Guru Geografi: Geologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 18

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Erupsi gunung api adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi ke luar permukaan bumi melalui peristiwa vulkanisme.

Bahan dasar gunung api pada dasarnya adalah magma yang ada di astenosfer. Akan tetapi kekuatan letusan gunung api berbeda-beda.

Ada gunung api yang letusannya eksplosif atau bertipe ledakan dan adapula gunung api yang letusannya bersifat lelehan atau efusif.
 
Perbedaan variasi kekuatan letusan tersebut menyebabkan kenampakan atau bentuk fisiografis gunung api berbeda-beda di setiap tempat.
 
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan erupsi:
1. Viskositas/Kekentalan Magma
Magma yang bertipe kental cenderung akan menghasilkan erupsi bertipe eksplosif sementara magma yang bertipe cair akan menghasilkan erupsi tipe efusif. Viskositas magma dipengaruhi oleh kandungan Silikat dan temperatur magma. 
 
Semakin tinggi kandungan silikat maka makin tinggi viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya, makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Magma jenis basaltik lebih mudah mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Contoh magma basaltik adalah erupsi Kilauea di Hawaii.
Ilustrasi dapur magma gunung api
2. Kedalaman Dapur Magma
Dapur magma adalah suatu ruangan di bawah tubuh gunung api yang menjadi tempat magma berkumpul. Kedalaman dapur magma bervariasi di setiap lokasi gunung api dari mulai 2 - 5 km di bawah permukaan tanah.

Dapur magma terbentuk karena magma berhasil menerobos lapisan batuan dan berkumpul pada suatu area di litosfer. Semakin dalam dapur magma biasanya akan menghasilkan letusan yang besar dibandingkan dapur magma yang dangkal. 

3. Tekanan Gas
Magma adalah bahan zat cair kental yang bersifat panas dan mengandung gas bertekanan tinggi. Jika tekanan gas di dapur magma tinggi maka ledakan eksplosif akan terbentuk dan menghasilkan erupsi berupa muntahan material piroklastik.

Sementara itu jika tekanan gas di dapur magma tidak terlalu besar maka biasanya akan menghasilkan erupsi tipe aliran tanpa adanya letusan besar material piroklastik.
 
 4. Luas Dapur Magma
Setiap gunung api memiliki dapur magma masing-masing dan tidak terkoneksi satu dengan lainnya. Oleh sebab itu kondisi luas dapur magma setiap gunung api berbeda-beda. Gunung api yang memiliki dapur magma yang luas maka akan potensial menghasilkan letusan besar karena bahan dasar erupsinya banyak.

Magma bisa menerobos ke litosfer karena adanya tekanan yang memebuat kerak bumi terkoyak. Tidak semua lapisan kerak bumi diterobos magma karena ketebalan dan kekuatan batuan berbeda-beda di setiap wilayah.

Sabtu, Desember 26

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Salah satu teori gerakan benua yang terkenal adalah Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener.
 
Alred Lothar Wegener lahir pada 1 November 1880 di Berlin Jerman dan meninggal di Greenland pada November 1930. 
 
Wegener adalah seorang ahli meteorologi dan geofisika terkemukan Jerman yang berjasa merumuskan teori pergerakan benua.

Alfred Wegener meraih gelar Ph.D dalam bidang astronomi dari University of Berlin di tahun 1905 namun ia tertarik pada paleoklimatologi.

Di tahun 1906-1908 ia kemudian mengambil bagian dalam ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari sirkulasi udara kutub. Dalam perjalanannya Wegener kemudian bertemu klimatolog Wladimir Koppen yang menjadi mentornya.

Wegener melaukkan tiga ekspedisi ke Greenlang yaitu pada 1912-1913, 1929 dan 1930. Wegener mengajar meteorologi di Marburg dan Hamburg dan menjadi profesor meteorologi dan geofisika di University of Graz dari 1924 -1930. Wegener meninggal saat ekspedisi terakhirnya di Greenland pada 1930.
Alfred Wegener
Wegener terkesan pada kesamaan garis pantai Amerika Selaran bagian timur dan Afrika barat dan berspekulasi bahwa di jaman dahulu wilayah tersebut pernah bergabung.

Sekitar tahun 1910 ia kemudian ia merekonstruksi gagasan bahwa pada akhir era Paleozoikum (sekitar 252 juta tahun lalu) semua benua membentuk satu daratan besar yang kemudian pecah. WEgener menyebutnya Pangaea atau benua kuno.

Ilmuwan lainnya memiliki anggapan bahwa pemisahan benua disebabkan dari penenggelaman benua besar kemudian membentuk Samudera Atlantik dan Hindia.

Wegener memiliki pendapat lain dan mengusulkan bahwa superkontinen Pangaea perlahan-lahan bergerak ribuan mil dan terpisah dalam jangka pajang secara geologi. Istilah gerakan ini dinamakan Continental Drift atau Pergeseran Benua.

Wegener pertama kali mempresentasikan teorinya dalam ceramah pada tahun 1912 dan menerbitkannya secara penuh pada tahun 1915 dalam karyanya yang paling penting, Die Entstehung der Kontinente und Ozeane (The Origin of Continents and Oceans). 
 
Dia mencari literatur ilmiah untuk bukti geologis dan paleontologis yang akan mendukung teorinya, dan dia mampu menunjuk ke banyak organisme fosil yang terkait erat dan kesamaan formasi batuan  yang terjadi di benua yang dipisahkan secara luas, terutama yang ditemukan di Amerika dan di Afrika.
 
Pergeseran benua Pangaea

Teori Wegener tentang pergeseran benua mendapatkan perhatian beberapa ilmuwan dalam dekade selanjutnya. Namun postulasinya tentang kekuatan pendorong di balik gerakan benua itu tampak tidak masuk akal. 
 
Pada tahun 1930 teorinya telah ditolak oleh sebagian besar ahli geologi dan tenggelam dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade selanjutnya.
 
Teori ini kemudian muncul kembali dan dimodifikasi sebagai bagian dari teori tektonik lempeng selama tahun 1960-an. Baca juga: Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Rabu, Desember 16

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Selama ini kita hidup di atas lapisan kerak bumi dan dapat berjalan seperti biasa. Tapi tahukah bahwa kerak bumi kita ini mengapung diatas lautan magma?.

Kerak bumi tersusun atas beberapa lempeng mayor dan lempeng minor dengan arah gerakan tertentu. Teori lempeng tektonik memberikan bukti bahwa kita hidup di atas lempeng-lempeng benua yang bergerak.

Lempeng tektonik memberikan gambaran manusia untuk memahami proses terbentuknya gunung api, gempa dan evolusi permukaan bumi serta merekonstruksi benua dan lautan di masa lampau.

Konsep teori lempeng tektonik dirumuskan pada tahun 1960an setelah teori Continenal Drift yang belum selesai dikaji oleh Wegener.
 

Peta lempeng tektonik
Menurut teori lempeng tektonik, bumi memiliki lapisan luar yang kaku dinamakan litosfer dengan ketebalan sekitar 100 km dan mengapung diatas laisan astenosfer bertipe plastik cair.
 
Litosfer pecah menjadi tujuh lempeng benua dan samudera yang sangat besar, enam atau tujuh lempeng lainnya berukuran sedang hingga kecil.

Lempengan-lempengan tektonik ini bergerak relatif satu sama lain, biasanya dengan kecepatan hingga 10 cm (2 hingga 4 inci) per tahun, dan berinteraksi di sepanjang batas mereka. Lebih lambat dari siput bukan?. 
 
Lempeng tektonik ini saling bertemu, bergesekan atua menyelinap satu sama lain. Interaksi lempeng ini bertanggung jawab atas sebagian besar aktivitas seismik dan vulkanik bumi meski gempa dan gunung api dapat terjadi di atas lempeng.
 
Ada 3 batas lempeng tektonik yang umum ditemui yaitu konvergen, divergen dan transform. Ketiga batas ini menghasilkan fenomena berbeda.
 
Batas lempeng konvergen terjadi jika dua buah lempeng tektonik saling bertabrakan. Hal ini dapat memicu terbentuknya zona subduksi dan pembentukkan gunung api. Fenomena ini terjadi jika lempeng benua bertemu lempeng samudera. 
 
Jika lempeng benua bertemu lempeng benua maka akan terjadi pengangkatan (kolisi) seperti terbentuknya Himalaya. Adapula lempeng tektonik yang saling menjauh sehingga terjadilah pemekaran lantai samudera. 
 
Di bagian lain dua buah lempeng juga dapat bertemu secara horizontal dan membentuk batas transform. Batas lempeng transform dikenali dari adanya morfologi patahan atau sesar.
 
Teori lempeng tektonik didasarkan pada kajian geologi dan geofisika sehingga diterima secara universal oleh ilmuwan.Teori ini memecahkan misteri tentang bagaimana kerak bumi itu sebenarnya.
 
Batas gerakan lempeng
Menggabungkan gagasan teori apungan benua serta konsep pemekaran dasar laut, teori lempeng tektonik memberikan kerangka luas untuk menggambarkan geografi benua dan lautan di masa lalu dan merekonstruksi penciptaan dan penghancuran kerak bumi, atmosfer, biosfer, hidrosfer dan iklim. 
 
Proses pergerakan lempeng tektonik sangat mempengaruhi komposisi atmosfer dan lautan Bumi, memicu sebagai penyebab utama perubahan iklim jangka panjang, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap lingkungan kimia dan fisik di mana kehidupan berevolusi.
 

Rabu, September 30

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Permukaan bumi kita dihiasai beranekaragam relief atau bentuk mulai dari dataran rendah, pegunungan, bukit, lembah dan masih banyak lagi.

Terbentuknya relief permukaan bumi disebabkan dua gaya yaitu endogen dan eksogen. Variasi bentuk relief lebih banyak dilakukan tenaga eksogen. Seperti apa prosesnya?.

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi dan sifatnya merusak struktur yang telah ada (dibuat oleh endogen melalui peristiwa vulkanisme dan tektonisme).

Awalnya magma yang naik ke permukaan bumi melalui seraingkain proses vulkanisme membeku menjadi batuan beku. Penerobosan magma ini dapat menghasilkan bentukan gunung api.

Nah gaya eksogen mulai bekerja setelah magma membeku di atas permukaan bumi. Diawali dari pelapukan yang dipengaruhi oleh cuaca, mahluk hidup dan reaksi kimia.

Batuan yang sudah terbentuk dapat hancur melapuk menjadi bongkahan-bongkahan yang beranekaragam, Seringkali dijumpai relief hasil pelapukan adalah stack atau arch di pantai karang. 

Di daratan, pelapukan akan membuat permukaan bumi bisa melandai, runcing, atau membentuk morfologi lainnya.

Hasil pelapukan batuan tadi kemudian terangkut oleh media air, angin dan es atau dinamakan erosi. Erosi akan membawa material menuju daerah yang lebih rendah.
Relief delta sungai
Erosi angin misalnya dapat membangun relief gumuk pasir seperti di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Erosi di sungai juga dapat membangun delta sungai pada muara yang landai dan menghadap laut yang berombak tidak terlalu besar.

Setelah itu material sisa pelapukan akan mengalami sedimentasi dan terbentuklah lapisan-lapisan tanah pada sebuah lembah. Contoh lain dari sedimentasi adalah oramen pada gua karst seperti stalaktit dan stalagmit.

Benda asing lain dari luar bumi bisa membuat relief cekungan seperti hantaman meteor. Sudah banyak lubang-lubang meteor ditemukan di permukaan bumi. Huja meteor banyak terjadi jutaan tahun lalu sementara saat ini intensitasnya tidak terlalu tinggi.

Itulah proses pembentukkan relief permukaan bumi oleh tenaga eksogen yang berasal dari pelapukan , erosi, sedimentasi dan tenaga ekstrateresterial.

Senin, September 28

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Beberapa waktu ini netizen dihebohkan berita mengenai ancaman gempa besar (megathrust) dan tsunami di selatan Jawa. 
 
Semua kanal berita online menulis judul yang hampir sama dan terkesan menakut-nakuti. Tipikal masyarakat kita yang latah informasi langsung share berita dengan cepat.
 
Lalu apakah benar gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa bagian selatan dalam waktu dekat ini?. Siswa saya pun di sekolah banyak yang WA setelah berita ini viral.
 
Sebenarnya gempa dan tsunami adalah fenomena biasa yang sudah sering terjadi di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Buktinya ada gempa dan tsunami Aceh, gempa Bantul, tsunami Pangandaran, gempa Lombok, tsunami Anyer hingga gempa Palu.
 
Lalu mengapa akhir-akhir ini berita gempa dan tsumai tersebut jadi heboh?. Ya biasalah media kita kan gitu, sering membuat tagline yang membuat netizen jadi terbawa emosi. 
 
Sebenarnya masyarakat kita (nenek moyang) dahulu sudah terbiasa dengan hal ini dan mitigasinya pun sangat baik terutama struktur bangunan. Kita akan ulas dulu dari sisii geografis dan geologis ya.
 
Istilah "megathrust" di telinga masyarakat awam mungkin terkesan bombastis, padahal dalam ilmu geografi dan geologi ini sudah bisa ya bor.
Zona subduksi megathrust
 
Zona megathrust itu adalah istilah untuk menjelaskan sumber gempa tumbukkan lempeng di kedalaman dangkal. Tumbukan ini karena lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua sehingga membentuk tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng.
 
Hal ini akan memicu bergesernya lempeng tiba-tiba dan memicu gempa. Jika gempa terjadi maka bagian benua yang berada di atas lempeng samudera bergerak terdorong naik (thrusting). 
 
Zona penunjaman lempeng disebut juga sebagai zona subduksi. Nah Indonesia bagian selatan termasuk zona subduksi dari mulai Aceh sampai Flores. Jadi gak heran di daerah sekitar ini banyak gunung api, gempa dan tsunami.
 
Jadi sebenarnya kita udah terbiasa ya dengan fenomena tektonik tersebut. Ya harusnya begitu, dan semakin sering dilanda fenomena maka idealnya masyarakat akan sadar diri dan sudah tertanam pola pikir untuk mengantisipasinya. Tapi kayaknya di masyarakat kita gak demikian ya?. Mungkin ini perlu kajian budaya.
 
Kalau budaya nenek moyang jaman dahulu sih sudah sangat siap bentul dengan fenomena gempa dan tsunami. Buktinya apa?.
 
Coba perhatikan rumah adat Aceh, Sunda, Jawa dan lainnya pasti berstruktur panggung, tiang pondasinya pakai model ceker ayam dan lainnya. Itu semua bukan kebetulan guys, tapi untuk meminimalisir getaran gempa dan mengurangi efek tsunami.
 
Jadi masyarakat kita dulu itu sudah cerdas bro, sis!. Sekarang aja yang bangunannya pakai beton, filosfofinya ga berdasar karakter geografis, ya ada malahan seni yang ditonjolkan.
 
Hasilnya saat gempa ya rubuh. Coba lihat bangunan joglo saat gempa Bantul, relatif tidak rubuh total bahkan ada yang 100% berdiri kokoh (pengalaman rumah nenek saya).
 
Jadi gempa dan tsunami itu adalah makanan Indonesia sejak dahulu, sejatinya pengetahuan, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintahlah yang sekarang ini perlu dioptimalkan.
 
Persoalan kita saat ini bukan pada tentang mengapa dan kapan gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa dan Sumatera tapi Kapan kita akan siap menghadapi fenomena seperti ini?
 
Apakah kita perlu menghidupkan kembali roh nenek moyang kita supaya mengajari kembali masyarakat Indonesia jaman now?.
 
Pengalaman gempa dan tsunami dalam 20 tahun terakhir selalu menimbulkan korban jiwa yang besar. Ini membuktikan bahwa manajemen bencana di Indonesia masih tidak beres.
 
Masyarakat juga terkesan abai akan ancaman ini dan hanya ribut setelah bencana terjadi. Pemasangan alat peringatan dini di pesisir pantai juga masih minim. Kalupun dibangun seringkali dicuri. Inilah lingkaran setan di masyarakat kita yang entah sampai kapan berakhirnya.
 
Jadi kajian gempa megathrust ini hanya sebatas penelitian potensi gempa berdasarkan pola yang terjadi di wilayah tersebut di tahun-tahun lalu. Tujuan riset ini untuk menyadarkan masyarakat agar siap siaga dan tidak panik terhadap fenomena ini.
 
Tapi yang terjadi di masyarakat sekarang kan malah biar terjadi kepanikan padahal gempa dan tsunaminya pun tidak diketahui kapan terjadinya. 
 
Sampai sekarang tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Kalau tsunami bisa diprediksi jika sudah terjadi gempa atau erupsi di tengah laut.
 
Jadi marilah jadi bangsa cerdas, buka kembali buku-buku tentang budaya nenek moyang. Baca kajian fisosofis bangunan di masa lalu, tanya kakek atau nenek yang masih hidup dan praktikan dalam kehidupan saat ini. Kalau pun tidak bisa sama dalam hal struktur, ya bisa dimodifikasi yang penting konsepnya sama.
Rumah Sunda berstruktur panggung berfungsi meredam getaran gempa

Senin, September 14

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Gunung api, siapa yang tidak kenal salah satu fenomena mengagumkan berikut ini. Di berita-berita kita sering mendengar info tentang gunung api meletus.

Tapi coba bayangkan apa jadinya bumi ini jika tidak ada gunung api?. Pertanyaan ini terlihat sepele, tapi jawabannya bisa sangat panjang, analitis dan hots pokoknya.

Gunung api adalah satu bentukkan alam yang muncul dari adanya vulkanisme atau penerobosan magma dari dalam bumi ke permukaan bumi.

Magma adalah cairan pijar panas di dalam bumi yang kental. Karena bersifat panas pastinya magma ini memiliki tekanan tinggi.

Tekanan inilah yang menyebabkan magma mengalir ke atas permukaan bumi, menerobos lapisan litosfer sehingga meletus dan menjadi gunung api.

Magma yang keluar permukaan bumi akan berinteraksi dengan udara sehingga membeku dan jadilah batuan beku. Batuan ini nantinya akan digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan hidup terutama berkaitan dengan bangunan.

Selain itu material lain seperti pasir vulkanik, energi panas bumi sekitar gunung api juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Gunung api meletus
Apakah gunung api hanya memuntahkan magma saja?. Selain mengeluarkan magma, peristiwa vulkanisme juga membantu mineral-mineral berharga di dalam bumi agar bisa naik sampai permukaan bumi sehingga bisa ditambang.

Selain itu gunung api juga berfungsi sebagai wilayah tangkapan hujan sehingga daerah sekitarnya kaya mata air dan menjadi sumber kehidupan sampai wilayah hilir di perkotaan.

Semua batuan alias lapisan kerak bumi kita ini dibangun dari gunung api. Jadi pulau-pulau, daratan benua yang kita kenal saat ini adalah hasil kerja gunung api atas perintah Allah tentunya. Memang iya atas perintah Allah?. Coba aja buka ayat Quran berikut ini:

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An-Nahl;15)

Udah jelas dan shahih kan bahwa gunugn api itu diciptakan oleh Allah dengan tujuan yang jelas. Jadi saat gunung api meletus, pada dasanya Tuhan sedang mengeluarkan anugerah bagi kehidupan.

Manusia hanya diminta untuk bersabar dan mengungsi sejenak sampai erupsi berhenti. Jika erupsi terus-menerus terjadi maka kita bisa mencari daerah lain yang lebih aman atau relokasi.

Jadi intinya jika tidak ada gunung api maka tidak akan ada kehidupan di bumi ini karena semua mahluk hidup mayoritas tumbuh dan berkembang di tanah. Tanah berasal dari batuan yang melapuk sementara batuan berasal dari magma, itulah siklusnya.

Gunung api adalah paku dunia sehingga pulau-pulau atau daratan bisa tetap stabil diatas laipsan mantel bumi yang tersusun magma cair. Itulah kuasa Allah SWT.

Jumat, Februari 7

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Magma adalah komponen utama pembentuk kerak bumi karena mayoritas batuan berasal dari bahan ini. 

Magma adalah larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat mobile,
bersuhu antara 900-1200 derajat celcius atau lebih, dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung mantel bagian atas. 

Dari penelitian sampel-sampel pada batuan beku diketahui komposisi kimia magma adalah sebagai berikut :

1.    Senyawa yang bersifat non-volatile dan merupakan senyawa oksida, jumlahnya sekitar 99% dari isi magma, sehingga merupakan major element, terdiri dari SiO₂ , Al₂O₃ , Fe₂O₃, FeO, MnO, CaO, Na₂O, K₂O, TiO₂, P₂O₅.

2.    Senyawa volatile yang banyak mempengaruhi sifat fisik magma, terdiri dari fraksi fraksi gas metana, karbon dioksida dan lainnya.
3.   Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S, dan Pb.

Jenis Jenis Magma

Magma kental
Menurut Dally (1933) ada 2 jenis magma yaitu :

1.    Magma Primer

Magma primer adalah  yang terbentuk langsung dari lelehan bahan kerak, atau biasanya disebut dengan magma basaltis. Dengan ciri utama magma jenis ini yaitu viskositas rendah (encer), kadar logam tinggi, dan banyak kandungan volatil.

2.    Magma Sekunder

Magma sekunder adalah yang sudah mengalami perubahan komposisi kimia akibat berbagai proses, dengan kandungan yang cenderung lebih asam, viskositas tinggi, dan mempunyai kadar silika yang relatif lebih besar.

Proses Evolusi Magma
Magma bisa berubah melalui 3 cara :

1.    Proses Anateksis (Peleburan)

sesuai dengan nama prosesnya (anateksis) artinya magma yang dihasilkan berasal dari peleburan bahan kerak di bawah permukaan bumi, proses ini berasosiasi dengan subduksi, lempeng samudera mengandung banyak mineral hidrous yang membuat lempeng ini mengalami peleburan basah (wet melting) pada zona zona subduksi dan menghasilkan magma yang lazim disebut sebagai magma primer.

2.    Proses Sintesis

Untuk magma jenis ini dihasilkan ketika magma berasimilasi dengan batuan samping, sehingga merubah komposisi kimia magma dan membentuk magma baru, tetapi proses ini hanya akan berpengaruh secara signifikan jika massa batuan yang terlelehkan cukup besar, dan biasanya akan efektif jika magma berkomposisi lebih basa dan batuan lebih asam.

3.    Proses Hibridasi

Ketika magma bergerak ke atas ( karena gaya buoy) terkadang bisa “bertemu” dengan magma jenis lain, saat 2 jenis magma yang berbeda komposisi ini bercampur, akan dihasilkan magma baru dengan komposisi kimia yang berbeda dari magma awal. Dan proses ini disebut hibridasi (pencampuran).

Sumber: Disktat OSN Kebumian

Rabu, Februari 5

5 Contoh dan Karakteristik Batuan Metamorf

5 Contoh dan Karakteristik Batuan Metamorf

Batuan metamorf atau malihan adalah batuan yang terbentuk karenaa danya pengaruh suhu atau tekanan tinggi di dalam bumi. 

Batuan metamorf bisa terbentuk dari batuan beku atau sedimen. Berikut ini contoh batuan metamorf yang banyak ditemukan di permukaan bumi.

1. Serpentin; merupakan batuan metamorfosis hydrothermal yang berasal dari olivine yang mengalami intrusi magma. Mineral olivine yang susunannya tidak stabil dan mengandung dunite secara berlebihan, oleh aktivitas zat kimia air panas yang berasal dari intrusi magma diubah menjadi serpentin.
2. Mylonit; merupakan batuan metamorfosis dinamo, batuannya berupa tepung sebagai akibat hancurnya batuan pada bidang patahan yang mengalami tekanan secara lateral. Pada umumnya batuan metamorfosis yang dihasilkan berbentuk lensa, menggerombol dan pararel.
3. Gneis; adalah batuan metamorfosis regional yang mengandung kwarsa, fieldspar, mika dan hornblende. Di samping itu ada juga yang berasal dari biotit dan muskovit dan batuan beku lainnya yang berbutir kasar. 

Pengkristalan batuan beku tersusun kembali berbagai mineral yang berwarna terang terkumpul pada satu lapisan sedang pada lapisan lain terkumpul mineral gelap yang berasal dari batuan ferromagnesian. 

Lapisan terang dan gelap tersusun berganti-ganti secara teratur. Gneis yang terjadi dari batuan beku (magnetik) disebut orthogneiss sedangkan yang berasal dari batuan endapan disebut paragneis.
4. Quartzite (kwarsit); merupakan batuan metamorfosis regional yang semata-mata terdiri dari butir-butir kwarsa yang mengkristal kembali. Mempunyai kristal holokristalin dengan struktur butiran-butiran tepung, teksturnya massif, kadang-kadang berbentuk sirip daun. 

Quartzite murni berwarna putih atau abu-abu cerah, tetapi zat lain yang mencampurinya bisa mengubah warnanya menjadi warna yang lain.
5. Marmer; di samping sebagai hasil metmorfosis termal, marmer juga bisa terjadi melalui metamorfosis regional. Marmer mengandung mineral kalsit dengan berkomposisi CaCO3, merupakan kristalin yang secara kasar sebanding dengan batuan kapur yang pada umumnya berasal dari bahan organik. 



Marmer merupakan contoh yang baik dari batuan metamorf yang mengalami transformasi secara fisik tanpa memerlukan perubahan secara drastis komposisi mineralnya. Di bawah tekanan dan temperatur yang cukup tinggi limestone mengalami kristalisasi. 

Jika proses ini berlangsung secara terus-menerus akan menghasilkan batuan berupa kristal kalsit. Marmer yang berasal dari kalsit berwarna putih, namun bisa berbeda warnanya jika terpengaruh dengan mineral lain.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close