Guru Geografi: Kependudukan - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Kependudukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kependudukan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 12

Permasalahan Kualitatif Penduduk Indonesia

Permasalahan Kualitatif Penduduk Indonesia

Pada postingan sebelumnya saya sudah memberikan contoh masalah kuantitatif kependudukan Indonesia. Kali ini kita akan coba bahas tentang masalah kualitatifnya.

Masalah penduduk Indonesia yang bersifar kualitatif dapat diukur dengan indikator Human Development Index atau Indeks Pembangunan Manusia.

Indeks Pembangunan Manusia diukur dengan 3 aspek utama yaitu ekonomi, standar kesehatan dan angka harapan hidup dan level pendidikan.

1. Ekonomi 
 
Dalam hal ekonomi, indikator yang bisa digunakan untuk melihat kualitas penduduk adalah dengan mengukur pendapatan per kapita per tahun.
 
Pendapatan per kapita Indonesia per tahun rata-rata masih berada di angka 3.800 US Dollar dan masih jauh jika dibandingkan negara maju yang bisa diatas 10.000 US Dollar.
 
Selain itu aspek lainnya adalah terkait angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menjelaskan dalam setahun terakhir, pengangguran bertambah 60 ribu orang.
 
Lulusan SMK masih penyumbang pengangguran paling banyak yaitu 8,5%. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penambahan sektor lapangan kerja dan pengembangan wirausaha mandiri.

Kabar baiknya, jumlah wirausaha di Indonesia saat ini sudah tembus 3,1% dari total 260 juta penduduk atau sekitar 8,06 juta jiwa, angka itu melampaui standar internasional yaitu 2%.
 
Pengembangan usaha kecil menengah perlu terus digalakan ke seluruh masyarakat agar sektor informal semakin berkembang.

Di era ekonomi digital e-commerce saat ini pemerintah harus membangun ekosistem market online yang baik di masyarakat sehingga memudahkan pemasaran produk-produk yang dihasilkan di masyarakat.
Peta IPM Indonesia

 2. Kesehatan   

Dari aspek kesehatan ada beberapa aspek yang bisa diukur yaitu angka harapan hidup dan angka kematian bayi.

Negara maju memiliki angka harapan hidup diatas 70 tahun dan Indonesia saat ini sudah mencapai 71 tahun, masih berada di bawah Singapura 80 tahun dan Malaysia 75 tahun.
 
Angka harapan hidup ini didukung oleh kondisi penyediaan gizi, fasilitas kesehatan, layanan kesehatan, sanitasi dan kualitas lingkungan hidup.
 
Di Indonesia sendiri pemerintah terus menggenjot perbaikan dan penambahan fasilitas kesehatan di setiap wilayah hingga ke pelosok agar akses kesehatan masyarakat semakin baik.
 
Idealnya dalam satu kecamatan ada satu rumah sakit tipe A yang beroperasi agar tidak terjadi penumpukan pasien.
 
Dalam hal gizi, masyarakat perlu didorong untuk melakukan budaya hidup sehat dengan makan makanan bergizi, buah dan sayuran.
 
Angka harapan hidup Indonesia

3. Pendidikan

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat terkait dengan peran guru dan fasilitas penunjang seperti gedung sekolah dan sarana prasarana pendukung lainnya.
 
Pendidikan juga berkaitan dengan daya literasi dan mentalitas penduduk Indonesia. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia yang artinya minat baca sangat rendah. 
 
Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!. Ini perlu dibenahi jika ingin negara kita menjadi negara maju.

Daya literasi akan berperan penting dalam pengambilan keputusan seseorang sehingga tidak terjerumus pada sesuatu yang negatif termasuk berita hoax.

Pendidikan adalah aset masa depan yang utama dan sudah kewajiban pemerintah menyediakan akses pendidikan terbaik bagi masyarakat di seluruh nusantara.
 
Sebaran pengangguran di Indonesia

Kamis, Januari 7

Masalah Kuantitatif Kependudukan di Indonesia

Masalah Kuantitatif Kependudukan di Indonesia

Indonesia menempati peringkat 4 negara dengan jumlah populasi terbanyak di dunia dengan total 260 juta lebih penduduk.

Jika dilihat dari sisi positif maka jumlah populasi yang besar ini merupakan modal dasar pembangunan Indonesia.

Akan tetapi dari sisi kuantitatif dan kualitatif Indonesia masih memiliki masalah terkait kependudukan yang jika tidak segera dicari solusinya akan menjadi bom waktu.
 
Kali ini kita akan coba ulas dulu masalah kuantitatif penduduk di Indonesia yang perlu menjadi perhatian bersama pemerintah.

Masalah Kuantitatif Penduduk Indonesia
Permasalah kuantitatif penduduk Indonesia menyangkut beberapa aspek sebagai berikut:
1. Angka Pertumbuhan Penduduk
Hingga kini angka pertumbuhan penduduk Indonesia masih tergolong tinggi yaitu masih di angka 1% per tahunnya. 
 
Total penduduk Indonesia saat ini mencapari 269 juta jiwa. Sebenarnya laju pertumbuhan penduduk Indonesia terus mengalami penurunan. 
 
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2010-2015) laju pertumbuhan penduduk Indonesia kembali mengalami penurunan menjadi 1,43 persen. Namun angka ini masih tergolong tinggi dan harus terus diarahkan ke zero population growth.

2. Sebaran Penduduk
Populasi penduduk Indonesia mencapai 269 juta jiwa namun sebaran populasinya sangat tidak merata. Populasi lebih terkonsentrasi di pulau Jawa. 
 
Tiga provinsi di Pulau Jawa mendominasi sekitar 46% jumlah populasi di Indonesia. Ketiga provinsi tersebut adalah Jawa Barat (49,57 juta jiwa), Jawa Timur (39,96 juta jiwa), dan Jawa Tengah (34,74 juta jiwa).  

Hal ini menandakan adanya ketimpangan pembangunan sehingga dalam jangka panjang bisa mengganggu keseimbangan lingkungan karena terus tergerusnya lahan karena kebutuhan manusia.
 
Penduduk harus disebar ke semua pulau agar pembangunan merata dan kesejahteraan meningkat. Program transmigrasi adalah salah satu solusi untuk menyebar penduduk di Indonesia tentunya dengan aturan yang jelas sehingga tidak merugikan transmigran.
Overpopulasi Jakarta
3. Arus Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Fenomena urbanisasi mulai meningkat sejak era orde baru karena pembangunan pesat di ibukota. 
 
Arus urbanisasi ini membuat jumlah penduduk kota meningkat tajam namun tidak diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan ruang dengan baik.
 
Dampaknya adalah terjadinya kepadatan ekstrim di perkotaan dan muncul kawasan kumuh dan angka kriminalitas meningkat. Kaum urban yang terlempar dari persaingan di kota akan membentuk komunitas-komunitas di pinggiran kota yang membuat kota semakin buruk.

Fenomena kebakaran yang setiap hari terjadi di Jakarta juga dikarenakan arus urbanisasi yang tidak terkendali sehingga ruang kota terlalu padat oleh bangunan semi permanen.

4. Beban Ketergantungan
Angka ketergantungan penduduk Indonesia dewasa ini tercatat 47%, artinya setiap 100 penduduk produktif menanggung beban 47 jiwa penduduk tidak produktif sehingga pendapatan keluarga tersedot untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Beban ketergantungan yang tinggi akan menguras pendapatan masyarakat sehingga membuat kesempatan investasi, menabung semakin sedikit. Untuk itu dibutuhkan perluasan lapangan kerja baik di sektor formal dan informal untuk menekan angka beban ketergantungan ini.

Rabu, Januari 6

Jenis-Jenis Migrasi Internal dan Eksternal

Jenis-Jenis Migrasi Internal dan Eksternal

Manusia semakin hari semakin cepat bergerak di atas ruang permukaan bumi. Dari awalnya dengan menggunakan kaki kemudian sampai ditemukannya alat transportasi, manusia terus bergerak di bumi ini.

Pergerakan manusia di permukaan bumi dinamakan migrasi. Migrasi selalu dilakukan mahluk hidup di planet ini.

Tujuan manusia bermigrasi bermacam-macam dan kebanyakan adalah motif ekonomi. Di abad pertengahan, bangsa Eropa mulai menjelajah lautan dengan motif gold, glory dan gospel.

Motif ekonomi menjadi bagian dari kolonialisme dan imperialisme bangsa barat. Saat ini migrasi manusia semakin cepat dengan kecanggihan transportasi dan teknologi telekomunikasi.
 
 
Tujuan manusia bermigrasi antara lain ekonomi, sosial, politik dan lingkungan.
1. Migrasi ekonomi adalah pergerakan penduduk untuk mencari pekerjaan atau penghidupan.
2. Migrasi sosial adalah pergerakan penduduk untuk mencari kualitas hidup lebih baik atau mendekat ke sanak keluarga.
3. Migrasi politik adalah pergerakan penduduk untuk menyelamatkan diri dari ancaman politik atau perang.
4. Migrasi lingkungan adalah pergerakan penduduk karena faktor bencana alam.
Migrasi penduduk
Migrasi dibagi menjadi migrasi internal dan migrasi eksternal.
1. Migrasi eksternal adalah perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Ada 3 macam migrasi eksternal yaitu:
a. imigrasi adalah masuknya penduduk dari negara lain ke negara tujuan dengan motif menetap.
b. emigrasi adalah keluarnya penduduk dari negara asal ke negara tujuan dengan motif menetap.
c. remigrasi adalah proses kembalinya penduduk dari negara tujuan ke negara asalnya.

2. Migrasi internal adalah perpindahan penduduk yang terjadi dalam satu wilayah negara. Jenis migrasi internal antara lain:
a. urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan.
b. transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah padat ke daerah yang jarang penduduknya.
c. ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota ke desa.
d. forensen adalah pergerakan penduduk desa ke kota tiap hari tapi tidak menetap.
e. komuter adalah pergerakan pekerja harian tanpa menetap untuk kepentingan tertentu (bekerja atau sekolah).

Migrasi terbesar dalam sejarah adalah apa yang disebut Migrasi Atlantik Besar dari Eropa ke Amerika Utara, gelombang besar pertama yang dimulai pada tahun 1840-an dengan pergerakan massa dari Irlandia dan Jerman. 
 
Pada tahun 1880-an gelombang kedua dan lebih besar bergerak dari Eropa timur dan selatan; antara 1880 dan 1910 sekitar 17 juta orang Eropa memasuki Amerika Serikat. Jumlah total orang Eropa yang mencapai Amerika Serikat berjumlah 37 juta antara tahun 1820 dan 1980.

Di Indonesia sendiri fenomena migrasi mulai marak sejak era orde baru dimana pembangunan pusat pertumbuan terutama di Jawa banyak dilakukan. Jakarta menjadi sasaran migrasi penduduk di Indonesia karena faktor ekonomi.

Dinamika Penduduk: Natalitas, Mortalitas, Migrasi

Dinamika Penduduk: Natalitas, Mortalitas, Migrasi

Manusia adalah mahluk yang mendominasi di ruang permukaan bumi ini sejak turun ke planet biru ini. Penduduk bumi terus bertambah dari waktu ke waktu.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukan total populasi penduduk dunia saat ini 7,8 milyar penduduk yang tersebar di 5 benua.

Jumlah ini semakin hari semakin bertambah dan mengundang kekhawatiran akan ketidakseimbangan antara kapasitas ruang dengan populasi.

Dinamika penduduk dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu natalitas (kelahiran), mortalitas (kematian) dan migrasi (perpindahan).
 

Faktor Natalitas
Natalitas atau kelahiran penduduk mengakibatkan jumlah penduduk semakin bertambah pada suatu wilayah. Setiap negara memiliki angka kelahiran yang berbeda-beda.

Negara maju sudah mengarah pada zero population growth untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dan menghindari ledakan populasi.

Ada faktor pro natalitas dan anti natalitas. Faktor pro natalitas seperti anggapan banyak anak banyak rezeki, ekonomi mantap, kesehatan dan gizi baik dan lingkungan yang baik serta sarpras kesehatan memadai.

Faktor anti natalitas seperti program KB, anggapan anak adalah beban, ekonomi sulit, kesehatan dan gizi buruk, lingkungan dan saran kesehatan baik. 
Populasi penduduk negara di dunia
Faktor Mortalitas
Mortalitas atau kematian penduduk mengakibatkan jumlah penduduk berkurang pada suatu wilayah. Ada faktor pro dan anti mortalitas.

Faktor pro mortalitas diantaranya kesehatan buruk, pandemi penyakit, perang, bencana alam, kecelakaan dan pembunuhan.

Faktor anti mortalitas diantaranya kesehatan baik, ekonomi memadai, sarana prasana kesehatan memadai, lingkungan yang sehat dan aman.

Faktor Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dengan tujuan tertentu. Biasanya tujuan utama migrasi adalah motof ekonomi. 

Bangsa Eropa telah bermigrasi ke seluruh dunia terutama menginvasi Amerika Utara, Afrika, Australia sejak zaman dahulu.

Motif migrasi masa lalu didukung oleh semangat gold, glory dan gospel. Imperialisme dan kolonialisme adalah motif utama migrasi bangsa Eropa.

Migrasi terbagi migrasi masuk dan migrasi keluar. Migrasi masuk membuat jumlah penduduk pada suatu wilayah bertambah sementara migrasi keluar membuat jumlah penduduk pada suatu wilayah berkurang.

Penduduk merupakan sumber daya utama pembangunan suatu negara. Negara yang mampu mengasah skill dan karakter penduduknya dengan baik akan menguasai dunia dengan cepat.
 
Pertumbuhan penduduk alami dipengaruhi kelahiran dan kematian sementara pertumbuhan penduduk total dipengaruhi kelahiran, kematian dan migrasi.
 

Rabu, Desember 23

Rangkuman Geografi Kelas 11 Bab Dinamika Kependudukan [Antroposfer]

Rangkuman Geografi Kelas 11 Bab Dinamika Kependudukan [Antroposfer]

Manusia adalah mahluk yang menjadi tema sentral dalam geosfer sehingga dalam geografi menjadi bagian utama. Antroposfer adalah lapisan manusia dan segala aktifitas didalamnya.

Sejak turun ke muka bumi, manusia memberikan pengaruh besar bagi perubahan struktur ruang permukaan bumi.

Dengan berbekal akal dan pikiran, manusia mampu merubah, memodifikasi dan menciptakan ruang-ruang baru di permukaan bumi.

Aktifitas manusia semakin kompleks dan lambat laun menghasilkan problematika yang bisa saja mengancam peradaban manusia itu sendiri.
Dinamika penduduk Indonesia
Rangkuman Bab Dinamika Penduduk
1. Antroposfer berasal dari kata antrophos berarti manusia dan sphere berarti lapisan, jadi antroposfer dapat didefinisikan sebagai lapisan manusia beserta segala hal yang berkaitan dengan perilakunya dalam suatu ruang.

2. Menurut ahli demografi Thomas Robert Malthus, pertumbuhan manusia berjalan sesuai dengan deret ukur (geometris) sedangkan ketersediaan sumber daya alam (makanan) bertambah menurut deret hitung (aritmatik).

3. Ada 3 jenis pendataan penduduk yang selama ini dikenal yaitu sensus, survey dan registrasi. 

4. Metode sensus penduduk di Indonesia dibagi dua yaitu sensus de facto dan sensus de jure.

5. Dinamika penduduk dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi.

6. Kepadatan penduduk dipengaruhi faktor alam dan faktor non alam. Faktor alam diantaranya relief, sumber daya alam dan iklim. Faktor non alam diantaranya politik, sosial dan ekonomi.

7. Pertumbuhan penduduk alami dipengaruhi kelahiran dan kematian sementara pertumbuhan penduduk total dipengaruhi kelahiran, kematian dan migrasi (imigrasi dan emigrasi).

8. Transisi demografi adalah suatu model grafik yang menggambarkan perubahan penduduk dari pertumbuhan penduduk tinggi menuju pertumbuhan penduduk yang stabil. Istilah transisi demografi awalnya hanya menggambarkan pergeseran sosial yang terjadi di masyarakat Barat dari abad 19 ke tahun 1930-an. 

9. Komposisi penduduk adalah upaya pengelompokkan penduduk berdasarkan kategori-kategori tertentu seperti biologis, geografis, sosial dan ekonomi.

10. Komposisi penduduk sangat bermanfaat untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Dengan mengetahui perubahan-perubahan tersebut, maka akan mempermudah pemerintah dalam membuat rencana kebijakan di masa yang akan datang. 

11. Sex ratio adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan dalam suatu wilayah/negara pada waktu tertentu

12. Dependency ratio adalah angka beban ketergantungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif.

13. Usia produktif adalah usia penduduk antara 15-64 tahun sedangkan usia non produktif adalah usia penduduk 0-14 tahun dan usia diatas 65 tahun.

14. Piramida penduduk adalah suatu diagram/grafik yang menggambarkan keadaan suatu penduduk berdasarkan kategori umur dan jenis kelamin.

15. Ada 3 jenis bentuk piramida penduduk yaitu piramida penduduk muda (ekspansi), piramida penduduk dewasa (stasioner) dan piramida penduduk tua (konstruktif).

16. Fertilitas adalah  kemampuan wanita untuk menghasilkan bayi lahir hidup sedangkan fekuinditas adalah kemampuan wanita untuk mengandung dan melahirkan anak selama hidupnya tanpa memerhatikan bayi tersebut hidup atau tidak. 

17. Faktor pro natalitas artinya semua faktor yang mendukung terjadinya suatu kelahiran seperti pernikahan dini, seks bebas, anggapan atau ideologi banyak anak banyak rezeki dan tingkat pendapatan yang tinggi.

18. Faktor anti natalitas artinya semua faktor yang menghambat terjadinya kelahiran penduduk seperti program Keluarga Berencana, anggapan banyak anak banyak beban dan pembatasan usia perkawinan.
 
19.  Beberapa faktor pro mortalitas diantaranya: tingkat pendidikan dan kesehatan yang buruk, perang, bencana alam, wabah penyakit dan mahalnya biaya pengobatan.
 
20. Beberapa faktor anti mortalitas penduduk yaitu; tingkat pendidikan dan kesehatan yang baik, gaya hidup masyarakat yang sehat, biaya pengobatan yang murah dan kondisi sosial lingkungan yang harmonis. 
 
21. Proyeksi penduduk bermanfaat sebagai alat ukur kebijakan kependudukan di masa depan seperti perencanaan pembangunan sarana pendidikan, pemukiman, ketahanan pangan dan lainnya.
 
22. Migrasi secara geografis dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk antar wilayah. Proses perpindahan penduduk dapat terjadi dalam satu batas administrasi atau keluar batas administrasi.
 
23. Migrasi penduduk terbagi menjadi migrasi internal dan migrasi eksternal.
 
24. Urbanisasi dipengaruhi faktor pendorong (dari dalam desa) dan faktor penarik (dari kota).
 
25. Bonus demografi merupakan suatu kondisi dimana penduduk dengan umur produktif sangat melimpah sementara penduduk usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

26. Dimensi kualitas hidup manusia secara umum dapat dilihat dari tingkat kesehatan, pendidikan dan standar hidup.

27. Permasalahan penduduk Indonesia dari segi kuantitas mencakup jumlah penduduk dan sebaran penduduk yang tidak merata.

28. Permasalahan penduduk Indonesia dari segi kualitas diantaranya mencakup aspek kesehatan, ekonomi dan pendidikan.
 

Senin, Januari 22

Dampak Pemukiman Penduduk Bagi Lingkungan

Dampak Pemukiman Penduduk Bagi Lingkungan

Rumah merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Dengan demikian setiap penambahan penduduk maka akan menuntut penambahan fasilitas pemukiman. 

Bagi Indonesia, pemenuhan kebutuhan perumahan merupakan masalah nasional. Masalah utama permukiman di perkotaan adalah sulitnya mendapatnya tanah dan harga bangunan yang mahal. Model pemukiman saat ini lebih bersifat vertikal karena keterbatasan lahan.

Akhirnya penduduk yang kurang mampu terpaksa mendirikan rumah yang tidak memenuhi persyarakatan. Mereka mendirikan rumah semi permanen mirip gubuk di sembarang tempat seperti pinggir rel, sungai, jalan tol dan lainnya. 

Keadaan ini dapat membahayakan kesehatan mereka dan mengurangi keindahan kota. Tingkat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu keturunan, gizi dan lingkungan. Kebutuhan pelayanan kesehatan termasuk golongan kebutuhan minimal yang harus dipenuhi.

Makanan yang tidak cukup jumlahnya atau tidak bergizi akan membuat orang terganggu kesehatannya. Di samping itu kedaan lingkungan juga sangat berpengaruh bagi kesehatan seseorang dan kualitas hidup masyarakat. 
Dampak Pemukiman Penduduk Bagi Lingkungan
Pemukiman padat sumber stres dan kriminalitas
Di daerah yang padat penduduknya, rumah yang berhimpitan, sampah dan minimnya fasilitas MCK akan mengurangi keindahan dan mengundang penyakit. Lingkungan jorok mengancam kehidupan kaum urban pinggiran di kota besar Indonesia. 

Jika tidak ditangani serius maka akan merusak kualitas hidup masyarakat dan menimbulkan efek negatif bagi daerah.

Negara yang tingkat kesehatan penduduknya rendah ditandai dengan hal berikut:
a. makanan yang kurang bergizi sehingga rawan gizi buruk.
b. angka kematian bayi dan ibu melahirkan tinggi.
c. usia harapan hidup pendek
d. perbandingan jumlah dokter dan fasilitas kesehatan dengan penduduk tidak seimbang.

Pemukiman yang kotor dan jorok akan memicu berbagai bibit penyakit dan virus. Selain itu tingkat stres penduduk di pemukiman padat tanpa adanya halaman rumah sangat tinggi. 

Oleh sebab itu pembangunan pemukiman memang harus didesain sebaik mungkin agar bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Studi menyebutkan bahwa para kaum kriminial banyak bersumber dari pemukiman penduduk yang padat sehingga memicu stres. 

Gambar: disini

Kamis, Juli 13

Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas dan Anti Mortalitas?

Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas dan Anti Mortalitas?

Dinamika penduduk dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu kelahiran, kematian dan migrasi. Kematian atau mortalitas merupakan fenomena yang pasti akan dialami oleh manusia. 

Mortalitas pada dasarnya akan membuat jumlah penduduk suatu daerah menjadi berkurang. Tingkat kematian tiap daerah atau negara berbeda-beda.

Ada faktor pro (pendukung) dan anti (penghambat) terjadinya kematian penduduk. Berikut ini beberapa faktor pro dan anti mortalitas:
 

Faktor Pro Mortalitas
1. Gaya hidup buruk
Gaya hidup sangat memengaruhi terhadap kualitas kesehatan seseorang. Gaya hidup yang buruk atau tidak sehat akan mempercepat seseorang untuk menemui ajalnya. Kurangnya asupan gizi, stress, buruknya sanitasi, jajan sembarangan tentu akan membuat seseorang rentan terhadap penyakit.  
 
2. Minimnya sarana prasarana kesehatan
Fasilitas kesehatan yang memadai dan berkualitas sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan penduduknya.
 
 Kurangnya fasilitas kesehatan dan tenaga ahli sering membuat angka kematian meningkat. Daerah-daerah terpencil banyak menemui hambatan ini sehingga sering dijumpai kasus gizi buruk atau banyaknya angka kematian ibu dan bayi. 
 
3. Bencana alam
Bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, longsor dan banjir sering menelan korban jiwa. Bencana tsunami di Aceh tahun 2004 saja membuat 500.000 jiwa melayang.
 
4. Kurangnya kesadaran kebersihan
Coba lihat di lingkungan sekitar anda apakah ada sampah berserakan di pinggir jalan, sungai atau tempat lainnya. 
 
Sampah tersebut menimbulkan bau busuk, mengundang lalat dan mahluk penyebar penyakit lain. Ini adalah kebiasaan masyarakat yang tidak sadar kebersihan yang mengundang mereka untuk lebih cepat mati.
 
5. Kecelakaan lalu lintas
Mobilitas menjadi salah satu faktor paling dominan yang menyebabkan meningkatnya kematian. Setiap hari pasti akan dijumpai berita kecelakaan lalu lintas di televisi. Ini diakibatkan oleh kecepatan berkendara yang tentunya akan berbahaya jika tidak hati-hati di jalan.
 
6. Perang
Perang merupakan salah satu sarana pemusnahan penduduk secara massal. Lihat saja di Suriah dan Irak, kota beserta penduduknya musnah dalam sekejap akibat perang.
Perang menghancurkan kehidupan manusia
Faktor Anti Mortalitas
1. Gaya hidup sehat
Hidup sehat, membiasakan makan makanan bergizi dan rajin berolahraga akan menambah panjang hidup anda. Makan sayuran dan buah-buahan akan membuat tubuh lebih sehat.
 
2. Fasilitas kesehatan memadai
Tersedianya sarana pendukung kesehatan yang memadai hingga tingkat desa akan membuat pelayanan kesehatan menjadi prima. Masyarakat bisa cepat berkonsultasi ke dokter jika ia sakit sehingga memercepat harapan sembuh.
 
3. Lingkungan bersih dan sehat
Lingkungan yang bersih dari sampah dan terhindar dari polusi akan membuat hidup kita nyaman. Kebersihan lingkungan menjadi bagian yang sangat penting untuk memperpanjang umur hidup seseorang.
 
4. Program penyuluhan kesehatan
Pendidikan kesehatan perlu diberikan pada masyarakat agar mereka memahami tentang tata cara hidup sehat. Dengan demikian mereka memiliki wawasan ilmu kesehatan yang cukup untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.  
 
 
Gambar: usnews.com
 
Jangan lupa dukung chanel guru geografi di youtube berikut ini!
 

Senin, April 24

Zero Population Growth dan Kemakmuran Negara

Zero Population Growth dan Kemakmuran Negara

Pertumbuhan sebuah negara berbeda-beda dan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Seperti yang kamu ketahui di berbagai berita dan literasi, populais dunia saat ini meningkat dengan kecepatan eksponensial. 

Dengan kata lain semakin banyak penduduk menghuni planet Bumi ini dari waktu ke waktu. Pertumbuhan penduduk dapat didefinisikan sebagai perubahan jumlah penduduk di suatu tempat atau negara dalam hal ini selama periode waktu tertentu.

 Pertumbuhan penduduk yang positif berarti jumlah penduduk meningkat sementara pertumbuhan penduduk yang negatif berarti jumlah penduduk menurun.

Zero Population Growth atau pertumbuhan populasi nol terjadi bila tidak ada perubahan jumlah orang dalam waktu tertentu. Katakanlah kota Jogjakarta dan Solo memiliki ZPG tahun lalu, apakah ini berarti tidak ada yang meninggal atau lahir tahun lalu?. 

Kamu mungkin berpikir demikian namun tidak sesederhana itu. Saat kita berbicara tentang tidak ada perubahan jumlah orang, maka itu tidak berarti tanpa adanya perubahan sama sekali.

Tidak ada perubahan bersih berarti jumlah orang yang lahir sama dengan jumlah orang yang meninggal dunia. Dengan demikian, zero population terjadi karena tingkat kelahiran dan kematian relatif sama.  

Tingkat kelahiran mengacu pada jumlah kelahiran per 1.000 orang tiap tahun sementara tingkat kematian mengacu pada jumlah kelahiran per 1.000 orang tiap tahun. 
Zero Population Growth dan Kemakmuran Negara
Piramida Penduduk  Zero Population (Inggris)
Saat menghitung angka pertumbuhan penduduk, kita juga harus memperhitungkan orang-orang yang bergerak masuk dan keluar dari suatu daerah. Saat zero population terjadi maka imigrasi dan emigrasi memiliki angka yang sama. 

Artinya jika penduduk yang keluar daerah 100 orang maka penduduk yang masuk pun 100 orang. Mobilitas penduduk saat ini sangat cepat dan hampir pasti ada orang yang masuk dan keluar ke suatu daerah dalam satu tahun.

Melihat populasi dunia yang terus melesat, anda mungkin bertanya-tanya bagaimana sebuah negara dapat mencapai pertumbuhan populasi nol. Negara dengan tingkat kesuburan rendah cenderung punya tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih rendah. 

Tingkat kesuburan total mengacu pada jumlah rata-rata anak yang dimiliki seorang wanita sepanjang hidupnya. Semakin banyak wanita yang hanya memiliki dua anak maka potensi terjadinya ZPG sangat besar.

Biasanya negara maju memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang rendah. Negara dunia pertama atau golongan negara industri maju sudah memiliki standar hidup yang lebih tinggi seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Inggris, Perancis dan Jerman. 

Negara-negara tersebut cenderung memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih rendah karena program pengendalian kelahiran, perawatan medis dan angka harapan hidup yang baik. Indonesia saat ini masih memiliki angka pertumbuhan penduduk yang tinggi diatas 1%. 

Jadi untuk mencapai zero population dibutuhkan komitmen dari pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
 
 
Gambar: bbc.uk

Jumat, April 21

Pengertian Bonus Demografi dan Dampaknya

Pengertian Bonus Demografi dan Dampaknya

Apa kamu rasakan jika mendapatkan bonus uang atau hadiah misalnya?. Tentu merasa senang bukan?. Tapi bagaimana jika bonus tersebut dalam wujud yang lain. 

Kali ini kita akan sedikit membahas tentang bonus demografi. Bonus demografi ialah suatu istilah kependudukan untuk menggambarkan melimpahnya penduduk usia produktif.

Menurut data sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta lebih. Dengan melihat struktur piramida penduduk Indonesia saat ini maka pemerintah memberikan suatu istilah yang dinamakan bonus demografi. 

Banyaknya jumlah penduduk produktif ini pada dasarnya merupakan modal dasar bagi pembangunan Indonesia secara kuantitas. Baca juga: Pola musim ujan dan kemarau Indonesia

Dirahapkan potensi-potensi terbaik dari penduduk Indonesia bisa dioptimalkan untuk menyongsong tahun emas 2045 atau hari kemerdekaan Indonesia ke 100. Kita harus optimis dapat menjadi negara maju di tahun 2045. 

Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya bonus demografi ini benar-benar menjadi bonus yang menguntungkan bukan merugikan.
Bonus Demografi Ancaman Indonesia
Pemerataan penduduk di Indonesia belum tercapai
Kuantitas harus diimbangi dengan kualitas dan persebaran yang merata. Saat ini pembangunan di luar Jawa sudah mulai dikebut dan tidak berpusat di Jawa saja. Hal ini tentu akan mendorong lahirnya pusat pertumbuhan baru. 

Penduduk diharapkan tidak hanya mengincar Jakarta dan sekitarnya sebagai tempat mencari kehidupan dan penghidupan. 

Mentalitas penduduk yang merugikan juga harus dihilangkan seperti buang sampah sembarangan, hujat menghujat, korupsi dan lainnya. Kualitas sumber daya manusia adalah yang terpenting dalam percepatan pembangunan wilayah di Indonesia.

Pendidikan yang baik dan merata di semua daerah menjadi prioritas untuk membangun sumber daya yang unggul dan handal di semua daerah. Baca juga: Teknik interpretasi citra inderaja

Menurut Bank Dunia, saat ini Indonesia sudah memasuki era negara Industri jadi beberapa tahun yang akan datang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sejajar dengan Cina, India dan Amerika. 

Sumber daya alam yang melimpah di Indonesia hingga saat ini belum dimaksimalkan dengan baik untuk pembangunan. Banyak sumber daya terbarukan yang belum dikelola seperti panas bumi atau angin misalnya. 

Padahal Indonesia punya barisan gunung api terbanyak di dunia dan hal ini menjadi sumber energi yang sangat besar. 

Ketergantungan produk impor juga masih menjadi tantangan pemerintah. Kemandirian negara masih terus dicoba ditingkatkan agar tidak terlalu banyak mengimpor dari negara luar. Produk-produk kreatif harus banyak dimunculkan untuk meningkatkan daya saing dengna negara lain. 

Selasa, Maret 21

Rumus Hitung Sex Ratio dan Dependency Ratio

Rumus Hitung Sex Ratio dan Dependency Ratio

Dalam pelajaran geografi, menghitung sex ratio dan dependency ratio adalah satu materi penting di kelas XI.
 
Sex ratio merupakan angka yang menunjukkan perbandingan jumlah lakik-laki  dengan perempuan dalam suatu wilayah. 

Sementara dependency ratio merupakan angka yang menunjukkan beban ketergantungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif di satu wilayah.
 
Data yang dibutuhkan untuk menghitung sex ratio dan dependency ratio adalah jumlah penduduk per rentang usia dan jenis kelamin. 
 
SR dan DR ini dapat digunakan untuk menganalisa struktur penduduk suatu wilayah sehingga bida dibuat untuk merencanakan kebijakan di masa depan.  
 
Rumus Sex Ratio
Contoh kasus:
Di Kabupaten Culamega jumlah penduduk laki-laki berjumlah 500.000 jiwa sementara jumlah penduduk perempuan 400.000 jiwa. Berapakah Sex Ratio di daerah tersebut?

500.000 x 100 = 125, artinya ada 125 laki-laki per 100 perempuan.
400.000
Rumus Dependency Ratio
 
Di Kota Depok diketahui jumlah penduduk usia 0-14 tahun adalah 10.000 jiwa, penduduk usia 15-64 tahun adalah 20.000 jiwa dan penduduk diatas 64 tahun 5.000 jiwa. Berapakah angka ketergantungannya?

10.000 + 5.000 x 100 = 75
      20.000 

Jadi setiap 100 orang penduduk produktif menanggung 75 orang penduduk non produktif.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close