Guru Geografi: Geomorfologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geomorfologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geomorfologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 23

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

Permukaan bumi kita saat ini tersusun atas kerak bumi dan kerak samudera. Perkembangan bentuk bumi ini telah terjadi sejak bumi ini terbentuk 4,6 milyar tahun lalu.

Pada awalnya bumi ini adalah sebuah bola panas yang kemudian lambat laun mendingin sehingga permukaannya menjadi keras. 
 
Seiring waktu kombinasi antara gaya endogen dan gaya eksogen menghasilkan bentuk permukaan bumi yang bervariatif hingga saat ini.

Ada sejumlah teori yang diungkapkan para ilmuwan untuk menjelaskan mengenai perkembangan bentuk permukaan bumi. Teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
 
 
A. Teori Pengkerutan
Teori ini menjelaskan bahwa bumi mengalami pendinginan dalam kurun waktu sangat lama dimana sebuah massa sangat panas bertemu dengan udara dingin sehingga mengakibatkan terjadinya pengkerutan.

Karena material yang berbeda maka pengerutan tidak sama antara satu lokasi dengan lokasi lain. Inilah mengapa ada daerah yang bertipe dataran tinggi, dataran rendah, cekungan dan lainnya.

Teori ini dikemukakan oleh James Dana dan Elie de Baumant. Analogi teori pengkerutan adalah seperti buah apel yang apabila didiamkan maka akan mengering dan kulitnya mengerut.

Teori ini banyak dikritik karena tidak mungkin penurunan suhu (pembentukan pegunungan dan lembah) berlangsung sangat drastis. Padahal kenyataannya, di dalam bumi masih terdapat unsur pijar dan lapisan bumi yang terus mengalami pergerakan.

B. Teori Laurasia-Gondwana 

Permukaan bumi selalu mengalami perubahan atau perkembangan. Perubahan dimaksud terus berlangsung hingga kini, ditunjukkan dengan adanya pergerakan/pergeseran daratan (benua). 

Jika dilihat pada sejarah masa lalu sebenarnya benua-benua di permukaan bumi ini pernah berkumpul serta menyatu menjadi dua benua besar (supercontinent) yang oleh Edward Suess diberi nama Laurasia (di bagian utara) dan Gondwana Land (di bagian selatan). Kedua benua raksasa itu dipisahkan samudera Tethys.
 
Benua besar tersebut dalam perkembangannya kemudian pecah dan memisah saling menjauh, sesuai arah pergerakannya masing-masing. Pada akhirnya, terbentuk kondisi yang ada pada saat ini, yaitu adanya Benua Amerika (Utara dan Selatan), Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Proses pergeseran benua akan terus berlangsung hingga seterusnya.
 
Benua Laurasia dan Gondwana

C. Teori Apungan Benua
Pada tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli meteorologi Jerman mengemukakan konsep pengapungan benua (continental drift) dalam karya berjudul The Origin of Continents and Oceans. 
 
Hipotesa Wegener ialah adanya satu benua besar (super continent) yang disebut Pangaea (artinya semua daratan) yang dikelilingi oleh Panthalassa (semua lautan).
 
Selanjutnya, sekitar 200 juta tahun yang lalu superbenua Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil dan kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini. 

Akan tetapi penyebab pergerakan benua ini belum diketahui oleh Wegener.
 
Teori apungan benua Wegener

D. Teori Lempeng Tektonik
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah dimana aktivitas geologis umumnya terjadi, seperti gempa bumi serta pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. 
 
Mayoritas gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas. 
 
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.

Terdapat tiga batas lempeng yang bergerak relatif terhadap lempeng satu sama lain. Fenomena yang muncul di tiga batas lempeng tektonik ini berbeda.
3 batas lempeng tektonik
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) atau pun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar Semangko di Sumatera.
 
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen. Batas divergen terkenal adalah Mid Atlantic Ridge.

3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. 
 
Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, dimana potongan lempeng yang terhujam banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh batas konvergen adalah Indonesia bagian selatan yang merupakan subduksi Indo-Australia dan Eurasia.
 
Berikut ini sebaran lempeng tektonik di dunia. Lempeng utama disebut lemepng mayor dan lemepng-lempeng yang relatif kecil disebut lempeng minor.
 
Peta lempeng tektonik

Selasa, Desember 3

Erosi Gletser Pegunungan dan Fenomena Morena

Erosi Gletser Pegunungan dan Fenomena Morena

Gletser adalah massa es yang biasa muncul di daerah pegunungan tinggi atau di kutub. Berbagai macam fenomena unik bisa muncul pada wilayah yang memiliki gletser. 

Masa es berbutir kasar yang terbentuk dari timbunan-timbunan salju akan bergerak ke bawah karena gravitasi. 

Gerakan yang terjadi secara lambat  disebut  gletser, sedangkan gerakan yang cepat, yaitu berupa  longsoran secara  mendadak dengan kecepatan tinggi yang disebut Lawina. 

Gerakan es yang berupa gletser memiliki kecepatan yang sangat bervariasi, hal ini tergantung ukuran masa es dan kemiringan dasar lembah sepanjang gletser bergerak. 

Semakin besar ukuran  gletser  dan semakin curam kemiringan lereng gerakan salju akan semakin  cepat. Gerakan salju berkisar antara beberapa sentimeter sampai puluhan meter setiap hari.

Cara mudah untuk mengukur kecepatan gletser adalah dengan menaruh  benda pada tubuh gletser. Kecepatan aliran gletser dapat diamati dari pergeseran letak batuan pada gletser tersebut karena batu berwarna tersebut akan bergerak sesuai dengan gerakan gletser. 

Bagian tengah gletser memiliki gerakan yang lebih cepat daripada bagian-bagian tepinya. Pada waktu gletser bergerak kebawah melaui lembah, ia akan kehilangan sebagian dari es penyusunnya melalui pencairan dan penguapan. Pada lereng-lereng yang curam sering kali terjadi Lawina.

Aliran gletser pegunungan
Gletser terbentuk dari tempat-tempat salju terakumulasi, yaitu pada lekukan- lekukan yang disebut firn. Firn ini dapat berupa dataran tinggi atau lembah-lembah berbentuk mangkuk. 

Pada lekuk-lekuk firn, secara berangsur-angsur salju berbah menjadi es. Terkumpulnya salju di pegunungan tergantung dari letak batas salju. Batas salju ini tergantung pada iklim, morfologi, dan lain-lain. 

Di daerah tropis, batas salju terletak pada ketinggian kira-kira 5000 meter. Di pegunungan  Alpin  terletak  pada 2500 sampai 2700 meter di lereng utara, dan 2700-3000 meter  dilereng  Selatan  (Katili, 1963).

Perbedaan ukuran maupun posisi gletser tergantung pada keadaan relief,  ketinggian tempat dan presipitasi .Berdasarkan hal ini gletser dapat dibedakan menjadi tiga tipe utama yaitu tipe Alpina, gletser dataran tinggi dan gletser kontinental. 

a.    Gletser Alpina
Adalah gletser yang terdapat di puncak-puncak pegunungan, sehingga sering juga disebut sebagai mountain gletser. Dari puncak-puncak pegunungan gletser bergerak kebawah menuruni lereng-lereng melalui lembah-lembah gletser. 

Tipe ini biasanya terdiri dari gletser yang terdapat lembah-lembah dasar yang disebut dengan lidah gletser. Lidah-lidah gletser ini di isi oleh banyak lekuk-lekuk firn yang kecil-kecil. jumlahnya relatif kecil, antara lain ditemukan pada pegunungan-pegunungan Caucasus, Tien Shan, Pamirs, Altai dan Alpen.

b.    Gletser dataran tinggi
Adalah gletser yang terletak di dataran tinggi atau pegunungan-pegunungan dengan puncak yang relatif datar. Tipe ini banyak ditemukan pada pegunungan-pegunungan di Skandinavia. Pada dataran tinggi terdapat tutupan-tutupan Firn yang besar. Dari tempat ini membujur beberapa lidah gletser ke segala jurusan.

c.    Gletser kontinental
Kadang-kadang juga disebut juga dengan tipe greenland dan  merupakan  gletser yang terdapat di daerah kutub dengan hamparan yang maha luas. Bentuknya menyerupai perisai dengan bagian yang tinggi terletak di tengah. Gletser ini sangat tebal, pada pusat gletser di Greenland mempunyai ketebalan sekitar 3000 meter.  

Dari pusat, lapisan es tersebut turun kelaut secara terpisah-pisah dengan membentuk lidah-lidah yang tebal. Es itu segera pecah setelah masuk ke laut dan muncul di permukaan air sebagai gunung es. Gletser kontinental ini antara lain terdapat di Antartika, Greenland, Spitsbergen dan lain-lain.

Pengikisan oleh gletser disebut erosi glasial. Erosi glasial ini di sebabkan oleh pengasahan es di sepanjang lembah alirannya. Daya kikis oleh es menjadi lebih intensif oleh adanya puing-puing pada gletser yang berasal dari kikisan oleh es pada dasar maupun pada bagian tepi lembah gletser dan dari batuan di  atas  lembah gletser yang runtuh.

Puing-puing batuan yang diangkut gletser, diendapkan disepanjang perjalanan  atau pada tempat pemberhentiannya. Puing-piung batuan yang diangkut dan diendapkan oleh gletser disebut Moraine. Berdasarkan posisinya, moraine dibedakan menjadi moraine tepi, moraine tengah, moraine dasar dan moraine ujung.
1)    Moraine tepi
Moraine ini terdapat dibagian tepi gletser, puing-puing batuan penyusunnya berasal dari kikisan tepi lembah dan runtuhan dinding-dinding lembah ketika es mencair pada waktu terkena sinar matahari.
2)    Moraine tengah
Moraine ini terdapat pada bagian tengah gletser. Terbentuk karena  adanya pertemuan dua buah gletser yang menyatu yang mengakibatkan dua bagian moraine tepi dari gletser tersebut tergabung menjadi satu sehingga terbentuklah moraine tangah.
3)    Moraine dasar
Adalah moraine yang terdapat pada dasar gletser, terutama terdapat pada lekuk firn.
4)    Moraine ujung
Adalah moraine yang terdapat ujung gletser. Moraine ini terbentuk jika  dalam  waktu yang agak lama gletser tidak bergerak, dapat pula terbentuk jika lidah gletser pada suatu tempat mulai mencair sehingga mengendapkan puing-puing batuan yang di angkutnya.

Erosi gletser pegunungan
Lidah-lidah gletser dengan morainenya menghasilkan bentuk fyord-fyord  di  Norwegia dengan penampang yang berbentuk huruf U, diperkirakan merupakan hasil aktivitas gletser pada masa geologi yang silam. 

Pada zaman es daerah tersebut diperkirakan diselimuti oleh es yang tebal dan membentuk gletser dengan pengikisan yang kuat. Setelah zaman es berakhir daerah tersebut merosot dan lembah-lembah gletser tergenang air laut.

Sedimen yang mengendap langsung dari es biasanya hiterogen dari  halus  sampai kasar. Sedimen glasial sangat spesifik karena tidak mengalami sortasi dan tidak berlapis-lapis (Munir, Moch, 1996).

Sumber: Modul PPG Geografi Daljab

Rabu, Februari 20

Faktor Sebab Terjadinya Longsor (Landslide)

Faktor Sebab Terjadinya Longsor (Landslide)

Longsor adalah fenomena umum yang terjadi pada lapisan litosfer. Teman-teman tahu gak bahwa longsor itu adalah fenomena yang paling banyak memakan korban jiwa di Indonesia?. 

Ini karena longsor sering terjadi tiba-tiba dalam waktu cepat sehingga penduduk tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Lalu apakah faktor dan penyebab terjadinya longsor itu?.

1. Lereng Jenuh Air
Hujan yang turun sangat lama atau mencairnya es di puncak gunung atau rembesan air dapat membuat permukaan tanah jenuh oleh air. Ingat bahwa tanah punya kapasitas maksimum dalam menampung volume air. 

Jika tanah sudah jenuh air maka tekanan air akan membuat daya ikat tanah melemah sehingga terjadilah longsoran dari atas bukit menuju lembah.

2. Aktifitas gempa
Getaran tremor, gempa tektonik dan aktivitas seismik dapat menyebabkan permukaan tanah bergetar sehingga melemahkan daya ikat batuan dan tanah. Hal ini bisa memicu longsor dikemudian waktu.
Longsor di perbukitan
3. Aktivitas vulkanik
Lava hasil erupsi punya potensi melelehkan salju. Kombinasi lelehan salju, abu vulkanik dan tanah bergerak sepanjang lembah pegunungan dapat memicu longsor besar dan berbahaya.

4. Geologi
Pelapukan batuan dan perekahan permukaan batuan dapat memicu longsor. Jenis material yang berbeda dan daya adhesi rendah bisa memicu batuan untuk bergerak. Batuan yang kohesif lebih rendah untuk mengalami longsor karena daya ikat yang kuat antar zat/materialnya satu sama lain.

5. Morfologi
Semua bentuk erosi baik itu erosi sungai, air, gelombang, glasial di sepanjang lembah akan mungkin memicu longsor atau aliran. Deposisi dari erosi dapat membuat material debris di lereng gunung sampai ke hilir. 

Morfologi dengan tingkat sudut kecuraman diatas 15% biasanya sangat rentang sekali untuk mengalami bencana longsor.

6. Manusia
Akitivitas manusia seperti tambang, konstruksi, pertanian, deforestasi, irigasi dan pembuatan waduk sangat berkontribusi terhadap permukaan bumi khususnya dalam urusan longsor. 

Contohnya, sudah banyak longsoran terjadi di area pertambangan dan memakan korban jiwa. Selain itu kegiatan pertanian di lereng yang miring juga berpotensi mengganggu kestabilan tanah dan memicu longsor saat musim hujan tiba. 

Gambar: disini

Sabtu, Oktober 20

Pengertian Kondisi Geografis Permukaan Bumi

Pengertian Kondisi Geografis Permukaan Bumi

Geografi pastinya akan banyak mempelajarai kondisik geografis permukaan bumi. Kondisi geografis adalah suatu keadaan permukaan bumi pada suatu wilayah tertentu. 

Permukaan bumi ini memiliki berbagai macam kondisi geografis yang dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen yang bekerja. 

Berikut ini beberapa kondisi geografis yang umum dijumpai di suatu wilayah. Kamu harus bisa mengenali perbedaannya.
 

1. Gunung Api
Gunung atau volcano adalah bentukkan permukaan bumi yang menonjol tinggi berbentuk kerucut dan biasanya memiliki kawah atau kaldera. Gunung api dihasilkan dari penerobosan magma yang keluar melalui erupsi. Gunung api banyak muncul di zona subduksi lempeng seperti Indonesia.

2. Pegunungan
Pegunungan atau mountain adalah daerah yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gunung yang membentuk suatu rangkaian. Pegunungan ini muncul karena adanya proses lipatan dan patahan akibat tumbukkan antara lempeng benua atau obduksi. 

3. Bukit
Bukit atau perbukitan adalah suatu daerah dengan ketinggian antara 200-300 m yang memanjang dan lebih rendah dari pegunungan.

4. Dataran Tinggi/Plato
Plato adalah tanah datar dengan ketinggian lebih dari 400 m diatas permukaan laut. 

5. Dataran Rendah
Dataran rendah adalah permukaan bumi yang memiliki ketinggian 0-200 m dan cenderung datar atau tidak bergelombang.

6. Lembah
Lembah adalah permukaan bumi yang cekung dan dibatas oleh perbukitan atau pegunungan di kanan kirinya.

7. Depresi
Depresi adalah suatu wilayah yang permukaannya lebih rendah dari permukaan laut.

Coba kita analisa kondisi geografis pulau Jawa dengan melihat peta di bawah ini. Gambar: disini
Pengertian Kondisi Geografis Permukaan Bumi
Kondisi geografis pulau Jawa
Dari peta diatas dapat dilihat berbagai macam kenampakan yang divisualisasikan dengan beberapa simbol. 

Warna hijau di peta menandakan dataran rendah, warna kuning di peta menggambarkan perbukitan, warna oranye menandakan pegunungan. Dari peta geografi Jawa dapat dilihat bahwa secara umum kondisi geografis pulau Jawa adalah sebagai berikut:
 
a. Dataran rendah berada di bagian utara sepanjang pantai utara.
b. Dataran tinggi terdapat di bagian tengah pulau.
c. Wilayah selatan merupakan daerah pantai terjal
d. Gunung api banyak ditemukan di wilayah tengah seperti:
- Jawa Barat : Gunung Gede, Tangkubanperahu, Ciremai, Galunggung, Papandayan
- Jawa Tengah: Gunung Slamet, Merapi, Merbabu, Dieng
- Jawa Timur : Gunugn Bromo, Semeru, Ijen, Kelud

Baca juga: Konsep geografi dan contohnya

Jumat, September 21

Fenomena Hasil Erosi Sedimentasi

Fenomena Hasil Erosi Sedimentasi

Sedimentasi merupakan proses alami berupa pengendapan massa batuan atau tanah di suatu tempat (biasanya dataran rendah) setelah mengalami erosi dan transportasi. 

Sedimentasi ini umumnya terjadi di daerah cekungan karena di daerah ini laju transportasi terhambat oleh kemiringan yang rendah. 

Sedimentasi dapat menyebabkan pendangkalan waduk, sungai, saluran irigasi dan terbentuknya tanah-tanah baru di pinggir-pinggir dan delta sungai.

Permukaan bumi ini tidak akan beragam jika tidak ada sedimentasi. Sedimentasi dapat dikatakan menguntungkan dan merugikan. 

Menguntungkan karena dapat menambah kesuburan tanah serta terbentuknya tanah garapan baru di daerah hilir atau bawah. 

Akan tetapi pada waktu bersamaan juga dapat menurunkan kualitasi perairan dan pendangkalan.
Gumuk Pasir
Gumuk pasir di pantai

Selain air, pengangkut sedimen dapat berupa angin, gelombang laut, maupun gletser. Proses pengikisan oleh angin disebut deflasi sementara proses pengendapan oleh angin menghasilkan endapan aeolis. 

Angin mengangkut butiran pasir dan bahan lepas lain dari suatu tempat ke tempat lain. Bentukkan hasil erosi angin yang umum adalah gumuk pasir (sand dune) seperti di parangtritis. 

Menurut bentuknya, gumuk pasir terbagi menjadi barchan (bentuk bulan sabit) dan whale back (punggung paus). 

Aktivitas angin juga menghasilkan bentukkan lain seperti loss yaitu endapan pasir halus mengandung gamping berwarna kekuningan sampai cokelat dan tidak berlapis. Material loss ini biasanya berasal dari gurun pasir yang terbawa jauh oleh angin.
Fenomena Hasil Erosi Sedimentasi
Sedimentasi di pantai
Fenomena hasil erosi sedimentasi lainnya muncul di pantai diantaranya:
1. Beach terbentuk karena deposit material karang oleh pengaruh arus dan gelombang.
2. Bar adalah gosong pasir yang memanjang di pantai.
3. Tombolo yaitu gosong pasir yang menghubungkan pulau karang dengan pulau utama.
4. Delta adalah endapan lumpur sungai di muara.
5. Bantaran sungai adalah dataran pada aliran sungai yang terdiri dari pasir, kerikil dan lumpur.

Sedimentasi terus terjadi setiap detik, menit, jam, tahun dan membuat permukaan bumi berubah dan berkembang dari masa ke masa. Gambar: disini disini 

Baca juga: Soal hots bab pedosfer + kunci

Selasa, September 18

Daftar Puncak Tertinggi dan Terendah Permukaan Bumi

Daftar Puncak Tertinggi dan Terendah Permukaan Bumi

Bumi ini memiliki kenampakan yang sangat bervariasi dari mulai dataran tinggi, dataran rendah, bukit, lembah dan lainnya. 

Semua kenampakan ini dikontrol oleh gaya endogen dan gaya eksogen lho. Kedua gaya tersebut bekerja terus menerus sejak bumi ini lahir. 

Hasilnya berikut ini daftar puncak tertinggi dan terendah permukaan Bumi yang tersebar di tujuah benua. Barangkali ada yang mau coba traveling ke daerah-daerah menantang ini.
Daftar Puncak Tertinggi dan Terendah Permukaan Bumi
Puncak Everest di Nepal
Gunung Tertinggi di Dunia (dan Asia)
Everest, Nepal-China: 29.035 kaki / 8850 meter

Gunung Tertinggi di Afrika

Kilimanjaro, Tanzania: 19.340 kaki / 5895 meter

Gunung Tertinggi di Antartika
Vinson Massif: 16.066 kaki / 4.897 meter

Gunung Tertinggi di Australia
Kosciusko: 7310 kaki / 2228 meter

Gunung Tertinggi di Eropa
Elbrus, Rusia (Caucasus): 18.510 kaki / 5642 meter

Gunung Tertinggi di Eropa Barat
Mont Blanc, Prancis-Italia: 15.771 kaki / 4807 meter

Gunung Tertinggi di Oceania

Puncak Jaya, Nugini: 16.535 kaki / 5040 meter

Gunung Tertinggi di Amerika Utara
McKinley (Denali), Alaska: 20.320 kaki / 6194 meter

Gunung Tertinggi di 48 negara bagian Amerika Serikat 

Whitney, California: 14.494 kaki / 4418 meter

Gunung Tertinggi di Amerika Selatan
Aconcagua, Argentina: 22.834 kaki / 6960 meter

Titik Terendah di Dunia (dan Asia)
Laut Mati, Israel-Yordania: 1369 kaki / 417,5 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Afrika
Danau Assal, Djibouti: 512 kaki / 156 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Australia
Danau Eyre: 52 kaki / 12 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Eropa
Laut Kaspia, Rusia-Iran-Turkmenistan, Azerbaijan: 92 kaki / 28 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Eropa Barat
Tie: Lemmefjord, Denmark dan Prins Alexander Polder, Belanda: 23 kaki / 7 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Amerika Utara

Death Valley, California: 282 kaki / 86 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Amerika Selatan
Laguna del Carbon (terletak di antara Puerto San Julian dan Comandante Luis Piedra Buena di provinsi Santa Cruz): 344 kaki / 105 meter di bawah permukaan laut

Titik Terendah di Antartika
The Bentley Subglacial Trench punya titik 2.540 meter (8.333 kaki) di bawah permukaan laut tetapi ditutupi dengan es, jika es Antartika mencair maka parit itu adalah titik terendah dan jika kenampakan es hilang maka akan menjadi titik terendah di daratan.

Titik Paling Dalam di Dunia (dan yang terdalam di Samudera Pasifik)
Challenger Deep, Mariana Trench, Samudra Pasifik Barat: -36.070 kaki / -10,994 meter

Titik Paling Dalam di Samudera Atlantik
Palung Puerto Rico: -28,374 kaki / -8648 meter

Titik Paling Dalam di Lautan Arktik
Cekungan Eurasia: -17,881 kaki / -5450 meter

Titik Paling Dalam di Samudra Hindia

Java Trench: -23,376 kaki / -7125 meter

Titik Paling Dalam di Samudra Selatan
Ujung selatan dari Trench Sandwich Selatan: -23.736 kaki / -7235 meter

Sabtu, September 15

Contoh 5 Danau Tektonik di Indonesia

Contoh 5 Danau Tektonik di Indonesia

Danau atau lake merupakan sebuah fenomena cekungan di permukaan bumi yang terisi oleh air. 

Menurut genesa terbentuknya danau dibagi menjadi danau tektonik, danau vulkanik, danau tektovulkanik, danau karst, danau gletser dan danau buatan. 

Kali ini kita akan belajar dulu tentang danau tektonik khususnya yang ada di Indonesia.

Danau tektonik adalah danau yang dibentuk karena proses tektonisme. Gaya endogen membuat rekahan-rekahan di permukaan bumi hingga menghasilkan cekungan.

Cekungan ini nantinya lambat laun terisi air dan membentuk danau. Contoh danau tektonik di Indonesia adalah Danau Poso, Danau Singkarak, Danau Tempe, Danau Takengon dan Danau Towuti.
Contoh 5 Danau Tektonik di Indonesia
Pesona Danau Takengon di Aceh Tengah

1. Danau Poso
Danau Poso merupakan danau ketiga terbesar di Indonesia dengan panjang 32 km dan lebar 16 km dan totoal kelilingnya mencapai 127 km. Danau Poso berlokasi di Poso Sulawesi Tengah dan punya panorama pasir putih di tepiannya.

Danau ini berada di pedalaman Sulawesi dengan kedalaman rata-rata 195 m. Danau Poso berada pada ketinggian 657 mdpl dan luasnya 32.000 Ha. Danau Poso menjadi salah satu objek wisata andalah di Sulawesi. Lokasi danau cek disini

2. Danau Singkarak
Danau Singkarak berlokasi di Sumatera Barat dan berada diantara Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Danau eksotik ini berada pada ketinggian 363 mdpl dengan luas 11.200 Ha dan panjang maksimal 20 km dan lebar 6,5 km. 

Kedalaman danau ini mencapai 263 m. Sumber air danau ini berasal dari Sungai Batang Sumani dan Batang Sumpu lalu mengalir ke Batang Ombilin. Lokasi danau cek disini

3. Danau Towuti
Danau Towuti berlokasi di Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan dan masuk dalam kategori danau purba dengan umur jutaan tahun. Dauan Towuti terbentuk karena patahan tektonik di masa Pleosen. 

Danau Towuti adalah danau kedua terbesar setelah Toba dan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia. Lokasi danau cek disini

4. Danau Tempe
Danau Tempe berlokasi di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan dan memiliki luas 13.000 Ha. Ada sekitar 28 anak sungai yang masuk ke Danau Tempe sementara aliran keluar adalah menuju Sungai  Walanae. 

Danau Tempe juga masuk kategori danau purba besar di Sulawesi. Danau Tempe terbentuk dari proses geologi yang seumuran dengan daratan Sulawesi Selatan. Lokasi danau cek disini

5. Danau Takengon
Danau Takengon atau Danau Laut Tawar terletak di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah dan punya luas 5.472 Ha dengan panjang 17 km dan lebar 3,2 km. 

Danau ini terbentuk di tengah zona sesar Semangko dan punya panorama alam yang menawan. Kedalaman danau ini mencapai 50 m lebih. Lokasi danau cek disini

Gambar: disini

Kamis, April 26

Perbedaan Erosi Ablasi, Deflasi, Korosi, Abrasi, Eksarasi

Perbedaan Erosi Ablasi, Deflasi, Korosi, Abrasi, Eksarasi

Erosi adalah fenomena adanya pengangkutan suatu zat dari tempat ke tempat lainnya. Tenaga pembentuk erosi ini bisa oleh angin, air, es dan gravitasi. 

Erosi pada dasarnya termasuk tenaga eksogen dan membuat kenampakan fisik bumi semakin bervariasi satu tempat ke tempat lainnya. 

Kali ini guru geografi akan coba memberikan penjelasan tentang perbedaan antara ablasi, deflasi, korosi, abrasi dan eksarasi. Wah ada banyak juga ya istilah mengenai erosi itu, kalau tertukar bisa salah. 
 

Ablasi
Pengertian ablasi adalah erosi yang disebabkan oleh tenaga air yang mengikis tanah, batuan atau material diatasnya. 

Contoh ablasi adalah erosi di sungai yang membentuk aliran, meander, tebing sungai atau oxbow lake. Ablasi juga banyak membentuk parit-parit di permukaan tanah. 

Ablasi banyak dengan mudah dijumpai di sekitar kita saat terjadi hujan dan aliran air mengikis tanah di kebun atau lapangan misalnya.
 
Deflasi
Pengertian deflasi adalah erosi yang disebabkan oleh tenaga angin yang menerbangkan butiran-butiran pasir atau debu kemudian mengendap di suatu tempat. 

Contoh dari deflasi adalah gumuk pasir di Parangtritis Yogyakarta.
Perbedaan Erosi Ablasi, Deflasi, Korosi, Abrasi, Eksarasi
Batu jamur disebabkan oleh korosi
Korosi
Pengertian korosi adalah erosi yang disebabkan oleh tenaga angin dan setelah itu menabrak tebing atau batuan disekitarnya menghasilkan suatu bentukan. 

Contoh fenomena hasil korosi adalah batu jamur dan butte, mesa.
Abrasi
Pengertian abrasi adalah erosi yang disebabkan oleh gelombang air laut yang mengikis bibir pantai. Abrasi dapat diminimalisir dengan menanam pohon mangrove di pantai.
 
Eksarasi
Pengertian eksarasi adalah erosi yang disebabkan oleh aliran es yang mencair sehingga menghancurkan material yang dilewatinya. 

Eksarasi banyak terjadi di daerah pegunungan salju seperti Alpen dan di Puncak Jaya Wijaya. Contoh fenomena hasil eksarasi adalah moraine.

Itulah jenis-jenis erosi yang harus dipahami oleh kalian. Jangan lupa subscribe channel gurugeografi di youtube dan like blog ini ya!. 

Materi ini kemarin muncul di SBMPTN lho, makanya kamu harus banyak membacanya.
Gambar: disini
 

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close