Guru Geografi: Geologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 19

Batu Basal: Bentuk, Ciri dan Proses Terjadinya

Batu Basal: Bentuk, Ciri dan Proses Terjadinya

Basal adalah batuan vulkanik berat yang berwarna gelap dan membentuk sebagian besar kerak samudera. 

Basal bisa mencapai permukaan bumi namun awal mula kemunculannya adalah di dasar lautan. Dibandingkan dengan granit yang banyak terdapat di benua, basal lebih gelap, padat dan lebih halus. 

Warna gelap dan padat karena mineral yang terkandung dalam basal adalah magnesium dan besi (lebih basa) dan lebih sedikit mengandung silikon alumunium.

Permukaan basal lebih halus karena mendingin lebih cepat dekat permukaan bumi dan memiliki hablur yang kecil. 

Sebagian besar basalt di dunia meletus dan keluar di dasar perairan laut dalam di sepanjang Mid Ocean Ridge. 

Jumlah lebih kecil meletus di pulau-pulau vulkanik samudera, di zona subduksi dan kadang di zona lain.

Basalt Mid Ocean Ridge
Basal adalah tipe lava yang menyusun mantel bumi. Bagian atas mantel terdiri dari peridotit yang lebih basa dari basal, atau disebut juga batuan ultrabasa. 

Saat lempeng bumi terpisah di pematang tengah laut (Mid Ocean Ridge), pelepasan tekanan pada peridotit membuatnya mulai mencair dengan komposisi kimia klinopiroksen, plagioklas dengan sedikit olivin, ortopiroksin dan magnetit.

Batuan yang meleleh akan lebih berat dibanding batuan padat. Setelah terbentuk di kerak dalam, basal akan naik dan di tengah pematang lautan mengalir ke tengah laut dan cepat membeku di air dingin dalam bentuk lava bantal.  

Lebih jauh ke dalam basal tidak meletus dan mengeras namun menumpuk secara vertikal seperti kartu. Komplek basal ini membentuk bagian tengah kerak samudera dan di bagian bawahnya terdapat kolam magma yang lebih besar yang secara perlahan mengkristal menjadi gabro plutonik.

Basal Mid Ocean Ridge ini sangat penting karena dapat didaur ulang oleh gaya endogen menjadi mantel dan lempeng tektonik. 

Basal jenis ini jarang terlihat kecuali turun ke dasar lautan dalam.
Batu Basal: Bentuk, Ciri dan Proses Terjadinya
Columnar Basalt di daratan
Basalt Volcanic 
Basal yang kita kenal bukan berasal dari gunung api bawah laut namun dari aktivitas letusan yang lebih kuat di lokasi lain di daratan seperti zona subduksi, pulau tengah samudera dan dasar laut purba yang terangkat. 

Subduksi membawa basal samudera kembali ke mantel. Bahan-bahan ini lalu naik sebagai fluida di atas zona subduksi dalam rekahan kulit bumi. Jika basal meletus di dasar laut akan menghasilkan lava bantal. 

Jika basal naik di kerak benua maka sering bercampur dengan batuan basa yang lebih sedikit dan menghasilkan berbagai jenis lava mulai dari andesit hingga riolit. Tempat terbaik untuk melihat basal adalah di Hawaii dan Islandia.
Formasi batu basalt
Gambar: disini, disini

Kamis, Mei 17

Pengertian Intrusi Dike, Proses dan Contohnya

Pengertian Intrusi Dike, Proses dan Contohnya

Dalam mempelajari batuan pastinya akan menemukan berbagai macam fenomena salah satunya intrusi dike. 

Kita akan coba belajar tentang apa itu pengertian intrusi dike, proses terjadinya dan contohnya di kehidupan. Dike dalam geologi pada dasarnya merupakan tubuh batuan baik sedimen maupun beku yang menerobos lapisan disekitarnya. 

Intrusi dike terbentuk dari fraktur permukaan bumi yang telah ada, artinya dike selalu berumur lebih muda dibandingkan batuan lain disekitarnya.

Dike normalnya sangat mudah ditemukan ketika melihat singkapan batuan. Intrusi dike melintang secara vertikal dan memiliki komposisi batuan yang berbeda sehingga akan memberikan tekstur dan warna yang unik.

 Bentuk dike secara utuh alias 3 dimensi kadang sulit terlihat dalam sebuah singkapan, namun kita tahu bahwa intrusi ini memiliki lembaran tipis dan datar. Intrusi ini melewati batuan resisten dan orientasi dike ini memberikan kita gambaran lingkungan saat ia menerobos di masa lalu.

Intrusi dike ini ciri khas utamanya adalah memiliki arah vertikal, jika intrusinya memotong secara horizontal makan dinamakan sill. Ada tiga macam dike yaitu sediment dike, igneous dike dan ring dike. 
Intrusi vertikal dike
Sedimentary Dike
Intrusi ini sering disebut juga sebagai klastik atau batupasir, terbentuk saat sedimen dan mineral menumpuk dan mengeras dalam fraktur batuan. 

Dike klastik ini dapat terbentuk melalui berbagai cara diantaranya:
1. Melalui rekahan dan likuifaksi yang terkait gempa bumi. Sedimentary dikes paling sering dikaitkan dengan gempa bumi dan merupakan bukti paleoseismic.
2. Melalui endapan pasif ke dalam celah yang telah ada sebelumnya. Bayangkan sebuah longsoran lumpur atau gletser yang bergerak diatas batuan yang retak dan menginjeksi materi klastik ke bawah.
3. Melalui injeksi sedimen ke dalam materi yang belum disemen. Dike batupasir dapat terbentuk sebagai hidrokarbon dan gas bergerak ke hamparan pasir tebal yang ditndih oleh lumpur yang belum jadi batu.

Ignous Dike
Intrusi ini terbentuk saat magma terdorong ke atas melalui fraktur batuan vertikal, lalu mendingin dan mengkristal. Intrusi ini terbentuk di batuan sedimen, metamorf atau batuan beku dan memaksa batuan sebelumnya terpotong. Dike tipe ini memiliki ketebalan beragam mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa meter.

Ring Dike
Ring dike adalah intrusi magma yang melingkar atau bentuk semu lingkaran. Intrusi ini paling sering terbentuk pada kaldera yang runtuh. Ketika ruang magma yang dangkal mengosongkan isinya dan melepaskan tekanan, atapnya sering runtuh ke cekungan kosong. 

Saat atap runtuh, maka sering muncul rekahan mengarah vertikal. Magma kemudian bisa naik melalui faktur ini mendingin lalu membentuk tanggul tepi luar kaldera yang runtuh.

Gambar: disini

Selasa, Mei 8

Pengertian dan Ciri Batuan Beku Plutonik

Pengertian dan Ciri Batuan Beku Plutonik

Plutonik adalah intrusi batuan beku dalam, dimana magma yang menerobosi permukaan tanah kemudian membeku, mendingin. 

Pada kedalaman itu, magma mendingin dan mengkristal dengan sangat lambat, memungkinkan butir tubuh mineral tumbuh besar dan saling berdekatan melekat. 

Intrusi magma dangkal dapat disebut juga sebagai intrusi hipabisal. Ada banyak jenis plutonik termasuk Batolit, diapir, lakolit dan stock. Baca juga: Fenomena intrusi magma dike

Plutonik dapat muncul ke permukaan bumi karena bagian atasnya yang bisa berupa tanah dan batuan lainnya mengalami erosi. Plutonik ini mungkin mewakili ruang magma yang pernah eksis di masa lalu pada tubuh gunung api namun kini sudah lama hilang. 

Namun plutonik juga bisa menjadi tanda ruang magma yang tidak pernah mencapai permukaan bumi. Cara untuk mengidentifikasinya adalah dengan memetakan dan menganalisis detail bebatuan yang tersingkap dengan kondisi geologi disekitarnya.
Pengertian dan Ciri Batuan Beku Plutonik
Plutonik berbentuk batholith
Pluton adalah istilah umum yang mencakup seluruh jenis bentuk yang berasal dari tubuh magma. Artinya kondisi lingkungan yang membuat pluton ini bisa berbeda-beda bentuk dan ukurannya. 

Sebuah pluton yang berbentuk jamur dapat disebut Lopolit dan yang silindris disebut bysmalith. Begitupun pula ada bentuk-bentuk lainnya seperti stok (bulat).

Pluton dapat dengan mudah mencair dan naik ke atas kerak bumi namun mereka punya waktu yang sulit untuk mencapai kerak bagian paling atas karena sifatnya yang dingi dan kuat. 

Pluton membutuhkan gaya tektonik agar bisa membuka jalan bagi mereka untuk naik dan sampai ke permukaan bumi. Pluton terutama batholit, meluncur ke permukaan bersama zona subduksi yang menhasilkan busur vulkanik. Baca juga: Fungsi pebelajaran geografi

Jadi jelas yang guys, pluton itu istilah umum untuk magma yang membeku di dalam sehingga menciptakan sebuah batuan beku luas. 

Batuan beku luas ini bisa muncul dan terlihat ke permukaan karena dibantu gaya endogen dan gaya eksogen seperti erosi sehingga sang pluton ini akhirnya muncul dan bisa eksis di permukaan bumi. 

Senin, Mei 7

Pengertian, Bentuk dan Ciri Gunung Api Perisai (Shield Volcano)

Pengertian, Bentuk dan Ciri Gunung Api Perisai (Shield Volcano)

Gunung api perisai atau shield volcano adalah salah satu bentuk gunung api yang dijumpai di permukaan bumi. 

Gunung api perisai berbentuk luas dan punya ketinggian rendah dengan tipe lava basalt dan dapat memiliki panjang dari beberapa km hingga 100 km guys. Ketinggian gunung api perisai berkisar 1/20 dari lebarnya. 

Bagian dasar gunung api ini sangat landai yaitu 2-3 derajat namun di pertengahan, kemiringannya bisa naik menjadi 10 derajat dan mendatar kembali di puncaknya.

Bentuk datar dan luas dari gunung api perisai dihasilkan dari erupsi bertipe cair dengan lava basalt yang kemudian menyebar ke seluruh area gunung api. 

Shield volcano mayoritas terbentuk di hot spot samudera seperti Kepulauan Hawaii yang dibangun dari Gunung Kilauea, Maona Loa dan lainnya. Ketebalan lava sangat tipis yaitu kurang dari 1 m dan disebut juga lava pahoehoe. 
Pengertian, Bentuk dan Ciri Gunung Api Perisai (Shield Volcano)
Gunung Kilauea di Hawaii
Shield volcano dibangun dari erupsi tipe Hawaian. Bagiamanapun, ada beberapa variasi dari tipe erupsi Hawaii. Di Indonesia belum pernah dijumpai gunung api tipe ini karena mayoritas adalah stratovolcano. 

Erupsi shield volcano tidak eksplosif namun efusif sehingga masyarakat masih bisa menyelamatkan diri asalkan mitigasi bencana berjalan baik.

Berikut ini ciri erupsi gunung api perisai secara singkat:
- Biasa ditemukan di batas lempeng divergen atau hot spot
- Ketinggian rendah dengan lereng landai
- Dibentuk dari erupsi efusif, lava tipis dan bergerak agak cepat
- Erupsi periodik namun tidak dahsyat

Gambar: disini

Minggu, Mei 6

Pengertian, Bentuk, Ciri Gunung Api Strato (Stratovolcano)

Pengertian, Bentuk, Ciri Gunung Api Strato (Stratovolcano)

Gunung api alias volcano adalah suatu bentukkan hasil dari terobosan magma ke permukaan bumi. 

 Nah, tahukah kamu bahwa gak semua bentuk gunung api itu sama lho?. Kali ini kita akan belajar dulu tentang pengertian, bentuk dan ciri gunung api strato atau stratovolcano. 

Gunung api strato atau composite cone bentuk gunung api paling umum dan paling membahayakan diantara bentuk gunung api yang lain. 

Bagian dasarnya landai namun semakin curam menuju puncaknya dan membantuk kerucut. Puncak gunung api strato biasanya tersusun atas kawah yang kecil. 

Gunung api strato banyak terbentuk di zona subduksi lempeng atau di zona konvergen. Akan tetapi gunung api strato ini juga tidak sepenuhnya memiliki bentuk yang sama karena dipengaruhi oleh variasi dan jenis erupsinya. 

Beberapa gunung api strato bertipe erupsi sentral, kaldera atau mungkin berbentuk amphiteater sebagai hasil dari erupsi lateral. Baca juga: Klasifikasi sistem kristal batuan
Pengertian, Bentuk, Ciri Gunung Api Strato (Stratovolcano)
Gunung Ciremai di Majalengka
Mayoritas gunung api strato memiliki lapisan bergantian dari aliran lava, tephra, awan panas, lumpur hingga guguran lava. Komposisi batuan gunung api strato berkisar dari basal thingga riolit. 

Namun bagaimanapun, komposisi umum stratovolcano adalah lava andesit. Banyak gunung api strato di lautan yang lebih basa dibandingkan gunung api yang di darat.

Ketingian gunung api strato juga biasanya tinggi yaitu diatas 2.000 m. Gunung Fuji dan Etna didominasi lava basalt, Gunung Rainier didominasi lava andesit, Gunung St. Helens bertipe andesit-dasit dan Gunung Lassen tersusun dari lava dasit bertipe dome. 

Stratovolcano mayoritas muncul di zona konvergen dimana lempeng tektonik menunjam masuk ke dalam lempeng tektonik lainnya (subduksi). 

Zona ini paling banyak muncul di wilayah Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire dan Indonesia masuk dalam wilayah tersebut. Contoh gunung api strato di Indonesia adalah Merapi, Sinabung, Slamet, Ciremai, Tangkubanperahu dan Semeru. Baca juga: Fenomena intrusi dike

Gambar: disini

Jumat, Maret 16

Batuan Sedimen dan Metamorf Pembentuk Kerak Bumi

Batuan Sedimen dan Metamorf Pembentuk Kerak Bumi

Batuan sedimen atau endapan dapat terbentuk karena perombakan batuan lain atau karena proses kimia (eksogen). Hasil masing-masing cara ini berbeda-beda. 

Batuan sedimen dapat disusun dari bongkahan batu, kerikil, pasir atau lempung. Setelah bahan rombakan diendapkan maka lambat laun akan mengalami pengerasan atau kompaksi. 

Pengerasan ini kerapkali berlangsung karena adanya zat perekat yang dapat berupa asam silikat, kalsium karbonat dan oksida besi. 

Ada lagi yang dapat menyebabkan batuan menjadi keras yaitu pembebanan dari tumpukkan batuan yang ada diatasnya (tekanan). Baca juga: Update kode diskon quipper terbaru

Waktu juga berperan dalam pembentukkan batuan sedimen. Semakin lama umur batuan maka umumnya main keras. Proses pengerasan ini mengakibatkan sedimen membatu. 

Jika bahan pembentuknya berbutir kasar maka akan terbentuk batu konglomerat yang sering banyak di sungai. Batu konglomerat memiliki butir bundar. 

Jika bahan pembentuknya bersudut tajam maka disebut breksi. Pasir yang membatu disebut batu pasir, lanau disebut batu lanau dan lempung disebut batu serpih.
Batuan Sedimen dan Metamorf Pembentuk Kerak Bumi
Batu breksi bersudut tajam
Batu gamping umumnya bersal dari terumbu karang yang terangkat karena gaya tektonik ke daratan. Batu kapur atau gamping sering dijumpai adanya fosil hewan laut seperti di daerah Pegunungan Sewu Gunung Kidul. 

Dalam batu kapur ditemukan rijang atau batu api. Sebelum ada korek api, manusia menggunakan rijang untuk membuat api. Batu Rijang tersusun atas asam silikat dan berbeda dengan batu gamping yang terjadi secara kimia (Kalsium karbonat). Baca juga: Kelas kemampuan lahan USDA

Batu gamping yang terjadi karena pengendapan kimia adalah travertin. Travertin diendapakan di dekat mata air panas seperti di Ciseeng Jawa Barat. Batu rijang banyak ditemukan di Tasikmalaya Selatan.
Batuan Sedimen dan Metamorf Pembentuk Kerak Bumi
Gneiss ubahan dari granit
Batuan Metamorfosis atau malihan terjadi setelah mengalami perubahan bentuk fisik dan kimia. Perubahan ini terjadi karena tekana dan suhu yang tinggi. Contohnya adalah marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. 

Contoh lainnya adalah sabak dan abtu tulis dan grafit. Sabak berasal dari baru serpih, grafit berasal dai karbon. Selain itu granit juga bisa berubah menjadi gneiss. Itulah beberapa jenis batuan penyusun kerak bumi kita.  

Gambar: disini, disini
Bahan Pembentuk Kerak Bumi (Batuan Beku, Sedimen dan Metamorf)

Bahan Pembentuk Kerak Bumi (Batuan Beku, Sedimen dan Metamorf)

Kerak bumi merupakan lapisan bumi yang paling atas dan tersusun atas batuan. Batuan ini terdiri atas batuan beku, sedimen dan metamorf. Semua batuan berasal dari magma yang keluar melalui proses vulkanisme. 

Perbedaan jenis batuan dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya seperti kehadiran udara, tekanan, panas dan lainnya. Semua batuan di kerak bumi sangat bermanfaat bagi kehidupan mahluk di bumi. Kita akan bahas sekilas mengenai ketiga jenis batuan tadi.

a. Batuan Beku
Batuan beku terjadi dari magma pijar yang membeku. Magma pijar tadi banyak terdapat di mantel bumi hingga astenosfer. Magma keluar dari dalam bumi menuju permukaan bumi lalu membeku dalam perjalanannya. 

Ada yang membeku di dalam, di dalam korok atau gang dan ada juga yang membeku di atas permukaan bumi. 

Oleh karena itu batuan beku dapat diklasifikasikan menurut tempat pembekuannya. Ada batuan beku dalam, batuan korok dan batuan beku luar. Karena lokasi pembekuan berbeda maka ciri-ciri ketiga batuan beku itu berbeda pula. 

Ciri yang berbeda pada batuan beku itu tampak jelas pada susunan kristal atau hablurnya.
Batuan penyusun bumi
Batu diorit
Batuan beku dalam membeku secara lambat maka hablur-hablurnya berkesempatan tumbuh secara wajar. Akibatnya terbentuklah batuan yang seluruhnya tersusun atas hablur-hablur sehingga disebut berhablur penuh. 

Batuan beku luar membeku secara tiba-tiba atau cepat. Hablurnya jadi halus bahkan terjadi kaca, sehingga disebut batukaca atau obsidian. Jika magma yang mencapai permukaan bumi itu mengandung banyak gas maka terbentuklah batu apung yang penuh rongga gas sehingga ringan.

Batuan korok atau gang terjadi di dalam rekahan atau celah litosfer sehingga memiliki hablur kasar dan halus. Yang kasar terjadi lebih dahulu kemudian disusul hablur yang halus. Hablur halus menempati ruang diantara hablur kasar. 

Batuan beku dapat digolongkan menjadi batuan asam dan basa menurut kandungan silikatnya. Kondisi silikat ini akan berdampak pada perbedaan warnanya. Batuan asam mengandung banyak silikat. 

Asam silikat merupakan senyawa antara silikon dan oksida. Batuan jenis ini mengandung kuarsa, warnanya putih karena kuarsa tidak berwarna atau bening keputih-putihan.
Batuan penyusun bumi
Obsidian kaca
Batuan basa sangat rendah kadar silikatnya dan banyak mengandung magnesium dan besi. Warnanya gelap atau bahkan hitam pekat karena mengandung banyak mineral gelap atau kehitaman. Batuan yang kadar silikatnya menengah disebut intermediet, memiliki warna kelabu. 

Contoh batuan beku dalam yang asam adalah granit, sementara yang basa adalah diabas dan yang menengah adalah diorit. Batuan beku ekstrusif asam disebut liparit dan yang basa disebut basalt sementara yang intermediet adalah andesit. 

Untuk ulasan selanjutnya mengenai batuan sedimen dan metamorf silahkan klik link berikut: Batuan sedimen dan batuan metamorf

Gambar: disini, disini

Selasa, Februari 20

Tenaga Endogen: Dampak Positif dan Negatif

Tenaga Endogen: Dampak Positif dan Negatif

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi dan berkaitan erat dengan aktifitas magma. Arus konveksi di astenosfer dan mantel bumi membuat lempengan bumi bergerak dan menimbulkan berbagai fenomena seperti erupsi dan gempa bumi. 

Gaya endogen ini bersifat membangun namun bisa membahayakan bagi manusia jika tidak memiliki mitigasi yang handal.

a. Dampak positif tenaga endogen;
1) Kawasan tangkapan air hujan, yaitu sustu kawasan yang ditumbuhi tanaman besar yang mampu menyimpan dan menyerap air hujan dan berada di wilayah yang lebih tinggi
2) Sumber bahan tambang dan sumber daya mineral
3) Pusat tenaga listrik
4) Tempat habitat berbagai jenis flora dan fauna
5) Tempat pariwisata dan laboratorium alam
Dampak Positif Negatif Tenaga Endogen dan Mitigasinya
Erupsi gunung Sinabung di Indonesia
b. Dampak negatif tenaga endogen;
1) Letusan gunung api merupakan bencana bagi masyarakat di sekitar gunung berapi, usaha untuk menanggulangi diantaranya adalah;
a) Pembuatan peta bencana alam gunung berapi yang diharapkan menjadi petunjuk wilayah aman erupsi
b) Pembuatan dam penahan lahar
c) Pengadaan sirine untuk menginformasikan kepada masyarakat dengan segera bila terjadi erupsi gunung berapi
2) Gempa bumi merupakan bencana alam yang dahsyat, upaya mengurangi korban bencana gempa diantaranya adalah;
a) Mitigasi bencana gempa berupa informasi jalur gempa dari para ahli agar penduduk yang berada pada jalur gempa waspada
b) Penduduk di wilayah gempa dihimbau untuk membuat rumah tahan gempa
3) Tenaga endogen menghasilkan lereng-lereng yang curam sehingga tingkat erosi dan longsor lahan tinggi, hal ini merupakan ancaman bagi penduduk yang tinggal di sekitar lereng tersebut.

c. Langkah-langkah penanggulangan dampak negatif tenaga endogen;
1) Daerah yang labil terhadap gerakan kulit bumi tidak boleh dijadikan daerah pemukiman
2) Pembangunan jalan, rel, dan prasarana umum harus melihat dan mengkaji alam untuk menghindari daerah-daerah yang labil.
3) Wilayah yang berdekatan dengan gunung api tidak boleh dijadikan pemukiman
4) Usaha reboisasi dan penghijauan untuk lahan-lahan kritis lebih ditingkatkan
5) Perlu pengamatan yang intensif terhadap  gunung api yang aktif
6) Kawasan gas beracun tidak boleh menjadi daerah pertanian dan pemukiman

Tenaga endogen pada dasarnya penting dalam membangun struktur bumi ini. Daratan di muka bumi ini bisa muncul karena peran dari erupsi gunung api. Oleh sebab itu kita harus berterimakasih jika erupsi gunung api terjadi. 

Yang harus kita lakukan adalah mengawasi dan melakukan mitigasi sesuai dengan karakter daerah masing-masing. 

Rabu, Januari 31

Skala Intensitas Gempa Mercalli dan Rossi-Forel

Skala Intensitas Gempa Mercalli dan Rossi-Forel

Intensitas suatu gempa bumi didasarkan pada pengamatan-pengamatan terhadap akibat-akibat langsung gempa terhadap benda-benda dan gedung. Ada beberapa skala intensitas yang berbeda-beda. 

Salah satu skala intensitas kekuatan gempa adalah model Rossi Forel. Dalam skala ini intensitas diberi angka dari I sampai dengan X. 

Skala ini tidak cukup menggambarkan intensitas yang tingi. Karena itu skala gempa ini diganti dengan skala intensitas lain yang disebut Skala Mercalli modifikasi.

Dalam skala tersebut intensitas gempa diberi angka dari I sampai dengan angka XII. Intensitas I berarti gempa tidak terasa dan hanya dapat diketahui dari catatan seismograf. 

Sedangkan intensitas XII berarti kerusakan total. Gelombang-gelombang tanah dapat dilihat. Percepatan melebihi percepatan gravitasi.

Semakin jauh dari episentrum makin kecil intensitasinya. Intensitas terbesar ada di daerah episenter. Berikut ini skala intensitas gempa Mercalli yang sudah dimodifikasi.
Skala Intensitas Gempa Mercalli dan Rossi-Forel
Skala gempa Mercalli 
Intensitas I
Gejala: Tidak terasa kecuali oleh beberapa orang dalam keadaan berbaring.
Intensitas II
Gejala: Dirasakan oleh beberapa orang dalam keadaan diam.
Intensitas III
Gejala: Dirasakan di dalam rumah dalam waktu singkat.
Intensitas IV
Gejala: Orang tidur terbangun dna piring serta jendela bergetar.
Intensitas V
Gejala: Bandul jam berhenti dan piring kaca pecah.
Intensitas VI
Gejala: Cerobong rusak dan perabotan rumah berpindah tempat.
Intensitas VII
Gejala: Semua orang keluar rumah dan dirasakan dalam kendaraan yang bergerak.
Intensitas VIII
Gejala: Bangunan-bangunan yang sederhana rusak berat, pasir lumpur terlempar.

Intensitas IX
Gejala: Panik, bangunan modern rusak, pipa dalam tanah pecah dan tanah retak.
Intensitas X
Gejala: Hanya bangunan kokoh yang tidak rusak, tanah retak hebat dan rel kereta bengkok.
Intensitas XI
Gejala: Timbul celah besar dalam tanah atau rekahan di jalan.
Intensitas XII
Gejala: Kerusakan total, percepatan gerakan tanah lebih besar dari percepatan gravitasi dan gelombang dapat dilihat di permukaan tanah dan benda-benda terlempar.

Gambar: disini

Minggu, Januari 7

Bentuk Permukaan Bumi Secara Umum

Bentuk Permukaan Bumi Secara Umum

Bumi ini adalah sebuah planet yang berbentuk bola kalau dilihat dari atas atau angkasa. Namun ketika sampai lapisan permukaan bumi, ternyata ada banyak variasi bentuk permukaan bumi dan bumi bukan datar. 

Kata gunung, dataran, lembah, bukit, laut dan lainnya adalah kata yang biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Misal kota Jakarta ada di daerah dataran rendah, kota Bandung ada di daerah perbukitan, kota Semarang ada dekat pantai dan lainnya. 

Baca juga:
Ciri wilayah sub urban fringe 
Konsep trickle donwn effect pembangunan

Gunung tertinggi di Jawa adalah Semeru dengan ketinggian 3.676 m. Angka ini menunjukkan ketinggian dari permukaan laut. Di Papua kita tahu ada pegunungan tertinggi di Indonesia yaitu Pegunungan Jayawijaya. 

Pegunungan Jayawijaya memiliki puncak-puncak yang tertutup salju abadi. Ini disebabkan oleh ketinggiannya yang lebih dari 5.000 mdpl.
Bentuk Permukaan Bumi Secara Umum
Puncak Jayawijaya yang indah
Dari contoh tadi kita dapat menangkap bahwa permukaan bumi kita memiliki beragam bentuk. Berbagai macam bentuk atau morfologi itu merupakan bentang alam atau landscape. 

Suatu daerah disebut miring jika kedudukannya membentuk sudut dengan bidang datar. Pada sebuah gunung bagian yang miring disebut lereng. 

Lereng yang landai memiliki kemiringan hanya sekitar 5 derajat. Jika kemiringan disekitar 45 derajat maka disebut curam dan jika lebih dari 70 derajat disebut terjal. Lereng yang tegak hingga 90 derajat disebut dinding.

Pada sebuah gunung, dijumpai bagian yang tertinggi dan terendah. Bagian yang tertinggi disebut puncak sedangkan yang terendah disebut kaki. Ketinggian puncak diukur dengan meter dan umumnya diukur dari batas permukaan laut. 

Namun ada juga yang idukur dari suatu titik di daratan. Dengan begitu terdapat puncak yang tinggi, rendah dan sedang. Ketinggian < 100 m adalah puncak rendah, ketinggian 100-1.000 m adalah puncak sedang dan > 1.000 m adalah puncak tinggi.

Bentuk permukaan bumi juga ada yang berpola dan bersifat menyendiri atau tunggal. 
Bentuk Permukaan Bumi Secara Umum
Lembah Baliem di Papua
Bentuk-Bentuk Daratan
Jika banyak gunung berderet dalam suatu kelompk maka bentang alam itu dikenal dengan pegunungan. Bukit yang berkelompok dinamakan perbukitan. Seringkali pada suatu pegunungan atau perbukitan kita melihat seakan-akan puncak-puncaknya berderet. 

Dari puncak satu ke puncak lainnya tidak ada penurunan, ini dinamakan pematang. Baca juga: Posisi strategis Indonesia di dunia

Pematang-pematang tanpa puncak yang mencolok dan tidak tajam diberi nama punggung. Jika bentuknya tajam disebut igir. Dataran merupakan suatu bentang alam tanpa banyak perbedaan tinggi antara daerah satu dengan daerah lainnya. 

Dataran pada umumnya terdapat di daerah pantai sehingga ketinggiannya dari muka laut tidak seberapa.

Karena letaknya di daerah pantai maka diberi nama dataran pantai. Misalnya dataran pantai utara Jawa, dataran pantai timur Sumatera dan lainnya. Karena dataran pantai biasanya rendah lokasinya maka dinamakan dataran rendah.

Dataran dapat pula terletak diantara pegunungan dengan ketinggian beberapa ratus meter hingga ribuan meter. Dataran ini dinamakan dataran tinggi atau juga plato. Plato berasal dari bahasa Perancis plateau.

Di Indonesia dikenal dataran tinggi Bandung dengan ketinggian rata-rata 700 mdpl. Di Luar negeri ada dataran tinggi yang ketinggiannya diatas 4.000 m misalnya Tibet. Sering juga kita melihat sungai mengalir pada dataran yang memanjang sepanjang sungai itu. 

Dataran ini dinamakan lembah. Lembah pada umumnya terbuka pada suatu ujungnya sementara pada ujung lainnya tertutup. Namun ada lembah yang pada kedua ujungnya terbuka.
Panjang lembah bervariasi dari beberapa puluh meter hingga puluhan km. Bentuk muka bumi yang cekung disebut cekungan atau ledok. Bagian yang rendah pada suatu cekungan disebut dasar cekungan. 

Cekungan ini bisa terjadi karena pengaruh erosi atau gaya endogen. Baca juga: Fungsi pembelajaran geografi
Bentuk Permukaan Bumi Secara Umum
Pematang samudera Atlantik
Bentuk-bentuk dasar laut
Permukaan dasar lautan punya banyak variasi seperti gunung, lembah, dataran, cekungan hingga jurang. Diantara bentuk tersebut ada yang punya corak khas yaitu paparan yang merupakan dataran luas di tepi benua. Contohnya adalah Paparan Sunda dengan luas 2 juta km persegi dan Paparan Sahul di timur Indonesia.

Paparan Sunda terbentang dari Teluk Siam, Selat Malaka, Barat Daya Laut Cina, Laut Jawa, Barat Selat Makassar. Paparan Sahul terdapat antara Australia dan Irian. Paparan ini luasnya hanya 8.000 km persegi. Paparan terbentuk saat jaman es mencair di era Pleistosen akhir.

Di Asia Tenggara kita kenal dua palung laut dalam yaitu Palung Jawa dengan kedalaman 8.000 m dan Palung Mindanau dengan kedalaman lebih dari 10.000 m. Cekungan Banda di timur Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 5.000 m di beberapa titik.

Suatu pematang gunung bawha laut atau Mid Ocean Ridge yang terkenal dalah MOR Tlantic. Pemarang ini membujur dari Utara Atlantik hingga Selatan dengan panjang lebih hdari 15.000 km. MOR Atlantik terjadi karena batas lempeng divergen yang memisahkan Amerika dengan Afrika dan Eropa. Baca juga: Pengertian pendekatan kompleks wilayah

Selasa, November 7

Perbedaan Patahan/Sesar Dexstral dan Sinistral

Perbedaan Patahan/Sesar Dexstral dan Sinistral

Dalam geografi atau geologi tentu kita akan belajar tentang fenomena lempeng tektonik bukan?. Salah satunya adalah batas sesar atau patahan. 

Kali ini saya akan bahas sedikit tentang perbedaan sesar dextral dan sinistral. Dalam soal UN geografi beberapa tahun lalu sempat ada soal tentang tipe patahan ini yang membuat siswa padan bingung membedakannya. Baca juga: Fenomena transisi demografi

Sesar atau patahan merupakan fenomena yang disebabkan oleh hasil gaya tekan dan pegas terhadap lapisan batuan sehingga menyebabkan adanya patahan. Kamu bayangkan saja kalau sedang memotong kapur papan tulis menjadi dua bagian. Nah, garis patahan tersebut yang dinamakan sesar.

Baca juga:
Update kode promo quipper video 
Teori pertumbuhan ekonomi klasik

Perbedaan Patahan/Sesar Dexstral dan Sinistral
Sesar dextral dan sinistral
Sesar dextral dan sinistral mengacu pada pergeseran horizontal blok patahan pada kedua sisinya secara relatif. Dinamakan relatif karena pergerakan blok patahan digambarkan relatif satu sama lain bila dilihat dari atas. 

Sesar sinistral adalah dalah gerakan patahan yang relatif ke arah kiri sementara sesar dextral adalah jika suatu patahan lain bergerak ke arah kanan. 
Patahan atau fault adalah sebuah rekahan di kulit bumi dan terkait dengan batas lempeng tektonik. Patahan aktif akan menyebabkan pergeseran dan gempa. Di Indonesia ada banyak patahan-patahan aktif yang bisa mengancam kehidupan sewaktu-waktu. 

Gempa di Pidie Aceh terbaru adalah salah satu akibat dari pergeseran patahan Semangko atau Sesar Semangka. Baca juga: 11 jenis awan baru menurut WMO
Perbedaan Patahan/Sesar Dexstral dan Sinistral
Patahan kulit bumi dari atas
Sementara patahan terkenal di dunia diantaranya patahan San Andreas di California yang sudah ada film nya dan patahan besar Afrika Timur. Patahan Afrika timur menghasilkan lembah retakan yang lama kelamaan akan menjadi laut di masa depan. 

Di Jawa Barat terdapat beberapa patahan yang bisa aktif sewaktu-waktu dan mengancam seperti Patahan Lembang, Patahan Baribis dan Sesar Cimandiri. Baca juga: Karakter fisik gunung api di Indonesia

Gambar: disini, disini

Senin, Oktober 30

Vulkanisme dan Produknya

Vulkanisme dan Produknya

Apa jadinya kalau tidak ada gunung api di bumi ini?. Tidak akan ada daratan kalau tidak ada kegiatan vulkanisme di bumi ini. Vulkanisme merupakan kegiatan kegunungapian yang terjadin karena adanya penerobosan magma hingga mencapai permukaan bumi. 

Proses keluarnya magma ke permukaan bumi disebut dengan letusan gunung api atau erupsi. Gunung api adalah gunung yang punya lubang kepundan tempat keluarnya magma. Jadi gunung api disebut volcano kalau gunung biasa disebut mountain. Baca juga: Soal Prinsip Geografi dan Jawabannya

Jika dilihat berdasarkan strukturnya, gunung api akan menghasilkan berbagai macam produk yang terdiri dari magma, kawah utama, kawah samping, pipa kawah dan kerucut parasit.
Vulkanisme dan Produknya
Vulkanisme dan Produknya
Magma
Merupakan bahan silikat cair pijar yang tersusun atas bahan padat, cair dan gas yang terdapat di dalam litosfer dengan suhu berkisar antara 900 - 1.200 derajat Celcius. Magma berada pada lapisan yang dinamakan dapur magma. 

Dapur magma ada yang dangkal dan ada yang dalam. Letusan besar biasanya berasal dari dapur magma dalam sementara letusan yang lebih kecil berasal dari dapur magma yang dangkal. Baca juga: Menghitung kelembaban relatif dan mutlak

Kawah Utama
Merupakan lubang erupsi dengan diameter hingga 2 km dan berada di bagian puncak gunung api. Kawah utama ini biasanya terisi air atau tidak sama sekali. Sumbat lava juga terdapat di kawah utama.

Pipa Kawah
Merupakan suatu lubang atau rekahan tergolong bidang lemah di kerak bumi, tempat magma menerobos dan naik ke atas permukaan bumi.

Kawah Samping
Merupakan lubang serupsi berdiameter kurang atau hingga 2 km yang berada di lereng gunung api hasil dari adanya penerobosan ke samping gunung api. Contohnya adalah Kawah Domas di Tangkubanperahu. Baca juga: Skala kekerasan batuan MOHS

Kawah Parasit
Merupakan kerucut yang terbentuk dari akumulasi material erupsi luar kawah utama yang ada di bagian gunung api dengan ukuran lebih kecil dari kerucut gunug api utamanya.

Leleran Lava
Merupakan magma yang keluar dari kerucut gunung api dan mengalir keluar gunung api. Baca juga: Bedanya Wadi dan Oasis

Abu Piroklastik
Merupakan bahan leas berupa batu, abu, pasir yang terlontar saat erupsi gunung api terjadi. Abu piroklastik ini juga sering isebut wedus gembel dan dapat bergerak dengan kecepatan ratusan km/jam.
Geologi Patahan Lembang Bandung

Geologi Patahan Lembang Bandung

Patahan Lembang atau Sesar Lembang terletak di bagian utara Bandung dengan jarak 10 km dari pusat kota. Patahan memanjang dari timur ke barat dengan jarak 22 km. 

Patahan Lembang melewati Maribaya di timur dan Cisarua di barat. Patahan Lembang ini berbentuk escarpment. 

Tebing menghadap ke bagian utara dengan ketinggian 450 m sementara di bagian barat lebih rendah yaitu 40 m. Baca juga: Iklim Indonesia bertipe Af

Patahan ini menghilang di sisi utara Padalarang. Tinggi tebing mencerminkan besarnya pergeseran dari sesar Lembang.  Sesar Lembang terbentuk sekitar 100.000 tahun lalu di bagian timur bersamaan dengan munculnya formasi kaldera melalui letusan cataclismic. 

Sementara itu di bagian baratnya, patahan terbentuk 27.000 tahun lalu. Umur patahan lembang didapat dari deposit piroklastik yang muncul di lokasi patahan. 

Sesar Lembang dapat diamati dengan baik dari Gunung Batu yang bertipe andesit. Baca juga: Permafrost, lapisan tanah beku
Geologi Patahan Lembang Bandung
Peta Sesar Lembang
Penelitian terbaru menunjukan bahwa sesar Lembang ini termasuk sesar aktif dimana gempa  Cihideung tahun 1999 adalah salah satu dampaknya. Pergeseran rata-rata sesar Lembang mencapai 3 mm per tahun dan jika gempa terjadi maka wilayah pemukiman di Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Bandung akan terdampak.

Baca juga:
Teori ruang kota Burgess Konsentrik
Faktor pendorong dan penarik urbanisasi

Secara geologi, Bandung terbagi ke dalam empak zonasi yaitu:
1. Kategori B, batuan keras tersusun atas breksi, batu gunung api, dan lava gunung api Sunda purba.
2. Kategori BC, merupakan batuan beku muda terdiri dari tuf, lava, breksi Malabar dan Tangkuban Perahu.
3. Kategori CD, berupa sedimen Miosen tersusun atas tuf, breksi, batu pasir lava, konglomerat.
4. Kategori D, berupa sedimen Lacustrine.

Jika sesar Bandung ini bergerak maka seluruh Cekungan Bandung akan terkena dampak dari getaran tersebut. Sedimen lunak yang menyusun cekungan Bandung akan terkoyak dan menghancurkan kota Bandung. 

Temuan LIPI menyatakan bahwa ada 290 titik sesar aktif di patahan Lembang yang berpotensi mengancam. Mitigasi bencana di daerah sesar Lembang harus diantisipasi. Sesar Lembang mungkin saat ini terlihat tentang namun jika suatu saat mengamuk maka manusia yang akan menjadi korbannya. 
Gambar: disini

Rabu, Oktober 4

Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Dalam istilah geologi tentu kamu akan sering menjumpai berbagai macam istilah seperti Mesa, Butte dan Plateau. 

Jika kamu pergi ke Amerika Serikat sana dan pergi ke wilayah barat daya maka kamu akan banyak menjumpai fitur geomorfologi ini. 

Ketiga jenis morfologi ini pada dasarnya memiliki permukaan yang datar dengan sisi yang  relatif terjal. 

Dalam istilah awam, butte adalah sebuah bukit kecil yang datar atau runcing. Mesa adalah bukit dengan ukuran sedang yang datar. Plateau adalah sebuah bukit atau pegunungan yang relatif luas. 

Salah satu sumber menyatakan bahwa mesa memiliki luas permukaan kurang dari 10 km persegi sedangkan butte memiliki luas permukaan kurang dari 1.000 meter persegi. Baca juga: Bedanya stalaktit dan stalagmit
Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Mesa dan Butte di Barat daya Amerika
Karakteristik mesa dan butte paling umum adalah puncak yang datar dengan sisi yang terjal atau curam. Hal ini dikarenakan formasi batuan yang membentuknya. 

Bentang alam ini paling banyak tersusun atas batuan sedimen, dibangun dari akumulasi dan kompresi sedimen yang mungkin mengandung fragmen batuan, sisa-sisa organisme miskropkopis dan mineral. 

Batuan sedimen menutupi lebih  dari 75% daratan Bumi. Sebagian besar batuan sedimen terlihat berlapis-lapis disebut strata dan saat pertamakali terbentuk memiliki bentuk horizontal. 

Gaya endogen dan eksogen mengubah struktur awal batuan sedimen menjadi berbagai bentuk seperti lipatan, patahan atau sesar. Baca juga: Mekanisme arus turbidit

Lapisan atas mesa dan butte adalah lapisan batuan yang keras dan tahan terhadap erosi yang secara bertahap menghilang dari permukaan bumi karena erosi angin dan air. 

Kadang, lapisan atas ini disebut lapisan penutup dan tersusun bukan dari batuan sedimen tapi lava yang membeku yang menyebar di permukaan bumi melalui retakan kulit bumi. Di bawah lapisan lava beku ini terdapat lapisan batuan sedimen lembut. 
Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Morofologi aeolian
Mesa dan butte banyak ditemukan pada daerah kering atau beriklim gurun. Presipitasi di daerah kering ini sering terjadi sesekali saja namun sangat besar. Karena evaporasi tinggi maka  vegetasi dan jenis tutupan lahan lain sangat jarang ditemui. 

Sisi lereng mesa dan butte selalu tererosi sepanjang waktu mengerosi lapisan batuan dan menyisakan endapan pasir halus di setiap sisinya. 

Gambar: disini, disini

Rabu, September 20

Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum

Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum

Bumi ini merupakan planet yang satu-satunya terdapat kehidupan kompleks. Kehidupan ini terbentuk sejak jutaan tahun lalu.

Sebelum bisa dihuni manusia, Bumi melalui berbagai zaman yaitu Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum. 

Setelah Bumi ini lahir, bahan-bahan yang lebih berat menggumpal di dalam inti bumi, sementara kerak terdiri dari unsur silikon dan alumunium. Baca juga: Faktor Perubahan Iklim

Setelah lapisan tersebut menyusul lapisan yang agak dalam yaitu silikon dan magnesium. Jauh di dalam lagi terdapat lapisan yang mengandung unsur senyawa logam sulfida. Bagian paling dalam yaitu inti tersusun atas besi dan nikel. 

Bumi ini mengalami berbagai masa dan setiap masa punya ciri kehidupan masing-masing. Artinya bumi kita ini mengalam berbagai zaman sampai akhirnya bisa ditinggali manusia. Berikut perkembangan zaman menurut skala geologi di Bumi:

1. Prakambrium
Prakambrium adalah zaman tertua di bumi dan lapisan prakambrium selalu terdapat di bawah batuan yang mengandung fosil. 

Batuan prakambrium umumnya berhablur, baik yang berasal dari pembekuan magma atau peleburan dan penghabluran kembali sedimen-sedimen dan batu lainnya yang disebabkan oleh  perubahan kimia dan fisis pada sedimen-sedimen dan batuan beku. Baca juga: Teori apungan benua

Singkapan batuan prakambrium sangat jarang ditemukan di Bumi dan hanya terbatas pada daerah tertentu saja. Batuan prakambrium agak melingkr dan permukaannya sedikit cembung, maka inti prakambrium disebut perisai benua. 

Disekitar bagian pusat perisai itu lapisan prakambrium tertutup oleh lapisan yang lebih muda dan makin jauh dari pusat maka semakin tebal. Berikut sebaran batuan prakambrium:
a. Grand Canyon Colorado, terlihat lapisan di bagian bawah dan makin ke atas terdapat tumpukan sedimen yang semakin mudah.
b. Perisai Kanada di sekitar Danau Besak.
c. Perisai Fenoskandia di Finlandia.
d. Perisai di Australia.

Penelitian geologi membutkrikan bahwa pada era pra kambrium tidak ditemukan bentuk kehidupan dan tidak ada fosil yang ditemukan karena bumi masih dalam masa pembentukkan awal.
Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum
Batuan Pra Kambrium
2. Paleozoikum
Paleozoikum terdiri dari 5 zaman yaitu:
a. Kambrium
Pada zaman kambrium banyak ditemukan fosil dan kebanyakan kehidupan ditemukan di perairan laut contohnya archaecyatha, trilobita dan bakung laut.
b. Silur
Zaman Silur penyebaran fauna lebih luas dibanding zaman kambrium. Banyak kelompok binatang baru yaitu yang terpenting adalah vertebrata (binatang bertulang belakang) dan graptalit adalah ciri fosil petunjuk pada zaman Silur dan merupakan kumpulan intan kecil yang dinamakan rabdosoma.
 c. Devon
Zaman ini memiliki ciri munculnya tumbuhan-tumbuhan darat dan bintang-bintang bertulang belakang. Di laut dijumpai binatang tidak bertulang belakang, seperti amronit.
c. Karbon
Zaman ini dintandai dengan timbulnya sejumlah besar karbon bebas di berbagai wilayah dinia. Karbon berperan sebagai penunjuk keadaan cuaca iklim masa tersebut. Pada zaman ini terjadi pembentukkan pegunungan dan deposit batu bara.
d. Perm
Perm memilliki lapisan yang berada di atas karbon yang mengadung batu bara.
Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum
Fosil Trilobit era Kambrium
3. Mesozoikum
Mesozoikum terdiri dari Zaman Kapur (< 90 juta tahun), Jura (145 juta tahun) dan Trias (190 juta tahun). Ketiga zaman ini disebut kehidupan pertengahan dengan kondisi cuaca dan iklim panas dan basah. Tumbuhan berdaun lebar, binatang melata, amfibi, ikan dan binatangnya menyusui mulai hadir.
Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum
Ilustrasi Zaman Trias
4. Kenozoikum
Kenozoikum terbagi menjadi zaman tersier dan kuarter yang merupakan era kehidupan modern.
a. Zaman Tersier
Zaman tersier, terbagi menjadi Zaman Eosen (70 tahun), Oligosen (42 juta tahun) dan Pleistosen (16 juta tahun). 

Pada zaman ini tumbuhan berkembang biak dan tumbuhan berbungan mulai muncul. Burung dan binatang menyusui mulai menyebar dimana-mana. Kondisi iklim tidak begitu beda dengan zaman sebelumnya. Baca juga: Perbedaan lokasi absolut dan relatif
b. Zaman Kuarter
Zaman kuarter terdiri dari Pleistosen (Diluvium) dan Holosen (Aluvium). Kedua masa tersebut usianya kurang lebih 2 juta tahun lalu. Masa ini adalah permulaan hidup manusia di dunia dengan munculnya manusia purba. 

Kondisi iklim mulai bervariasi di berbagai tempat dan binatang-binatang mulai beranekaragam. Baca juga: Terbentuknya stalaktit dan stalagmit di gua kapur  
Zaman Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Kenozoikum
Mammoth era zaman es akhir Pleistosen
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close