Guru Geografi: Geologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 30

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Terbentuknya Relief Permukaan Bumi Oleh Tenaga Eksogen

Permukaan bumi kita dihiasai beranekaragam relief atau bentuk mulai dari dataran rendah, pegunungan, bukit, lembah dan masih banyak lagi.

Terbentuknya relief permukaan bumi disebabkan dua gaya yaitu endogen dan eksogen. Variasi bentuk relief lebih banyak dilakukan tenaga eksogen. Seperti apa prosesnya?.

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi dan sifatnya merusak struktur yang telah ada (dibuat oleh endogen melalui peristiwa vulkanisme dan tektonisme).

Awalnya magma yang naik ke permukaan bumi melalui seraingkain proses vulkanisme membeku menjadi batuan beku. Penerobosan magma ini dapat menghasilkan bentukan gunung api.

Nah gaya eksogen mulai bekerja setelah magma membeku di atas permukaan bumi. Diawali dari pelapukan yang dipengaruhi oleh cuaca, mahluk hidup dan reaksi kimia.

Batuan yang sudah terbentuk dapat hancur melapuk menjadi bongkahan-bongkahan yang beranekaragam, Seringkali dijumpai relief hasil pelapukan adalah stack atau arch di pantai karang. 

Di daratan, pelapukan akan membuat permukaan bumi bisa melandai, runcing, atau membentuk morfologi lainnya.

Hasil pelapukan batuan tadi kemudian terangkut oleh media air, angin dan es atau dinamakan erosi. Erosi akan membawa material menuju daerah yang lebih rendah.
Relief delta sungai
Erosi angin misalnya dapat membangun relief gumuk pasir seperti di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Erosi di sungai juga dapat membangun delta sungai pada muara yang landai dan menghadap laut yang berombak tidak terlalu besar.

Setelah itu material sisa pelapukan akan mengalami sedimentasi dan terbentuklah lapisan-lapisan tanah pada sebuah lembah. Contoh lain dari sedimentasi adalah oramen pada gua karst seperti stalaktit dan stalagmit.

Benda asing lain dari luar bumi bisa membuat relief cekungan seperti hantaman meteor. Sudah banyak lubang-lubang meteor ditemukan di permukaan bumi. Huja meteor banyak terjadi jutaan tahun lalu sementara saat ini intensitasnya tidak terlalu tinggi.

Itulah proses pembentukkan relief permukaan bumi oleh tenaga eksogen yang berasal dari pelapukan , erosi, sedimentasi dan tenaga ekstrateresterial.

Senin, September 28

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Kapan Gempa dan Tsunami Megathrust Jawa Terjadi?

Beberapa waktu ini netizen dihebohkan berita mengenai ancaman gempa besar (megathrust) dan tsunami di selatan Jawa. 
 
Semua kanal berita online menulis judul yang hampir sama dan terkesan menakut-nakuti. Tipikal masyarakat kita yang latah informasi langsung share berita dengan cepat.
 
Lalu apakah benar gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa bagian selatan dalam waktu dekat ini?. Siswa saya pun di sekolah banyak yang WA setelah berita ini viral.
 
Sebenarnya gempa dan tsunami adalah fenomena biasa yang sudah sering terjadi di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Buktinya ada gempa dan tsunami Aceh, gempa Bantul, tsunami Pangandaran, gempa Lombok, tsunami Anyer hingga gempa Palu.
 
Lalu mengapa akhir-akhir ini berita gempa dan tsumai tersebut jadi heboh?. Ya biasalah media kita kan gitu, sering membuat tagline yang membuat netizen jadi terbawa emosi. 
 
Sebenarnya masyarakat kita (nenek moyang) dahulu sudah terbiasa dengan hal ini dan mitigasinya pun sangat baik terutama struktur bangunan. Kita akan ulas dulu dari sisii geografis dan geologis ya.
 
Istilah "megathrust" di telinga masyarakat awam mungkin terkesan bombastis, padahal dalam ilmu geografi dan geologi ini sudah bisa ya bor.
Zona subduksi megathrust
 
Zona megathrust itu adalah istilah untuk menjelaskan sumber gempa tumbukkan lempeng di kedalaman dangkal. Tumbukan ini karena lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua sehingga membentuk tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng.
 
Hal ini akan memicu bergesernya lempeng tiba-tiba dan memicu gempa. Jika gempa terjadi maka bagian benua yang berada di atas lempeng samudera bergerak terdorong naik (thrusting). 
 
Zona penunjaman lempeng disebut juga sebagai zona subduksi. Nah Indonesia bagian selatan termasuk zona subduksi dari mulai Aceh sampai Flores. Jadi gak heran di daerah sekitar ini banyak gunung api, gempa dan tsunami.
 
Jadi sebenarnya kita udah terbiasa ya dengan fenomena tektonik tersebut. Ya harusnya begitu, dan semakin sering dilanda fenomena maka idealnya masyarakat akan sadar diri dan sudah tertanam pola pikir untuk mengantisipasinya. Tapi kayaknya di masyarakat kita gak demikian ya?. Mungkin ini perlu kajian budaya.
 
Kalau budaya nenek moyang jaman dahulu sih sudah sangat siap bentul dengan fenomena gempa dan tsunami. Buktinya apa?.
 
Coba perhatikan rumah adat Aceh, Sunda, Jawa dan lainnya pasti berstruktur panggung, tiang pondasinya pakai model ceker ayam dan lainnya. Itu semua bukan kebetulan guys, tapi untuk meminimalisir getaran gempa dan mengurangi efek tsunami.
 
Jadi masyarakat kita dulu itu sudah cerdas bro, sis!. Sekarang aja yang bangunannya pakai beton, filosfofinya ga berdasar karakter geografis, ya ada malahan seni yang ditonjolkan.
 
Hasilnya saat gempa ya rubuh. Coba lihat bangunan joglo saat gempa Bantul, relatif tidak rubuh total bahkan ada yang 100% berdiri kokoh (pengalaman rumah nenek saya).
 
Jadi gempa dan tsunami itu adalah makanan Indonesia sejak dahulu, sejatinya pengetahuan, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintahlah yang sekarang ini perlu dioptimalkan.
 
Persoalan kita saat ini bukan pada tentang mengapa dan kapan gempa besar dan tsunami akan melanda Jawa dan Sumatera tapi Kapan kita akan siap menghadapi fenomena seperti ini?
 
Apakah kita perlu menghidupkan kembali roh nenek moyang kita supaya mengajari kembali masyarakat Indonesia jaman now?.
 
Pengalaman gempa dan tsunami dalam 20 tahun terakhir selalu menimbulkan korban jiwa yang besar. Ini membuktikan bahwa manajemen bencana di Indonesia masih tidak beres.
 
Masyarakat juga terkesan abai akan ancaman ini dan hanya ribut setelah bencana terjadi. Pemasangan alat peringatan dini di pesisir pantai juga masih minim. Kalupun dibangun seringkali dicuri. Inilah lingkaran setan di masyarakat kita yang entah sampai kapan berakhirnya.
 
Jadi kajian gempa megathrust ini hanya sebatas penelitian potensi gempa berdasarkan pola yang terjadi di wilayah tersebut di tahun-tahun lalu. Tujuan riset ini untuk menyadarkan masyarakat agar siap siaga dan tidak panik terhadap fenomena ini.
 
Tapi yang terjadi di masyarakat sekarang kan malah biar terjadi kepanikan padahal gempa dan tsunaminya pun tidak diketahui kapan terjadinya. 
 
Sampai sekarang tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Kalau tsunami bisa diprediksi jika sudah terjadi gempa atau erupsi di tengah laut.
 
Jadi marilah jadi bangsa cerdas, buka kembali buku-buku tentang budaya nenek moyang. Baca kajian fisosofis bangunan di masa lalu, tanya kakek atau nenek yang masih hidup dan praktikan dalam kehidupan saat ini. Kalau pun tidak bisa sama dalam hal struktur, ya bisa dimodifikasi yang penting konsepnya sama.
Rumah Sunda berstruktur panggung berfungsi meredam getaran gempa

Senin, September 14

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Bagaimana Jika Tidak Ada Gunung Api di Bumi?

Gunung api, siapa yang tidak kenal salah satu fenomena mengagumkan berikut ini. Di berita-berita kita sering mendengar info tentang gunung api meletus.

Tapi coba bayangkan apa jadinya bumi ini jika tidak ada gunung api?. Pertanyaan ini terlihat sepele, tapi jawabannya bisa sangat panjang, analitis dan hots pokoknya.

Gunung api adalah satu bentukkan alam yang muncul dari adanya vulkanisme atau penerobosan magma dari dalam bumi ke permukaan bumi.

Magma adalah cairan pijar panas di dalam bumi yang kental. Karena bersifat panas pastinya magma ini memiliki tekanan tinggi.

Tekanan inilah yang menyebabkan magma mengalir ke atas permukaan bumi, menerobos lapisan litosfer sehingga meletus dan menjadi gunung api.

Magma yang keluar permukaan bumi akan berinteraksi dengan udara sehingga membeku dan jadilah batuan beku. Batuan ini nantinya akan digunakan manusia untuk berbagai kebutuhan hidup terutama berkaitan dengan bangunan.

Selain itu material lain seperti pasir vulkanik, energi panas bumi sekitar gunung api juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Gunung api meletus
Apakah gunung api hanya memuntahkan magma saja?. Selain mengeluarkan magma, peristiwa vulkanisme juga membantu mineral-mineral berharga di dalam bumi agar bisa naik sampai permukaan bumi sehingga bisa ditambang.

Selain itu gunung api juga berfungsi sebagai wilayah tangkapan hujan sehingga daerah sekitarnya kaya mata air dan menjadi sumber kehidupan sampai wilayah hilir di perkotaan.

Semua batuan alias lapisan kerak bumi kita ini dibangun dari gunung api. Jadi pulau-pulau, daratan benua yang kita kenal saat ini adalah hasil kerja gunung api atas perintah Allah tentunya. Memang iya atas perintah Allah?. Coba aja buka ayat Quran berikut ini:

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An-Nahl;15)

Udah jelas dan shahih kan bahwa gunugn api itu diciptakan oleh Allah dengan tujuan yang jelas. Jadi saat gunung api meletus, pada dasanya Tuhan sedang mengeluarkan anugerah bagi kehidupan.

Manusia hanya diminta untuk bersabar dan mengungsi sejenak sampai erupsi berhenti. Jika erupsi terus-menerus terjadi maka kita bisa mencari daerah lain yang lebih aman atau relokasi.

Jadi intinya jika tidak ada gunung api maka tidak akan ada kehidupan di bumi ini karena semua mahluk hidup mayoritas tumbuh dan berkembang di tanah. Tanah berasal dari batuan yang melapuk sementara batuan berasal dari magma, itulah siklusnya.

Gunung api adalah paku dunia sehingga pulau-pulau atau daratan bisa tetap stabil diatas laipsan mantel bumi yang tersusun magma cair. Itulah kuasa Allah SWT.

Jumat, Februari 7

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Fenomena Magmatisme: Jenis dan Evolusi Magma

Magma adalah komponen utama pembentuk kerak bumi karena mayoritas batuan berasal dari bahan ini. 

Magma adalah larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah bersifat mobile,
bersuhu antara 900-1200 derajat celcius atau lebih, dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung mantel bagian atas. 

Dari penelitian sampel-sampel pada batuan beku diketahui komposisi kimia magma adalah sebagai berikut :

1.    Senyawa yang bersifat non-volatile dan merupakan senyawa oksida, jumlahnya sekitar 99% dari isi magma, sehingga merupakan major element, terdiri dari SiO₂ , Al₂O₃ , Fe₂O₃, FeO, MnO, CaO, Na₂O, K₂O, TiO₂, P₂O₅.

2.    Senyawa volatile yang banyak mempengaruhi sifat fisik magma, terdiri dari fraksi fraksi gas metana, karbon dioksida dan lainnya.
3.   Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S, dan Pb.

Jenis Jenis Magma

Magma kental
Menurut Dally (1933) ada 2 jenis magma yaitu :

1.    Magma Primer

Magma primer adalah  yang terbentuk langsung dari lelehan bahan kerak, atau biasanya disebut dengan magma basaltis. Dengan ciri utama magma jenis ini yaitu viskositas rendah (encer), kadar logam tinggi, dan banyak kandungan volatil.

2.    Magma Sekunder

Magma sekunder adalah yang sudah mengalami perubahan komposisi kimia akibat berbagai proses, dengan kandungan yang cenderung lebih asam, viskositas tinggi, dan mempunyai kadar silika yang relatif lebih besar.

Proses Evolusi Magma
Magma bisa berubah melalui 3 cara :

1.    Proses Anateksis (Peleburan)

sesuai dengan nama prosesnya (anateksis) artinya magma yang dihasilkan berasal dari peleburan bahan kerak di bawah permukaan bumi, proses ini berasosiasi dengan subduksi, lempeng samudera mengandung banyak mineral hidrous yang membuat lempeng ini mengalami peleburan basah (wet melting) pada zona zona subduksi dan menghasilkan magma yang lazim disebut sebagai magma primer.

2.    Proses Sintesis

Untuk magma jenis ini dihasilkan ketika magma berasimilasi dengan batuan samping, sehingga merubah komposisi kimia magma dan membentuk magma baru, tetapi proses ini hanya akan berpengaruh secara signifikan jika massa batuan yang terlelehkan cukup besar, dan biasanya akan efektif jika magma berkomposisi lebih basa dan batuan lebih asam.

3.    Proses Hibridasi

Ketika magma bergerak ke atas ( karena gaya buoy) terkadang bisa “bertemu” dengan magma jenis lain, saat 2 jenis magma yang berbeda komposisi ini bercampur, akan dihasilkan magma baru dengan komposisi kimia yang berbeda dari magma awal. Dan proses ini disebut hibridasi (pencampuran).

Sumber: Disktat OSN Kebumian

Rabu, Februari 5

5 Contoh dan Karakteristik Batuan Metamorf

5 Contoh dan Karakteristik Batuan Metamorf

Batuan metamorf atau malihan adalah batuan yang terbentuk karenaa danya pengaruh suhu atau tekanan tinggi di dalam bumi. 

Batuan metamorf bisa terbentuk dari batuan beku atau sedimen. Berikut ini contoh batuan metamorf yang banyak ditemukan di permukaan bumi.

1. Serpentin; merupakan batuan metamorfosis hydrothermal yang berasal dari olivine yang mengalami intrusi magma. Mineral olivine yang susunannya tidak stabil dan mengandung dunite secara berlebihan, oleh aktivitas zat kimia air panas yang berasal dari intrusi magma diubah menjadi serpentin.
2. Mylonit; merupakan batuan metamorfosis dinamo, batuannya berupa tepung sebagai akibat hancurnya batuan pada bidang patahan yang mengalami tekanan secara lateral. Pada umumnya batuan metamorfosis yang dihasilkan berbentuk lensa, menggerombol dan pararel.
3. Gneis; adalah batuan metamorfosis regional yang mengandung kwarsa, fieldspar, mika dan hornblende. Di samping itu ada juga yang berasal dari biotit dan muskovit dan batuan beku lainnya yang berbutir kasar. 

Pengkristalan batuan beku tersusun kembali berbagai mineral yang berwarna terang terkumpul pada satu lapisan sedang pada lapisan lain terkumpul mineral gelap yang berasal dari batuan ferromagnesian. 

Lapisan terang dan gelap tersusun berganti-ganti secara teratur. Gneis yang terjadi dari batuan beku (magnetik) disebut orthogneiss sedangkan yang berasal dari batuan endapan disebut paragneis.
4. Quartzite (kwarsit); merupakan batuan metamorfosis regional yang semata-mata terdiri dari butir-butir kwarsa yang mengkristal kembali. Mempunyai kristal holokristalin dengan struktur butiran-butiran tepung, teksturnya massif, kadang-kadang berbentuk sirip daun. 

Quartzite murni berwarna putih atau abu-abu cerah, tetapi zat lain yang mencampurinya bisa mengubah warnanya menjadi warna yang lain.
5. Marmer; di samping sebagai hasil metmorfosis termal, marmer juga bisa terjadi melalui metamorfosis regional. Marmer mengandung mineral kalsit dengan berkomposisi CaCO3, merupakan kristalin yang secara kasar sebanding dengan batuan kapur yang pada umumnya berasal dari bahan organik. 



Marmer merupakan contoh yang baik dari batuan metamorf yang mengalami transformasi secara fisik tanpa memerlukan perubahan secara drastis komposisi mineralnya. Di bawah tekanan dan temperatur yang cukup tinggi limestone mengalami kristalisasi. 

Jika proses ini berlangsung secara terus-menerus akan menghasilkan batuan berupa kristal kalsit. Marmer yang berasal dari kalsit berwarna putih, namun bisa berbeda warnanya jika terpengaruh dengan mineral lain.

Selasa, Oktober 8

Definisi Perlapisan Batuan: Perlapisan, Pelipatan, Sesar, Kekar

Definisi Perlapisan Batuan: Perlapisan, Pelipatan, Sesar, Kekar

Struktur geologi adalah suatu struktur atau kondisi geologi yang ada di suatu daerah sebagai akibat dari terjadinya perubahan-perubahan pada batuan oleh proses tektonik atau proses lainnya. 

Dengan terjadinya proses tektonik, maka batuan (batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf) maupun kerak bumi akan berubah susunannya dari keadaannya semula. 

Struktur geologi (makro) yang penting untuk diketahui antara lain bidang perlapisan, sistem sesar, sistem perlipatan, sistem kekar, dan bidang ketidakselarasan.

1. Bidang Perlapisan
Bidang perlapisan hanya ditemukan pada batuan sedimen, yaitu suatu bidang yang memisahkan antara suatu jenis batuan tertentu dengan batuan lain yang diendapkan kemudian, misalnya batas antara lapisan batupasir dengan batugamping, atau batas lapisan batupasir yang satu dengan batupasir lainnya yang dapat dibedakan. 

Biasanya batuan sedimen terdiri dari banyak sekali lapisan-lapisan yang berurutan dari tua ke muda, sehingga banyak pula bidang perlapisannya. 

Bidang perlapisan tersebut merupakan bagian yang lemah dibandingkan dengan kekuatan batuan sedimennya, karena itu dalam analisis kemantapan posisinya menjadi sangat penting.
Perlapisan batuan
2. Sistem Sesar
Sesar atau patahan (fault) adalah suatu bidang yang terbentuk karena kekuatan batuan tidak dapat menahan lagi tekanan/beban yang ada sehingga akhirnya batuan tersebut patah. 

Setelah terjadinya sesar tersebut, kedua bagian yang tadinya berhubungan dapat bergeser naik, turun, atau bergeser secara mendatar.

Sesar yang terbentuk karena proses tektonik yang kuat umumnya tidak berdiri sendiri (tunggal), tetapi akan menghasilkan sesar-sesar lain yang lebih kecil di sekitarnya sehingga dapat membentuk suatu sistem sesar yang komplek.
Sesar geologi
3. Sistem Perlipatan
Karena aktivitas tektonik, lapisan batuan sedimen yang relatif elastis akan mengalami tekanan yang tinggi dan terlipat, dan membentuk sistem sinklin-antiklin. 

Pada sistem perlipatan maka lapisan batuan yang tadinya mendatar akan berubah posisinya menjadi miring dengan sudut kemiringan (dip) dan jurus (strike) yang bervariasi.

Apabila besarnya tegangan yang bekerja pada batuan sedimen tersebut melampaui batas elastisnya, maka sistem tersebut akan mengalami penyesaran dan pergeseran. 

Sedangkan kalau tidak terlalu besar, maka pada bagian-bagian tertentu mungkin akan terbentuk sistem kekar tarik (pada batuan yang rapuh/getas).

Perlipatan menghasilkan bagian punggungan perlipatan yang disebut sebagai antiklin dan bagian lembah yang disebut sebagai sinklin. 

Jarak antara antiklin dengan sinklin di dekatnya juga bervariasi, tergantung pada besarnya gaya yang membentuknya. 

Demikian juga mengenai kemiringan yang terbentuk pada perlipatan tersebut, yaitu tergantung pada amplitudo dan frekuensi yang terjadi.

Lapisan batuan yang tidak mendatar lagi (miring) posisinya dinyatakan dalam jurus dan kemiringannya (strike/dipnya), sehingga dibutuhkan interpretasi untuk mengkorelasikannya.

Perlipatan batuan
4. Sistem KekarSeperti juga pada sesar dan perlipatan, kekar umumnya terbentuk karena proses tektonik yang terjadi pada suatu daerah tertentu. 

Dalam hal ini kekar merupakan akibat lanjutan dan proses pembentuk sesar atau perlipatan. 

Kalau kekuatan suatu batuan (kuat tekan atau kuat tarik) tidak sanggup lagi melawan tegangan yang ada, maka batuan tersebut akan pecah atau retak. 

Jika ukuran dari retakan tersebut besar dan terjadi pergeseran yang besar disebut terjadi sesar, sedangkan dalam ukuran retakan tersebut kecil (hanya sampai beberapa meter) dan relatif tidak terjadi pergeseran disebut sebagai kekar.
Kekar pada batuan
Pada suatu batuan yang sama dalam daerah yang relatif kecil sering terdapat beberapa pasang kekar yang berbeda (sistem kekar). 

Kekar-kekar yang mempunyai orientasi (jurus dan kemiringan) sama disebut sebagai satu set kekar. Dalam suatu sistem kekar bisa terdapat lebih dari satu set kekar.

Dalam analisis kekar yang perlu diperhatikan adalah ukuran kekar (persistensi), kekasaran bidang kekar, bukaan kekar (separation), isi bukaan kekar (infilling), ada/tidaknya air pada kekar, besar aliran air pada sistem kekar, orientasi bidang kekar (jurus dan kemiringan), jumlah set kekar pada daerah yang sama, dan kerapatan/jarak kekar.

Gambar: disini, disini, disini, disini

Sabtu, Juli 20

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Indonesia itu udah lama ada tapi sejak kapan sih sebenarnya kepulauan ini terbentuk?. Kamu tahu gak bahwa dulu itu pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan bersatu lalu Papua dan Australia juga bersatu. 

Kondisi  alam  Indonesia  saat  ini  sangatlah  berbeda  dengan  kondisi  pada  masa  ribuan tahun  yang  lalu. Kombinasi tenaga endogen dan eksogen membangun kepulauan Indonesia dari masa ke masa.

Kondisi  alam  yang  stabil  di  Indonesia,  kecuali  Indonesia  bagian  timur,  baru terjadi ketika memasuki masa Pleistosen ketika berlangsungnya zaman es atau yang dikenal  glasial.  

Zaman  es  (glasial)  adalah  zaman  ketika  es  di  kutub  sering  meluas  yang mengakibatkan daratan di Bumi mencapai wilayah yang paling luas.

Glasial terjadi karena adanya suhu Bumi yang tidak tetap. Suhu yang turun secara tiba-tiba membawa  akibat  permukaan  es  meluas  sehingga  bagian  barat  Indonesia  menyatu dengan Asia, sedangkan Indonesia bagian timur menyatu dengan Australia. 

Akan tetapi, jika  suhu  naik,  es  akan  mencair  yang  mengakibatkan  daratan  penghubung  tenggelam dan terbentuk Paparan Sahul dan Paparan Sunda. Perubahan geografis inilah yang dapat memengaruhi perkembangan flora dan fauna di Indonesia.
Kepulauan Indonesia saat ini
Gerakan pengangkatan, kegiatan gunung berapi, dan turunnya permukaan air laut pada  masa  glasial  mengakibatkan  perubahan  bentuk  Kepulauan  Indonesia.  

Kepulauan Indonesia terletak di daerah tropis yang mengakibatkan Indonesia mengalami dua musim, yaitu  musim  hujan  dan  musim  kemarau.

Musim  hujan  pertama  pada  masa  Pleistosen berlangsung  dan  diikuti  dengan  terbentuknya  hutan  di  daerah  Semenanjung  Malaya, Kalimantan,  Philipina,  dan  Sulawesi  Utara.  

Berdasarkan  geologi  (ilmu  yang  mempelajari Bumi),  sejarah  awal  pembentukan  Bumi  dibedakan  atas  empat  masa,  yaitu  sebagai berikut.

1. Zaman Arkaikum (sekitar 2.500 juta tahun lalu)
Di masa arkaikum suhu bumi masih panas dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
2. Zaman Paleozoikum (sekitar 340 juta tahun lalu)
Di masa ini kondisi iklim masih fluktuatif, curah hujan masih tinggi, muncul ganggang dan lumut, ditemukan mahluk bersel satu, ditemukan hewan kecil tidak bertulang belakang dan muncul amphibi lalu reptil.
3. Zaman Mesozoikum (sekitar 140 juta tahun lalu)
Di masa ini iklim mulai stabil dan muncul reptil yang memiliki bentuk lebih besar contohnya dinosaurus.
4. Zaman Neozoikum (Kenozoikum)
a. Tersier (sekitar 60 juta tahun lalu)
Dicirikan dengan munculnya kera yang merupakan tipe primata.
b. Kuarter Diluvium (Pleistosen) (sekitar 600 ribu tahun lalu)
Dicirikan dengan munculnya hewan berbulu tebal yaitu gajah purba mammoth.
c. Alluvium (kurang lebih 20.000 tahun lalu)
Kemunculan homo sapiens di bumi.

Selasa, November 13

Proses, Ciri Fisik Batuan Beku Dalam dan Luar

Proses, Ciri Fisik Batuan Beku Dalam dan Luar

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku atau kristalitasi. Apakah semua batuan beku itu seragam atau ada bedanya?. 

Ternyata batuan beku dibagi lagi menjadi batuan beku dalam (intrusif) dan batuan beku luar (ekstrusif). 

Mungkin jika kamu melihat berbagai batuan di sekitar kamu akan sulit sekali melihat perbedaannya. 

Bahan pembentuk batuan adalah magma tapi faktor lingkungan membuat bentuk fisik dan kimianya berbeda satu sama lain.

Pembekuan Batuan
Batuan beku lahir dari pendinginan magma dan wujud fisiknya dipengaruhi oleh komposisi magma. Waktu pembekuan sangat mempengaruhi jenis batuan beku yang terbentuk. 

Jika magma membeku jauh di dalam bumi maka pembekuan akan sangat lambat karena udara sedikit. Sementara jika magma berada dekat permukaan bumi maka pembekuannya akan sangat cepat. 

Inilah yang menghasilkan dua tipe batuan beku yaitu dalam (intrusif) dan luar (ekstrusif). Jenis batuan ini dikenali dari ukuran kristal yang terbentuk. Ukuran kristal akan menghasilkan tekstur batuan yang berbeda.

Batuan Beku Dalam
Batuan beku dalam membeku jauh di dalam bumi, proses pendinginan sangat lambat. Pendinginan lambat ini membuat kristal terbentuk secara sempurna. 

Ciri batuan beku dalam salah satunya punya kristal batuan yang besar sehingga bisa terlihat mata telanjang. Batuan beku dalam sering disebut juga plutonik. 

Plutonik adalah tubuh batuan beku yang terbentuk di dalam kerak bumi. Granit adalah contoh batuan beku intrusif. Selain itu ada gabro dan diorit. Proses geologi akan membawa plutonik terlihat ke permukaan bumi.
Proses, Ciri Fisik Batuan Beku Dalam dan Luar
Kristal batuan beku intrusif sangat besar dan jelas terlihat
Batuan Beku Luar
Batuan beku luar terbentuk di dekat bahkan di atas permukaan bumi. Lava membeku cepat di permukaan bumi sehingga kristal batuan tidak sempat untuk tumbuh dan berkembang. 

Dampaknya batuan beku luar akan menghasilkan kristal yang lebih halus dibandingkan batuan beku intrusif. Batuan beku luar disebut juga batuan vulkanik.

Beberapa batuan beku intrusif membeku super cepat sehingga kristal tidak sempat terbentuk. Contohnya adalah struktur kaca di batu obsidian. 

Selain itu ada batu apung yang banyak terdapat rongga udara diakibatkan gas terperangkap dalam lava. Pori atau lubang ini membuat batu apung bisa mengambang diatas air. Contoh batuan beku luar lain adalah basalt yang terbentuk jauh di dasar samudera.
 
Proses, Ciri Fisik Batuan Beku Dalam dan Luar
Batuan ekstrusif berpori seperti batu apung
Perbandingan batuan beku dalam dan luar
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close