Guru Geografi: Wisata Alam | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 1

Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka

Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka

Halo teman-teman, minggu ini weekend panjang dan waktunya untuk mudik dan jalna-jalan bersama keluaraga. Kali ini saya akan cerita sedikit tentang Telaga Herang di Majalengka Jawa Barat. 

Kalau saya sednag mudik pasti wajib jalan-jalan menghilangkan kepenatan kerja di kota. Majalengka merupakan daerah yang banyak memiliki wisata alam khususnya telaga yang indah, jernih dan ajib. Salah satunya adalah Telaga Herang.

Dimulai malam hari, saya searching lokasi di google dan ternyata dari rumah jarak ke telaga tersebut hanya 20 km saja, cukup dekat. Pagi hari kami berangkat pakai motor dari rumah menuju arah Rajagaluh. 

Lokasi Telaga Herang tepatnya di Desa Padaherang Sindangwangi Kabupaten Majalengka. Perjalanan lancar jaya dengan cuaca tidak terlalu panas di hari Jumat.

Mungkin karena efek siklon Dahlia, cuaca di bagian tengah Jawa Barat jadi rada sejuk. Setelah melewati Rajagaluh, kami belok kanan dan masuk jalan desa yang mulus. 

Beberaa ratus meter dari jalan utama ada percabangan, ke atas menuju bumi perkemahan dan ke kiri menuju telaga herang dan telaga nila. 

Kami belok kiri lalu melewati pedesaan yang sejuk di perbukitan, dengan saluran irigasi yang airnya jernih tiada tara. Saya yakin orang Jakarta tidak akan menemukan air sejernih disini. Sekitar 2 km, kami lalu sampai di gerbang  masuk. 

Tiket masuk hanya 5.000 saja per orang, murah banget. Beberapa meter dari gerbang kami sudah melihat Telaga Herang yang jernih dan sejuk. Luas telaga ini sekitar 3 Ha.

Air telaga sangat jernih memancarkan warna kehijauan dengan dasar bebatuan vulkanik. 
Ada banyak ikan-ikan air tawar berenang disini. Anda bisa berenang namun hati-hati karena batuannya licin dan tajam. Di bagian atas ada juga waterpark.

Sebenarnya di atas Telaga Herang ada telaga nila namun saat kami kesana airnya sedang surut dan sedang ada pemugaran. Pokonya kamu yang mau refresing dan instal ulang otak, maka wajib ke sini menikmati Telaga jernih di tengah perbukitan hijau. 

Sebelum pulang anda harus mencicipi dulu hindangan ikan bakar/goreng khas Sunda yang ada di pinggir telaga.Telaga Herang merupakan danau alami yang kini menjadi sumber irigasi warga dan sumber air bagi desa-desa disekitarnya. 
Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka
Kesejukan Telaga Herang Majalengka
Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka
Nila Bakar dan Goreng mantap, tambah karedok
Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka
Air telaga yang hijau
Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka
Santai di pinggir telaga
Sejuknya Telaga Herang Desa Padaherang Majalengka
Nyebur dulu biar adem

Selasa, Oktober 10

Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten

Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten

Majalengka saat ini tengah hits dengan berbagai wisata alam yang mulai bermunculan. Salah satunya adalah Paraland yang terletak di Gunung Panten. 

Majalengka kini tengah berbenah untuk menjadi saah satu kutub pertumbuhan baru di Jawa Barat dengan hadirnya Bandara Internasional Kertajati. Jadi sudah pasti nanti akan semakin banyak orang yang akan melintasi kota kecil ini.

Majalengka merupakan sebuah kota dengan pola memanjang dan berbada di antara pegunungan tengah dan pesisir utara Jawa. Kali ini saya akan cerita sedikit tentang salah satu objek wisata yang lagi hits di Majalengka yaitu Paraland. 

Paraland ini baru dibangun di atas sebuah bukti kini disulap menjadi wana wisata yang sangat baik. Paraland berjarak kurang lebih 7 km dari pusat kota Majalengka. Berbagai wahana bermain dibangun disini. 

Dulu objek wisata Gunung Panten ini hanya atraksi paralayang saja namun kini Paraland dibangun untuk menambah daya tarik wisata.

Tiket masuk Paraland yaitu 20.000 rupiah untu dewasa. Di dalamnya ada berbagai wahana seperti paint ball, trampolin, rumah hobbit, sepeda gantung dan pemandangan Majalengka 180 derajat. 

Bagi yang mau menginap, tersedia hotel kecil juga di atas bukit. Saya sarankan anda datang sore dan malam hari ke sini karena Paraland paling rame saat melihat sunrise atau sunset dan tentunya cuaca tidak terlalu terik saat siang hari. 

Kamu bisa melihat pemandangan kota Majalengka dari atas ketinggian dengan view Gunung Ciremai yang menjulang tinggi. 

Berbagai fasilitas seperti rumah makan dan kafe-kafe lainnya disana banyak tersedia. Bukit Panten dan Paraland menjadi tempat yang cocok untuk liburan keluarga menikmati suasana kota dari bukit yang indah.
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Area bermain di Paraland
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Pemandangan perbukitan Majalengka dari Paraland
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Majalengka view
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Arena bermain anak
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Rumah hobbit di Paraland
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Rumah pohon
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Puncak bukit Paraland
Memandangi Majalengka Dari Paraland Gunung Panten
Hotel di bukit Paraland

Sabtu, September 23

Plesiran ke Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor

Plesiran ke Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor

Halo teman-teman kali ini saya akan sedikit membagikan pengalaman geowisata ke Curug Leuwihejo di Desa Cibadak Kabupaten Bogor. 

Kemarin Kamis tanggal merah maka sudah saatnya untuk plesir dan setelah searching google map maka saya putuskan untuk pergi ke Curug Leuwihejo. 

Kami berangkat dari Bekasi dengan motor menuju arah Cileungsi - Jonggol. Cuaca kemarin cerah dan sangat bersahabat meski lumayan panas.

Berbekal google map kami menyusuri jalan Narogong menuju Jonggol. Sampai Jonggol  perjalanan diteruskan ke kanan menuju arah Cianjur. Jalanan mulai menyempit, menanjak dan sedikit jelek di beberapa lokasi. 

Dari jalan utama Jonggol ternyata lokasi Curug Leuwihejo cukup jauh juga. Kami harus menembus perbukitan dan sungai.

Setelah dua jam lebih perjalanan, sampailah kami di lokasi gerbang masuk Curug Leuwihejo. Tiket masuk Curug Leuwihejo dipatok 25.000 rupiah per orang ditambah motor 5.000 rupiah. 

Dari gerbang masuk kami menyusuri jalan desa menuju parkiran. Di sekitar curug Leuwihejo ini ada beberapa curug lagi namun tiap curug nanti harus bayar.

Motor di parkir di depan rumah warga dan kami harus berjalan lagi menyusuri jalan setapak berbukit sekitar 300 m untuk menuju Curug. 

Pemandangan ngarai dengan pesawahan akan memanjakan mata anda di perjalanan. Setelah 20 menit jalan kaki akhirnya tiba di Curug Leuwihejo. Ada beberapa lokasi pemandian curug disini. 

Curug Leuwihejo berlokasi paling ujung. Curug-curug di sini bertingkat-tingkat karena berada di aliran sungai berbatu. Warna hijau dan biru terpancar dari kolam-kolam curug ini. 

Sudah banyak fasilitas penunjang di curug ini mulai dari warung, musola hingga kamar ganti. Untuk yang membawa anak-anak harap dijaga dengna baik karena kedalaman curug terbilang dalam dengan arus kuat di bawah.
Hijau Tosca Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor
Air Curug Leuwihejo yang hijau tosca
Hijau Tosca Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor
Jalan setapak menuju Curug Leuwihejo
Hijau Tosca Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor
Sungai dan pesawahan di sekitar curug
Hijau Tosca Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor
Kolam renang alami
Hijau Tosca Curug Leuwihejo Desa Cibadak Bogor
Berenang di curug leuwihejo

Senin, September 4

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan

Libur long weekend kemarin saya dan keluarga seperti bisa melakukan turing untuk melihat potensi wisata daerah. 

Tujuan kami kemarin adalah untuk mengunjungi Desa Wisata Cibuntu di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Kami berangkat menggunakan motor dari Majalengka dengan arah ke Rajagaluh. Cuaca kemarin sangat terik dan tidak terlalu ramai. 

Seperti biasa bermodalkan google map kami mencari lokasi Desa Wisata Cibuntu. Kita akan cerita tentang perjalanannya berikut ini.

Setelah melewati Rajagaluh kemudian kami belok kiri menuju arah Mandirancan. Jalanan mulai menyempit dan menyusuri pesawahan yang sudah menguning dan siap dipanen. Gunung Ciremai juga terlihat gagah berada di belakang peasawahan. 

Di pertigaan Desa Cirea, kemudian kami ambil belok kiri menuju jalan desa yang lebih sempit lagi. Dari sini, jalanan mulai menanjak dan Gunung Ciremai semakin jelas terlihat. Sekitar 2 km dari jalan utama, sampailah kami di Gerbang Desa Wisata Cibuntu dengan latar Gunung Ciremai yang dangat perkasa.

Ada apa saja di Desa Cibuntu ini?. Banyak sekali potensi wisata di sini mulai dari pertanian, Curug Gongsong, Kebun Stroberi, Area Camping, Situs Purbakala, Mata Air, dan Kolam Renang. 

Desa wisata ini nampaknya baru dikembangkan sehingga beberapa spot masih dalam pembangunan. Namun spot yang paling menarik menurut saya adalah Curug Gongseng. Masuk kawasan wisata ini anda akan ditarik retribusi 6.000 rupiah per orang.

Di bagian bawah terdapat area pertanian stroberi yang masih dalam pengembangan, sementara di bagian atas terdapat kolam renang. 

Sementara untuk menuju Curug Gongseng, kamu harus berjalan melalui bukit sekitar 200 m. Di sepanjang perjalanan terdapat kebun nanas, kebun bambu, Mata Air Kahuripan, Situs Purbakala dan tentunya Curug Gongseng. 

Karena masih musim kemarau maka debit air curug sangat minim namun airnya jernih dan sejuk. Tebing-tebing bebatuan akan anda lalui disekitar Curug Gongseng. Ketinggian curug ini sekitar 7 m dan sudah ada kolamnya. Sangat cocok untuk berenang menikmati kesegaran alam.

Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Situs Purbakala
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Jalan setapak menuju Curug Gongseng
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Tebing bebatuan Curug Gongseng
Desa Wisata Cibuntu Mandirancan Kuningan
Curug Gongseng Mandirancan Kuningan

Selasa, Mei 9

Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Pagi sahabat blogger sekalian, kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan ke Desa Nglanggeran Yogyakarta. Perjalanan ini saya lakukan setahun lalu dan saya akan sedikit menceritakannya disini. 

Nglanggeran adalah sebuah desa wisata dinamakan terdapat fenomena endapan lava gunung api purba yang telah mati.

Saya dan istri berangkat dari Bantul menggunakan motor pagi hari melewati jalur ting road ke arah Wonosari. Dari ring road kemudian belok kanan menuju Wonosari arah Piyungan. Jalanan masih datar dengna aspal hotmik dan cukup padat. 

Masuk di perbatasan Gunung Kidul, jalan mulai menanjak dan berkelok dengan bukit koral tersingkap di kiri kanan jalan. 

Di perbatasan Gunung Kidul ini juga terdapat rest area bukit bintang dimana kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta dari atas bukit.
Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Embung Nglanggeran dengan latar gunung api purba
Beberapa ratus meter dari gerbang masuk Kabupaten Gunung Kidul ada perempatan dengan papan arah menuju Nglanggeran di sebelah kiri. Setelah belok, jalanan mulai menyempit tapi masih dalam kondisi baik. Kontur mulai berbukit dan berkelok. 

Untuk mencapai Nglanggeran dari jalan raya Wonosari dibutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Akhirnya setelah kurang lebih 10 km, sampailah kami di Nglanggeran.  

Motor diparkir di tempat yang sudah disediakan. Kami lalu membeli karcis masuk seharga 5 ribu rupiah kalau tidak salah. Kami lalu masuk ke dalam untuk tracking melihat endapan lava purba.

Jika kamu ingin mencapai puncak maka disarankan untuk mempersiapkan perbekalan, karena medannya cukup sulit dan melelahkan. Butuh waktu hingga 2 jam untuk sampai ke puncak dan saya hanya bisa sampai pertengahan saja karena tidak membawa bekal apa-apa cuma niat doang.
Main Ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Terhimpit Tebing Breksi Purba
Endapan lava breksi banyak tersingkap di Nglanggeran. Ada beberapa tempat peristirahatan jika kamu lelah mendaki. Pemandangan dari atas bukit lava ini sangat indah dan kita bisa melihat pesawahan cantik dari sini. 

Ngalnggeran kini menjadi salah satu destinasi wisata geologi di Indonesia. Ketinggian gunung api purba ini sekitar 700 mdpl. Jika kamu mau melihat sunrise dan sunset maka lebih baik camping di puncak nya. 

Sekitar 1 km dari gunung api ini terdapat sebuah waduk buatan atau embung Nglanggeran. Embung ini dibangun warga desa untuk menampung air dan mengalirkannya untuk keperluan pertanian dan kebutuhan lain. 

Nglanggeran merupakan salah satu desa inovatif yang mampu memaksimalkan potensi fisik desa nya sebagai sarana wisata. 

Gambar: wartasolo.com

Senin, April 17

Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai

Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai

Ada banyak spot geowisata di Jawa Barat, salah satunya di Kabupaten Kuningan. Sama halnya seperti Majalengka, Kuningan berada di kaki Gunung Ciremai. 

Setelah menjelajah Kebun Teh Saderehe maka weekend kemarin lokasi selanjutnya yang dituju adalah Curug Putri. Kami berangkat dari Majalengka menggunakan motor dengan mengambil rute ke Cikijing. 

Sebenarnya ada rute yang lebih cepat yaitu ke arah Sumber namun kali ini ingin mencoba saja lewat arah selatan. Ternyata jalur selatan ini sudah mulai rusak oleh longsor. Beberapa titik ada yang amblas dan berlubang jadi kendaraan harus pelan-pelan dan berhati-hati jika lewat Cikijing.
Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai
Curug Putri Kuningan
Masuk Cikijing menuju arah Darma Kuningan, jalan ternyata terputus karena longsor. Jalan dialihkan lewat jalan desa yang berbatu, sempit dan menanjak. Akibat longsor ini jalur utama Kuningan-Majalengka terputus. Masuk kota Kuningan, kami mengambil arah kiri ke jalan lingkar menuju Kecamatan Cigugur. 

Cigugur merupakan salah satu daerah yang memiliki komunitas ada Sunda yang masih terpelihara. Setiap tahun di Cigugur selalu dilaksanakan Upacara Seren Taun untuk memperingati panen raya. 

Lewat Cigugur jalan mulai menanjak menuju Palutungan. Udara dingin khas pegunungan mulai terasa. Area pertanian warga mulai terlihat di samping kiri dan kanan jalan. Kebun sayuran seperti kubis, cabai dan bawang terhampar luas. 

Setelah 2 km ke atas, akhirnya sampai di pintu gerbang masuk kawasan perkemahan Palutungan. Kami memarkir motor lalu singgah dulu di warung untuk membeli makanan dan minuman hangat.
Curug Putri, Tersembunyi Di Balik Hutan Pinus Ciremai
Suasana sekitar Curug Putri
Cuaca saat itu hujan berkabut dan kami harus menunggu hujan sedikit reda untuk masuk ke Curug. Di Palutungan, perkebunan pinus bederet rapi. Hujan sudah agak reda, kami pun masuk ke area hutan pinus untuk mencapai Curug. 

Jalanan cukup licin karena hujan dan dingin tentunya. Untuk mencapai Curug Putri harus berjalan menuruni tangga sekitar 100 m. 

Curug Putri memiliki ketinggian sekitar 6 m dengan beberapa curug kecil di bawahnya. Tata kelola area curug ini sudah baik, dengan fasilitas jembatan, jamban dan area kolam yang sudah ditata. 

Karena hari ini hujan, maka debit air cukup tinggi di curug. Air pun sangat dingin. Di sekeliling curug, terdapat pohon-pohon besar yang rimbun. 

Air di sini sangat jernih, bersih karena berasal dari mata air di Gunung Ciremai. Tersedia beberapa pedagang di sepanjang jalan menajajakan makanan seperti jagung bakar untuk menghangatkan badan.
Kebun Teh Sadarehe di Kaki Ciremai Majalengka

Kebun Teh Sadarehe di Kaki Ciremai Majalengka

Beberapa hari yang lalu merupakan libur panjang di weekend, jadi kami pulang kampung dulu mudik untuk refresh sejenak. Ada beberapa lokasi yang menjadi tujuan geotrek di Majalengka, salah satunya Kebun Teh Sadarehe di Desa Payung.

Bermodalkan google map kami berangkat bertiga menggunakan motor dari pusat kota Majalengka ke arah Rajagaluh. Perjalanan dari kota ke Rajagaluh ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Jika mau ke Saderehe maka saya anjurkan untuk pakai motor karena jalan sempit, agak rusak dan curam. 

Dari terminal Rajagaluh, rute menuju Saderehe selanjutnya ambil belok kanan menuju araha Pajajar Cipadung. Jalanan mulai menyempit namun masih beraspal baik. Sekitar 1 km setelah masuk dari jalan raya, maka akan ada persimpangan. 

Lurus menuju Cipadung sementara kiri menuju Sadarehe. Jadi ambil belok kiri. Memang papan penujuk arah menuju Sadarehe masih kurang tersedia jadi kalau bingung tanya saja ke orang sekitar, pasti tahu. Jika pakai google map, sinyal susah didapat di daerah pegunungan.
Sadarehe Majalengka, Perkebunan Teh di Kaki Ciremai
Kebun teh Sadarehe Majalengka
Setelah belok kiri, sekitar 30 m ada persimpangan lagi, lalu ambil kanan. Dari sini tinggal lurus saja melewati pesawahan dan jalanan setelah itu mulai menanjak dan berkelok. Di tengah perjalanan pas masuk Desa Sindangpano terlihat sebuah waduk buatan yang bernama Waduk Sindangpano. Waduk ini menampung air dari kaki Ciremai dan digunakan untuk irigasi warga.

Jalanan semakin berkelok, sempit dengan tebing-tebing rawan longsor di sekitar. Beberapa titik juga sudah ada yang longsor. Pemandangan hutan khas kaki gunung, hutan bambu dan cengkeh menghiasi perjalanan menunju Sadarehe. Sekitar 45 menit dari Rajagaluh, maka sampailah kami di depan Sadarehe. Ada tiket masuk untuk masuk daerah perkebunan ini yaitu 10.000 per motor. 
Sadarehe Majalengka, Perkebunan Teh di Kaki Ciremai
Kebun teh Sadarehe Majalengka
Perkebunan teh Sadarehe merupakan perkebunan teh swadaya milik warga. Beda halnya seperti perkebunan teh di Puncak atau lainnya yang luas, perkebunan teh Sadarehe tidak begitu luas hanya beberapa hektar saja. 

Ciri khas perkebunan teh Sadarehe lain adalah ada pohon-pohon kayu yang tumbuh di disekitar kebun. Di area perkebunan, ada tulisa dilarang untuk bermain di area perkebunan teh. Jadi kami hanya bisa melihat area perkebunan dari atas jalan saja.

Udara dingin khas pegunungan sangat terasa di sini. Hamparan kebun bawang juga banyak terdapat di Sadarehe. Daerah ini memang belum seperti daerah wisata lain yang banyak tersedia berbagai fasilitas. 

Hanya ada beberapa warung kecil saja yang ada di sekitar perkebunan teh. Memang akses ke Sadarehe cukup sulit dan curam jadi masih belum banyak orang yang menuju sini. 

Sadarehe alaminya adalah daerah pertanian warga, jadi memang bukan untuk wisata. Tapi pemandangan di sini memang cukup menyejukkan dan cocok untuk refreshing. 

Cuaca di pegunungan cepat berubah, jadi bagi yang mau berkunjung ke Sadarehe sangat dianjurkan untuk bawa jas hujan oke. Baca juga: Curug Leuwihejo yang hijau tosca airnya

Rabu, Maret 8

Liburan, Jalan-Jalan Ke Kebun Raya Cibodas

Liburan, Jalan-Jalan Ke Kebun Raya Cibodas

Jika sebelumnya saya sudah memposting tentang Cimory, maka kali ini giliran Kebun Raya Cibodas. Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu kebun raya terbesar di Indonesia dan berlokas di Kecamatan Pacet Cianjur. 

Kemarin waktu libur panjang, saya dan istri mampir ke sini setelah dari Cimory dan Puncak. Kebetulan saya belum pernah juga ke Kebun Raya Cibodas. Jika cuma berdua, anda lebih baik pakai motor karena jika pakai mobil, macetnya poll bikin bete.

Kebun Raya Cibodas dapat dikases dari Puncak Pass sekitar 30 menitan. Nanti saat turun dari Puncak anda akan melewati belokan menuju Kebun Raya Nusantara, lurus saja dan sekitar 4 km akan sampai di belokan menuju Cibodas tepatnya di sebelah kanan. 

Jalan menuju Kebun Raya cukup sempit tapi kalau pakai motor enak. Sekitar 2 km dari jalan raya Puncak maka anda akan sampai di pintu gerbang Cibodas. Kebun raya Cibodas dibangun pada tahun 2004 di kaki Gunung Gede dan diresmikan pada 2006.
Papan Arah Di Kebun Raya Cibodas
Kami dikenai tarif 1 motor 10.000 rupiah kemarin. Nah perjalanan dilanjutkan sampai parkiran Kebun Raya. Disana tarif parkir 10.000 rupiah, buset lumayan juga. Abis itu masuk loket kebun raya bayar lagi juga 20.000, buset rantai pengeluarannya banyak juga ternyata kaya makelar:

- masuk gerbang depan 10.000 
- parkir 10.000 (parkir mall kalah)
- karcis masuk kebun raya 20.000
Total 40.000 berdua

Setelah melewati pintu gerbang maka yang kami lihat pertama kali adalah papan penunjuk arah. Bingung juga, banyak sekali lokasi-lokasi nya dan ingin dikunjungi semuanya. Jadi pilihan pertama adalah Taman Sakura, dari gerbang kami belok ke kiri jalan kaki menyusuri jalan kecil lalu turun ke bawah bukit. Ternyata bulan ini bunga sakura belum mekar, karanya di Januari atau Agustus. Ga pa yang penting lihat pohon nya dulu, bunga nya lain kali aja.
Eksis di Kantor LIPI Cibodas
Karena ingi pekan libur panjang, banyak sekali pengunjung yang datang. Di bagian bawah, ada sungai kecil mengalir dan orang-orang banyak mandi. Air di sana sangat dingin khas pegunungan. Rasanya ingin mandi tapi tidak bawa baju salin. 

Saya dan isteri lalu menyeberangi sungai menuju Curug lupa lagi namanya, Ciismun kalau tidak salah, dari jalan cuma berjarak sekitar 10 meteran. Ada dua curug yang ada di Kebun Raya Cibodas.

Setelah itu karena pas azan dzuhur, kami sholat dulu di mushola yang ada di bawah. Jadi bagi yang muslim tidak usah khawatir, ada banyak mushola di setiap titik Kebun Raya. Habis itu kami naik lagi ke atas melewati jalan setapak, cukup pegal juga. Sasaran selanjutnya adalah Danau besar. Ternyata jauh juga, kira-kira 1 km mungkin. 

Dari Curug Ciismun anda naik dulu ke atas kemudian ke kiri menyusuri jalan dengna pohon Eucaliptus dan Pinus di kiri kanan nya. Setelah lewat pohon pinus turun lagi dan anda akna menemukan kantor pengelola kebun raya. Lanjut perjalanan naik ke atas, dan sampai di atas akan menemukan hamparan lapangan rumput luas seperti padang golf.
Sungai mengalir di lembah perbukitan, sakura nya belum mekar tuh
Rasanya ingin tidur, namun tidak ada alas pasti gatal coy. Di sudut padang rumput akan dijumpai danau cukup besar dengan air mancur di salah satu sisinya. Berbagai bunga warna-warni juga tumbuh di sepanjang sisi danau. 

Perjalanan masih panjang, dari danau kami lalu naik lagi ke atas ingin melihat taman lumut dan bunga bangkai. Kami menyusuri jalan setapak berbatu dengan pohon besar conifer di kiri kanan nya, seperti di film Twilight. Lalu sampailah di rumah kaca, didalamnya ada berbagai jenis kaktus mulai dari yang kecil sampai besar. 

Sudah puas lihat kaktus, mau lanjut ke taman lumut ternyata hujan turun. Itulah cuaca di pegunungan mudah berubah dan tidak bisa diprediksi. Nunggu hujan reda, ternyata lama juga akhirnya kami tidak jadi melihat taman lumut paku dan bunga bangkai karena waktu sudah sore juga. Padahal tinggal sedikit naik ke atas lagi. Karena malas jalan kaki naik turun lagi ke pintu gerbang, maka kami naik mobil kebun raya dengan biaya 8000 per orang. 

Akhirnya setelah 10 menitan, tiba juga di gerbang utama dengan hujan yang semakin lebat. Untuk puas menyusuri Kebun Raya Cibodas ternyata dibutuhkan waktu 1 hari penuh. 

Alhasil sore jam 4 kami pulang kembali ke Puncak dan check in dulu di hotel karena cape dan kedinginan. Besok lanjutin lagi perjalanan ke Bekasi. So, selamat berlibur....siap-siap payung dan jas hujan ya, akhir tahun, curah hujannya cenderung tinggi.
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close