Guru Geografi: Klimatologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Klimatologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klimatologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 19

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Fenomena cuaca dan iklim sering kita jumpai sehari-hari mulai dari hujan, petir, awan, angin dan lain sebagainya.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perubahan atau dinamika yang terjadi terkait atmosfer khususnya cuaca dan iklim.

Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam jangka waktu lama dan meliputi wilayah luas. Iklim dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria.

Beberapa ahli telah mencoba membuat klasifikasi iklim berdasarkan hasil penelitiannya. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari dibagi berdasarkan posisi letak astronomis suatu wilayah sehingga mempengaruhi intensitas penyinaran matahari. Negara di daerah tropis cenderung menerima intensitas penyinaran yang tinggi dibanding daerah subtropis dan kutub.
 
Iklim matahari

a. Iklim tropis terletak pada wilayah lintang 0⁰ - 23,5⁰ LU/LS. Negara beriklim tropis diantaranya Indonesia, Brazil, Kongo, Ekuador, Papua Nugini.
b. Iklim subtropis terletak pada wilayah lintang 23,5⁰ - 40⁰ LU/LS. Negara beriklim subtropis diantaranya Meksiko, Cina, Turki, Mesir, Maroko, Arab Saudi.
c. Iklim sedang terletak pada lintang 40⁰ - 66⁰ LU/LS. Negara beriklim sedang diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Perancis, Belanda.
d. Iklim kutub terletak pada lintang 66⁰ - 90⁰ LU/LS. Negara beriklim kutub diantaraya Greenland dan Islandia.

2. Iklim Junghuhn
F.W junghuhn adalah seorang ahli botani Jerman yang pernah singgah di Indonesia dan mencoba meneliti kaitan ketinggian tempat dengan vegetasi budidaya masyarakat di Jawa Barat dan Sumatera. Berikut tabel klasifikasi iklim Junghuhn.
 
Iklim Junghuhn

3. Iklim Schmidt-Ferguson
Schmidt-Ferguson membagi iklim berdasarkan rata-rata bulan kering dan bulan basah (nilai Q). Nilai Q dihitung dengan rumus berikut:
a. Bulan basah memiliki curah hujan rata-rata > 100 mm 
b. Bulan kering memiliki curah hujan rata-rata < 60 mm 

Tabel klasifikasi iklim Schmidt Ferguson adalah sebagai berikut:
4. Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman pada dasarnya memiliki indikator yang hampit sama dengan Schmidt-Ferguson. Perbedaannya hanya pada penentuan bulan kering dan bulan basah. 

a. Bulan basah jka curah hujan > 200 mmm
b. Bulan kering jika  curah hujan < 100 mm

Klasifikasi Oldeman cocok untuk penentuan kegiatan pertanian karena dapat melihat urutan bulan basah berturut-turut pada suatu wilayah. Berikut ini tabel klasifikasi iklim Oldeman.

a. Iklim A jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut.
b. Iklim B jika ada 7-9 bulan basah berturut-turut.
c. Iklim C jika terdapat 5-6 bulan basah berturut-turut.
d. Iklim D jika terdapat 3-4 bulan basah berturut-turut.
e. Iklim E jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berturut-turut.

5. Iklim Koppen
Koppen mengklasifikasikan iklim menurut indikator suhu dan curah hujan. Koppen menggolongan iklim menggunakan kode huruf sebagai berikut:

a. Iklim tipe A (hutan hujan)
b. Iklim tipe B (iklim kering)
c. Iklim tipe C (iklim sedang)
d. Iklim tipe D (iklim salju)
e. Iklim tipe E (iklim kutub)


6. Iklim Fisik
Pembagian iklim menurut kondisi fisik wilayah adalah sebagai berikut:
a. Iklim daratan memiliki curah hujan rendah dan dipengaruhi oleh angin darat yang kering.
b. Iklim gurun dicrikan dengan amplitudo suhu harian tinggi dan banyak ditemukan oase dan wadi.
c. Iklim laut terdapat di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi dan dipengaruhi sirkluasi angin laut.
d. Iklim dataran tinggi dicirikan dengan tekanan udara dan kelembaban rendah dan jarang turun hujan.
e. Iklim pegunungan dicrikan dengan curah hujan relatif tinggi, basah dan banyak hujan orografis.

Jumat, Maret 20

Dampak Efek Rumah Kaca Terhadap Kerusakan Ozon

Dampak Efek Rumah Kaca Terhadap Kerusakan Ozon

Gejala naiknya suhu permukaan bumi atau perubahan iklim karena peningkatan intensitas efek rumah kaca, lazim disebut pemanasan global. 

Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global, antara lain, pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam, serta pembukaan lahan. 

Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. 

Pembakaran minyak fosil ini menghasilkan karbondioksida, yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke ruang angkasa. 

Pohon-pohon dan berbagai tanaman, secara alami, memang menyerap karbondioksida dari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. 

Sayangnya, pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon telah meningkatkan jumlah karbondioksida karena menurunkan penyerapan oleh tumbuhan.

 Sementara itu, dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati turut pula meningkatkan jumlah karbondioksida.

Pemanasan global yang terus menerus berlanjut dapat menimbulkan berbagai kerusakan. Hewan dan tumbuhan yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Sementara hewan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru. 

Pola cuaca berubah drastis sehingga menyebabkan timbulnya banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai dahsyat. 

Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen pada beberapa wilayah.

Ada beberapa konsep yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pemanasan global, yakni :
a) Efek rumah kaca (greenhouse effect)

Istilah efek rumah kaca berasal dari pengalaman para petani di daerah yang menanam sayur mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca, yaitu rumah dengan dinding dan atapnya terbuat dari kaca. 

Di dalam rumah kaca dapat dipasang alat pemanas sehingga ruangan di dalam rumah kaca bisa dipanaskan pada waktu yang diperlukan. Misalnya, pada malam hari, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.

Pada waktu cuaca cerah tanpa alat pemanas pun, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Ini disebabkan karena cahaya matahari dapat menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda di dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas berupa sinar inframerah. 

Efek rumah kaca yang kita alami, misalnya :
a) Ruangan rumah yang berjendela kaca besar terkena sinar matahari.
b) Mobil dengan jendela yang tertutup di parkir di tempat panas. 


Lapisan terendah atmosfer (troposfer) merupakan tempat terjadinya efek rumah kaca. Menurut hukum fisika, penjang gelombang sinar yang dipancarkan sebuah benda tergantung pada suhu benda tersebut. 

Semakin tinggi suhunya, semakin pendek gelombangnya.Matahari dengan suhunya yang tinggi memancarkan sinar dengan gelombang yang pendek. Radiasi matahari yang berwarna putih, terdiri dari warna ungu, indigo, biru, hijau, kuning, oranye, dan merah. 

Sinar ungu mempunyai panjang gelombang terpendek. Merah mempunyai panjang gelombang terpanjang.

Matahari juga memancarkan sinar yang tak kasat mata, yaitu sinar Y, sinar X, serta ultraviolet (UV) dengan panjang gelombang yang lebih pendek daripada ungu; dan inframerah dengan panjang gelombang yang lebih panjang daripada merah. Sinar inframerah merupakan sinar panas.
Efek rumah kaca berlebihan memicu global warming
Telah dijelaskan bahwa di dalam atmosfer terdapat berbagai jenis gas yang terdiri atas lebih dari satu atom, antara lain, uap air, dan sebagainya. 

Dengan adanya gas-gas itu, sebagian sinar inframerah terserap oleh atmosfer sehingga tidak terlepas ke angkasa luar. 

Panas itu terperangkap di dalam lapisan troposfer. Oleh karena itu, suhu troposfer dan permukaan bumi naik, maka terjadilah efek rumah kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah itu disebut gas rumah kaca.

b) Kerusakan ozon

Ozon terbentuk secara alamiah di lapisan atas stratosfer, yaitu stratopause (batas lapisan stratosfer dengan mesosfer). 

Pembentukan ozon di lapisan tersebut merupakan mekanisme perlindungan bumi terhadap sinar ultraviolet matahari. Di troposfer, ozon terbentuk melalui proses fotokimia.
 

Selain akibat gas rumah kaca, kerusakan ozon di troposfer disebabkan oleh paparan berbagai zat perusak dari aktivitas manusia. Hal dimaksud pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan manusia.

Dampak pemanasan global dapat menyebabkan :
a) Perubahan iklim dan vegetasi yang disebabkan oleh pemanasan global akan mengakibatkan daerah tropis bertambah luas, sedangkan daerah boreal (dingin) berkurang. Vegetasi tundra akan hilang, hutan akan hilang atau berkurang, sedangkan padang rumput dan gurun bertambah luas.


b) Pemanasan global juga dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang disebabkan beberapa hal, misalnya sebagai berikut :
1. Karena kenaikan suhu air laut, permukaan akan memuai, volume air laut bertambah;
2. Kenaikan suhu akan menyebabkan melelehnya sebagian dari es abadi yang terdapat di Benua Antartika (Kutub Selatan), Laut Arktik (Kutub Utara), serta es di pegunungan tinggi sehingga menambah volume air laut dan menaikkan permukaan laut;
3. Dapat pula terjadi massa es di Antartika Barat akan lepas dan ambruk ke dalam laut, sehingga menyebabkan kenaikan permukaan laut.


Baca juga: Sebab cuaca dingin di Dieng

Kamis, November 21

5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya

5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya

Geografer sebangsa se tanah air, kali ini kita akan sedikit membahas tentang bab meteorologi dan klimatologi ya!. 

Kalian tentu sudah tahu tentang apa itu iklim?. Iklim adalah suatu keadaan atmosfer dalam jangka waktu lama, biasanya dihitung rata-rata dalam 30 tahun minimal.

Nah sebetulnya apa aja sih yang membangun sistem iklim di Bumi ini?. Mengapa kalau dulu waktu kita kecil, musim sangat jelas dan bisa diprediksi sementara sekarang kayaknya sudah sulit dan banyak anomali-anomali atmosfer. Ada apakah gerangan di sistem iklim bumi kita, adakah yang berubah?

Sistem iklim adalah sebuah sistem kompleks yang terdiri dari 5 komponen utama yaitu atmosfer, hidrosfer, kriosfer, litosfer, biosfer serta interaksi diantara semua komponen tersebut. 

Sistem iklim berkembang seiring berjalannya waktu dibawah pengaruh dinamika internalnya sendiri dan faktor eksternal seperti erupsi gunung api, variasi panas matahari, hasil antropogenik seperti perubahan atmosfer karena perubahan tata guna lahan.
5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya
Sistem Iklim Bumi
1. Atmosfer
Merupakan lapisan udara yang merupakan rumah berbagai macam gas dan tempat terjadinya gejala-gejala cuaca dan iklim. Cuaca iklim lebih intens terjadi di troposfer. Lapisan udara bumi melindungi bumi dari ancaman benda asing yang jatuh. Berbagai kejadian seperti angin, hujan, tornado, jetstream terjadi di atmosfer.

2. Hidrosfer

Komponen sistem iklim ini terdiri dari air permukaan dan air bawah tanah seperti lautan, laut, sungai, danau, air bawah tanah, air dalam batang pohon dan lainnya. Air senantiasa mengalami siklus yang teratur dari mulai evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, run off sampai perkolasi.

3. Biosfer
Biosfer adalah sistem Bumi yang tersusun atas semua ekosistem dan organisme hidup termasuk bahan organik yang mati seperti bangkai, bahan organik tanah dan detritus samudera.

4. Kriosfer
Kriosfer adalah wilayah di permukaan bumi maupun di lautan dimana air berada dalam bentuk padat termasuk es, es danau, es sungai, tutupan salju, gletser, permafrost dan lainnya.
5. Litosfer
Litosfer marupakan bagian Bumi yang padat baik benua dan samudera yang tersusun atas batuan kerak dan dingin. Litosfer berasal dari pembekuan magma di lapisan matel bumi. 

Selasa, Desember 5

Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E

Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E

Sebelum saya menjelaskan tentang klasifikasi iklim Koppen, saya akan berikan penjelasan dulu tentang definisi iklim. Iklim adalah agregat kondisi cuaca untuk satu daerah dalam jangka waktu lama. 

Sistem iklim di Bumi melibatkan pertukaran energi dan uap air yang terjadi antara atmosfer, hidrosfer dan kriosfer (es dan salju). Baca juga: Permafrost, tanah beku di iklim dingin

Klasifikasi iklim membutuhkan informasi alias data yang sangat banyak diantaranya adalah suhu dan presipitasi. Klasifikasi Koppen menggunakan nilai suhu dan presipitasi rata-rata bulanan dan tahunan dan merupakan sistem klasifikasi yang sudah digunakan secara luas. 

Batas-batas yang digunakan Koppen secara umum berdasarkan batas asosiasi tumbuhan tertentu. Ada 5 kelompok utama dengan subdivisi yang telah diakui saat ini. Baca juga: Karakteristik bioma tundra

Iklim A
Humid tropical (A) climates: tanpa musim dingin, dengan seluruh bulan punya suhu rata-rata diatas 18⁰C.
Wet tropical climates (Af dan Am): berlokasi di sekitar ekuator, konstan memiliki suhu dan curah hujan yang cukup untuk mendukung tumbuh suburnya vegetasi hutan tropis. Af adalah hutan tropis dan Am adalah hutan musiman seperti jati.
Tropical wet and dry climates (Aw): terletak di arah kutub dari wet tropic dan di arah ekuator dari subtropical desert dimana hutan hujan digantikan oleh padang rumput dan pohon-pohon yang tahan dengan kondisi kering tersebar pada sabana. Ciri paling khas dari iklim ini adalah curah hujan yang berbeda tiap musim. Baca juga: Reaksi bowen pada siklus batuan
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Hutan hujan tropis
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Sabana Afrika

Iklim B
Dry (B) climates: presipitasi tahunan lebih kecil dari potensi evaporasi atau penguapan.Terbagi ke dalam dua tipe yaitu gurun (Bw) dan stepa (Bs). Perbedaan keduanya hanya kecil dengan stepa yang marjinal dan gurun lebih lembab.

Gurun dan stepa pada lintang rendah akan menghasilkan cuaca yang cerah karena pergerakan udara yang ke bawah akibat sabuk tekanan tinggi subtropis. Gurun dan stepa lintang tengah secara prinsip pada karena posisinya berada di bagian tengah benua yang memisahkan jauh dair lautan. 

Karena banyak gurun lintang tengah terletak pada daerah bawah angin (leeward) dari pegunungan maka gurun lintang tengah dapat juga diklasifikasikan sebagai rain shadow desert. Baca juga: Perambatan panas di permukaan bumi
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Gurun dan padang rumput stepa
Iklim C
Middle-latitude climates with mild winters (C): suhu rata-rata bulan terdingin adalah dibawah 18⁰C dan di atas -3⁰C. Iklim C terbagi ke dalam beberapa subdivisi yaitu:
Humid subtropical climates (Cfa): terletak di sebelah timur benua, pada lintang 25-40 derajat. Musim panas dicirikan dengan cuaca yang panas dan gerah dan musim dingin yang sejuk.
Marine west coast climates (Cfb, Cfc): pengaruh massa udara lautan menyebabkan musim dingin dan musim panas yang sejuk.
Dry-summer subtropical climates (Csa, Csb): berlokasi di pantai barat kontinen pada lintang 30-45 derajat. Di musim panas region ini didominasi oleh kondisi yang stabil dan kering, berasosiasi dengan tekanan tinggi subtropis oseanik. Pada musim dingin kemungkinan untuk terkena musim bada siklon dari front kutub. Baca juga: Ciri tanah podzolik
 
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Peta iklim mediteran
Iklim D
Humid middle-latitude climates with severe winters (D): sangat terpengaruh oleh keberadaan daratan, sehingga iklim ini tidak ada di belahan bumi selatan. Iklim ini memiliki ciri musim dingin yang keras. Suhu rata-rata bulan terdingin adalah -3⁰C atau lebih rendah dan bulan terpanas dapat di atas 10⁰C.

Humid continental climates (Dfa, Dfb, Dwa, Dwb): dibatasi oleh sisi timur amerika utara dan eurasia dan berkisar pada lintang 40-50 utara. Musim panas dan dingin dapat digolongkan relatif keras. Presipitasi umumnya lebih besar pada musim panas dibanding musim dingin.

Subarctic climates (Dfc, Dfd, Dwc, Dwd): terletak di utara humid continental climates dan selatan polar tundra. Ciri yang paling menonjol pada iklim ini adalah dominan musim dingin pada sepanjang tahun. Namun sebaliknya pada musim panas suhunya sangat hangat meski durasinya sangat pendek. Baca juga: Potensi air tanah permukaan dan dalam

Iklim E
Polar (E) climates: tidak ada musim panas, rata-rata suhu pada bulan terhangat di bawah 10⁰C. Dua subdivisi iklim E adalah:
Tundra climate (Et): tidak ada vegetasi, berada di bagian utara.
Ice cap climate (Ef): tidak satu bulanpun dalam setahun yang suhunya diatas 0⁰C. Dampaknya tidak ada vegetasi dan hanya tutupan salju permanen. Contohnya di pegunungan Alpen. Baca juga: Lokasi absolut dan relatif
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Tundra yang tertutup salju

Rabu, November 29

Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi

Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi

Berita kondisi cuaca kini sudah menjadi kebutuhan manusia sehari-hari. Data cuaca diolah dan dianalisa oleh meteorologis dan klimatologis. 

Mereka adalah dua ilmuwan atmosfer yang mempelajari pola cuaca dan pengaruhnya bagi manusia dan lingkungan. Lalu apa beda meteorologi dan klimatologi?. 
 
Meteorologi adalah ilmu tentang cuaca sementara klimatologi adalah ilmu tentang iklim. Baca juga: Bedanya lokasi absolut dan relatif

Ahli meteorologi lebih fokus pada kondisi cuaca jangka pendek sementara ahli iklim lebih tertarik pada studi cuaca dalam jangka panjang yaitu iklim. Baru-baru ini isu global warming telah menjadi sumber ketidaksepahaman antara ahli cuaca dan ahli iklim.

Ahli iklim dan meteorologi menggunakan data radar dan satelit inderaja serta model komputer super canggih untuk mempelajari atmosfer. Ahli meteorologi dibagi dua macam yaitu 

1. Penyiar cuaca adalah seseorang yang menyiarkan dan memberitakan ramalan cuaca kepada khalayak di media. 2. Peneliti cuaca, yaitu seseorang yang bekerja pada lembaga negara/swasta yang bertugas mengumpulkan data cuaca untuk dianalisa. Baca juga: Front cuaca itu seperti apa?
Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi
Cuaca kini bisa diprediksi
Ahli iklim atau klimatolog mempelajari kondisi saat ini dan masa lalu untuk memprediksi di masa depan seperti perubahan suhu dan presipitasi. Perbedaan utama meteorologi dengan klimatologi terletak pada perspektif waktu yang mereka bawa untuk mempelajari cuaca dan iklim. 

Ahli meteorologi menghasilkan prakiraan cuaca dalam jangka pendek yaitu 7 -10 hari ke depan. Baca juga: Fenomena angin Fohn

Ahli klimatologi menggunakan perspektif jangka panjang untuk mengembangkan model perubahan cuaca bulan ke bulan, tahun ke tahun bahkan abad. Seorang ahli meteorologi akan  memprediksi apakah akan turun pada esok hari, namun seorang ahli iklim akan memprediksi apakah pola iklim akan merubah jumlah curah hujan rata-rata di tahun mendatang.  Baca juga: Rumus iklim Schmidt Ferguson

Saat ini lembaga negara yang menyediakan data cuaca iklim di Indonesia adalah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Untuk bisa bekerja di BMKG, kamu harus sekolah khusus disana agar bisa meraih sertifika ahli cuaca dan iklim. 

Saat ini informasi cuaca di Indonesia selalu diupdate oleh BMKG untuk membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat cuaca buruk akan melanda. 
Gambar: disini

Selasa, Mei 2

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Indonesia secara umum termasuk dalam kategori iklim tropis dengan dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Akan tetapi sebaran curah hujan di setiap wilayah di Indonesia bervariasi karena berbagai faktor. 

Artinya di Indonesia tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau karena Indonesia ada di wilayah Daerah Konvergensi Antar Tropik. Baca juga: Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Jadi jangan heran jika kamu lihat berita terlevisi sekarang ini di Jawa Tengah sedang banjir tapi di Manado sedang kekeringan. 

Jangan beranggapan saat musim penghujan datang, semua wilayah Indonesia mendapatkan curah hujan yang besar. Berikut ini pola sebaran curah hujan di Indonesia:

1. Daerah pantai barat setiap pulau utama, mendapatkan curah hujan lebih tinggi dibanding pantai bagian timur.
2. Jumlah rata-rata curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar dibandingkan bagian timur.
3. Curah hujan akan meningkat sesuai ketinggian tempat. Curah hujan tertinggi berada pada ketinggian 600 - 900 mdpl.
4. Di wilayah pedalaman pulau, musim penghujan jatuh pada musim pancaroba.
5. Bulan maksimum hujan berada di dekat DKAT.
6. Curah hujan bergeser dari barat ke timur.

- Pantai barat Sumatera sampai Bengkulu mendapat curah hujan terbanyak di bulan November.
- Lampung dan Bangka yang berlokasi di timur Sumatera mendapat hujan terbanyak di bulan Desember.
- Jawa bagian utara, Bali dan Nusa Tenggara memperoleh curah hujan di bulan Januari - Februari.

7. Di wilayah Sulawesi selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah musim penghujan jatuh antara Mei - Juni. Saat itu daerah lain sedang mengalami musim kemarau. 
Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia
Peta Pola Hujan Indonesia
Setiap daerah punya rata-rata curah hujan yang berbeda, ada yang tinggi seperti di Baturaden dan ada yang rendah sekali seperti di Nusa Tenggara. Menurut BMKG, ada 3 pola hujan di Indonesia yaitu:

1. Pola Monsun, punya perbedaan jelas antara musim penghujan dan kemarau.
2. Pola Ekuatorial, punya 2 puncak musim hujan antara Maret dan Oktober.
3. Pola Hujan Lokal, hanya punya satu puncak musim hujan.

Sumber: BMKG

Rabu, April 5

Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman

Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman

Klasifikasi iklim bermacam-macam dan salah satunya yang sering digunakan di Indonesia adalah Klasifikasi Oldeman. Seperti Schmidt-Ferguson, Oldeman hanya menggunakan unsur curah hujan sebagai dasar dari klasifikasi iklim. 

Perbedaannya adalah Oldeman menggunakan metode bulan kering dan bulan basah berturut-turut dan dihubungkan untuk zonasi komoditas pertanian di daerah tertentu.

Baca juga:
Faktor bencana di Indonesia
13 negara yang berlokasi di garis ekuator
Pengertian, contoh konsep interaksi wilayah
Bentuk negara kesatuan dan federasi 
Klasifikasi Oldeman juga sering dikenal dengan sebutan zona agroklimat. Contohnya curah hujan 200 mm per bulan sangat cocok untuk budidaya padi basah. Sementara palawija cocok ditanam pada bulan dengan curah hujan 100 mm. Musim hujan selama 5 bulan berturut-turut cukup untuk dilakukan budidaya padi sawah dalam satu musim. 
Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman
Iklim Oldeman cocok digunakan di Indonesia
Kriteria Iklim Oldeman
Bulan Basah = rata-rata curah hujan > 200 mm per bulan
Bulan Kering = rata-rata curah hujan < 100 mm per bulan
Bulan Lembab = rata-rata curah hujan 100 - 200 mm per bulan

Tipe Utama Iklim Oldeman
Iklim A = jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut
Iklim B = jika ada 7 - 9 bulan basah berturut-turut
Iklim C = jika ada 5 - 6 bulan basah berturut-turut
Iklim D = jika ada 3 - 4 bulan basah berturut-turut
Iklim E = jika ada < 3 bulan basah berturut-turut

Sub Tipe
1 = bulan kering berjumlah < atau sama dengan 1
2 = bulan kering 2 -3 kali
3 = bulan kering 4 - 6 kali
4 = ada > 6 bulan kering

Zona Agroklimat Oldeman 
A1, A2
Sesuai untuk budidaya padi terus-menerus namun produksi agak rendah karena kerapatan fluks matahari rendah sepanjang tahun.
B1
Sesuai untuk tanaman padi terus menerus dengan perencanaan awam musim tanam yang baik. Produksi maksimal jika dilakukan di musim kemarau.
B2
Dapat dibudidayakan padi dua kali setahun dengan varitas umur pendek dan musim kering pendek untuk palawija. Baca juga: Apa itu front meteorologi?
C1
Budidaya padi sekali dan palawija dua kali dalam satu tahun.
C2, C3, C4
Tanam padi sekali dan palawija dua kali setahun. Namun tanam palawija kedua harus hati-hati karena jatuh di musim kering.
D1
Tanam padi umur pendek satu kali dengan panen yang tinggi biasanya karena kerapatan fluks matahari tinggi. 
D2, D3, D4
Memungkinkan untuk satu kali padi dan satu kali tanam palawija, tergantung dari kestabilan irigasi.
E
Wilayah ini umumnya kering tandus, mungkin bisa untuk palawija sekali dan itu pun tergantung dari adanya hujan.

Baca juga:
Melihat kota Majalengka dari bukit paraland
Ayat quran tentang fenomena geografi 
Sumber: pixabay, BMKG

Senin, Maret 27

Perbedaan Iklim di Bumi

Perbedaan Iklim di Bumi

Bumi ini berbentuk bulat namun agak pepat di kutub dan menggelembung di ekuator. Pernahkah kamu bertanya, mengapa bisa ada variasi musim di bumi ini?. Lalu bagaimana jika tidak ada variasi musim di bumi?. 

Perlu diketahui bahwa alam semesta ini sudah didesain dengan sangat sempurna oleh Tuhan sehingga bisa tercipta sistem kehidupan yang sempurna di Bumi.

1. Perbedaan Belahan Bumi Menghasilkan Musim yang Berbeda
Di Eropa pada saat bulan Desember mungkin sedang mengalami musim dingin namun di belahan bumi selatan seperti Australia maka yang ada adalah musim panas. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?. 

Ini disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi bumi yaitu 23,5 derajat. Hal ini akan berdampak pada kecondongan wilayah di Bumi yang menghadap matahari pada bulan tertentu. 

Intinya antara belahan bumi utara dengan selatan akan mengalami perbedaan musim yang kontras. Jika di utara musim panas maka di selatan musim dingin, jikda di utara musim semi maka di selatan musim gugur. Jika sumbu rotasi bumi tidak miring maka yang terjadi adalah wilayah ekuator akan sangat panas dan wilayah utara dan selatan akan sangat dingin sekali.

Winter Soltice = Utara (Desember 21/22), Selatan (Juni 21/22)
Spring Equinox = Utara (Maret 20/21), Selatan (September 21/22)
Summer Soltice = Utara (Juni 20/21), Selatan (Desember 21/22)
Fall Equinox = Utara (September 22/23), Selatan (Maret 22/23)
Perbedaan Iklim di Bumi
Perubahan Musim di Bumi
2. Adanya Efek Coriolis di Bumi
Efek Coriolis adalah suatu efek pembelokan yang disebabkan oleh benda yang berputar. Di belahan bumi utara, efek ini akan membelokan angin dan arus laut ke kanan sehingga tornado akan berputar searah jarum jam. 

Karena arah rotasi bumi ke timur maka semua gejala terkait angin, arus, taifun dan lainnya akan dibelokkan ke kanan di belahan utara dan dibelokkan ke kiri di belahan selatan.

3. Iklim di Utara Lebih Hangat
Coba kamu lihat peta dunia dan bandingkan konisi benua diantara dua belahan bumi tersebut. Sepintas daratan di belahan bumi utara lebih besar dibanding di daerah selatan. Ingat bahwa dalam hukum fisika, daratan lebih cepata menyerap dan melepas panas dibanding lautan. 

Jadinya, secara umum cuaca di utara relatif lebih hangat dibandingkan di selatan. Namun itu secara umum saja karena pada dasarnya banyak faktor yang memengaruhi kondisi cuaca suatu daerah. 

Gambar: wikimedia

Sabtu, Maret 4

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita akan berjumpa dengan hujan, panas, angin, petir dan lain sebagainya bukan?. Saat ini informasi tentang cuaca sangat dibuthkan oleh masyarakat. 

Update informasi tentang prakiraan hujan, badai, angin dan lainnya sangat membantu manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Lalu apa bedanya cuaca dan iklim?

Cuaca atau weather merupakan kondisi atmosfer atau udara dalam waktu singkat dan meliputi wilayah yang tidak luas. Contoh dari perubahan cuaca tentu kita rasakan sehari-hari misalnya pagi hari hujan sementara siang panas. 

Atau di Jakarta sekarang sedang hujan gerimis sementara di Jogjakarta sedang hujan ringan. Baca juga: Bedanya wadi dan oasis gurun
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Cuaca memengaruhi kehidupan sehari-hari
Iklim atau climate adalah kondisi rata-rata atmosfer yang berlangsung lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas. Contoh iklim adalah iklim tropis, iklim subtropis dan iklim kutub. Untuk menentukan tipe iklim dibutuhkan data yang lama sehingga nantinya diambil kesimpulan. 

Baca juga:
Kumpulan rumus hitungan geografi peta dan pemetaan
Mengapa arah utara itu ke atas?

Pada dasarnya unsur cuaca dan iklim adalah sama yaitu suhu, kelembaban, tekanan udara, angin dan awan. Para ahli menentukkan perbedaan kondisi cuaca dan iklim berdasarkan unsur-unsur tadi. Ada banyak klasifikasi iklim di dunia ini dan yang paling umum adalah Klasifikasi Iklim Matahari. 
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Iklim Matahari di Bumi
Iklim Matahari ini diklasifikasikan menurut intensitas panas yang diterima bumi  dalam satu tahun. Garis yang membagi iklim di bumi yaitu garis lintang. Indonesia masuk kategori iklim tropis karena berada di wilayah ekuator dengan intensitas matahari yang tinggi sepanjang tahun. 

Iklim tropis hanya punya dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan dengan musim pancaroba atau peralihan diantara keduanya. Baca juga: Jenis-jenis presipitasi

Apakah iklim di Indonesia bisa berubah?. Bisa, jika posisi Indonesia bergeser ke arah subtropis. Mengapa kerak bumi bergeser?, Ini karena adanya arus konveksi yang menyebabkan lempeng tektonik bergerak. 

Jadi kalau sekarang Indonesia bergerak 1 cm per tahun ke utara maka perlu jutaan tahun untuk merubah Iklim Indonesia. Dahulu gurun Sahara juga terletak di daerah tropis sehingga tidak tandus seperti saat ini. 

Namun gerakan lempeng Afrika ke utara menyebabkan Sahara pindah dari ekuator ke subtropis sehingga dataran yang tadinya subur penuh air kini menjadi gurun tandus. 
Gambr: flickr

Kamis, Februari 23

Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?

Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?

Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT) atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), adalah daerah sabuk tekanan rendah yang mengelilingi bumi umumnya dekat khatulistiwa di mana angin bergerak dari Utara dan Belahan Selatan datang bersama-sama.  

Hal ini ditandai dengan aktivitas konvektif yang menghasilkan badai kuat di daerah yang luas. DKAT juga sering disebut daerah doldrum atau daerah tenang. Daerah ini merupakan sabuk tekanan rendah.
Lokasi DKAT bervariasi sepanjang tahun namun masih dekat dengan khatulistiwa antara 40 - 45 drajat lintang utara dan selatan. Daerah ini merupakan pertemuan dua angin passat yaitu timur laut dan tenggara secara bersamaan. DKAT pula lah yang menciptkan sirkulasi angin monsun di Indonesia.
Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?
Posisi DKAT di Indonesia
DKAT awalnya diidentifikasi pada tahun 1920 hingga tahun 1940. DKAT dicirikan dengan munculnya konsentrasi pertumbuhan awan, biasanya badai dan berada di atas ekuator. Variasi lokasi DKAT memengaruhi curah hujan di banyak negara yang berada dekat khatulistiwa sehingga saat musim panas dan hujan di daerah tropis lebih ekstrim dibanding musim yang sama di daerah lintang tinggi. Baca juga: Tahapan pembentukkan meander sungai

Dalam beberapa kondisi, DKAT mungkin akan sempit terutama saat bergerak menjauh dari ekuator. Daerah doldrum ini juga dapat diartikan sebagai sebuah batas front udara sepanjang khatulistiwa. Bagian dari daerah tropis yang didominasi tekanan tinggi memiliki cuaca yang sangat kering dan banyak gurun di dunia terletak di daerah ini. 

Ingat bahwa posisi DKAT bergeser selama setahun namun rata-rata terletak di utara khatulistiwa. Mengapa DKAT lebih banyak di utara khatulistiwa?. Karena disana ada lebih bnayak daratan dibanding daerah selatan. Tanah lebih mudah menyerap panas dibanding lautan. 

Saat permukaan tanah lebih panas dibandingkan lautan maka akan tercipta angin laut. Ini menghasilkan konvergensi udara di atas daratan. Daerah Asia Tenggara akan  mendapatkan hujan lebat di musim panas karena sirkulasi ini. DKAT memiliki perpindahan paling utara saat musim panas di Asia karena daratan besar Asia lebih banyak di utara. Baca juga: Tahapan siklus batuan
Gambar: campuspress.yale.edu

Rabu, Februari 8

Menghitung Iklim Schmidt-Ferguson

Menghitung Iklim Schmidt-Ferguson

Klasifikasi iklim bermacam-macam dan salah satu model yang banyak digunakan di Indonesia adalah Iklim Schmidt-Ferguson. Mereka menggolongkan iklim dengan indikator utama bulan basah-bulan lembab-bulan kering. 

Klasifikasi ini dikembangkan pada 1950 oleh kedua ahli meteorologi tersebut. Mereka membuat klasifikasi khusus tentang iklim di Indonesia karena klasifikasi Koppen, Thornwaite dan Oldemen dirasa tidak cocok digunakan di Indonesia. 

Baca juga:
Ini lho, jenis-jenis gumuk pasir di dunia
Kumpulan rumus hitung bab peta dan pemetaan lengkap
Indikator yang digunakan untuk menentukan bulan basah, bulan kering dan bulan basah adalah sebagai berikut:
- Bulan Basah (BB) : curah hujan > 100 mm per bulan.
- Bulan Lembab (BL) : curah hujan 60-100 mm per bulan
- Bulan Kering (BK) : curah hujan < 60 mm per bulan

Schmidt-Ferguson melakukan penelitian untuk menentukan kategori bulan di atas lalu dihitung rata-ratanya, hasilnya muncul angka di atas tadi. Rumus untuk menghitung iklim ini menggunakan Model Q yaitu:

Q = banyak bulan kering x 100%
       banyak bulan basah

Hasil dari pengukuran Q tadi adalah sebagai berikut:
Kategori Iklim Schmidt Ferguson
Ingat ya yang diukur itu jumlah bulan nya bukan rata-rata jumlah curah hujan nya. Total ada 12 bulan dalam setahun. Jika sudah paham, coba hitung tipe iklim Schmidt Ferguson kota Balikpapan menurut data berikut:

Bulan dan Curah Hujan
1. Januari = 130 mm
2. Februari = 220 mm
3. Maret = 40 mm
4. April = 34 mm
5. Mei = 67 mm
6. Juni = 50 mm
7. Juli = 32 mm
8. Agustus = 23 mm
9. September = 78 mm
10. Oktober = 80 mm
11. Nopember = 189 mm

Jumat, Januari 27

Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan

Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan

Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti bumi. Dengan adanya atmosfer maka suhu udara di permukaan bumi tidak terlalu panas di siang hari dan tidak terlalu dingin di malam hari. 

Gas penyusun atmosfer terdiri atas Nitrogen, Oksigen, Argon, Karbon Dioksida dan gas lain dalam volume lebih kecil. Atmosfer terdiri atas beberapa lapisan dan tiap lapisan punya keunikan dan peran masing-masing bagi kehidupan.

Troposfer
Troposfer merupakan lapisan atmosfer paling rendah yang sangat berpengaruh pada kehidupan di bumi. Semua gejala cuaca atau meteorologi terjadi di lapisan ini mulai dari hujan, awan, petir, badai dan pelangi. 

Pada lapisan ini terjadi penurunan suhu namun masih dipengaruhi oleh panas permukaan bumi melalui konduksi, konveksi dan kondensasi. Konduksi adalah perambatan panas, konveksi adalah pemanasan dengan cara aliran dan kondensasi adalah pembentukkan awan. Baca juga: Hati-hati penipuan promo quipper video

Ketebalan lapisan troposer diperkirakan mulai dari 0 - 10 km. Pada lapisan ini tiap ketinggian naik 100 m maka suhu turun rata-rata 0,5 - 0,6 derajat C (disebut juga gradien termis). Batas antara troposfer dengan stratosfer adalah tropopause yang suhunya berkisar antara -57 hingga -62 derajat C.
Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan
Lapisan Atmosfer Bumi
Stratosfer
Stratosfer merupakan lapisan udara dengan ketinggian 10 - 50 km. Lapisan ini penting bagi kelangsungan hidup mahluk hidup karena Ozon terdapat di lapisan ini. Ozon bertugas untuk melindungi permukaan bumi dari pengaruh sinar ultraviolet.

Pada lapisan stratosfer, suhu udara bertambah panas seiring naiknya ketinggian. Lapisan ini disebut juga lapisan inversi. Suhunya kembali menghangat 10 derajat C saat mencapai puncak. Kenaikan suhu ini terjadi karena ozon menyerap ultraviolet. Batas stratosfer dengan mesosfer dinamakan stratopause. Stratopause berada di ketinggian 60 km dengan suhu 0 derajat C.

Mesosfer
Mesosfer terletak pada ketinggian 50 - 80 km di atas permukaan bumi. Lapisan ini berfungsi untuk memantulkan gelombang radio. Gelombang UHF dan VHF dirambatkan di sini sehingga bisa diterima pemancar di bumi. 

Pada lapisan ini penurunan suhu kembali terjadi yaitu 0,4 derajat setiap 100 m. Puncak mesosfer punya suhu hingga menembus -120 derajat C. Batas mesosfer dengan termosfer dinamakan mesopause. Meteor juga banyak hancur di mesosfer.

Termosfer
Lapisan ini terletak pada ketinggian di atas 80 km. Lapisan ini memiliki suhu paling tinggi yaitu sampai ribuan derajat C. Bagian atas termosfer dibatasi oleh lapisan termopause yang meluas dari ketinggian 300 sampai 1.000 km. Baca juga: Keunikan lava Aa dan Pahoehoe

Gambar: scied.ucar.edu

Rabu, Januari 25

Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia

Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia

Berada diantara garis khatulistiwa, Indonesia adalah negara tropis dengan iklim panas, basah dan  lembab sepanjang tahun, dengan suhu tinggi sering berada di kisaran 90 F ada siang hari dan 70 F di malam hari. Temperatur yang lebih dingin tersebar di dataran tinggi. Kelembaban biasanya antara 70 dan 90 persen. 

 Indonesia memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk panas dan toleransi yang lebih rendah untuk cuaca dingin. Di pegunungan, apa tampak seperti hari yang hangat, Anda melihat orang Indonesia menggunakan mantel berat sementara di tempat-tempat terik mereka bahkan tidak menggunakan kipas. Baca juga: Pengertian bencana kekeringan

Indonesia berada di wilayah selatan sabuk Taifun yang menghantam Filipina, Vietnam, China dan Jepang serta Sabuk Topan di utara Australia. Sejak Indonesia berada di wilayah khatulitiwa dan dikelilingi banyak perairan, maka iklim di Indonesia termasuk iklim laut ekuatorial atau "doldrum" atau daerah tenang. Cirinya adalah banyaknya angin lokal, badai sesekali dan dipengaruhi angin muson dan pegunungan.

Indonesia merupakan salah satu tempat terbasah di bumi. Pantai barat sumatera mendapatkan lebih dari 400 cm hujan per tahun. Tempat lain yang menerima banyak hujan seperti Borneo, Jawa, Papua dan beberapa bagian Sulawesi. Pulau lain seperti Sumba dan TImor mendapat curah hujan lebih sedikit. Suhu ditentukan oleh elevasi dan jarak ke laut. Baca juga: Ciri bentang budaya dalam citrai inderaja

Perubahan suhu sangat sedikit dari musim hujan ke kemarau atau dari satu daerah ke daerah lain. Secara umum suhu turun 1 derajat per naik 90 m. Salju turun di daerah pegunungan tinggi yaitu Puncak Papua.

Musim kemarau dan hujan di Indonesia
Ada dua musim yang terjadi di Indonesia yaitu kemarau dan penghujan. Musim hujan untuk sebagian besar Indonesia terjadi di bulan September sampai Maret dan musim kemarau dari Maret atau Juni (tergantung daerah) sampai September. Tapi saat ini variasi musim sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena Indonesia barat, Indonesia timur dan Kalimantan dipengaruhi oleh pola angin monsun berbeda. 
Dari Nopember hingga Mei, angin musim dingin bertiup dari timur laut dan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik Utara dan timur laut Indonesia sementara daerah  di selatan pegunungan mengalami musim kemarau. 

Dari Juni sampai Oktober angin musim panas membawa uap air dari India menuju wilayah selatan dan barat Sumater serta Jawa. Dari Jawa Tengah ke timur, angin berasal dari Ausie yang membawa sedikit awan hujan, akibatnya daerah ini kemarau dari Juni sampai Oktober.
Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia
Pola Angin Monsun Indonesia
Musim hujan di Jawa adalah dari September sampai Maret dan musim kemarau dari Maret sampai September. Lebih jauh ke selatan variasi musim hujan berlanjut: Sumatera (September-Maret), Jawa (Oktober-April), Bali dan NT (Nopember-Mei). 

Hujan cenderung turun sore hari dengan waktu pendek selama musim penghujan, saat desa terlihat asri dan hijau maka hutan penuh oleh lintah dan jalan tanah di daerah terpencil menjadi sulit dilalui. Baca juga: Mengatasi kipas laptop panas berisik

Pada musim kemarau adalah musim jalan-jalan namun debu tanah cokelat akan menghiasi jalanan. Pola musim penghujan dapat bervariasi dari pulau ke pulau dan di pedalaman pulau. Semua dipengaruhi relief pegunungan dan angin yang bertiup dimana sisi pegunungan yang mendapatkan angin banyak mendapat hujan. Itulah pola musim kemarau dan musim penghujan di Indonesia yang unik. Menurut data literasi ada lebih dari 300 pola musim penghujan di Indonesia.  

Baca juga:  
Bedanya arus rip current dan longshore current
Pengertian mitigasi dan adaptasi bencana alam
Pengertian dan ciri negara berkembang

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close