Guru Geografi: Pedologi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 8

Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya

Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya

Pernahkah anda pergi ke rawa?. Bagaimana rasanya tinggal di daerah rawa?. Rawa merupakan contoh lahan basah yang ada di bumi. Lahan basah adalah salah satu bagian permukaan bumi yang sangat unik dan tersebar tidak merata di bumi. 

Di Indonesia, lahan basah bisa anda jumpai di Kalimantan bagian selatan, Sumatera bagian timur dan Jakarta Utara. Jenis lahan basah berbeda-beda di tiap tempat dan masing-masing punya karakteristik tersendiri. 

Faktor yang memengaruhinya adalah salinitas, jenis tanah, jenis tumbuhan dan fauna yang hidup di dalamnya. Ada dua tipe lahan basah jika ditinjau dari konsep dasar tradisionalnya yaitu lahan basah organik dan lahan basah mineral. 

Baca juga: 
Pengertian biodiversitas hayati di dunia
Perkembangan kota-kota di Indonesia
Tipe-tipe erupsi gunung api yang menakjubkan

1. Lahan Basah Organik
Tipe lahan basah ini mengacu pada istilah peatlands, yaitu lahan basah yang terbentuk oleh akumulasi tumbuhan rawa yang membusuk dan mengendap. Ada dua tipe lahan basah organik yaitu Bogs dan Fens. Keduanya berada di daerah dengan kondisi iklim dan geografis yang sama.

Bogs, merupakan ekosistem lahan basah yang memiliki ciri sebagai berikut: basah, drainase buruk, banyak ditumbuhi lumut dan tanaman berbunga. Bog pada umumnya punya air berjenis asam dan sumber airnya dominan berasal dari hujan.

Bog wetland, pic: media1.britannica.com
Fen, merupakan ekosistem lahan basah yang memiliki ciri: tanahnya lunak, didominasi vegetasi tumbuhan berjenis rumput dan alang-alang. Fen punya kandungan air yang basa dan sumber ainya berasal dari aliran air di permukaan tanah atau run off. Kedua jenis lahan basah organik tersebut diklasifikasikan menurut mekanisme hidrologinya.
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Fen wetland, pic:  mw2.google.com
2. Lahan Basah Mineral
Tipe lahan basah mineral terdiri dari marsh dan swamp. 
Marsh, merupakan tipe lahan basah yang memiliki kandungan mineral tanah yang kurang baik dan banyak ditumbuhi rerumputan. Marsh dapat anda jumpai di wilayah bibir sungai khususnya di sekitar delta sungai. Vegetasi di marsh mengurangi laju aliran air dan meningkatkan kadar nutrisi karena proses sedimentasi itu sendiri.
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Marsh wetland, pic: miseagrant.umich.edu
Swamp, atau rawa merupakan tipe lahan basah yang memiliki drainase sangat buruk dan miskin mineral tanah dan banyak ditumbuhi tumbuhan kayu dan semak. Rawa banyak dijumpai di seluruh dunia dan paling banyak di daerah dataran rendah dekat sungai. 

Beberapa rawa terbentuk dari marsh yang lambat laun mengisi cekungan disekitarnya. Dominasi vegetasi pada dasarnya membedakan antara mars dan swamp. Saya dulu pernah tugas di daerah rawa yaitu Barito Kuala Kalimantan Selatan. Baca juga: Permafrost, si tanah membeku yang unik
Tipe Lahan Basah dan Karakteristiknya
Swamp wetland, pic: media-cdn.tripadvisor.com

Senin, Maret 6

5 Fase Perkembangan Horison Tanah

5 Fase Perkembangan Horison Tanah

Coba perhatikan saat ada orang sedang menggali sumur?. Tentu akan dijumpai berbagai lapisan tanah saat tanah dikeruk semakin dalam. Apakah semua tanah punya perlapisan atau horison yang sama?. 

Tidak, setiap daerah punya perkembangan tanah yang berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhinya diantaranya waktu.

Sama seperti perkembangan manusia, tanah pun punya tingkatan yang berlainan. Mohr dan Baren, dua ahli tanah telah banyak menyumbangkan ilmu pengetahuannya untuk kepentingan pengembangan pertanian. Penelitan mereka berdua menghasilkan adanya lima perkembangan horizon tanah. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Fase Awal (Initial Stage)
Pada fase ini, tanah belum terbentuk dan masih dalam bentuk batuan yang belum melapuk. 
2. Fase Muda (Juvenile Stage)
Pada fase ini batuan induk sudah mulai melapuk namun partikelnya masih kasar dan belum halus seperti tanah. 
3. Fase Remaja (Virile Stage)
Pada fase ini mineral tanah berasal dari batuan induk yang sudah melapuk sudah mulai halus. Proses dekomposisi menghasilkan banyak fraksi tanah liat.
4. Fase Tengah Tua (Senile Stage)
Pada fase ini dekomposisi memasuki tahap air dan hanya beberapa jenis mineral pelikan yang masih utuh atau resisten.
5. Fase Tua (Final Stage)
Fase ini merupakan bagian akhir dari sebuah perkembangan tanah dimana butir tanah sudah halus dan bisa dibedakan satu sama lain.
5 Fase Perkembangan Horison Tanah
Perkembangan Tanah
Contoh dari perkembangan tanah adalah sebagai berikut:
1. Entisol = tingkat muda
2. Mollisol = tingkat remaja
3. Alfisol = tingkat tua

Semakin tua tanah maka biasanya perkembangan tanah atau horisonnya semakin sempurna, khususnya di daerah tropis. Dari mulai Horison O sampai R memerlihatkan penampang yang jelas.
8 Jenis Tanah di Indonesia

8 Jenis Tanah di Indonesia

Tanah merupakan bahan bentukkan alam yang berasal dari pelapukan batuan. Perkembangan tanah di berbagai penjuru dunia berbeda-beda dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama batuan induk, iklim, organisme, topografi dan waktu. 

Di Indonesia variasi jenis tanah sangat banyak mulai dari daerah dataran rendah, pegunungan hingga rawa. Berikut ini jenis-jenis tanah di Indonesia:
1. Tanah Aluvial
Merupakan tanah yang terbentuk dari hasil sedimentasi material halus oleh aliran sungai. Tanah aluvial terdapat di wilayah pantai timur Suamtera, pantai utara Jawa serta di sepanjang sungai seperti Barito, Mahakam, Musi, Begawan Solo, Serayu hingga Citarum.
8 Jenis Tanah di Indonesia
2. Tanah Andosol
Merupakan tanah yang terbentuk dari abu vulkanik gunung api. Sebaran tanah ini ada di lereng gunung api seperti di lereng Gunung Sinabung, Merapi, Kelud, Batur, dan Rinjani.
8 Jenis Tanah di Indonesia

3. Tanah Regosol
Tanah ini terbentuk dari hasil sedimentasi abu vulkanik baru bertekstur kasar. Sebarannya ada di Jawa, Bali dan Nusa Tengggara.
8 Jenis Tanah di Indonesia
4. Tanah Grumosol
Tanah ini terbentuk dari material halus lempung serta memiliki warna kelabu hitam dengan tingkat kesuburan tinggi. Jenis tanah ini cocok untuk budidaya padi, jagung, kedelai atau tanaman pertanian lain. Sebarannya ada di Jawa Tengah, Sumatera dan Sulawesi.
8 Jenis Tanah di Indonesia

5. Tanah Kapur
Terbentuk karena adanya pengaruh pelapukan yang mengubah batuan kapur menjadi tanah kapur. Sebaran tanah ini ada di wilayah perbukitan kapur seperti Gunung Kidul, Pacitan dan Karangnunggal Tasikmalaya.
8 Jenis Tanah di Indonesia
6. Tanah Litosol
Tanah ini terbentuk karena batuan beku yang mengalami pelapukan lanjut. Sebarannya di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua.
8 Jenis Tanah di Indonesia
7. Tanah Gambut
Merupakan tanah organik yang berasal dari pembusukan sisa tumbuhan rawa. Sebarannya meliputi wilayah Rawa di Kalimantan bagian Selatan, Sumatera bagian Timur dan Papua bagian selatan. Tanah ini bertipe asam dengan sirkulasi air buruk.
8 Jenis Tanah di Indonesia
8. Tanah Podzolik
Tanah ini terbentuk dari batuan induk pasir dan punya tingkat kesuburan rendah. Sebarannya meliputi Jawa, Bali, dan Lombok.
8 Jenis Tanah di Indonesia
Gambar: flickr, Mongabay, geocases

Jumat, Februari 17

Horizon Epipedon Tanah

Horizon Epipedon Tanah

Epipedon merupakan horizon permukaan (tidak sama dengan horizon A), dapat mencakup seluruh horizon A atau lebih tipis dari horizon A. Kadang juga termasuk sebagian atua seluruh horizon B (jika horizon B berwarna gelap yaitu value kurang dari sama dengan 3, tidak masif dan kadnungan C-organik memenuhi kriteria epipedon mollik).

Beberapa epipedon yang penting dan umum ditemukan di Indonesia adalah mollik, umbrik dan ochrik. Di tanah gambut juga dijumpai epipedon histik. Sementara di daerah volkan kemungkinan dijumpai melanik. 
Horizon Epipedon Tanah
Horizon Tanah
a. Epipedon mollik merupakan horizon permukaan yang punya sifat sebagai berikut:
- perkembangan struktur cukup kuat, sehingga tanah tetap lembut jika kering.
- warna gelap (value chroma < 3 jika lembab dan value < 3 jika kering.
- kandungan bahan organik > 1% atau > 0.6 % C-organik.
- tebalnya harus > 18 cm.
- memiliki nilai kejenuhan basa > 50%.
- beberapa bagian dari epipedon lembab > 90% hari per tahun.
- kadar P larut dalam asam sitrat < 1.500 ppm.
- nilai n < 0,7.

b. Epipedon umbrik, sama dengan epipedon mollik kecuali nilai kejenuhan basa < 50%

c. Epipedon okrik, seperti epipedon mollik dan umbrik kecuali
- warna value dan chroma > 3 jika lembab dan > 5 jika kering.
-  kadnunga bahan organik < 1%.
- ketebalannya tidak memenuhi kriteria untuk mollik dan umbrik.
- nilai n > 0,7 %.
- masif jika kering.
- warna seprti mollik, namun tebal tidak memenuhi kriteria mollik.

d. Epipedon histik, horizon permukaan yang jenuh air > 30 hari dan tereduksi, tersusun dari bahan organik dengan tebal 20 - 60 cm.

e. Epipedon melanik,  horizon permukaan yang punya sifat tanah andik tebal > 30 cm, berwarn agelap (value dan chroma < 2), indeks melanik < 1,70 pada seluruh ketebalan, kandungan C-organik > 6%.

f. Epipedon anthropik, horizon permukaan yang punya sifat seperti epipedon mollik namun kadar P larut dalam asam sitrat > 1.500 ppm.

g. Epipedon folistik, lapisan permukaan yang tersusun atas bahan organik dengan tebal > 20 cm (bahan organik kasar) atau > 15% (bahan organik sedang atau halus).

h. Epipedon plaggen, horizon permukaan berwarna gelap dengan tebal > 50 cm sebagai akibat dipupuk dengan pupuk organik secara terus-menerus selama bertahun-tahun.
Gambar: www.what-when-how.com

Selasa, Februari 14

Tipe-Tipe Agregat Tanah dan Pengaruhnya Bagi Kestabilan Erosi

Tipe-Tipe Agregat Tanah dan Pengaruhnya Bagi Kestabilan Erosi

Agregat tanah (soil aggregates) dapat diartikan sebagai kelompok partikel tanah yang terikat satu sama lain dan lebih kuat dari partikel di dekatnya. Bahan organik berupa lem dihasilkan saat orgnisme tanah memecah akar yang mati dan sampah-sampah di tanah hingga menahan partikel tanah untuk besama-sama melekat. 

Agregat mikroskopis adalah blok agregat tanah yang berkuran besar sementara agregat lainnya berukuran mikroskopis atau lebih kecil. Stabilitas agregat tanah sangat menentukan kemungkinan laju erosi di daerah tersebut. Agregat tanah juga memengaruhi terhadap ancaman degradasi tanah. Penambahan bahan organik akan menambah stabilitas tanah. 

Run off, air hujan, aliran angin akan memecah agregat tanah. Gangguan tanah seperti lalu lintas kendaraan dan injakan mahluk hidup akan memecah susunan agregasi tanah. Tanah dapat menahan degradasi dengan berbeda saat kondisi basah atau kering. Misalnya tanah yang padat dan bergumpal akan stabil saat kondisi kering namun tidak stabil saat basah.
Tipe-Tipe Agregat Tanah dan Pengaruhnya Bagi Kestabilan Erosi
Agregat Tanah Berbeda-Beda
Perkembangan agregat tanah didukung oleh faktor berikut:
- abiotik (fisik dan kimia) seperti pengeringan dan pembasahan atau pembekuan dan pencairan.
- biotik seperti kompresi tanah oleh akar, kegiatan menggali oleh cacing, terperangkapnya mineral oleh jaringan akar dan jamur.

Ada tiga kategori agregat atau struktur tanah yaitu:
- Single-grained: tanah ini didominasi oleh partikel pasir dan tidak ada pembentukkan agregat. Umumnya tanah tipe ini punya daya serap air yang cepat.
- Massive: tanah inipunya struktur yang sulit dilhat. Setelah kering tanah ini sulit untuk pecah dan punya daya porositas yang lambat.
- Aggregated: tanah ini berasosiasi dengan agregat yang berbeda satu sama lain.
Tipe-Tipe Agregat Tanah dan Pengaruhnya Bagi Kestabilan Erosi
Tipe Agregat Tanah
Jenis Struktur Tanah
- Spheroidal atau Granular
Agregat tipe ini biasanya punya diameter 2 mm sampai 1 cm dengan bentuk bulat simpul. Biasanya ada pada tanah dengan kandungan organik yang tinggi dengan akar berlimpah. Infiltrasi tanah ini sangat besar.

- Plate
Agregat ini berbentuk seperti lempengan piringan tipis horizontal. Biasanya ada dalam tanah betipe padat atau tanah liat. Jenis tanah ini lambat menyerap air.

- Block
Agregat ini berbentuk block tidak teratur dari 1,5 - 10 cm seprti kubus atau kotak. Jenis struktur ini memiliki daya resapan sedang.

- Prisma
Agregat tanah ini berbentuk kolom vertikal seperti prisma atau sering juga disebut collumnar. Kelompok ini biasa muncul pada horison B dengan tipe porositas menengah. 

Rabu, Februari 8

Bentuk-Bentuk Erosi Air

Bentuk-Bentuk Erosi Air

Erosi merupakan fenomena umum d permukaan bumi dan menjadi tenaga yang membentuk permukaan bumi ini semakin beragam. Salah satu media erosi adalah air. Erosi air memiliki tingkatan sehingga menghasilkan bentuk yang bermacam-macam.

a. Erosi Percik (Splash erosion)
Merupakan proses penelupasan partikel tanah bagian atas oleh air hujan. Arah dan jarak pengelupasan partikel tanah ditentukan oleh kemiringan lereng, kecepatan dan arah angin, kekeasaran permukaan tanah serta tutupan lahan. Kamu tentu pernah lihat tembok yang kotor karena percikan tanah oleh air bukan?. Itulah erosi percik. Gambar: http://soilerosion.net/
Bentuk-Bentuk Erosi Air
Erosi Percik
b. Erosi Lebar (Sheet erosion)
Merupakan erosi yang terjadi saat lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi hujan dan aliran run off. Erosi iniakan menghasilkan pola lairan di atas tanah namun belum menunjukkan adanya suatu lubang. Gambar: http://passel.unl.edu/

Bentuk-Bentuk Erosi Air
Erosi Lembar
c. Erosi Alur (Rill erosion)
Merupakan pengelupasan yang diikuti oleh pengangkutan partikel tanah oleh run off. Erosi alur sudah menghasilkan sebuah alur atau cekungan tanah mirip selokan. Saat air masuk ke dalam tanah cekungan, kecepatan aliran meningkat sehingga memicu pemindahan sedimen. Gambar: http://soilerosion.net/
Bentuk-Bentuk Erosi Air
Erosi Alur
d. Erosi Parit (Gully erosion)
Merupakan proses erosi yang membentuk parit yang dalam dan merupakan pengembangan dari erosi alur. Erosi parit banyak dijumpai di daerah berbukit dengan kemiringan curam. Kecepatan aliran run off saat menuruni lereng membuat parit-parit terbentuk. Gambar: http://i.dailymail.co.uk
Bentuk-Bentuk Erosi Air
Erosi Parit
e. Longsor (Landslide)
Merupakan gerakan massa tanah akibat taah sudah jenuh oleh air. Longsor banyak terjadi di musim hujan dan termasuk bencana yang terjadi tiba-tiba dan banyak memakan korban jiwa. Gambar: http://media2.intoday.in/
Bentuk-Bentuk Erosi Air
Longsor
f. Erosi Tebing Sungai (Stream bank)
Merupakan pengikisan tanah di daerah tebing sungai sebagia akibat dari aru sungai.

Selasa, Februari 7

Memahami Faktor Lengas Tanah

Memahami Faktor Lengas Tanah

Jika gravitasi merupakan satu-satunya gaya yang mengakibatkan adanya gerakan vertikal air di dalam tanah, maka tanah akan mengalirkan air sama sekali kering setelah hujan. Kenyataannya adalah bahwa tanah selalu mengandung banyak lengas dan menunjukkan bahwa gaya-gaya yang memegang lengas dalam tanah harus dikenakan sampai tingkatan tertentu. 
Faktor Lengas Tanah
Lengas Tanah Berbeda-beda
Fenomena retensi lengas tanah sama sekali belum dimengerti. Gaya utama yang menyebabkan terikatnya air di dalam tanah adalah:
a. Adsorpsi 
Molekul air ditarik dan beradhesi pada permukaan partikel tanah secara kuat.
b. Gaya osmotik
Karena bahan kimiawi terlarut seperti garam, maka gaya yang memegang air dalam tanah ditingkatkan dengan jumlah yang sama dengan tekanan osmotik tanah.
c. Gaya kapiler
Teganga muka sama dengan molekul permukaan air yang ditarik terutama oleh molekul di dalam air (adhesi juga kohesi terjadi) dan selaput air dalam tanah dengan demikian dipegang di lapangan/in situ oleh gaya tegangan muka. Gaya kapiler tergantung pada ukuran rongga dan gaya permukaan pada jumlah dan sifat pemrukaan partikel-partikel tanah.

Ciri fisik tanah yang penting adalah porositas nya. Porositas didefiniskan sebagai nisbah volume rongga dengan volume total tanah. Banyak istilah telah digunakan untuk memberi batasan energi yang mengikat air dalam tanah. 

Istilah tegangan air tanah dan isapan tanah digunakan untuk memberikan batasan secara berturut-turut bahwa air tanah berada dalam keseimbangan dengan tekanan yang kurang dari atmosfir dan tanah memberikan tekanan terhadap air. 

Gambar: http://www.knowledgebank.irri.org/
Faktor-Faktor Erosi Tanah

Faktor-Faktor Erosi Tanah

Erosi merupakan proses pengikisan batuan dan tanah melalui media pengangkut yaitu air, angin dan es. Setiap daerah punya peluang erosi yang berbeda-beda tergantung faktor-faktor pemicunya. Berikut ini faktor-faktor erosi tanah:

a. Cuaca
Hujan merupakan faktor utama dari pemicu erosi. Saat hujan besar terjadi dalam waktu pendek, erosi yang terjadi biasanya lebih besar dibanding ujan dengan intensitas kecil namun lama. Itulah sebabnya bencana erosi longsor lebih banyak terjadi saat curah hujan sedang tinggi.

b. Tanah
Sifat tanah berbeda-beda tiap daerah dan hal ini menentukan mudah tidaknya tanah ter erosi. Tekstur, unsur organik, struktur dan daya permeabilitas memengaruhi erosi tanah. Tekstur berkaitan dengan ukuran partikel tanah dan akan membentuk jenis tanah tertentu. Tekstur tanah terdiri dari pasir, debu dan liat. 

Unsur organik terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil dekomposisi. Bahan organik ini berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan daya permeabilitas tanah. 

Struktur tanah adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat yang memengaruhi tanah dalam penyerapan tanah. Daya permeabilita adalah kemampuan tanah untuk meloloskan air.
Faktor Erosi Tanah
Erosi bisa terjadi di mana saja
c. Topografi
Merupakan tingkat kemiringan dan ketinggian lereng. Air akan cepat mengalir di daerah yang punya kemiringan tinggi dan panjang. Untuk mengurangi laju aliran biasanya lerengan ditanami tumbuhan keras atau membuat kontur terasering.

d. Vegetasi
Daerah yang banyak vegetasi akan mengurangi laju erosi karena akar, batang dan daun berfungsi menahan kekuatan laju air. Tumbuhan merupakan aset berharga dalam menghambat laju erosi tanah di pegunungan.

e. Tata Guna Lahan
Alih fungsi lahan saat ini akan mempercepat laju erosi. Daerah perbukitan yang dibuat pemukiman atau perladangan akan meningkatkan erosi di hulu.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close