Guru Geografi: Materi Kelas 10 - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 10. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 19

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Fenomena cuaca dan iklim sering kita jumpai sehari-hari mulai dari hujan, petir, awan, angin dan lain sebagainya.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perubahan atau dinamika yang terjadi terkait atmosfer khususnya cuaca dan iklim.

Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam jangka waktu lama dan meliputi wilayah luas. Iklim dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria.

Beberapa ahli telah mencoba membuat klasifikasi iklim berdasarkan hasil penelitiannya. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari dibagi berdasarkan posisi letak astronomis suatu wilayah sehingga mempengaruhi intensitas penyinaran matahari. Negara di daerah tropis cenderung menerima intensitas penyinaran yang tinggi dibanding daerah subtropis dan kutub.
 
Iklim matahari

a. Iklim tropis terletak pada wilayah lintang 0⁰ - 23,5⁰ LU/LS. Negara beriklim tropis diantaranya Indonesia, Brazil, Kongo, Ekuador, Papua Nugini.
b. Iklim subtropis terletak pada wilayah lintang 23,5⁰ - 40⁰ LU/LS. Negara beriklim subtropis diantaranya Meksiko, Cina, Turki, Mesir, Maroko, Arab Saudi.
c. Iklim sedang terletak pada lintang 40⁰ - 66⁰ LU/LS. Negara beriklim sedang diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Perancis, Belanda.
d. Iklim kutub terletak pada lintang 66⁰ - 90⁰ LU/LS. Negara beriklim kutub diantaraya Greenland dan Islandia.

2. Iklim Junghuhn
F.W junghuhn adalah seorang ahli botani Jerman yang pernah singgah di Indonesia dan mencoba meneliti kaitan ketinggian tempat dengan vegetasi budidaya masyarakat di Jawa Barat dan Sumatera. Berikut tabel klasifikasi iklim Junghuhn.
 
Iklim Junghuhn

3. Iklim Schmidt-Ferguson
Schmidt-Ferguson membagi iklim berdasarkan rata-rata bulan kering dan bulan basah (nilai Q). Nilai Q dihitung dengan rumus berikut:
a. Bulan basah memiliki curah hujan rata-rata > 100 mm 
b. Bulan kering memiliki curah hujan rata-rata < 60 mm 

Tabel klasifikasi iklim Schmidt Ferguson adalah sebagai berikut:
4. Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman pada dasarnya memiliki indikator yang hampit sama dengan Schmidt-Ferguson. Perbedaannya hanya pada penentuan bulan kering dan bulan basah. 

a. Bulan basah jka curah hujan > 200 mmm
b. Bulan kering jika  curah hujan < 100 mm

Klasifikasi Oldeman cocok untuk penentuan kegiatan pertanian karena dapat melihat urutan bulan basah berturut-turut pada suatu wilayah. Berikut ini tabel klasifikasi iklim Oldeman.

a. Iklim A jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut.
b. Iklim B jika ada 7-9 bulan basah berturut-turut.
c. Iklim C jika terdapat 5-6 bulan basah berturut-turut.
d. Iklim D jika terdapat 3-4 bulan basah berturut-turut.
e. Iklim E jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berturut-turut.

5. Iklim Koppen
Koppen mengklasifikasikan iklim menurut indikator suhu dan curah hujan. Koppen menggolongan iklim menggunakan kode huruf sebagai berikut:

a. Iklim tipe A (hutan hujan)
b. Iklim tipe B (iklim kering)
c. Iklim tipe C (iklim sedang)
d. Iklim tipe D (iklim salju)
e. Iklim tipe E (iklim kutub)


6. Iklim Fisik
Pembagian iklim menurut kondisi fisik wilayah adalah sebagai berikut:
a. Iklim daratan memiliki curah hujan rendah dan dipengaruhi oleh angin darat yang kering.
b. Iklim gurun dicrikan dengan amplitudo suhu harian tinggi dan banyak ditemukan oase dan wadi.
c. Iklim laut terdapat di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi dan dipengaruhi sirkluasi angin laut.
d. Iklim dataran tinggi dicirikan dengan tekanan udara dan kelembaban rendah dan jarang turun hujan.
e. Iklim pegunungan dicrikan dengan curah hujan relatif tinggi, basah dan banyak hujan orografis.

Senin, Januari 18

Fenomena Tektonisme, Vulkanisme dan Seisme

Fenomena Tektonisme, Vulkanisme dan Seisme

Setiap hari kita tentu sering mendengar berita tentang fenomena gunung api meletus, gempa, longsor dan lain sebagainya.
 
Fenomena tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh gaya endogen yang berasal dari dalam bumi. Gaya endogen bersifat membangun struktur permukaan bumi. 
 
 
Gaya endogen terdiri atas tektonisme, vulkanisme dan seisme. Berikut ulasan lengkapnya.
1. Tektonisme
Tektonisme adalah proses yang berkaitan dengan pergerakan, pengangkatan, pelipatan dan patahan pada kerak bumi. Fenomena tektonisme ini menghasilkan beberapa morfologi seperti pegunungan, bukit, plato, lembah dan sesar. Tektonisme dibagi menjadi epirogenesa dan orogenesa.

a. Epirogenesa
Epirogenesa adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya pengangkatan atau penurunan permukaan bumi. Gerak epirogenesa positif terjadi jika permukaan bumi bergerak turun sehingga permukaan laut seolah-olah terlihat naik. Contoh epirogenesa adalah terbentuknya Pulau Banda di Maluku.

Epirogenesa negatif adalah gerak naik permukaan bumi sehingga seolah-olah permukaan laut turun. Gerak epirogenesa negatif ini sangat lambat, contohnya terbentuknya Pulau Buton.
 
Lipatan (a) dan patahan (b)

b. Orogenesa
Orogensa adalah gerakan relatif cepat dan meliputi wilayah sempit. Orogensa dibedakan menjadi pelipatan, patahan, retakan dan pelengkungan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh besaran gaya tekan dari dalam bumi dan kekuatan litosfer atau kerak bumi di wilayah tersebut.

Dampak gejala tektonisme bagi kehidupan diantaranya adalah terjadinya gempa dan longsor, terbentuknya cebakan minyak bumi dan gas, terjadinya perubahan morfologi permukaan bumi.

b. Vulkanisme
Vulkanisme adalah proses yang berkaitadn dengan penerobosan magma dari dalam bumi ke permukaan bumi. Penerobosan magma ini terjadi karena tekanan panas magma dari dalam bumi. Vulkanisme terdiri atas intrusi dan ekstrusim magma.

1. Intrusi
Intrusi magma adalah penerobosan magma di bawah permukaan bumi atau sebatas kerak bumi. Intrusi magma dapat menyebabkan lapisan kerak bumi terangkat sehingga membentuk pegunungan. Contoh kenampakan intrusi magma adalah batholith, lacolith, dike, sill dan stock.

2. Ekstrusi
Ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi hingga keluar permukaan bumi. Fenomena erupsi gunung api adalah contoh ekstrusi magma. Erupsi gunung api bervarisi di setiap wilayah tergantung karakteristik gunung api tersebut.

Dampak vulkanisme bagi kehidupan diantaranya adalah menghasilkan bahan baku bangunan atau industri, menjadi sumber geotermal, menyuburkan tanah, daya tarik wisata dan sebagai wilayah tangkapan hujan.
Intrusi magma
 c. Seisme
Seisme adalah fenomena kegempaan berupa getaran gelombang yang merambat di permukaan bumi. Getaran gelombang seismik dihasilkan dari pusat gempa yang penyebabnya adalah sebagai berikut:
 
1. Gempa tektonik dihasilkan oleh adanya tabrakan atau interaksi lempeng tektonik.
2. Gempa vulkanik dihasilkan oleh adanya aktivitas gunung api, biasanya merupakan tanda gunung api akan meletus.
3. Gempa runtuhan disebabkan oleh adanya runtuhan bangunan atau longsoran di wilayah lereng bukit.

Gempa yang sering menelan korban jiwa adalah gempa tektonik, baik itu yang berada di zona subduksi atau sesar. Gempa tektonik di lautan sering memicu tsunami, bahkan gempa sesar pun dapat memicu tsunami seperti yang terjadi di Palu.
Gempa akibat pergerakan sesar
Baca juga: Faktor kekuatan erupsi gunung api

Sabtu, Desember 26

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Biografi Alfred Wegener Penemu Continental Drift Theory

Salah satu teori gerakan benua yang terkenal adalah Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener.
 
Alred Lothar Wegener lahir pada 1 November 1880 di Berlin Jerman dan meninggal di Greenland pada November 1930. 
 
Wegener adalah seorang ahli meteorologi dan geofisika terkemukan Jerman yang berjasa merumuskan teori pergerakan benua.

Alfred Wegener meraih gelar Ph.D dalam bidang astronomi dari University of Berlin di tahun 1905 namun ia tertarik pada paleoklimatologi.

Di tahun 1906-1908 ia kemudian mengambil bagian dalam ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari sirkulasi udara kutub. Dalam perjalanannya Wegener kemudian bertemu klimatolog Wladimir Koppen yang menjadi mentornya.

Wegener melaukkan tiga ekspedisi ke Greenlang yaitu pada 1912-1913, 1929 dan 1930. Wegener mengajar meteorologi di Marburg dan Hamburg dan menjadi profesor meteorologi dan geofisika di University of Graz dari 1924 -1930. Wegener meninggal saat ekspedisi terakhirnya di Greenland pada 1930.
Alfred Wegener
Wegener terkesan pada kesamaan garis pantai Amerika Selaran bagian timur dan Afrika barat dan berspekulasi bahwa di jaman dahulu wilayah tersebut pernah bergabung.

Sekitar tahun 1910 ia kemudian ia merekonstruksi gagasan bahwa pada akhir era Paleozoikum (sekitar 252 juta tahun lalu) semua benua membentuk satu daratan besar yang kemudian pecah. WEgener menyebutnya Pangaea atau benua kuno.

Ilmuwan lainnya memiliki anggapan bahwa pemisahan benua disebabkan dari penenggelaman benua besar kemudian membentuk Samudera Atlantik dan Hindia.

Wegener memiliki pendapat lain dan mengusulkan bahwa superkontinen Pangaea perlahan-lahan bergerak ribuan mil dan terpisah dalam jangka pajang secara geologi. Istilah gerakan ini dinamakan Continental Drift atau Pergeseran Benua.

Wegener pertama kali mempresentasikan teorinya dalam ceramah pada tahun 1912 dan menerbitkannya secara penuh pada tahun 1915 dalam karyanya yang paling penting, Die Entstehung der Kontinente und Ozeane (The Origin of Continents and Oceans). 
 
Dia mencari literatur ilmiah untuk bukti geologis dan paleontologis yang akan mendukung teorinya, dan dia mampu menunjuk ke banyak organisme fosil yang terkait erat dan kesamaan formasi batuan  yang terjadi di benua yang dipisahkan secara luas, terutama yang ditemukan di Amerika dan di Afrika.
 
Pergeseran benua Pangaea

Teori Wegener tentang pergeseran benua mendapatkan perhatian beberapa ilmuwan dalam dekade selanjutnya. Namun postulasinya tentang kekuatan pendorong di balik gerakan benua itu tampak tidak masuk akal. 
 
Pada tahun 1930 teorinya telah ditolak oleh sebagian besar ahli geologi dan tenggelam dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade selanjutnya.
 
Teori ini kemudian muncul kembali dan dimodifikasi sebagai bagian dari teori tektonik lempeng selama tahun 1960-an. Baca juga: Sejarah Teori Lempeng Tektonik

Sabtu, Desember 12

Teori Dua Benua Bumi Laurasia Gondwana [Perkembangan Bumi]

Teori Dua Benua Bumi Laurasia Gondwana [Perkembangan Bumi]

Teori perkembangan bumi dua benua dikenalkan pada tahun 1884.Teori ini menganggap awal pembentukan bumi berasal dari dua benua raksasa.

Dua benua raksasa tersebut adalah Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Benua tersebut kemudian bergerak menuju ekuator.

Rotasi bumi memengaruhi sebagian benua terpisah di daerah ekuator dan belahan bumi barat. 

Sejarah Benua Laurasia
Laurasia adalah sebutan daratan luas di Belahan Bumi Utara yang mencakup Amerika Utara, Eropa, dan Asia (kecuali semenanjung India). 
 
Keberadaannya diusulkan oleh Alexander Du Toit, seorang ahli geologi Afrika Selatan dalam sebuah tulisan Our Wandering Continents (1937). Buku ini adalah reformulasi teori Continental Drift yang diusulkan oleh ahli meteorologi Jerman Alfred Wegener. 
 
Sedangkan Wegener telah mendalilkan satu benua super, Pangea, Du Toit berteori bahwa ada dua daratan besar yaitu Laurasia di utara dan Gondwana di selatan, dipisahkan oleh daerah samudera yang disebut Tethys. 
 
Laurasia diperkirakan telah terfragmentasi ke benua Amerika Utara, Eropa dan Asia saat ini sekitar 66 juta hingga 30 juta tahun yang lalu, interval yang mencakup akhir Periode Kapur dan sebagian besar Periode Paleogen. 
Teori Laurasia Gondwana
Sejarah Benua Gondwana
Gondwana, juga disebut Gondwanaland merupakan benua super kuno yang menggabungkan Amerika Selatan saat ini, Afrika, Arab, Madagaskar, India, Australia, dan Antartika. 
 
Perkembangan benua Gondwana terjadi pada masa Precambrian Akhir, sekitar 600 juta tahun yang lalu, dan tahap pertama perpisahannya dimulai pada Periode Jurassic Awal, sekitar 180 juta tahun yang lalu. 
 
Nama Gondwanaland diciptakan oleh ahli geologi Austria Eduard Suess mengacu pada formasi Paleozoidik dan Mesozoinia Atas di wilayah Gondwana, India tengah, yang mirip dengan formasi dengan usia yang sama di benua Belahan Bumi Selatan.

Bentuk geomorfologi yang cocok dari garis pantai Afrika barat dan Amerika Selatan timur pertama kali dilaporkan oleh Francis Bacon pada tahun 1620 sebagai peta Afrika dan Dunia Baru pertama kali tersedia. 
 
Konsep bahwa semua benua Belahan Bumi Selatan pernah bergabung bersama diungkapkan oleh Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi Jerman, pada tahun 1912. Dia membayangkan satu daratan besar, Pangaea (atau Pangea). Gondwana terdiri dari bagian selatan benua super ini.
 

Gambar: disini

Minggu, Desember 6

Rangkuman Geografi Kelas X Bab Dinamika Atmosfer

Rangkuman Geografi Kelas X Bab Dinamika Atmosfer

Apa jadinya jika planet bumi tidak memiliki atmosfer yang lengkap?. Tentunya tidak akan ada kehidupan lahir di bumi ini.

Atmosfer adalah salah satu bagian dari geosfer atau lapisan bumi. Fenomena atmosfer sangat kompleks dan dibangun oleh berbagai macam variabel.

Berikut ini rangkuman materi geografi kelas 10 bab dinamika atmosfer. Silahkan dipelajari dan jangan lupa share ke teman-teman lain.

1. Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi dan tersusun atas uap air dan gas kering yaitu nitrogen, oksigen, karbondioksida, argon dan beberapa gas lain.
 
2. Atmosfer bumi berfungsi sebagai penyedia gas-gas yang penting bagi kehidupan dan sebagai pelindung dari ancaman benda asing dan gelombang elektromagnetik berbahaya dari matahari.

3. Berdasarkan perubahan suhu secara vertikal, atmosfer terbagi menjadi lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer.

3. Gejala optik di atmosfer diantaranya pelangi, halo, fatamorgana, aurora dan sun dog.

4. Cuaca adalah kondisi atmosfer dalam waktu singkat dan wilayah sempit. Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam waktu relatif lama dan waktu yang luas.

5. Unsur-unsur cuacal iklim terdiri atas suhu, tekanan udara, angin ,kelemaban, awan dan curah hujan.

6. Perbedaan intensitas panas permukaan bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti letak lintang, lama penyinaran, relief, topografi, kondisi vegetasi da tutupan awan.

7. Pemanasan permukaan bumi oleh matahari melalui proses konveksi, adveksi, turbulensi dan konduksi.

8. Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum.

9. Efek Coriolis membelokan arah angin ke kanan di belahan bumi utara dan ke kiri di belahan bumi selatan. Efek Coriolis adalah dampak dari rotasi bumi.

10. Sirkulasi angin terbagi atas angin global dan angin lokal. Angin global terdiri atas angin passat, angin antipassat dan angin muson.

11. Sirkulasi angin lokal terdiri atas angin darat, angin laut, angin fohn, angin lembah dan angin gunung.

12. Klasifikasi iklim tediri atas iklim Junghuhn, iklim Schmidt-Ferguson, Iklim Koopen, Iklim Oldeman dan Iklim Matahari.

13. Iklim Junghuhn diklasifikasikan menurut ketinggian dan vegetasi budidaya yaitu iklim panas, iklim sedang, iklim sejuk dan iklim dingin.

14. Iklim Schmidt-Ferguson dihitung menurut rata-rata bulan kering dan bulan basah dalam satu tahun. Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan < 60 mm dan bulan basah adalah bulan dengan curah hujan > 100 mm. 
 
15. Klasifikasi iklim Koppen terbagi menjadi lima kelompok utama, yaitu A (tropis), B (kering), C (subtropis), D (benua), dan E (kutub). Dasar klasifikasi Koppen adalah suhu dan rerata curah hujan.

16. Iklim Oldeman diklasifikasikan menurut jumlah bulan basah berturut-turut dalam satu tahun. Iklim Oldeman sesuai untuk kegiatan pertanian.

17. Iklim matahari terbagi menjadi iklim tropis, subtropis, sedang dan kutub. Pewilayahan iklim matahari dibatasi oleh garis lintang.

18. Awan adalah kumpulan uap air dan kristal es di atmosfer yang melayang-layang. Awan diklasifikasikan menurut bentuk dan ketinggiannya.

19. Awan menurut bentuknya terbagi menjadi cumulus, stratus dan sirus. Ada juga awan unik seperti lentikular, mammatus dan kumulonimbus.
Awam mamatus
20. Awan menurut ketinggiannya terbagi menjadi awan rendah, awan menengah, awan tinggi dan awan vertikal. 

21. Awan kumulus biasa muncul pada saat kondisi udara tenang, cerah dan angin sepoi-sepoi. Awan kumulonimbus adalah awan yang menjadi pertanda akan ada hujan badai. Awan sirrus banyak mengandung kristal es sehingga kadang memunculkan fenomena halo.

22. Hujan atau presipitasi adalah peristiwa jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Manifestasi presipitasi bisa air, es dan salju.

23. Hujan terbagi menjadi hujan konveksi, hujan orografis dan hujan frontal. Hujan yang tidak sampai ke permukaan bumi dinamakan virga.
 
24. Tipe iklim Indonesia terbagi menjadi iklim musim, iklim laut dan iklim panas. Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi oleh letak lintang, bentuk kepulauan, relief dan pergerakan angin muson serta kondisi perairan Hindia dan Pasifik.

25. Efek rumah kaca adalah proses memanasnya permukaan bumi akibat bantuan gas rumah kaca. Fenomena efek rumah kaca membuat bumi menjadi hangat dan layak huni.

26. Global warming adalah peristiwa naiknya suhu permukaan bumi dalam kurun waktu lama akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Global waming memicu perubahan iklim dan naiknya muka air laut.

Rabu, Desember 2

Rangkuman Bab Dinamika Bumi Sebagai Ruang Kehidupan [Lengkap]

Rangkuman Bab Dinamika Bumi Sebagai Ruang Kehidupan [Lengkap]

Bumi adalah planet yang memiliki syarat untuk lahirnya sebuah kehidupan kompleks di alam semesta. Tidak ada planet lain yang menyamai bumi hingga kini.

Planet Bumi terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun lalu, dimulai dari sebuah bola panas yang kemudian mendingin dan terbentuk kerak bumi.
 

Seiring pendinginan tersebut, dinamika bumi terus berlanjut mulai dari pembentukan batuan, lautan dan munculnya mahluk hidup berukuran mikro sampai raksasa.
 
Atmosfer bumi berevolusi sehingga menghasilkan variasi gas yang penting bagi kehidupan seperti oksigen, karbon dioksida, nitrogen dan lainnya. 
 
Efek rumah kaca juga membantu permukaan bumi tetap hangat sehingga kehidupan dapat terbentuk secara sempurna. 


Berikut ini rangkuman geografi kelas 10 bab dinamika bumi sebagai ruang kehidupan.

1. Jagat raya adalah suatu ruangan yang meluas ke segala arah dan tak terhingga yang tersusun atas komponen-komponen seperti energi gelap, materi gelap, galaksi, nebula, bintang, planet dan benda langit lain.

2. Teori terbentuknya jagat raya terdiri dari Teori Big Bang, Teori Osilasi dan Teori Keadaan Tetap. Teori Big Bang menyatakan jagat raya berasal dari ledakan satu titik tunggal di alam semesta.

3. Galaksi adalah kumpulan sistem perbintangan di alam semesta yang memiliki bentuk dan berotasi. Bentuk galaksi diantaranya spiral, spiral palang, elips dan tak beraturan.

4. Teori terbentuknya tata surya terdiri dari Teori Nebula, Teori Planetesimal, Teori Pasang Surut, Teori Bintang Kembar, Teori Protoplanet dan Teori Kuiper.

5. Matahari adalah sumber energi tata surya yang terdiri atas inti matahari, fotosfer, kromosfer, korona, zona konveksi,  dan zona radiasi.

6. Planet adalah benda langit yang mengorbit matahari di tata surya dengan lintasan elips dan arah yang sama.

7. Sistem tata surya terdiri atas matahari, planet, satelit, asteroid, komet dan debu kosmik.

8. Planet dalam tata surya terdiri atas merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus.

9. Rotasi adalah perputaran bumi/planet pada porosnya sementara revolusi bumi adalah perputaran bumi/planet mengelilingi matahari.

10. Periode rotasi bumi dalah 23 jam 56 menit dan periode revolusi bumi adalah 365 hari 6 jam 9 menit dan 10 detik.

11. Dampak rotasi bumi adalah peredaran semu harian benda langit, adanya siang malam, perbedaan waktu dan pembelokan angin.

12. Dampak revolusi bumi adalah gerak semu tahunan matahari, perbedaan lama siang dan malam, perubahan musim dan perubahan rasi bintang.

13. Perkembangan kehidupan di bumi terbagi atas zaman arkaekum, paleozoikum, mesozoikum dan kenozoikum.

14. Teori perkembangan bumi diantaranya teori apungan benua, teori kontraksi, teori laurasia gondwana dan teori lempeng tektonik.

15. Batas lempeng tektonik terdiri atas zona konvergen, divergen dan transform. Pergerakan lempeng disebabkan arus konveksi magma di lapisan mantel bumi.

16. Batas lempeng konvergen menghasilkan fenomena pegunungan api, palung, melange dan zona subduksi. Indonesia berada di zona subduksi lempeng Eurasia-Indo Australia-Pasifik.


17. Batas lempeng divergen menghasilkan pematang tengah laut atau mid ocean ridge. Zona divergen diantaranya patahan afrika timur dan mid atlantic ridge.

18. Batas lempeng transform menghasilkan sesar atau patahan. Zona patahan di Indonesia diantaranya sesar sumatra, sesar lembang dan sesar palukoro.
Perkembangan dinamika litosfer

Gambar: Britannica

Jumat, Oktober 23

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

4 Teori Perkembangan Bentuk Muka Bumi

Permukaan bumi kita saat ini tersusun atas kerak bumi dan kerak samudera. Perkembangan bentuk bumi ini telah terjadi sejak bumi ini terbentuk 4,6 milyar tahun lalu.

Pada awalnya bumi ini adalah sebuah bola panas yang kemudian lambat laun mendingin sehingga permukaannya menjadi keras. 
 
Seiring waktu kombinasi antara gaya endogen dan gaya eksogen menghasilkan bentuk permukaan bumi yang bervariatif hingga saat ini.

Ada sejumlah teori yang diungkapkan para ilmuwan untuk menjelaskan mengenai perkembangan bentuk permukaan bumi. Teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
 
 
A. Teori Pengkerutan
Teori ini menjelaskan bahwa bumi mengalami pendinginan dalam kurun waktu sangat lama dimana sebuah massa sangat panas bertemu dengan udara dingin sehingga mengakibatkan terjadinya pengkerutan.

Karena material yang berbeda maka pengerutan tidak sama antara satu lokasi dengan lokasi lain. Inilah mengapa ada daerah yang bertipe dataran tinggi, dataran rendah, cekungan dan lainnya.

Teori ini dikemukakan oleh James Dana dan Elie de Baumant. Analogi teori pengkerutan adalah seperti buah apel yang apabila didiamkan maka akan mengering dan kulitnya mengerut.

Teori ini banyak dikritik karena tidak mungkin penurunan suhu (pembentukan pegunungan dan lembah) berlangsung sangat drastis. Padahal kenyataannya, di dalam bumi masih terdapat unsur pijar dan lapisan bumi yang terus mengalami pergerakan.

B. Teori Laurasia-Gondwana 

Permukaan bumi selalu mengalami perubahan atau perkembangan. Perubahan dimaksud terus berlangsung hingga kini, ditunjukkan dengan adanya pergerakan/pergeseran daratan (benua). 

Jika dilihat pada sejarah masa lalu sebenarnya benua-benua di permukaan bumi ini pernah berkumpul serta menyatu menjadi dua benua besar (supercontinent) yang oleh Edward Suess diberi nama Laurasia (di bagian utara) dan Gondwana Land (di bagian selatan). Kedua benua raksasa itu dipisahkan samudera Tethys.
 
Benua besar tersebut dalam perkembangannya kemudian pecah dan memisah saling menjauh, sesuai arah pergerakannya masing-masing. Pada akhirnya, terbentuk kondisi yang ada pada saat ini, yaitu adanya Benua Amerika (Utara dan Selatan), Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Proses pergeseran benua akan terus berlangsung hingga seterusnya.
 
Benua Laurasia dan Gondwana

C. Teori Apungan Benua
Pada tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli meteorologi Jerman mengemukakan konsep pengapungan benua (continental drift) dalam karya berjudul The Origin of Continents and Oceans. 
 
Hipotesa Wegener ialah adanya satu benua besar (super continent) yang disebut Pangaea (artinya semua daratan) yang dikelilingi oleh Panthalassa (semua lautan).
 
Selanjutnya, sekitar 200 juta tahun yang lalu superbenua Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil dan kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini. 

Akan tetapi penyebab pergerakan benua ini belum diketahui oleh Wegener.
 
Teori apungan benua Wegener

D. Teori Lempeng Tektonik
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah dimana aktivitas geologis umumnya terjadi, seperti gempa bumi serta pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. 
 
Mayoritas gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas. 
 
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.

Terdapat tiga batas lempeng yang bergerak relatif terhadap lempeng satu sama lain. Fenomena yang muncul di tiga batas lempeng tektonik ini berbeda.
3 batas lempeng tektonik
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) atau pun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar Semangko di Sumatera.
 
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen. Batas divergen terkenal adalah Mid Atlantic Ridge.

3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. 
 
Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, dimana potongan lempeng yang terhujam banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh batas konvergen adalah Indonesia bagian selatan yang merupakan subduksi Indo-Australia dan Eurasia.
 
Berikut ini sebaran lempeng tektonik di dunia. Lempeng utama disebut lemepng mayor dan lemepng-lempeng yang relatif kecil disebut lempeng minor.
 
Peta lempeng tektonik

Jumat, Maret 20

Faktor-Faktor Kerusakan Tanah (Pedosfer)

Faktor-Faktor Kerusakan Tanah (Pedosfer)

Tanah adalah zat penting bagi kehidupan di bumi. Sebagian besar mahluk hidup di daratan sangat bergantung pada tanah. 

Tak terkecuali bagi manusia, tanah banyak digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pertanian.

Fungsi tanah dalam pertanian dapat hilang atau menurun karena faktor alam maupun karena manusia. 

Penurunan atau hilangnya fungsi tanah ini disebut dengan kerusakan tanah (degradasi tanah). 

Kerusakan tanah sebagai sumber unsur hara dapat diperbaharui dalam waktu yang tidak terlalu lama, antara lain dengan cara pemupukan. 

Kerusakan tanah pada fungsi sebagai pendukung tanaman memerlukan perbaikan yang sangat lama, bahkan mencapai ratusan tahun untuk pembentukan tanah lagi.

A. Erosi Tanah

Kata erosi tanah berasal dari bahasa Latin erodere yang artinya penggundulan atau pelenyapan. 

Erosi atau pengikisan tanah adalah proses penghancuran dan pemindahan tanah ke tempat lain oleh tenaga air, angin, gravitasi atau es/gletser. Erosi dapat terjadi secara alami (normal atau geological erosion).

Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab erosi tanah.

Kerusakan tanah karena erosi permukaan
1. Climate (Iklim) suhu, curah hujan
Kekuatan curah hujan yang jatuh ke tanah dapat memecahkan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah. Dengan demikian semakin besar ukuran titik-titik hujan semakin besar pula erosi yang terjadi. 


Sedangkan suhu berperan besar dalam pelapukan tanah, terutama pada daerah dengan perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Semakin besar selisih suhu siang dan malam semakin banyak material yang terkena erosi.

2. Soil (Tanah) Tekstur, Unsur Organik, Struktur, Permeabilitas
Sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap proses erosi meliputi: tekstur, kandungan unsur organik, struktur, dan permeabilitas tanah.


3. Topography (Topografi) kemiringan dan panjang lereng
Kemiringan lereng berpengaruh terhadap cepat dan besarnya erosi. Lereng yang semakin curam menyebabkan kecepatan aliran permukaannya semakin cepet.


4. Vegetation (Vegetasi)
Pengaruh vegetasi terhadap erosi tanah adalah sebagai berikut:
- Kerapatan vegetasi penutup lahan dapat menghalangi jatuhnya hujan langsung ke permukaan tanah. Oleh karena itu, kekuatan hujan untuk menghancurkan tanah menjadi berkurang.
- menghambat air yang mengalir di permukaan, tetapi memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah.
- membantu penguapan air dalam tanah melalui penguapan oleh vegetasi (transpirasi).


5. Landuse (Penggunaan lahan)
Penggunaan lahan terkait dengan peran manusia dalam mengusahakan lahan. Perlakuan manusia terhadap tanah dapat membuat aliran permukaan yang terjadi lebih besar atau lebih kecil.

B. Gerakan Tanah

Tanah dapat longsor kerena adanya gaya berat atau pengaruh gravitasi bumi. Perpindahan massa tanah dan batuan karena gaya berat disebut tanah bergerak (masswasting atau mass movement). 

Gerakan tanah dapat terjadi apabila gaya-gaya yang menahan massa tanah di lereng lebih kecil daripada gaya yang mendorong atau meluncurkan tanah.

C. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

1. Hilangnya penahan lateral
2. Kelebihan beban tanah
3. Getaran
4. Tekanan lateral

D. Dampak Kerusakan Tanah terhadap Tingkat Kesuburan Tanah

Penurunan tingkat kesuburan tanah sebagai dampak terjadinya erosi dan gerakan tanah tampak dari adanya pernghanyutan partikel tanah, perubahan struktur tanah, penurunan kapasitas infiltrasi dan penampungan, serta perubahan profil tanah.

E. Upaya Mengurangi dan Mencegah Kerusakan Tanah

Salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka mengurangi dan mencegah kerusakan tanah adalah melalui konservasi tanah. 

Konservasi tanah adalah pemeliharaan dan perlindungan tanah untuk mengurangi dan mencegah kerusakan tanah melalui upaya pelestarian. 

Tujuan utama konservasi tanah adalah memperoleh tingkat keberlanjutan produksi tanah dengan jalan menjaga laju kehilangan tanah. 

Usaha konservasi tanah yang paling penting dilakukan adalah penggunaan tanah sesuai dengan keperluan dan kemampuannya.

F. Pemanfaatan Tanah yang Baik

Guna menjaga kelestarian tanah diperlukan cara yang bijak dalam pemanfaatannya. Sehubungan dengan upaya konservasi, pemanfaatan potensi tiap jenis tanah harus disesuaikan dengan keperluannya. 

Keterbatasan kesuburan dapat diatasi dengan memberikan masukan-masukan pada tanah. Hal ini dimaksudkan agar setiap tindakan dan perlakuan pada tanah tidak akan menurunkan produktivitasnya, tetapi justru sebaliknya.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close