cukup untuk menjalin interaksi sosial masih dibutuhkan syarat lain yaitu: adanya komunikasi. Dalam menjalin kontak sosial diharapkan orang lain mengerti dan memahami pesan yang disampaikan. 

Agar orang lain mengerti dan memahami pesan yang disampaikan dibutuhkan apa yang disebut dengan komunikasi. Penyampaian pesan dapat dilakukan baik melalui komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. 

Komunikasi verbal adalah penyampaian pesan melalui simbol-simbol suara yang mempunyai makna atau arti, sedangkan komunikasi nonverbal adalah komunikasi melalui bahasa tubuh (body language)  atau gerakan tubuh (gesture). 

Contoh komunikasi verbal adalah guru menjelaskan materi interaksi sosial kepada siswa dengan menggunakan lambang-lambang suara. Contoh komunikasi nonverbal adalah  menganggukan dan menggelengkan kepala, menangis, tertawa, tersenyum, dan mengepalkan tangan.

Sumber: Modul Pelatihan P2KGS Dinas Pendidikan Kota. Ali, Imron, S. Sos, MA. 
Gambar: disini 

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close