Guru Geografi: Pedologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 28

Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia

Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia

Tanah di Indonesia secara umum termasuk subur dan dampaknya kegiatan pertanian banyak berkembang di berbagai daerah. Di Indonesia ada dua jenis pertanian yaitu pertanian rakyat dan pertanian perkebunan besar. Pertanian rakyat diselenggarakan oleh penduduk pedesaan atau penduduk di daerah pinggiran kota. 

Pertanian rakyat memiliki sifat : 1) modal yang terbatas, 2) penyerapan tenaga kerja musiman dan bersifat kekeluargaan, 3) pengelolaan lahan dan pertanian secara wiraswasta, 4) jenis tanaman bersifat tanaman bahan makanan dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau subsiten, 5) pertanian rakyat komoditas seperti karet, cengkeh, kelapa dan lada.

Pertanian padi diselenggarakan pada lahan-lahan kering dan laan-lahan basah dengan sistem irigasi dan sistem sawah pasang surut. Pertanian padi pada lahan kering inilah yang membawa masalah dalam usaha pengawetan sumber daya alam yaitu tanah. Lokasi tanah kering perladangan ini dilakukan di daerah perbukitan, lereng gunung dan di daerah hutan sekunder. 

Dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah tidak didapatkan pemeliharaan akan sumber air, usaha pengawetan tanah dengan sistem sengkedan. Ekosistem perladangan pindah-pindah lebih banyak menimbulkan dampak negatif. Bunga tanah habis terbakar dan kembali subur dalam siklus 4 atau 5 tahun setelah penghutanan kembali. Namun giliran berikutnya tak luput dari pembakaran kembali. Pada dasarnya lahan dari hutan sekunder ini masih punya potensi yang tinggi untuk hara tanaman seperti halnya akumulasi humus atau setelah menjadi brown forest soils.
Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia
Pertanian di daerah Dieng
Sistem persawahan Inodonesia dibagi menjadi sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Ahli geografi mendapatkan kenyataan bahwa pemakaian terminologi sistem irigasi ada berbagai macam: pengairan teknik, pengairan setengah teknik dan pengairan sederhana, kadang-kadang tidak cocok dengan berapa lama dan volume air yang mengairi sawah-sawah. Ada beberapa sawah dengan pengairan teknik dan setengah teknik malah tidak berair sama sekali. Dengan ciri pengaliran ini dapat digunakan istilah yang lebih tepat yaitu irigasi sekian bulan.
Sistem pasang surut dilakukan pada lahan-lahan di daerah pantai atau aluvial yang berawa-rawa dengan jenis padi khusus untuk pasang surut. Sawah lebak pada umumnya memiliki pengairan yang permanen karena lokasinya pada daerah aliran sungai. 
Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia
Pertanian pinggir sungai
Perkebunan besar di Indonesia dilakukan pada tanah negara atau tanah milik pribumi, oleh perusahaan negara, perusahaan daerah, oleh pihak swasta nasional atau asing. Pada pertanian perkebunan besar didapati ciri khas yaitu: 1) teknologi pertaniannya lebih tinggi, 2) penanaman modal yang besar, 3) memiliki staf ahli pengelola teknik penanaman, pengolahan produksi dan staf administrasi, 4) penyerapan tenaga kerja tetap, 5) produksi perkebunan dan pertanian untuk ekspor dan konsumsi dalam negeri. Oleh karena pengelolaan tanah didasarkan pada penelitian ilmiah maka pada umumnya pengawetan tanah dapat terjamin baik dari gangguan eksogen atau kultur.

Perkebunan teh, kina dilakukan di daerah pegunungan dari golongan tanah Latosol, Inceptisol, Andosol dan Podzolitk Laterit. Potensi lahan pertanian di Indonesia ditaksir sebesar 41 juta hektar namun hampir setengahnya merupakan lahan kritis. Lahan kritis ini sudah miskin unsur hara sehingga kurang produktif. Penyebab lahan kritis adalah erosi faktor aktifitas manusia. Tingkat kesuburan tanah dicirikan dengan lengkapnya kandungan unsur hara tanah yaitu Nitrogen, Phospor, Potassium dan Kalium. Baca juga: Sifat umum tanah Aluvial
Gambar: disini, disini
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda

Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda

Tanah di muka bumi ini bermacam-macam dan tersebar tidak merata. Salah satu sifat tanah yang nampak jelas baik di permukaan lahan maupun pada penampang horizon adalah warnanya. 
 
Para petani dapat membedakan kesuburan tanah dengan melihat warnanya. Lantas mengapa warna tanah bisa berbeda-beda?. 
 
Tanah hutan yang berwarna cokelat sampai hitam mudah didapati. Warna tanah kecuali warna hijau dan pink sering didapatkan di lapangan. Baca juga: Rumus proyeksi penduduk geometris

Warna tanah sangat dipegaruhi oleh kadar kelembaban di dalamnya. Perubahan warna tanah akibat kelembaban ini terjadi karena koloid-koloid kehilangan air oleh pengaruh drainase, penguapan dan oleh isapan akar tumbuhan. 
 
Perbedaan warna tanah pada dasarnya dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu persenyawaan besi, kandungan bahan organik, persenyawaan kuarsa dan persenyawaan mangan. Baca juga: Jenis dan faktor kekeringan
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah di daerah arid berwarna pucat
Persenyawaan besi dalam tanah mengakibatkan warna tanah bervariasi seperti merah, merah-kecokelatan, cokelat-kemerahan, merah kekuningan, kuning kemerahan sampai kuning. Kadang bisa sampai warna biru keabu-abuan.

Kuarsa dan feldsapar mengakibatkan warna tanah menjadi terang dan pucat. Warna pucat juga terjadi karena proses pencucian yang terjadi pada horizon A terbawah yang dilambangkan dengan horizon A2 karena koloid-koloid berpindah ke horizon B. 
 
Pencucian terjadi pada lingkungan asam karena banyaknya kandungan silikat dari kuarsa dan feldspar asam. Dengan singkat maka kuarsa dan feldspar lah diantara unsur penyebab perbedaan warna yang banyak menentukan. Baca juga: Faktor perambatan suhu permukaan bumi

Pada horizon yang lebih dalam (A2 dan B) sering didapatkan warna yang bercorak belang. Dasar warna tanah itu agak terang (pucat sampai agak putih) ditempeli oleh warna merah jambu, biru dan hitam.
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah di daerah humid cenderung kemerahan
Bahan organik menyebabkan warna tanah yang agak gelap. Bunga tanah atau humus adalah bahan sisa organi yang halus dan disebut juga matiere noire, bertindak sebagai pengubah warna tanah menjadi gelap. 
 
Tubuh tanah yang mengandung pelikan inorganik yang berwarna pucat dapat berubah menjadi agak gelap sampai hitam oleh campuran bahan-bahan organik. 
 
Variasi warnanya mulai dari terang berubah menjadi cokelat, cokelat kemerahan, cokelat tua sampai hitam. Apabila kondisi lingkungan cocok untuk perkembangan humus maka horizon teratas menebal menjadi horizon khas yaitu O. 

Baca juga: 
Terbentuknya guyot di lautan
Faktor melimpahnya sumber daya Indonesia

Dengan penambahan bahan organik antara 5-10%, warna tanah berubah menjadi gelap hitam. Bahan mineral dasar yang berwarna terang dapat berubah menjadi warna kelabu, bila terdapat tambahan bahan organik antara 0,2 dan 5%. 
 
Bahan pelikan dasar yang berwarna kuning berubah menjadi cokelat sampai kelabu tua. Sementara bahan pelikan dasar yang terang berubah menjadi kelabu tua bila tambahan organik itu berkisar antara 2 dan 4%.
 
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah humus dari sisa bahan organik yang membusuk
Penyebaran warna tanah secara geografi sesuai dengan lingkungan fisiografinya. Di daerah iklim tropis basah, bersuhu tinggi didapatkan warna tanah merah karena di region ini terjadi proses oksidasi, karbonasi dan hidrolisis yang tinggi. 
 
Sebaliknya di region iklim kering, sering menunjukan presentasi pelikan garam yang melimpah sehingga horizon reratas memperlihatkan warna putih. 
 
Di region iklim boreal, horizon tanah warna tanah cenderung kelabu tua karena terjadi pencucian baan organik ke lapisan lebih bawah dan karena memang bahan induk kuarsa dan feldspar asam terurai oleh hidrasi. 
 
Gambar: disini, disini

Jumat, September 22

Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

Tanah merupakan bahan bentukan alam yang berasal dari pelapukan batuan atau zat organik lain. T

anah sangat penting bagi kehidupan di muka bumi ini karena tanpa tanah maka tumbuhan tidak bisa hidup, manusia tidak bisa membuat bangunan dan hewan tidak bisa membuat sarang dan berbagai hal lain. 

Ada banyak jenis tanah tersebar di Indonesia dengan masing-masing cirinya. Berikut ini ciri dan jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia:
1. Podzolik merah kuning
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di iklim basah dengan curah hujan diatas 2.500 mm per tahun.
b. Sifat tanahnya basah jika kena air.
c. Banyak terdapat di pegunungan.
d. Cocok untuk kegiatan ladang, kebun, karet, kebun teh, kakao dan kopi.
Sebarannya di Nusa Tenggara, Jawa bagian pegunungan tengah.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Podzolik Merah Kuning
2. Organosol
Ciri:
a. Berasal dari bahan induk organik seperti gambut dan rumput rawa pada daerah iklim basah dengan curah hujan diatas 2.500 per tahun.
b. Sebagian besar masih tertutup gambut dan rawa.
c. Berlokasi di daerah pasang surut.
d. Kaya akan unsur hara dan mudah terbakar di musim kemarau.
Sebarannya di bagian timur Sumatera, Kalimantan bagian selatan dan pantai Papua selatan dan barat.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah organosol atau gambut
3. Aluvial
Ciri:
a. Berasal dari endapan lumpur sungai.
b. Sifat tanah subur.
c. Cocok untuk kegiatan pertanian
Sebaran di dataran rendah dekat sungai seperti Sumatera Timur, Pantura Jawa, Papua Selatan dan Kalimantan bagian selatan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Aluvial
4. Kapur
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan kapur.
b. Sifat tanah kurang subur.
c. Cocok untuk pohon jati.
Sebaran di Gunung kidul, Kendeng, Blora, Sulawesi Selatan dan Tasikmalaya Selatan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah kapur
5. Vulkanik
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan vulkanik yang mengendap di lereng/lembah.
b. Endapan abu gunung api disebut tuff.
c. Sifat tanah subur dan baik untuk pertanian.
Sebaran di daerah lereng gunung api seperti Jawa bagian tengah, Sumatera bagian tengah dan Bali.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Vulkanik
6. Pasir
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batu pasir.
b. Miskin unsur hara dan kadar air sedikit
c. Banyak terdapat di daerah pantai.
Sebaran di Sumatera Barat, Jawa Timur, Parangtritis dan Yogyakarta.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Pasir
7. Humus
Ciri:
a. Disebut juga bunga tanah
b. Berasal dari tumbuhan yang membusuk.
c. Sifat tanah subur.
d. Warna tanah hitam.
Sebaran di daerah yang banyak pegunungan/hutan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Humus
8. Laterit
Ciri:
a. Banyak mengandung besi dan alumunium.
b. Usia batuan relatif tua.
c. Sifat tanah tidak subur.
d. Warna merah mudah dan cocok untuk bahan batu bata.
Sebaran di Pacitan atau dekat Pegunungan Kapur.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Laterit

Senin, Mei 22

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik merupakan salah satu tipe Tanah yang umum dijumpai di daerah konifer atau hutan boreal. Podzolik dikenal pula sebagai spodosol atau podosols. Tanah ini juga termasuk  tipe hutan eukaliptus dan heatlands di Australia selatan. 

Sementara di Eropa barat tanah ini berkembang di daerah dataran rendah yang dibangun oleh campur tangan manusia melalui penggembalaan dan pembakaran. Banyak Tanah podzolik di Eropa berkembang selama 3000 tahun  terakhir sebagai respon dari perubahan vegetasi dan iklim. Baca juga: Terbentuknya stalaktit dan stalagmit

Istilah Tanah podzolik berasal dari bahasa Russia dan diperkenalkan pada 1875 oleh Vasily Dokuchaev. Hal ini mengacu pada pengalaman petani Russia membajak lapisan Tanah berwarna abu (horizon E).

Karakteristik  dan Sebarannya
Podzolik dapat terbentuk hampir pada semua tipe bahan induk namun umumnya berasal dari pasir kuarsa dan batupasir atau butiran sedimen dari batuan magmatik asalkan presipitasi di daerah tersebut tinggi.  

Kebanyakan Tanah podzolik adalah Tanah yang miskin untuk pertanian karena kandungan pasirnya menghasilkan kelembaban dan nutrisi yang minim. Ada yang berpasir dan terlalu kering, yang lainnya punya zona perakaran yang dangkal dan drainase yang buruk akibat sementasi Tanah. 

Rendahnya pH merupakan masalah lain disertai defisiensi fospat dan kandungan alumunium tinggi bersifat racun.

Penggunaan podzolik untuk pertanian adalah kegiatan penggembalaan meski jenis lumpur yang dikeringkan sangat produktif untuk tanaman pangan jika dikombinasikan dengan kapur dan pupuk.
Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya
Lapisan Tanah Podzolik
Horizon E biasanya punya kedalaman 4 - 8 centimeter dan rendah kandungan Fe, Al dan humus. Horison ini terbentuk dalam kondisi lembab, sejuk, asam terutama bila bahan induknya granit dan batu pasir (kaya akan kuarsa). 

Podzolik data  ditemukan di bawah lapisan organik namun di beberapa podzolik, horizon E tidak ada entah itu tertutup oleh aktifitas biologi atau hilang oleh faktor eksternal. Baca juga: Beda ruang, lokasi dan tempat

Podzolik mencakup sekitar 4.850.000 km persegi di seluruh dunia dan biasanya ditemukan di bawah vegetasi kayu. Podzolik paling umum ditemukan di wilayah iklim sedang dan boreal di belahan bumi utara (SKandinavia, Russia, Kanada) namun dapat juga ditemukan di daerah lain termasuk hutan hujan tropis Indonesia bagian selatan dan Australia.

Podzolisasi
Proses utama pembentuk Tanah podzolik dinamakan podzolisation. Ini merupakan proses kompleks dimana bahan organic dan mineral terlaut (besi dan alumunium) tercuci dari horizon A dan E ke horizon B. 

Ini melibatkan pergerakan dan pengendapan bahan organic terlarut. Podzolik terbentuk dalam lanskap berhutan dengan bahan induk kasar dan tinggi kuarsa. 

Tanah ini punya lapisan permukaan khas yang dikenal sebagai horizon spodik yang tersusun atas akumulasi humus dan oksida logam (Fe dan Al). 

Di atas horizon spodik sering muncul lapisan berwana putih dimana Tanah liat dan oksida besi tercuci meninggalkan bahan berteksur kasar yang mengandung mineral utama dan sedikit bahan organik. Baca juga: Mengapa warna tanah bisa berbeda?
Gambar: geo.msu.edu

Rabu, April 12

Karakteristik Tanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya

Karakteristik Tanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya

Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan material yang dibawa oleh sungai. Tekstur tanah aluvial sangat bergantung pada energi dari aliran air itu sendiri. Aliran cepat akan menghasilkan fragmen batu dan kerikil. 

Jika kecepatan air berkurang, maka partikel halus seperti pasir dan lumpur yang akan terbentuk. Tanah alluvial banyak ditemukan pada bentang alam seperti dataran banjir, delta, kipas aluvial, dan gosong pasir. 

Tanah alluvial sering memiliki ketebalan yang berbeda. Hal ini terjadi karena perubahan kecepatan air yang terjadi dari waktu ke waktu. 

Tanah alluvial tergolong tanah yang subur karena membawa nutrisi yang terangkut oleh erosi air dari hulu sungai hingga hilir. 

Sebaran tanah alluvial di Indonesia diantaranya ada di wilayah pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan dan pantai timur sumatera. 
KarakterisitikTanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya
Tanah Alluvial
Berikut karakteristik fisik tanah alluvial:
1. morfologi bervariasi sesuai dengan deposit dan aktifitas eksogen disekelilingnya. 
2. tekstur tanah bervariasi baik secara vertikal maupun horizontal.
3. berwarna gelap dengan variasi lapisan organik.
4. berada di lembah sungai atau pinggir sungai.
5. tanah berpori karena bertekstur liat.
6. porositas dan tekstur yang baik untuk pertanian.

Karakteristik kimia tanah alluvial:
1. proposi nitrogen umumnya rendah
2. proporsi, potasium fospat dan basa memadai
3. proporsi besi oksida dan kapur bervariasi

Tanah aluvial secara umum bermorfologi datar dan teratur sehingga cocok untuk kegiatan pertanian. Contoh pertanian yang bisa diusahkan di tanah alluvial diantaranya jagung, gandum, tebu, kapas, beras, sayuran dan tomat.

Pertanian seperti ini banyak ditemukan jika kamu pergi ke daerah Kali Opak di Yogyakarta atau Kali Serayu di Banyumas. Ketika kemarau, debit sungai akan turun, sehingga tanah akan muncul. Para petani memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Saat musim hujan dan debit air naik, maka ketinggiaan sungai akan menutupi endapan tanah alluvial.

Baca juga: Rumus Iklim Schmidt Ferguson
Gambar: wikimedia

Selasa, April 11

Klasifikasi Tekstur Tanah: Pasir, Lumpur dan Liat

Klasifikasi Tekstur Tanah: Pasir, Lumpur dan Liat

Coba kamu perhatikan tanah di pesawahan dengan di daerah pantai. Apakah tanah tersebut sama?. Tentu saja berbeda, dalam hal ini kita akan bicara tentang tekstur tanah. 
 
Tekstur tanah adalah ukuran dari besar partikel tanah. Bagaimana cara mengelompokkan tekstur tanah?

Ada tiga kelompok utama dari partikel tanah yaitu pasir, lumpur dan liat. Ada banyak sistem klasifikasi tanah dan yang paling umum digunakan adalah sistem USDA.

Baca juga:  
Awan cirrus, stratus dan cumulus
Terbentuknya gunung api di zona subduksi lempeng

- Pasir = ukuran butir 2,0 - 0, 05 mm
- Lempung = ukuran butir 0,05 - 0,002 mm
- Liat = ukuran butir < 0,002 mm
Segitiga Tekstur Tanah
Tanah Pasir
Partikel pasir sangat besar dengan luas permukaan kecil. Oleh sebab itu:
- pasir mudah kering = kemampuan memertahankan kelembaban sangat rendah
- aktifitas kimia sedikit = sulit mendapatkan ikan nutrient, jadi tandus

Tanah Lumpur
Partikel lumpur memiliki luas permukaan terbatas
- aktifitas kimia sedikit = memiliki kandungan nutrisi yang minim
- dapat kompak/melekat dalam jumlah banyak = sirkulasi udara buruk dengan pergerakan air yang banyak

Tanah Liat
Partikel tanah liat sangat kecil = luas permukaan sangat besar. Oleh sebab itu:
- air melekat dengan baik pada tanah liat = kemampuan untuk memertahankan kelembaban sangat tinggi, namun sulit untuk ditanami vegetasi.
- ikatan kimia aktif = banyak mengandung nutrisi

Sebagian besar tanah adalah kombinasi dari pasir, lumpur dan liat.

Bagaimana kita bisa tahu tekstur tanah?. Caranya adalah dengan melakukan eksperimen sederhana. Ambil beberapa sampel tanah lalu masukan dalam botol berisi air, kocok dan biarkan mengendap dengan sendirinya. Baca juga: Pengertian hujan virga
Percobaan Tekstur Tanah
Pasir dan partikel besar akan jatuh ke bawah terlebih dahulu. Setelah itu lumpur akan berada di atas pasir. Setelah itu tanah liat akan berada di bagian paling atas. 
 
Dengan melihat strata tiga komponen tersebut maka kamu akan mengetahui komposisi tekstur tanah yang kamu ambil. Mudah bukan?.  

Baca juga:  
Geologi Patahan Lembang
Proses terbentuknya pegunungan Himalaya
 
Gambar: swarmhub.co.uk, mea.com.au

Minggu, Maret 12

Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya

Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya

Klasifikasi kelas kemampuan lahan merupakan pengelompokan potensi lahan untuk penggunaan berbagai sistem pertanian secara umum tanpa menjelaskan peruntukan untuk jenis tanaman tertentu maupun tindakan-tindakan pengelolaannya. 

Tujuannya adalah untuk mengelompokkan lahan yang dapat diusahakan bagi pertanian berdasarkan potensi dan pembatasnya agar dapat berproduksi secara berselanjutan.

Kelas kemampuan lahan menurut USDA dibedakan menjadi delapan kelas kemampuan lahan. Intensitas dan pilihan penggunaan lahan semakin menurun seiring besarnya angka kelas. 

Kelas I
Tanah-tanah yang termasuk dalam kelas ini sesuai untuk berbagai penggunaan seperti pertanian, penggembalaan, hutan dan cagar alam. Lahan ini punya sedikit kendala yang membatasi penggunaannya. 

Tanah dalam kelas I umumnya bertopografi datar, agak datar dengan bahaya erosi ringan. Tanah umumnya memiliki kedalamnan efektif yang dalam, berdrainase baik dan mudah diolah. 

Kapasitas menahan air baik, kesuburan tanah cukup tinggi atau sangat tanggap terhadap pemupukan. Tanah dalam kelas I aman dari bahaya banjir dan umumnya sesuai untuk penanaman yang intensif. Iklim setempat harus sesuai dengan pertumbuhan tanaman.

Kelas II
Tanah-tanah dalam kelas II ini punya beberapa kendala yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan praktik atau konservasi level sedang. Tanah dalam kelas ini membutuhkan pengelolaan tanah secara hati-hati, termasuk tindakan konservasi tanah untuk mencegah kemerosotan tanah atau untuk meningkatkan hubungan air dan udara jika tanah digunakan untuk pertanian. 


Faktor penghambat pada kelas II sedikit sekali dan tindakan preventif bisa dilakukan. Tanah dapat digunakan untuk tanaman semusim, padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam

Kelas III
Tanah kelas III punya kendala berat sehingga mengurangi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan konservasi khusus atau keduanya. Tanah-tanah dalam kelas III punya pembatas yang lebih berat dari tanah-tanah kelas II dan jika digunakan untuk tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tindakan konservasi yang diperlukan biasanya lebih sulit diterapkan dan dipertahankan. Lahan kelas III dapat digunakan untuk tanaman semusim, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan suaka margasatwa.
Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya
Kemampuan jenis lahan berbeda-beda
Kelas IV
Tanah pada kelas IV punya kendala yang berat pula sehingga membatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Faktor penghambat dan bahaya kerusakan pada tanah-tanah di dalam lahan kelas IV lebih berat daripada tanah-tanah di dalam kelas III sehingga pilihan penggunaannya juga lebih terbatas. 

Jika digunakan untuk tanaman semusim, tanah ini memerlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit untuk diterapkan dan dipertahankan. Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam.

Kelas V
Tanah pada kelas V tidak atau sedikit punya bahaya erosi namun punya pembatas lain yang sulit dihilangkan pilihan penggunaannya menjadi sangat terbatas yaitu untuk padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi dan suaka alam. Ciri lahan kelas V diantaranya terdapat di dasar lembah dan sering kebanjiran.

Kelas VI
Tanah kelas VI memiliki penghambat yang berat sehingga tanah-tanah ini tidak sesuai untuk pertanian. Penggunaan tanah ini hanya terbatas untuk padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar lindung. Tanah kelas ini punya bahaya kerusakan yang tidak bisa dihilangkasn seperti lereng curam, berbatu, hingga iklim yang tidak mendukung.

Kelas VII
Tanah kelas VII memiliki pembatas yang berat sehingga tidak sesuai untuk pertanian dan penggunaannya sangat teratas untuk padang rumput, hutna produksi dan suaka alam. Tanah pada kelas ini punya beberapa bahaya kerusakan seperti lereng curam, tanah dangkal, berbatu, selalu tergenang hingga kandungan garam dan iklim ekstrim.

Kelas VIII
Tanah pada kelas VIII punya pembaras yang menghalangi penggunaan tanah ini untuk produksi tananan secara komersil dan membatasi penggunaannya hanya untuk ekowisata dan suaka alam. 

Tanah ini lebih baik dibiarkan dalam keadaan alami. Contoh lahan kelas VIII adalah tanah yang telah rusak atau sangat terdegradasi, tanah dengan singkapan batuan, pantai berpasir, tanah pembuangan sisa bahan galian dan lahan gundul.

Jumat, Maret 10

Permafrost, Tanah Membeku Abadi

Permafrost, Tanah Membeku Abadi

Tanah di Indonesia pada dasarnya berkisar dari kering hingga lembab, namun bagaimana jika tanah tersebut membeku atau Permaforst?. 

Meskipun banyak manusia hidup di daerah permafrost seperti Siberia, Kanada dan Alaska namun membangun arsitektur di atas permafrost sangat sulit. 

Bangunan nantinya akan menaikan suhu lapisan tanah sehingga es akan mencair. Dampaknya, bangunan akan tenggelam atau runtuh ke dalam lumpur. 

Baca juga:
Genesa batu basal, bentuk dan cirinya
Pengertian biodiversitas hayati dan dampaknya bagi lingkungan

Apa itu permafrost?
Permafrost merupakan lapisan es beku di bawah permukaan bumi yang didalamnya bisa mengandung tanah, kerikil dan pasir. 

Permafrost biasanya berada di pada lapisan tanah dengan suhu dibawah 0⁰ C selama minimal dua tahun.

Permafrost dapat ditemukan di tanah yang berada di bawah lantai samudera dan di daerah dimana suhu jarang naik di atas titik beku. Sebarannya antara lain di Greenland, Alaska, Russia, Cina dan Eropa Timur.
Permafrost, Tanah Membeku Abadi
Tanah Permafrost
Ketebalan permafrost berkisar dari 1 meter hingga lebih dari 1.000 m. Lapisan tanah ini mencakup 22.8 juta km persegi di belahan bumi utara. Tanah beku tidak selalu sama dengan permafrost. 

Lapisan tanah yang membeku selama lebih dari 15 hari per tahun disebut "tanah beku musiman". Lapisan tanah membeku antara 1 - 15 hari dalam setahun disebut "tanah membeku sementara". Sementara permafrost membeku selama dua tahun lebih.

Permafrost tidak selalu terbentuk dalam satu horison tanah, namun ada dua cara utama untuk menggambarkan sebarannya yaitu: continous dan discontinuous. Baca juga: Tipe-tipe pertanian di Indonesia

Continuos permafrost merupakan lapisan tanah beku yang luas di daratan contohnya di Siberia Russia. Sementara discontinuous permafrost merupakan lapisan tanah beku yang terpisah-pisah oleh vegetasi, pegunungan sepanjang tahun. 

Di daerah ini, matahari musim panas melelehkan es selama beberapa minggu atau bulan. Contohnya ada di daerah Teluk Hudson Kanada.

Permafrost, Tanah Membeku Abadi
Tipe Permafrost
Permafrost sangat kaya akan kandungan karbon organik. Menurut perkiraan, lapisan permaforst mengandung 1700 miliar ton karbon organik atau dua kali lipat total karbon di atmosfer. 

Saat tanah membeku, karbon tersimpan di dalamnya namun saat es mencair dekomposisi bahan organik melalui mikroba akan meningkat tajam sehingga sebagian karbon terlepas ke atmosfer sebagai CO₂. Baca juga: Pergerakan angin muson di Indonesia

Ilmuwan yang meneliti permafrost mampu memahami perubahan iklim di bumi dengan mengamati perubahan permafrost. Studi menunjukkan bahwa permafrost bumi menghangat 6⁰ C selama abad ke 20. Ilmuwan memprediksi bahwa permafrost akan mencair pada 2100. 

Lapisan es yang mencair akan menaikkan permukaan air laut dan meningkatakan erosi. Erosi terjadi saat permafrost mencair karena tanah dan sedimen mudah hanyut tanpa es yang mengikat agregat tanah. 

Baca juga: Sebab munculnya embun salju di Dieng 
 
Gambar: alaskakids.org

Rabu, Maret 8

Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya

Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya

Pernahkah anda pergi ke rawa?. Bagaimana rasanya tinggal di daerah rawa?. Rawa merupakan contoh lahan basah yang ada di bumi. Lahan basah adalah salah satu bagian permukaan bumi yang sangat unik dan tersebar tidak merata di bumi. 

Di Indonesia, lahan basah bisa anda jumpai di Kalimantan bagian selatan, Sumatera bagian timur dan Jakarta Utara. Jenis lahan basah berbeda-beda di tiap tempat dan masing-masing punya karakteristik tersendiri. 

Faktor yang memengaruhinya adalah salinitas, jenis tanah, jenis tumbuhan dan fauna yang hidup di dalamnya. Ada dua tipe lahan basah jika ditinjau dari konsep dasar tradisionalnya yaitu lahan basah organik dan lahan basah mineral. 

Baca juga: 
Pengertian biodiversitas hayati di dunia
Perkembangan kota-kota di Indonesia
Tipe-tipe erupsi gunung api yang menakjubkan

1. Lahan Basah Organik
Tipe lahan basah ini mengacu pada istilah peatlands, yaitu lahan basah yang terbentuk oleh akumulasi tumbuhan rawa yang membusuk dan mengendap. Ada dua tipe lahan basah organik yaitu Bogs dan Fens. Keduanya berada di daerah dengan kondisi iklim dan geografis yang sama.

Bogs, merupakan ekosistem lahan basah yang memiliki ciri sebagai berikut: basah, drainase buruk, banyak ditumbuhi lumut dan tanaman berbunga. Bog pada umumnya punya air berjenis asam dan sumber airnya dominan berasal dari hujan.

Bog wetland, pic: media1.britannica.com
Fen, merupakan ekosistem lahan basah yang memiliki ciri: tanahnya lunak, didominasi vegetasi tumbuhan berjenis rumput dan alang-alang. Fen punya kandungan air yang basa dan sumber ainya berasal dari aliran air di permukaan tanah atau run off. Kedua jenis lahan basah organik tersebut diklasifikasikan menurut mekanisme hidrologinya.
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Fen wetland, pic:  mw2.google.com
2. Lahan Basah Mineral
Tipe lahan basah mineral terdiri dari marsh dan swamp. 
Marsh, merupakan tipe lahan basah yang memiliki kandungan mineral tanah yang kurang baik dan banyak ditumbuhi rerumputan. Marsh dapat anda jumpai di wilayah bibir sungai khususnya di sekitar delta sungai. Vegetasi di marsh mengurangi laju aliran air dan meningkatkan kadar nutrisi karena proses sedimentasi itu sendiri.
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Marsh wetland, pic: miseagrant.umich.edu
Swamp, atau rawa merupakan tipe lahan basah yang memiliki drainase sangat buruk dan miskin mineral tanah dan banyak ditumbuhi tumbuhan kayu dan semak. Rawa banyak dijumpai di seluruh dunia dan paling banyak di daerah dataran rendah dekat sungai. 

Beberapa rawa terbentuk dari marsh yang lambat laun mengisi cekungan disekitarnya. Dominasi vegetasi pada dasarnya membedakan antara mars dan swamp. Saya dulu pernah tugas di daerah rawa yaitu Barito Kuala Kalimantan Selatan. Baca juga: Permafrost, si tanah membeku yang unik
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Swamp wetland, pic: media-cdn.tripadvisor.com

Senin, Maret 6

5 Fase Perkembangan Horison Tanah

5 Fase Perkembangan Horison Tanah

Coba perhatikan saat ada orang sedang menggali sumur?. Tentu akan dijumpai berbagai lapisan tanah saat tanah dikeruk semakin dalam. Apakah semua tanah punya perlapisan atau horison yang sama?. 

Tidak, setiap daerah punya perkembangan tanah yang berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhinya diantaranya waktu.

Sama seperti perkembangan manusia, tanah pun punya tingkatan yang berlainan. Mohr dan Baren, dua ahli tanah telah banyak menyumbangkan ilmu pengetahuannya untuk kepentingan pengembangan pertanian. Penelitan mereka berdua menghasilkan adanya lima perkembangan horizon tanah. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Fase Awal (Initial Stage)
Pada fase ini, tanah belum terbentuk dan masih dalam bentuk batuan yang belum melapuk. 
2. Fase Muda (Juvenile Stage)
Pada fase ini batuan induk sudah mulai melapuk namun partikelnya masih kasar dan belum halus seperti tanah. 
3. Fase Remaja (Virile Stage)
Pada fase ini mineral tanah berasal dari batuan induk yang sudah melapuk sudah mulai halus. Proses dekomposisi menghasilkan banyak fraksi tanah liat.
4. Fase Tengah Tua (Senile Stage)
Pada fase ini dekomposisi memasuki tahap air dan hanya beberapa jenis mineral pelikan yang masih utuh atau resisten.
5. Fase Tua (Final Stage)
Fase ini merupakan bagian akhir dari sebuah perkembangan tanah dimana butir tanah sudah halus dan bisa dibedakan satu sama lain.
5 Fase Perkembangan Horison Tanah
Perkembangan Tanah
Contoh dari perkembangan tanah adalah sebagai berikut:
1. Entisol = tingkat muda
2. Mollisol = tingkat remaja
3. Alfisol = tingkat tua

Semakin tua tanah maka biasanya perkembangan tanah atau horisonnya semakin sempurna, khususnya di daerah tropis. Dari mulai Horison O sampai R memerlihatkan penampang yang jelas.
8 Jenis Tanah di Indonesia

8 Jenis Tanah di Indonesia

Tanah merupakan bahan bentukkan alam yang berasal dari pelapukan batuan. Perkembangan tanah di berbagai penjuru dunia berbeda-beda dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama batuan induk, iklim, organisme, topografi dan waktu. 

Di Indonesia variasi jenis tanah sangat banyak mulai dari daerah dataran rendah, pegunungan hingga rawa. Berikut ini jenis-jenis tanah di Indonesia:
1. Tanah Aluvial
Merupakan tanah yang terbentuk dari hasil sedimentasi material halus oleh aliran sungai. Tanah aluvial terdapat di wilayah pantai timur Suamtera, pantai utara Jawa serta di sepanjang sungai seperti Barito, Mahakam, Musi, Begawan Solo, Serayu hingga Citarum.
8 Jenis Tanah di Indonesia
2. Tanah Andosol
Merupakan tanah yang terbentuk dari abu vulkanik gunung api. Sebaran tanah ini ada di lereng gunung api seperti di lereng Gunung Sinabung, Merapi, Kelud, Batur, dan Rinjani.
8 Jenis Tanah di Indonesia

3. Tanah Regosol
Tanah ini terbentuk dari hasil sedimentasi abu vulkanik baru bertekstur kasar. Sebarannya ada di Jawa, Bali dan Nusa Tengggara.
8 Jenis Tanah di Indonesia
4. Tanah Grumosol
Tanah ini terbentuk dari material halus lempung serta memiliki warna kelabu hitam dengan tingkat kesuburan tinggi. Jenis tanah ini cocok untuk budidaya padi, jagung, kedelai atau tanaman pertanian lain. Sebarannya ada di Jawa Tengah, Sumatera dan Sulawesi.
8 Jenis Tanah di Indonesia

5. Tanah Kapur
Terbentuk karena adanya pengaruh pelapukan yang mengubah batuan kapur menjadi tanah kapur. Sebaran tanah ini ada di wilayah perbukitan kapur seperti Gunung Kidul, Pacitan dan Karangnunggal Tasikmalaya.
8 Jenis Tanah di Indonesia
6. Tanah Litosol
Tanah ini terbentuk karena batuan beku yang mengalami pelapukan lanjut. Sebarannya di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua.
8 Jenis Tanah di Indonesia
7. Tanah Gambut
Merupakan tanah organik yang berasal dari pembusukan sisa tumbuhan rawa. Sebarannya meliputi wilayah Rawa di Kalimantan bagian Selatan, Sumatera bagian Timur dan Papua bagian selatan. Tanah ini bertipe asam dengan sirkulasi air buruk.
8 Jenis Tanah di Indonesia
8. Tanah Podzolik
Tanah ini terbentuk dari batuan induk pasir dan punya tingkat kesuburan rendah. Sebarannya meliputi Jawa, Bali, dan Lombok.
8 Jenis Tanah di Indonesia
Gambar: flickr, Mongabay, geocases

Jumat, Februari 17

Horizon Epipedon Tanah

Horizon Epipedon Tanah

Epipedon merupakan horizon permukaan (tidak sama dengan horizon A), dapat mencakup seluruh horizon A atau lebih tipis dari horizon A. Kadang juga termasuk sebagian atua seluruh horizon B (jika horizon B berwarna gelap yaitu value kurang dari sama dengan 3, tidak masif dan kadnungan C-organik memenuhi kriteria epipedon mollik).

Beberapa epipedon yang penting dan umum ditemukan di Indonesia adalah mollik, umbrik dan ochrik. Di tanah gambut juga dijumpai epipedon histik. Sementara di daerah volkan kemungkinan dijumpai melanik. 
Horizon Epipedon Tanah
Horizon Tanah
a. Epipedon mollik merupakan horizon permukaan yang punya sifat sebagai berikut:
- perkembangan struktur cukup kuat, sehingga tanah tetap lembut jika kering.
- warna gelap (value chroma < 3 jika lembab dan value < 3 jika kering.
- kandungan bahan organik > 1% atau > 0.6 % C-organik.
- tebalnya harus > 18 cm.
- memiliki nilai kejenuhan basa > 50%.
- beberapa bagian dari epipedon lembab > 90% hari per tahun.
- kadar P larut dalam asam sitrat < 1.500 ppm.
- nilai n < 0,7.

b. Epipedon umbrik, sama dengan epipedon mollik kecuali nilai kejenuhan basa < 50%

c. Epipedon okrik, seperti epipedon mollik dan umbrik kecuali
- warna value dan chroma > 3 jika lembab dan > 5 jika kering.
-  kadnunga bahan organik < 1%.
- ketebalannya tidak memenuhi kriteria untuk mollik dan umbrik.
- nilai n > 0,7 %.
- masif jika kering.
- warna seprti mollik, namun tebal tidak memenuhi kriteria mollik.

d. Epipedon histik, horizon permukaan yang jenuh air > 30 hari dan tereduksi, tersusun dari bahan organik dengan tebal 20 - 60 cm.

e. Epipedon melanik,  horizon permukaan yang punya sifat tanah andik tebal > 30 cm, berwarn agelap (value dan chroma < 2), indeks melanik < 1,70 pada seluruh ketebalan, kandungan C-organik > 6%.

f. Epipedon anthropik, horizon permukaan yang punya sifat seperti epipedon mollik namun kadar P larut dalam asam sitrat > 1.500 ppm.

g. Epipedon folistik, lapisan permukaan yang tersusun atas bahan organik dengan tebal > 20 cm (bahan organik kasar) atau > 15% (bahan organik sedang atau halus).

h. Epipedon plaggen, horizon permukaan berwarna gelap dengan tebal > 50 cm sebagai akibat dipupuk dengan pupuk organik secara terus-menerus selama bertahun-tahun.
Gambar: www.what-when-how.com

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close

Iklan Melayang