News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 14

Mengapa Rezeki Selalu Dikaitkan Materi atau Uang?

Mengapa Rezeki Selalu Dikaitkan Materi atau Uang?

Saya yakin semua orang ingin sukses menjalani hidupnya di dunia ini bukan?. Nah kali ini saya akan bercerita sedikit tentang seperti apa sih sebenarnya sukses, rezeki, uang itu?.

Di jaman sekarang ini segala hal diukur dengan materi atau kebendaan contohnya uang, mobil, rumah, tanah dan aset-aset kebendaan lainnya.

Lantas apakah rezeki itu memang harus seperti itu?. Memang tidak ada yang salah tapi tidak sepenuhnya benar. Saat ini makna rezeki seolah menyusut atau sengaja disusutkan oleh kaum materialistis.

Materialistis adalah sebuah paham bahwa segala hal diukur oleh kebendaan, kurang lebih seperti ini. Definisi materi sederhananya adalah segala hal yang bisa dirasakan oleh panca indera (dilihat, diraba, dihirup, didengar, dikecap). Itulah hakikat materi.

Saat ini manusia berlomba-lomba bekerja pagi hingga malam untuk mendapatkan segala hal dalam bentuk benda. Namun manusia lupa bahwa ada rezeki lain yang tidak kalah penting, malahan lebih penting dari benda itu sendiri.
Rezeki bukan materi semata
Sesuatu yang sering dilupakan manusia adalah kesehatan, kelapangan, kedekatan dan beberapa hal lain. Mengapa pola hidup manusia bisa bergeser saat ini ke arah semakin materialistis?. Sejarahnya memang panjang dan ini ada kaitannya dengan renaisans di Eropa dan sejarah globalisasi itu sendiri sejak era Jalur Sutra.

Coba anda sejenak melihat sekeliling kita, pasti ada fenomena seperti ini:
1. Seseorang banyak harta tapi saki keras atau keluarga berantakan.
2. Seseorang punya aset melimpah tapi kena kasus korupsi, dipenjara.
3. Uang seseorang habis untuk bayar pengobatan dan lainnya.

Mengapa semua bisa terjadi?. Karena pada dasarnya dunia ini adalah kesenangan yang menipu seperti Allah sebutkan di Al Quran. Sebuah ironi bukan di masa muda kita nyari harta banyak, saat umur 50 tahunan ke atas mulai sakit-sakitan dan harta kemudia dijual untuk berobat yang ujung-ujungnya mati juga.

Apa yang kita banggakan sebenarnya?. Kita saat ini terjebak oleh nominal-nominal angka, jumlah, hedonisme, barang-barang yang dianggap bernilai padahal semua itu adalah titipan dari Tuhan.

Untuk apa uang banyak tapi sakit-sakitan, utang banyak, dikejar debt collector, keluarga bermasalah dan lainnya. Inilah akibat manusia memutarbalikan konsep definisi rezeki.

Rezeki itu tidak terkait benda tapi kesediaan kita menerima pemberian Allah apapun wujudnya, bisa benda bisa juga suatu keadaan. Hati lapang, kesehatan prima, banyak teman, anak sholeh, rumah dekat mesjid, bisa sholat berjamaah, bisa bersedekah, bisa tersenyum itu semua adalah rezeki.

Apa rahasia orang tua jaman dahulu umurnya panjang-panjang dan tidak pernah sakit keras, pun saat akan meninggal tidak merepotkan oleh sakit luar biasa atau biaya di rumah sakit?. Semua karena keikhlasan hidup mereka.

Di jaman dulu tidak ada banyak kebutuhan seperti pulsa, hang out dll. Mereka hanya hidup sekadarnya, tidak ada banyak pikiran hanya cukup makan dan membesarkan dan mendidik anak. Itu bagi mereka adalah rezeki.

Sekarang kebutuhan sudah bermacam-macam dan membelinya pun memakai uang yang harus dicari dengan berbagai cara. Setelah itu materi atau benda tersebut diposting di medsos dan memancing iri orang lain karena kepemilikan tersebut.

Hasilnya orang lain akan berbuat sama untuk mendapatkan benda tersebut dengan berbagai cara. Mohon maaf sampai banyak orang menjual dirinya hanya karena ingin mendapatkan materi, uang, mobil, rumah dan lainnya. Kita menjadi buta dan tidak peduli mana halal dan haram.

Itulah dunia sobat sekalian, seperti meminum air laut yang asin. Semakin kita minum semakin haus tiada ujungnya. Dunia adalah kesenangan yang menipu, maka alangkah baiknya agar kit bermuhasabah untuk kembali ke track yang benar.

Dekatilah Allah sedekat mungkin, nicaya rezeki apapun akan datang menghampiri tanpa tak terduga dan dari jalan yang tak disangka-sangka. 

Jumat, Agustus 25

Kasus First Travel Salah Siapa?

Kasus First Travel Salah Siapa?

Halo kawan-kawan semua, bagaimana kabarnya hari ini?. Semoga sehat selalu ya. Kali ini saya akan mencoba memberikan argumen tentang kasus yang sedang hot di Indonesia yaitu tentang First Travel. 

Kenapa saya mencoba mengulasnya, karena menurut saya sebagai guru ini masuk dalam salah satu materi pelajaran sosiologi diantaranya pengakuan sosial. 

Sahabat sekalian kasus First Travel ini bermula dari dua pasangan sejoli yang mencoba mendaki hidup dari awalnya pas-pasan dan kini ingin menggapai puncak. Apakah tidak boleh seseorang berusaha keras agar menggapai kesuksesan di dunia?. 

Boleh saja, tidak ada yang salah. Setiap manusia berhak meniti karir, merubah nasib, memperbaiki diri. Akan tetapi salah satu masalah yang sering hinggap di masyarakat kita ini adalah bagaimana mengontrol AMBISI alias HAWA NAFSU.

First Travel pada dasarnya berniat baik, ingin membantu masyarakat untuk berangkat umroh dengan harga miring. Namun dibalik itu semua terselip ambisi pribadi sehingga niat membantu orang lain menjadi rusak. 

Coba lihat harta kekayaan yang bos First Travel miliki (saya tidak usah sebutkan). Bagaimana rasanya konsumen yang tertipu melihat gaya hidup pasangan yang sedang diazab Tuhan ini?. Gambar: disini
Inilah bahaya dari ambisi yang melampaui batas. Kalaupun pemilik First Travel ini baik, pasti ia tidak akan pamer harta kekayaan, jalan-jalan ke luar negeri di medsos. Ingat bahwa semakin anda kaya maka gaya hidup anda semakin sederhana. Bandingkan dengan Bill Gates dan Mark Zuckenberg misalnya.

Inilah salah satu penyakit sosial masyarakat Indonesia yang kini menghantui yaitu keserakahan. Hal ini sering saya jumpai pada orang yang dulunya miskin lalu mendadak kaya. 

Saya juga punya teman yang seperti itu. Dan ketika saya tanya, ia selalu menjawab dengan arogansi tinggi. Seolah-olah dialah yang berkuasa mengubah takdirnya dari miskin menjadi kaya, padahal ada campur tangan Allah didalamnya. 

Orang yang seperti ini banyak yang lupa diri sehingga pada suatu masa akan diputarbalikan oleh Allah karena lupa bersyukur.

Kasus First Travel juga nampaknya buah dari pengalaman masa lalu dimana pasangan sejoli tersebut sering dihina, dilecehkan dll sehingga ingin membalas dengan kesuksesan. Prinsipnya baik, kesuksesan adalah balasa dendam terbaik. 

Namun cara untuk membangun sebuah kesuksesannya yang sangat fatal. Saya tidak akan mengulas tentang metode Ponzi yang mereka gunakan dalam berbisnis umroh, karena saya memang tidak suka bisnis model ini. 

Model bisnis ini jelas sangat tidak cocok dan jangan dilakukan karena hanya menguntungkan orang paling atas dan merugikan orang paling bawah. CATAT!.

Kembali lagi, bahwa ambisi, hawa nafsu, keserakahan menjadi musuh besar manusia yang sejak zaman nabi pun diperingatkan. Al Quran pun berkat bahwa "dunia adalah perhiasan yang menipu". 

Ingat kawan, dunia ini hanya sementara dan janganlah sia-siakan kehidupan sementara ini untuk menghancurkan hidup orang lain pula. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang lain disekitarnya. 

Uang bisa datang dan pergi namun sahabat, teman itulah yang memberikan kehidupan ini lebih berwarna. Jika anda dikenal orang banyak sebagai orang baik, banyak membantu, jujur maka sudah pasti anda akan dikenal sebagai orang kaya (kaya hati tentunya).

Kalau soal harta, tidak usah dipikirkan karena memang rezeki seseorang sudah diatur sesuai kadarnya masing-masing. 

Kita berdoa semoga masalah ini segera selesai dan para nasabah menerima kembali dana yang sudah disetorkan atau diberangkatkan umroh oleh agen lain yang lebih terpercaya. 

Sekali lagi di era sosialita saat ini marilah kita sama-sama mengendalikan ambisi, hawa nafsu serakah dalam diri. 

Karena itulah musuh terkuat manusia di dunia. Jika kita sudah dikuasi hawa nafsu maka kehidupan kita tinggal menunggu kehancuran saja.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close