Guru Geografi: Pedologi | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 25

Faktor-Faktor Erosi Tanah: Ukuran Partikel Tanah, Porositas, Level Infiltrasi, Struktur Tanah dan Kandungan Organik

Faktor-Faktor Erosi Tanah: Ukuran Partikel Tanah, Porositas, Level Infiltrasi, Struktur Tanah dan Kandungan Organik

Erosi tanah adalah proses alami atau manusia di mana lapisan tanah terdegradasi atau dihilangkan dari permukaan tanah oleh faktor-faktor seperti air, angin, aliran sungai, atau aktivitas manusia. Erosi tanah dapat terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang lama atau secara cepat dalam waktu singkat, tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya

Tekstur tanah memainkan peran penting dalam proses erosi tanah. Tekstur tanah merujuk pada ukuran partikel dan proporsi pasir, debu, dan liat dalam tanah. Beberapa faktor yang berkaitan dengan tekstur tanah dapat mempengaruhi tingkat erosi yang terjadi. Berikut adalah beberapa hubungan antara tekstur tanah dan erosi:

1. Ukuran partikel tanah: Tanah yang mengandung banyak pasir cenderung memiliki tingkat erosi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang mengandung banyak liat. Partikel pasir yang lebih kasar memungkinkan air hujan dan aliran air lebih mudah melewati tanah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya erosi.

2. Porositas: Tekstur tanah juga berhubungan dengan porositas atau ruang kosong di antara partikel tanah. Tanah yang terdiri dari partikel-partikel kecil dan padat seperti liat memiliki porositas yang rendah, sehingga mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air. Ketika tanah tidak mampu menahan air hujan, aliran air permukaan yang berlebihan dapat menyebabkan erosi.

3. Kemampuan infiltrasi: Kemampuan infiltrasi tanah untuk menyerap air hujan juga terkait dengan tekstur tanah. Tanah dengan tekstur liat yang tinggi cenderung memiliki infiltrasi yang lambat, sedangkan tanah dengan pasir yang tinggi memiliki infiltrasi yang cepat. Tanah dengan infiltrasi yang lambat lebih rentan terhadap erosi karena air hujan yang tidak terserap dengan baik akan mengalir sebagai aliran permukaan, mempercepat erosi.

4. Struktur tanah: Selain tekstur, struktur tanah juga mempengaruhi erosi. Tanah yang memiliki struktur yang baik, seperti agregat-agregat tanah yang stabil, dapat membantu mengurangi erosi dengan meningkatkan daya tahan tanah terhadap aliran air. Struktur tanah yang baik dapat membantu mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi laju aliran permukaan, sehingga mengurangi erosi.

5. Kandungan bahan organik: Kandungan bahan organik dalam tanah juga berperan dalam mengurangi erosi. Bahan organik dapat meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air, membentuk agregat tanah yang stabil, dan meningkatkan daya tahan tanah terhadap erosi.

Penting untuk diingat bahwa tekstur tanah hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi erosi. Faktor lain seperti kemiringan lahan, curah hujan, tata guna lahan, dan praktik pertanian juga berperan penting dalam proses erosi pada sebuah lahan.

Minggu, Januari 29

Jenis-Jenis Tanah dan Pemanfaatannya

Jenis-Jenis Tanah dan Pemanfaatannya

Tanah adalah material penting yang berasal dari pelapukan batuan non organik maupun organik. Kehidupan mahluk hidup terutama manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah di lingkungannya.

Berikut ini jenis-jenis tanah yang terdapat di permukaan bumi dan pemanfaatannya bagi kehidupan.

Tanah Vulkanis, yaitu tanah yang berasal dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh letusan gunung berapi. Tanah ini terdapat banyak di sekitar lereng gunung api dan dimanfaatkan untuk pertanian.

Tanah Kapur, yaitu tanah yang memiliki porositas tinggi, tanah ini kurang subur, dan banyak terdapat di pegunungan kapur. Tanah kapur cocok untuk budidaya jati dan jambu mede.

Tanah Laterit, yaitu tanah vulkanis yang telah kena proses pelarutan karena hujan yang banyak serta suhu yang tinggi, sehingga warnanya dari kelabu berubah menjadi kemerah-merahan. Tanah laterit bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan batu bata atau gerabah.

Tanah Padzol atau podzolik, yaitu tanah vulkanis yang terkena hujan banyak, tetapi dengan suhu yang rendah, dan banyak terdapat di daerah pegunungan. Warnaya kekuning-kuningan. Tanah padzol bisa dimanfaatkan untuk perkebunan kopi atau kakao.
Kegiatan pertanian di tanah yang subur

Tanah Margalit, yaitu tanah yang terjadi dari batuan yang banyak mengandung kapur dengan pengaruh hujan yang tidak merata sepanjang tahun, sehingga warnanya berubah menjadi hitam. Tanah margalit bisa dimanfaatkan untuk bahan baku campuran industri kapur.

Tanah Terrarosa, yaitu tanah yang terbentuk karena hasil pelarutan batuan kapur, tanah ini banyak ditemukan di dasar-dasar lembah dan dolina-dolina pegunungan kapur. Tanah terarosa bisa dimanfaatkan untuk bahan campuran semen.

Tanah Liat, yaitu jenis tanah yang memiliki butiran-butiran yang halus, dan bentuknya berupa lempeng sifat dari tanah ini, bila kena air sangat lekat dan jika kering menjadi keras dan pecah-pecah. Tanah liat bisa digunakan untuk bahan baku industri gerabah.

Tanah Napal, yaitu tanah liat yang tercampur dengan batu kapur. Tanah ini kurang baik untuk kegiatan pertanian.

Tanah Kaolin, yaitu jenis tanah liat yang baik untuk membuat barang jenis keramik.

Tanah Rawang (organosol), yaitu tanah yang terbentuk dari sisa tumbuhan dan terdapat di daerah yang selalu terendam air.

Tanah Padas, yaitu tanah yang padat, akibat mineral yang dikeluarkan oleh air dari lapisan bagian atas tanah.

Tanah Aluvival, yaitu tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai. Tanah ini bersifat subur sehingga baik untuk pertanian.

Tanah Pasir, yaitu tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk. Tanah ini sangat miskin dan kadar air di dalamnya sangat sedikit. Tanah pasir yang terdapat di pantai pasir disebut sand dune. Contohnya pantai Parangtirtis, Yogyakarta.

Tanah Humus (Bunga Tanah), yaitu tanah yang terjadi dari tumbuhan yang telah membusuk. Tanah yang mengandung humus bersifat sangat subur dan umumnya berwarna hitam. Tanah humus cocok untuk kegiatan budidaya pertanian.

Tanah Lempung (debu), Yaitu tanah yang tidak mudah merembaskan air. Tanah lempung lebih berat daripada tanah pasir, tetapi lebih ringan daripada tanah liat. Butir-butirnya lebih halus daripada tanah pasir, tetapai lebih longgar daripada tanah liat.

Minggu, Oktober 30

7 Persebaran Jenis-Jenis Tanah di Wilayah Indonesia

7 Persebaran Jenis-Jenis Tanah di Wilayah Indonesia

Lapisan permukaan bumi kita tersusun atas tanah yang merupakan bagian paling atas dari litosfer. Tanah adalah lapisan batuan gembur yangt erbentuk dari pelapukan batuan induk danp pembusukan bahan organik.

Tanah dapat diartikan juga sebagai kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam suatu horison-horison, yang terdiri atas bahan mineral, bahan organik, air dan udara.

Di Indonesia terdapat beragam jenis tanah di berbagai wilayah sehingga pemanfaatan tanahnya pun berbeda. Berikut ini beberapa jenis tanah yang berkembang di Indonesia.

1. Tanah Humus
Tanah humus berasal dari pembusukan bahan-bahan organik dan bersifat sangat subur. Humus memiliki ketebalan relatif dangkal antara 5 cm sampai kurang lebih 1 meter. Di wilayah hutan hujan, humus akan berkembang lebih tebal. Tanah humus akan berwarna gelap dan lembab.

Tanah humus sangat subur dan baik untuk kegiatan budidaya pertanian baik palawija atau hortikultura. Tanah humus dapat banyak ditemukan di wilayah Sumatera, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Papua.
Tanah humus

2. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang berasal dari pelapukan batu pasir yang miskin hara, daya tanah air minim dan mudah tererosi. Tanah pasir banyak ditemukan di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Tanah pasir bersifat kering dan banyak ditemukan di wilayah tandus.
Tanah pasir

3. Tanah Aluvial
Tanah aluvial adalah tanah yang berasal dari endapan material lumpur yang dibawa oleh aliran air sungai. Kemampuan meresap air lambat dan mudah tererosi. Tanah aluvial berfiat subur dan bisa digunakan untuk kegiatan pertanian.

Tanah aluvial bisa ditemukan di semua pulau di Indonesia karena dapat terbentuk di daerah dataran rendah, lembah sungai, cekungan, atau aliran sungai besar. 

Tanah aluvial bisa digunakan untuk persawahan, ladang, kebun. Dataran aluvial biasa padat penduduk sejak jaman dahulu.
Tanah aluvial

4. Tanah Podzolik Merah Kuning
Tanah podzolik merah kuning adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan yang mengandung kuarsa pada iklim basah dengan curah hujan antara  > 2000 mm per ahun. Sifat tanah podzolik adalah mudah basah jika kena air.

Tanah podzolik memiliki ciri miskin unsur hara dan tidak subur. Tanah podzolik merah kuning cocok untuk ditanami kelapa dan jambu mete.  Jenis tanah ini banyak terdapat di pegunungan yang tinggi seperti di Sumatera, Sulawesi, Papua, Jawa Barat, Maluku dan Nusa Tenggara. Di kawasan ini biasa ditemukan persawahan, perladangan, kebun karet dan kopi.
Tanah podsolik di pegunungan

5. Tanah Vulkanik
Tanah vulkanis berasal dari endapan material gunung api. Tanah vulkanik terbagi menjadi andosol, regosol dan tuff. Tanah vulkanik bersifat kaya unsur mineral hara yang menjadikannya cocok untuk pertanian.

Tanah andosol memiliki tekstur sangat halus, sementara regosol memiliki tekstur agak kasar. Sementara itu tanah tuff memiliki warna pucat kelabu yang berasla dari endapan abu vulkanik.

Masyarakat di lereng-lereng gunung api sudah biasa memanfaatkan tanah vulkanik untuk kegiatan pertanian sayuran terutama.

6. Tanah Laterit
Tanah laterit kaya akan unsur logam besi dan alumunium, tidak subur, tandus, berwarna kekuningan hingga kemerahan. Tanah laterit tadinya bisa merupakan tanah yang subur namun mengalami pencucian sehingga unsur haranya hilang.

Tanah laterit biasa disebut juga tanah merah. Tanah laterit cocok untuk bahan baku gerabah dan batu bata. Tanah laterit juga cocok untuk budidaya kelapa dan jambu mete. Tanah laterit tersebar di Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara.
Tanah vulkanik
7. Tanah Kapur
Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari pelapukan batu kapur atau gamping. Tanah kapur banyak terbentuk pada zona pegunungan karst tua seperti Pegunungan Sewu. Tanah kapur cocok untuk budidaya jati dan jambu mete.

Tanah kapur terdiri atas kelompok renzina dan mediteran. Renzina berasal dari pelapukan batu kapur di wilayah curah hujan tinggi. Warna tanah ini hitam dan kusam dan bersifat tidak subur. Renzina banyak ditemukan di Gunung Kidul Yogyakarta.

Mediteran adalah tanah hasi pelapukan batu kapur keras dan berwarna cokelat tapi masih bisa digunakan untuk budidaya palawija, jati, tembakau dan mete.
Tanah renzina
Tanah mediteran

Sabtu, Agustus 13

Mendeskripsikan Faktor-Faktor Pembentukan Tanah

Mendeskripsikan Faktor-Faktor Pembentukan Tanah

Tanah adalah salah satu komponen penting dalam kehidupan kita di permukaan bumi. Pada dasarnya tanah itu berasal dari pelapukan batuan baik itu batuan vulkanik maupun organik seperti karang.

Kita akan lihat definisi tanah dan faktor pembentukkannya. Tanah dalam bahasa Inggris adalah soil. 

Tanah (Soil) adalah suatu tubuh alam yang terbentuk dari campuran hasil pelapukan batuan (anorganik), organik, air dan udara yang menempati bagian paling atas dari litosfer. 

Tubuh tanah terdiri atas batuan yang telah mengalami pelapukan, kemudian bercampur dengan sisa-sisa bahan organik, air, udara, dan mengalami proses fisika dan kimia membentuk lapisan tanah. Lapisan tanah yang menempati bagian paling atas litosfer ini disebut juga pedosfer.

Lalu apa saja sih komponen tanah itu?. Setidaknya ada 5 komponen tanah yang utama yaitu:
1. Mineral (Fraksi Organik) yaitu hasil rombakan bahan batuan dan bahan anorganik di permuaan bumi.
2. Bahan Organik / Humus yaitu sisa-sisa jasad renik tanaman, binatang atau kotoran binatang.
3. Air
4. Udara
5. Mikroorganisme/pengurai seperti cacing tanah, bakteri, jamur

Faktor Pembentuk Tanah

Setiap tempat tentu memiliki jenis tanah berbeda satu sama lain baik dari segi jenis, warna, ketebalan dan lainnya. Nah hal ini dikarenakan faktor pembentukan tanah bervariasi dan setiap tempat memiliki perbedaan kombinasi faktor pembentuk tanah tersebut.

Faktor pembentukkan tanah adalah batuan induk, iklim, topografi, organisme dan waktu. Mari kita bahas lebih detail berikut ini:

1. Batuan Induk
Bahan induk tanah adalah batuan. Bahan induk tanah terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk lalu mengalami pelapukan (weathering) menjadi tanah. 

Tanah sebagian besar akan memperliatkan sifat (utamanya kimia) yang sama dengan batuan induknya. Contoh tanah kapur akan memiliki kandungan kimia Kalsium Karbonat sama dengan batu kapur.

2. Iklim
Unsur-unsur iklim utama yang mempengaruhi proses pembentukan tanah adalah suhu dan curah hujan. Suhu berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Sedangkan curah hujan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah. Pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam. 

Tanah yang berkembang di iklim arid/kering tentu akan berbeda dengan tanah yang berkembang di iklim humid/basah. 

3. Topografi
Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi terhadap tebal atau tipisnya lapisan tanah. Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi. Sebaliknya, daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi proses sedimentasi. Daerah yang drainase buruk seperti rawa akan menyebabkan tanah menjadi asam.

4. Organisme
Organisme dalam tanah seperti cacing, tikus tanah, akar tumbuhan tentu akan bepengaruh pada proses pelapukan batuan dan pembentukkan humus. Lubang hasil galian tikus atau cacing juga akan berfungsi mengalirkan air dari permukaan ke bawah tanah.

5. Waktu
Tanah itu kan selalu berubah dari waktu ke waktu akibat pelapukan dan pencucian yang terus-menerus atau berkesinambungan. Tanah akan semakin kurus seiring waktu dan unsur haranya berkurang. Tanah muda ditandai dengan pembentukan tanah yang masih nampak percampuran bahan organik dengan mineral seperti tanah aluvial, regosol dan litosol.

Tanah dewasa dicirikan dengan munculnya horizon B seperti andosol, latosol dan grumosol. Sementara itu tanah tua dicirikan dengan perubahan siginifikan di horison A dan B contohnya laterit dan podsolik.

Lama waktu pembentukkan tanah berbeda-beda dari 100 tahun hingga 10.000 tahun. Berikut ini contoh susunan horizon tanah yang terbentuk sempurna.
Perlapisan/horizon tanah

Senin, April 18

Karakteristik Horizon Tanah O, A, B, C, R

Karakteristik Horizon Tanah O, A, B, C, R

Kita tentu tahu bahwa tanah adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan dan setiap hari kita melihat tanah dimana-mana. Namun untuk mengamati tanah dari permukaan sampai ke bawah diperlukan penggalian.

Untuk mengamati dan mempelajari tanah di lapangan, perlu dilakukan penggalian tanah dengan dimensi minimal 1 x 1 x 1 meter. Dinding / penampang vertikal dari tanah yang memperlihatkan susunan horison dinamakan profil tanah, yang merupakan suatu jendela untuk memahami tanah. 

Seperti juga tanah, profil tanah berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Profil tanah yang berkembang pada daerah panas dan kering mempunyai susunan horison yang berbeda dengan profil tanah pada daerah tropis dan lembab. Horison genetik utama yang terdapat di dalam tanah dan dinamakan sebagai horison O, A, E, B, C dan R.
Penampang horizon tanah

Horison O merupakan horison yang mengandung kadar bahan organik tinggi sedangkan fraksi mineralnya sangat sedikit. Ketebalan horison O sangat tergantung kepada adanya akumulasi bahan organik di permukaan tanah. Jika terjadi akumulasi bahan organik yang banyak maka horison O akan tebal dan sebaliknya tipis jika akumulasi bahan organik sedikit atau bisa saja tidak terdapat sama sekali horison O. Pada horison ini terjadi aktivitas biologi yang tinggi.

Horison A adalah horison mineral yang terdapat dibawah Horison O. Horison A terbentuk akibat akumulasi bahan organik halus yang telah melapuk dan bercampur dengan bahan mineral tanah. Aktivitas biologi dapat diamati dengan jelas dan banyak dijumpai perakaran kasar, halus dan sedang.

Horison E (E = Eluviasi) adalah horison yang telah mengalami pencucian dan kehilangan (eluviasi) liat, besi, alumunium dan bahan organik sehingga horison berwarna pucat atau lebih terang bila dibandingkan dengan horison diatas atau dibawahnya. Akibat kehilangan liat, Fe, Al atau bahan organik, maka horison E didominasi oleh pasir dan debu saja.

Horison B adalah horison bawah-permukaan yang mempunyai sifat-sifat (salah satu atau lebih) berikut:
o terjadinya iluviasi (penimbunan) liat, Fe, Al, humus, karbonat, gipsum atau silika;
o terjadinya penimbuan seskuioksida (Fe₂O₃ dan Al₂O₃) akibat dari pencucian Si;
o berwarna lebih merah;
o struktur tanah gumpal, gumpal bersudut, prismatik atau tiang;

Horison C adalah horison bahan induk tanah yang terbentuk akibat pelapukan batuan induk, mengandung banyak batuan tidak padat, pecahan batuan. Diantara retakan dan sela-sela pecahan batuan induk terdapat akar tanaman halus.

Horison R, Batuan Induk (Rock) merupakan lapisan batuan keras yang tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan sulit dipecahkan dengan cangkul dan alat lain secara manual.

Sumber:
Fiantis, Dian. Morfologi dan Klasifikasi Tanah

Sabtu, Oktober 28

Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia

Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia

Tanah di Indonesia secara umum termasuk subur dan dampaknya kegiatan pertanian banyak berkembang di berbagai daerah. Di Indonesia ada dua jenis pertanian yaitu pertanian rakyat dan pertanian perkebunan besar. Pertanian rakyat diselenggarakan oleh penduduk pedesaan atau penduduk di daerah pinggiran kota. 

Pertanian rakyat memiliki sifat : 1) modal yang terbatas, 2) penyerapan tenaga kerja musiman dan bersifat kekeluargaan, 3) pengelolaan lahan dan pertanian secara wiraswasta, 4) jenis tanaman bersifat tanaman bahan makanan dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau subsiten, 5) pertanian rakyat komoditas seperti karet, cengkeh, kelapa dan lada.

Pertanian padi diselenggarakan pada lahan-lahan kering dan laan-lahan basah dengan sistem irigasi dan sistem sawah pasang surut. Pertanian padi pada lahan kering inilah yang membawa masalah dalam usaha pengawetan sumber daya alam yaitu tanah. Lokasi tanah kering perladangan ini dilakukan di daerah perbukitan, lereng gunung dan di daerah hutan sekunder. 

Dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah tidak didapatkan pemeliharaan akan sumber air, usaha pengawetan tanah dengan sistem sengkedan. Ekosistem perladangan pindah-pindah lebih banyak menimbulkan dampak negatif. Bunga tanah habis terbakar dan kembali subur dalam siklus 4 atau 5 tahun setelah penghutanan kembali. Namun giliran berikutnya tak luput dari pembakaran kembali. Pada dasarnya lahan dari hutan sekunder ini masih punya potensi yang tinggi untuk hara tanaman seperti halnya akumulasi humus atau setelah menjadi brown forest soils.
Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia
Pertanian di daerah Dieng
Sistem persawahan Inodonesia dibagi menjadi sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Ahli geografi mendapatkan kenyataan bahwa pemakaian terminologi sistem irigasi ada berbagai macam: pengairan teknik, pengairan setengah teknik dan pengairan sederhana, kadang-kadang tidak cocok dengan berapa lama dan volume air yang mengairi sawah-sawah. Ada beberapa sawah dengan pengairan teknik dan setengah teknik malah tidak berair sama sekali. Dengan ciri pengaliran ini dapat digunakan istilah yang lebih tepat yaitu irigasi sekian bulan.
Sistem pasang surut dilakukan pada lahan-lahan di daerah pantai atau aluvial yang berawa-rawa dengan jenis padi khusus untuk pasang surut. Sawah lebak pada umumnya memiliki pengairan yang permanen karena lokasinya pada daerah aliran sungai. 
Tanah dan Sistem Pertanian di Indonesia
Pertanian pinggir sungai
Perkebunan besar di Indonesia dilakukan pada tanah negara atau tanah milik pribumi, oleh perusahaan negara, perusahaan daerah, oleh pihak swasta nasional atau asing. Pada pertanian perkebunan besar didapati ciri khas yaitu: 1) teknologi pertaniannya lebih tinggi, 2) penanaman modal yang besar, 3) memiliki staf ahli pengelola teknik penanaman, pengolahan produksi dan staf administrasi, 4) penyerapan tenaga kerja tetap, 5) produksi perkebunan dan pertanian untuk ekspor dan konsumsi dalam negeri. Oleh karena pengelolaan tanah didasarkan pada penelitian ilmiah maka pada umumnya pengawetan tanah dapat terjamin baik dari gangguan eksogen atau kultur.

Perkebunan teh, kina dilakukan di daerah pegunungan dari golongan tanah Latosol, Inceptisol, Andosol dan Podzolitk Laterit. Potensi lahan pertanian di Indonesia ditaksir sebesar 41 juta hektar namun hampir setengahnya merupakan lahan kritis. Lahan kritis ini sudah miskin unsur hara sehingga kurang produktif. Penyebab lahan kritis adalah erosi faktor aktifitas manusia. Tingkat kesuburan tanah dicirikan dengan lengkapnya kandungan unsur hara tanah yaitu Nitrogen, Phospor, Potassium dan Kalium. Baca juga: Sifat umum tanah Aluvial
Gambar: disini, disini
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda

Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda

Tanah di muka bumi ini bermacam-macam dan tersebar tidak merata. Salah satu sifat tanah yang nampak jelas baik di permukaan lahan maupun pada penampang horizon adalah warnanya. 
 
Para petani dapat membedakan kesuburan tanah dengan melihat warnanya. Lantas mengapa warna tanah bisa berbeda-beda?. 
 
Tanah hutan yang berwarna cokelat sampai hitam mudah didapati. Warna tanah kecuali warna hijau dan pink sering didapatkan di lapangan. Baca juga: Rumus proyeksi penduduk geometris

Warna tanah sangat dipegaruhi oleh kadar kelembaban di dalamnya. Perubahan warna tanah akibat kelembaban ini terjadi karena koloid-koloid kehilangan air oleh pengaruh drainase, penguapan dan oleh isapan akar tumbuhan. 
 
Perbedaan warna tanah pada dasarnya dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu persenyawaan besi, kandungan bahan organik, persenyawaan kuarsa dan persenyawaan mangan. Baca juga: Jenis dan faktor kekeringan
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah di daerah arid berwarna pucat
Persenyawaan besi dalam tanah mengakibatkan warna tanah bervariasi seperti merah, merah-kecokelatan, cokelat-kemerahan, merah kekuningan, kuning kemerahan sampai kuning. Kadang bisa sampai warna biru keabu-abuan.

Kuarsa dan feldsapar mengakibatkan warna tanah menjadi terang dan pucat. Warna pucat juga terjadi karena proses pencucian yang terjadi pada horizon A terbawah yang dilambangkan dengan horizon A2 karena koloid-koloid berpindah ke horizon B. 
 
Pencucian terjadi pada lingkungan asam karena banyaknya kandungan silikat dari kuarsa dan feldspar asam. Dengan singkat maka kuarsa dan feldspar lah diantara unsur penyebab perbedaan warna yang banyak menentukan. Baca juga: Faktor perambatan suhu permukaan bumi

Pada horizon yang lebih dalam (A2 dan B) sering didapatkan warna yang bercorak belang. Dasar warna tanah itu agak terang (pucat sampai agak putih) ditempeli oleh warna merah jambu, biru dan hitam.
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah di daerah humid cenderung kemerahan
Bahan organik menyebabkan warna tanah yang agak gelap. Bunga tanah atau humus adalah bahan sisa organi yang halus dan disebut juga matiere noire, bertindak sebagai pengubah warna tanah menjadi gelap. 
 
Tubuh tanah yang mengandung pelikan inorganik yang berwarna pucat dapat berubah menjadi agak gelap sampai hitam oleh campuran bahan-bahan organik. 
 
Variasi warnanya mulai dari terang berubah menjadi cokelat, cokelat kemerahan, cokelat tua sampai hitam. Apabila kondisi lingkungan cocok untuk perkembangan humus maka horizon teratas menebal menjadi horizon khas yaitu O. 

Baca juga: 
Terbentuknya guyot di lautan
Faktor melimpahnya sumber daya Indonesia

Dengan penambahan bahan organik antara 5-10%, warna tanah berubah menjadi gelap hitam. Bahan mineral dasar yang berwarna terang dapat berubah menjadi warna kelabu, bila terdapat tambahan bahan organik antara 0,2 dan 5%. 
 
Bahan pelikan dasar yang berwarna kuning berubah menjadi cokelat sampai kelabu tua. Sementara bahan pelikan dasar yang terang berubah menjadi kelabu tua bila tambahan organik itu berkisar antara 2 dan 4%.
 
Faktor Warna Tanah Berbeda-Beda
Tanah humus dari sisa bahan organik yang membusuk
Penyebaran warna tanah secara geografi sesuai dengan lingkungan fisiografinya. Di daerah iklim tropis basah, bersuhu tinggi didapatkan warna tanah merah karena di region ini terjadi proses oksidasi, karbonasi dan hidrolisis yang tinggi. 
 
Sebaliknya di region iklim kering, sering menunjukan presentasi pelikan garam yang melimpah sehingga horizon reratas memperlihatkan warna putih. 
 
Di region iklim boreal, horizon tanah warna tanah cenderung kelabu tua karena terjadi pencucian baan organik ke lapisan lebih bawah dan karena memang bahan induk kuarsa dan feldspar asam terurai oleh hidrasi. 
 
Gambar: disini, disini

Jumat, September 22

Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

Tanah merupakan bahan bentukan alam yang berasal dari pelapukan batuan atau zat organik lain. T

anah sangat penting bagi kehidupan di muka bumi ini karena tanpa tanah maka tumbuhan tidak bisa hidup, manusia tidak bisa membuat bangunan dan hewan tidak bisa membuat sarang dan berbagai hal lain. 

Ada banyak jenis tanah tersebar di Indonesia dengan masing-masing cirinya. Berikut ini ciri dan jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia:
1. Podzolik merah kuning
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan yang mengandung mineral kuarsa di iklim basah dengan curah hujan diatas 2.500 mm per tahun.
b. Sifat tanahnya basah jika kena air.
c. Banyak terdapat di pegunungan.
d. Cocok untuk kegiatan ladang, kebun, karet, kebun teh, kakao dan kopi.
Sebarannya di Nusa Tenggara, Jawa bagian pegunungan tengah.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Podzolik Merah Kuning
2. Organosol
Ciri:
a. Berasal dari bahan induk organik seperti gambut dan rumput rawa pada daerah iklim basah dengan curah hujan diatas 2.500 per tahun.
b. Sebagian besar masih tertutup gambut dan rawa.
c. Berlokasi di daerah pasang surut.
d. Kaya akan unsur hara dan mudah terbakar di musim kemarau.
Sebarannya di bagian timur Sumatera, Kalimantan bagian selatan dan pantai Papua selatan dan barat.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah organosol atau gambut
3. Aluvial
Ciri:
a. Berasal dari endapan lumpur sungai.
b. Sifat tanah subur.
c. Cocok untuk kegiatan pertanian
Sebaran di dataran rendah dekat sungai seperti Sumatera Timur, Pantura Jawa, Papua Selatan dan Kalimantan bagian selatan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Aluvial
4. Kapur
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan kapur.
b. Sifat tanah kurang subur.
c. Cocok untuk pohon jati.
Sebaran di Gunung kidul, Kendeng, Blora, Sulawesi Selatan dan Tasikmalaya Selatan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah kapur
5. Vulkanik
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batuan vulkanik yang mengendap di lereng/lembah.
b. Endapan abu gunung api disebut tuff.
c. Sifat tanah subur dan baik untuk pertanian.
Sebaran di daerah lereng gunung api seperti Jawa bagian tengah, Sumatera bagian tengah dan Bali.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Vulkanik
6. Pasir
Ciri:
a. Berasal dari pelapukan batu pasir.
b. Miskin unsur hara dan kadar air sedikit
c. Banyak terdapat di daerah pantai.
Sebaran di Sumatera Barat, Jawa Timur, Parangtritis dan Yogyakarta.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Pasir
7. Humus
Ciri:
a. Disebut juga bunga tanah
b. Berasal dari tumbuhan yang membusuk.
c. Sifat tanah subur.
d. Warna tanah hitam.
Sebaran di daerah yang banyak pegunungan/hutan.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Humus
8. Laterit
Ciri:
a. Banyak mengandung besi dan alumunium.
b. Usia batuan relatif tua.
c. Sifat tanah tidak subur.
d. Warna merah mudah dan cocok untuk bahan batu bata.
Sebaran di Pacitan atau dekat Pegunungan Kapur.
Gambar: disini
Ciri dan Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
Tanah Laterit

Senin, Mei 22

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya

Tanah Podzolik merupakan salah satu tipe Tanah yang umum dijumpai di daerah konifer atau hutan boreal. Podzolik dikenal pula sebagai spodosol atau podosols. Tanah ini juga termasuk  tipe hutan eukaliptus dan heatlands di Australia selatan. 

Sementara di Eropa barat tanah ini berkembang di daerah dataran rendah yang dibangun oleh campur tangan manusia melalui penggembalaan dan pembakaran. Banyak Tanah podzolik di Eropa berkembang selama 3000 tahun  terakhir sebagai respon dari perubahan vegetasi dan iklim. Baca juga: Terbentuknya stalaktit dan stalagmit

Istilah Tanah podzolik berasal dari bahasa Russia dan diperkenalkan pada 1875 oleh Vasily Dokuchaev. Hal ini mengacu pada pengalaman petani Russia membajak lapisan Tanah berwarna abu (horizon E).

Karakteristik  dan Sebarannya
Podzolik dapat terbentuk hampir pada semua tipe bahan induk namun umumnya berasal dari pasir kuarsa dan batupasir atau butiran sedimen dari batuan magmatik asalkan presipitasi di daerah tersebut tinggi.  

Kebanyakan Tanah podzolik adalah Tanah yang miskin untuk pertanian karena kandungan pasirnya menghasilkan kelembaban dan nutrisi yang minim. Ada yang berpasir dan terlalu kering, yang lainnya punya zona perakaran yang dangkal dan drainase yang buruk akibat sementasi Tanah. 

Rendahnya pH merupakan masalah lain disertai defisiensi fospat dan kandungan alumunium tinggi bersifat racun.

Penggunaan podzolik untuk pertanian adalah kegiatan penggembalaan meski jenis lumpur yang dikeringkan sangat produktif untuk tanaman pangan jika dikombinasikan dengan kapur dan pupuk.
Tanah Podzolik: Ciri dan Sebarannya
Lapisan Tanah Podzolik
Horizon E biasanya punya kedalaman 4 - 8 centimeter dan rendah kandungan Fe, Al dan humus. Horison ini terbentuk dalam kondisi lembab, sejuk, asam terutama bila bahan induknya granit dan batu pasir (kaya akan kuarsa). 

Podzolik data  ditemukan di bawah lapisan organik namun di beberapa podzolik, horizon E tidak ada entah itu tertutup oleh aktifitas biologi atau hilang oleh faktor eksternal. Baca juga: Beda ruang, lokasi dan tempat

Podzolik mencakup sekitar 4.850.000 km persegi di seluruh dunia dan biasanya ditemukan di bawah vegetasi kayu. Podzolik paling umum ditemukan di wilayah iklim sedang dan boreal di belahan bumi utara (SKandinavia, Russia, Kanada) namun dapat juga ditemukan di daerah lain termasuk hutan hujan tropis Indonesia bagian selatan dan Australia.

Podzolisasi
Proses utama pembentuk Tanah podzolik dinamakan podzolisation. Ini merupakan proses kompleks dimana bahan organic dan mineral terlaut (besi dan alumunium) tercuci dari horizon A dan E ke horizon B. 

Ini melibatkan pergerakan dan pengendapan bahan organic terlarut. Podzolik terbentuk dalam lanskap berhutan dengan bahan induk kasar dan tinggi kuarsa. 

Tanah ini punya lapisan permukaan khas yang dikenal sebagai horizon spodik yang tersusun atas akumulasi humus dan oksida logam (Fe dan Al). 

Di atas horizon spodik sering muncul lapisan berwana putih dimana Tanah liat dan oksida besi tercuci meninggalkan bahan berteksur kasar yang mengandung mineral utama dan sedikit bahan organik. Baca juga: Mengapa warna tanah bisa berbeda?
Gambar: geo.msu.edu

Rabu, April 12

Karakteristik Tanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya

Karakteristik Tanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya

Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan material yang dibawa oleh sungai. Tekstur tanah aluvial sangat bergantung pada energi dari aliran air itu sendiri. Aliran cepat akan menghasilkan fragmen batu dan kerikil. 

Jika kecepatan air berkurang, maka partikel halus seperti pasir dan lumpur yang akan terbentuk. Tanah alluvial banyak ditemukan pada bentang alam seperti dataran banjir, delta, kipas aluvial, dan gosong pasir. 

Tanah alluvial sering memiliki ketebalan yang berbeda. Hal ini terjadi karena perubahan kecepatan air yang terjadi dari waktu ke waktu. 

Tanah alluvial tergolong tanah yang subur karena membawa nutrisi yang terangkut oleh erosi air dari hulu sungai hingga hilir. 

Sebaran tanah alluvial di Indonesia diantaranya ada di wilayah pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan dan pantai timur sumatera. 
KarakterisitikTanah Alluvial: Ciri, Sebaran dan Pemanfaatannya
Tanah Alluvial
Berikut karakteristik fisik tanah alluvial:
1. morfologi bervariasi sesuai dengan deposit dan aktifitas eksogen disekelilingnya. 
2. tekstur tanah bervariasi baik secara vertikal maupun horizontal.
3. berwarna gelap dengan variasi lapisan organik.
4. berada di lembah sungai atau pinggir sungai.
5. tanah berpori karena bertekstur liat.
6. porositas dan tekstur yang baik untuk pertanian.

Karakteristik kimia tanah alluvial:
1. proposi nitrogen umumnya rendah
2. proporsi, potasium fospat dan basa memadai
3. proporsi besi oksida dan kapur bervariasi

Tanah aluvial secara umum bermorfologi datar dan teratur sehingga cocok untuk kegiatan pertanian. Contoh pertanian yang bisa diusahkan di tanah alluvial diantaranya jagung, gandum, tebu, kapas, beras, sayuran dan tomat.

Pertanian seperti ini banyak ditemukan jika kamu pergi ke daerah Kali Opak di Yogyakarta atau Kali Serayu di Banyumas. Ketika kemarau, debit sungai akan turun, sehingga tanah akan muncul. Para petani memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Saat musim hujan dan debit air naik, maka ketinggiaan sungai akan menutupi endapan tanah alluvial.

Baca juga: Rumus Iklim Schmidt Ferguson
Gambar: wikimedia

Selasa, April 11

Klasifikasi Tekstur Tanah: Pasir, Lumpur dan Liat

Klasifikasi Tekstur Tanah: Pasir, Lumpur dan Liat

Coba kamu perhatikan tanah di pesawahan dengan di daerah pantai. Apakah tanah tersebut sama?. Tentu saja berbeda, dalam hal ini kita akan bicara tentang tekstur tanah. 
 
Tekstur tanah adalah ukuran dari besar partikel tanah. Bagaimana cara mengelompokkan tekstur tanah?

Ada tiga kelompok utama dari partikel tanah yaitu pasir, lumpur dan liat. Ada banyak sistem klasifikasi tanah dan yang paling umum digunakan adalah sistem USDA.

Baca juga:  
Awan cirrus, stratus dan cumulus
Terbentuknya gunung api di zona subduksi lempeng

- Pasir = ukuran butir 2,0 - 0, 05 mm
- Lempung = ukuran butir 0,05 - 0,002 mm
- Liat = ukuran butir < 0,002 mm
Segitiga Tekstur Tanah
Tanah Pasir
Partikel pasir sangat besar dengan luas permukaan kecil. Oleh sebab itu:
- pasir mudah kering = kemampuan memertahankan kelembaban sangat rendah
- aktifitas kimia sedikit = sulit mendapatkan ikan nutrient, jadi tandus

Tanah Lumpur
Partikel lumpur memiliki luas permukaan terbatas
- aktifitas kimia sedikit = memiliki kandungan nutrisi yang minim
- dapat kompak/melekat dalam jumlah banyak = sirkulasi udara buruk dengan pergerakan air yang banyak

Tanah Liat
Partikel tanah liat sangat kecil = luas permukaan sangat besar. Oleh sebab itu:
- air melekat dengan baik pada tanah liat = kemampuan untuk memertahankan kelembaban sangat tinggi, namun sulit untuk ditanami vegetasi.
- ikatan kimia aktif = banyak mengandung nutrisi

Sebagian besar tanah adalah kombinasi dari pasir, lumpur dan liat.

Bagaimana kita bisa tahu tekstur tanah?. Caranya adalah dengan melakukan eksperimen sederhana. Ambil beberapa sampel tanah lalu masukan dalam botol berisi air, kocok dan biarkan mengendap dengan sendirinya. Baca juga: Pengertian hujan virga
Percobaan Tekstur Tanah
Pasir dan partikel besar akan jatuh ke bawah terlebih dahulu. Setelah itu lumpur akan berada di atas pasir. Setelah itu tanah liat akan berada di bagian paling atas. 
 
Dengan melihat strata tiga komponen tersebut maka kamu akan mengetahui komposisi tekstur tanah yang kamu ambil. Mudah bukan?.  

Baca juga:  
Geologi Patahan Lembang
Proses terbentuknya pegunungan Himalaya
 
Gambar: swarmhub.co.uk, mea.com.au

Minggu, Maret 12

Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya

Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya

Klasifikasi kelas kemampuan lahan merupakan pengelompokan potensi lahan untuk penggunaan berbagai sistem pertanian secara umum tanpa menjelaskan peruntukan untuk jenis tanaman tertentu maupun tindakan-tindakan pengelolaannya. 

Tujuannya adalah untuk mengelompokkan lahan yang dapat diusahakan bagi pertanian berdasarkan potensi dan pembatasnya agar dapat berproduksi secara berselanjutan.

Kelas kemampuan lahan menurut USDA dibedakan menjadi delapan kelas kemampuan lahan. Intensitas dan pilihan penggunaan lahan semakin menurun seiring besarnya angka kelas. 

Kelas I
Tanah-tanah yang termasuk dalam kelas ini sesuai untuk berbagai penggunaan seperti pertanian, penggembalaan, hutan dan cagar alam. Lahan ini punya sedikit kendala yang membatasi penggunaannya. 

Tanah dalam kelas I umumnya bertopografi datar, agak datar dengan bahaya erosi ringan. Tanah umumnya memiliki kedalamnan efektif yang dalam, berdrainase baik dan mudah diolah. 

Kapasitas menahan air baik, kesuburan tanah cukup tinggi atau sangat tanggap terhadap pemupukan. Tanah dalam kelas I aman dari bahaya banjir dan umumnya sesuai untuk penanaman yang intensif. Iklim setempat harus sesuai dengan pertumbuhan tanaman.

Kelas II
Tanah-tanah dalam kelas II ini punya beberapa kendala yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan praktik atau konservasi level sedang. Tanah dalam kelas ini membutuhkan pengelolaan tanah secara hati-hati, termasuk tindakan konservasi tanah untuk mencegah kemerosotan tanah atau untuk meningkatkan hubungan air dan udara jika tanah digunakan untuk pertanian. 


Faktor penghambat pada kelas II sedikit sekali dan tindakan preventif bisa dilakukan. Tanah dapat digunakan untuk tanaman semusim, padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam

Kelas III
Tanah kelas III punya kendala berat sehingga mengurangi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan konservasi khusus atau keduanya. Tanah-tanah dalam kelas III punya pembatas yang lebih berat dari tanah-tanah kelas II dan jika digunakan untuk tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tindakan konservasi yang diperlukan biasanya lebih sulit diterapkan dan dipertahankan. Lahan kelas III dapat digunakan untuk tanaman semusim, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan suaka margasatwa.
Kelas Kemampuan Lahan USDA dan Cirinya
Kemampuan jenis lahan berbeda-beda
Kelas IV
Tanah pada kelas IV punya kendala yang berat pula sehingga membatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Faktor penghambat dan bahaya kerusakan pada tanah-tanah di dalam lahan kelas IV lebih berat daripada tanah-tanah di dalam kelas III sehingga pilihan penggunaannya juga lebih terbatas. 

Jika digunakan untuk tanaman semusim, tanah ini memerlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit untuk diterapkan dan dipertahankan. Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam.

Kelas V
Tanah pada kelas V tidak atau sedikit punya bahaya erosi namun punya pembatas lain yang sulit dihilangkan pilihan penggunaannya menjadi sangat terbatas yaitu untuk padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi dan suaka alam. Ciri lahan kelas V diantaranya terdapat di dasar lembah dan sering kebanjiran.

Kelas VI
Tanah kelas VI memiliki penghambat yang berat sehingga tanah-tanah ini tidak sesuai untuk pertanian. Penggunaan tanah ini hanya terbatas untuk padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar lindung. Tanah kelas ini punya bahaya kerusakan yang tidak bisa dihilangkasn seperti lereng curam, berbatu, hingga iklim yang tidak mendukung.

Kelas VII
Tanah kelas VII memiliki pembatas yang berat sehingga tidak sesuai untuk pertanian dan penggunaannya sangat teratas untuk padang rumput, hutna produksi dan suaka alam. Tanah pada kelas ini punya beberapa bahaya kerusakan seperti lereng curam, tanah dangkal, berbatu, selalu tergenang hingga kandungan garam dan iklim ekstrim.

Kelas VIII
Tanah pada kelas VIII punya pembaras yang menghalangi penggunaan tanah ini untuk produksi tananan secara komersil dan membatasi penggunaannya hanya untuk ekowisata dan suaka alam. 

Tanah ini lebih baik dibiarkan dalam keadaan alami. Contoh lahan kelas VIII adalah tanah yang telah rusak atau sangat terdegradasi, tanah dengan singkapan batuan, pantai berpasir, tanah pembuangan sisa bahan galian dan lahan gundul.

Jumat, Maret 10

Permafrost, Tanah Membeku Abadi

Permafrost, Tanah Membeku Abadi

Tanah di Indonesia pada dasarnya berkisar dari kering hingga lembab, namun bagaimana jika tanah tersebut membeku atau permaforst?. 

Meskipun banyak manusia hidup di daerah permafrost seperti Siberia, Kanada dan Alaska namun membangun arsitektur di atas permafrost sangat sulit. 

Bangunan nantinya akan menaikan suhu lapisan tanah sehingga es akan mencair. Dampaknya, bangunan akan tenggelam atau runtuh ke dalam lumpur. 

Baca juga:
Genesa batu basal, bentuk dan cirinya
Pengertian biodiversitas hayati dan dampaknya bagi lingkungan

Apa itu permafrost?
Permafrost merupakan lapisan es beku di bawah permukaan bumi yang didalamnya bisa mengandung tanah, kerikil dan pasir. 

Permafrost biasanya berada di pada lapisan tanah dengan suhu dibawah 0⁰ C selama minimal dua tahun.

Permafrost dapat ditemukan di tanah yang berada di bawah lantai samudera dan di daerah dimana suhu jarang naik di atas titik beku. Sebarannya antara lain di Greenland, Alaska, Russia, Cina dan Eropa Timur.

Ketebalan permafrost berkisar dari 1 meter hingga lebih dari 1.000 m. Lapisan tanah ini mencakup 22.8 juta km persegi di belahan bumi utara. Tanah beku tidak selalu sama dengan permafrost. 

Lapisan tanah yang membeku selama lebih dari 15 hari per tahun disebut "tanah beku musiman". Lapisan tanah membeku antara 1 - 15 hari dalam setahun disebut "tanah membeku sementara". Sementara permafrost membeku selama dua tahun lebih.

Permafrost tidak selalu terbentuk dalam satu horison tanah, namun ada dua cara utama untuk menggambarkan sebarannya yaitu: continous dan discontinuous. Baca juga: Tipe-tipe pertanian di Indonesia

Continuos permafrost merupakan lapisan tanah beku yang luas di daratan contohnya di Siberia Russia. Sementara discontinuous permafrost merupakan lapisan tanah beku yang terpisah-pisah oleh vegetasi, pegunungan sepanjang tahun. 

Di daerah ini, matahari musim panas melelehkan es selama beberapa minggu atau bulan. Contohnya ada di daerah Teluk Hudson Kanada.

Permafrost, Tanah Membeku Abadi
Tipe Permafrost
Permafrost sangat kaya akan kandungan karbon organik. Menurut perkiraan, lapisan permaforst mengandung 1700 miliar ton karbon organik atau dua kali lipat total karbon di atmosfer. 

Saat tanah membeku, karbon tersimpan di dalamnya namun saat es mencair dekomposisi bahan organik melalui mikroba akan meningkat tajam sehingga sebagian karbon terlepas ke atmosfer sebagai CO₂. Baca juga: Pergerakan angin muson di Indonesia

Ilmuwan yang meneliti permafrost mampu memahami perubahan iklim di bumi dengan mengamati perubahan permafrost. Studi menunjukkan bahwa permafrost bumi menghangat 6⁰ C selama abad ke 20. Ilmuwan memprediksi bahwa permafrost akan mencair pada 2100. 

Lapisan es yang mencair akan menaikkan permukaan air laut dan meningkatakan erosi. Erosi terjadi saat permafrost mencair karena tanah dan sedimen mudah hanyut tanpa es yang mengikat agregat tanah. 

Baca juga: Sebab munculnya embun salju di Dieng 
 
Gambar: alaskakids.org

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done