Guru Geografi: Vulkanologi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Vulkanologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vulkanologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 8

Gunung Api Bisa Erupsi Tiba-Tiba, Mengapa?

Gunung Api Bisa Erupsi Tiba-Tiba, Mengapa?

Abu vulkanik sisa erupsi Semeru

Banyak sekali yang bertanya-tanya "pak, gunung Semeru kok meletusnya tiba-tiba, gak pake ngasih ultimatum dulu apa?". Wah sudah kaya mau perang aja ya, pake ultimatum segala.

Di penghujung tahun 2021 ini Indonesia kembali berduka karena fenomena erupsi besar Semeru di Jawa Timur pekan lalu.

Erupsi Semeru akhir tahun ini sanga masif bertipe luncuran abu piroklastik yang meluluhlantahkan desa di kaki lereng. Hingga tulisan ini dibuat, sudah hampir 50 jiwa meninggal dunia dan ribuan warga masih mengungsi.

Lalu kembali ke pertanyaan, apakah gunung Semeru itu erupsi tanpa diketahui tanda-tandanya oleh masyarakat?. Atau dalam hal ini petugas lalai tidak memberikan peringatan dini?.

Sebenarnya dari bulan-bulan lalu, aktifitas Semeru ini sudah meningkat dan terpantau oleh pos pengamatan. Mungkin karena pola erupsi Semeru dalam beberapa dekade ini tidak masif maka dianggap biasa. Padahal kita tidak bisa sama sekali memprediksi sekuat apa erupsi gunung api di kemudian hari.

Alhasil masyarakat kaget ketika tiba-tiba dari puncak gunung menyembur awan panas kembang kol raksasa seperti ledakan nuklir yang kemudian tiba-tiba bergerak cepat menuruni lereng.

Sejatinya manusia itu bisa memprediksi letusan gunung api, dibandingkan gempa tektonik yang sangat sulit sekali. Tanda-tanda gunung api akan erupsi bisa dikenal dari ciri-ciri seperti keluarnya kepualan asap putih dari kawah, gempa tremor meningkat, mata air memanas/kering, hewan-hewan di kaki gunung api mulai turun ke bawah (insting).

Dengan melihat hal tersebut manusia bisa membuat peringatan dini sesegera mungkin. Saya sendiri tidak tahu ketika sebelum erupsi Semeru minggu lalu apakah ada tanda-tanda tersebut atau tidak. Beberapa warga mengungkapkan bahwa tidak ada sama sekali sirine peringatan di desa.

Ingat bahwa luncuran awan panas itu sangat cepat (bisa 300 km per jam) dan kita tidak bisa menghindar meski pakai mobil kecepatan tinggi. Hal paling aman adalah dengan menjauhi zona batas luncuran erupsi.

Gunung api memiliki ruangan di dalamnya yang disebut dapur magma atau magma chamber. Nah sialnya kita tidak bisa melihat seperti apa kondisi volume, kejadian persis, tekanan, rekaman gambar dari dapur magma tersebut.

Kita hanya bisa melihat kejadian yang terekam dari luar, jadi erupsi yang tiba-tiba bisa saja terjadi karena tekanan gas di dalam dapur magma sudah sangat tinggi sekali, hasil akumulasi dari aktivitas gunung api tersebut.

Jadi kita tidak boleh meremehkan aktivitas kegempaan sekecil apapun yang terjadi di gunung api. Lebih baik mengalah saja sebentar agar gunung api erupsi, setelah itu kita bisa memanen hasilnya. Ingat, masyarakat harus sadar untuk tidak tinggal di zona aliran erupsi. 

Pemerintah berkewajiban untuk mendidik warga agar paham dan patuh terhadap kondisi alam yang ada agar korban jiwa bisa diminimalisir bahkan dihindari saat erupsi terjadi.

Gambar: Business Insider

Senin, Desember 6

Gunung Semeru Meletus Besar, Pertanda Apakah Ini?

Gunung Semeru Meletus Besar, Pertanda Apakah Ini?

Gunung api tertinggi di pulau Jawa yaitu Semeru meletus besar dua hari lalu yang mengakibatkan setidaknya 14 warga meninggal dunia (hingga data terakhir). Gunung api dengan ketinggian 3.676 mdpl ini memuntahkan guguran abu vulkanik yang mengubur beberapa desa di kaki lereng.

Lantas apakah erupsi besar Semeru ini tidak terpantau tanda-tandanya oleh pos pengamatan?. Perlu diketahui bahwa setiap gunung api itu memiliki karakteristik tersendiri sehingga memang manusia perlu beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Gunung Semeru adalah gunung api tipe stratovolcano yang tubuhnya tersusun atas lapisan piroklastik dan lava yang membeku. Tingkat kelerengan Semeru termasuk curam dengan tinggi puncak menjulang sehingga jika ada guguran abu piroklastik pasti akan turun dengan kecepatan tinggi menuju lembah dan sungai disekitarnya.

Normalnya sebelum gunung api meletus, pastinya ada tanda-tanda yang muncul sebagai antisipasi sebelum terjadi erupsi besar seperti gempa tremor, kepulan asap dari lubang kepundan, mata air mengering atau berubah warna hingga perubahan perilaku hewan.

Akan tetapi erupsi Semeru sore kemarin sangat tiba-tiba dan nampaknya peringatan dini tidak ada (berdasarkan penuturan beberapa warga sekitar). Hal ini menandakan bahwa di dalam dapur magma telah terjadi peningkatan aktifitas yang memang tidak bisa kita pantau.
Kubah puncak Semeru dari rekaman Google Earth

Dapur magma setiap gunung api memiliki kedalaman, volume dan kekentalan berbeda-beda. Sialnya manusia tidak bisa memantau ruangan rahasia tersebut karena berada di bawah tubuh gunung api sehingga kita hanya bisa memprediksi dari fenomena eksternal saja.

Masyarakat Indonesia sejatinya sudah sangat paham dengan kondisi geologis negerinya yang berada di zona sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik. Peradaban-peradaban manusia banyak ditemukan di sekitar lereng gunung api karena kesuburannya yang tinggi untuk menunjang kehidupan agraris.

Gunung api adalah sumber material bahan-bahan bangunan dan penting sekali bagi kehidupan disamping untuk kegiatan pertanian. Selain itu gunung api menjadi sumber penangkap air yang baik. Manusia hanya perlu mengalah sejenak jika memang erupsi terjadi karena hal tersebut adalah sesuatu yang normal untuk menjaga keseimbangan.

Yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi batas zona wilayah aliran erupsi agar masyarakat tidak membangun pemukiman disana. Hal ini untuk mengurangi dampak negatif manakala erupsi terjadi. Semakin dekat pemukiman dengan puncak gunung api tentu bahaya semakin tinggi.

Pemerintah dan pihak terkait seperti BNPB, BIG perlu secepat mungkin membuat peta baru zonasi daerah bahaya erupsi di setiap gunung api di Indonesia. Data tentunya dilihat dari rekam jejak erupsi gunung api tersebut.

Lantas apakah erupsi gunung api itu adalah bencana?. Erupsi itu adalah fenomena alam namun bencana itu adalah fenomena alam/non alam manakala menghasilkan korban jiwa/kerugian bagi manusia.

Lalu bolehkah mengaitkan kejadian bencana alam dengan azab dari Tuhan?. Dalam pandangan Islam hal itu sah-sah saja sebenarnya dan bahkan perlu menjadi sumber introspeksi, karena faktanya dalam Al Quran juga tertulis demikian, namun selain kita merenung tentang perilaku kita di dunia, lebih lanjut lagi kita harus meningkatkan kompetensi keilmuan dan adaptasi tentang fenomena alam.
Ayat Quran tentang kaitan azab dan fenomena alam (Q.S Al- Ankabut)

Dalam perspektif geografi, pandangan fisis determinisme perlu lebih ditekankan karena dalam komunitas masyarakat adat nusantara pun pandangan tersebut tetap menjadi acuan hidup dimana alam mengendalikan kehidupan manusia bukan sebaliknya. Jika tatanan ekologi dijaga maka bencana tidak akan terjadi.

Gunung api adalah anugerah Tuhan yang luar biasa karena jika melalui mekanisme erupsi daratan terbentuk dan manusia serta mahluk hidup lain bisa tumbuh dan berkembang di atasnya. Kita hanya diminta sejenak mengalah jika memang ia sedang ingin mengeluarkan materialnya.

Agnas Setiawan, Guru Geografi Blogger Indonesia

Rabu, Februari 12

Perbedaan Erupsi Efusif, Eksplosif dan Campuran

Perbedaan Erupsi Efusif, Eksplosif dan Campuran

Erupsi gunung api umumnya sering terjadi pada lubang kepundan atau kawah gunung api (erupsi sentral). 

Pada erupsi ini, magma keluar ke permukaan bumi melalui sebuah pipa kepundan. Luapan magma melalui pipa kepundan ini memiliki sifat erupsi yang berbeda-beda. 

Berdasarkan sifatnya erupsi sentral dapat dibedakan menmjadi tiga jenis yaitu erupsi efusif, eksplosif dan erupsi campuran.

(1) Erupsi Efusif

Pada erupsi ini magma keluar dari lubang kepundan tanpa disertai ledakan. Hasil dari erupsi ini adalah hanya lava. 

Erupsi efusif murni menghasilkan gunung berapi yang berbentuk perisai atau aspit. Lava yang dikeluarkan bersifat cair encer sehingga dapat mengalir jauh dan menutupi daerah yang cukup luas. Erupsi yang demikian banyak ditemukan di Kepulauan Hawai.

Bahkan kepulauan tersebut memang terbentuk oleh hasil erupsi semacam itu yang muncul di permukaan Samudera Pasifik. Gunung api tersebut antara lain Mauna loa, Kilauea, Mauna Lea, dan sebagainya. 

Hawaii terbentuk di zona hot spot dimana terdapat sebuah saluran tempat keluar magma di dasar lautan.
Erupsi Kilauea Hawaii
(2) Erupsi Eksplosif
Erupsi pada umumnya ditandai dengan ledakan yang keras. Bahan-bahan yang dihasilkan terutama adalah piroklastika dan bentuk gunung berapi yang dihasilkan tidak tinggi, yaitu hanya menyerupai tanggul yang melingkari kawah maka gunung berapi ini disebut maar. 

Jika dasar dan dinding-dinding terdiri dari batuan yang impermeable, maka kawah tersebut dapat terisi oleh air. 

Akibatnya terbentuklah ranu, telaga atau situ. Di Jawa terdapat beberapa ranu, misalnya Ranu Klakah, Ranu Pakis, Telaga Manjer, dan lain-lain.
 

(3) Erupsi Campuran
Erupsi campuran terjadi jika terjadi erupsi yang bersifat efusif dan eksplosif secara silih berganti. 

Erupsi menghasilakan gunung berapi strato, yaitu gunung api yang strukturnya berlapis-lapis, terdiri dari lava yang membeku berselang seling dengan bahan piroklastika. Menurut perkiraan 99% gunung api yang ada di dunia terdiri dari tipe strato.

Dilihat dari jumlah gunung api yang masih aktif di dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah yang terbanyak. 


Persebaran gunung api di dunia, termasuk Indonesia dapat dilihat pada Peta Persebaran Gunung Api di Dunia

Jumat, Juli 26

Penyebab Erupsi Freatik Gunung Tangkubanperahu

Penyebab Erupsi Freatik Gunung Tangkubanperahu

Pada sore hari pukul 15.48 Gunung Tangkubanperahu mengalami erupsi yang mengakibatkan ratusan wisatawan panik dan harus dievakuasi. 

Kolom abu vulkanik teramati hingga 200 m dari puncak kawah. Lalau apa penyebab erupsi Tangkubanperahu tadi sore dan mengapa baru kali ini terjadi setelah lama terlelap?.

Erupsi gunung Tangkubanperahu pada tanggal 26 Juli sore termasuk kategori erupsi freatik, bukan magmatik. Erupsi freatik adalah erupsi tanpa lava seperti gunung Krakatau yang melontarkan lava pijar dari mulut kawah.

Erupsi freatik adalah ciri umum aktivitas gunung api. Erupsi ini dihasilkan oleh tanah yang dipanaskan oleh magma lalu berubah menjadi ledakan uap. Saat magma memanaskan air tanah atau permukaan maka akan terjadi ledakan air uap, batu dan abu menjadi erupsi freatik atau ultravulkanian.

Erupsi freatik dapat membentuk kawah rendah yang disebut maar. Ledakan freatik dapat menghasilkan hidrogen sulfida dan karbon dioksida.

Jika konsentrasi karbon dioksida yang dihamburkan cukup besar maka akan membuat sesak napas sementara hidrogen sulfida berlebihan akan membuat keracunan.
Proses erupsi freatik gunung api
Ada tiga jenis bahaya erupsi freatik diantaranya:
1. Gas beracun seperti karbon dioksida dan hidrogen sulfida. Emisi gas akibat letusan freatik telah menyebabkan banyak kematian di dunia.
2. Abu piroklastik yang ditandai dengan gas, cairan atau partikel yang bergerak cepat berbahaya dan merusak.
3. Partikel jatuhan seperti batu sangat berbahaya bagi penduduk dan mahluk lain yang hidup disekitar ledakan.

Jadi erupsi freatik adalah tanda aktivitas kegunungapian yang normal namun harus tetap diwaspadai karena material letusannya tetap berbahaya bagi manusia. 

Gunung Tangkubaperahu sudah cukup lama tertidur dan sekarang baru menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi harus dipantau terus perkembangannya kedepan. 

Jadi jika terjadi erupsi saat berwisata, jangan panik dulu dan ikuti arahan dari pengawas/petugas pariwisata.

Kamis, Desember 14

Fenomena Pra dan Post Vulkanisme

Fenomena Pra dan Post Vulkanisme

Vulkanisme adalah gejala yang berkaitan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi ke atas. Magma merupakan cairan panas pijar yang panas dan menghasilkan tekanan. 

Tekanan ini membuat magma mendesak naik menerobos lapisan kulit bumi dan muncullah gunung api. Gunung api tersebar secara tidak merata di permukaan bumi dan mayoritas berada di zona subduksi lempeng. Baca juga: Bedanya bukit dengan gunung

Berdasarkan aktivitasnya, gunung api dapat dibagi kedalam 3 tipe yaitu gunung api aktif, gunung mati dan gunung istirahat.
1.Gunung aktif yaitu gunung api yang masih bekerja dan kawahnya mengeluarkan asap secara periodik. Pada gunung aktif ini sering terjadi gempa dan letusan. Contoh gunung api aktif di Indonesia adalah Sinabung dan Agung.
2. Gunung mati yaitu gunung api yang diketahui tidak meletus atau tidak menunjukkan aktivitas vulkanik sama sekali. Contohnya adalah Gunung Patuha dan Gunugn Sumbing.
3. Gunung istirahat yaitu gunung api yang sewaktu waktu bisa meletus kemudian beristrihat dalam waktu cukup lama. Contohnya Gunung Galunggung dan Gunung Ciremai.
Fenomena Pra dan Post Vulkanisme
Gunung Sinabung kini paling aktif di Indonesia
Gejala yang berkaitan dengan gunung api dikenal sebagai gejala pra dan post vulkanisme. Gejala pra vulkanisme adalah gejala atau fenomena yang terjadi sebelum gunung api meletus. 

Contoh fenomena pra vulkanisme antara lain adanya gempa tremor hingga terjadi letusan. Fenomena post vulkanisme adalah peristiwa yang muncul pada lingkungan gunung api yang sudah mati atau telah meletus. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Fumarol
Fumarol adalah sumber uap dan gas yang terdapat di sekitar gunung api. Fumarol terdiri atas:
- solfatara, yaitu sumber gas belerang yang dicirikan dengan bau menusuk. Contohnya ada di Tangkubanperahu dan Ijen.
- mofet, yaitu sumber gas karbon dioksida dan bersifat berbahaya. Contohnya di Kaldera Kelud.
- sumber uap air terdapat di kawah gunung api seperti Kawah Domas.
Fenomena Pra dan Post Vulkanisme
Makdani kawah Domas
2. Makdani
Makdani adalah mata air mineral yang bersuhu panas. Makdani dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kulit. Jika kamu pergi ke kawah Domas kamu bisa menemukan banyak makdani dan merebus telur disana.

3. Geiser
Geiser adalah mata air memancar yang terjadi secara periodik dan disebabkan oleh tekanan gas dan panas di bawah lapisan batuan. Contohnya adalah geiser di Yellowstone, Islandia dan Selandia Baru. 

Geiser memiliki ketinggian bervariasi di setiap tempat dari mulai puluhan hingga ratusan meter. Baca juga: Kumpulan rumus hitung geografi

Gambar: disini, disini

Kamis, Desember 7

Dampak Letusan Gunung Api Bersifat Lokal dan Global

Dampak Letusan Gunung Api Bersifat Lokal dan Global

Gunung api atau volcano merupakan sebuah fenomena dipermukaan bumi yang dihasilkan dari adanya penerobosan magma ke kerak bumi. 

Tidak semua lokasi memiliki gunung api karena beberapa faktor seperti letak geologi dan ketebalan kerak bumi disekitarnya. Letusan gunung api sering terjadi dan akan berdampak secara lokal maupun global. 

Gunung api paling banyak muncul di zona subduksi lempeng tektonik dan sisanya pada wilayah yang disebut hot spot

Baca juga:
Lingkungan biotik dan abiotik
Tipe-tipe delta sungai

Erupsi gunung api pada dasarnya merupakan sebuah fenomena, bukan bencana. Istilah bencana dapat dikatakan bila peristiwa tersebut sudah memakan korban jiwa. 

Jika gunung api erupsi maka ia sedang meminta waktu untuk mengeluarkan berbagai bahan material yang sangat diperlukan nantinya untuk kehidupan manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Dampak lerusan gunung api bisa bersifat lokal maupun global. Bersifat lokal artinya meliputi daerah disekitarnya saja atau lebih sempit, sementara dampak global bersifat menyeluruh atau mendunia. Berikut ini contoh dampaknya.
Dampak Letusan Gunung Api Bersifat Lokal dan Global
Erupsi gunung api di Islandia
Dampak lokal erupsi
1. Terjadi banjir lahar di sekitar daerah lereng gunung api.
2. Menimbulkan hujan abu vulkanik disekitar gunung api.
3. Menghanguskan hutan disekitar lereng.
4. Membuat korban jiwa baik manusia, hewan dan tumbuhan.
5. Menghancurkan bangunan yang ada disekitarnya.
6. Menimbulkan infeksi saluran pernapasan bagi penduduk.
7. Menghasilkan daerah aliran sungai baru dan endapan pasir dan kerikil

Dampak global erupsi gunung api adalah adanya perubahan iklim mikro. Gas aerosol yang terdiri dari butiran halus debu dan kerikil akan terhempas ke udara dan terbawa angin. 

Jika volume aerosol yang disemburkan sangat besar maka akan menutupi atmosfer. Sinar matahari akan terhalang oleh aerosol dan dampaknya adalah suhu bumi akan turun. Hal ini terjadi saat erupsi dahsyat Krakatau di abad ke 18. 

Besar tidaknya letusan gunung api ditentukan oleh beberapa faktor seperti volume dapur magma, tekanan gas hingga ketinggian gunung api. Beberapa gunung api yang pernah meletus dahsyat antara lain Krakatau, Tambora, Toba, Pinatubo dan Etna.
Gambar: disini

Senin, Oktober 30

Vulkanisme dan Produknya

Vulkanisme dan Produknya

Apa jadinya kalau tidak ada gunung api di bumi ini?. Tidak akan ada daratan kalau tidak ada kegiatan vulkanisme di bumi ini. Vulkanisme merupakan kegiatan kegunungapian yang terjadin karena adanya penerobosan magma hingga mencapai permukaan bumi. 

Proses keluarnya magma ke permukaan bumi disebut dengan letusan gunung api atau erupsi. Gunung api adalah gunung yang punya lubang kepundan tempat keluarnya magma. Jadi gunung api disebut volcano kalau gunung biasa disebut mountain. Baca juga: Soal Prinsip Geografi dan Jawabannya

Jika dilihat berdasarkan strukturnya, gunung api akan menghasilkan berbagai macam produk yang terdiri dari magma, kawah utama, kawah samping, pipa kawah dan kerucut parasit.
Vulkanisme dan Produknya
Vulkanisme dan Produknya
Magma
Merupakan bahan silikat cair pijar yang tersusun atas bahan padat, cair dan gas yang terdapat di dalam litosfer dengan suhu berkisar antara 900 - 1.200 derajat Celcius. Magma berada pada lapisan yang dinamakan dapur magma. 

Dapur magma ada yang dangkal dan ada yang dalam. Letusan besar biasanya berasal dari dapur magma dalam sementara letusan yang lebih kecil berasal dari dapur magma yang dangkal. Baca juga: Menghitung kelembaban relatif dan mutlak

Kawah Utama
Merupakan lubang erupsi dengan diameter hingga 2 km dan berada di bagian puncak gunung api. Kawah utama ini biasanya terisi air atau tidak sama sekali. Sumbat lava juga terdapat di kawah utama.

Pipa Kawah
Merupakan suatu lubang atau rekahan tergolong bidang lemah di kerak bumi, tempat magma menerobos dan naik ke atas permukaan bumi.

Kawah Samping
Merupakan lubang serupsi berdiameter kurang atau hingga 2 km yang berada di lereng gunung api hasil dari adanya penerobosan ke samping gunung api. Contohnya adalah Kawah Domas di Tangkubanperahu. Baca juga: Skala kekerasan batuan MOHS

Kawah Parasit
Merupakan kerucut yang terbentuk dari akumulasi material erupsi luar kawah utama yang ada di bagian gunung api dengan ukuran lebih kecil dari kerucut gunug api utamanya.

Leleran Lava
Merupakan magma yang keluar dari kerucut gunung api dan mengalir keluar gunung api. Baca juga: Bedanya Wadi dan Oasis

Abu Piroklastik
Merupakan bahan leas berupa batu, abu, pasir yang terlontar saat erupsi gunung api terjadi. Abu piroklastik ini juga sering isebut wedus gembel dan dapat bergerak dengan kecepatan ratusan km/jam.

Selasa, September 12

Perbedaan Batuan Beku Intrusif dan Ekstrusif

Perbedaan Batuan Beku Intrusif dan Ekstrusif

Halo teman-teman, kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang bedanya batuan beku intrusif dan ekstrusif. 

Batuan beku atau igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi magma. Batuan beku dapat membeku di dalam bumi atau di luar permukaan bumi. Perbedaan lingkungan pendinginan ini akan menyebabkan perbedaan jenis batuan. 

Ada dua tipe batuan beku yaitu batuan beku intrusif dan ekstrusif. Baca juga: Genesa batuan beku

1. Batuan beku intrusif atau plutonik
Saat magma tidak mencapai permukaan bumi dan mendingin maka akan menghasilkan intrusi dan membeku dinamakan plutonik. Manifestasi plutonik ini seperti sills, dyke atau laccolith. 

Berdasarkan kandungan silikanya, batuan beku intrusif terbagi menjadi gabro, diorit, granit dan pegmatit. Dalam hal kuantitas batuan ini adalah paling umum dijumpai. 

Mayoritas magma sebenarnya jarang mencapai permukaan bumi, hanya di beberapa titik saja. Batuan beku intrusif mengalami pembekuan lambat sehingga cenderung bertekstur faneritik atau berbutir kasar. Baca juga: 6 bentuk gunung api di Indonesia

2. Batuan beku ekstrusif atau vulkanik
Saat magma mencapai permukaan bumi lewat erupsi maka dapat membeku dan dinamakan batuan beku ekstrusif. 

Menurut tingkatan kandungan silikanya batuan beku ekstrusif terbagi menjadi basalt, andesit, damar, diorit, batu apung dan obsidian. Karena sifat pembekuan cepat maka batuan beku esktrusif cenderung bertekstur afanitik atau berbutir halus.
Perbedaan Batuan Beku Intrusif dan Ekstrusif
Batuan beku intrusif dan ekstrusif
JENIS BATUAN BEKU
Klasifikasi batuan beku paling banyak menggunakan indikator kandungan silikat (SiO₂) yaitu:
Perbedaan Batuan Beku Intrusif dan Ekstrusif
Kandungan silikat batuan beku
Gabbro
Gabbro adalah batuan beku intrusif yang licin dan secara kimiawi setipe dengan basalt. Cirinya kasar, gelap dan mengandung feldpspar, augite dan kadang olivine. 

Diorit
Diorit adalah batuan beku intrusif yang terdiri darimineral silikat plagioklas feldpsar, biotite, hornblende dan piroksen. Komposisi kimiawi diorit di tengah-tengan gabbro dan granit. Sama halnya dengan andesit yang mendingin cepat saat erupsi terjadi.

Baca juga:
Pembahasan SBMPTN Geografi 2016 
Karakteristik Tanah Aluvial

Granodorit
Granodiorit adalah batuan beku yang mengandung komposisi pertengahan antara diorit dan granit. Batuan ini mengandung > 20% kuarsa secara volume, sejumlah plagioklas kaya natrium dan kalsium, sedikit muskovit mika, biotit, amphibol sebagai minerla gelap. Batuan vulkanik yang setara granodiorit adalah dasit. 

Granit
Granit setara dengan riolit dan merupakan jenis batuan beku paling umum dijumpai. Granit mengandung > 68% dan berbutir kasar. 

Mineral utamanya adalah feldspar, kuarsa dan mika. Granit didominasi warna putih, merah muda dan abu-abu. Baca juga: Awan cirrus, stratus dan cumulus
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close