Guru Geografi: Wisata Alam | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, September 4

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan

Libur long weekend kemarin saya dan keluarga seperti bisa melakukan turing untuk melihat potensi wisata daerah. 

Tujuan kami kemarin adalah untuk mengunjungi Desa Wisata Cibuntu di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Kami berangkat menggunakan motor dari Majalengka dengan arah ke Rajagaluh. Cuaca kemarin sangat terik dan tidak terlalu ramai. 

Seperti biasa bermodalkan google map kami mencari lokasi Desa Wisata Cibuntu. Kita akan cerita tentang perjalanannya berikut ini.

Setelah melewati Rajagaluh kemudian kami belok kiri menuju arah Mandirancan. Jalanan mulai menyempit dan menyusuri pesawahan yang sudah menguning dan siap dipanen. Gunung Ciremai juga terlihat gagah berada di belakang peasawahan. 

Di pertigaan Desa Cirea, kemudian kami ambil belok kiri menuju jalan desa yang lebih sempit lagi. Dari sini, jalanan mulai menanjak dan Gunung Ciremai semakin jelas terlihat. Sekitar 2 km dari jalan utama, sampailah kami di Gerbang Desa Wisata Cibuntu dengan latar Gunung Ciremai yang dangat perkasa.

Ada apa saja di Desa Cibuntu ini?. Banyak sekali potensi wisata di sini mulai dari pertanian, Curug Gongsong, Kebun Stroberi, Area Camping, Situs Purbakala, Mata Air, dan Kolam Renang. 

Desa wisata ini nampaknya baru dikembangkan sehingga beberapa spot masih dalam pembangunan. Namun spot yang paling menarik menurut saya adalah Curug Gongseng. Masuk kawasan wisata ini anda akan ditarik retribusi 6.000 rupiah per orang.

Di bagian bawah terdapat area pertanian stroberi yang masih dalam pengembangan, sementara di bagian atas terdapat kolam renang. 

Sementara untuk menuju Curug Gongseng, kamu harus berjalan melalui bukit sekitar 200 m. Di sepanjang perjalanan terdapat kebun nanas, kebun bambu, Mata Air Kahuripan, Situs Purbakala dan tentunya Curug Gongseng. 

Karena masih musim kemarau maka debit air curug sangat minim namun airnya jernih dan sejuk. Tebing-tebing bebatuan akan anda lalui disekitar Curug Gongseng. Ketinggian curug ini sekitar 7 m dan sudah ada kolamnya. Sangat cocok untuk berenang menikmati kesegaran alam.

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Situs Purbakala
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Jalan setapak menuju Curug Gongseng
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Tebing bebatuan Curug Gongseng
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Curug Gongseng Mandirancan Kuningan

Selasa, Mei 9

Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Pagi sahabat blogger sekalian, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan ke Desa Nglanggeran Yogyakarta. Perjalanan ini saya lakukan setahun lalu dan saya akan sedikit menceritakannya disini. 

Nglanggeran adalah sebuah desa wisata dinamakan terdapat fenomena endapan lava gunung api purba yang telah mati.

Saya dan istri berangkat dari Bantul menggunakan motor pagi hari melewati jalur ting road ke arah Wonosari. Dari ring road kemudian belok kanan menuju Wonosari arah Piyungan. Jalanan masih datar dengna aspal hotmik dan cukup padat. 

Masuk di perbatasan Gunung Kidul, jalan mulai menanjak dan berkelok dengan bukit koral tersingkap di kiri kanan jalan. 

Di perbatasan Gunung Kidul ini juga terdapat rest area bukit bintang dimana kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta dari atas bukit.
Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Embung Nglanggeran dengan latar gunung api purba
Beberapa ratus meter dari gerbang masuk Kabupaten Gunung Kidul ada perempatan dengan papan arah menuju Nglanggeran di sebelah kiri. Setelah belok, jalanan mulai menyempit tapi masih dalam kondisi baik. Kontur mulai berbukit dan berkelok. 

Untuk mencapai Nglanggeran dari jalan raya Wonosari dibutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Akhirnya setelah kurang lebih 10 km, sampailah kami di Nglanggeran.  

Motor diparkir di tempat yang sudah disediakan. Kami lalu membeli karcis masuk seharga 5 ribu rupiah kalau tidak salah. Kami lalu masuk ke dalam untuk tracking melihat endapan lava purba.

Jika kamu ingin mencapai puncak maka disarankan untuk mempersiapkan perbekalan, karena medannya cukup sulit dan melelahkan. Butuh waktu hingga 2 jam untuk sampai ke puncak dan saya hanya bisa sampai pertengahan saja karena tidak membawa bekal apa-apa cuma niat doang.
Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Terhimpit Tebing Breksi Purba
Endapan lava breksi banyak tersingkap di Nglanggeran. Ada beberapa tempat peristirahatan jika kamu lelah mendaki. Pemandangan dari atas bukit lava ini sangat indah dan kita bisa melihat pesawahan cantik dari sini. 

Ngalnggeran kini menjadi salah satu destinasi wisata geologi di Indonesia. Ketinggian gunung api purba ini sekitar 700 mdpl. Jika kamu mau melihat sunrise dan sunset maka lebih baik camping di puncak nya. 

Sekitar 1 km dari gunung api ini terdapat sebuah waduk buatan atau embung Nglanggeran. Embung ini dibangun warga desa untuk menampung air dan mengalirkannya untuk keperluan pertanian dan kebutuhan lain. 

Nglanggeran merupakan salah satu desa inovatif yang mampu memaksimalkan potensi fisik desa nya sebagai sarana wisata. 

Gambar: wartasolo.com

Senin, April 17

Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai

Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai

Ada banyak spot geowisata di Jawa Barat, salah satunya di Kabupaten Kuningan. Sama halnya seperti Majalengka, Kuningan berada di kaki Gunung Ciremai. 

Setelah menjelajah Kebun Teh Saderehe maka weekend kemarin lokasi selanjutnya yang dituju adalah Curug Putri. Kami berangkat dari Majalengka menggunakan motor dengan mengambil rute ke Cikijing. 

Sebenarnya ada rute yang lebih cepat yaitu ke arah Sumber namun kali ini ingin mencoba saja lewat arah selatan. Ternyata jalur selatan ini sudah mulai rusak oleh longsor. Beberapa titik ada yang amblas dan berlubang jadi kendaraan harus pelan-pelan dan berhati-hati jika lewat Cikijing.
Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai
Curug Putri Kuningan
Masuk Cikijing menuju arah Darma Kuningan, jalan ternyata terputus karena longsor. Jalan dialihkan lewat jalan desa yang berbatu, sempit dan menanjak. Akibat longsor ini jalur utama Kuningan-Majalengka terputus. Masuk kota Kuningan, kami mengambil arah kiri ke jalan lingkar menuju Kecamatan Cigugur. 

Cigugur merupakan salah satu daerah yang memiliki komunitas ada Sunda yang masih terpelihara. Setiap tahun di Cigugur selalu dilaksanakan Upacara Seren Taun untuk memperingati panen raya. 

Lewat Cigugur jalan mulai menanjak menuju Palutungan. Udara dingin khas pegunungan mulai terasa. Area pertanian warga mulai terlihat di samping kiri dan kanan jalan. Kebun sayuran seperti kubis, cabai dan bawang terhampar luas. 

Setelah 2 km ke atas, akhirnya sampai di pintu gerbang masuk kawasan perkemahan Palutungan. Kami memarkir motor lalu singgah dulu di warung untuk membeli makanan dan minuman hangat.
Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai
Suasana sekitar Curug Putri
Cuaca saat itu hujan berkabut dan kami harus menunggu hujan sedikit reda untuk masuk ke Curug. Di Palutungan, perkebunan pinus bederet rapi. Hujan sudah agak reda, kami pun masuk ke area hutan pinus untuk mencapai Curug. 

Jalanan cukup licin karena hujan dan dingin tentunya. Untuk mencapai Curug Putri harus berjalan menuruni tangga sekitar 100 m. 

Curug Putri memiliki ketinggian sekitar 6 m dengan beberapa curug kecil di bawahnya. Tata kelola area curug ini sudah baik, dengan fasilitas jembatan, jamban dan area kolam yang sudah ditata. 

Karena hari ini hujan, maka debit air cukup tinggi di curug. Air pun sangat dingin. Di sekeliling curug, terdapat pohon-pohon besar yang rimbun. 

Air di sini sangat jernih, bersih karena berasal dari mata air di Gunung Ciremai. Tersedia beberapa pedagang di sepanjang jalan menajajakan makanan seperti jagung bakar untuk menghangatkan badan.
Kebun Teh Sadarehe di Kaki Ciremai Majalengka

Kebun Teh Sadarehe di Kaki Ciremai Majalengka

Beberapa hari yang lalu merupakan libur panjang di weekend, jadi kami pulang kampung dulu mudik untuk refresh sejenak. Ada beberapa lokasi yang menjadi tujuan geotrek di Majalengka, salah satunya Kebun Teh Sadarehe di Desa Payung.

Bermodalkan google map kami berangkat bertiga menggunakan motor dari pusat kota Majalengka ke arah Rajagaluh. Perjalanan dari kota ke Rajagaluh ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Jika mau ke Saderehe maka saya anjurkan untuk pakai motor karena jalan sempit, agak rusak dan curam. 

Dari terminal Rajagaluh, rute menuju Saderehe selanjutnya ambil belok kanan menuju araha Pajajar Cipadung. Jalanan mulai menyempit namun masih beraspal baik. Sekitar 1 km setelah masuk dari jalan raya, maka akan ada persimpangan. 

Lurus menuju Cipadung sementara kiri menuju Sadarehe. Jadi ambil belok kiri. Memang papan penujuk arah menuju Sadarehe masih kurang tersedia jadi kalau bingung tanya saja ke orang sekitar, pasti tahu. Jika pakai google map, sinyal susah didapat di daerah pegunungan.
Sadarehe Majalengka, Perkebunan Teh di Kaki Ciremai
Kebun teh Sadarehe Majalengka
Setelah belok kiri, sekitar 30 m ada persimpangan lagi, lalu ambil kanan. Dari sini tinggal lurus saja melewati pesawahan dan jalanan setelah itu mulai menanjak dan berkelok. Di tengah perjalanan pas masuk Desa Sindangpano terlihat sebuah waduk buatan yang bernama Waduk Sindangpano. Waduk ini menampung air dari kaki Ciremai dan digunakan untuk irigasi warga.

Jalanan semakin berkelok, sempit dengan tebing-tebing rawan longsor di sekitar. Beberapa titik juga sudah ada yang longsor. Pemandangan hutan khas kaki gunung, hutan bambu dan cengkeh menghiasi perjalanan menunju Sadarehe. Sekitar 45 menit dari Rajagaluh, maka sampailah kami di depan Sadarehe. Ada tiket masuk untuk masuk daerah perkebunan ini yaitu 10.000 per motor. 
Sadarehe Majalengka, Perkebunan Teh di Kaki Ciremai
Kebun teh Sadarehe Majalengka
Perkebunan teh Sadarehe merupakan perkebunan teh swadaya milik warga. Beda halnya seperti perkebunan teh di Puncak atau lainnya yang luas, perkebunan teh Sadarehe tidak begitu luas hanya beberapa hektar saja. 

Ciri khas perkebunan teh Sadarehe lain adalah ada pohon-pohon kayu yang tumbuh di disekitar kebun. Di area perkebunan, ada tulisa dilarang untuk bermain di area perkebunan teh. Jadi kami hanya bisa melihat area perkebunan dari atas jalan saja.

Udara dingin khas pegunungan sangat terasa di sini. Hamparan kebun bawang juga banyak terdapat di Sadarehe. Daerah ini memang belum seperti daerah wisata lain yang banyak tersedia berbagai fasilitas. 

Hanya ada beberapa warung kecil saja yang ada di sekitar perkebunan teh. Memang akses ke Sadarehe cukup sulit dan curam jadi masih belum banyak orang yang menuju sini. 

Sadarehe alaminya adalah daerah pertanian warga, jadi memang bukan untuk wisata. Tapi pemandangan di sini memang cukup menyejukkan dan cocok untuk refreshing. 

Cuaca di pegunungan cepat berubah, jadi bagi yang mau berkunjung ke Sadarehe sangat dianjurkan untuk bawa jas hujan oke. Baca juga: Curug Leuwihejo yang hijau tosca airnya

Rabu, Maret 8

Liburan, Jalan-Jalan Ke Kebun Raya Cibodas

Liburan, Jalan-Jalan Ke Kebun Raya Cibodas

Jika sebelumnya saya sudah memposting tentang Cimory, maka kali ini giliran Kebun Raya Cibodas. Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu kebun raya terbesar di Indonesia dan berlokas di Kecamatan Pacet Cianjur. 

Kemarin waktu libur panjang, saya dan istri mampir ke sini setelah dari Cimory dan Puncak. Kebetulan saya belum pernah juga ke Kebun Raya Cibodas. Jika cuma berdua, anda lebih baik pakai motor karena jika pakai mobil, macetnya poll bikin bete.

Kebun Raya Cibodas dapat dikases dari Puncak Pass sekitar 30 menitan. Nanti saat turun dari Puncak anda akan melewati belokan menuju Kebun Raya Nusantara, lurus saja dan sekitar 4 km akan sampai di belokan menuju Cibodas tepatnya di sebelah kanan. 

Jalan menuju Kebun Raya cukup sempit tapi kalau pakai motor enak. Sekitar 2 km dari jalan raya Puncak maka anda akan sampai di pintu gerbang Cibodas. Kebun raya Cibodas dibangun pada tahun 2004 di kaki Gunung Gede dan diresmikan pada 2006.
Papan Arah Di Kebun Raya Cibodas
Kami dikenai tarif 1 motor 10.000 rupiah kemarin. Nah perjalanan dilanjutkan sampai parkiran Kebun Raya. Disana tarif parkir 10.000 rupiah, buset lumayan juga. Abis itu masuk loket kebun raya bayar lagi juga 20.000, buset rantai pengeluarannya banyak juga ternyata kaya makelar:

- masuk gerbang depan 10.000 
- parkir 10.000 (parkir mall kalah)
- karcis masuk kebun raya 20.000
Total 40.000 berdua

Setelah melewati pintu gerbang maka yang kami lihat pertama kali adalah papan penunjuk arah. Bingung juga, banyak sekali lokasi-lokasi nya dan ingin dikunjungi semuanya. Jadi pilihan pertama adalah Taman Sakura, dari gerbang kami belok ke kiri jalan kaki menyusuri jalan kecil lalu turun ke bawah bukit. Ternyata bulan ini bunga sakura belum mekar, karanya di Januari atau Agustus. Ga pa yang penting lihat pohon nya dulu, bunga nya lain kali aja.
Eksis di Kantor LIPI Cibodas
Karena ingi pekan libur panjang, banyak sekali pengunjung yang datang. Di bagian bawah, ada sungai kecil mengalir dan orang-orang banyak mandi. Air di sana sangat dingin khas pegunungan. Rasanya ingin mandi tapi tidak bawa baju salin. 

Saya dan isteri lalu menyeberangi sungai menuju Curug lupa lagi namanya, Ciismun kalau tidak salah, dari jalan cuma berjarak sekitar 10 meteran. Ada dua curug yang ada di Kebun Raya Cibodas.

Setelah itu karena pas azan dzuhur, kami sholat dulu di mushola yang ada di bawah. Jadi bagi yang muslim tidak usah khawatir, ada banyak mushola di setiap titik Kebun Raya. Habis itu kami naik lagi ke atas melewati jalan setapak, cukup pegal juga. Sasaran selanjutnya adalah Danau besar. Ternyata jauh juga, kira-kira 1 km mungkin. 

Dari Curug Ciismun anda naik dulu ke atas kemudian ke kiri menyusuri jalan dengna pohon Eucaliptus dan Pinus di kiri kanan nya. Setelah lewat pohon pinus turun lagi dan anda akna menemukan kantor pengelola kebun raya. Lanjut perjalanan naik ke atas, dan sampai di atas akan menemukan hamparan lapangan rumput luas seperti padang golf.
Sungai mengalir di lembah perbukitan, sakura nya belum mekar tuh
Rasanya ingin tidur, namun tidak ada alas pasti gatal coy. Di sudut padang rumput akan dijumpai danau cukup besar dengan air mancur di salah satu sisinya. Berbagai bunga warna-warni juga tumbuh di sepanjang sisi danau. 

Perjalanan masih panjang, dari danau kami lalu naik lagi ke atas ingin melihat taman lumut dan bunga bangkai. Kami menyusuri jalan setapak berbatu dengan pohon besar conifer di kiri kanan nya, seperti di film Twilight. Lalu sampailah di rumah kaca, didalamnya ada berbagai jenis kaktus mulai dari yang kecil sampai besar. 

Sudah puas lihat kaktus, mau lanjut ke taman lumut ternyata hujan turun. Itulah cuaca di pegunungan mudah berubah dan tidak bisa diprediksi. Nunggu hujan reda, ternyata lama juga akhirnya kami tidak jadi melihat taman lumut paku dan bunga bangkai karena waktu sudah sore juga. Padahal tinggal sedikit naik ke atas lagi. Karena malas jalan kaki naik turun lagi ke pintu gerbang, maka kami naik mobil kebun raya dengan biaya 8000 per orang. 

Akhirnya setelah 10 menitan, tiba juga di gerbang utama dengan hujan yang semakin lebat. Untuk puas menyusuri Kebun Raya Cibodas ternyata dibutuhkan waktu 1 hari penuh. 

Alhasil sore jam 4 kami pulang kembali ke Puncak dan check in dulu di hotel karena cape dan kedinginan. Besok lanjutin lagi perjalanan ke Bekasi. So, selamat berlibur....siap-siap payung dan jas hujan ya, akhir tahun, curah hujannya cenderung tinggi.

Sabtu, Januari 7

Menikmati Kesejukan Perkebunan Teh Taraju Tasikmalaya

Menikmati Kesejukan Perkebunan Teh Taraju Tasikmalaya

Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah tingkat II yang ada di Jawa Barat. Namun tahukah anda jika di salah satu wilayah Priangan ini punya perkebunan teh yang indah dan tidak kalah dengan Puncak Bogor?. 

Namanya adalah Perkebunan teh Taraju. Taraju adalah salah satu kecamatan di barat daya Tasikmalaya yang memiliki relief perbukitan. Saya sudah lupa kapan terakhir mengunjungi perkebunan Taraju dan rasanya ingin kembali menyusuri indahnya alam di sana. Banyak teman saya yang berasal dari Taraju.

Taraju dapat diakses dari pusat kota Tasikmalaya sejauh kurang lebih 48 km. Jalan menuju Taraju sudah cukup baik namun lebar jalan tidak begitu besar dan banyak terdapat tebing rawan longsor. Angkutan umum hanya tersedia hingga sore hari untuk menuju sana dan lebih enak jika pakai kendaraan pribadi atau motor.
Menikmati Kesejukan Perkebunan Teh Taraju Tasikmalaya
Pemandangan sekitar Taraju, pic: googlemap 3D
Dari pusat kota anda harus bergerak menuju arah Singaparna lalu sebelum Salawu anda belok ke kiri. Sepanjang perjalanan anda akan melihat pemandangan perbukitan dan pedesaan khas Sunda yang elok. Jika sudah sampai Taraju maka hembusan udara sejuk dan pemandangan kebun teh luas akan memanjakan mata.

Perkebunan teh Taraj menurut sejarahnya dibuka oleh pemerintah Kolonial Belanda tahn 1909 dan sampai sekarang masih beroperasi. Jika digabung dengan perkebunan teh di Kecamatan Bojonggambir maka luas total perkebunan teh di Tasikmalaya mencapai lebih dari 7 juta hektar, luas sekali bukan?.
Menikmati Kesejukan Perkebunan Teh Taraju Tasikmalaya
Keelokan Perkebunan Teh Taraju, pic:tripmondo.com
Anda dapat berjalan-jalan menyusuri setiap sudut pohon teh dan merasakan harumnya tanah Pasundan. Aktifitas lain yang dapat dilakukan adalah fotografi, wisata edukasi, penelitian hingga camping. Banyak warung-warung kopi di pinggir jalan jika anda ingin menikmati secangkir kopi dengan pemandangan hijaunya teh di sana. 

Dijamin anda tidak akan rugi dan ingin betah berlama-lama di sana meninggalkan semua kepenatan dan hiruk pikuk kota. Kedamaian jiwa dan pikiran akan anda rasakan menyatu dengan dedaunan teh yang sejuk. 

Jika anda ingin puas menikmati perkebunan teh Taraju maka minimal anda harus berada di sana 2 hari dua malam minimal. Semakin malam udara semakin dingin khas pegunungan dan tentunya secangkir minum khas Sunda seperti bandrek, bajigur atau teh panas cocok menemani anda di malam hari.

Sabtu, Desember 31

Talaga Nilem, Mata Air Jernih di Kaki Ciremai Kuningan

Talaga Nilem, Mata Air Jernih di Kaki Ciremai Kuningan

Objek wisata alam di sekitaran Karesidenan Cirebon ternyata cukup banyak. Kemarin saya dan keluarga coba menyambangi Talaga Nilem yang berlokasi di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. 

Talaga Nilem persis berada di batas antara Kabupaten Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Kami berangkat dari pusat kota Majalengka pakai motor jam 9 siang menuju arah Rajagaluh. 

Dari terminal Rajagaluh kemudian terus menuju arah Sumber. Kemudian pas Polsek Dukupuntang akan ada gerbang masuk menuju lokasi Telaga. Kami lalu belok kiri dan menyusuri jalan desa menuju arah Telaga Remis. Setelah 1 km maka tibalah kami di gerbang masuk telaga. 

Telaga Nilem ini masih satu kompek dengan Telaga Remis. Sebelum masuk gerbang di sisi kanan jalan sudah daat ditemukan kolam-kolam milik warga dengna air yang sangat jernih sampai ikan pun terlihat melayang.

Tiket karcis masuk ke Telaga Nilem 12.500 satu orang nya. Dari gerbang kemudian naik ke atas dan belok kanan, maka kami sampai pula di parkiran. Untuk menuju telaga anda harus berjalan ke bawah. Dari atas parkiran jernihnya mata air sudah terlihat. Telaga Nilem ini merupakan mata air alami di kakai Ciremai. 
Talaga Nilem, Mata Air Jernih di Kaki Ciremai Kuningan
Jernihnya Telaga Nilem
Talaga Nilem, Mata Air Jernih di Kaki Ciremai Kuningan
Nyebur dulu bray
Ada dua kolam mata air dengan kedalaman 1 m hingga 5 m. Dari atas kolam, dasar mata air berupa bebatuan vulkanik dengan tumbuhan air yang masih hijau di dalamnya. Pemandangan yang sangat eksotik dengan udara pegunungan yang sejuk. Anda bisa melakukan berbagai aktifitas mulai dari berenang, foto bawah air hingga diving.

Ada beberapa ikan kecil di mata air tersebut. Objek wisata ini masih relatif belum ramai namun sudah mulai viral di media sosial. Fasilitas yang tersedia di sini antara lain penyewaan ban, dan warung-warung kecil. Pastikan anda bisa berenang jika ingin nyebur ke tengah mata air karena kedalamannya cukup dalam. 

Kami tentunya langsung nyebur karena ingin merasakan sejuknya mata air gunung Ciremai. Jadi jika anda sedang berada di wilayah Majalengka atau Cirebon, tidak salahnya untuk mampir ke Telaga Nilem. Baca juga: Mata Air Situ Cicerem Kuningan

Sabtu, Desember 24

Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya

Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya

Majalengka saat ini memiliki banyak spot wisata baru dan dua objek yang saya kunjungi beserta keluarga liburan kali ini adalah Terasering Argapura Panyaweuyan dan Curug Muara Jaya. Terasering Argpura merupakan sebuah wilayah pertanian di kaki gunung Ciremai tepatnya di Kecamatan Argapura Majalengka. 

Terasering Argapura tidak kalah dengan Subak di Bali. Kami berangkat bertiga dari kota Majalengka dengan motor. Dari pusat kota perjalanan dimulai menuju jalan Cigasong mengarah ke Maja. 

Setelah 20 menit perjalanan sampailah di terminal Maja dan ada papan bertuliskan arah menuju objek wisata Curug Muara Jaya di sebelah kiri. Setelah belok kiri jalanan akan menyempit namun masih beraspal bagus. Topografi mulai menanjak curam dengan udara yang semakin dingin. Di sepanjang perjalanan anda akan menjumpai kebun-kebun sayur warga. 

Setelah 12 km perjalanan akan ada persimpangan menuju Curug Muara Jaya. Kami tidak pergi ke curug dulu tapi ke Pangaweuyan dulu untuk melihat terasering. Memang waktu terbaik untuk melihat terasering Argapura adalah pagi hari karena kalau agak siang sudah panas. 

Dari persimpangan curug tadi perjalanan dilanjutkan dengan kontur yang semakin curam menanjak berkelok menaiki bukit. Dari sini saja sudah terlihat keindahan pemandangan bukit-bukit di kaki Ciremai.
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Terasering Argapura Panyaweuyan
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Curug Muara Jaya
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Kiran ngojay di Curug
Jalan menunju Lembah Panyaweuyan sempit dan berkelok seperti ke Puncak namun sempit. Daerah ini juga rawan longsor jadi lebih baik anda pergi saat cuaca cerah. Setelah 20 menit perjalanan dari persimpangan tadi sampailah di lokasi terasering Argapura. 

Sejauh mata memandang, area pertanian terasering dengan jenis komoditas bawang terhampar rapi dan indah. Objek wisata ini memang masih belum ramai dikunjungi tapi sudah mulai terkenal. 

Ada yang sengaja datang untuk mencari waktu fotografi. Kalau mau prewed disini pemandangannya bagus juga!. Jika ingin pergi ke puncak maka harus membayar 5.000 rupiah karena harus menginjak bawang. 

Ini untuk mengantisipasi kerugian petani di sana. Beberapa warung kecil juga tersedia untuk sekedar ngopi dan makan sambil menikmati pemandangan kebun bawang. Bawang disini dipanen satu tahun dua kali kata petani di sana. Jika anda ingin masuk ke kebun maka harus ijin petani dulu dengan membayar sewa jalan nya.

Setelah 1 jam di lembah Panyaweuyan, kami beranjak turun kembali menuju Curug Muara Jaya yang tadi sudah terlewati karena rutenya satu arah. Cuaca masih cerah jadi tentunya masih waktu tepat untuk berenang di ari terjun. Dari puncak Pangaweuyan kemudian turun hingga persimpangan menuju Curug. Dari persimpangan, kami turun lagi dan sekitar 600 m sampai di parkiran. 

Karcis masuk ke Curug Muara Jaya 15 ribu rupiah per orang. Dari parkiran untuk mencapai curug harus turun lagi menuruni tangga yang curam. Lokasi curug ini berada di kaki bukit Panyaweuyan tadi. Dari parkiran tadi perlu waktu 20 menit untuk sampai di Curug. Ada 2 tingkat curug yaitu Curug pertama yang paling tinggi sedangkan curug kedua ketinggiannya rendah.

Karena sudah cape jadi saya cukup menikmati dinginya air curug di bawah saja. Kiran sudah pasti mandi kalau lihat air. Saya ga bawa salin jadi cuma nemenin anak aja. Setelah puas berenang kami pulang kembali ke atas dan lumayan pegel juga sambil gendong anak. Di tengah perjalanan mampir dulu di warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman. Kami pesan mier rebus pakai telor untuk ngisi tenaga dulu.

Beres makan, perjalanan dilanjutkan kembali ke atas dan setelah solat zuhur di musola kemudian pulang kembali ke kota Majalengka dan tidur. Selamat berlibur.
Penulis: Guru Geografi, Blogger

Senin, Desember 19

Pegunungan Sewu, Geopark Dasar Laut Purba Mengagumkan

Pegunungan Sewu, Geopark Dasar Laut Purba Mengagumkan

Kalian tentu pernah main ke pegunungan bukan? seperti daerah Puncak atau Tangkubanperahu. Tapi pernahkah kamu main ke pegunungan yang asalnya merupakan dasar laut purba?. Jika belum, maka kamu harus coba jalan-jalan wisata ke Pegunungan Sewu di Gunung Kidul Jogjakarta. 

Indonesia sangat kaya akan pegunungan karena letaknya yang secara geologi berada di jalur subduksi lempeng tektonik. Saya sendiri beruntung pernah menginjakan kaki di dasar laut purba ini saat jalan bersama Komunitas Blogger Jogja.

Pegunungan Sewu merupakan area bukit karst atau kapur yang ditetapkan sebagai Global Geoparks Network atau Taman Bumi Dunia oleh UNESCO tahun 2015 di Jepang. Indonesia punya dua kawasan geopark saat ini yaitu Gunung Batur di Bali dan Pegunungan Sewu di Jawa. 

Geopark merupakan sebuah kawasan situs warisan geologi yang didalamnya punya nilai ekologi dan warisan budaya yang sangat tinggi dan berfungsi sebagai daerah konservasi, edukasi dan pembangunan berkelanjutan. Kawasan geopark menjadi bagian dari sejarah dunia beserta peradabannya sejak 4,6 milyar tahun lalu.
Peta Pegunungan Sewu, pic: googlemap
Genesa Pegunungan Sewu
Pegunungan Sewu dalam bahasa Indonesia punya arti Pegunungan Seribu merupakan sebuah kawasan perbukitan karst istimewa di Jawa. Mengapa Pegunungan Sewu istimewa?, karena kawasan ini membentan sejaih 85 km dengan 40 ribuan bukit kerucut kapur atau conical hills di dalamnya. Luas endapan batu kapur di sisi mencapai 1.300 km persegi.

Pegunungan Sewu meliputi wilayah Jogjakarta, Wonogiri hingga Pacitan. Secara geologi, pegunungan karst ini terbentuk dari pengangkatan dasar laut atau uplift sekitar 1,8 juta tahun lalu. Daerah ini pertama kali dihuni manusia 180 ribu tahun lalu. Subduksi lempeng samudera Indo Australia ke bawah lempeng Eurasia mengakibatkan dasar laut terangkat.

Pegunungan Sewu dikelilingi oleh jaringan hidrologi besar dan membentuk jalur sempit dengan panjang 100 km dan lebar sekitar 30 km diantara Kali Opak dan Teluk Pacitan. Arah pegunungan ini memanjang dari timur ke barat dengan dikelilingi oleh dataran aluvial dan barisan pegunungan yang ketinggiannya tidak melebihi 800 m seperti: bagian timur, dekat Kali Opak dataran aluvial Jogja. 

Bagian utara, dataran rendah Wonosari dan Baturetno. Dua duanya dipisahkan Gunung Panggung dengan topografi 70 m. Dari dataran Baturetno terlihat barisan Gunung Popok di utara. Sebelah barat dataran Wonosari ada barisan Gunung Sudimoro diikuti barisan Gunung Baturagung yang membentuk suatu kawasan Gunung Kidul. Ujung utara barisan Gunung Kidul berada di sisi depresi Solo.
Pegunungan Sewu, Geopark Dasar Laut Purba Indah
Genesa Pegunungan Sewu, pic: G. Foreister
Proses pengangkatan Pegunungan Sewu terjadi sejak kala Miosen hingga Pleistosen tengah. Geolog terkenal sudah mempelajari pegunungan unik ini seperti Lehmann, van Bemmelen dan Sartono. Pegunungan Sewu. Erosi dan cekungan lembah kecil, doine, uvala dll dimulai dengan pembentukkan sungai-sungai tua seperti Kali Opak-Oyo di timur dan Kali Baksoko di barat. 

Karstifikasi kira-kira berlangsung di kala Pleistosen tengah. Anggapan ini dikemukakan setelah ditemukan sisa-sisa fosil vertebrata di retakan batu karst Punung. Bukti-bukit yang terkikis mengakibatkan terbentuknya bermacam retakan, ceruk dan gua yang di dalamnya diisi fosil tulang belulang dan artefak manusia purba. 

Banyak sekali kekayaan geologi di Pegunungan Sewu dan yang paling utama adalah goa atau cave. Goa terpanjang di kawasan karst ini adalah Luweng Jaran di Pacitan dengan panjang mencapai 25 km dan gua terdalam adalah Luweng Negpoh dengan kedalaman 200 m. 

Kawasan ini sangat baik untuk wisata edukasi keluarga dengan tujuan memperlihatkan kekayaaan Indonesia dan kekuasaan Tuhan. Untuk menuju daerah ini dari Jogja anda tingga masuk ke Jalan Wonosari dan setelah masuk batas yaitu Bukit Bintang, deretan batu kapur mulai bisa dilihat.

Sabtu, Desember 10

Curug Sempong, Air Terjun Tersembunyi di Majalengka

Curug Sempong, Air Terjun Tersembunyi di Majalengka

Kali ini saya akan ulas kembali tentang Curug Sempong yang berada di Kota Majalengka Jawa Barat. Sebetulnya tulisan ini sudah diulas di blog saya sebelumnya, tapi karena blog nya dicuri hacker jadi saya tulis lagi. 

Curug merupakan bahasa sunda dan dalam bahasa Indonesia artinya adalah air terjun. Majalengka merupakan salah satu kota kecil di Jawa Barat. Baca juga: Ke Jogja ya harus ke Kalibiru

Kota kecil ini menyimpan potensi wisata geologi yang menarik dan salah satunya adalah Curug Sempong. Jadi ceritanya, tahun kemarin saya dan keluarga liburan ke air terjun ini, karena bosan main ke mall melulu. Sebelum melihat apa saja yang ada di sana, saya jelaskan dulu sedikit profil geologi Jawa Barat. 

Menurut geolog Van Bemmelen, wilayah Jawa Barat bagian tengah masuk kategori wilayah depresi lipatan pegunungan (folded mountain) yang terbentuk karena gaya endogen. 
Curug Sempong, Air Terjun Tersembunyi di Majalengka
Curug Sempong Majalengka
Curug Sempong, Air Terjun Tersembunyi di Majalengka
Pemandangan Sekitar Curug Sempong
Majalengka berada di wilayah tengah Jawa Barat sehingga kota ini berada di antara lipatan pegunungan. Daerah lipatan pegunungan banyak terbentuk air terjun seperti Curug Sempong salah satunya. 

 Curug Sempong berlokasi di Desa Sidamukti Kabupaten Majalengka. Dari pusat kota hanya berjarak sekitar 8 km. Anda tinggal menuju Alun-Alun Munjul dari pusat kota kemudian belok ke kiri dan masuk jalan desa. Baca juga: apa itu geyser?

Anda akan melihat pemandangan pesawahan dan perbukitan di sepanjang jalan. Lebih baik anda naik motor jika ingin mengunjungi Curug Sempong. Dan satu lagi, lebih baik anda berkunjung saat musim kemarau karena debit airnya lebih rendah dan anda bisa berenang di sana. Jika musim hujan Curug Sempong akan banjir dan tidak bisa dikunjungi karena berbahaya.
Curug Sempong, Air Terjun Tersembunyi di Majalengka
Kiran main di Curug
Lanjut lagi dari jalan desa tadi anda lurus terus saja dan nanti di sebelah kiri jalan akan ada papan nama yang menandakan arah menuju Curug. Anda akan masuk ke jalan yang lebih sempit lagi dan di ujungnya anda akan sampai di perkebunan kacang dengan jalan tanah merah. 

Motor cuma bisa diparkir di atas, anda harus turun lagi ke bawah bukit sejauh 500 m untuk menuju Curug. Biaya masuk Curug Sempong sekitar 5.000 rupiah, murah saja. Jangan lupa bawa minuman, makanan dan baju salin juga jika mau berenang.

Anda harus menuruni bukit curam yang lumayan membuat pegal otot. Jalan lumayan licin dan anda harus berhati-hati. Saat sampai di Curug, anda akan menikmati suasana rimbun pepohonan dan gemercik air jernih mengalir dari Curug. 

Curug Sempong memiliki ketinggian sekitar 10 m dengan dua kolam air (pool) di bawahnya. Kolam pertama memiliki kedalaman hingga 5 m dan kolam kedua 4 m. Aliran lava purba yang membatu menghiasi pemandangan sekitar curug. Baca juga: Curug Leuwihejo berair hijau tosca eksotik

Banyak juga orang yang mancing disana. Pastikan anda bisa berenang jika mau ke kolam, karena kedalamannya cukup dalam. Objek wisata ini kini menjadi daya tarik baru wisata geologi Majalengka. 

Dengan hadirnya Bandara Kertajati nantinya diharapkan pariwisata di Majalengka semakin berkembang. Objek geologi ini juga dapat menjadi referensi edukasi dan penelitian geologi yang menarik. Baca juga: Mau berenang di telaga nilem Kuningan?
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close