Guru Geografi: Geologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 2

Jejak Gunung Api Purba Pada Formasi Breksi Vulkanik Nglanggeran

Jejak Gunung Api Purba Pada Formasi Breksi Vulkanik Nglanggeran

Hari ini kami berempat plesiran dari Bantul menuju Nglanggeran Gunungkidul. Sebenarnya dulu sudah pernah ke sana tapi masih ingin lagi mengunjungi situs geologi luar biasa tersebut.

Jadi kami berangkat naik motor dari Pundong ke arah Imogiri lalu Piyungan sampai Pathuk. 

Dari Pathuk kemudian menuju arah Kedung Pandang melewati Situs Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran.

Kedung Pandang adalah air terjun berundak-undak dengan formasi batuan breksi vulkanik purba.

Kenampakan breksi purba ini sudah bisa dilihat dari jalan raya di batas tanjakan Piyungan menuju Gunung Kidul.

Breksi vulkanik di Nglanggeran menurut penelitian berasal dari aktifitas gunung api purba sekitar 18-50 juta tahun lalu atau di sekitaran era Miosen kurang lebih.😱 Wah lama juga ya?.

Mengapa bisa ada gunung api di Nglanggeran?. Menurut teori, itu karena pengaruh subduksi lempeng tektonik.
Batuan breksi vulkanik Nglanggeran
Tapi semakin kesini, terjadi perubahan posisi dari hot spot magma sehingga Gunung Nglanggeran menjadi tidak aktif lagi alias mati.

Jadi dalam jangka waktu jutaan tahun, kerak bumi selalu dinamis berubah. Contoh lain adalah karst Gunung Kidul adalah dasar laut yang mengalami pengangkatan karena gaya tektonik.

Jadi Nglanggeran kini menjadi kawasan ekowisata dan penelitian yang menarik bagi ahli geologi, geografi, paleontologi.

Senin, Juni 6

7 Level Kemiringan/Slope Lereng Suatu Lahan

7 Level Kemiringan/Slope Lereng Suatu Lahan

Salah satu parameter dalam menentukan suatu daerah itu rawan longsor atau tidak adalah kemiringan lereng. Indonesia secara geomorfologi memiliki keragaman relief dan topografi karena kombinasi tenaga endogen dan eksogen yang kompleks

Menurut data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral selama tahun 2021, rentetan kejadian bencana gerakan tanah atau yang dikenal umum sebagai tanah longsor melanda kawasan Indonesia dan tercatat minimal 1056 kejadian yang menelan korban jiwa sebanyak 340, 1349 rumah rusak dan 5903 jiwa mengungsi. 

Dampak ini belum mencangkup kerugian ekonomi masyarakat seperti kehilangan harta benda, terputusnya jalur ekonomi. Dengan sebaran kejadian gerakan tanah sekitar 60 % di Pulau Jawa.

Gerakan tanah banyak terjadi terutama saat puncak musim penghujan tiba. Ada tiga periode potensi puncak hujan tertinggi menurut data BMKG yaitu periode potensi tinggi Januari – April, periode potensi rendah Mei – September dan periode tinggi pada Oktober - Desember. 

Pola umum potensi gerakan tanah selaras dengan periode umum curah hujan di Indonesia yang dikeluarkan oleh BMKG dan peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang (Badan Geologi). 

Kejadian gerakan tanah juga dipicuh oleh aktifitas manusia dan gempa-bumi maupun kombinasi antara ke 3 nya. Tata kota terutama pembangunan kawasan pemukiman yang buruk menjadi salah satu faktor meningkatknya kejadian gerakan tanah.

Kondisi geomorfologi dan geologi merupakan parameter-parameter dari pemicu gerakan tanah. Aspek geomorfologi seperti kelerengan berperan aktif dalam mengontrol terjadinya gerakan tanah. Semakin besar kelerengan semakin besar gaya penggerak massa tanah atau batuan penyusun lereng. 

Namun perlu diperhatikan tidak semua lahan yang miring selalu rentan untuk bergerak. Hal ini sangat tergantung kondisi geologinya, seperti jenis struktur dan komposisi tanah atau batuan penyusun lereng (BAPEKOINDA, 2002). Van Zuidam (1988) dalam Rahmawati (2009) mengklasifikasikan kemiringan lereng menjadi 7, yaitu : 

a. 0º- 2º (0% - 2%) kemiringan lereng datar. 
b. 2º - 4º (2% - 7%) kemiringan lereng landai. 
c. 4º - 8º (7% - 15%) kemiringan lereng miring. 
d. 8º - 16º (15% - 30%) kemiringan lereng agak curam. 
e. 16º - 35º (30% - 70%) kemiringan lereng curam. 
f. 35º - 55º (70% - 140%) kemiringan lereng sangat curam. 
g. >55º (>140%) kemiringan lereng terjal.
Ilustrasi sudut kemiringan lereng

Lihat gambar di atas, wilayah dengan nominal 37º memiliki potensi longsor tinggi sehingga cocok untuk kawasan lindung dengan vegetasi keras untuk menahan tanah dan menjaga infiltrasi.

Semakin rendah nilai kemiringan maka potensi gerakan tanah makin rendah sehingga bisa digunakan untuk kegiatan pemukiman, industri hingga aktifitas ekonomi lain. Jika kemiringan lereng makin tinggi maka potensi gerakan tanah juga meningkat. Masyarakat harus berhati-hati jika bermukim pada wilayah tersebut.

Selasa, Maret 29

Perbedaan 3 Batas Lempeng Konvergen: Subduksi, Obduksi, Kolisi

Perbedaan 3 Batas Lempeng Konvergen: Subduksi, Obduksi, Kolisi

Lempeng tektonik bergerak di atas lapisan astenosfer yang tersusun atas cairan panas pijar kental. Arus konveksi di bawah kerak bumi membuat lempengan kerak bumi bergerak relatif.

Bumi tersusun atas lempeng mayor dan lempeng minor saling bergesekan satu sama lain. Ada tiga batas lempeng yaitu konvergen, divergen dan transform.

Batas lempeng konvergen terjadi jka dua lempeng atau lebih saling bertabrakan. Batas konvergen ini memiliki tiga tipe yaitu subduksi, obduksi dan kolisi.

a. Subduksi
Batas lempeng subduksi terbentuk antara lempeng benua dengan lempeng samudera. Pada peristiwa tabrakan lempeng ini, lempeng samudera menunjam/terperosok mask ke bawah lempeng benua dengan sudut 45 derajat atua lebih.

Contoh hasil subduksi lempeng adalah Palung yang memanjang dari Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akibat subduksi lempeng Indo Australia ke bawah lempeng Eurasia.

Proses subduksi lempeng

b. Obduksi
Batas lempeng obduksi terjadi jika kerak benua menunjam ke bawah kerak samudera. Ada beberapa pendapat tentang asal mula terjadinya obduksi. Pendapat paling memungkinkan adalah diawali dari penunjaman kerak samudera dengan kerak benua dibelakangnya. 

Penunjaman lempeng ini terjadi karena perubahan dari batas lempeng divergen menjadi konvergen. Kelanjutan penunjaman membawa kerak benua berbenturan dengan kerak samudera dan pada awalnya kerak samudera naik ke atas kerak benua sebelum akhirnya penunjaman di lokasi tersebut terhenti dan berpindah ke lokasi lain. Contoh obduksi terjadi di Papua Nugini dan Andaman.
Obduksi lempeng

c. Kolisi
Batas lempeng kolisi terjadi jika lempeng benua bertabrakan dengan lempeng benua lagi. Tidak ada penunjaman pada batas lempeng kolisi karena sama-sama kuat dan akan membentuk lipatan pegunungan seperti Himalaya. Himalaya terbentuk karena kolisi antara Lempeng India Purba dan Lempeng Eurasia.

Pembentukkan Himalaya

Selasa, Maret 22

Faktor Pemicu dan Pengontrol Tanah Longsor

Faktor Pemicu dan Pengontrol Tanah Longsor

Indonesia adalah negara dengan tingkat kerawanan tanah longsor yang tinggi terutama di wilayah yang memiliki topografi berbukit seperti Sumatera, Jawa dan Papua.

Tanah longsor adalah salah satu fenomena alam yang banyak terjadi saat musim penghujan tiba. Kondisi tektonik Indonesia yang membentuk morfologi dataran tinggi, patahan, batuan vulkanik yang mudah rapuh ditambah iklim tropis basah menjadikan potensi tanah longsor semakin meningkat.

Kombinasi faktor antropogenik dan alam merupakan penyebab terjadinya longsor memakan korban jiwa dan kerugian material harta benda.

Wang et. al mengatakan bahwa kejadian tanah longsor berkaitan erat dengan berbagai faktor seperti presipitasi, geologi jarak dari patahan/sesar, vegetasi dan topografi.

Tanah longsor atau landslide merupakan fenomena perpindahan massa batuan/tanah akibat gaya gravitasi. Longsor timbul karena adanya gangguan kesetimbangan gaya yang bekerja pada lereng yaitu gaya penahan dan gaya peluncur.
Ilustrasi longsor lahan

Gaya peluncur dipengaruhi oleh kandungan air, berat massa tanah, dan berat massa bangunan di sekitarnya. Ketidakseimbangan gaya tersebut diakibatkan adanya gaya dari luar lereng yang menyebabkan besarnya gaya peluncur pada suatu lereng menjadi lebih besar daripada gaya penahannya, sehingga menyebabkan massa tanah bergerak turun ke bagian lembah.

Tanah longsor terjadi disebabakan oleh faktor pemicu dan faktor pengontrol. Faktor pengontrol longsor adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi material itu sendiri seperti kondisi geologi (batuan), kemiringan lereng, litologi, sesar dan kekar pada batuan.

Faktor pemicu longsor adalah faktor yang mengakibatkan bergeraknya material tersebut yaitu curah hujan tinggi, gempa bumi, erosi kaki lereng dan aktifitas manusia.

Longsor adalah bencana alam yang sering menelan korban jiwa karena sifatnya tiba-tiba, cepat sehinga penduduk tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.

Tanah longsor merupakan salah satu bencana utama yang merusak di daerah pegunungan, yang
diaktifkan karena pengaruh gempa bumi dan curah hujan.

Masyarakat Indonesia banyak yang bermukim di perbukitaan terutama di pedesaan, sehingga perlu edukasi yang mantap mengenai potensi longsor tersebut.

Pemerintah daerah harus melakukan analisis lokasi sehingga dapat dipetakan zona-zona merah rawan longsor supaya masyarakat siap menghadapi fenomena tersebut.

Jika wilayah rawan longsor sangat berbahaya sekali maka pemerintah wajib merelokasi warga ke lokasi yang dirasa lebih aman. 

Jumat, Januari 14

Gempa 6,7 Skala Richter Guncang Banten, Terasa Sampai Jakarta

Gempa 6,7 Skala Richter Guncang Banten, Terasa Sampai Jakarta

Titik episentrum gempa sore ini
Sore ini saya sedang rebahan di kasur, tiba-tiba terasa ada goyangan beberapa detik, lumayan kuat dan cukup membuat kepala melayang.

Dari gejala tersebut pastinya ini gempa, padahal jarang-jarang Bekasi ada goncangan. Setelah dicek ke BMKG ternyata memang benar terjadi gempa di daerah Sumut Banten berkekuatan 6,7 skala Richter.

Gempa cukup kuat hingga sampai Jakarta, dan pastinya goncangan akan semakin terasa jika sedang berada di gedung tinggi lantai atas.

Lantas pertanda apakah ini?. Sebenarnya hal ini adalah fenomena biasa karena pulau Jawa berada di zona subduksi lempeng Indo Australia - Eurasia.

Zona subduksi adalah zona penunjaman lempeng tektonik dikarenakan terjadi tabrakan lempeng di zona konvergen. Lempeng yang lebih lemah akan menunjam atau menerobos masuk ke bawah lempeng yang lebih kuat.

Gempa sore ini termasuk gempa tektonik dan tidak berpotensi tsunami. Kejadian ini menjadi alarm bagi kita untuk waspada dan terus menambah pengetahuan seputar mitigasi gempa.

Saat tiba - tiba terjadi gempa, apa yang harus dilakukan saat kita berada di bangunan lantai 1, lantai atas, kendaraan, bawah pohon dan lainnya?.

Masyarakat harus paham dan siap jika nanti fenomena gempa terjadi kembali. Dengan semakin cerdas maka potensi kerugian dan korban jiwa akan semakin kecil.

Lempeng tektonik akan terus mengalami tekanan dan kita tidak bisa memprediksi kapan waktu terjadinya gempa, jadi kesiapsiagaan adalah hal utama.

Senin, Januari 18

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Faktor Kekuatan Erupsi Gunung Api

Erupsi gunung api adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi ke luar permukaan bumi melalui peristiwa vulkanisme.

Bahan dasar gunung api pada dasarnya adalah magma yang ada di astenosfer. Akan tetapi kekuatan letusan gunung api berbeda-beda.

Ada gunung api yang letusannya eksplosif atau bertipe ledakan dan adapula gunung api yang letusannya bersifat lelehan atau efusif.
 
Perbedaan variasi kekuatan letusan tersebut menyebabkan kenampakan atau bentuk fisiografis gunung api berbeda-beda di setiap tempat.
 
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan erupsi:
1. Viskositas/Kekentalan Magma
Magma yang bertipe kental cenderung akan menghasilkan erupsi bertipe eksplosif sementara magma yang bertipe cair akan menghasilkan erupsi tipe efusif. Viskositas magma dipengaruhi oleh kandungan Silikat dan temperatur magma. 
 
Semakin tinggi kandungan silikat maka makin tinggi viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya, makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Magma jenis basaltik lebih mudah mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Contoh magma basaltik adalah erupsi Kilauea di Hawaii.
Ilustrasi dapur magma gunung api
2. Kedalaman Dapur Magma
Dapur magma adalah suatu ruangan di bawah tubuh gunung api yang menjadi tempat magma berkumpul. Kedalaman dapur magma bervariasi di setiap lokasi gunung api dari mulai 2 - 5 km di bawah permukaan tanah.

Dapur magma terbentuk karena magma berhasil menerobos lapisan batuan dan berkumpul pada suatu area di litosfer. Semakin dalam dapur magma biasanya akan menghasilkan letusan yang besar dibandingkan dapur magma yang dangkal. 

3. Tekanan Gas
Magma adalah bahan zat cair kental yang bersifat panas dan mengandung gas bertekanan tinggi. Jika tekanan gas di dapur magma tinggi maka ledakan eksplosif akan terbentuk dan menghasilkan erupsi berupa muntahan material piroklastik.

Sementara itu jika tekanan gas di dapur magma tidak terlalu besar maka biasanya akan menghasilkan erupsi tipe aliran tanpa adanya letusan besar material piroklastik.
 
 4. Luas Dapur Magma
Setiap gunung api memiliki dapur magma masing-masing dan tidak terkoneksi satu dengan lainnya. Oleh sebab itu kondisi luas dapur magma setiap gunung api berbeda-beda. Gunung api yang memiliki dapur magma yang luas maka akan potensial menghasilkan letusan besar karena bahan dasar erupsinya banyak.

Magma bisa menerobos ke litosfer karena adanya tekanan yang memebuat kerak bumi terkoyak. Tidak semua lapisan kerak bumi diterobos magma karena ketebalan dan kekuatan batuan berbeda-beda di setiap wilayah.

Sabtu, Desember 26

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Salah satu teori gerakan benua yang terkenal adalah Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener.
 
Alred Lothar Wegener lahir pada 1 November 1880 di Berlin Jerman dan meninggal di Greenland pada November 1930. 
 
Wegener adalah seorang ahli meteorologi dan geofisika terkemukan Jerman yang berjasa merumuskan teori pergerakan benua.

Alfred Wegener meraih gelar Ph.D dalam bidang astronomi dari University of Berlin di tahun 1905 namun ia tertarik pada paleoklimatologi.

Di tahun 1906-1908 ia kemudian mengambil bagian dalam ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari sirkulasi udara kutub. Dalam perjalanannya Wegener kemudian bertemu klimatolog Wladimir Koppen yang menjadi mentornya.

Wegener melaukkan tiga ekspedisi ke Greenlang yaitu pada 1912-1913, 1929 dan 1930. Wegener mengajar meteorologi di Marburg dan Hamburg dan menjadi profesor meteorologi dan geofisika di University of Graz dari 1924 -1930. Wegener meninggal saat ekspedisi terakhirnya di Greenland pada 1930.
Alfred Wegener
Wegener terkesan pada kesamaan garis pantai Amerika Selaran bagian timur dan Afrika barat dan berspekulasi bahwa di jaman dahulu wilayah tersebut pernah bergabung.

Sekitar tahun 1910 ia kemudian ia merekonstruksi gagasan bahwa pada akhir era Paleozoikum (sekitar 252 juta tahun lalu) semua benua membentuk satu daratan besar yang kemudian pecah. WEgener menyebutnya Pangaea atau benua kuno.

Ilmuwan lainnya memiliki anggapan bahwa pemisahan benua disebabkan dari penenggelaman benua besar kemudian membentuk Samudera Atlantik dan Hindia.

Wegener memiliki pendapat lain dan mengusulkan bahwa superkontinen Pangaea perlahan-lahan bergerak ribuan mil dan terpisah dalam jangka pajang secara geologi. Istilah gerakan ini dinamakan Continental Drift atau Pergeseran Benua.

Wegener pertama kali mempresentasikan teorinya dalam ceramah pada tahun 1912 dan menerbitkannya secara penuh pada tahun 1915 dalam karyanya yang paling penting, Die Entstehung der Kontinente und Ozeane (The Origin of Continents and Oceans). 
 
Dia mencari literatur ilmiah untuk bukti geologis dan paleontologis yang akan mendukung teorinya, dan dia mampu menunjuk ke banyak organisme fosil yang terkait erat dan kesamaan formasi batuan  yang terjadi di benua yang dipisahkan secara luas, terutama yang ditemukan di Amerika dan di Afrika.
 
Pergeseran benua Pangaea

Teori Wegener tentang pergeseran benua mendapatkan perhatian beberapa ilmuwan dalam dekade selanjutnya. Namun postulasinya tentang kekuatan pendorong di balik gerakan benua itu tampak tidak masuk akal. 
 
Pada tahun 1930 teorinya telah ditolak oleh sebagian besar ahli geologi dan tenggelam dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade selanjutnya.
 
Teori ini kemudian muncul kembali dan dimodifikasi sebagai bagian dari teori tektonik lempeng selama tahun 1960-an. Baca juga: Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Rabu, Desember 16

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Pengertian dan Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Selama ini kita hidup di atas lapisan kerak bumi dan dapat berjalan seperti biasa. Tapi tahukah bahwa kerak bumi kita ini mengapung diatas lautan magma?.

Kerak bumi tersusun atas beberapa lempeng mayor dan lempeng minor dengan arah gerakan tertentu. Teori lempeng tektonik memberikan bukti bahwa kita hidup di atas lempeng-lempeng benua yang bergerak.

Lempeng tektonik memberikan gambaran manusia untuk memahami proses terbentuknya gunung api, gempa dan evolusi permukaan bumi serta merekonstruksi benua dan lautan di masa lampau.

Konsep teori lempeng tektonik dirumuskan pada tahun 1960an setelah teori Continenal Drift yang belum selesai dikaji oleh Wegener.
 

Peta lempeng tektonik
Menurut teori lempeng tektonik, bumi memiliki lapisan luar yang kaku dinamakan litosfer dengan ketebalan sekitar 100 km dan mengapung diatas laisan astenosfer bertipe plastik cair.
 
Litosfer pecah menjadi tujuh lempeng benua dan samudera yang sangat besar, enam atau tujuh lempeng lainnya berukuran sedang hingga kecil.

Lempengan-lempengan tektonik ini bergerak relatif satu sama lain, biasanya dengan kecepatan hingga 10 cm (2 hingga 4 inci) per tahun, dan berinteraksi di sepanjang batas mereka. Lebih lambat dari siput bukan?. 
 
Lempeng tektonik ini saling bertemu, bergesekan atua menyelinap satu sama lain. Interaksi lempeng ini bertanggung jawab atas sebagian besar aktivitas seismik dan vulkanik bumi meski gempa dan gunung api dapat terjadi di atas lempeng.
 
Ada 3 batas lempeng tektonik yang umum ditemui yaitu konvergen, divergen dan transform. Ketiga batas ini menghasilkan fenomena berbeda.
 
Batas lempeng konvergen terjadi jika dua buah lempeng tektonik saling bertabrakan. Hal ini dapat memicu terbentuknya zona subduksi dan pembentukkan gunung api. Fenomena ini terjadi jika lempeng benua bertemu lempeng samudera. 
 
Jika lempeng benua bertemu lempeng benua maka akan terjadi pengangkatan (kolisi) seperti terbentuknya Himalaya. Adapula lempeng tektonik yang saling menjauh sehingga terjadilah pemekaran lantai samudera. 
 
Di bagian lain dua buah lempeng juga dapat bertemu secara horizontal dan membentuk batas transform. Batas lempeng transform dikenali dari adanya morfologi patahan atau sesar.
 
Teori lempeng tektonik didasarkan pada kajian geologi dan geofisika sehingga diterima secara universal oleh ilmuwan.Teori ini memecahkan misteri tentang bagaimana kerak bumi itu sebenarnya.
 
Batas gerakan lempeng
Menggabungkan gagasan teori apungan benua serta konsep pemekaran dasar laut, teori lempeng tektonik memberikan kerangka luas untuk menggambarkan geografi benua dan lautan di masa lalu dan merekonstruksi penciptaan dan penghancuran kerak bumi, atmosfer, biosfer, hidrosfer dan iklim. 
 
Proses pergerakan lempeng tektonik sangat mempengaruhi komposisi atmosfer dan lautan Bumi, memicu sebagai penyebab utama perubahan iklim jangka panjang, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap lingkungan kimia dan fisik di mana kehidupan berevolusi.
 

Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close