News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 10. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 19

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Fenomena cuaca dan iklim sering kita jumpai sehari-hari mulai dari hujan, petir, awan, angin dan lain sebagainya.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perubahan atau dinamika yang terjadi terkait atmosfer khususnya cuaca dan iklim.

Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam jangka waktu lama dan meliputi wilayah luas. Iklim dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria.

Beberapa ahli telah mencoba membuat klasifikasi iklim berdasarkan hasil penelitiannya. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari dibagi berdasarkan posisi letak astronomis suatu wilayah sehingga mempengaruhi intensitas penyinaran matahari. Negara di daerah tropis cenderung menerima intensitas penyinaran yang tinggi dibanding daerah subtropis dan kutub.
 
Iklim matahari

a. Iklim tropis terletak pada wilayah lintang 0⁰ - 23,5⁰ LU/LS. Negara beriklim tropis diantaranya Indonesia, Brazil, Kongo, Ekuador, Papua Nugini.
b. Iklim subtropis terletak pada wilayah lintang 23,5⁰ - 40⁰ LU/LS. Negara beriklim subtropis diantaranya Meksiko, Cina, Turki, Mesir, Maroko, Arab Saudi.
c. Iklim sedang terletak pada lintang 40⁰ - 66⁰ LU/LS. Negara beriklim sedang diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Perancis, Belanda.
d. Iklim kutub terletak pada lintang 66⁰ - 90⁰ LU/LS. Negara beriklim kutub diantaraya Greenland dan Islandia.

2. Iklim Junghuhn
F.W junghuhn adalah seorang ahli botani Jerman yang pernah singgah di Indonesia dan mencoba meneliti kaitan ketinggian tempat dengan vegetasi budidaya masyarakat di Jawa Barat dan Sumatera. Berikut tabel klasifikasi iklim Junghuhn.
 
Iklim Junghuhn

3. Iklim Schmidt-Ferguson
Schmidt-Ferguson membagi iklim berdasarkan rata-rata bulan kering dan bulan basah (nilai Q). Nilai Q dihitung dengan rumus berikut:
a. Bulan basah memiliki curah hujan rata-rata > 100 mm 
b. Bulan kering memiliki curah hujan rata-rata < 60 mm 

Tabel klasifikasi iklim Schmidt Ferguson adalah sebagai berikut:
4. Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman pada dasarnya memiliki indikator yang hampit sama dengan Schmidt-Ferguson. Perbedaannya hanya pada penentuan bulan kering dan bulan basah. 

a. Bulan basah jka curah hujan > 200 mmm
b. Bulan kering jika  curah hujan < 100 mm

Klasifikasi Oldeman cocok untuk penentuan kegiatan pertanian karena dapat melihat urutan bulan basah berturut-turut pada suatu wilayah. Berikut ini tabel klasifikasi iklim Oldeman.

a. Iklim A jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut.
b. Iklim B jika ada 7-9 bulan basah berturut-turut.
c. Iklim C jika terdapat 5-6 bulan basah berturut-turut.
d. Iklim D jika terdapat 3-4 bulan basah berturut-turut.
e. Iklim E jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berturut-turut.

5. Iklim Koppen
Koppen mengklasifikasikan iklim menurut indikator suhu dan curah hujan. Koppen menggolongan iklim menggunakan kode huruf sebagai berikut:

a. Iklim tipe A (hutan hujan)
b. Iklim tipe B (iklim kering)
c. Iklim tipe C (iklim sedang)
d. Iklim tipe D (iklim salju)
e. Iklim tipe E (iklim kutub)


6. Iklim Fisik
Pembagian iklim menurut kondisi fisik wilayah adalah sebagai berikut:
a. Iklim daratan memiliki curah hujan rendah dan dipengaruhi oleh angin darat yang kering.
b. Iklim gurun dicrikan dengan amplitudo suhu harian tinggi dan banyak ditemukan oase dan wadi.
c. Iklim laut terdapat di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi dan dipengaruhi sirkluasi angin laut.
d. Iklim dataran tinggi dicirikan dengan tekanan udara dan kelembaban rendah dan jarang turun hujan.
e. Iklim pegunungan dicrikan dengan curah hujan relatif tinggi, basah dan banyak hujan orografis.

Senin, Januari 18

Fenomena Tektonisme, Vulkanisme dan Seisme

Fenomena Tektonisme, Vulkanisme dan Seisme

Setiap hari kita tentu sering mendengar berita tentang fenomena gunung api meletus, gempa, longsor dan lain sebagainya.
 
Fenomena tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh gaya endogen yang berasal dari dalam bumi. Gaya endogen bersifat membangun struktur permukaan bumi. 
 
 
Gaya endogen terdiri atas tektonisme, vulkanisme dan seisme. Berikut ulasan lengkapnya.
1. Tektonisme
Tektonisme adalah proses yang berkaitan dengan pergerakan, pengangkatan, pelipatan dan patahan pada kerak bumi. Fenomena tektonisme ini menghasilkan beberapa morfologi seperti pegunungan, bukit, plato, lembah dan sesar. Tektonisme dibagi menjadi epirogenesa dan orogenesa.

a. Epirogenesa
Epirogenesa adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya pengangkatan atau penurunan permukaan bumi. Gerak epirogenesa positif terjadi jika permukaan bumi bergerak turun sehingga permukaan laut seolah-olah terlihat naik. Contoh epirogenesa adalah terbentuknya Pulau Banda di Maluku.

Epirogenesa negatif adalah gerak naik permukaan bumi sehingga seolah-olah permukaan laut turun. Gerak epirogenesa negatif ini sangat lambat, contohnya terbentuknya Pulau Buton.
 
Lipatan (a) dan patahan (b)

b. Orogenesa
Orogensa adalah gerakan relatif cepat dan meliputi wilayah sempit. Orogensa dibedakan menjadi pelipatan, patahan, retakan dan pelengkungan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh besaran gaya tekan dari dalam bumi dan kekuatan litosfer atau kerak bumi di wilayah tersebut.

Dampak gejala tektonisme bagi kehidupan diantaranya adalah terjadinya gempa dan longsor, terbentuknya cebakan minyak bumi dan gas, terjadinya perubahan morfologi permukaan bumi.

b. Vulkanisme
Vulkanisme adalah proses yang berkaitadn dengan penerobosan magma dari dalam bumi ke permukaan bumi. Penerobosan magma ini terjadi karena tekanan panas magma dari dalam bumi. Vulkanisme terdiri atas intrusi dan ekstrusim magma.

1. Intrusi
Intrusi magma adalah penerobosan magma di bawah permukaan bumi atau sebatas kerak bumi. Intrusi magma dapat menyebabkan lapisan kerak bumi terangkat sehingga membentuk pegunungan. Contoh kenampakan intrusi magma adalah batholith, lacolith, dike, sill dan stock.

2. Ekstrusi
Ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi hingga keluar permukaan bumi. Fenomena erupsi gunung api adalah contoh ekstrusi magma. Erupsi gunung api bervarisi di setiap wilayah tergantung karakteristik gunung api tersebut.

Dampak vulkanisme bagi kehidupan diantaranya adalah menghasilkan bahan baku bangunan atau industri, menjadi sumber geotermal, menyuburkan tanah, daya tarik wisata dan sebagai wilayah tangkapan hujan.
Intrusi magma
 c. Seisme
Seisme adalah fenomena kegempaan berupa getaran gelombang yang merambat di permukaan bumi. Getaran gelombang seismik dihasilkan dari pusat gempa yang penyebabnya adalah sebagai berikut:
 
1. Gempa tektonik dihasilkan oleh adanya tabrakan atau interaksi lempeng tektonik.
2. Gempa vulkanik dihasilkan oleh adanya aktivitas gunung api, biasanya merupakan tanda gunung api akan meletus.
3. Gempa runtuhan disebabkan oleh adanya runtuhan bangunan atau longsoran di wilayah lereng bukit.

Gempa yang sering menelan korban jiwa adalah gempa tektonik, baik itu yang berada di zona subduksi atau sesar. Gempa tektonik di lautan sering memicu tsunami, bahkan gempa sesar pun dapat memicu tsunami seperti yang terjadi di Palu.
Gempa akibat pergerakan sesar
Baca juga: Faktor kekuatan erupsi gunung api

Sabtu, Desember 26

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Salah satu teori gerakan benua yang terkenal adalah Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener.
 
Alred Lothar Wegener lahir pada 1 November 1880 di Berlin Jerman dan meninggal di Greenland pada November 1930. 
 
Wegener adalah seorang ahli meteorologi dan geofisika terkemukan Jerman yang berjasa merumuskan teori pergerakan benua.

Alfred Wegener meraih gelar Ph.D dalam bidang astronomi dari University of Berlin di tahun 1905 namun ia tertarik pada paleoklimatologi.

Di tahun 1906-1908 ia kemudian mengambil bagian dalam ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari sirkulasi udara kutub. Dalam perjalanannya Wegener kemudian bertemu klimatolog Wladimir Koppen yang menjadi mentornya.

Wegener melaukkan tiga ekspedisi ke Greenlang yaitu pada 1912-1913, 1929 dan 1930. Wegener mengajar meteorologi di Marburg dan Hamburg dan menjadi profesor meteorologi dan geofisika di University of Graz dari 1924 -1930. Wegener meninggal saat ekspedisi terakhirnya di Greenland pada 1930.
Alfred Wegener
Wegener terkesan pada kesamaan garis pantai Amerika Selaran bagian timur dan Afrika barat dan berspekulasi bahwa di jaman dahulu wilayah tersebut pernah bergabung.

Sekitar tahun 1910 ia kemudian ia merekonstruksi gagasan bahwa pada akhir era Paleozoikum (sekitar 252 juta tahun lalu) semua benua membentuk satu daratan besar yang kemudian pecah. WEgener menyebutnya Pangaea atau benua kuno.

Ilmuwan lainnya memiliki anggapan bahwa pemisahan benua disebabkan dari penenggelaman benua besar kemudian membentuk Samudera Atlantik dan Hindia.

Wegener memiliki pendapat lain dan mengusulkan bahwa superkontinen Pangaea perlahan-lahan bergerak ribuan mil dan terpisah dalam jangka pajang secara geologi. Istilah gerakan ini dinamakan Continental Drift atau Pergeseran Benua.

Wegener pertama kali mempresentasikan teorinya dalam ceramah pada tahun 1912 dan menerbitkannya secara penuh pada tahun 1915 dalam karyanya yang paling penting, Die Entstehung der Kontinente und Ozeane (The Origin of Continents and Oceans). 
 
Dia mencari literatur ilmiah untuk bukti geologis dan paleontologis yang akan mendukung teorinya, dan dia mampu menunjuk ke banyak organisme fosil yang terkait erat dan kesamaan formasi batuan  yang terjadi di benua yang dipisahkan secara luas, terutama yang ditemukan di Amerika dan di Afrika.
 
Pergeseran benua Pangaea

Teori Wegener tentang pergeseran benua mendapatkan perhatian beberapa ilmuwan dalam dekade selanjutnya. Namun postulasinya tentang kekuatan pendorong di balik gerakan benua itu tampak tidak masuk akal. 
 
Pada tahun 1930 teorinya telah ditolak oleh sebagian besar ahli geologi dan tenggelam dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade selanjutnya.
 
Teori ini kemudian muncul kembali dan dimodifikasi sebagai bagian dari teori tektonik lempeng selama tahun 1960-an. Baca juga: Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Sabtu, Desember 12

Teori Dua Benua Bumi Laurasia Gondwana [Perkembangan Bumi]

Teori Dua Benua Bumi Laurasia Gondwana [Perkembangan Bumi]

Teori perkembangan bumi dua benua dikenalkan pada tahun 1884.Teori ini menganggap awal pembentukan bumi berasal dari dua benua raksasa.

Dua benua raksasa tersebut adalah Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Benua tersebut kemudian bergerak menuju ekuator.

Rotasi bumi memengaruhi sebagian benua terpisah di daerah ekuator dan belahan bumi barat. 

Sejarah Benua Laurasia
Laurasia adalah sebutan daratan luas di Belahan Bumi Utara yang mencakup Amerika Utara, Eropa, dan Asia (kecuali semenanjung India). 
 
Keberadaannya diusulkan oleh Alexander Du Toit, seorang ahli geologi Afrika Selatan dalam sebuah tulisan Our Wandering Continents (1937). Buku ini adalah reformulasi teori Continental Drift yang diusulkan oleh ahli meteorologi Jerman Alfred Wegener. 
 
Sedangkan Wegener telah mendalilkan satu benua super, Pangea, Du Toit berteori bahwa ada dua daratan besar yaitu Laurasia di utara dan Gondwana di selatan, dipisahkan oleh daerah samudera yang disebut Tethys. 
 
Laurasia diperkirakan telah terfragmentasi ke benua Amerika Utara, Eropa dan Asia saat ini sekitar 66 juta hingga 30 juta tahun yang lalu, interval yang mencakup akhir Periode Kapur dan sebagian besar Periode Paleogen. 
Teori Laurasia Gondwana
Sejarah Benua Gondwana
Gondwana, juga disebut Gondwanaland merupakan benua super kuno yang menggabungkan Amerika Selatan saat ini, Afrika, Arab, Madagaskar, India, Australia, dan Antartika. 
 
Perkembangan benua Gondwana terjadi pada masa Precambrian Akhir, sekitar 600 juta tahun yang lalu, dan tahap pertama perpisahannya dimulai pada Periode Jurassic Awal, sekitar 180 juta tahun yang lalu. 
 
Nama Gondwanaland diciptakan oleh ahli geologi Austria Eduard Suess mengacu pada formasi Paleozoidik dan Mesozoinia Atas di wilayah Gondwana, India tengah, yang mirip dengan formasi dengan usia yang sama di benua Belahan Bumi Selatan.

Bentuk geomorfologi yang cocok dari garis pantai Afrika barat dan Amerika Selatan timur pertama kali dilaporkan oleh Francis Bacon pada tahun 1620 sebagai peta Afrika dan Dunia Baru pertama kali tersedia. 
 
Konsep bahwa semua benua Belahan Bumi Selatan pernah bergabung bersama diungkapkan oleh Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi Jerman, pada tahun 1912. Dia membayangkan satu daratan besar, Pangaea (atau Pangea). Gondwana terdiri dari bagian selatan benua super ini.
 

Gambar: disini

Minggu, Desember 6

Rangkuman Geografi Kelas X Bab Dinamika Atmosfer

Rangkuman Geografi Kelas X Bab Dinamika Atmosfer

Apa jadinya jika planet bumi tidak memiliki atmosfer yang lengkap?. Tentunya tidak akan ada kehidupan lahir di bumi ini.

Atmosfer adalah salah satu bagian dari geosfer atau lapisan bumi. Fenomena atmosfer sangat kompleks dan dibangun oleh berbagai macam variabel.

Berikut ini rangkuman materi geografi kelas 10 bab dinamika atmosfer. Silahkan dipelajari dan jangan lupa share ke teman-teman lain.

1. Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi dan tersusun atas uap air dan gas kering yaitu nitrogen, oksigen, karbondioksida, argon dan beberapa gas lain.
 
2. Atmosfer bumi berfungsi sebagai penyedia gas-gas yang penting bagi kehidupan dan sebagai pelindung dari ancaman benda asing dan gelombang elektromagnetik berbahaya dari matahari.

3. Berdasarkan perubahan suhu secara vertikal, atmosfer terbagi menjadi lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer.

3. Gejala optik di atmosfer diantaranya pelangi, halo, fatamorgana, aurora dan sun dog.

4. Cuaca adalah kondisi atmosfer dalam waktu singkat dan wilayah sempit. Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam waktu relatif lama dan waktu yang luas.

5. Unsur-unsur cuacal iklim terdiri atas suhu, tekanan udara, angin ,kelemaban, awan dan curah hujan.

6. Perbedaan intensitas panas permukaan bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti letak lintang, lama penyinaran, relief, topografi, kondisi vegetasi da tutupan awan.

7. Pemanasan permukaan bumi oleh matahari melalui proses konveksi, adveksi, turbulensi dan konduksi.

8. Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum.

9. Efek Coriolis membelokan arah angin ke kanan di belahan bumi utara dan ke kiri di belahan bumi selatan. Efek Coriolis adalah dampak dari rotasi bumi.

10. Sirkulasi angin terbagi atas angin global dan angin lokal. Angin global terdiri atas angin passat, angin antipassat dan angin muson.

11. Sirkulasi angin lokal terdiri atas angin darat, angin laut, angin fohn, angin lembah dan angin gunung.

12. Klasifikasi iklim tediri atas iklim Junghuhn, iklim Schmidt-Ferguson, Iklim Koopen, Iklim Oldeman dan Iklim Matahari.

13. Iklim Junghuhn diklasifikasikan menurut ketinggian dan vegetasi budidaya yaitu iklim panas, iklim sedang, iklim sejuk dan iklim dingin.

14. Iklim Schmidt-Ferguson dihitung menurut rata-rata bulan kering dan bulan basah dalam satu tahun. Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan < 60 mm dan bulan basah adalah bulan dengan curah hujan > 100 mm. 
 
15. Klasifikasi iklim Koppen terbagi menjadi lima kelompok utama, yaitu A (tropis), B (kering), C (subtropis), D (benua), dan E (kutub). Dasar klasifikasi Koppen adalah suhu dan rerata curah hujan.

16. Iklim Oldeman diklasifikasikan menurut jumlah bulan basah berturut-turut dalam satu tahun. Iklim Oldeman sesuai untuk kegiatan pertanian.

17. Iklim matahari terbagi menjadi iklim tropis, subtropis, sedang dan kutub. Pewilayahan iklim matahari dibatasi oleh garis lintang.

18. Awan adalah kumpulan uap air dan kristal es di atmosfer yang melayang-layang. Awan diklasifikasikan menurut bentuk dan ketinggiannya.

19. Awan menurut bentuknya terbagi menjadi cumulus, stratus dan sirus. Ada juga awan unik seperti lentikular, mammatus dan kumulonimbus.
Awam mamatus
20. Awan menurut ketinggiannya terbagi menjadi awan rendah, awan menengah, awan tinggi dan awan vertikal. 

21. Awan kumulus biasa muncul pada saat kondisi udara tenang, cerah dan angin sepoi-sepoi. Awan kumulonimbus adalah awan yang menjadi pertanda akan ada hujan badai. Awan sirrus banyak mengandung kristal es sehingga kadang memunculkan fenomena halo.

22. Hujan atau presipitasi adalah peristiwa jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Manifestasi presipitasi bisa air, es dan salju.

23. Hujan terbagi menjadi hujan konveksi, hujan orografis dan hujan frontal. Hujan yang tidak sampai ke permukaan bumi dinamakan virga.
 
24. Tipe iklim Indonesia terbagi menjadi iklim musim, iklim laut dan iklim panas. Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi oleh letak lintang, bentuk kepulauan, relief dan pergerakan angin muson serta kondisi perairan Hindia dan Pasifik.

25. Efek rumah kaca adalah proses memanasnya permukaan bumi akibat bantuan gas rumah kaca. Fenomena efek rumah kaca membuat bumi menjadi hangat dan layak huni.

26. Global warming adalah peristiwa naiknya suhu permukaan bumi dalam kurun waktu lama akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Global waming memicu perubahan iklim dan naiknya muka air laut.

Rabu, Desember 2

Rangkuman Bab Dinamika Bumi Sebagai Ruang Kehidupan [Lengkap]

Rangkuman Bab Dinamika Bumi Sebagai Ruang Kehidupan [Lengkap]

Bumi adalah planet yang memiliki syarat untuk lahirnya sebuah kehidupan kompleks di alam semesta. Tidak ada planet lain yang menyamai bumi hingga kini.

Planet Bumi terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun lalu, dimulai dari sebuah bola panas yang kemudian mendingin dan terbentuk kerak bumi.
 

Seiring pendinginan tersebut, dinamika bumi terus berlanjut mulai dari pembentukan batuan, lautan dan munculnya mahluk hidup berukuran mikro sampai raksasa.
 
Atmosfer bumi berevolusi sehingga menghasilkan variasi gas yang penting bagi kehidupan seperti oksigen, karbon dioksida, nitrogen dan lainnya. 
 
Efek rumah kaca juga membantu permukaan bumi tetap hangat sehingga kehidupan dapat terbentuk secara sempurna. 


Berikut ini rangkuman geografi kelas 10 bab dinamika bumi sebagai ruang kehidupan.

1. Jagat raya adalah suatu ruangan yang meluas ke segala arah dan tak terhingga yang tersusun atas komponen-komponen seperti energi gelap, materi gelap, galaksi, nebula, bintang, planet dan benda langit lain.

2. Teori terbentuknya jagat raya terdiri dari Teori Big Bang, Teori Osilasi dan Teori Keadaan Tetap. Teori Big Bang menyatakan jagat raya berasal dari ledakan satu titik tunggal di alam semesta.

3. Galaksi adalah kumpulan sistem perbintangan di alam semesta yang memiliki bentuk dan berotasi. Bentuk galaksi diantaranya spiral, spiral palang, elips dan tak beraturan.

4. Teori terbentuknya tata surya terdiri dari Teori Nebula, Teori Planetesimal, Teori Pasang Surut, Teori Bintang Kembar, Teori Protoplanet dan Teori Kuiper.

5. Matahari adalah sumber energi tata surya yang terdiri atas inti matahari, fotosfer, kromosfer, korona, zona konveksi,  dan zona radiasi.

6. Planet adalah benda langit yang mengorbit matahari di tata surya dengan lintasan elips dan arah yang sama.

7. Sistem tata surya terdiri atas matahari, planet, satelit, asteroid, komet dan debu kosmik.

8. Planet dalam tata surya terdiri atas merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus.

9. Rotasi adalah perputaran bumi/planet pada porosnya sementara revolusi bumi adalah perputaran bumi/planet mengelilingi matahari.

10. Periode rotasi bumi dalah 23 jam 56 menit dan periode revolusi bumi adalah 365 hari 6 jam 9 menit dan 10 detik.

11. Dampak rotasi bumi adalah peredaran semu harian benda langit, adanya siang malam, perbedaan waktu dan pembelokan angin.

12. Dampak revolusi bumi adalah gerak semu tahunan matahari, perbedaan lama siang dan malam, perubahan musim dan perubahan rasi bintang.

13. Perkembangan kehidupan di bumi terbagi atas zaman arkaekum, paleozoikum, mesozoikum dan kenozoikum.

14. Teori perkembangan bumi diantaranya teori apungan benua, teori kontraksi, teori laurasia gondwana dan teori lempeng tektonik.

15. Batas lempeng tektonik terdiri atas zona konvergen, divergen dan transform. Pergerakan lempeng disebabkan arus konveksi magma di lapisan mantel bumi.

16. Batas lempeng konvergen menghasilkan fenomena pegunungan api, palung, melange dan zona subduksi. Indonesia berada di zona subduksi lempeng Eurasia-Indo Australia-Pasifik.


17. Batas lempeng divergen menghasilkan pematang tengah laut atau mid ocean ridge. Zona divergen diantaranya patahan afrika timur dan mid atlantic ridge.

18. Batas lempeng transform menghasilkan sesar atau patahan. Zona patahan di Indonesia diantaranya sesar sumatra, sesar lembang dan sesar palukoro.
Perkembangan dinamika litosfer

Gambar: Britannica

Jumat, Oktober 23

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

Permukaan bumi kita saat ini tersusun atas kerak bumi dan kerak samudera. Perkembangan bentuk bumi ini telah terjadi sejak bumi ini terbentuk 4,6 milyar tahun lalu.

Pada awalnya bumi ini adalah sebuah bola panas yang kemudian lambat laun mendingin sehingga permukaannya menjadi keras. 
 
Seiring waktu kombinasi antara gaya endogen dan gaya eksogen menghasilkan bentuk permukaan bumi yang bervariatif hingga saat ini.

Ada sejumlah teori yang diungkapkan para ilmuwan untuk menjelaskan mengenai perkembangan bentuk permukaan bumi. Teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
 
 
A. Teori Pengkerutan
Teori ini menjelaskan bahwa bumi mengalami pendinginan dalam kurun waktu sangat lama dimana sebuah massa sangat panas bertemu dengan udara dingin sehingga mengakibatkan terjadinya pengkerutan.

Karena material yang berbeda maka pengerutan tidak sama antara satu lokasi dengan lokasi lain. Inilah mengapa ada daerah yang bertipe dataran tinggi, dataran rendah, cekungan dan lainnya.

Teori ini dikemukakan oleh James Dana dan Elie de Baumant. Analogi teori pengkerutan adalah seperti buah apel yang apabila didiamkan maka akan mengering dan kulitnya mengerut.

Teori ini banyak dikritik karena tidak mungkin penurunan suhu (pembentukan pegunungan dan lembah) berlangsung sangat drastis. Padahal kenyataannya, di dalam bumi masih terdapat unsur pijar dan lapisan bumi yang terus mengalami pergerakan.

B. Teori Laurasia-Gondwana 

Permukaan bumi selalu mengalami perubahan atau perkembangan. Perubahan dimaksud terus berlangsung hingga kini, ditunjukkan dengan adanya pergerakan/pergeseran daratan (benua). 

Jika dilihat pada sejarah masa lalu sebenarnya benua-benua di permukaan bumi ini pernah berkumpul serta menyatu menjadi dua benua besar (supercontinent) yang oleh Edward Suess diberi nama Laurasia (di bagian utara) dan Gondwana Land (di bagian selatan). Kedua benua raksasa itu dipisahkan samudera Tethys.
 
Benua besar tersebut dalam perkembangannya kemudian pecah dan memisah saling menjauh, sesuai arah pergerakannya masing-masing. Pada akhirnya, terbentuk kondisi yang ada pada saat ini, yaitu adanya Benua Amerika (Utara dan Selatan), Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Proses pergeseran benua akan terus berlangsung hingga seterusnya.
 
Benua Laurasia dan Gondwana

C. Teori Apungan Benua
Pada tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli meteorologi Jerman mengemukakan konsep pengapungan benua (continental drift) dalam karya berjudul The Origin of Continents and Oceans. 
 
Hipotesa Wegener ialah adanya satu benua besar (super continent) yang disebut Pangaea (artinya semua daratan) yang dikelilingi oleh Panthalassa (semua lautan).
 
Selanjutnya, sekitar 200 juta tahun yang lalu superbenua Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil dan kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini. 

Akan tetapi penyebab pergerakan benua ini belum diketahui oleh Wegener.
 
Teori apungan benua Wegener

D. Teori Lempeng Tektonik
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah dimana aktivitas geologis umumnya terjadi, seperti gempa bumi serta pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. 
 
Mayoritas gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas. 
 
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.

Terdapat tiga batas lempeng yang bergerak relatif terhadap lempeng satu sama lain. Fenomena yang muncul di tiga batas lempeng tektonik ini berbeda.
3 batas lempeng tektonik
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) atau pun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar Semangko di Sumatera.
 
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen. Batas divergen terkenal adalah Mid Atlantic Ridge.

3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. 
 
Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, dimana potongan lempeng yang terhujam banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh batas konvergen adalah Indonesia bagian selatan yang merupakan subduksi Indo-Australia dan Eurasia.
 
Berikut ini sebaran lempeng tektonik di dunia. Lempeng utama disebut lemepng mayor dan lemepng-lempeng yang relatif kecil disebut lempeng minor.
 
Peta lempeng tektonik

Jumat, Maret 20

Faktor-Faktor Kerusakan Tanah (Pedosfer)

Faktor-Faktor Kerusakan Tanah (Pedosfer)

Tanah adalah zat penting bagi kehidupan di bumi. Sebagian besar mahluk hidup di daratan sangat bergantung pada tanah. 

Tak terkecuali bagi manusia, tanah banyak digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pertanian.

Fungsi tanah dalam pertanian dapat hilang atau menurun karena faktor alam maupun karena manusia. 

Penurunan atau hilangnya fungsi tanah ini disebut dengan kerusakan tanah (degradasi tanah). 

Kerusakan tanah sebagai sumber unsur hara dapat diperbaharui dalam waktu yang tidak terlalu lama, antara lain dengan cara pemupukan. 

Kerusakan tanah pada fungsi sebagai pendukung tanaman memerlukan perbaikan yang sangat lama, bahkan mencapai ratusan tahun untuk pembentukan tanah lagi.

A. Erosi Tanah

Kata erosi tanah berasal dari bahasa Latin erodere yang artinya penggundulan atau pelenyapan. 

Erosi atau pengikisan tanah adalah proses penghancuran dan pemindahan tanah ke tempat lain oleh tenaga air, angin, gravitasi atau es/gletser. Erosi dapat terjadi secara alami (normal atau geological erosion).

Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab erosi tanah.

Kerusakan tanah karena erosi permukaan
1. Climate (Iklim) suhu, curah hujan
Kekuatan curah hujan yang jatuh ke tanah dapat memecahkan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah. Dengan demikian semakin besar ukuran titik-titik hujan semakin besar pula erosi yang terjadi. 


Sedangkan suhu berperan besar dalam pelapukan tanah, terutama pada daerah dengan perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Semakin besar selisih suhu siang dan malam semakin banyak material yang terkena erosi.

2. Soil (Tanah) Tekstur, Unsur Organik, Struktur, Permeabilitas
Sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap proses erosi meliputi: tekstur, kandungan unsur organik, struktur, dan permeabilitas tanah.


3. Topography (Topografi) kemiringan dan panjang lereng
Kemiringan lereng berpengaruh terhadap cepat dan besarnya erosi. Lereng yang semakin curam menyebabkan kecepatan aliran permukaannya semakin cepet.


4. Vegetation (Vegetasi)
Pengaruh vegetasi terhadap erosi tanah adalah sebagai berikut:
- Kerapatan vegetasi penutup lahan dapat menghalangi jatuhnya hujan langsung ke permukaan tanah. Oleh karena itu, kekuatan hujan untuk menghancurkan tanah menjadi berkurang.
- menghambat air yang mengalir di permukaan, tetapi memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah.
- membantu penguapan air dalam tanah melalui penguapan oleh vegetasi (transpirasi).


5. Landuse (Penggunaan lahan)
Penggunaan lahan terkait dengan peran manusia dalam mengusahakan lahan. Perlakuan manusia terhadap tanah dapat membuat aliran permukaan yang terjadi lebih besar atau lebih kecil.

B. Gerakan Tanah

Tanah dapat longsor kerena adanya gaya berat atau pengaruh gravitasi bumi. Perpindahan massa tanah dan batuan karena gaya berat disebut tanah bergerak (masswasting atau mass movement). 

Gerakan tanah dapat terjadi apabila gaya-gaya yang menahan massa tanah di lereng lebih kecil daripada gaya yang mendorong atau meluncurkan tanah.

C. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

1. Hilangnya penahan lateral
2. Kelebihan beban tanah
3. Getaran
4. Tekanan lateral

D. Dampak Kerusakan Tanah terhadap Tingkat Kesuburan Tanah

Penurunan tingkat kesuburan tanah sebagai dampak terjadinya erosi dan gerakan tanah tampak dari adanya pernghanyutan partikel tanah, perubahan struktur tanah, penurunan kapasitas infiltrasi dan penampungan, serta perubahan profil tanah.

E. Upaya Mengurangi dan Mencegah Kerusakan Tanah

Salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka mengurangi dan mencegah kerusakan tanah adalah melalui konservasi tanah. 

Konservasi tanah adalah pemeliharaan dan perlindungan tanah untuk mengurangi dan mencegah kerusakan tanah melalui upaya pelestarian. 

Tujuan utama konservasi tanah adalah memperoleh tingkat keberlanjutan produksi tanah dengan jalan menjaga laju kehilangan tanah. 

Usaha konservasi tanah yang paling penting dilakukan adalah penggunaan tanah sesuai dengan keperluan dan kemampuannya.

F. Pemanfaatan Tanah yang Baik

Guna menjaga kelestarian tanah diperlukan cara yang bijak dalam pemanfaatannya. Sehubungan dengan upaya konservasi, pemanfaatan potensi tiap jenis tanah harus disesuaikan dengan keperluannya. 

Keterbatasan kesuburan dapat diatasi dengan memberikan masukan-masukan pada tanah. Hal ini dimaksudkan agar setiap tindakan dan perlakuan pada tanah tidak akan menurunkan produktivitasnya, tetapi justru sebaliknya.

Minggu, Februari 9

Jenis Iklim dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan

Jenis Iklim dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan

Iklim merupakan kondisi yang kompleks dari atmosfer. Kondisi yang kompleks tersebut merupakan gabungan dari berbagai unsur-unsur iklim. 

Masing-masing unsur iklim tersebut di setiap daerah berbeda-beda intensitasnya yang mana intensitas di setiap daerah ini salah satunya dipengaruhi oleh letak astronomis sehingga letak astronomis berpengaruh dalam menentukan corak iklim negara yang bersangkutan.

Ada 4 jenis iklim yang efeknya serba membatasi bagi tempat tinggal manusia serta perkembangan kekuasaan politiknya yaitu: iklim dingin, iklim tropika basah, iklim panas (sabana) dan iklim kering (stepa dan gurun).

1. Iklim Dingin: Tundra dan Taiga

Tundra dan Taiga
Zona iklim yang terlampau dingin yaitu terdapat di wilayah sekitar kutub dan di pengunungan tinggi. Pada umumnya tanah di daerah tersebut dingin beku karena tertutup oleh salju dan es. 

Hanya dibagian tepinya saja yang memberikan kemungkinan musim semi yang pendek bagi pertumbuhan jenis-jenis rumput dan lumut tipis. 

Wilayah padang lumut yang disebut tundra tidak dapat menampung penduduk banyak dan hanya dimanfaatkan untuk ternak rusa kutub.

Di samping wilayah tundra dikenal pula wilayah taiga, yang suhu udaranya tidak begitu ekstrem dinginnya. Musim dinginnya di tempat ini amat panjang sedangkan musim bagi kemungkinan tumbuhnya tanaman bahan pangan terlalu pendek. 


Penduduknya jarang. Hasil hutan dan tambang merupakan satu-satunya sumber ekonomi. Di situ dengan sendirinya tidak akan muncul pusat-pusat negara yang penting, meskipun memiliki kekayaan alam taiga.

2. Iklim Basah Tropika

Tropika adalah daerah di permukaan Bumi, yang secara geografis berada di sekitar ekuator, yaitu yang dibatasi oleh dua garis lintang 23. 5°LS dan 23. 5˚ LU: Garis Balik Utara (GBU, Tropic of Cancer) di utara dan Garis Balik Selatan (GBS, Tropic of Capricorn) di selatan. Tropis adalah bentuk ajektivanya. 

Area ini terletak di antara 23. 5° LU dan 23. 5° LS, dan mencakup seluruh bagian Bumi yang dalam setahun mengalami dua kali saat matahari tepat berada di atas kepala (di utara GBU dan di selatan GBS matahari tidak pernah mencapai ketinggian 90° atau tepat di atas kepala).
 

Tumbuhan dan hewan tropis adalah spesies yang hidup di daerah tropis tersebut. Istilah tropis juga kadang kala digunakan untuk menyebut tempat yang hangat dan lembap sepanjang tahun, walaupun tempat itu tidak terletak di antara dua garis balik.
Hujan basah tropik
Tumbuhan daerah tropis biasanya berdaun lebar dan hijau abadi (tidak menggugurkan daun), atau jika memiliki perilaku peluruh mereka tidak dipengaruhi oleh suhu atau durasi radiasi matahari melainkan oleh ketersediaan air di tanah. 

Wilayah tropis di seluruh dunia dikenal dalam biogeografi sebagai wilayah pantropis (”seluruh tropis”), untuk dipertentangkan dengan wilayah per benua, seperti Amerika tropis, atau Asia tropis.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada iklim tropis. Dengan curah hujan dan kelembapan relatif besar yang didukung tingginya kesuburan tanah, berpotensi besar untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara dengan kekuatan pada bidang agraris.

Walaupun Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, Indonesia masih termasuk ke dalam deretan negara miskin. Iklim di Indonesia merupakan salah satu faktor yang memengaruhi watak bangsa Indonesia. Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia merupakan salah satu dari sekian yang bertempat tinggal di wilayah Tropis. 


Negara yang bertempat tinggal di wilayah Tropis juga bisa dikatakan negara yang bertempat tinggal di wilayah yang memiliki iklim seragam. Yang dimaksud iklim seragam di sini ialah iklimnya dingin saja atau panas saja. 

Kondisi iklim yang seperti itu sangat memengaruhi kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang meninggali daerah ini cenderung memiliki karakter yang berbeda dengan daerah yang berada di wilayah subtropis.

3. Iklim Panas: Sabana

Iklim panas merupakan unsur kedua yang fungsinya membatasi perkembangan politik. Zona iklim panas ini terdapat di sepanjang garis ekuator dan kawasan yang berbatasan dengan ke arah kutub.

Dataran-dataran rendah tropika di dunia udaranya selalu panas tetapi lembap. Sifatnya yang serba monoton ( panas dan lembap tanpa selingan) itulah yang menjadikan wilayah tersebut tidak baik untuk tempat tinggal manusia. 


Hujan yang turun sehari-hari dapat mencuci tanah (soil leaching) sehingga tidak subur bagi pertanian.
Padang sabana di Afrika
Udara yang terik serta lembap juga melemahkan tubuh manusia untuk bekerja keras, vitalitasnya lekas menurun drastis dalam berbagai usahanya. Hanya di daerah-daerah pantai dan lereng-lereng pegununggan saja, Karena pengaruh angin laut atau angin gunung yang suhunya dapat sedikit sejuk, disitu penduduk dapat menyelenggarakan kehidupannya yang layak.

Bagian kedua dari wilayah tropika adalah yang bermusim kering, ini lebih memberikan kemungkinan pada manusia. Musim kering fungsinya seperti mematahkan monotoni tropika. Disitu akal manusia dapat diasah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kondisi optimal secara klimatis bagi manusia di wilayah tropika kedua ini, berupa musim kemarau (kering) yang agak pendek, seperti di India, Srilanka, Jawa dan Kuba. Penduduk di tempat ini amat padat: dibandingkan dengan kawasan lain di bumi, justru paling padat. 

Hasil pertanian bahan pangan seperti padi dan jagung ditanam sebanyak-banyaknya. Namun makin ke pinggiran di mana musim keringanya lebih panjang dan curah hujannya cenderung langka, di situ muncul bentang alam berupa stepa dan sabana.

Wilayah-wilayah yang iklimnya terlalu terik menurut pengalaman sejarah, dapat menghambat munculnya perkembangan politik yang modern.

4. Iklim Kering: Stepa

Unsur keempat yang fungsinya menghambat perkembangan politik adalah kekeringan. Wilayah-wilayah dipermukaan bumi yang terdiri atas gurun-gurun dapat menyajikan penghidupan bagi manusia apabila dapat menyajikan air dalam jumlah yang cukup untuk mendukung usaha pertanian penduduk atau menyediakan sumber daya tambang yang dapat diolah.

Pada kawasan yang memiliki irigasi yang luas disitu dapat lahir suatu satu kesatuan politik yang penting. Wilayah yang memiliki saluran irigasi paling menguntungkan bagi lahirnya peradaban manusia, jika dibandingkan dengan wilayah tropika yang monoton panas iklimnya.

Stepa merupakan bagian dari wilayah beriklim kering (semi-arid). Penduduknya adalah kaum Nomad yang bertahan hidup beradad-abad di daerah beririgasi di antara stepa itu. Menurut sejarah perpindahan bangsa Nomad ke stepa-stepa itulah yang mendorong serbuan-serbuan masuk negara agraris.

Kondisi iklim kering (semi-arid) dalam sejarahnya, menghasilkan penduduk Nomaden yang serba positif mentalitasnya serta jasmaninya dan mampu menggerakkan munculnya kekuasaan penting setempat dan di wilayah sekitarnya yang jauh.

Padang stepa

Sabtu, November 9

Jenis Penelitian Menurut Tujuannya

Jenis Penelitian Menurut Tujuannya

Penelitian atau research adalah upaya pemecahan masalah dengan melakukan sebuah kegiatan penyelidikan hingga sampai pada analisa dan penarikan kesimpulan. 

Penelitian adalah cara manusia untuk mengetahui dan mengkaji permasalahan hidup. 

Di level SMA saat ini siswa sudah mulai dikenalkan dengan penelitian agar mereka terbiasa untuk melihat permasalahan hidup dan berupaya menyelesaikannya dengan menggunakan prosedur ilmiah.

Ada banyak hal di dunia ini yang disingkap melalui proses penelitian. Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dikategorikan sebagai berikut:
Jenis penelitian berdasarkan tujuannya
1)   Penelitian eksploratif
Penelitian ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai gejala tertentu. Dapat pula bertujuan untuk memperoleh ide-ide baru mengenai suatu gejala (masih mencari-cari) dengan maksud untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, karena belum ada referensi untuk mendeduksi hipotesis.

2)    Penelitian yang bersifat deskriptif
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat- sifat individu, keadaan, gejala atau hal-hal yang khusus dalam masyarakat dan deskripsi fenomena alam. Penelitian jenis ini dapat memiliki atau tidak hipotesis, tergantung dari ada tidaknya pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan. 


Penelitian deskriptif yang biasa disebut juga dengan penelitian taksonomik (taxonomic research), dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial.

3)    Penelitian yang bersifat menerangkan (explanatory research) 

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis-hipotesis tentang adanya sebab akibat antara berbagai variabel yang diteliti. Hipotesis merupakan titik tolak langkah-langkah penelitian selanjutnya. 

Hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel; untuk mengetahui apakah sesuatu variabel berasosiai ataukah tidak dengan variabel lainnya; atau apakah sesuatu variabel disebabkan/dipengaruhi atau tidak oleh variabel lainnya (Faisal, 1999).

4)    Penelitian Eksperimen (Experimental Research)
Penelitian eksperimen sangat sesuai untuk menguji hipotesis tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan variabel penelitian. Pelaksanaannya memerlukan konsep dan variabel yang jelas dan pengukuran yang cermat. 


Pada penelitian eksperimen peneliti secara sengaja memanipulasi suatu variabel (memunculkan atau tidak memunculkan sesuatu variabel) kemudian memeriksa efek atau pengaruh yang ditimbulkannya.

5)    Penelitian Tindakan (Action Research)
Dalam penelitian tindakan (action research) peneliti tidak hanya melakukan penelitian sampai pada kesimpulan mengenai hubungan antar variabel saja tetapi juga meneliti sampai action hubungan antar variabel. 


Ciri utama dari penelitian tindakan adalah tujuannya untuk memperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehingga dapat digunakan ketika kebijakan dilaksanakan.

Sumber: Modul Geografi Abad 21

Sabtu, Juli 13

Pengertian, Makna, Contoh 10 Konsep Dasar Geografi

Pengertian, Makna, Contoh 10 Konsep Dasar Geografi

Halo teman-teman sebangsa dan setanah air, gimana nih tahun ajaran baru sudah dimulai aja nih. 

Khusus kamu siswa SMA IPS kelas 10 tentunya pasti akan mulai belajar geografi kan?. 

Nah salah satu materi dasar geografi adalah 10 konsep geografi yang wajib dikuasai.

Konsep geografi adalah istilah yang mengandung makna geografi di dalamnya. Kalau kamu belajar math misalnya kamu akan menemukan istilah bilangan bulat, ganjil, genap, prima dan lainnya kan?. 

Itu adalah konsep matematika, kalau di geografi berbeda karena ada 10 konsep dasar geografi yang utama. Yuk kita cek di bawah ini penjelasannya.

1. Konsep Lokasi 
Lokasi adalah konsep paling utama alias nomor 1 dari geografi. Jadi jika kamu bicara geografi maka hal pertama yang pasti dibahas adalah lokasi, ngerti kan?. Lokasi dibagi menjadi lokasi absolut dan lokasi relatif. 

Lokasi absolut dilihat dari letak astronomis lintang dan bujur sementara lokasi relatif dilihat dari kondisi lingkungan sekitar. Contoh fenomena konsep lokasi absolut dan relatif ada di bawah

Lokasi absolut: Indonesia terletak di 6 LU - 11 LS dan 95 BT - 141 BT
Lokasi relatif : Rumah saya dekat ke stasiun KRL namun jauh ke pusat perbelanjaan (rumah kamu belum tentu kaya gitu kan)
Peta sebagai alat bantu geografi
2. Konsep Jarak
Jarak adalah panjang lintasan diantara dua lokasi atau lebih. Jarak terbagi menjadi jarak relatif dan jarak absolut. 

Jarak absolut dihitung dengan satuan panjang sementara jarak relatif dihitung dengan satuan waktu. Contoh fenomena konsep jarak absolut dan relatif ada di bawah

Jarak absolut: Saya pergi ke sekolah dari rumah menempuh jarak 5 km
Jarak relatif: Saya mudik dari Jakarta ke Cirebon menempuh perjalanan 6 jam dengan bis

3. Keterjangkauan
Keterjangkauan adalah mudah tidaknya satu lokasi diakses dan dipengaruhi oleh kondisi fisik wilayah dan sarana prasarana transportasi. Contoh fenomena konsep keterjangkauan ada di bawah

Pengiriman bantuan logistik korban gempa Palu terhambat karena kondisi jalan rusak parah dan terputusnya jembatan penghubung.

4. Morfologi
Morfologi adalah bentuk permukaan bumi yang dikontrol oleh gaya endogen dan eksogen. Ada banyak sekali variasi morfologi permukaan bumi kita mulai dari dataran tinggi, gunung api, lembah, sinklin, dan lainnya. Contoh fenomena konsep morfologi ada di bawah

Wilayah Kabupaten Wonosobo ada pada ketinggian rata-rata 800 mdpl.
Kabupaten Indramayu berada di wilayah dataran rendah dan potensial sebagai lumbung padi dan minapolitan.

5. Pola
Pola adalah susunan suatu gejala/fenomena geosfer di permukaan bumi. Pola bisa terbentuk alami atau dibangun sendiri oleh manusia. Contoh fenomena konsep pola ada di bawah ini

Pemukiman di daerah dataran rendah yang subur cenderung mengelompok.
Petani desa Ngadirejo memiliki pola tanam padi-bawang-padi dalam satu tahun.

6. Nilai Guna
Suatu lokasi di permukaan bumi ini pasti memiliki fungsi alias nilai guna masing-masing. Contoh fenomena konsep nilai guna ada di bawah ini

Pegunungan Sewu Gunung Kidul ditetapkan sebagai geopark oleh UNESCO dan menjadi laboratorium geologi kelas dunia.

7. Aglomerasi
Aglomerasi adalah gejalan pemusatan suatu aktivitas terutama aktivitas ekonomi pada permukaan bumi. Contoh fenomena konsep aglomerasi ada di bawah

Pemerintah membangun kawasan industri di sekitaran Cikarang, Bekasi, Karawang untuk mendongkrak produksi dan meningkatkan efisiensi.

8. Interaksi
Interaksi dalam geografi adalah hubungan timbal balik antar wilayah dikarenakan adanya perbedaan sumberdaya. Perbedaan sumberdaya ini membuat wilayah berinteraksi barter barang dan jasa satu sama lain. Interaksi wilayah yang intens akan menghasilkan interdependensi atau ketergantungan. Contoh fenomena konsep interaksi ada di bawah

Desa mengirim beras ke wilayah perkotaan dan perkotaan mengirim barang elektronik ke desa.

9. Perbedaan Wilayah
Wilayah-wilayah di permukaan bumi ini bervariasi dan tidak sama satu sama lain sehingga dapat dibedakan baik dari sisi fisik maupun sosialnya. Contoh fenomena konsep perbedaan wilayah ada di bawah.

Kota Jogja terletak di daerah dataran rendah sementara kota Malang terletak di dataran tinggi.
Indonesia berada di wilayah tropis sementara Jepang berada di wilayah subtropis.

10. Keterkaitan ruang
Keterkaitan ruang atau asosiasi adalah adanya hubungan logis diantara elemen-elemen pembentuk ruang tersebut. Contoh fenomena konsep asosiasi ada di bawah

Wilayah Indonesia terletak di batas subduksi lempeng sehingga banyak muncul gunung api.
Kota Brebes berada di daerah dataran rendah sehingga mayoritas masyarakatnya bertani bawang. 

Gimana udah mulai ada pencerahan kan?. Selanjutnya coba kamu buat sendiri kalimat-kalimat yang menyatakan 10 konsep geografi tadi tapi jangan sama dengan punya saya, pasti bisa. Jangan lupa share ya kalau bermanfaat! 

Baca juga: Rangkuman bab hakikat geografi lengkap

Kamis, Juni 20

Contoh Pendahuluan Karya Tulis Geografi

Contoh Pendahuluan Karya Tulis Geografi

Bagian pendahuluan dalam sebuah karya tulis adalah hal yang penting dan wajib dibuat dengan baik. 

Bagian pendahuluan memuat latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Jika pendahuluan disusun baik maka insaallah karya tulismu akan baik. 

Jadi jangan dibalik karena sulit sehingga membuat isi dulu, atau penutup lantas pendahuluan jadi di belakang. Wah itu sudah ngawurologi, jangan ya adik-adik. 

Berikut ini contoh bagian pendahuluan karya tulis geografi kelas pemenang olgenas 2014 dengan saya sendiri sebagai guru pembimbingnya.


Membuat pendahuluan karya ilmiah geografi

A.    LATAR BELAKANG 
Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menyimpan potensi sumber daya alam yang melimpah. Salah satu sumber daya alam yang terdapat di wilayah ini adalah rawa gambut. 

Rawa adalah tanah yang selalu tergenang air dan memiliki sirkulasi air yang buruk. Tanah gambut termasuk tanah tipe organosol yaitu tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan-bahan organik seperti tumbuhan rawa. 

Secara geologis gambut dapat terbentuk di lingkungan pengendapan yang berbeda-beda seperti dataran rendah, dataran tinggi atau pegunungan. Rawa gambut sejatinya merupakan salah satu lahan yang sangat potensial jika dimanfaatkan dengan baik dan benar. 

Gambut memiliki sifat rapuh dan mudah rusak oleh sebab itu lahan gambut harus diperlakukan secara arif agar tidak menimbulkan kerugian. Di Barito Kuala sendiri gambut banyak digunakan sebagai lahan pertanian khususnya sawah. 

Lahan rawa gambut sebenarnya memiliki potensi besar selain dijadikan sebagai lahan pertanian jika masyarakat dan pemerintah mampu bersinergi mendayagunakan sumber daya tersebut.

 Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010 Indeks Pembangunan Manusia Barito Kuala menempati peringkat kedua terbawah diantara 13 Kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Hal ini tentunya menjadi sebuah kendala dalam proses pembangunan wilayah ini sehingga perlu dilakukan perubahan-perubahan  baik dari segi tata wilayah maupun pembangunan manusianya. Salah satu tata kelola wilayah yang harus diperhatikan tentunya adalah pemanfaatan rawa gambut yang merupakan potensi fisik terbesar di Barito Kuala.

Optimalisasi pemanfaatan rawa gambut di Barito Kuala perlu menjadi perhatian demi menyongsong ASEAN Community 2015. ASEAN Community atau Komunitas ASEAN 2015 adalah sebuah bentuk kerja sama negara-negara ASEAN dalam rangkan meningkatkan derajat negara-negara ASEAN di mata dunia. 

Indonesia sebagai negara terbesar baik dari segi wilayah dan jumlah sumber daya manusia di Asia Tenggara tentunya harus menjadi pioner diantara negara-negara ASEAN lainnya. Dengan latar belakang itulah penulis menulis karya tulis dengan judul “PEMANFAATAN RAWA GAMBUT SEBAGAI SUMBER DAYA LAHAN POTENSIAL DI KABUPATEN BARITO KUALA KALIMANTAN SELATAN”.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana potensi dan pemanfaatan rawa gambut oleh masyarakat di Kabupaten Barito Kuala?
2.    Faktor-faktor apakah yang memengaruhi terhadap pola penggunaan rawa gambut di Kabupaten Barito Kuala?


C.    TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya karya tulis ini antara lain:
1.    Untuk mengetahui bagaimana potensi dan pemanfaatan rawa gambut oleh masyarakat Barito Kuala secara garis besar.
2.    Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pola penggunaan rawa gambut di Barito Kuala.


D.    MANFAAT
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan karya tulis ini antara lain;
1.    Bagi penulis: dapat menganalisis bagaimana pemanfaatan dan faktor-faktor yang memengaruhi pola penggunaan rawa gambut di Barito Kuala.
2.    Bagi umum: dapat dijadikan sumber informasi mengenai pemahaman tata cara pengolahan rawa gambut yang benar.


E.    METODE
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis menggunakan metode studi literasi yang dapat berasal dari buku, majalah, web, jurnal hasil penelitian dan observasi.
Contoh Kata Pengantar Makalah Karya Tulis Geografi

Contoh Kata Pengantar Makalah Karya Tulis Geografi

Membuat karya tulis adalah salah satu kemapuan wajib seorang pelajar di jaman now. Berbagai macam permasalahan kehidupan bisa dipecahkan dengan adanya penelitian yang kemudian dipublikasikan lewat karya tulis. Membuat karya tulis geografi perlu bimbingan dan latihan tentunya. Kali ini saya berikan contoh kata pengantar karya tulis geografi singkat.

Kata pengantar adalah bagian karya tulis yang berada di halaman paling awal dan isinya adalah seperti sambutan. Penulis bisa menuliskan rasa syukur kemudian cuplikan tujuan ditulisnya makalah hingga penutup berupa saran atau kritik. Kata pengantar karya ilmiah tidak boleh panjang-panjang, cukup satu halaman saja.
Contoh kata pengantar makalah

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, wr. wb.


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya karya tulis yang berjudul “Pemanfaatan Rawa Gambut Sebagai Sumber Daya Lahan Potensial di Barito Kuala Kalimantan Selatan” dapat diselesaikan tepat waktu. 

Karya Tulis ini dibuat untuk diikutsertakan dalam kegiatan Semarak Geografi 2014 di Universitas Negeri Yogyakarta. Isi dalam karya tulis ini menyangkut pola pemanfaatan lahan rawa gambut di Barito Kuala saat ini. Sebagai salah satu kategori kabupaten tertinggal di Indonesia Barito Kuala sejatinya memiliki sumber daya lahan potensial yaitu berupa rawa gambut yang jika digunakan dan dikelola dengan tepat akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat setempat. Pengotimalan sumber daya rawa gambut memerlukan percepatan demi menyongsong ASEAN Community 2015. Penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada guru geografi yaitu Bapak Agnas Setiawan, S. Pd. dan teman-teman yang telah membimbing dan mendukung selama pembuatan karya tulis ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna sehingga memerlukan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan kedepannya. Akhir kata saya ucapakan terimakasih. Wasalam

Wassalamualaikum wr.wb

Penulis

Kamis, Februari 7

Jenis Tanah Vulkanik Indonesia: Regosol dan Andosol

Jenis Tanah Vulkanik Indonesia: Regosol dan Andosol

Tanah merupakan elemen vital dalam kehidupan mahluk hidup di bumi. Tanah adalah bahan bentukkan alam hasil pelapukan batuan induk. 

Ada banyak sekali jenis tanah yang ada di dunia khususnya di Indonesia. Salah satu jenis tanah yang umum dijumpai di Indonesia adalah tanah vulkanik. 

Tanah vulkanik berasal dari hasil erupsi gunung api. 

Jenis tanah vulkanik diantaranya tanah regosol dan andosol. Secara umum tanah vulkanik bersifat subur karena mengandung unsur hara dan mineral yang baik. 

Sebaran tanah vulkanik ada di Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok dimana banyak terdapat gunung api disana. Bagaimana ciri-ciri kedua tanah tersebut?.

1. Tanah Regosol
Tanah regosol adalah tanah hasil erupsi gunung api yang berbutir kasar. Tanah ini berupa endapan aluvial yang sangat baru. Ciri fisik tanah regosol antara lain:
- memiliki butir kasar
- berwarna umum cokelat gelap dengan variasi merah kuning, cokelat kemerahan, kekuningan.
- tidak dijumpai adanya perlapisan/bedding

Ciri umum lain dari tanah regosol adalah rentan erosi, keasaman normal, gembur dan kemampuan penyerapaan air yang tinggi. Tanah regosol sangat baik untuk aktifitas pertanian seperti padi, kelapa, tebu, sayuran, tembakau, kopi. 
Jenis Tanah Vulkanik Indonesia: Regosol dan Andosol
Kiri ke kanan: Andosol dan regosol
2. Tanah Andosol
Tanah andosol terbentuk dari tephra oleh proses andosolisiasi dalam waktu relatif singkat di bawah berbagai iklim. 

Akan tetapi tidak semua tanah andosol berasal dari tephra dan tidak semua tephra berkembang jadi tanah andosol. Secara umum sifat fisik dari tanah andosol adalah sebagai berikut:
- memiliki berat isi rendah
- kandungan air tinggi
- ketersediaan air bagi tanaman sedang sampai rendah
- kandungan bahan organik tinggi
- daya menahan air tinggi
- total porositas rendah
- bersifat gembur dengan konsistensi kurang plastis dan tidak lekat

Dalam sistem klasifikasi tanah USDA, tanah andosol setara dengan ordo Andisol atau human mountain soils. 

Tanah andosol adalah salah satu tanah yang subur dan paling produktif dibandingkan tanah lain. Karenanya wilayah tanah ini punya daya tampung manusia sangat tinggi karena cocok untuk pertanian. 

Wada dan Aomine mengemukakan bahwa tanah andosol dapat mencapai kematangan  dalam rentang waktu 5.000 tahun sementara Yamada mengemukakan tanah ini dapat berkembang dalam waktu 500 - 1.500 tahun tergantung faktor-faktor pembentuk tanahnya seperti tipe abu vulkanik. Yang jelas tanah andosol sangat subur dan top markotop untuk pertanian.

Baca juga: Soal hots + jawaban bab pedosfer

Gambar: disini, disini

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close