Guru Geografi: Meteorologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Meteorologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meteorologi. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 20

Faktor Perbedaan Suhu Permukaan Bumi

Faktor Perbedaan Suhu Permukaan Bumi

Suhu atau temperatur adalah unsur cuaca dan iklim. Kita setiap hari tentu bisa merasakan perbedaan suhu, kadang panas dan kadang dingin. 
 
Kamu tentu pernah pada satu waktu merasakan siang hari dan malam yang panas sekali. Namun kadang kala juga merasakan satu hari sangat dingin sekali. Lalu apa yang menyebabkan suhu permukaan bumi bisa berbeda-beda?. 

1. Lama penyinaran matahari
Setiap lokasi di permukaan bumi ini mendapatkan penyinaran yang berbeda-beda. Daerah khatulistiwa termasuk Indonesia mendapatkan intensitas matahari yang optimal yaitu 12 jam setiap hari setiap tahun. Itu sebabnya secara umum daerah tropis memiliki rata-rata suhu yang tinggi dibanding daerah subtropis atau kutub.
Faktor Perbedaan Suhu Permukaan Bumi
Sudut datang matahari pengaruhi suhu permukaan bumi
2. Sudut datang sinar matahari
Coba rasakan, matahari pada saat pagi hari dan sore pasti lebih hangat dibanding pada saat siang hari, bukan?. Berkas sinar matahari yang jatuh dengan sudut miring akan lebih minimum dibandingkan yang jatuh dengan sudut tegak lurus pada siang hari. Ini karena sinar yang tegak lurus akan lebih fokus dibanding yang miring. 

3. Topografi 
Hal ini berkaitan dengan ketinggian tempat.  Jika kamu naik gunung tentu suhu akan semakin dingin atau rendah bukan?. Ini adalah hukum gradien termis di wilayah troposfer dimana setiap permukaan bumi naik 100 m maka suhu akan turun rata-rata 0.5 derajat C. 

4. Kondisi Awan
Awan adalah kumpulan butir air di langit. Jika di atas wilayahmu ada awan, tentu sinar matahari akan terhambat oleh awan sebelum jatuh ke permukaan bumi. Hal ini menyebabkan panas matahari akan diserap dulu oleh awan sehingga suhu bumi akan lebih rendah.
 
5. Vegetasi
Jika kamu berada di bawah pohon tentu kamu akan merasa sejuk dan tidak panas bukan?. Pohon berfungsi menyerap panas matahari oleh daun atau batangnya. Jadi di daerah hutan tropis misalnya, suhu di dalamnya lebih rendah karena sinar matahari terhambat oleh tumbuhan. Baca juga: Contoh ulangan bab konsep geografi

6. Bentuk dan Tekstur Permukaan 
Bentuk dan sifat daratan juga berpengaruh pada penyerapan suhu matahari. Daerah yang datar atau licin akan lebih panas dibanding daerah bertekstur kasar seperti perbukitan. Sementara itu daratan lebih cepat menerima dan melepas panas dibandingkan air yang lambat menyerap dan melepas panas.
Gambar: flickr

Minggu, Maret 12

Proses Angin Katabatik dan Anabatik

Proses Angin Katabatik dan Anabatik

Kali ini kita bahas sedikit tentang Angin Gunung (Katabatik) dan Angin Lembah (Anabatik). Kedua angin tersbeut merupakan tipe angin lokal yang terjadi di daerah pegunungan atau lembah. Inilah perbedaan angin gunung dan angin lembah.  
 

Angin Katabatik (Catabatic Winds)
Saat udara di bagian atas puncak gunung mendingin oleh konduksi maka akan membuat udara lebih padat sehingga akan turun menuruni lembah. Angin ini biasa terjadi pada malam hari. Faktor yang memengaruhi terbentuknya angin katabatik adalah:
 
- Tingkat pendinginan di sepanjang lereng. Semakin dingin permukaan lereng maka potensi terbentuknya angin semakin besar.
- Kekasaran lereng. Semakin halus lereng maka potensi angin semakin besar dan kuat karena tidak ada penghalang seperti vegetasi.
- Kecuraman lereng. Semakin curam lereng maka akan menaikan potensi terjadinya angin gunung dan bercampur dengan udara netral di sekitarnya.
Proses Angin Katabatik dan Anabatik
Angin Gunung dan Angin Lembah
Efek sebaliknya terjadi pada siang hari. Kontak udara dengan lereng yang hangat karena sinar matahari akan menghasilkan konduksi dan naik atau disebut Arus Anabatik (Anabatic Winds). Aliran angin ke atas sangat kuat di sore hari saat matahari mengahadap langsung menuju lereng.

Baca juga:
Sebaran pola curah hujan Indonesia
Contoh soal ulangan geografi

Angin bisa berasal dari beberapa fenomena meteorologi yang berbeda baik itu disebabkan oleh tekanan dan suhu udara di atmosfer maupun suhu dan tekanan daerah tersebut.

Setelah angin terbentuk akan ada beberapa fitur bumi yang dapat memodifikasi arah dan kecepatan angin dan mendistorsi alat ukur cuaca dan menyulitkan meteorolog untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.  
 
 
Gambar: thecompetitionworld

Rabu, Maret 8

Tipe Iklim Indonesia: Af

Tipe Iklim Indonesia: Af

Iklim adalah keadaan rata-rata atmosfer dalam waktu lama, minimal 30 tahun. Lalu Indonesia masuk tipe iklim seperti apa sih?. Menurut letak astronomisnya, Indonesia masuk kategori iklim tropis. 

Variabel utama untuk menggolongkan iklim Indonesia tidak hanya suhu atau tekanan udara, tapi curah hujan. 

Dibelah oleh khatulistiwa, Indonesia memiliki tipe iklim hampir seluruhnya yaitu tropis, dengan suhu dataran pantai rata-rata 28° C, pedalaman dan daerah pegunungan rata-rata 26° C, dan daerah pegunungan tinggi rata-rata 23° C. 

Kelembaban relatif di semua wilayah cukup tinggi, dan berkisar antara 70 dan 90 persen. Baca juga: Jenis-jenis front cuaca

Variasi curah hujan yang diterima tiap daerah dipengaruhi oleh sirkulasi angin musim atau monsoon. Secara umum, ada musim kemarau (Juni sampai September), dan musim hujan (Desember-Maret). Oktober - Nopember dinamakan musim pancaroba atau peralihan.

Bagian barat dan utara Indonesia mengalami curah hujan yang lebih besar, karena dari utara ke barat bergerak awan hujan yang berat dengan kelembaban tinggi  hingga mencapai daerah pedalaman. 

Sumatera Barat, Jawa, Bali, interior Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya adalah daerah yang paling lembab dari Indonesia, dengan curah hujan berkisar lebih dari 2.000 milimeter per tahun. Baca juga: Jenis-jenis patahan geologi
Tipe Iklim Indonesia: Af
Curah Hujan Indonesia Nopember 2016, pic: bmkg
Topan kecil dapat menghantam Kepulauan Indonesia antara September dan Desember, dan dapat menyebabkan badai hujan dan angin kencang. 
 
Namun, tidak setiap Topan yang melanda Indonesia adalah Topan kuat seperti Tornado, dan dalam beberapa tahun hanya beberapa Topan terjadi selama musim badai tropis.

Pakaian katun ringan disarankan dipakai sepanjang tahun, dengan payung atau jas hujan untuk perubahan cuaca mendadak. Sebuah sweater diperlukan di daerah pedalaman pegunungan. 


Tidak peduli di mana Anda pergi, bersiaplah untuk suhu tinggi dan kelembaban. Menurut klasifikasi Koeppen-Geiger Iklim Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai Tipe Af dengan ciri suhu panas, iklim tropis lembab dengan rerata suhu semua bulan di atas 18 °C. Bagaimana? Sudah paham karakter iklim Indonesia?.

Baca juga: WMO mengeluarkan 11 tipe awan baru lho!

Sabtu, Maret 4

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita akan berjumpa dengan hujan, panas, angin, petir dan lain sebagainya bukan?. Saat ini informasi tentang cuaca sangat dibuthkan oleh masyarakat. 

Update informasi tentang prakiraan hujan, badai, angin dan lainnya sangat membantu manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Lalu apa bedanya cuaca dan iklim?

Cuaca atau weather merupakan kondisi atmosfer atau udara dalam waktu singkat dan meliputi wilayah yang tidak luas. Contoh dari perubahan cuaca tentu kita rasakan sehari-hari misalnya pagi hari hujan sementara siang panas. 

Atau di Jakarta sekarang sedang hujan gerimis sementara di Jogjakarta sedang hujan ringan. Baca juga: Bedanya wadi dan oasis gurun
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Cuaca memengaruhi kehidupan sehari-hari
Iklim atau climate adalah kondisi rata-rata atmosfer yang berlangsung lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas. Contoh iklim adalah iklim tropis, iklim subtropis dan iklim kutub. Untuk menentukan tipe iklim dibutuhkan data yang lama sehingga nantinya diambil kesimpulan. 

Baca juga:
Kumpulan rumus hitungan geografi peta dan pemetaan
Mengapa arah utara itu ke atas?

Pada dasarnya unsur cuaca dan iklim adalah sama yaitu suhu, kelembaban, tekanan udara, angin dan awan. Para ahli menentukkan perbedaan kondisi cuaca dan iklim berdasarkan unsur-unsur tadi. Ada banyak klasifikasi iklim di dunia ini dan yang paling umum adalah Klasifikasi Iklim Matahari. 
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Iklim Matahari di Bumi
Iklim Matahari ini diklasifikasikan menurut intensitas panas yang diterima bumi  dalam satu tahun. Garis yang membagi iklim di bumi yaitu garis lintang. Indonesia masuk kategori iklim tropis karena berada di wilayah ekuator dengan intensitas matahari yang tinggi sepanjang tahun. 

Iklim tropis hanya punya dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan dengan musim pancaroba atau peralihan diantara keduanya. Baca juga: Jenis-jenis presipitasi

Apakah iklim di Indonesia bisa berubah?. Bisa, jika posisi Indonesia bergeser ke arah subtropis. Mengapa kerak bumi bergeser?, Ini karena adanya arus konveksi yang menyebabkan lempeng tektonik bergerak. 

Jadi kalau sekarang Indonesia bergerak 1 cm per tahun ke utara maka perlu jutaan tahun untuk merubah Iklim Indonesia. Dahulu gurun Sahara juga terletak di daerah tropis sehingga tidak tandus seperti saat ini. 

Namun gerakan lempeng Afrika ke utara menyebabkan Sahara pindah dari ekuator ke subtropis sehingga dataran yang tadinya subur penuh air kini menjadi gurun tandus. 
Gambr: flickr

Kamis, Februari 23

Faktor Kecepatan Evaporasi

Faktor Kecepatan Evaporasi

Evaporasi merupakan gejala penguapan atau berubahnya air menjadi uap di perairan terbuka atau daratan. Lalu apakan tingkat evaporasi itu sama tiap tempat dan bagaimana proses kehilangan air tersebut?. 

Kombinasi antara evaporasi dari permukaan air, salju, tanah, vegetasi dinamakan evaporasi total atau evapotranspirasi. Molekul air apada dasarnya selalu bergerak dan bila terdapat cukup energi maka molekul air ini akan terlepas dari permukaan air dan menuju udara. Faktor yang memengaruhi laju evaporasi berbeda-beda adalah:
1. Tekanan Uap
Kecepatan air molekul air meninggalkan badannya tergantung dari nilai tekanan uap zat air itu sendiri. Evaporasi tergantung pada perbedaan antara tekanan uap air dan zat cair dengan tekanan uap dari udara di atas permukaan air.
2. Angin
Angin yang berhembus sangat memengaruhi laju evaporasi. Semakin kencang angin berhembus maka laju evaporasi akan semakin besar pula.
Faktor Kecepatan Evaporasi
Ilustrasi Evaporasi Molekul Air
3. Suhu Udara
Saat temperatur tinggi maka energi dari molekul akan membesar dan laju evaporasi meningkat. Coba kamu panaskan air di panci, maka evaporasi meningkat sejalan dengan meningkatknya suhu permukaan air. Evaporasi memerlukan energi berupa panas yang dalam hal ini berasal dari matahari.
4. Tekanan Atmosfer
Jumlah volume molekul udara per satuan volume meningkat seiring dengan perubahan tekanan. Tekanan tinggi akan memudahkan molekul air masuk ke dalam badan air dan sebaliknya. Evaporasi akan menurun seiring meningkatknya tekanan udara.
5. Kualitas Air
Laju evaporasi air garam lebih tinggi daripada air netral atau tawar. Ini berkaitan dengan massa jenis air. Lautan dengan kadar salinitas tinggi akan lebih cepat mengalami penguapan dibanding lautan dengna kadar salinitas rendah.
6. Permukaan Bidang Evaporasi
Lima faktor sebelumnya merupakan faktor evaporasi dari pemukaan air bebas. Sementara evaporasi dari tanah, vegetasi dipengaruhi oleh faktor yang sama namun ada pertumbangan khusus seperti keadaan tanah dan vegetasi.

Di daratan dalam hal ini tanah, faktor penting yang memengaruhi evaporasia adalah ketersediaan air yang ada di dalam tanah. Jika tanah jenuh oleh air, pada suhu sama maka laju evaporasi dari permukaan tanah tidak akan jauh berbeda dengan evaporasi di permukaan laut. 

Kecuali kalau kandungan air dalam tanah terbatas maka laju penguapan akan dibatasi oleh suplai air di bawahnya. Presipitasi yang jatuh ke pohon dan tertahan oleh daun atua batang akan dikembalikan ke atmosfer melalui evaporasi. 
Gambar: scienceabc.com
Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?

Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?

Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT) atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), adalah daerah sabuk tekanan rendah yang mengelilingi bumi umumnya dekat khatulistiwa di mana angin bergerak dari Utara dan Belahan Selatan datang bersama-sama.  

Hal ini ditandai dengan aktivitas konvektif yang menghasilkan badai kuat di daerah yang luas. DKAT juga sering disebut daerah doldrum atau daerah tenang. Daerah ini merupakan sabuk tekanan rendah.
Lokasi DKAT bervariasi sepanjang tahun namun masih dekat dengan khatulistiwa antara 40 - 45 drajat lintang utara dan selatan. Daerah ini merupakan pertemuan dua angin passat yaitu timur laut dan tenggara secara bersamaan. DKAT pula lah yang menciptkan sirkulasi angin monsun di Indonesia.
Daerah Konvergensi Antar Tropik atau Doldrum itu Apa?
Posisi DKAT di Indonesia
DKAT awalnya diidentifikasi pada tahun 1920 hingga tahun 1940. DKAT dicirikan dengan munculnya konsentrasi pertumbuhan awan, biasanya badai dan berada di atas ekuator. Variasi lokasi DKAT memengaruhi curah hujan di banyak negara yang berada dekat khatulistiwa sehingga saat musim panas dan hujan di daerah tropis lebih ekstrim dibanding musim yang sama di daerah lintang tinggi. Baca juga: Tahapan pembentukkan meander sungai

Dalam beberapa kondisi, DKAT mungkin akan sempit terutama saat bergerak menjauh dari ekuator. Daerah doldrum ini juga dapat diartikan sebagai sebuah batas front udara sepanjang khatulistiwa. Bagian dari daerah tropis yang didominasi tekanan tinggi memiliki cuaca yang sangat kering dan banyak gurun di dunia terletak di daerah ini. 

Ingat bahwa posisi DKAT bergeser selama setahun namun rata-rata terletak di utara khatulistiwa. Mengapa DKAT lebih banyak di utara khatulistiwa?. Karena disana ada lebih bnayak daratan dibanding daerah selatan. Tanah lebih mudah menyerap panas dibanding lautan. 

Saat permukaan tanah lebih panas dibandingkan lautan maka akan tercipta angin laut. Ini menghasilkan konvergensi udara di atas daratan. Daerah Asia Tenggara akan  mendapatkan hujan lebat di musim panas karena sirkulasi ini. DKAT memiliki perpindahan paling utara saat musim panas di Asia karena daratan besar Asia lebih banyak di utara. Baca juga: Tahapan siklus batuan
Gambar: campuspress.yale.edu

Minggu, Februari 19

Rumus Gradien Barometrik

Rumus Gradien Barometrik

Gradien barometrik merupakan istilah yang menunjukkan perbedaan tekanan udara di sekitar kita. Sebelum melihat rumus hitung gradien barometrik, maka kita harus memahami dulu tentang konsep tekanan udara. Udara merupakan zat yang menempati ruang dan punya kepadatan lebih rendah dari air atau benda padat. 

Baca juga: 
Rumus sex ratio dan dependency ratio
Pembahasan SBMPTN Geografi 2008

Tekanan udara sangat berpengaruh pada proses terbentuknya angin. Tekanan udara di setiap daerah berbeda-beda karena massa jenisnya yang berbeda. Makin tinggi kerapatan udara maka tekanannya makin tinggi pula dan makin rendah kerapatan udara maka tekanannya makin kecil pula. Alat ukur tekanan udara dinamakan barometer. 

Nilai tekanan udara normal adalah 76 cm Hg.  Jika kamu melihat peta udara maka akan didapati garis-garis isobar. Isobar adalah garis yang menunjukkan wilayah yang memiliki tekanan udara sama. Angka yang menggambarkan perbandingan dua buah isobar pada paeta dinamakan  Gradien Barometrik. 

Untuk menghitung gradien barometrik sangat  mudah yaitu dengan rumus:


Contoh soal:
Hitunglah nilai gradien barometrik pada peta isobar di bawah ini
Jawab:
Gradien A - B = 400 x 111/80 x 1 mb = 555 mb
Gradien C - D = 400 x 111/150 x 1 1 mb = 296 mb

Kesimpulannya angin lebih kencang bertiup dari A - B dibanding C - D. 

Rabu, Februari 15

Efek Corriolis Dan Dampaknya

Efek Corriolis Dan Dampaknya

Pernahkan kamu mendengar kata efek Corriolis?. Efek Corriolis merupakan suatu efek pembelokan yang dihasilkan dari sebuah benda yang berputar. Untuk memahami efek Corriolis paling sederhana, coba kamu ingat lagi pada saat kecil. Apakah kamu pernah main roda berputar di taman atau TK. 

Jika kamu berhadpaan dengan teman kamu lalu kamu melempar bola saat roda berputar, apa yang akan terjadi?. Tentu bola akan berbelok dan tidak lurus ke teman mu bukan?. Itulah contoh sederhana dari efek corriolis.

Untuk lebih luas lagi, coba kita lihat apa yang terjadi dengan angin yang terjadi di permukaan bumi. Efek matahari paling kuat dirasakan di ekuator daripada di utara dan selatan kutub. Oleh sebab itu daerah di sekitar ekuator memiliki suhu yang tinggi sepanjang tahun.

Daerah sekitar ekuator disebut juga pusat tekanan rendah karena udara di ekuator akan naik ke atas karena pengaruh dari suhu yang tinggi. Angin yang berasal dari wilayah kutub saat menuju khatulistiwa kan dibelokan saat mencapai ekuator oleh rotasi bumi. Efek Corriolis membuat sistem angin di bagian bumi selatan akan berputar searah jarum jam sementara di belahan bumi utara berputar berlawanan dengan arah jarum jam. 
Efek Corriolis Dan Dampaknya
Pembelokkan angin di Bumi oleh Gaya Corriolis
Efek Corriolis juga akan membuat Siklon tropis tercipta karena adanya gerakan circular atau memutar oleh gaya corriolis tadi. Jika bumi ini diam tidak bergerak maka angin dari kutub akan bergerak lurus ke tengah dan tidak akan ada tercipta dinamika atmosfer seperti saat ini. 

Bumi sudah didesain sedemikian rupa agar mencapai keseimbangan. Efek Corriolis merupakan salah satu cara Bumi mencapai keseimbangan. Gambar: irade.com

Efek Corriolis juga menyebabkan badai siklon akan berbelok saat mencapai khatulistiwa. Itulah mengapa Indonesia tidak pernah dilanda angin taifu, tornado seperti di Filipina, karena angin akan berbelok saat mencapai Indonesia. 

Adil bukan?. Indonesia sudah rentan gempa bumi, erupsi, banjir, longsor masa mau ditambah lagi dengan Angin Tornado?. Itulah keadilan Sang Maha Kuasa.
Klasifikasi Angin

Klasifikasi Angin

Angin pada dasarnya merupakan udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Angin dapat bergerak tenang, lembut, sedang, kuat atau merusak. Beberapa negara memiliki nama yang berbeda untuk setiap angin dan bahkan punya klasifikasi berbeda. Berikut ini klasifikasi angin menurut kekuatannya:

Angin Tenang (Calm Air)
Angin ini pada dasarnya merupakan angin bertipe sangat lemah. Angin tipe ini bahkan tidak cukup kuat untuk menerbangkan layang-layang. Kecepatan angin ini sekitar 1 km/jam saja. Udara atau angin ringan dapat diketahui dari asap yang mengepul secara vertikal dari cerobong pabrik. Angin ini punya nilai skala Beaufort 0. Baca juga: Perbedaan batuan beku intrusif dan ekstrusif

Angin Lembut (Gentle Breeze)
Angin lembut memiliki kecepatan sekitar 12-20 km/jam. Di Amerika, angin ini masuk kategori moderat. Daun dan ranting kecil akan terus bergerak oleh angin lembut. Angin ini memiliki skala Beaufort 3.
Klasifikasi Angin
Angin lembut menerbangkan dandelion
Angin Menengah (Moderate Wind)
Angin moderat punya kecepatan 20-38 km.jam. Angin ini cukup kuat untuk menerbangkan layang-layang dan akan terus terbang tinggi Angin menengah bisa menghasilkan ombak  di laut dan membuat pohon berisik. Baca juga: Batas pertemuan lempeng tektonik

Angin Kuat (Strong Wind)
Angin kuat atau kencang punya kecepatan 62-72 km/jam. Mereka dapat menyebabkan gelombang tinggi di atas laut dan membuat ranting atau dahan di pohon jatuh.

Angin Badai (Gale Wind)
Gale memiliki kecepatan 75 km/jam ke atas dan mereka bisa sangat merusak dan menumbangkan pohon besar sekalipun hingga ke akar-akarnya. Angin ini juga bisa menghasilkan gelombang tinggi di lautan yang berbahaya bagi kapal. Angin kencang ini dapat menghasilkan tornado atau taifun meskipun mekanisme nya ada sedikit modifikasi.

Gambar: beliefnet.com

Selasa, Februari 7

Jenis-Jenis Presipitasi/Hujan

Jenis-Jenis Presipitasi/Hujan

Presipitasi bagaimanapun terjadinya biasanya dinyatakan sebagai kedalaman (jeluk) cairan yang berakumulasi di atas permukaan bumi bila seandainya tidak terdapat kehilangan. Semua air yang bergerak di dalam bagian lahan dari daur hidrologi secara langsung maupun tidak langsung berasal dari presipitasi. 

Jenis presipitasi bermacam-macam dan diklasifikasikan menurut dua sudut pandang. Presipitasi digolongkan atas dasar genesa dan bentuknya.

Baca juga:
Dampak lokal dan global erupsi gunung api 
Jenis-jenis gumuk pasir atau sand dunes

Klasifikasi Genetika Presipitasi
Klasifikasi ini didasarkan atas timbulnya presipitasi. Agar muncul presipitasi, ada tiga faktor utama yang penting yaitu suhu udara yang lembab, inti kondensasi dan suatu sarana untuk menaikan udara yang lembab sehingga kondensasi dapat berlangsung sebagai akibat udara yang mendinginkan. Pengangkatan ke atas dapat berlangsung dengan cara pendinginan siklonik, maupun konvektif. Baca juga: Produk hasil vulkanisme

Pendinginan siklonik terjadi dalam dua bentuk. Pendinginan siklonik non frontal terjadi saat udara bergerak dari kawasan di sekitarnya ke daerah tekanan rendah. Dalam proses ini, udara bertekanan rendah mengalir ke atas, mendingin dan menghasilkan presipitasi dengan intensitas sedang (5 - 15 cm dalam 24 hingga 72 jam) namun berlangsung cukup lama (24 hingga 72 jam). 

Pendinginan siklonik frontal terjadi jika massa udara yang panas naik di atas suatu tepi frontal yang dingin. Laju presipitasi ini terjadi dalam skala sedang dan sedang dan berlangsung lama. Baca juga: Bedanya kerak benua dan kerak samudera
Jenis-Jenis Presipitasi/Hujan
Bentuk-bentuk hujan
Pendinginan orografik terjadi oleh aliran udara samudera yang lewat di atas tanah dan dibelokkan ke atas oleh pegunungan di pantai. Sebagian besar presipitasi jatuh di sisi lereng arah datangnya angin. Jumlah presipitasi yang lebih sedikit disebut bayangan hujan terjadi pada sisi kemiringan lereng karena hilangnya sebagian besar uap air oleh pegunungan. Baca juga: Bentang alam pesisir dan pantai

Pendinginan konvektif terjadi bila udara panas naik dan mendingin membentuk awan lalu turun hujan. Presipitasi konvektif ini merupakan presipitasi yang sangat singkat (jarang melebihi satu jam) namun intensitasnya sangat tinggi.

Klasifikasi Bentuk Prespitasi
Suatu perbedaan yang sederhana namun mendasar dapat dilihat antara presipitasi vertikal dan horisontal. Presipitasi vertikal jatuh di atas permukaan bumi dan diukur dengan penakar hujan sementara presipitasi horisontal dibentuk di atas permukaan tanah dan tidak diukur oleh penakar hujan.
Jenis-Jenis Presipitasi/Hujan
Bentuk Presipitasi
Prespitasi Vertikal
1. Hujan : Air yang jatuh dalam bentuk tetesan yang dikondensasikan dari uap air di atmosfer.
2. Hujan gerimis: Hujan dengan tetesan yang sangat kecil.
3. Salju: Kristal-kristal kecil air yang membeku dari uap air di udara bila suhu saat kondensasi kurang dari 0⁰C.
4. Hujan batu es: gumpalan es yang kecil, kebulat-bulatan yang turun saat hujan badai.
5. Sleet: campuran hujan dan salju, disebut juga glaze.
1. Es: salju yang memadat
2. Kabut: uap air yang dikondensasikan menjadi partikel air halus di dekat permukaan tanah.
3. Embun beku: bentuk kabut yang membeku di atas permukaan tanah dan vegetasi.
4. Embun: air yang dikondensasikan sebagai air di atas permukaan tanah yang dingin terutama di malam hari. Embun akan menguap di pagi hari.

Variasi intensitas presipitasi di berbagai daerah berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya:
1. Garis lintang
2. Ketinggian lokasi
3. Jarak dari sumber air
4. Posisi dan ukuran suatu daratan
5. Arah angin (menuju atau mendekati sumber air) 
6. Hubungannya dengan rintangan pegunungan
7. Suhu nisbi tanah 
Gambar: nssl.noaa.gov

Senin, Januari 30

Klasifikasi Awan Menurut Bentuk dan Ketinggian

Klasifikasi Awan Menurut Bentuk dan Ketinggian

Awan?. Siapa yang tidak kenal benda yang satu ini. Setiap hari kita selalu melihat awan saat mata kita menengadah ke atmosfer. Awan merupakan kumpulan titik-titik air atau kristal es di dalam udara yang terjadi karena proses kondensasi atau sublimasi dari uap air dalam udara. 

Terbentuknya awan dikarenakan kelembaban udara yang mengalami pendinginan hingga membeku atau mencapai titik embun. Proses pendinginan terjadi karena kelembaban udara terdorong sampai ke atas bagian atmosfer. 

Seiring naiknya ketinggian maka tekanan udara akan ikut turun. Hal ini menyebabkan udara yang membawa uap air lalu menyebar dan mendingin. Pada saat mencapai titik embun maka udara akan menyatu dengan uap air. 

Semua uap air yang terkondensasi dalam udara tersebut membeku dan membentuk embun melalui partikel udara yang sangat kecil. 

Melalui mekanisme yang disebut inti kondensasi lalu terbentuklah butiran awan. Awan bisa berubah bentuk karena pengaruh lingkungan disekitarnya seperti angin dan suhu. Awan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan ketinggiannya yaitu:
Klasifikasi Awan Menurut Bentuk dan Ketinggian
Kalsifikasi Awan di Atmosfer
Menurut Bentuknya
1. Cumulus, merupakan awan yang bentuknya bergumpal-gumpal. Awan ini merupakan tanda cuaca sedang normal atau stabil.
2. Stratus, merupakan awan tipis yang tersebar luas sehingga dapat menutupi langit secara merata. Awan ini sering mendatangkan hujan yang lama.
3. Sirus, merupakan awan yang berbentuk halus dan berserat seperti bulu ayam. Awan ini banyak muncul saat cuaca terik.

Menurut Ketinggian
1. Awan Tinggi (6 - 9 km)
a. Sirus, yaitu awan lembut mengandung kristal es yang berbentuk seperti bulu burung.
b. Sirostratus, yaitu awan putih amerat menyerupai lembaran kain tipis atau tabir.
c. Sirocumulus, yaitu awan yang muncul dalam bintik kecil seperti sisik ikan.

2. Awan Sedang (2-6 km)
a. Altocumulus, yaitu awan yang membentuk serankaian perahu rakit di langit dan sering disebt juga makarel.
b. Altostratus, yaitu awan yang berlapis-lapis tebal dan membuat matahari menjadi tampak berair. 

3. Awan Rendah (< 2 km)
a. Stratocumulus, merupakan awan tebal, luas dan bergumpal-gumpal. Jika bergerak sendirian bernama cumulus dan jika bergabung dan bergerak bersama dinamakan stratocumulus.
b. Stratus, merupakan awan berlapis berwarna keabuan dan tidak berbentuk.
c. Nimbostratus, yaitu awan yang biasanya muncul dalam keadaan gelap dan tak berbentuk dan sering menghasilkan hujan ringan.
Klasifikasi Awan Menurut Bentuk dan Ketinggian
Awan Lenticular
Selain kedua jenis awan tadi, ada juga jenis awan lain yaitu awan yang bersifat naik seperti Cumulonibus atau Cb. Cb ini merupakan awan yang berkumpul dari bawah lalu naik ke atmosfer membentuk kembang kol atau jamur. 

Awan ini merupakan awan hujan badai dan sering membahayakan pesawat. Awan ini sering muncul saat musim panas tiba. Awan unik jenis lainnya adalah awan lenticular yang terbentuk di puncak gunung berbentuk melingkar.

Gambar: donegalweatherchannel.com, aero-mechanic.com
Macam-Macam Gejala Optik

Macam-Macam Gejala Optik

Bumi kita memiliki atmosfer yang berfungsi melindungi planet dan sebagai tempat terjadinya gejala-gejala cuaca. Selain gejala cuaca, atmosfer juga mampu menghadirkan gejala-gejala optik. 

Gejala optik adalah gejala yang berkaitan dengan kemampuan penglihatan atau pandangan mata kita. Berikut ini macam-macam gejala optik di atmosfer:

Pelangi
Merupakan suatu bentuk setengah lingkaran di udara yang terdiri dari spektrum warna yang terbentuk saat sinat matahari mengenai partikel air di udara. Partikel-partikel air ini berupa uap atau titik-titik air yang tipis dan tembus pandang yang berfungsi sebagai prisma yang memantulkan dan mebiaskan spektrum warna pada cahaya matahari. 

Pelangi bisa terbentuk jika mata manusia berada di belakang sumber cahaya matahari. Sudut pandang mata juga memengaruhi terhadap terbentuknya pelangi. Baca juga: tipe-tipe longsoran tanah
Macam-Macam Gejala Optik
Pelangi di Udara
Aurora
Merupakan gejala pita-pita cahaya yang tampak di sektiar lingkar kutub utara dan selatan bumi. Aurora terbentuk jika partikel bermuatan listrik dari bintik matahari mengalir ke arah bumi yagn tertarik oleh medan magnet bumi. Aurora berwarna-warni sangat indah karena interaksi partikel matahari dengan gas-gas di atmosfer.
Macam-Macam Gejala Optik
Aurora Borealis
Kilat
Merupakan aliran atau loncatan listik dalam bentuk cahaya di udara karena adanya muatan listrik yang berlawanan. Kilat juga sering muncul saat erupsi gunung api terjadi.

Fatamorgana
Merupakan ilusi optik akibat pembiasaan berkas sinar matahari oleh udara dengan tingkat kerapatan yang berbeda-beda. Fatamorgana biasanya berwujud genangan air di permukaan tanah seperti gurun, atau aspal jalan raya. 
Macam-Macam Gejala Optik
Fatamorgana di jalan
Halo
Merupakan lingkaran putih yang berada di sekitar matahari atau bulan.

Sandikala
Merupakan cahaya berwarna merah kekuningan saat matahari terbit atau terbenam.

Sun Dog
Merupakan fenomena adanya lingkaran matahari diantara matahari. Hal ini bisa terjadi karena sinar matahari dibiaskan oleh partikel es di udara dengan sudut tertentu. 
Baca juga: Bedanya meteorologi dan klimatologi
Macam-Macam Gejala Optik
Sun Dog di Cina
Sirkulasi Angin Muson di Indonesia

Sirkulasi Angin Muson di Indonesia

Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh angin muson (moonsun). Angin muson adalah angin yang bertiup enam bulan sekali dan berlawanan arah. Umumnya pada setengah tahun pertama bertipu angin darat yang kering dan setengah tahun selanjutnya bertiup angin laut yang basah.

Indonesia secara geografis terletak antara dua daratan besar yaitu Asia dan Australia dan dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Selain itu posisi matahari yang bergerak setiap enam bulan di utara dan enam bulan di selatan ekuator memberikan pengaruh pada perubahan angin passat menjadi angin muson barat dan angin muson timur.

Pada Oktober - April, matahari berada di belahan langit sealtan sehingga Benua Australia akan banyak menerima pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan rendah dan di Asia terdapat pusat tekanan tinggi. Akibatnya angin berhembus dari Asia ke Australia. Baca juga: Ancaman bonus demografi di Indonesia
Sirkulasi Angin Muson di Indonesia
Musim Hujan Akibat dari Angin Muson Barat
Angin ini melwati Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang luas sehingga banyak membawa uap air yang mengakibatkan di Indonesia secara umum mendapat musim hujan. Angin muson ini diberi nama angin muson barat. 

Musim penghujan turun hampir di seluruh wilayah di Indonesia, hanya saja sebarannya tidak merata. Semkain ke timur, curah hujan semakin berkurang karena kandungan uap airnya semakin sedikit.

Pada April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah sementara di Australia terdapat pusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya arus angin dari Australia menuju Asia.

Karena angin dari Australia tidak melewati lautan luas maka angin tidak membawa uap air yang cukup banyak sehingga di Indonesia cenderung terjadi musim kemarau kecuali pantai barat Sumatera, Sulawesi Tenggara dan pantai Selatan Papua.

Antara kedua musim tersebut terdapat musim pancaroba atau peralihan Ciri musim pancaroba yaitu udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan sering terjadi hujan dalam waktu singkat dan lebat. Berbagai penyakit juga sering terjadi pada musim ini.

Baca juga:
Klasifikasi awan menurut bentuk dan ketinggian
Perbedaan lokasi relatif dan absolut

Gambar: www.winnetnews.com

Jumat, Januari 27

Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan

Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan

Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti bumi. Dengan adanya atmosfer maka suhu udara di permukaan bumi tidak terlalu panas di siang hari dan tidak terlalu dingin di malam hari. 

Gas penyusun atmosfer terdiri atas Nitrogen, Oksigen, Argon, Karbon Dioksida dan gas lain dalam volume lebih kecil. Atmosfer terdiri atas beberapa lapisan dan tiap lapisan punya keunikan dan peran masing-masing bagi kehidupan.

Troposfer
Troposfer merupakan lapisan atmosfer paling rendah yang sangat berpengaruh pada kehidupan di bumi. Semua gejala cuaca atau meteorologi terjadi di lapisan ini mulai dari hujan, awan, petir, badai dan pelangi. 

Pada lapisan ini terjadi penurunan suhu namun masih dipengaruhi oleh panas permukaan bumi melalui konduksi, konveksi dan kondensasi. Konduksi adalah perambatan panas, konveksi adalah pemanasan dengan cara aliran dan kondensasi adalah pembentukkan awan. Baca juga: Hati-hati penipuan promo quipper video

Ketebalan lapisan troposer diperkirakan mulai dari 0 - 10 km. Pada lapisan ini tiap ketinggian naik 100 m maka suhu turun rata-rata 0,5 - 0,6 derajat C (disebut juga gradien termis). Batas antara troposfer dengan stratosfer adalah tropopause yang suhunya berkisar antara -57 hingga -62 derajat C.
Lapisan Atmosfer dan Perannya Bagi Kehidupan
Lapisan Atmosfer Bumi
Stratosfer
Stratosfer merupakan lapisan udara dengan ketinggian 10 - 50 km. Lapisan ini penting bagi kelangsungan hidup mahluk hidup karena Ozon terdapat di lapisan ini. Ozon bertugas untuk melindungi permukaan bumi dari pengaruh sinar ultraviolet.

Pada lapisan stratosfer, suhu udara bertambah panas seiring naiknya ketinggian. Lapisan ini disebut juga lapisan inversi. Suhunya kembali menghangat 10 derajat C saat mencapai puncak. Kenaikan suhu ini terjadi karena ozon menyerap ultraviolet. Batas stratosfer dengan mesosfer dinamakan stratopause. Stratopause berada di ketinggian 60 km dengan suhu 0 derajat C.

Mesosfer
Mesosfer terletak pada ketinggian 50 - 80 km di atas permukaan bumi. Lapisan ini berfungsi untuk memantulkan gelombang radio. Gelombang UHF dan VHF dirambatkan di sini sehingga bisa diterima pemancar di bumi. 

Pada lapisan ini penurunan suhu kembali terjadi yaitu 0,4 derajat setiap 100 m. Puncak mesosfer punya suhu hingga menembus -120 derajat C. Batas mesosfer dengan termosfer dinamakan mesopause. Meteor juga banyak hancur di mesosfer.

Termosfer
Lapisan ini terletak pada ketinggian di atas 80 km. Lapisan ini memiliki suhu paling tinggi yaitu sampai ribuan derajat C. Bagian atas termosfer dibatasi oleh lapisan termopause yang meluas dari ketinggian 300 sampai 1.000 km. Baca juga: Keunikan lava Aa dan Pahoehoe

Gambar: scied.ucar.edu
Terbentuknya Angin Darat dan Angin Laut

Terbentuknya Angin Darat dan Angin Laut

Angin merupakan salah satu unsur meteorologi dan bagian dari atmosfer. Kali ini kita akan bahas dulu tentang mekanisme angin darat dan angin laut. Angin laut merupakan angin yang berhembus dari laut menuju daratan. 

Angin ini sering terjadi pada musim semi dan musim panas karena perbedaan suhu lebih besar antara laut dan tanah di dekatnya, terutama di sore hari pada saat daratan menerima panas maksimal di siang hari. Bagaimana proses terbentuknya angin darat dan angin laut tersebut?. 

Pada siang hari matahari memanasi permukaan daratan dan lautan. Air adalah penyerap yang baik dari energi matahari dan tanah juga menyerap banyak energi matahari. Namun air jauh lebih lambat dalam menerima panas dibanding tanah sehingga udara di atas tanah akan lebih hangat dibanding udara di atas lautan. 

Udara hangat di daratan akan naik sepanjang hari, menyebabkan tekanan di atasnya rendah. Sementara itu tekanan di lautan cenderung tinggi karena udaranya lebih dingin. Untuk mengimbanginya, udara akan mengalir dari laut ke darat karena udara bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Kekuatan angin laut bervariasi tergatung pada perbedaan suhu di darat dengan laut. Ini terjadi di siang hari.
Terbentuknya Angin Darat dan Angin Laut
Angin Darat Dan Angin Laut
Saat malam hari, mekanisme akan terbalik. Udara di atas lautan kini akan lebih hangat dibanding udara di daratan. Daratan akan kehilangan panas dengan cepat setelah matahari terbenam dan udara di atas akan mendingin pula. Hal ini dapat kamu rasakan di jalan aspal. 

Saat siang hari, aspal sangat panas namun saat malam hari akan terasa dingin. Lautan akan menahan panas lebih lama saat matahari tenggelam dan akan lambat melepas panas. Hal ini menyebabkan tekanan permukaan rendah bergeser ke atas lautan selama malam dan tekanan permukaan tinggi bergerak ke atas daratan. 

Hal ini menyebabkan gradien suhu yang kecil antara permukaan laut dengan tanah di dekatnya, sehingga malam hari angin akan bertiup dari daratan ke laut menciptakan angin darat.

Pada daerah tertentu, angin laut bisa menyebabkan bada saat sore hari. Di Florida, angin bertiup dari timur Atlantik dan dari barat Teluk Meksiko. Hal ini menyebabkan angin laut berkumpul menuju bagian tengah semenanjung Florida. 

Udara naik, membentuk awan, curah hujan dan menghasilkan badai. Itulah proses terbentuknya angin darat dengan angin laut. Kunjungi juga video pembahasannya di channel youtube kami.

Rabu, Januari 25

Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia

Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia

Berada diantara garis khatulistiwa, Indonesia adalah negara tropis dengan iklim panas, basah dan  lembab sepanjang tahun, dengan suhu tinggi sering berada di kisaran 90 F ada siang hari dan 70 F di malam hari. Temperatur yang lebih dingin tersebar di dataran tinggi. Kelembaban biasanya antara 70 dan 90 persen. 

 Indonesia memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk panas dan toleransi yang lebih rendah untuk cuaca dingin. Di pegunungan, apa tampak seperti hari yang hangat, Anda melihat orang Indonesia menggunakan mantel berat sementara di tempat-tempat terik mereka bahkan tidak menggunakan kipas. Baca juga: Pengertian bencana kekeringan

Indonesia berada di wilayah selatan sabuk Taifun yang menghantam Filipina, Vietnam, China dan Jepang serta Sabuk Topan di utara Australia. Sejak Indonesia berada di wilayah khatulitiwa dan dikelilingi banyak perairan, maka iklim di Indonesia termasuk iklim laut ekuatorial atau "doldrum" atau daerah tenang. Cirinya adalah banyaknya angin lokal, badai sesekali dan dipengaruhi angin muson dan pegunungan.

Indonesia merupakan salah satu tempat terbasah di bumi. Pantai barat sumatera mendapatkan lebih dari 400 cm hujan per tahun. Tempat lain yang menerima banyak hujan seperti Borneo, Jawa, Papua dan beberapa bagian Sulawesi. Pulau lain seperti Sumba dan TImor mendapat curah hujan lebih sedikit. Suhu ditentukan oleh elevasi dan jarak ke laut. Baca juga: Ciri bentang budaya dalam citrai inderaja

Perubahan suhu sangat sedikit dari musim hujan ke kemarau atau dari satu daerah ke daerah lain. Secara umum suhu turun 1 derajat per naik 90 m. Salju turun di daerah pegunungan tinggi yaitu Puncak Papua.

Musim kemarau dan hujan di Indonesia
Ada dua musim yang terjadi di Indonesia yaitu kemarau dan penghujan. Musim hujan untuk sebagian besar Indonesia terjadi di bulan September sampai Maret dan musim kemarau dari Maret atau Juni (tergantung daerah) sampai September. Tapi saat ini variasi musim sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena Indonesia barat, Indonesia timur dan Kalimantan dipengaruhi oleh pola angin monsun berbeda. 
Dari Nopember hingga Mei, angin musim dingin bertiup dari timur laut dan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik Utara dan timur laut Indonesia sementara daerah  di selatan pegunungan mengalami musim kemarau. 

Dari Juni sampai Oktober angin musim panas membawa uap air dari India menuju wilayah selatan dan barat Sumater serta Jawa. Dari Jawa Tengah ke timur, angin berasal dari Ausie yang membawa sedikit awan hujan, akibatnya daerah ini kemarau dari Juni sampai Oktober.
Musim Hujan dan Kemarau di Indonesia
Pola Angin Monsun Indonesia
Musim hujan di Jawa adalah dari September sampai Maret dan musim kemarau dari Maret sampai September. Lebih jauh ke selatan variasi musim hujan berlanjut: Sumatera (September-Maret), Jawa (Oktober-April), Bali dan NT (Nopember-Mei). 

Hujan cenderung turun sore hari dengan waktu pendek selama musim penghujan, saat desa terlihat asri dan hijau maka hutan penuh oleh lintah dan jalan tanah di daerah terpencil menjadi sulit dilalui. Baca juga: Mengatasi kipas laptop panas berisik

Pada musim kemarau adalah musim jalan-jalan namun debu tanah cokelat akan menghiasi jalanan. Pola musim penghujan dapat bervariasi dari pulau ke pulau dan di pedalaman pulau. Semua dipengaruhi relief pegunungan dan angin yang bertiup dimana sisi pegunungan yang mendapatkan angin banyak mendapat hujan. Itulah pola musim kemarau dan musim penghujan di Indonesia yang unik. Menurut data literasi ada lebih dari 300 pola musim penghujan di Indonesia.  

Baca juga:  
Bedanya arus rip current dan longshore current
Pengertian mitigasi dan adaptasi bencana alam
Pengertian dan ciri negara berkembang
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close