Guru Geografi: Wisata Budaya - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 1

Belajar Makna Hidup di Kampung Naga Tasikmalaya

Belajar Makna Hidup di Kampung Naga Tasikmalaya

Tahun baru 2020 sudah bergulir dan saatnya menyiapkan berbagai strategi, membuka benih-benih kebaikan baru dan meninggalkan segala deru negatif. 

Mengawali hari di tahun 2020 Masehi ini saya hanya ingin sedikit bercerita tentang sedikit ilmu yang saya dapatkan dari perjalanan saya dan keluarga ke Kampung Naga.

Libur semester ini seperti biasa kami mudik ke Tasikmalaya di Sukaraja untuk mengunjungi keluarga. Seperti biasa karena anak geografi gak betah lama diam, maka kami memutuskan untuk pergi ke Kampung Naga untuk menengok salah satu kampung tertua di Jawa Barat.

Kami berangkat dari Sukaraja lewat Jl. Cibalanarik menuju arah Garut menggunakan motor. Jalanan sudah cukup baik hanya sekitar 2 km rusak di daerah Sanghiyang. Perasaan udah beberapa tahun belum dibenerin juga.

Kampung Naga berlokasi di desa Neglasari kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya persis di perbatasan Tasikmalaya dengan Garut. Perjalanan menggunakan motor menempuh waktu 45 menit, tidak terlalu lama. 

Singkat cerita setelah sampai di parkiran, kami langsung turun ke bawah. Tidak ada parkir dan biaya untuk masuk ke Kampung Naga. 

Pada hari itu suasana masih sepi dan nampaknya wisata ini sudah kurang digemari lagi, tapi bagi saya masih punya nilai yang ingin saya gali. Saya bertiga bersama istri dan anak perempuan kami menuruni sekitar 444 anak tangga menuju lembah hijau nan asri yang dibelah oleh Sungai Ciwulan.

Sekitar 15 menitan kami sudah sampai di lokasi Kampung Naga. Kondisi pemukiman masih tetap sama seperti sejak terakhir saya berkunjung kesini. Debit aliran air Ciwulan masih sedikit karena masih belum masuk puncak musim hujan. 

Kami lalu masuk ke dalam dan melihat seorang nenek sedang menumbuk padi diatas lesung. Kami lalu menghampiri dan berbincang sedikit. Nenek tersebut sudah berumur 78 tahun dan saya lupa tidak tanya namanya.
Blajar makna hidup di Kampung Naga
Beberapa pertanyaan singkat kami sampaikan dan nenek paruh baya namun masih sehat dan perkasa ini lalu bercerita tentang kehidupannya. Berikut ringkasan ceritanya yang saya translate ke bahasa Indonesia dari bahasa Sunda.

"Nak, nenek sekarang udah usia 78 tahun tapi alhamdulillah masih sehat dan bisa kerja. Pekerjaan saya dari dulu sampai sekarang gini aja, numbuk padi tidak ada yang lain. Alhamdulillah masih sehat dan tidak pernah sakit keras. Ada beberapa tetangga yang sekarang lumpuh karena raganya jarang gerak lagi jadi tubuhnya melemah. Nenek kerja gini aja gak papa asal sehat dan tidak nyusahkan orang lain. Kebayang kan kalau gak bisa jalan nanti nyusahin kerabat."

Dari sini saya lalu berfikir tentang kehidupan yang sepertinya sangat sederhana tapi penuh makna dan membuat manusia sehat dan bebas penyakit. Nenek ini sering naik turun dari atas ke bawah bawa padi setiap hari. Kebayangkan kan ototnya terus bekerja sehingga pantas saja hingga usia hampir 80 tahun masih sehat seperti tenaga remaja.

Jauh sekali dengan gaya hidup hedonis khas orang kota yang kebanyakan duduk depan meja kerja, malas gerak, stress dan lainnya. Pantas saja penyakit-penyakit aneh penguras dompet tumbuh subur. Memang sudah saatnya kita kembali ke prinsip hidup sejati manusia yang sebenarnya sederhana. Istikomah sambil terus berbuat kebaikan dan menunggu sang pemilik untuk memanggil kembali.

Ada banyak kearifan lokal Kampung Naga yang bisa dibaca dari jurnal-jurnal ilmiah. Namun saya telah menemukan satu kearifan lokal secara langsung, penuh makna dan mudah-mudahan bisa menjadi filosofi hidup saya juga.

Agnas Setiawan. Guru Geografi. Guru Blogger 

Rabu, Januari 10

Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya

Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya

Assalamualaikum wr. wb, halo teman-teman sekalian apa kabarnya hari ini?. Semoga sehat selalu dan tetap produktif. 

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman ziarah ke Makam Syekh Abdul Muhyi dan Gua Saparwadi di Pamijahan Tasikmalaya. Syekh Abdul Muhyi adalah tokoh penyebar agama Islam di daerah selatan Jawa Barat khususnya Priangan. 

Lalu dimana lokasi makam Syekh Abdul Muhyi dan kapan waktu terbaik untuk ziarah kesana?. Saya akan bagikan pengalamannya berikut. 

Jadi kemarin saat liburan akhir tahun saya dan keluarga jalan-jalan wisata ziarah ke Pamijahan. Lokasi menuju Pamijahan sangat mudah dan tidak akan membuat anda tersesat.

Kami berangkat dari Sukaraja menuju arah Cipatujah dengan mobil. Jalanan cukup mulus namun berkelok-kelok. Total perjalanan dari Sukaraja ke Pamijahan sekitar 2,5 jam. Pada hari itu untungnya bukan hari weekend dan tidak seramai biasanya. Namun parkir bis dan mobil tetap penuh. Wisata ziarah Pamijahan Gua Saparwadi dan Makam Syekh Abdul Muhyi ini memang sangat terkenal.

Singkat cerita mobil kami sudah masuk ke gerbang wisata Pamijahan. Kami beli karcis masuk seharga 15 ribu rupiah satu mobil kalau gak salah. Lanjut mobil masuk ke parkir dekat gerbang masuk lokasi ziarah. Setelah itu kami harus jalan kaki menuju makam dan gua Saparwadi menyusuri gang kecil perkampungan sejauh 2 km.

Kami menyusuri jalan kecil bertangga yang ramai seperti pasar di kiri kanan. Berbagai suvenir mulai dari baju, ibadah, makanan, dll dijual disini. Saya harap anda siapkan uang receh karena akan ada banyak pos sumbangan di sana sini. Mungkin ada ratusan. Masuk ke makam kami harus daftar dulu di kuncen makam, bayar lagi. 

Setelah itu dari jalan kampung belok kanan menuju makam. Karena ke makam gak boleh pakai sendal, maka harus bawa keresek. Di makam banyak orang melantunkan doa kepada Allah SWT. Ingat ya, jangan minta sesuatu ke makam nya, tapi mintanya ke Allah langsung. 

Doa sudah selesai lalu kami turun lagi dan bergerak menuju Gua Saparwadi. Lokasinya cukup jauh juga dan menguras tenaga. Siap-siap juga bawah senter besar jika ingin masuk gua dan jangan beli senter kecil di pinggir jalan, gak bakalan berguna. 

Di sepanjang jalan juga banyak anak meminta-minta uang, dan ini saya gak suka sebenarnya. Mental mengemis kok diajarkan kepada anak-anak. Masuk gerbang gua, kami lapor dan bayar kuncen lagi dan nyewa pemandu lokal. Untung hari itu wisatawan sedikit jadi tidak ada antrian panjang ke dalam gua.

Gua Saparwadi Pamijahan memiliki lubang masuk sempit dan kamu harus hati-hati. Lorong gua dipenuhi bebatuan dan aliran air di bawahnya. Di dalam gua ini terdapat beberapa ruangan yang konon merupakan tempat Syekh Abdul Muhyi untuk bersembunyi dari kejaran kompeni. 

Ada lorong menuju Mekah dan Cirebon di tengah gua. Konon dulu dari pintu ini bisa langsung ke Mekah dan Cirebon. Para wali juga sering bertemu di gua ini untuk berdiskusi.

Di dalam gua ini juga ada stalaktit dan stalagmit namun sedikit. Ada mata air kahuripan yang konon berkhasiat untuk berbagai macam hal. Secara ilmiah memang air yang berasal dari mata air gunung itu adalah air paling murni maka pasti paling bagus untuk tubuh. Gua Saparwadi ini adalah gua kapur atau termasuk ornamen karst. 

Daerah Tasik Selatan memang banyak bertipe karst dari mulai Sukaraja hingga Cipatujah. Jadi itulah cerita saya ziarah ke Gua Saparwadi Pamijahan. Foto dokumentasinya di bawah ini ya.
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Colum di Gua Saparwadi
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Aliran air di dalam gua
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Ruang padepokan wali di dalam gua
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Mata air kahuripan
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Pintu masuk gua Saparwadi

Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Gerbang masuk Pamijahan
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Makam syekh abdul muhyi
Lokasi dan Waktu Ziarah Gua Saparwadi Pamijahan Tasikmalaya
Gerbang masuk gua

Sabtu, Mei 27

Rumah Adat Panjalin, Warisan Sunda Kuno Majalengka

Rumah Adat Panjalin, Warisan Sunda Kuno Majalengka

Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki rumah adat masing-masing, begitupun di sekitar Karesidenan Cirebon khususnya Majalengka terdapat rumah adat peninggalan kebudayaan masyarakat Sunda kuno yaitu Rumah Adat Panjalin.

 Rumah adat Jawa Barat paling umum adalah rumah Panggung, namun rumah adat Panjalin agak sedikit berbeda dari rumah panggung suku Sunda kebanyakan. Karena penasaran, saya pun mencoba pergi mengunjungi TKP untuk melihatnya.

Kami berangkat dari pusat kota Majalengka menuju arah Sumberjaya lewat Jatiwangi. Rumah adat Panjalin terletak di Desa Panjalin Kidul RT 1  RW 5 Kecamatan Sumberjaya, sekitar 24 dari kota Majalengka. 

Ada dua rute yang dapat ditempuh yaitu lewat jalur Jatiwangi atau lewat Rajagaluh. Baca juga: Sejuknya perkebunan teh Sadarehe

Jalanan hari itu cukup padat karena masih long weekend menyambut puasa Ramadhan. Dari jalan raya Jatiwangi sebelum Pasar Sumberjaya sebelah kiri akan ada gapura bertuliskan gerbang masuk Desa Panjalin. 

Kami lalu belok kiri dan menyusuri jalan tersebut hingga sampai di percabangan dekat balai desa dan masjid. 

pertigaan tersebut lalu belok kiri dan mentok ada gang, masuk saja ke dalam, Rumah adat Panjalin memang berada di gang sempit. Kalau anda bingung, Tanya saja ke warga sekitar pasti akan menunjukkan jalannya.
Rumah Adat Panjalin


Ruangan dibagi dua
Beberapa meter kemudian di samping kanan jalan maka akan ketemu rumah adat tersebut. Rumah adat ini berada di sekitar rumah-rumah penduduk dan kini dipagari. 

Sekilas rumah adat Panjalin bertipe rumah panggung dan seperti lumbung padi. Rumah panggung ini berukuran 9 x 9 m dengan 16 tiang penyangga dari kayu di bawahnya. 

Kayu penyangga rumah cukup tinggi berbeda dengan penyangga rumah adat Sunda pada umumnya. Atap rumah ini dulunya menggunakan rumbia namun sekarang diganti dengan genteng. Baca juga: Mau berenang di mata air Telaga Nilem?
Pintu masuk rumah cuma satu

Kayu pondasi rumah
Dinding rumah terbuat dari kayu dan sebagian dari bilik anyaman bambu. Lantai nya menggunakan anyaman bambu juga. Terdapat satu pintu dan satu tangga untuk masuk ke dalam rumah Panjalin. 

Ruangan dibagi menjadi dua yang dibatasi oleh pintu dan dinding kayu. Nampknya belum banyak orang yang datang mengunjungi objek wisata budaya ini kecuali beberapa masyarakat yang ingin berziarah.

Konon rumah adat ini dibangun oleh Eyang Sanata, yang merupakan keturunan Talaga. Beliau juga menyebarkan agama Islam di daerah ini, namun bukti otentik rumah adat Panjalin sebagai peninggalan Islam masih belum ada. 

Kini rumah adat Panjalin diurus oleh keturunan Raden Sanata. Bagi yang penasaran silahakn datang saja ke sana, gratis ko ga bayar. Baca juga: Main ke kebun teh Taraju yuk!

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close