News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Materi OSN Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi OSN Geografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 20

Faktor Cuaca Iklim Suatu Tempat

Faktor Cuaca Iklim Suatu Tempat

Cuaca dan iklim di suatu daerah bervariasi ada yang panas, dingin, sedang hingga ekstrim. Kenapa cuaca bisa berubah di tiap tempat?.

Ada beberapa faktor yang mengontrol cuaca dan iklim daerah diantaranya lintang, ketinggian, jarak dari laut, pegunungan, relief daratan, angin, arus laut, kemiringan lereng, tanah dan hutan.
 
1. Lintang
Faktor ini merupakan salah satu pengontrol iklim paling penting karena sinar matahari dipengaruhi oleh letak lintang. Matahari menyinari secara vertikal di ekuator akibatnya suhu sangat tinggi. 

Di wilayah lintang tinggi, sudut sinar matahari miring sehingga suhunya lebih rendah. Umumnya suhu atmosfer semakin turun dari ekuator menuju kutub.
 
2. Ketinggian
Suhu atmosfer menurun seiring naiknya ketinggian. Ada penurunan suhu sekitar 6⁰C setiap 1.000 m kenaikan tempat. 

Meski dua tempat lintangnya sama namun cuacanya bisa berbeda karena pengaruh ketinggian. Contohnya Tasikmalaya lebih dingin dibandingkan dengan Kebumen. 
 
Daerah gurun cenderung panas di siang dan dingin di malam
 3. Jarak dari laut
Iklim suatu tempat lebih hangat dibandingkan yang jauh dari lautan. Tidak ada variasi yang besar antara siang dan malam atau musim panas dan musim dingin. 

Namun jika daerahnya jauh dari pesisir, perbedaan suhu di musim panas dan dingin sangat jelas. Tipe ini dinamakan iklim kontinental atau iklim ekstrim.
 
4. Angin
Angin memainkan peranan penting dalam iklim suatu tempat. Jika angin bertiup kencang dengan membawa banyak uap air maka potensi hujan akan tinggi. 

Selama angin muson barat, awan hujan bergerak dari Asia ke Indonesia sehingga akan menghasilkan musim hujan di bagian barat.

5. Arus Laut
Udara di daerah pesisir bisa menjadi dingin atau hangat karena pengaruh arus laut dingin atau hangat. Contohnya pantai timur Amerika Serikat dipengaruhi arus dingin Labrador dan arus hangat Gulf Stream.
Hutan cenderung lembab dan dingin
6. Pegunungan
Gerakan angin saat terhambat oleh barisan pegunungan maka akan berpengaruh terhadap iklim. Angin monsun akan terhambat oleh pegunungan Himalaya di utara sehingga menimbulkan awan berat di Bangladesh, India dan Nepal. 

Di lain sisi selama musim dingin udara dingin Asia Tengah tidak bisa menyeberangi Himalaya dan iklim sub benua tidak akan pernah seperti iklim dingin di Eropa. Baca juga: Ciri bioma tundra
 
7. Kemiringan lereng
Udara dan tanah menjadi panas di wilayah lereng gunung lewat pemanasan langsung. Tapi di sisi yang berlawanan, udara tetap dingin karena kurang mendapat sinar matahari secara langsung. 
 
8. Tanah
Struktur dan tekstur tanah memainkan peranan penting dalam perubahan suhu.Tanah berpasir di daerah tertutup akan cepat panas di siang dan cepat mendingin di malam hari. Namun tanah aluvial akan lambat menyerap panas dan lambat melepas panas sehingga suhu di atasnya akan cenderung hangat.
 
9. Hutan
Aktivitas evapotranspirasi membantu udara menjadi jenuh dengan uap air, dan lama kelamaan bisa berkondensasi menjadi hujan. Intensitas badai, siklon juga bisa berkurang oleh bantuan hutan. 

Udara di hutan tetap dingin karena sinar matahari susah menembus ke dasar hutan karena lebatnya tumbuhan kanopi. 
 
Gambar: disini, disini

Selasa, Mei 23

Ilmu Bantu Geografi

Ilmu Bantu Geografi

Geografi merupakan ilmu yang bersifat integrase sehingga seringkali disebut jembatan antara ilmu alam dan sosial ditambah teknik. 

Berbagai fenomena yang berkaitan dengan aspek fisik dan non fisik dikaji dalam geografi mulai dari erupsi, perubahan iklim, migrasi manusia, sebaran hewan hingga zona laut dalam. 

Tentu untuk menjelaskan fenomena tersebut dengan lebih mendalam, dibutuhkan ilmu pendukung lain sehingga pendeskripsiannya akan lebih mendalam. Berikut ini beberapa ilmu bantu geografi: Baca juga: Menghitung titik henti

Demografi
Ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan dinamika penduduk di permukaan bumi mulai dari pertumbuhan hingga perkembangannya. 

Dengan demikian kita bias mengetahui tentang struktur piramida penduduk, angka pertumbuhan penduduk, faktor migrasi hingga ramalan penduduk di masa depan.

Meteorologi
Ilmu yang mempelajari tentang fenomena cuaca dan dinamikanya. Kita bisa belajar tentang faktor-faktor yang memengaruhi cuaca suatu daerah, ramalan cuaca  dan anomalinya dari waktu ke waktu.
Ilmu Bantu Geografi
Ramalan cuaca harian
Astronomi
Ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit di luar angkasa serta interaksinya dengan Bumi. Berbagai fenomena seperti gerhana, meteor hingga pasang surut laut merupakan dampak dari interaksi Bumi dengan benda langit lain seperti bulan dan matahari atau asteroid.

Geomorfologi
Ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk permukaan bumi dan segala proses atau mekanisme yang terjadi didalamnya. Ada banyak morfologi seperti patahan, lipatan, kubah garam, cekungan, sand dune dan lainnya yang bisa kita pelajari mekanisme dan sebarannya. Baca juga: Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Geologi
Ilmu yang mempelajari struktur, sejarah dan perkembangan Bumi dari masa ke masa. Kita bisa memahami tentang bagaimana sejarah bumi dan umur batuannya.

Oseanografi
Ilmu yang mempelajari perairan laut beserta semua hal yang ada di dalamnya. Contoh fenomena yang bisa dipelajari diantaranya palung laut, salinitas, terumbu karang hingga zona abisal. Baca juga: Cara Hitung Iklim Schmidt Ferguson

Antropogeografi
Ilmu yang mempelajari sebaran bangsa di permukaan bumi dalam sudut geografis. Berbagai suku bangsa tersebar di bumi dan berkembang dengan karakternya masing-masing seperti bangsa Romawi, Nordic, Arab hingga bangsa Aztec.

Paleontologi
Ilmu yang mempelajari fosil-fosil serta bentuk-bentuk kehidupan di masa pra sejarah. Dengan mempelajari fosil maka kita akan mengetahui sejarah kehidupan di masa lalu sebelum manusia muncul dan melihat perkembangannya dari waktu ke waktu.

Biogeografi
Ilmu yang mempelajari sebaran mahluk hidup terutama flora fauna di permukaan bumi. Contohnya kita bisa mempelajari zonasi fauna Wallace atau pulau-pulau endemic di dunia seperti Socotra, Galapagos, Komodo dan Madagaskar.

Vulkanologi
Ilmu yang mempelajari tentang gunung api dan semua hal yang terkait di dalamnya. Kita bisa mengetahui tipe-tipe gunung api di dunia, kekuatan letusan dan sejarah pembentukannya. 

Hidorologi
Ilmu yang mempelajari tentang sistem perairan di daratan. Kita bisa mempelajari tentang sistem akuifer air Tanah, faktor infiltrasi hingga kecepatan infiltrasi Tanah.

Klimatologi
Ilmu yang mempelajari khusus tentang sejarah iklim dan perubahannya di Bumi dari masa ke masa. 

Fenomena perubahan iklim dapat dianalisa dan diprediksi di masa depan dengan bantuan klimatologi. Baca juga: Jenis Gumuk Pasir Sandune

Senin, Mei 22

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik merupakan salah satu tipe Tanah yang umum dijumpai di daerah konifer atau hutan boreal. Podzolik dikenal pula sebagai spodosol atau podosols. Tanah ini juga termasuk  tipe hutan eukaliptus dan heatlands di Australia selatan. 

Sementara di Eropa barat tanah ini berkembang di daerah dataran rendah yang dibangun oleh campur tangan manusia melalui penggembalaan dan pembakaran. Banyak Tanah podzolik di Eropa berkembang selama 3000 tahun  terakhir sebagai respon dari perubahan vegetasi dan iklim. Baca juga: Terbentuknya stalaktit dan stalagmit

Istilah Tanah podzolik berasal dari bahasa Russia dan diperkenalkan pada 1875 oleh Vasily Dokuchaev. Hal ini mengacu pada pengalaman petani Russia membajak lapisan Tanah berwarna abu (horizon E).

Karakteristik  dan Sebarannya
Podzolik dapat terbentuk hampir pada semua tipe bahan induk namun umumnya berasal dari pasir kuarsa dan batupasir atau butiran sedimen dari batuan magmatik asalkan presipitasi di daerah tersebut tinggi.  

Kebanyakan Tanah podzolik adalah Tanah yang miskin untuk pertanian karena kandungan pasirnya menghasilkan kelembaban dan nutrisi yang minim. Ada yang berpasir dan terlalu kering, yang lainnya punya zona perakaran yang dangkal dan drainase yang buruk akibat sementasi Tanah. 

Rendahnya pH merupakan masalah lain disertai defisiensi fospat dan kandungan alumunium tinggi bersifat racun.

Penggunaan podzolik untuk pertanian adalah kegiatan penggembalaan meski jenis lumpur yang dikeringkan sangat produktif untuk tanaman pangan jika dikombinasikan dengan kapur dan pupuk.
Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya
Lapisan Tanah Podzolik
Horizon E biasanya punya kedalaman 4 - 8 centimeter dan rendah kandungan Fe, Al dan humus. Horison ini terbentuk dalam kondisi lembab, sejuk, asam terutama bila bahan induknya granit dan batu pasir (kaya akan kuarsa). 

Podzolik data  ditemukan di bawah lapisan organik namun di beberapa podzolik, horizon E tidak ada entah itu tertutup oleh aktifitas biologi atau hilang oleh faktor eksternal. Baca juga: Beda ruang, lokasi dan tempat

Podzolik mencakup sekitar 4.850.000 km persegi di seluruh dunia dan biasanya ditemukan di bawah vegetasi kayu. Podzolik paling umum ditemukan di wilayah iklim sedang dan boreal di belahan bumi utara (SKandinavia, Russia, Kanada) namun dapat juga ditemukan di daerah lain termasuk hutan hujan tropis Indonesia bagian selatan dan Australia.

Podzolisasi
Proses utama pembentuk Tanah podzolik dinamakan podzolisation. Ini merupakan proses kompleks dimana bahan organic dan mineral terlaut (besi dan alumunium) tercuci dari horizon A dan E ke horizon B. 

Ini melibatkan pergerakan dan pengendapan bahan organic terlarut. Podzolik terbentuk dalam lanskap berhutan dengan bahan induk kasar dan tinggi kuarsa. 

Tanah ini punya lapisan permukaan khas yang dikenal sebagai horizon spodik yang tersusun atas akumulasi humus dan oksida logam (Fe dan Al). 

Di atas horizon spodik sering muncul lapisan berwana putih dimana Tanah liat dan oksida besi tercuci meninggalkan bahan berteksur kasar yang mengandung mineral utama dan sedikit bahan organik. Baca juga: Mengapa warna tanah bisa berbeda?
Gambar: geo.msu.edu

Minggu, Mei 14

Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya

Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya

Sungai memainkan peranan penting dalam evolusi bentuk permukaan bumi. Erosi sungai membuat permukaan bumi bervariasi di berbagai tempat. 

Aliran fluvial merupakan kombinasi proses fisika dan kimia dalam bentuk run off atau aliran permukaan. 

Mofologi sungai bervariasi di berbagai tempat karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Air permukaan dapat berwujud sungai maupun air yang mengalir pada punggung bukit (sheet water). Sumber utama air permukaan adalah presipitasi.

Menurut ada tidaknya saluran tetap, sungai dibedakan menjadi stream dan river. Stream adalah aliran air permukaan yang bisa berpindah-pindah alirannya. River adalah aliran permukaan yang punya saluran tetap.

Besar kecilnya air permukaan atau debit air dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya:
1. Jumlah curah hujan: jika curah hujan besar maka air permukaan juga akan semakin banyak begitupun sebaliknya. 
2. Kemiringan lereng: daerah yang berlereng terjal akan mempermudah air untuk mengalir di permukaan karena pengaruh gravitasi.
3. Geologi: terkait dengang porositas dan permeabilitas. Wilayah yang punya batuan dengan porositas dan permeabilitas besar maka akan lebih banyak menyerap air sehingga aliran permukaan akan lebih kecil. 

Contohnya adalah daerah karst atau kapur. Karena porositas dan permeabilitas tinggi maka air akan masuk ke dalam Tanah sehingga tidak ada aliran permukaan.
4. Cuaca dan Iklim: daerah beriklim air atau kering akan punya aliran air yang sedikit dibandingkan daerah yang basah.
Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Aliran sungai bersirat atau braided stream
Sementara besar kecilnya volume air yang masuk ke dalam Tanah ditentukan oleh faktor berikut:
1. Porositas dan permeabilitas batuan
Porositas adalah jumlah pori-pori batuan sementara permeabilitas adalah kecepatan lapisan batuan dalam meloloskan air. 

Semakin berpori batuan maka permeabilitas cenderung tinggi sehingga air akn lebih mudah masuk ke dalam Tanah seperti di daerah karst. 

Jadi mengapa di daerah karst sulit air? karena faktor porositas dan permeabilitas kapur itu sendiri.
2. Vegetasi
Vegetasi atau tumbuhan memainkan peranan dalam meloloskan air ke dalam Tanah khususnya lewat akar. 

Semakin banyak vegetasi maka air akan mudah masuk ke dalam Tanah dan semakin sedikit vegetasi maka run off semakin besar tapi air yang masuk ke dalam semakin sedikit.
3. Struktur dan tekstur Tanah
Tanah yang bertekstur liat akan sulit meloloskan air seperti di sawah sementara Tanah yang bertekstur pasir akan lebih cepat meloloskan air. 
4. Kegiatan organisme
Akitifitas organisme khususnya yang hidup di bawah Tanah akan membantu terhadap penyerapan air. 

Cacing dan tikus Tanah contohnya akan membangun lorong-lorong di bawah Tanah dan hal tersebut membantu air untuk mengalir ke dalam Tanah.
5. Suhu
Tanah yang lembab atau hangat cenderung akan lebih banyak memiliki volume air Tanah dibanding Tanah yang dingin seperti Tanah permafrost.
Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Batuan kapur lebih mudah meloloskan air ke dalam tanah
Proses erosi sungai memiliki tiga bentuk yaitu erosi, transportasi dan sedimentasi. Erosi oleh air sungai dilakukan dengan cara berikut:
1. Quarrying atau pendongkelan  terhadap batuan yang dilalui
2. Abrasi yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilalui
3. Scourring yaitu penggerusan dasar sungai sehingga kerikil, lempung dan pasir terangkut
4. Korosi yaitu reaksi antara batuan yang dilalui terutama di daerah kapur

Kecepatan aliran sungai tidak sama di semua bagiannya. Kecepatan paling tinggi ada di tikungan luar atau sedikit di bawah permukaan air. 

Ketika sungai banjir maka kekuatan alirannya semakin besar sehingga hydrolic action akan melepaskan dan mengangkut material di dasar sungai hingga tebing sungai. 

Erosi tebing sungai yang berkelanjutan menyebabkan alur sungai bergeser ke kiri atau ke kanan sehingga akan menjadi berkelok-kelok dan terbentuklah meander. Baca juga: Memahami potensi air tanah

Gambar: nicolasdory.com, limestonebarrens.ca

Selasa, Mei 2

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Indonesia secara umum termasuk dalam kategori iklim tropis dengan dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Akan tetapi sebaran curah hujan di setiap wilayah di Indonesia bervariasi karena berbagai faktor. 

Artinya di Indonesia tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau karena Indonesia ada di wilayah Daerah Konvergensi Antar Tropik. Baca juga: Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Jadi jangan heran jika kamu lihat berita terlevisi sekarang ini di Jawa Tengah sedang banjir tapi di Manado sedang kekeringan. 

Jangan beranggapan saat musim penghujan datang, semua wilayah Indonesia mendapatkan curah hujan yang besar. Berikut ini pola sebaran curah hujan di Indonesia:

1. Daerah pantai barat setiap pulau utama, mendapatkan curah hujan lebih tinggi dibanding pantai bagian timur.
2. Jumlah rata-rata curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar dibandingkan bagian timur.
3. Curah hujan akan meningkat sesuai ketinggian tempat. Curah hujan tertinggi berada pada ketinggian 600 - 900 mdpl.
4. Di wilayah pedalaman pulau, musim penghujan jatuh pada musim pancaroba.
5. Bulan maksimum hujan berada di dekat DKAT.
6. Curah hujan bergeser dari barat ke timur.

- Pantai barat Sumatera sampai Bengkulu mendapat curah hujan terbanyak di bulan November.
- Lampung dan Bangka yang berlokasi di timur Sumatera mendapat hujan terbanyak di bulan Desember.
- Jawa bagian utara, Bali dan Nusa Tenggara memperoleh curah hujan di bulan Januari - Februari.

7. Di wilayah Sulawesi selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah musim penghujan jatuh antara Mei - Juni. Saat itu daerah lain sedang mengalami musim kemarau. 
Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia
Peta Pola Hujan Indonesia
Setiap daerah punya rata-rata curah hujan yang berbeda, ada yang tinggi seperti di Baturaden dan ada yang rendah sekali seperti di Nusa Tenggara. Menurut BMKG, ada 3 pola hujan di Indonesia yaitu:

1. Pola Monsun, punya perbedaan jelas antara musim penghujan dan kemarau.
2. Pola Ekuatorial, punya 2 puncak musim hujan antara Maret dan Oktober.
3. Pola Hujan Lokal, hanya punya satu puncak musim hujan.

Sumber: BMKG

Senin, Mei 1

Perbedaan GNP, GDP dan GNI

Perbedaan GNP, GDP dan GNI

Kita tentu tahu bahwa semua negara di dunia ini harus kuat dalam hal ekonomi agar masyarakatnya makmur. Lantas, bagaimana para ekonomi dapat mengukur tingkat produksi ekonomi nasional. 

Ada beberapa perhitungan untuk mengukur total produksi sebuah negara yaitu Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product), Produk Nasional Bruto (Gross National Product) dan Pendapatan Nasional (Gross National Income) yang merupakan peningkatan dari GDP.

Baca juga:
Karakteristik bioma tundra di dunia
Tanah podzolik dan ciri fisiknya

Pendapatan Domestik Bruto atau PDB adalah total nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri pada tahun  atau kuartal tertentu. PDB sama dengan semua belanja pemerintah, konsumen dan investasi ditambah nilai ekspor dikurangi nilai impor. 

PDB mencakup pendapatan yang dihasilkan orang asing saat berada di dalam negeri. PDB tidak termasuk pendapatan penduduk yang sedang berada di luar negeri.

Pendapatan Nasional Bruto atau GNI adalah PDB ditambah pendapatan yang dibayarkan ke negara oleh negara lain untuk hal-hal seperti bunga dan dividen.

Produk Nasional Bruto atau GNP adalah total nilai pasar semua barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk dalam negeri. 

GNP mencakup pendapatan dalam negeri dari barang dan jasa yang diproduksi dan dijual ke luar negeri dan investasi luar negeri. GNP tidak termasuk penghasilan warga asing sementara di dalam negeri. Baca juga: 3 Unsur kehidupan desa

GDP dan GNI mengacu pada pendapatan ekonomi di dalam batas negara sementara GNP mengacu pada output ekonomi oleh penduduk negara tersebut.

Sejak awal 90an, para ekonom dan pajabat negara pada dasarnya menganggap PDB sebagai indikator utama output ekonomi suat negara. PDB berfungsi sebagai ukuran utama untuk mengidentifikasi dan mengukur fase siklus bisnis ekonomi seperti resesi, depresi, pemulihan, dan ekspansi. 

Resesi ekonomi misalnya biasanya didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut penurunan PDB. Baca juga: Metode sudut bearing dan azimuth
Perbedaan GNP, GDP dan GNI
Peta Ranking GDP di Dunia
Menghitung GNP, GDP dan GNI
Dengan definisi diatas maka ada beberapa pendekatan yang umum digunakan untuk menghitung nilainya. Pendekatan pengeluaran yang digunakan GDP misal diambil dari jumlah agregat konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor netto. 

Pada prinsipnya pendekatan pemasukan dan pengeluaran harus mencapai angka sama dengan menjumlahkan upah, harga sewa, bunga, keuntungan biaya non pendapatan dan dalam beberapa kasus pendapatan luar negeri. Baca juga: Fenomena permafrost, tanah beku

Pada kenyataannya pendekatan yang berbeda biasanya menghasilkan hasil yang sedikit berbeda karena dalam semua kasus angka komponen adalah perkiraan yang dan tidak diketahui secara pasti dan komponen tersebut direvisi dalam waktu berbeda pula.

Bagi para pebisnis umumnya pendekatan yang paling mungkin adalah dengan menggunakan rumus berikut:

GDP = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor - impor
GNP = GDP + Penerimaan Pendapatan Bersih dari aset luar negeri - pendapatan warga negara asing di dalam negeri
GNI = GDP + pembayaran oleh warga negara asing ke negara tersebut untuk hal seperti investasi (bunga dan dividen), pembayaran yang dibayar diluar negeri

Baca juga: Air tanah freatik dan artesis

Gambar: statisticstimes.com

Senin, April 24

Jenis-Jenis Wilayah: Formal, Fungsional dan Vernakular

Jenis-Jenis Wilayah: Formal, Fungsional dan Vernakular

Ada banyak cara untuk membagi permukaan bumi ke dalam beberapa wilayah atau region. Wilayah adalah suatu area di permukaan bumi yang punya ciri khusus dan dapat dibedakan dengan area lainnya. 

Dalam kesempatan kali ini, kita akan melihat jenis-jenis wilayah yang umum dalam geografi diantaranya wilayah formal, wilayah fungsional dan wilayah vernakular. 

Bayankan kamu sedang ebrdiri di tengah kota dan mulai berjalan. Kamu berjalan sejauh beberapa km lalu sampai di wilayah pinggiran kota, lalu berjalan lagi maka kamu akan menemukan pedesaan. Apakah kamu tahu di batas mana kamu pindah dari wilayah kota ke desa?.

Wilayah Formal
Coba kamu pergi ke pusat kota Jakarta, kota terbesar di Indonesia. Kamu pergi ke Kelurahan Tebet, Jakarta Selatan dekat Sudirman dan Cawang. 

Wilayah yang dapat didefiniskan secara formal baik oleh pemerintah atau bentuk lainnya dinamakan wilayah formal.  Kota, kecamatan, provinsi dan desa adalah wilayah formal begitupula dengan pegunungan.

Wilayah formal sering berkaitan satu sama lain. Jika kam berada di kota Tasikmalaya, maka itu bagian dari Provinsi Jawa Barat dan bagian dari wilayah Pulau Jawa. Semua adalah wilayah formal, kamu berada di tiga wilayah. Baca juga: Bedanya lava Aa dan Pahoehoe

Wilayah Fungsional
Oke, anggap kamu masih berada di pusat kota Jakarta. Sekarang mari mulai berjalan lagi. Setelah beberapa ke timur contohnya kamu akan melihat sebuah tanda yang mengatakan "Selamat Datang di Kota Bekasi".

Namun dilihat di kiri dan kanan tidak terasa sekali perbedaan antara kota Jakarta dengan Bekasi. Masih banyak jalan tol, mall, toko, rel kereta dan jalan layang. 

Wilayah Fungsional tersusun atas satu tempat sentral dan daerah di sekitarnya yang terkena dampaknya. Sering sekali ini merupakan daerah metropolitan yang terdiri dari kota besar dan banyak kota kecil atau satelit yang mengelilinginya.
Jenis-Jenis Wilayah: Formal, Fungsional dan Vernakular
KRL Jabodetabek sarana mobilitas penduduk kaum urban
Jabodetabek adalah contoh mudah dari wilayah fungsional. Kota Jakarta sebagai tempat sentral dan kota satelit di sekitarnya berkembang pesat menyerupai kota inti atau sentralnya. Baca juga: Apa itu bounce rate blog?

Wilayah Vernakuler
Wilayah vernakuler sangat berkaitan dengan budaya. Daerah ini dibangun secara sosial dan ditandai dengan tidak adanya batas jelas yang memisahkannya. Ada juga keterkaitan emosional dengan lokasi yang dihuni oleh penduduk. 

Contoh sederhana adalah jika kamu ingat Bogor maka kamu pasti akan menyebut kota Hujan dan semua orang pasti umum tahu bahwa Bogor adalah kota hujan. Contoh lain jika kamu pergi ke Palembang pasti akan menyebut kota Pempek karena banyak penjual pempek disana.

Jika kamu menyebut Kota Pahlawan maka yang akan teringat pasti Surabaya dan itu sudah ada di pikiran mayoritas orang Indonesia sejak dulu. Jadi memang wilayah vernakuler sendiri tebentuk dari interaksi faktor-faktor yang ada dalam ruang tersebut. 

Bogor daerah pegunungan ya pasti banyak hujan sementara Surabaya dulu menjadi medan pertempuran para pejuang maka dijadikan istilah kota Pahlawan. 

Baca juga: Kaitan wilayah dan tata ruang

Pica: hetanews.com

Rabu, April 19

Kapan Zaman Es Terjadi?

Kapan Zaman Es Terjadi?

Pernah nonton film Ice Age?. Itu tentang kehidupan sekelompok hewan purba yang hidup dan berpetualang di zaman es. Memang ada zaman es?. Zaman es dimulai sekitar 2,4 juta tahun lalu berlangsung hingga 11.500 tahun lalu. 

Selama masa tersebut iklim di bumi berubah menjadi sangat dingin dimana gletser menutupi sebagian besar dunia (tidak semuanya ya!). Setelah zaman es berakhir dan gletser di beberap tempat meleleh maka berubah menjadi zaman interglasial. 

Jadi kita sekarang sedang hidup di zaman interglasial ya!. Menurut penelitian geologi setidaknya ada 17 siklus periode glasial dan interglasial di Bumi. Periode glasial berlangsung lebih lama dibandingkan periode interglasial. Periode glasial terakhir dimulai sekitar 100.000 tahun yang lalu dan berlangsung hingga 25.000 tahun yang lalu.
Peta Zaman Es
Darimana kita tahu adanya zaman es tersebut?. Saat gletser tumbuh dan bergerak diatas permukaan bumi ia akan mendorong batuan dan sedimen. Saat gletser tersebut meleleh ia akan meninggalkan tumpukkan batu di belakangnya. 

Tumpukan batu tersebut disebut moraines. Moraine ini memberikan bukti bahwa gletser pernah menutupi sebagian besar dunia pada masa lalu.

Para ilmuwan juga mempelajari susunan kimia initi es di Greenland dan endapan batu di dasar lautan. Bahan kimia tersebut akan menunjukkan kapan dan bagaimana zaman es bisa terbentuk.

Selama zaman es ini, beberapa mamalia hidup mulai dari rusa, tikus dan tupai tanah. Namun ada juga mamalia yang tidak biasa alias berbadan besar dan sekarang sudah punah seperti Mammoth. 

Baca juga:
Metode konservasi tanah mekanik dan vegetatif
Perbedaan lava Aa dan Pahoehoe

Sekitar 10.000 -12.000 tahun lalu sebagian mamalia raksasa yang hidup pada zaman es punah. Mengapa hal tersebut terjadi?. Ada beberapa hipotesa.
Mamalia Zaman Es
Pertama, ada kaitannya dengan perubahan iklim. Sekitar 12,8 ribu - 11,5 ribu tahun lalu, cuaca menjadi sangat dingin dan mengubah lingkungan dimana mamalia ini tinggal. Ahli paleontologi menganggap cuaca dingin ekstrim ini mengurangi jumlah makanan hewan tersebut.

Kedua, ada kaitannya dengna kehadiran manusia dimana mereka berburu hewan-hewan tersebut untuk dijadikan makanan. Bagaimana bukti untuk mendukung teori tersebut?.Ada beberapa situs fosil di barat daya Amerika dimana tulang mammoth berisi kepala tombak telah ditemukan. 

Memang ada perdebatan mengenai kedua teori tersebut, namun jalan tengahnya ada anggapan bahwa kedua teori tersebut merupakan faktor yang menyebabkan punahnya mamalia khas zaman es. Lalu apakah zaman es akan kembali lagi?. 

Menurut periodenya sih akan muncul kembali namun masih ratusan mungkin jutaan tahun lagi. Pastinya generasi manusia sudah berubah ya?.
Gambar: cdm.org, ichef.bbci.co.uk

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close