Guru Geografi: Geologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 29

Karakteristik Batuan Beku Ekstrusif: Batu Apung (Pumice)

Karakteristik Batuan Beku Ekstrusif: Batu Apung (Pumice)


Salah satu jenis batuan beku ekstrusif yang umum ditemukan adalah batu apung. Batu apung adalah batuan berpori dengan komposisi riolit.

Batu apung mengandung kristal berukuran mikro dari jenis silikat seperti feldspar dan ferro magnesium dan juga beberapa jenis kaca.

Tekstur batu apung biasanya memiliki lubang udara atua vesikuler yang menyerupai buih atau busa. Batuan ini memiliki tekstur sangat scoriaceous dengan banya lubang atau rongga.

Lubang-lubang udara ini kadang bergabung membentuk saluran memanjang di seluruh permukaan batuan. Zeolit dapat mengisi rongga ini. Kepadatan batu apung sangat rendah sehingga dapat dengan mudah mengambang di air

Batu apung terbentuk saat letusan gunung api riolitik dimana material dari lubang kepundan dilontarkan ke udara sangat jauh dan kontak dengan udara di sekitar. Hal inilah yang mengakibatkan banyaknya lubang vesikuler terbentuk.

Batu apung banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia seperti bahan kosmetik karena dapat menghilangkan sel kulit mati dan mencerahkan kulit. Selain itu batu apung bisa dimanfaatkan untuk campuran kosntruksi beton bangunan.

Berikut ini spesifikasi batu apung:

Grup: Batuan beku
Asal: Ekstrusif
Ukuran butir: Halus
Bentuk kristal: Anhedral
Klasifikasi: Felsic ke mafic
Proses terbentuk: Erupsi eksplosif
Warna: Sedang

Selasa, September 13

Keselarasan dan Ketidakselarasan (Conformity dan Unconformity) Perlapisan Batuan

Keselarasan dan Ketidakselarasan (Conformity dan Unconformity) Perlapisan Batuan

Kalian tentu sering mendengar kata selaras, tapi bagaimana jika kata selaras itu dibahas dalam ilmu kebumian khususnya geologi?.

Dalam kaidah susunan perlapisan batuan, terdapat istilah keselarasan (conformity) dan ketidakselarasan (unconformity). Kedua fenomena tersebut terbentuk karena kombinasi gaya endogen dan eksogen yang terus-menerus selama jutaan tahun.

Keselarasan (conformity) adalah hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis batuan lainnya diatas atau dibawahnya yang kontinyu (menerus), tidak terdapat selang waktu (rumpang waktu) pengendapan. Contohnya gambar di bawah.
Secara umum di lapangan ditunjukkan dengan kedudukan lapisan (strike/dip) yang sama atau hampir sama, dan ditunjang di laboratorium oleh umur yang kontinyu.

Ketidak Selarasan (unconformity) adalah hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis batuan lainnya (batas atas atau bawah) yang tidak kontinyu (tidak menerus), yang disebabkan oleh adanya rumpang waktu pengendapan. Dalam geologi dikenal 3 (tiga) jenis ketidakselarasan, yaitu sebagai berikut:

1) Ketidakselarasan Bersudut (Angular unconformity) adalah salah satu jenis ketidakselarasan yang hubungan antara satu lapis batuan (sekelompok batuan) dengan satu batuan lainnya (kelompok batuan lainnya), memiliki hubungan/kontak yang membentuk sudut.

2) Disconformity adalah salah satu jenis ketidakselarasan yang hubungan antara lapisan batuan (sekelompok batuan) dengan lapisan batuan lainnya (kelompok batuan lainnya) dibatasi oleh satu rumpang waktu tertentu (ditandai oleh selang waktu dimana tidak terjadi pengendapan).

3) Non-conformity adalah salah satu jenis ketidakselarasan yang hubungan antara lapisan batuan (sekelompok lapisan batuan) dengan satuan batuan beku atau metamorf. 
Fenomena ketidakselarasan batuan paling nyata dapat dilihat di stratigrafi batuan Grand Canyon Colorado, cek di bawah ini:
Fenomena (a) keselarasan, (b) ketidakselarasan

Sumbar: Noor, Djauhari, Pengantar Geologi.

Minggu, September 11

Rangkuman Materi OSN Kebumian Hakikat Dasar Geologi

Rangkuman Materi OSN Kebumian Hakikat Dasar Geologi


Bagi pejuang OSN Kebumian tentunya kalian wajib paham betul dengan yang namanya konsep dasar ilmu bumi. Ilmu bumi berbeda dengan geografi karena kajiannya spesifik hanya pada aspek fisikal bumi.

Berikut ini contoh rangkuman materi mengenai hakiakt dasar geologi, silahkan dipelajari dengan baik. Jangan lupa share ke teman-teman lain.

1. Geologi adalah suatu bidang ilmu pengetahuan kebumian yang mempelajari segala sesuatu mengenai planit bumi beserta isinya yang pernah ada. Merupakan kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi, struktur, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun diatas permukaan bumi, kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang.

2. Geologi Fisik adalah bagian ilmu geologi yang mengkhususkan mempelajari sifat-sifat fisik dari bumi, seperti susunan dan komposisi dari pada bahan-bahan yang membentuk bumi, selaput udara yang mengitari bumi, khususnya bagian yang melekat dan berinteraksi dengan bumi, kemudian selaput air atau hidrosfir, serta proses-proses yang bekerja diatas permukaan bumi yang dipicu oleh energi Matahari dan tarikan gayaberat bumi.

3. Geologi Dinamis adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari dan membahas tentang sifatsifat dinamika bumi. Sisi ini berhubungan dengan perubahan-perubahan pada bagian bumi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang dipicu oleh energi yang bersumber dari dalam bumi, seperti kegiatan magma yang menghasilkan vulkanisma, gerak-gerak litosfir akibat adanya arus konveksi, gempabumi dan gerak-gerak pembentukan cekungan pengendapan dan pegunungan.

4. Skala Waktu Geologi adalah sistem penanggalan bumi yang dipakai untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Bumi. Sejarah bumi dikelompokkan menjadi Eon (Masa) yang terbagi lagi menjadi Era (Kurun), dan Era dibagi menjadi Period (Zaman), dan Zaman dibagi bagi menjadi Epoch (Kala).

5. Terdapat 2 jenis pembagian Skala Waktu Geologi, yaitu Skala Waktu Relatif dan Skala Waktu Nisbi (Radiometri): 
1. Skala Waktu Relatif adalah skala waktu geologi yang didasarkan atas fosil-fosil yang terdapat dalam batuan sepanjang sejarah bumi. 
2. Skala Waktu Nisbi (Radiometri) adalah skala waktu geologi yang didasarkan atas penentuan penanggalan isotop radioaktif pada mineral-mineral radioaktif yang terdapat dalam batuan.

6. Konsep / Doktrin Uniformitarianisme adalah suatu konsep dasar dalam ilmu geologi modern yang mengacu pada doktrin “The present is the key to the past”. Doktrin ini menyatakan bahwa hukum-hukum fisika, kimia dan biologi yang berlangsung saat ini berlangsung juga pada masa lampau. Artinya, gaya-gaya dan proses-proses yang membentuk permukaan bumi seperti yang kita amati saat ini telah berlangsung sejak terbentuknya bumi.

7. Prinsip Prinsip Dasar Geologi (Nicolous Steno) : 
1. Prinsip Horizontalitas (horizontality): Kedudukan awal pengendapan suatu lapisan batuan adalah horisontal, kecuali pada tepi cekungan memiliki sudut kemiringan asli (initial-dip) karena dasar cekungannya yang memang menyudut. 
2. Superposisi (superposition): Dalam kondisi normal (belum terganggu), perlapisan suatu batuan yang berada pada posisi paling bawah merupakan batuan yang pertama terbentuk dan tertua dibandingkan dengan lapisan batuan diatasnya. 
3. Kesinambungan Lateral (lateral continuity): Pelamparan suatu lapisan batuan akan menerus sepanjang jurus perlapisan batuannya. Dengan kata lain bahwa apabila pelamparan suatu lapisan batuan sepanjang jurus perlapisannya berbeda litologinya maka dikatakan bahwa perlapisan batuan tersebut berubah facies.

8. Keselarasan dan Ketidakselarasan 
1. Keselarasan (conformity) adalah hubungan antar perlapisan batuan yang kontinyu (menerus), tidak terdapat selang waktu (rumpang waktu) pengendapan. 
2. Ketidak-selarasan (unconformity) adalah hubungan antar yang tidak menerus yang disebabkan oleh adanya rumpang waktu pengendapan. Terdapat 3 (tiga) jenis ketidak-selarasan, yaitu ketidakselarasan bersudut (angular), disconformity, dan non-conformity.

9. Transgresi dan Regresi 
1. Transgresi (genang laut) dalam pengertian stratigrafi/sedimentologi adalah laju penurunan dasar cekungan lebih cepat dibandingkan dengan pasokan sedimen (sediment supply). 
2. Regresi (susut laut) dalam pengertian stratigrafi/sedimentologi adalah laju penurunan dasar cekungan lebih lambat dibandingkan dengan pasokan sedimen (sediment supply).

10. Hubungan Potong Memotong (Cross-cutting relationship) adalah hubungan kejadian antar batuan. Urutan pembentukan batuan dapat ditentukan berdasarkan hubungan potong memotong, dimana batuan yang dipotong (diterobos) terbentuk lebih dahulu dibandingkan dengan batuan yang menerobosnya.

Sumber: Noor, Djauhari, Pengantar Geologi

Senin, Agustus 29

Zaman Prakambrium: Sejarah, Kurun, Ciri-Ciri Kehidupan

Zaman Prakambrium: Sejarah, Kurun, Ciri-Ciri Kehidupan

Kalau kalian bertanya zaman apa yang paling tua di bumi, maka jawaban ahli geologi adalah Prakambrium. Pra artinya sebelum, Kambrium artinya zaman kambrium. 

Jadi batuan tertua itu ditemukan saat penelitian di wilayah Cambria (Wales). Makanya disebut zaman Kambrium. 

Periode kambrium dimulai sejak awal mula bumi lahir yaitu 4,5 milyar tahun lalu hingga evolusi hewan makroskopik bercangkang keras mulai masif terjadi.

Kambrium adalah periode pertama dari masa pertama kurun Fanerozoikum sekitar 524 juta tahun lalu. Para ahli geologi beraanggapan prakambrium terdiri atas kurun Arkeozoikum dan Proterozoikum.

1. Kurun Arkeozoikum (4,5-2,5 milyar tahun lalu)
Kurun arkeozoikum merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen alias cikal bakal benua purba. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua. 

Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa arkeozoikum ini juga merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer serta awal muncul kehidupan primitif di dalam samudera berupa mikro-organisme (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun.
Fosil stromatolit
2. Kurun Proterozoikum (2,5 milyar - 290 juta tahun lalu) 
Kurun Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak seperti enkaryotes dan prokaryotes.

Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.

Setiap kurun diakhiri oleh adanya perubahan besar dari bentuk permukaan bumi yang ditandai dengan lahirnya bentuk-bentuk spesies baru, kecuali dalam kurun Fanerozoikum. 

Istilah Prakambrium ini dipakai untuk mengacu pada rentang waktu dari periode bumi sebelum pembentukkan batuan-batuan tertua yang mengandung fosil.
Lapisan batuan berumur kambrium

Pada tahun 1835 Adam Sedgwick seorang ahli geologi asal Inggris menggunakan nama “Kambrium” untuk lapisan menyebut lapisan sedimen yang paling tua. Kemudian untuk batuan batuan yang ditutupi oleh sedimen Kambrium ini dikenal dengan istilah batuan “Prakambrium".

Masa Prakambrium meliputi hampir 90% dari keseluruhan sejarah Bumi (lebih dari 4 milyar tahun) dan di masa inilah bumi mulai merancang dirinya sendiri untuk bisa dihuni oleh mahluk hidup.

Cerita tentang zaman prakambrium ini tidak banyak diketahui dengan baik karena:
1. batuan berumur prakambrium jarang tersingkap di atas permukaan bumi.
2. batuan berumur prakambrium sudah banyak tererosi atau mengalami metamorfosis.
3. hampir semua batuan prakambrium berada jauh di bawah bumi tertutupi batuan berumur muda.
4. jarang ditemukan fosil.

Yang jelas ciri kehidupan masa prakambrium ini masih sangat jauh dari harapan, karena bumi baru saja lahir dan faktor-faktor pendukung kehidupan mulai berproses seperti atmosfer, hidrosfer, litosfer hingga biosfer.

Di masa inilah vulkanisme awal dibangun, kondensasi terjadi, gas-gas di atmosfer mulai tersusun hingga akhirnya nanti membentuk sebuah sistem geosfer yang memungkinkan mahluk hidup untuk berkembang baik dan berevolusi hingga seperti sekarang.

Sabtu, Juli 2

Jejak Gunung Api Purba Pada Formasi Breksi Vulkanik Nglanggeran

Jejak Gunung Api Purba Pada Formasi Breksi Vulkanik Nglanggeran

Hari ini kami berempat plesiran dari Bantul menuju Nglanggeran Gunungkidul. Sebenarnya dulu sudah pernah ke sana tapi masih ingin lagi mengunjungi situs geologi luar biasa tersebut.

Jadi kami berangkat naik motor dari Pundong ke arah Imogiri lalu Piyungan sampai Pathuk. 

Dari Pathuk kemudian menuju arah Kedung Pandang melewati Situs Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran.

Kedung Pandang adalah air terjun berundak-undak dengan formasi batuan breksi vulkanik purba.

Kenampakan breksi purba ini sudah bisa dilihat dari jalan raya di batas tanjakan Piyungan menuju Gunung Kidul.

Breksi vulkanik di Nglanggeran menurut penelitian berasal dari aktifitas gunung api purba sekitar 18-50 juta tahun lalu atau di sekitaran era Miosen kurang lebih.😱 Wah lama juga ya?.

Mengapa bisa ada gunung api di Nglanggeran?. Menurut teori, itu karena pengaruh subduksi lempeng tektonik.
Batuan breksi vulkanik Nglanggeran
Tapi semakin kesini, terjadi perubahan posisi dari hot spot magma sehingga Gunung Nglanggeran menjadi tidak aktif lagi alias mati.

Jadi dalam jangka waktu jutaan tahun, kerak bumi selalu dinamis berubah. Contoh lain adalah karst Gunung Kidul adalah dasar laut yang mengalami pengangkatan karena gaya tektonik.

Jadi Nglanggeran kini menjadi kawasan ekowisata dan penelitian yang menarik bagi ahli geologi, geografi, paleontologi.

Senin, Juni 6

7 Level Kemiringan/Slope Lereng Suatu Lahan

7 Level Kemiringan/Slope Lereng Suatu Lahan

Salah satu parameter dalam menentukan suatu daerah itu rawan longsor atau tidak adalah kemiringan lereng. Indonesia secara geomorfologi memiliki keragaman relief dan topografi karena kombinasi tenaga endogen dan eksogen yang kompleks

Menurut data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral selama tahun 2021, rentetan kejadian bencana gerakan tanah atau yang dikenal umum sebagai tanah longsor melanda kawasan Indonesia dan tercatat minimal 1056 kejadian yang menelan korban jiwa sebanyak 340, 1349 rumah rusak dan 5903 jiwa mengungsi. 

Dampak ini belum mencangkup kerugian ekonomi masyarakat seperti kehilangan harta benda, terputusnya jalur ekonomi. Dengan sebaran kejadian gerakan tanah sekitar 60 % di Pulau Jawa.

Gerakan tanah banyak terjadi terutama saat puncak musim penghujan tiba. Ada tiga periode potensi puncak hujan tertinggi menurut data BMKG yaitu periode potensi tinggi Januari – April, periode potensi rendah Mei – September dan periode tinggi pada Oktober - Desember. 

Pola umum potensi gerakan tanah selaras dengan periode umum curah hujan di Indonesia yang dikeluarkan oleh BMKG dan peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang (Badan Geologi). 

Kejadian gerakan tanah juga dipicuh oleh aktifitas manusia dan gempa-bumi maupun kombinasi antara ke 3 nya. Tata kota terutama pembangunan kawasan pemukiman yang buruk menjadi salah satu faktor meningkatknya kejadian gerakan tanah.

Kondisi geomorfologi dan geologi merupakan parameter-parameter dari pemicu gerakan tanah. Aspek geomorfologi seperti kelerengan berperan aktif dalam mengontrol terjadinya gerakan tanah. Semakin besar kelerengan semakin besar gaya penggerak massa tanah atau batuan penyusun lereng. 

Namun perlu diperhatikan tidak semua lahan yang miring selalu rentan untuk bergerak. Hal ini sangat tergantung kondisi geologinya, seperti jenis struktur dan komposisi tanah atau batuan penyusun lereng (BAPEKOINDA, 2002). Van Zuidam (1988) dalam Rahmawati (2009) mengklasifikasikan kemiringan lereng menjadi 7, yaitu : 

a. 0º- 2º (0% - 2%) kemiringan lereng datar. 
b. 2º - 4º (2% - 7%) kemiringan lereng landai. 
c. 4º - 8º (7% - 15%) kemiringan lereng miring. 
d. 8º - 16º (15% - 30%) kemiringan lereng agak curam. 
e. 16º - 35º (30% - 70%) kemiringan lereng curam. 
f. 35º - 55º (70% - 140%) kemiringan lereng sangat curam. 
g. >55º (>140%) kemiringan lereng terjal.
Ilustrasi sudut kemiringan lereng

Lihat gambar di atas, wilayah dengan nominal 37º memiliki potensi longsor tinggi sehingga cocok untuk kawasan lindung dengan vegetasi keras untuk menahan tanah dan menjaga infiltrasi.

Semakin rendah nilai kemiringan maka potensi gerakan tanah makin rendah sehingga bisa digunakan untuk kegiatan pemukiman, industri hingga aktifitas ekonomi lain. Jika kemiringan lereng makin tinggi maka potensi gerakan tanah juga meningkat. Masyarakat harus berhati-hati jika bermukim pada wilayah tersebut.

Selasa, Maret 29

Perbedaan 3 Batas Lempeng Konvergen: Subduksi, Obduksi, Kolisi

Perbedaan 3 Batas Lempeng Konvergen: Subduksi, Obduksi, Kolisi

Lempeng tektonik bergerak di atas lapisan astenosfer yang tersusun atas cairan panas pijar kental. Arus konveksi di bawah kerak bumi membuat lempengan kerak bumi bergerak relatif.

Bumi tersusun atas lempeng mayor dan lempeng minor saling bergesekan satu sama lain. Ada tiga batas lempeng yaitu konvergen, divergen dan transform.

Batas lempeng konvergen terjadi jka dua lempeng atau lebih saling bertabrakan. Batas konvergen ini memiliki tiga tipe yaitu subduksi, obduksi dan kolisi.

a. Subduksi
Batas lempeng subduksi terbentuk antara lempeng benua dengan lempeng samudera. Pada peristiwa tabrakan lempeng ini, lempeng samudera menunjam/terperosok mask ke bawah lempeng benua dengan sudut 45 derajat atua lebih.

Contoh hasil subduksi lempeng adalah Palung yang memanjang dari Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akibat subduksi lempeng Indo Australia ke bawah lempeng Eurasia.

Proses subduksi lempeng

b. Obduksi
Batas lempeng obduksi terjadi jika kerak benua menunjam ke bawah kerak samudera. Ada beberapa pendapat tentang asal mula terjadinya obduksi. Pendapat paling memungkinkan adalah diawali dari penunjaman kerak samudera dengan kerak benua dibelakangnya. 

Penunjaman lempeng ini terjadi karena perubahan dari batas lempeng divergen menjadi konvergen. Kelanjutan penunjaman membawa kerak benua berbenturan dengan kerak samudera dan pada awalnya kerak samudera naik ke atas kerak benua sebelum akhirnya penunjaman di lokasi tersebut terhenti dan berpindah ke lokasi lain. Contoh obduksi terjadi di Papua Nugini dan Andaman.
Obduksi lempeng

c. Kolisi
Batas lempeng kolisi terjadi jika lempeng benua bertabrakan dengan lempeng benua lagi. Tidak ada penunjaman pada batas lempeng kolisi karena sama-sama kuat dan akan membentuk lipatan pegunungan seperti Himalaya. Himalaya terbentuk karena kolisi antara Lempeng India Purba dan Lempeng Eurasia.

Pembentukkan Himalaya

Selasa, Maret 22

Faktor Pemicu dan Pengontrol Tanah Longsor

Faktor Pemicu dan Pengontrol Tanah Longsor

Indonesia adalah negara dengan tingkat kerawanan tanah longsor yang tinggi terutama di wilayah yang memiliki topografi berbukit seperti Sumatera, Jawa dan Papua.

Tanah longsor adalah salah satu fenomena alam yang banyak terjadi saat musim penghujan tiba. Kondisi tektonik Indonesia yang membentuk morfologi dataran tinggi, patahan, batuan vulkanik yang mudah rapuh ditambah iklim tropis basah menjadikan potensi tanah longsor semakin meningkat.

Kombinasi faktor antropogenik dan alam merupakan penyebab terjadinya longsor memakan korban jiwa dan kerugian material harta benda.

Wang et. al mengatakan bahwa kejadian tanah longsor berkaitan erat dengan berbagai faktor seperti presipitasi, geologi jarak dari patahan/sesar, vegetasi dan topografi.

Tanah longsor atau landslide merupakan fenomena perpindahan massa batuan/tanah akibat gaya gravitasi. Longsor timbul karena adanya gangguan kesetimbangan gaya yang bekerja pada lereng yaitu gaya penahan dan gaya peluncur.
Ilustrasi longsor lahan

Gaya peluncur dipengaruhi oleh kandungan air, berat massa tanah, dan berat massa bangunan di sekitarnya. Ketidakseimbangan gaya tersebut diakibatkan adanya gaya dari luar lereng yang menyebabkan besarnya gaya peluncur pada suatu lereng menjadi lebih besar daripada gaya penahannya, sehingga menyebabkan massa tanah bergerak turun ke bagian lembah.

Tanah longsor terjadi disebabakan oleh faktor pemicu dan faktor pengontrol. Faktor pengontrol longsor adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi material itu sendiri seperti kondisi geologi (batuan), kemiringan lereng, litologi, sesar dan kekar pada batuan.

Faktor pemicu longsor adalah faktor yang mengakibatkan bergeraknya material tersebut yaitu curah hujan tinggi, gempa bumi, erosi kaki lereng dan aktifitas manusia.

Longsor adalah bencana alam yang sering menelan korban jiwa karena sifatnya tiba-tiba, cepat sehinga penduduk tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.

Tanah longsor merupakan salah satu bencana utama yang merusak di daerah pegunungan, yang
diaktifkan karena pengaruh gempa bumi dan curah hujan.

Masyarakat Indonesia banyak yang bermukim di perbukitaan terutama di pedesaan, sehingga perlu edukasi yang mantap mengenai potensi longsor tersebut.

Pemerintah daerah harus melakukan analisis lokasi sehingga dapat dipetakan zona-zona merah rawan longsor supaya masyarakat siap menghadapi fenomena tersebut.

Jika wilayah rawan longsor sangat berbahaya sekali maka pemerintah wajib merelokasi warga ke lokasi yang dirasa lebih aman. 

Jumat, Januari 14

Gempa 6,7 Skala Richter Guncang Banten, Terasa Sampai Jakarta

Gempa 6,7 Skala Richter Guncang Banten, Terasa Sampai Jakarta

Titik episentrum gempa sore ini
Sore ini saya sedang rebahan di kasur, tiba-tiba terasa ada goyangan beberapa detik, lumayan kuat dan cukup membuat kepala melayang.

Dari gejala tersebut pastinya ini gempa, padahal jarang-jarang Bekasi ada goncangan. Setelah dicek ke BMKG ternyata memang benar terjadi gempa di daerah Sumut Banten berkekuatan 6,7 skala Richter.

Gempa cukup kuat hingga sampai Jakarta, dan pastinya goncangan akan semakin terasa jika sedang berada di gedung tinggi lantai atas.

Lantas pertanda apakah ini?. Sebenarnya hal ini adalah fenomena biasa karena pulau Jawa berada di zona subduksi lempeng Indo Australia - Eurasia.

Zona subduksi adalah zona penunjaman lempeng tektonik dikarenakan terjadi tabrakan lempeng di zona konvergen. Lempeng yang lebih lemah akan menunjam atau menerobos masuk ke bawah lempeng yang lebih kuat.

Gempa sore ini termasuk gempa tektonik dan tidak berpotensi tsunami. Kejadian ini menjadi alarm bagi kita untuk waspada dan terus menambah pengetahuan seputar mitigasi gempa.

Saat tiba - tiba terjadi gempa, apa yang harus dilakukan saat kita berada di bangunan lantai 1, lantai atas, kendaraan, bawah pohon dan lainnya?.

Masyarakat harus paham dan siap jika nanti fenomena gempa terjadi kembali. Dengan semakin cerdas maka potensi kerugian dan korban jiwa akan semakin kecil.

Lempeng tektonik akan terus mengalami tekanan dan kita tidak bisa memprediksi kapan waktu terjadinya gempa, jadi kesiapsiagaan adalah hal utama.

Senin, Januari 18

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Erupsi gunung api adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi ke luar permukaan bumi melalui peristiwa vulkanisme.

Bahan dasar gunung api pada dasarnya adalah magma yang ada di astenosfer. Akan tetapi kekuatan letusan gunung api berbeda-beda.

Ada gunung api yang letusannya eksplosif atau bertipe ledakan dan adapula gunung api yang letusannya bersifat lelehan atau efusif.
 
Perbedaan variasi kekuatan letusan tersebut menyebabkan kenampakan atau bentuk fisiografis gunung api berbeda-beda di setiap tempat.
 
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan erupsi:
1. Viskositas/Kekentalan Magma
Magma yang bertipe kental cenderung akan menghasilkan erupsi bertipe eksplosif sementara magma yang bertipe cair akan menghasilkan erupsi tipe efusif. Viskositas magma dipengaruhi oleh kandungan Silikat dan temperatur magma. 
 
Semakin tinggi kandungan silikat maka makin tinggi viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya, makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Magma jenis basaltik lebih mudah mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Contoh magma basaltik adalah erupsi Kilauea di Hawaii.
Ilustrasi dapur magma gunung api
2. Kedalaman Dapur Magma
Dapur magma adalah suatu ruangan di bawah tubuh gunung api yang menjadi tempat magma berkumpul. Kedalaman dapur magma bervariasi di setiap lokasi gunung api dari mulai 2 - 5 km di bawah permukaan tanah.

Dapur magma terbentuk karena magma berhasil menerobos lapisan batuan dan berkumpul pada suatu area di litosfer. Semakin dalam dapur magma biasanya akan menghasilkan letusan yang besar dibandingkan dapur magma yang dangkal. 

3. Tekanan Gas
Magma adalah bahan zat cair kental yang bersifat panas dan mengandung gas bertekanan tinggi. Jika tekanan gas di dapur magma tinggi maka ledakan eksplosif akan terbentuk dan menghasilkan erupsi berupa muntahan material piroklastik.

Sementara itu jika tekanan gas di dapur magma tidak terlalu besar maka biasanya akan menghasilkan erupsi tipe aliran tanpa adanya letusan besar material piroklastik.
 
 4. Luas Dapur Magma
Setiap gunung api memiliki dapur magma masing-masing dan tidak terkoneksi satu dengan lainnya. Oleh sebab itu kondisi luas dapur magma setiap gunung api berbeda-beda. Gunung api yang memiliki dapur magma yang luas maka akan potensial menghasilkan letusan besar karena bahan dasar erupsinya banyak.

Magma bisa menerobos ke litosfer karena adanya tekanan yang memebuat kerak bumi terkoyak. Tidak semua lapisan kerak bumi diterobos magma karena ketebalan dan kekuatan batuan berbeda-beda di setiap wilayah.

Sabtu, Desember 26

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Salah satu teori gerakan benua yang terkenal adalah Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener.
 
Alred Lothar Wegener lahir pada 1 November 1880 di Berlin Jerman dan meninggal di Greenland pada November 1930. 
 
Wegener adalah seorang ahli meteorologi dan geofisika terkemukan Jerman yang berjasa merumuskan teori pergerakan benua.

Alfred Wegener meraih gelar Ph.D dalam bidang astronomi dari University of Berlin di tahun 1905 namun ia tertarik pada paleoklimatologi.

Di tahun 1906-1908 ia kemudian mengambil bagian dalam ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari sirkulasi udara kutub. Dalam perjalanannya Wegener kemudian bertemu klimatolog Wladimir Koppen yang menjadi mentornya.

Wegener melaukkan tiga ekspedisi ke Greenlang yaitu pada 1912-1913, 1929 dan 1930. Wegener mengajar meteorologi di Marburg dan Hamburg dan menjadi profesor meteorologi dan geofisika di University of Graz dari 1924 -1930. Wegener meninggal saat ekspedisi terakhirnya di Greenland pada 1930.
Alfred Wegener
Wegener terkesan pada kesamaan garis pantai Amerika Selaran bagian timur dan Afrika barat dan berspekulasi bahwa di jaman dahulu wilayah tersebut pernah bergabung.

Sekitar tahun 1910 ia kemudian ia merekonstruksi gagasan bahwa pada akhir era Paleozoikum (sekitar 252 juta tahun lalu) semua benua membentuk satu daratan besar yang kemudian pecah. WEgener menyebutnya Pangaea atau benua kuno.

Ilmuwan lainnya memiliki anggapan bahwa pemisahan benua disebabkan dari penenggelaman benua besar kemudian membentuk Samudera Atlantik dan Hindia.

Wegener memiliki pendapat lain dan mengusulkan bahwa superkontinen Pangaea perlahan-lahan bergerak ribuan mil dan terpisah dalam jangka pajang secara geologi. Istilah gerakan ini dinamakan Continental Drift atau Pergeseran Benua.

Wegener pertama kali mempresentasikan teorinya dalam ceramah pada tahun 1912 dan menerbitkannya secara penuh pada tahun 1915 dalam karyanya yang paling penting, Die Entstehung der Kontinente und Ozeane (The Origin of Continents and Oceans). 
 
Dia mencari literatur ilmiah untuk bukti geologis dan paleontologis yang akan mendukung teorinya, dan dia mampu menunjuk ke banyak organisme fosil yang terkait erat dan kesamaan formasi batuan  yang terjadi di benua yang dipisahkan secara luas, terutama yang ditemukan di Amerika dan di Afrika.
 
Pergeseran benua Pangaea

Teori Wegener tentang pergeseran benua mendapatkan perhatian beberapa ilmuwan dalam dekade selanjutnya. Namun postulasinya tentang kekuatan pendorong di balik gerakan benua itu tampak tidak masuk akal. 
 
Pada tahun 1930 teorinya telah ditolak oleh sebagian besar ahli geologi dan tenggelam dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade selanjutnya.
 
Teori ini kemudian muncul kembali dan dimodifikasi sebagai bagian dari teori tektonik lempeng selama tahun 1960-an. Baca juga: Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Rabu, Desember 16

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Selama ini kita hidup di atas lapisan kerak bumi dan dapat berjalan seperti biasa. Tapi tahukah bahwa kerak bumi kita ini mengapung diatas lautan magma?.

Kerak bumi tersusun atas beberapa lempeng mayor dan lempeng minor dengan arah gerakan tertentu. Teori lempeng tektonik memberikan bukti bahwa kita hidup di atas lempeng-lempeng benua yang bergerak.

Lempeng tektonik memberikan gambaran manusia untuk memahami proses terbentuknya gunung api, gempa dan evolusi permukaan bumi serta merekonstruksi benua dan lautan di masa lampau.

Konsep teori lempeng tektonik dirumuskan pada tahun 1960an setelah teori Continenal Drift yang belum selesai dikaji oleh Wegener.
 

Peta lempeng tektonik
Menurut teori lempeng tektonik, bumi memiliki lapisan luar yang kaku dinamakan litosfer dengan ketebalan sekitar 100 km dan mengapung diatas laisan astenosfer bertipe plastik cair.
 
Litosfer pecah menjadi tujuh lempeng benua dan samudera yang sangat besar, enam atau tujuh lempeng lainnya berukuran sedang hingga kecil.

Lempengan-lempengan tektonik ini bergerak relatif satu sama lain, biasanya dengan kecepatan hingga 10 cm (2 hingga 4 inci) per tahun, dan berinteraksi di sepanjang batas mereka. Lebih lambat dari siput bukan?. 
 
Lempeng tektonik ini saling bertemu, bergesekan atua menyelinap satu sama lain. Interaksi lempeng ini bertanggung jawab atas sebagian besar aktivitas seismik dan vulkanik bumi meski gempa dan gunung api dapat terjadi di atas lempeng.
 
Ada 3 batas lempeng tektonik yang umum ditemui yaitu konvergen, divergen dan transform. Ketiga batas ini menghasilkan fenomena berbeda.
 
Batas lempeng konvergen terjadi jika dua buah lempeng tektonik saling bertabrakan. Hal ini dapat memicu terbentuknya zona subduksi dan pembentukkan gunung api. Fenomena ini terjadi jika lempeng benua bertemu lempeng samudera. 
 
Jika lempeng benua bertemu lempeng benua maka akan terjadi pengangkatan (kolisi) seperti terbentuknya Himalaya. Adapula lempeng tektonik yang saling menjauh sehingga terjadilah pemekaran lantai samudera. 
 
Di bagian lain dua buah lempeng juga dapat bertemu secara horizontal dan membentuk batas transform. Batas lempeng transform dikenali dari adanya morfologi patahan atau sesar.
 
Teori lempeng tektonik didasarkan pada kajian geologi dan geofisika sehingga diterima secara universal oleh ilmuwan.Teori ini memecahkan misteri tentang bagaimana kerak bumi itu sebenarnya.
 
Batas gerakan lempeng
Menggabungkan gagasan teori apungan benua serta konsep pemekaran dasar laut, teori lempeng tektonik memberikan kerangka luas untuk menggambarkan geografi benua dan lautan di masa lalu dan merekonstruksi penciptaan dan penghancuran kerak bumi, atmosfer, biosfer, hidrosfer dan iklim. 
 
Proses pergerakan lempeng tektonik sangat mempengaruhi komposisi atmosfer dan lautan Bumi, memicu sebagai penyebab utama perubahan iklim jangka panjang, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap lingkungan kimia dan fisik di mana kehidupan berevolusi.
 

Rabu, September 30

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Permukaan bumi kita dihiasai beranekaragam relief atau bentuk mulai dari dataran rendah, pegunungan, bukit, lembah dan masih banyak lagi.

Terbentuknya relief permukaan bumi disebabkan dua gaya yaitu endogen dan eksogen. Variasi bentuk relief lebih banyak dilakukan tenaga eksogen. Seperti apa prosesnya?.

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi dan sifatnya merusak struktur yang telah ada (dibuat oleh endogen melalui peristiwa vulkanisme dan tektonisme).

Awalnya magma yang naik ke permukaan bumi melalui seraingkain proses vulkanisme membeku menjadi batuan beku. Penerobosan magma ini dapat menghasilkan bentukan gunung api.

Nah gaya eksogen mulai bekerja setelah magma membeku di atas permukaan bumi. Diawali dari pelapukan yang dipengaruhi oleh cuaca, mahluk hidup dan reaksi kimia.

Batuan yang sudah terbentuk dapat hancur melapuk menjadi bongkahan-bongkahan yang beranekaragam, Seringkali dijumpai relief hasil pelapukan adalah stack atau arch di pantai karang. 

Di daratan, pelapukan akan membuat permukaan bumi bisa melandai, runcing, atau membentuk morfologi lainnya.

Hasil pelapukan batuan tadi kemudian terangkut oleh media air, angin dan es atau dinamakan erosi. Erosi akan membawa material menuju daerah yang lebih rendah.
Relief delta sungai
Erosi angin misalnya dapat membangun relief gumuk pasir seperti di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Erosi di sungai juga dapat membangun delta sungai pada muara yang landai dan menghadap laut yang berombak tidak terlalu besar.

Setelah itu material sisa pelapukan akan mengalami sedimentasi dan terbentuklah lapisan-lapisan tanah pada sebuah lembah. Contoh lain dari sedimentasi adalah oramen pada gua karst seperti stalaktit dan stalagmit.

Benda asing lain dari luar bumi bisa membuat relief cekungan seperti hantaman meteor. Sudah banyak lubang-lubang meteor ditemukan di permukaan bumi. Huja meteor banyak terjadi jutaan tahun lalu sementara saat ini intensitasnya tidak terlalu tinggi.

Itulah proses pembentukkan relief permukaan bumi oleh tenaga eksogen yang berasal dari pelapukan , erosi, sedimentasi dan tenaga ekstrateresterial.

Senin, September 28

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Beberapa waktu ini netizen dihebohkan berita mengenai ancaman gempa besar (megathrust) dan tsunami di selatan Jawa. 
 
Semua kanal berita online menulis judul yang hampir sama dan terkesan menakut-nakuti. Tipikal masyarakat kita yang latah informasi langsung share berita dengan cepat.
 
Lalu apakah benar gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa bagian selatan dalam waktu dekat ini?. Siswa saya pun di sekolah banyak yang WA setelah berita ini viral.
 
Sebenarnya gempa dan tsunami adalah fenomena biasa yang sudah sering terjadi di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Buktinya ada gempa dan tsunami Aceh, gempa Bantul, tsunami Pangandaran, gempa Lombok, tsunami Anyer hingga gempa Palu.
 
Lalu mengapa akhir-akhir ini berita gempa dan tsumai tersebut jadi heboh?. Ya biasalah media kita kan gitu, sering membuat tagline yang membuat netizen jadi terbawa emosi. 
 
Sebenarnya masyarakat kita (nenek moyang) dahulu sudah terbiasa dengan hal ini dan mitigasinya pun sangat baik terutama struktur bangunan. Kita akan ulas dulu dari sisii geografis dan geologis ya.
 
Istilah "megathrust" di telinga masyarakat awam mungkin terkesan bombastis, padahal dalam ilmu geografi dan geologi ini sudah bisa ya bor.
Zona subduksi megathrust
 
Zona megathrust itu adalah istilah untuk menjelaskan sumber gempa tumbukkan lempeng di kedalaman dangkal. Tumbukan ini karena lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua sehingga membentuk tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng.
 
Hal ini akan memicu bergesernya lempeng tiba-tiba dan memicu gempa. Jika gempa terjadi maka bagian benua yang berada di atas lempeng samudera bergerak terdorong naik (thrusting). 
 
Zona penunjaman lempeng disebut juga sebagai zona subduksi. Nah Indonesia bagian selatan termasuk zona subduksi dari mulai Aceh sampai Flores. Jadi gak heran di daerah sekitar ini banyak gunung api, gempa dan tsunami.
 
Jadi sebenarnya kita udah terbiasa ya dengan fenomena tektonik tersebut. Ya harusnya begitu, dan semakin sering dilanda fenomena maka idealnya masyarakat akan sadar diri dan sudah tertanam pola pikir untuk mengantisipasinya. Tapi kayaknya di masyarakat kita gak demikian ya?. Mungkin ini perlu kajian budaya.
 
Kalau budaya nenek moyang jaman dahulu sih sudah sangat siap bentul dengan fenomena gempa dan tsunami. Buktinya apa?.
 
Coba perhatikan rumah adat Aceh, Sunda, Jawa dan lainnya pasti berstruktur panggung, tiang pondasinya pakai model ceker ayam dan lainnya. Itu semua bukan kebetulan guys, tapi untuk meminimalisir getaran gempa dan mengurangi efek tsunami.
 
Jadi masyarakat kita dulu itu sudah cerdas bro, sis!. Sekarang aja yang bangunannya pakai beton, filosfofinya ga berdasar karakter geografis, ya ada malahan seni yang ditonjolkan.
 
Hasilnya saat gempa ya rubuh. Coba lihat bangunan joglo saat gempa Bantul, relatif tidak rubuh total bahkan ada yang 100% berdiri kokoh (pengalaman rumah nenek saya).
 
Jadi gempa dan tsunami itu adalah makanan Indonesia sejak dahulu, sejatinya pengetahuan, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintahlah yang sekarang ini perlu dioptimalkan.
 
Persoalan kita saat ini bukan pada tentang mengapa dan kapan gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa dan Sumatera tapi Kapan kita akan siap menghadapi fenomena seperti ini?
 
Apakah kita perlu menghidupkan kembali roh nenek moyang kita supaya mengajari kembali masyarakat Indonesia jaman now?.
 
Pengalaman gempa dan tsunami dalam 20 tahun terakhir selalu menimbulkan korban jiwa yang besar. Ini membuktikan bahwa manajemen bencana di Indonesia masih tidak beres.
 
Masyarakat juga terkesan abai akan ancaman ini dan hanya ribut setelah bencana terjadi. Pemasangan alat peringatan dini di pesisir pantai juga masih minim. Kalupun dibangun seringkali dicuri. Inilah lingkaran setan di masyarakat kita yang entah sampai kapan berakhirnya.
 
Jadi kajian gempa megathrust ini hanya sebatas penelitian potensi gempa berdasarkan pola yang terjadi di wilayah tersebut di tahun-tahun lalu. Tujuan riset ini untuk menyadarkan masyarakat agar siap siaga dan tidak panik terhadap fenomena ini.
 
Tapi yang terjadi di masyarakat sekarang kan malah biar terjadi kepanikan padahal gempa dan tsunaminya pun tidak diketahui kapan terjadinya. 
 
Sampai sekarang tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Kalau tsunami bisa diprediksi jika sudah terjadi gempa atau erupsi di tengah laut.
 
Jadi marilah jadi bangsa cerdas, buka kembali buku-buku tentang budaya nenek moyang. Baca kajian fisosofis bangunan di masa lalu, tanya kakek atau nenek yang masih hidup dan praktikan dalam kehidupan saat ini. Kalau pun tidak bisa sama dalam hal struktur, ya bisa dimodifikasi yang penting konsepnya sama.
Rumah Sunda berstruktur panggung berfungsi meredam getaran gempa

Senin, September 14

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Gunung api, siapa yang tidak kenal salah satu fenomena mengagumkan berikut ini. Di berita-berita kita sering mendengar info tentang gunung api meletus.

Tapi coba bayangkan apa jadinya bumi ini jika tidak ada gunung api?. Pertanyaan ini terlihat sepele, tapi jawabannya bisa sangat panjang, analitis dan hots pokoknya.

Gunung api adalah satu bentukkan alam yang muncul dari adanya vulkanisme atau penerobosan magma dari dalam bumi ke permukaan bumi.

Magma adalah cairan pijar panas di dalam bumi yang kental. Karena bersifat panas pastinya magma ini memiliki tekanan tinggi.

Tekanan inilah yang menyebabkan magma mengalir ke atas permukaan bumi, menerobos lapisan litosfer sehingga meletus dan menjadi gunung api.

Magma yang keluar permukaan bumi akan berinteraksi dengan udara sehingga membeku dan jadilah batuan beku. Batuan ini nantinya akan digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan hidup terutama berkaitan dengan bangunan.

Selain itu material lain seperti pasir vulkanik, energi panas bumi sekitar gunung api juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Gunung api meletus
Apakah gunung api hanya memuntahkan magma saja?. Selain mengeluarkan magma, peristiwa vulkanisme juga membantu mineral-mineral berharga di dalam bumi agar bisa naik sampai permukaan bumi sehingga bisa ditambang.

Selain itu gunung api juga berfungsi sebagai wilayah tangkapan hujan sehingga daerah sekitarnya kaya mata air dan menjadi sumber kehidupan sampai wilayah hilir di perkotaan.

Semua batuan alias lapisan kerak bumi kita ini dibangun dari gunung api. Jadi pulau-pulau, daratan benua yang kita kenal saat ini adalah hasil kerja gunung api atas perintah Allah tentunya. Memang iya atas perintah Allah?. Coba aja buka ayat Quran berikut ini:

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An-Nahl;15)

Udah jelas dan shahih kan bahwa gunugn api itu diciptakan oleh Allah dengan tujuan yang jelas. Jadi saat gunung api meletus, pada dasanya Tuhan sedang mengeluarkan anugerah bagi kehidupan.

Manusia hanya diminta untuk bersabar dan mengungsi sejenak sampai erupsi berhenti. Jika erupsi terus-menerus terjadi maka kita bisa mencari daerah lain yang lebih aman atau relokasi.

Jadi intinya jika tidak ada gunung api maka tidak akan ada kehidupan di bumi ini karena semua mahluk hidup mayoritas tumbuh dan berkembang di tanah. Tanah berasal dari batuan yang melapuk sementara batuan berasal dari magma, itulah siklusnya.

Gunung api adalah paku dunia sehingga pulau-pulau atau daratan bisa tetap stabil diatas laipsan mantel bumi yang tersusun magma cair. Itulah kuasa Allah SWT.

Jumat, Februari 7

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Magma adalah komponen utama pembentuk kerak bumi karena mayoritas batuan berasal dari bahan ini. 

Magma adalah larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat mobile,
bersuhu antara 900-1200 derajat celcius atau lebih, dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung mantel bagian atas. 

Dari penelitian sampel-sampel pada batuan beku diketahui komposisi kimia magma adalah sebagai berikut :

1.    Senyawa yang bersifat non-volatile dan merupakan senyawa oksida, jumlahnya sekitar 99% dari isi magma, sehingga merupakan major element, terdiri dari SiO₂ , Al₂O₃ , Fe₂O₃, FeO, MnO, CaO, Na₂O, K₂O, TiO₂, P₂O₅.

2.    Senyawa volatile yang banyak mempengaruhi sifat fisik magma, terdiri dari fraksi fraksi gas metana, karbon dioksida dan lainnya.
3.   Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S, dan Pb.

Jenis Jenis Magma

Magma kental
Menurut Dally (1933) ada 2 jenis magma yaitu :

1.    Magma Primer

Magma primer adalah  yang terbentuk langsung dari lelehan bahan kerak, atau biasanya disebut dengan magma basaltis. Dengan ciri utama magma jenis ini yaitu viskositas rendah (encer), kadar logam tinggi, dan banyak kandungan volatil.

2.    Magma Sekunder

Magma sekunder adalah yang sudah mengalami perubahan komposisi kimia akibat berbagai proses, dengan kandungan yang cenderung lebih asam, viskositas tinggi, dan mempunyai kadar silika yang relatif lebih besar.

Proses Evolusi Magma
Magma bisa berubah melalui 3 cara :

1.    Proses Anateksis (Peleburan)

sesuai dengan nama prosesnya (anateksis) artinya magma yang dihasilkan berasal dari peleburan bahan kerak di bawah permukaan bumi, proses ini berasosiasi dengan subduksi, lempeng samudera mengandung banyak mineral hidrous yang membuat lempeng ini mengalami peleburan basah (wet melting) pada zona zona subduksi dan menghasilkan magma yang lazim disebut sebagai magma primer.

2.    Proses Sintesis

Untuk magma jenis ini dihasilkan ketika magma berasimilasi dengan batuan samping, sehingga merubah komposisi kimia magma dan membentuk magma baru, tetapi proses ini hanya akan berpengaruh secara signifikan jika massa batuan yang terlelehkan cukup besar, dan biasanya akan efektif jika magma berkomposisi lebih basa dan batuan lebih asam.

3.    Proses Hibridasi

Ketika magma bergerak ke atas ( karena gaya buoy) terkadang bisa “bertemu” dengan magma jenis lain, saat 2 jenis magma yang berbeda komposisi ini bercampur, akan dihasilkan magma baru dengan komposisi kimia yang berbeda dari magma awal. Dan proses ini disebut hibridasi (pencampuran).

Sumber: Disktat OSN Kebumian
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close