Guru Geografi: Geomorfologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geomorfologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geomorfologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 14

Fenomena Pra dan Post Vulkanisme

Fenomena Pra dan Post Vulkanisme

Vulkanisme adalah gejala yang berkaitan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi ke atas. Magma merupakan cairan panas pijar yang panas dan menghasilkan tekanan. 

Tekanan ini membuat magma mendesak naik menerobos lapisan kulit bumi dan muncullah gunung api. Gunung api tersebar secara tidak merata di permukaan bumi dan mayoritas berada di zona subduksi lempeng. Baca juga: Bedanya bukit dengan gunung

Berdasarkan aktivitasnya, gunung api dapat dibagi kedalam 3 tipe yaitu gunung api aktif, gunung mati dan gunung istirahat.
1.Gunung aktif yaitu gunung api yang masih bekerja dan kawahnya mengeluarkan asap secara periodik. Pada gunung aktif ini sering terjadi gempa dan letusan. Contoh gunung api aktif di Indonesia adalah Sinabung dan Agung.
2. Gunung mati yaitu gunung api yang diketahui tidak meletus atau tidak menunjukkan aktivitas vulkanik sama sekali. Contohnya adalah Gunung Patuha dan Gunugn Sumbing.
3. Gunung istirahat yaitu gunung api yang sewaktu waktu bisa meletus kemudian beristrihat dalam waktu cukup lama. Contohnya Gunung Galunggung dan Gunung Ciremai.
Fenomena Pra dan Post Vulkanisme
Gunung Sinabung kini paling aktif di Indonesia
Gejala yang berkaitan dengan gunung api dikenal sebagai gejala pra dan post vulkanisme. Gejala pra vulkanisme adalah gejala atau fenomena yang terjadi sebelum gunung api meletus. 

Contoh fenomena pra vulkanisme antara lain adanya gempa tremor hingga terjadi letusan. Fenomena post vulkanisme adalah peristiwa yang muncul pada lingkungan gunung api yang sudah mati atau telah meletus. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Fumarol
Fumarol adalah sumber uap dan gas yang terdapat di sekitar gunung api. Fumarol terdiri atas:
- solfatara, yaitu sumber gas belerang yang dicirikan dengan bau menusuk. Contohnya ada di Tangkubanperahu dan Ijen.
- mofet, yaitu sumber gas karbon dioksida dan bersifat berbahaya. Contohnya di Kaldera Kelud.
- sumber uap air terdapat di kawah gunung api seperti Kawah Domas.
Fenomena Pra dan Post Vulkanisme
Makdani kawah Domas
2. Makdani
Makdani adalah mata air mineral yang bersuhu panas. Makdani dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kulit. Jika kamu pergi ke kawah Domas kamu bisa menemukan banyak makdani dan merebus telur disana.

3. Geiser
Geiser adalah mata air memancar yang terjadi secara periodik dan disebabkan oleh tekanan gas dan panas di bawah lapisan batuan. Contohnya adalah geiser di Yellowstone, Islandia dan Selandia Baru. 

Geiser memiliki ketinggian bervariasi di setiap tempat dari mulai puluhan hingga ratusan meter. Baca juga: Kumpulan rumus hitung geografi

Gambar: disini, disini

Senin, Desember 11

Contoh Bentang Alam Pantai dan Pesisir

Contoh Bentang Alam Pantai dan Pesisir

Bentang alam di permukaan bumi ini sangat beranekaragam dan punya keunikan masing-masing. Salah satu bentang alam yang khas adalah bentang alam pantai dan pesisir. 

Pesisir adalah bagian dari pantai yaitu suatu daerah yang masih mendapatkan pengaruh pasang surut air laut. Kamu pernah main ke daerah pantai kan?. 

Kalau kamu sudah masuk daerah pesisir maka kamu akan menemukan angin berhembus kencang, burung-burung berterbangan dan ada suara deburan ombak. 

Proses pembentukan bentang alam pesisir dan pantai berasal dari pengaruh aktivitas gelombang, arus laut, pasang surut, tenaga tektonik dan lainnya. Berikut ini beberapa jenis pantai menurut morfologinya:

a. Pantai terjal adalah pantai yang terbentuk karena pengaruh abrasi air laut. Karena sering terkena gelombang dan arus laut, morfologi pantai akan membentuk tebing yang memiliki sudut yang tajam, bergantung dan teras pantai (fyord). 

Fyord adalah fenomena pantai bertebing terjal. Tebing curam (fyord) banyak terdapat di pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa. Baca juga: Pola aliran sungai dan cirinya
Contoh Bentang Alam Pantai dan Pesisir
Pantai bertebing terjal
b. Pantai landai adalah pantai yang terbentuk karena proses sedimentasi dan pasang surut air laut. Pantai yang datar akan menciptakan bentuk lahan yang beraneka ragam antara lain:

1. Pantai bergisik adalah bentang alam yang terbentuk di sepanjang aliran sungai di dekat muara sebuah sungai. Proses sedimentasi pada aliran sungai dapat membentuk betting, gisik, tombolo dan laguna. Baca juga: Fungsi lahan bagi kehidupan

2. Pantai berdelta adalah endapan material yang terdapat di pinggir pantai. Endapan yang terjadi terus-menerus pada daerah hilir akan membentuk delta kaki burung.

3. Pantai berawa payau adalah pantai yang tersusun dari material sedimentasi sungai yang membentuk daratan. Daerah ini sangat datar sehingga akan tergenang saat air pasang naik. Pantai ini sering digunakan untuk tambak ikan, garam dan hutan bakau.

c. Terumbu karang, bentang alam terbentuk oleh aktifitas binatang karang dan jasad renik lainnya. Pada kawasan ini banyak ditemukan gugusan cincin terumbu karang dan gugusan pasir koral. Baca juga: Cara memperbesar dan memperkecil peta
Contoh Bentang Alam Pantai dan Pesisir
Pantai landai yang indah
Daerah pesisir juga dipengaruhi oleh angin yang mengakibatkan terjadinya erosi, pengangkatan dan pengendapan bahan lepas oleh angin. Erosi angin di pesisir dan pantai dapat membentuk fenomena:
Contoh Bentang Alam Pantai dan Pesisir
Gumuk pasir pantai hasil erosi angin
1. Gumuk pasir (sand dunes) adalah gundukan pasir atau igir pasir yang terhembus angin dan mengendap. Gumuk pasir dapat ditemukan pada daerah yang memiliki pasir sebagai sumber bahan endapan. Di Indonesia gumuk pasir terkenal ada di Pantai Parangkusumo Yogyakarta. 

2. Endapan debu (loss) adalah bentang alam yang terbentuk dari endapan material halus yang tidak berlapis dan mengandung sedikit pasir dan liat. Daerah ini sangat subur dan cocok untuk lahan pertanian seperti endapan loss di Sungai Huang Ho Cina. Baca juga: Batuan beku dalam dan luar

Senin, Oktober 30

Geologi Patahan Lembang Bandung

Geologi Patahan Lembang Bandung

Patahan Lembang atau Sesar Lembang terletak di bagian utara Bandung dengan jarak 10 km dari pusat kota. Patahan memanjang dari timur ke barat dengan jarak 22 km. 

Patahan Lembang melewati Maribaya di timur dan Cisarua di barat. Patahan Lembang ini berbentuk escarpment. 

Tebing menghadap ke bagian utara dengan ketinggian 450 m sementara di bagian barat lebih rendah yaitu 40 m. Baca juga: Iklim Indonesia bertipe Af

Patahan ini menghilang di sisi utara Padalarang. Tinggi tebing mencerminkan besarnya pergeseran dari sesar Lembang.  Sesar Lembang terbentuk sekitar 100.000 tahun lalu di bagian timur bersamaan dengan munculnya formasi kaldera melalui letusan cataclismic. 

Sementara itu di bagian baratnya, patahan terbentuk 27.000 tahun lalu. Umur patahan lembang didapat dari deposit piroklastik yang muncul di lokasi patahan. 

Sesar Lembang dapat diamati dengan baik dari Gunung Batu yang bertipe andesit. Baca juga: Permafrost, lapisan tanah beku
Geologi Patahan Lembang Bandung
Peta Sesar Lembang
Penelitian terbaru menunjukan bahwa sesar Lembang ini termasuk sesar aktif dimana gempa  Cihideung tahun 1999 adalah salah satu dampaknya. Pergeseran rata-rata sesar Lembang mencapai 3 mm per tahun dan jika gempa terjadi maka wilayah pemukiman di Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Bandung akan terdampak.

Baca juga:
Teori ruang kota Burgess Konsentrik
Faktor pendorong dan penarik urbanisasi

Secara geologi, Bandung terbagi ke dalam empak zonasi yaitu:
1. Kategori B, batuan keras tersusun atas breksi, batu gunung api, dan lava gunung api Sunda purba.
2. Kategori BC, merupakan batuan beku muda terdiri dari tuf, lava, breksi Malabar dan Tangkuban Perahu.
3. Kategori CD, berupa sedimen Miosen tersusun atas tuf, breksi, batu pasir lava, konglomerat.
4. Kategori D, berupa sedimen Lacustrine.

Jika sesar Bandung ini bergerak maka seluruh Cekungan Bandung akan terkena dampak dari getaran tersebut. Sedimen lunak yang menyusun cekungan Bandung akan terkoyak dan menghancurkan kota Bandung. 

Temuan LIPI menyatakan bahwa ada 290 titik sesar aktif di patahan Lembang yang berpotensi mengancam. Mitigasi bencana di daerah sesar Lembang harus diantisipasi. Sesar Lembang mungkin saat ini terlihat tentang namun jika suatu saat mengamuk maka manusia yang akan menjadi korbannya. 
Gambar: disini

Rabu, Oktober 4

Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Dalam istilah geologi tentu kamu akan sering menjumpai berbagai macam istilah seperti Mesa, Butte dan Plateau. 

Jika kamu pergi ke Amerika Serikat sana dan pergi ke wilayah barat daya maka kamu akan banyak menjumpai fitur geomorfologi ini. 

Ketiga jenis morfologi ini pada dasarnya memiliki permukaan yang datar dengan sisi yang  relatif terjal. 

Dalam istilah awam, butte adalah sebuah bukit kecil yang datar atau runcing. Mesa adalah bukit dengan ukuran sedang yang datar. Plateau adalah sebuah bukit atau pegunungan yang relatif luas. 

Salah satu sumber menyatakan bahwa mesa memiliki luas permukaan kurang dari 10 km persegi sedangkan butte memiliki luas permukaan kurang dari 1.000 meter persegi. Baca juga: Bedanya stalaktit dan stalagmit
Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Mesa dan Butte di Barat daya Amerika
Karakteristik mesa dan butte paling umum adalah puncak yang datar dengan sisi yang terjal atau curam. Hal ini dikarenakan formasi batuan yang membentuknya. 

Bentang alam ini paling banyak tersusun atas batuan sedimen, dibangun dari akumulasi dan kompresi sedimen yang mungkin mengandung fragmen batuan, sisa-sisa organisme miskropkopis dan mineral. 

Batuan sedimen menutupi lebih  dari 75% daratan Bumi. Sebagian besar batuan sedimen terlihat berlapis-lapis disebut strata dan saat pertamakali terbentuk memiliki bentuk horizontal. 

Gaya endogen dan eksogen mengubah struktur awal batuan sedimen menjadi berbagai bentuk seperti lipatan, patahan atau sesar. Baca juga: Mekanisme arus turbidit

Lapisan atas mesa dan butte adalah lapisan batuan yang keras dan tahan terhadap erosi yang secara bertahap menghilang dari permukaan bumi karena erosi angin dan air. 

Kadang, lapisan atas ini disebut lapisan penutup dan tersusun bukan dari batuan sedimen tapi lava yang membeku yang menyebar di permukaan bumi melalui retakan kulit bumi. Di bawah lapisan lava beku ini terdapat lapisan batuan sedimen lembut. 
Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Morofologi aeolian
Mesa dan butte banyak ditemukan pada daerah kering atau beriklim gurun. Presipitasi di daerah kering ini sering terjadi sesekali saja namun sangat besar. Karena evaporasi tinggi maka  vegetasi dan jenis tutupan lahan lain sangat jarang ditemui. 

Sisi lereng mesa dan butte selalu tererosi sepanjang waktu mengerosi lapisan batuan dan menyisakan endapan pasir halus di setiap sisinya. 

Gambar: disini, disini

Rabu, September 13

Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit di Gua

Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit di Gua

Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit - Jika kamu pergi mengunjungi gua kapur tentu kamu akan menjumpai dua ornamen unik disana yaitu stalaktit dan stalagmit. 

Stalaktit dan Stalagmit adalah formasi batuan runcing yang banyak ditemukan pada dua kapur atau karst. Orang seringkali lupa membedakan mana yang stalaktit dan mana yang stalagmit.

 Cara membedakannya adalah bahwa stalactite punya huruf "c" dari kata ceilling artinya atap dan stalagmite punya huruf "g" dari kata ground yang artinya tanah.

Dengan begitu kamu sudah pasti bisa membedakan keduanya yang sering disebut juga sebagai dripstone. Saat air mengalir turun melalui tanah dan masuk kedalam gua, ia akan melarutkan mineral yang disebut kalsit dan membawanya melaui rekahan di langit-langit gua. 

Air yang menetes meninggalkan bekas kalsit, yang perlahan terbentuk di langit-langit sampai terbentuk stalaktit menggantung seperti es. Baca juga: Genesa batuan beku

Sementara itu air dari ujung stalaktit meninggalkan lebih banyak kalsit di tumpukan lantai gua dan tak lama membentuk stalagmit seperti kerucut. Itulah mengapa stalaktit dan stalagmit biasanya ditemukan berpasangan. 

Stalaktit dan stalagmit yang bertemu akan menghasilkan pillar atau kolom. Gambar: disini
Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit di Gua
Stalaktit dan stalagmit gua kapur
Gua kapur merupakan lokasi wisata yang populer di berbagai belahan bumi. Di Indonesia wisata susur gua banyak di temukan di Gunung Kidul, Pacitan dan Sulawesi Selatan. Gua kapur di Indonesia memiliki kedalaman dan panjang yang bervariasi. Baca juga: Batuan beku intrusif dan ekstrusif

Bentuk-bentuk ornemen gua kapur bervariasi dikarenakan berbagi faktor seperti bagaimana air memasuki gua (menetes, merembes, atau memercik). Selain itu warna ornamen di gua ditentukan oleh kandungan mineralnya. 

Kalsit murni berwarna putih dan hampir tidak berwarna. Besi dan mineral lain serta asam dari vegetasi permukaan menambah warna merah, oranye, hitam ke stalaktit dan stalagmit. 

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim bagi dunia

Kamis, Agustus 3

Ekosistem Gua dan Cirinya

Ekosistem Gua dan Cirinya

Gua atau cave merupakan sebuah bentukan alam yang terbentuk di daerah kapur atau gamping. Indonesia punya gua-gua yang tidak kalah menarik dengan gua alam idi luar negeri.

Gua terbentuk karena air hujan yang mengandung sedikit asam melarutkan kapur, mengalir melalui celah-celah di bawah tanah dan mengeruk dinding celah yang semakin lama semakin besar sehingga berbentuk terowongan di dalam tanah yang kita sebut dengan gua. 

Di dalam gua sering mengalir sungai kecil dan adakalanya aliran air itu bukanlah air permukaan namun limbah dari akuifer dan air tersebut sehat untuk diminum. Di dalam gua juga kadang djimpai stalagmit dan stalaktit. Gambar: disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang mendapat cahaya matahari sehingga tidak dapat ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak bisa djumpai atau sejenis organisme seperti bakteri atau ganggang biru-hijau.  

Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis hewan gua dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis hewan gua yang tidak dapat hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis hewan gua yang dapat hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga dapat hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan hewan yang mencari makanan ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
Bedanya meteoroid, meteor dan meteorit itu apa?
3 teknik proyeksi peta paling umum

Contoh fauna gua diantaranya kelelawar, cacing, ular dan lipan. Gua-gua yang terdapat di Indonesia memiliki arti luas karena bisa digunakan untuk kepentingan rekreasi atau iptek. 

Keindahan gua di Indonesia sudah dikenal sejak abad pertengahan oleh bangsa Eropa. Salah satu kabupaten yang memiliki kenampakan gua yang indah antara lain di Pacitan dan Gunung Kidul. 

Paket-paket pariwisata susur gua atau cave expedition kini banyak bermunculan. Gua merupakan tempat tinggal manusia purba dan banyak fosil-fosil ditemukan di gua-gua yang terdapat di Indonesia. 

Rabu, Juli 12

Sejarah Terbentuknya Gumuk Pasir Parangkusumo

Sejarah Terbentuknya Gumuk Pasir Parangkusumo

Gumuk pasir atau sand dunes merupakan salah satu fenomena alam yang terdapat di pesisir pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Gumuk pasir ini sangat terkenal di Indonesia.

Fenomena alam gumuk pasir di Parangtritis merupakan satu-satunya di Asia dan kini menjadi wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur tiba. Gumuk pasir merupakan hasil dari erosi angin (eolian) dan hingga saat ini terus berlangsung.

Gumuk pasit di Parangtritis bertipe Barchan atau berbentuk bulan sabit. Libur lebaran kemarin saya juga mengunjungi lokasi ini dan sudah ada beberapa fasilitas pendukung lainnya di sana. 

Kalau mau ke gumuk pasir ini saya sarankan datang sore hari karena kalau siang panas banget. Bagaimana bisa di Parangtritis terbentuk gumuk pasir yang begitu banyak?. Saya coba bahas tentang sejarah terbentuknya gumuk pasir Parangtritis.
Gumuk pasir Parangkusumo Bantul
Pada dasarnya gumuk pasir bisa terbentuk asal syarat berikut terpenuhi:
1. adanya pasokan material pasir yang banyak
2. morfologi pantai landai
3. adanya arus angin yang kuat untuk menerbangkan butiran pasir
4. musim kemarau dan hujan sangat tegas berbeda
5. perbedaan pasang anik dan surut cukup besar

1. Awal mula dahulu Gunung Merapi mengalami erupsi besar yang memuntahkan material vulkanik berupa debu, pasir, lahar panas dan dingin, batu dan lainnya. Material tersebut terbawa oleh sungai yang berhulu di Merapi. 

Semua aliran lalu menuju sungai Opak yang bisa anda lihat ketika melintasi jembatan panjang sebelum masuk gerbang Parangtritis. Jadi pasir di Parangtritis itu dati Merapi asalnya. 

Anda bisa lihat warna pasir pantainya hitam bukan?. Itu tandanya pasir tersebut berasal dari endapan vulkanik beda dengan pasir pantai lain yang putih, pink atau lainnya. Jadi pasir pantai tidak sama di semua tempat. 
Endapan pasir Merapi terbawa menuju pantai selatan
2. Sesampainya di muara, material endapan tersebut dihadang ombak besar pantai selatan sehingga menjadi butiran pasir halus yang bisa diterbangkan angin dari laut. Ukuran pasir berkisar hingga 0,02 mikron. 

3. Gelombang laut kemudian menggerakan pasir ke tepian pantai. Setelah sampai tepi pantai, pasir yang basah lalu mengering  kehilangan berat karena panas matahari dan terhempas angin menuju daratan. 

4. Pasir terus-menerus terbawa angin dan mengendap di daratan dan terbentuklah gundukan pasir. Gundukan inilah yang menjadi gumuk pasir. Gumuk pasir di Parangtritis berarah sesuai hembusan angin. 

Adanya pegunungan karst di timur membuat angin dari arah tenggara lebih kuat sehingga pola gumuk pasir cenderung menghadap ke tenggara.

Erosi angin di Parangtritis sangat kuat dan bisa menghancurkan bangunan di sekitar pantai. Ekosistem gumuk pasir sangat unik dan menjadi salah satu lokasi ekowisata yang ramai dikunjungi kalangan pelajar. 

Apalagi disana kini dibangun Laboratorium Geospasial yang dibuka untuk umum. Vegetasi yang umum dijumpai di daerah gumuk pasir ini adalah Cemara Udang.

Sabtu, Juni 17

Formasi Geologi Pulau Jawa

Formasi Geologi Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan salah satu anugerah Tuhan yang paling indah di dunia. Siapa yang tidak mengenal pulau Jawa?. Pulau yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, keelokan budaya, dan juga kepadatan penduduknya. 

Meski pulau Jawa tidak begitu luas dibanding Sumatera, Kalimantan dan Papua namun perkembangan dan pertumbuhan pulau ini sangat pesat meninggalkan pulau lainnya.

 Kepulauan Indonesia di bagian selatan merupakan jalur vulkanis Sirkum Mediterania yang menyebabkan banyak muncul gunung api yang menyediakan mineral penyubur tanah disekelilingnya. Baca juga: Terbentuknya kabut di permukaan bumi

Pulau Jawa adalah salah satu contoh unik dari zona vulkanik di tengah pulau yang membujurdari timur ke barat. Dari sekitar 33 gunung api yang melintasi pulau ini sekitar 17 nya masih aktif dan siap-siap meledak sewaktu-waktu. 

Deretan pegunungan api aktif yang melintasi kepulauan Indonesia ini mengikuti susunan sesar atau patahan besar yang kurang lebih sejajar dengan batas lempeng tektonik.
Formasi Geologi Pulau Jawa
Pegunungan Kendeng yang mempesona, http:blog.act.id
Barisan pegunungan api ini dimulai dari ujung Sumatera bagian selatan lalu memanjang ke Krakatau di Selat Sundadan melintasi bagian tengah Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores dan berakhir di Kepulauan Banda. Ada 4 lempeng tektonik aktif yang memengaruhi struktur geologi Indonesia yaitu Eurasia, Indo-Australia, Pasifik dan Filipina. 

Interaksi keempat lempeng tersebut menimbulkan zona subduksi dan menjadikan Indonesia sebagai wilayah tektonik yang tidak stabil. Hal ini menjadi salah satu daya tarik ilmuwan untuk meneliti mekanisme pembentukkan gunung api di dunia.

Baca juga:
Kunci jawaban UN Geografi 2017
Contoh soal HOTS Geografi dan jawabannya

Pulau Jawa terletak di selatan ekuator dengan luas permukaan mencapai 134.000 km persegi. Salah satu daya tarik yang membuat peradaban manusia berkembang begitu pesat disini adalah kesuburan tanah vulkaniknya. 

Selain itu warisan Hindu dan Islam selama beradab-abad turut berperan dalam perkembangan jumlah penduduk di pulau ini.Bagian utara pulau Jawa dibatasi Laut Jawa, di selatan dibatasi Samudera Hindia di timur dibatasi  Selat Balidan di barat dibatasi Selat Sunda. Panjang pulau Jawa mencapai 1.000 km dengan lebar antara 100 - 180 km.

Menurut penelitan geolog dahulu, diketahui bahwa sejarah geologi pulau Jawa tergolong masih muda yaitu tersusun dari Zaman Tersier Kuarter hingga sekarang. Ada juga bukti Zaman Pra Tersier. 

Pembentukkan Jawa dimulai sejak era Oligosen dan Miosen melalui serangkaian fase orogenesa yang intens. Namun wujud pulau yang sekarang ini terbentukpada era Pleistosen. Struktur batuan pulau Jawa terbentuk dari deretan perbukitan dan depresi dataran rendah. Baca juga: Eskplorasi dan eksplotasi SDA

Menurut poros barat ke timur, Jawa dibagi dalam 3 jalur sejajar yaitu:
- lajur utara dibatasi pantai Laut Jawa dengan morfologi dataran rendah aluvial.
- lajur tengah bertipe vulkanik dimana terdapat barisan gunng api dan lipatan pegunungan.
- lajur selatan dibatasi Samudera Hindia dimana terdapat sedimen laut purba era Eosen, Oligosen, Miosen kemudian tuffa andesit, breksi ditambah batu gamping yang mengalami karstifikasi seperti Pegunungan Sewu. 
Formasi Geologi Pulau Jawa
Formasi Geologi Pulau Jawa
Geolog terkenal yaitu Van Bemmelen mengkaji pulau Jawa lewat serangkaian penelitian dan membagi pulau ini ke dalam 7 zonasi formasi dari selatan ke utara.
1. Pegunungan Selatan merupakan zona batu gamping dan vulkanik zaman Miosen yang telah mengalami pengangkatan (uplift) akibat gaya tektonik hingga zaman Kuarter.
2. Zona Vulkanik zaman Kuarter memiliki banyak gunung api dengan ketinggian rata-rata 2.000 m atau lebih dan sebagian besar masih aktif.
3. Depresi bagian tengah merupakan poros utama pulau dimana muncul dua depresi besar yaitu Depresi Bandung di bagian barat dan Depresi Solo di timur. Depresi Solo memiliki Kubah Sangiran yakni sebuah situs purbakala terkenal.
4. Zona antiklin tengah, terdiri atas endapan-endapan zaman Mio-Pleistosen dengan perbukitan Kendeng yang memanjang dari barat ke timur.
5. Depresi Randublatung, di kaki pegunungan Kendengan yang terbentuk dari endapan-endapan laut dan daratan dari era Mio-Pleistosen.
6. Antiklin Rembang-Madura terdiri dari formasi bukit gamping dari zaman Miosen.
7. Dataran rendah aluvial berbentuk delta yang menghiasi pemandangan pesisir utara (Pantura). 

Baca juga: Info bimbel online terbaik di Indonesia

Minggu, Mei 14

Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya

Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya

Sungai memainkan peranan penting dalam evolusi bentuk permukaan bumi. Erosi sungai membuat permukaan bumi bervariasi di berbagai tempat. 

Aliran fluvial merupakan kombinasi proses fisika dan kimia dalam bentuk run off atau aliran permukaan. 

Mofologi sungai bervariasi di berbagai tempat karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Air permukaan dapat berwujud sungai maupun air yang mengalir pada punggung bukit (sheet water). Sumber utama air permukaan adalah presipitasi.

Menurut ada tidaknya saluran tetap, sungai dibedakan menjadi stream dan river. Stream adalah aliran air permukaan yang bisa berpindah-pindah alirannya. River adalah aliran permukaan yang punya saluran tetap.

Besar kecilnya air permukaan atau debit air dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya:
1. Jumlah curah hujan: jika curah hujan besar maka air permukaan juga akan semakin banyak begitupun sebaliknya. 
2. Kemiringan lereng: daerah yang berlereng terjal akan mempermudah air untuk mengalir di permukaan karena pengaruh gravitasi.
3. Geologi: terkait dengang porositas dan permeabilitas. Wilayah yang punya batuan dengan porositas dan permeabilitas besar maka akan lebih banyak menyerap air sehingga aliran permukaan akan lebih kecil. 

Contohnya adalah daerah karst atau kapur. Karena porositas dan permeabilitas tinggi maka air akan masuk ke dalam Tanah sehingga tidak ada aliran permukaan.
4. Cuaca dan Iklim: daerah beriklim air atau kering akan punya aliran air yang sedikit dibandingkan daerah yang basah.
Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Aliran sungai bersirat atau braided stream
Sementara besar kecilnya volume air yang masuk ke dalam Tanah ditentukan oleh faktor berikut:
1. Porositas dan permeabilitas batuan
Porositas adalah jumlah pori-pori batuan sementara permeabilitas adalah kecepatan lapisan batuan dalam meloloskan air. 

Semakin berpori batuan maka permeabilitas cenderung tinggi sehingga air akn lebih mudah masuk ke dalam Tanah seperti di daerah karst. 

Jadi mengapa di daerah karst sulit air? karena faktor porositas dan permeabilitas kapur itu sendiri.
2. Vegetasi
Vegetasi atau tumbuhan memainkan peranan dalam meloloskan air ke dalam Tanah khususnya lewat akar. 

Semakin banyak vegetasi maka air akan mudah masuk ke dalam Tanah dan semakin sedikit vegetasi maka run off semakin besar tapi air yang masuk ke dalam semakin sedikit.
3. Struktur dan tekstur Tanah
Tanah yang bertekstur liat akan sulit meloloskan air seperti di sawah sementara Tanah yang bertekstur pasir akan lebih cepat meloloskan air. 
4. Kegiatan organisme
Akitifitas organisme khususnya yang hidup di bawah Tanah akan membantu terhadap penyerapan air. 

Cacing dan tikus Tanah contohnya akan membangun lorong-lorong di bawah Tanah dan hal tersebut membantu air untuk mengalir ke dalam Tanah.
5. Suhu
Tanah yang lembab atau hangat cenderung akan lebih banyak memiliki volume air Tanah dibanding Tanah yang dingin seperti Tanah permafrost.
Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Batuan kapur lebih mudah meloloskan air ke dalam tanah
Proses erosi sungai memiliki tiga bentuk yaitu erosi, transportasi dan sedimentasi. Erosi oleh air sungai dilakukan dengan cara berikut:
1. Quarrying atau pendongkelan  terhadap batuan yang dilalui
2. Abrasi yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilalui
3. Scourring yaitu penggerusan dasar sungai sehingga kerikil, lempung dan pasir terangkut
4. Korosi yaitu reaksi antara batuan yang dilalui terutama di daerah kapur

Kecepatan aliran sungai tidak sama di semua bagiannya. Kecepatan paling tinggi ada di tikungan luar atau sedikit di bawah permukaan air. 

Ketika sungai banjir maka kekuatan alirannya semakin besar sehingga hydrolic action akan melepaskan dan mengangkut material di dasar sungai hingga tebing sungai. 

Erosi tebing sungai yang berkelanjutan menyebabkan alur sungai bergeser ke kiri atau ke kanan sehingga akan menjadi berkelok-kelok dan terbentuklah meander. Baca juga: Memahami potensi air tanah

Gambar: nicolasdory.com, limestonebarrens.ca

Jumat, Mei 12

Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya

Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya

Masswasting merupakan pergerakan massa batuan hasil pelapukan atau sedimentasi yang menuruni lerengan dikarenakan pengaruh gravitasi. Masswasting dapat merubah bentang alam jika terjadi dalam skala yang besar. 

Longsor merupakan salah satu jenis masswasting yang berbahaya karena dapat merusak pemukiman dalam waktu singkat. Longsor di Ponorogo baru-baru ini merupakan salah satu masswasting terbesar yang melanda Indonesia. Puluhan jiwa terkubur longsor dan ratusan rumah hancur. Baca juga: Bedanya patahan dextral dan sinistral
Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya
Masswasting berupa longsoran batu
Fenomena masswasting dapat terjadi akibat kombinasi berbagai faktor diantaranya:
1. Kemiringan lereng
Kondisi lereng yang curam akan memperbesar terjadinya masswasting karena gaya gesek semakin rendah. Lereng yang miring sebaiknya tidak ditinggali atau masuk zona merah karena rawan longsor.

2. Gravitasi
Semakin besar derajat kemiringan lereng maka semakin besar pula gravitasi yang bekerja sehingga material akan cenderung menuruni lereng.

3. Air
Air berfungsi sebagai penambah besarnya gerakan juga penambah beban sehingga dapat mempermudah gerakan. Keberadaan air diantara butir-butir atuan atau tanah dapat mengurangi daya kohesi antara material sehingga mudah terurai. 

4. Gempa atau getaran
Gempa bumi atau getaran akibat mesin dapat membuat retakan di bukit dan lereng sehingga akan mudah untuk bergerak menuruni lereng.

5. Curah hujan 
Curah hujan yang tinggi akan membuat limpasan air di lereng semakin besar dan akan menyebabkan erosi. 

6. Perubahan kondisi vegetasi
Kondisi lereng yang gundul akan lebih mudah untuk mengalami masswasting dibandingkan lereng yang ditumbuhi banyak vegetasi dengan akar yang kuat.

Masswasting dapat diklasifikasikan dalam berbagai tipe sebagai berikut:
1. Rayapan tanah (soil creep)
Rayapan tanah merupakan proses gerakan tanah yang sangat lambat. Rayapan tanah dapat dilihat dari adanya permukaan tanah bergelombang, tiang listrik miring, pagar miring dan dinding bangunan yang retak. Baca juga: Kondisi geografi Indonesia

2. Aliran tanah (earth flow)
Aliran tanah umumnya terjadi pada wilayah lembab dengan lereng curam. Fenomena ini terjadi dalam beberapa jam dan menghasilkan timbunan material berbentuk seperti undakan.
Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya
Rayapan tanah
3. Aliran lumpur (mud flow)
Aliran lumpur bisa terjadi menuruni lereng di perbukitan dan pegunungan. Aliran lumpur dapat terjadi pada perbukitan di gurun pasir saat hujan deras.

Aliran lumpur dapat terjadi pada gunung api yang baru meletus. Hujan membawa abu vulkanik sisa letusan menuruni lereng hingga ke sungai membentuk banjir lahar.

4. Tanah longsor (landslide)
Tanah longsor adalah massa batuan yang meluncur dengan cepat ke bawah lereng. Ada dua bentuk tanah longsor ayitu longsoran baru (rock slide) dan runtuhan tanah (slump). Longsoran baru berupa massa batuan induk yang meluncur turun pada bidang miring yang rata seperti patahan. 

Sementara runtuhan tanah adalah massa batuan yang meluncur turun pada bidang miring yang cekung. Baca juga: Bedanya awan cirrus, stratus dan cumulus

5. Guguran batau (rock fall)
Masswasting paling cepat adalah guguran batu. Fenomena ini berupa massa batuan yang bergerak jatuh bebas dari tebing curam. Ukuran baru yang gugur dapat bervariasi mulai batu kecil hingga bongkahan sebesar rumah.

Masswasting dapat dicegah dengan melakukan hal berikut:
- menamam pohon kayu berakar kuat di lereng terjal.
- tidak membuat sawah di atas lereng terjal.
- tidak membuat getaran di atas lereng.
- tidak membangun rumah di bukit yang miring. 

Gambar: www.ndsu.edu

Sabtu, April 8

Klasifikasi Batuan Sedimen Menurut Genesa, Tenaga dan Lokasi Pengendapan

Klasifikasi Batuan Sedimen Menurut Genesa, Tenaga dan Lokasi Pengendapan

Halo sobat geografi semuanya, selamat beraktifitas dan berkarya di hari ini. Kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang klasifikasi batuan sedimen. Batuan sedimen tersingkap 75% diatas permukaan bumi artinya paling besar dibanding batuan beku dan metamorf.

Batuan sedimen pada dasarnya berasal dari batuan beku yang mengalami pelapukan dan terangkut oleh gaya eksogen sehingga mengendap menjadi sedimen di daerah yang netral atau cekungan. Sedimen tersebut lantas lama kelamaan akan mengeras atau mengalami kompaksi sehingga jadilah batuan sedimen. Baca juga: Apa itu multiple cropping?

Batuan sedimen ini diklasifikasikan menurut beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Menurut Genesa/Pembentukannya
a. Batuan sedimen klastik/mekanik
Batuan sedimen ini adalah batuan yang terbentuk karena proses mekanik sehingga tidak merubah susunan kimia batuaan awalnya.  Contohnya batuan di hulu pegunungan terangkut oleh air lewat sungai lalu hanur menjadi butiran lebih kecil dan mengendap di wilayah hilir dalam bentuk pasir atau kerikil. Contoh batuan sedimen klastik adalah breksi, konglomerat dan batupasir.
b. Batuan sedimen kimia
Batuan sedimen ini terbentuk dari adanya reaksi kimia batuan dengan air. Air melarutkan butiran-butiran batuan sebelumnya seperti yang terjadi di daerha karst atau kapur: stalaktit, stalagmit dan pilar.
c. Batuan sedimen organik
Batuan sedimen ini merupakan akumulasi dari bahan organik atau mahluk hidup baik itu hewan maupun tumbuhan. Contoh: batubara dan batukarang. 
Gambar: s3-us-west-2.amazonaws.com
Klasifikasi Batuan Sedimen
Sedimen Batupasir
2. Menurut Tenaga Pengangkutnya
a. Batuan sedimen akuatik
Batuan ini diangkut oleh media air baik di darat maupun laut, contohnya: konglomerat, batupasir, batu karang.
b. Batuan sedimen eolian
Batuan ini diangkut oleh angin contohnya: tanah pasir, batu jamur.
c. Batuan sedimen glasial
Batuan ini diendapkan oleh erosi es/gletser, contohnya: Morena.
Gambar: docbrown.info
Klasifikasi Batuan Sedimen
Sedimen Konglomerat di sungai
3. Menurut Lokasi Pengendapan
a. Batuan sedimen teristris
Batuan ini diendapkan di wilayah daratan, contohnya: tuff, batupasir, tanah loss.
b. Batuan sedimen fluvial
Batuan ini diendapkan di laut atau muara, contohnya: karang dan garam.
c. Batuan sedimen limnis
Batuan ini diendapkan di wilayah danau atau rawa, contohnya: tanah gambut.
d. Batuan sedimen glasial
Batuan ini diendapkan di wilayah es/pegunungan es, contohnya: morena.

Gambar: geomaps.com.au
Klasifikasi Batuan Sedimen
Endapan Batubara

Senin, April 3

5 Fase Pembentukkan Meander Sungai

5 Fase Pembentukkan Meander Sungai

Meander merupakan sebuah sungai yang memiliki pola berkelok-kelok. Meander dihasilkan dari kombinasi antara erosi dan deposisi. Fenomena ini dapat ditemukan di sungai bagian tengah hingga hilir. 

Mengapa demikian?. Karena di daerah tersebut erosi vertikal berganti menjadi erosi lateral ditambah deposisi di daerah dataran banjir atau floodplain.
5 Fase Pembentukkan Meander Sungai
Terbentuknya Meander Sungai
Ada beberapa fase pembentukkan meander sungai diantaranya:
Tahap 1
Dalam kondisi ini, aliran air sungaimasih mengalir dengan arah lurus dan kecepatan rendah. Aliran ini membawa serta sedimen dan kerikil disepanjang perjalanannya. 

Aliran sungai kemudian membuat sedimen bergerak dan meng-erosi lapisan dangkal permukaan dasar sungai dan pinggiran sungai. Hal ini membuat bantingan sedimen di sisi kanan dan kiri sungai sehingga alur sungai menjadi melebar. Baca juga: Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Tahap 2
Dalam fase ini, aliran sungai mulai mengerosi tepian sungai sehingga menyebabkan adanya pemotongan dinding sungai bagian luar. Di kelokan bagian dalam, endapan erosi disimpan menjadi point bar sementara di tikungan luar, erosi sangat tajam ke bagian bawah dan sisi dinding sungai. 

Tahap 3
Erosi terus terjadi di sepanjang tepi luar aliran sungai sebagai hasil dari gejala hidrolik dan abrasi. Hal ini menciptakan tebing sungai atau river cliff. Sebuah point bar terbentuk di bagian dalam aliran sungai dengan sedimen berupa pasir, kerikil dan batu-batuan.

Tahap 4
Meander mulai terbentuk dengan proses yang dinamakan arus helicoidal. 

Tahap 5
Erosi yang berkelanjutan menyebabkan aliran akan berubah dan menyisakan suatu bekas aliran yang dinamakan oxbow lake atau danau tapal kuda. Danau ini merupakan aliran sungai yang sudah mati karena perubahan arah aliran sungai. 

Gambar: edtech.mit.ed, youtube

Rabu, Maret 22

Genetika Sungai: Superposed, Anteseden, Konsekuen, Subsekuen, Resekuen, Obsekuen dan Insekuen

Genetika Sungai: Superposed, Anteseden, Konsekuen, Subsekuen, Resekuen, Obsekuen dan Insekuen

Sungai pada dasarnya merupakan aliran air yang melaju pada sebuah saluran di atas permukaan bumi. Seiring berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu diantara saluran induk dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh faktor geologi di sekitarnya. 

Bentuk atau pola aliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk atau pola tersebut berkembang dalam merespon topografi dan struktur geologi permukaannya. Baca juga: Rumus kelembaban relatif

Saluran sungai berkembang ketika air permukaan atau run off meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap laju erosi. Kali ini kita akan melihat klasifikasi genesa sungai menurut hubungan struktur perlapisan batuannya.Gambar: uwgb.edu
Genetika Sungai: Superposed, Anteseden, Konsekuen, Subsekuen, Resekuen, Obsekuen dan Insekuen
Contoh Genetika Aliran Sungai
1. Sungai Superposed
Disebut juga sungai Superimposed merupakan sungai yang terbentuk di atas permukaan bidang struktur dan dalam perkembangannya erosi vertikal sungai kemudian memotong ke bagian bawah hingga mencapai permukaan bidang struktur dan akhirnya sungai mengalir ke bagian yang lebih rendah. Sungai superposed dengan kata lain berkembang belakangan dibandingkan pembentukkan struktur batuannya. Baca juga: Efek coriolis dan dampaknya

2. Sungai Anteseden
Merupakan sungai yang lebih dulu ada dibandingkan dengan keberadaan struktur batuannya dan dalam perkembangannya air sungai mengikis hingga ke bagian struktur batuan di bawahnya. Erosi ini dapat terjadi karena erosi vertikal lebih intens dibanding erosi lateral.
Mau video pembahasan soal UN/SBMPTN?OSN Geografi?

3. Sungai Subsekuen
Merupakan sungai yang berkembang disepanjang suatu garis atau zona yang resisten. Sungai ini pada umumnya dapat dijumpai mengalir di sepanjang jurus perlapisan batuan yang resisten terhadap erosi seperti batupasir. 

4. Sungai Resekuen
Merupakan sungai yang mengalir searah dengan arah kemiringan lapisan batuan namun sungai resekuen berkembang belakangan. 

5. Sungai Obsekuen
Merupakan sungai yang berlawanan arah terhadap arah kemiringan lapisan dan berlawanan terhadap sungai konsekuen. Sungai konsekuen mengalir searah dengan arah lapisan batuan.

6. Sungai Insekuen
Merupakan aliran sungai yang mengikuti suatu aliran dimana lereng tidak dikontrol oleh faktor kemiringan asli, struktur atau jenis batuan. Baca juga: Update kode diskon quipper video terbaru 2018

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close