Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta

- November 14, 2017
Jakarta merupakan kota metropolitan terbesar saat Indonesia dan menjadi ibukota negara. Seperti apa sejarah tata ruang kota Jakarta dari masa lalu hingga sekarang?. Kota Jakarta dahulu bernama Batavia sampai perang dunia kedua. Pada zaman VOC di muara Ciliwung, orang-orang Belanda mendirikan benteng untuk menahan serangan-serangan musuh setempat atau kompeni lain. Benteng tersebut dinamai Batavia untuk menghormati nenek moyang bangsa Belanda yaitu suku Bataven. Sebelum kedatangan belanda ke Indonesia, pelabuhan disana bernama Sunda Kelapa dan kemudian berubah menjadi Jayakarta yang pada tahun 1596 sudah dipimpin seorang adipati.

Sebagai pusat perdagangan Asia Tenggara, Batavia maju pesat hingga disaingi oleh Singapura buatan Raffles. Oleh sebab itu Batavia dijuluki Ratu Negeri Timur. Di Tahun 1673, populasi Jakarta mencapai 32.000 jiwa (padahal kota Frankfurt dan Main di Jerman masih 19.000 saat itu). Kemudian pada tahun 1830 tumbuh menjadi dua kali lipat, dan menjelang abad ke 19 penduudk Batavia sudah mencapai 115.000 jiwa.

Sejarah kota Batavia sejak dibukanya Weltevreden dijelaskan Wirjomantono yaitu: Daerah baru ini semula berpusat di lapangan Monas kemudian meluas ke arah Menteng dan Gondangdia. Sejak tahun 1797 pusat pemerintahan ada di kawasan Monas hingga sekarang. Selepas masa Daendels, gubernur jenderal van der Capellen (1820) menempati gedung istana Merdeka sekarang.
 
Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta
Pelabuhan Batavia abad ke 17
Perluasan kota mula-mula meliputi garden city yaitu gondangida baru dan menteng. Antara tahun 1860-1875 Batavia telah meluas meliputi kawasan dari pelabuhan Amsterdam (Tanjung Priuk) sampai Jatinegara (Meester Cornelis). Di masa lalu itu dari Gambir dibangun jalur kereta api menuju Bogor dan selesai pada akhir abad 18. Jalur kereta api sangat membantu pertumbuhan Jakarta ke arah timur di awal abad ke 20. Stasiun-stasiun kemudian ditambah untuk mendukung ekonomi lewat Pasar Senen, Pasar Manggarai dan Pasar Jatinegara.

Istana untuk gubernur jenderal dibereskan pada 1912 meski tidak ditinggali karena lebih banyak yang tinggal di istana Bogor. Istana Jakarta lebih dikhususkan untuk pertemuan penting dengan Volkstraad dan penerimaan tamu negara.

Untuk meramaikan Batavia sebagai kota perdagangan, dibuka bagian kawasan Glodok untuk Pecinan sementa sebagai ciri kota internasional baru maka diramaikan pula kawasan disekitar stasiun Gambir dan dibuka kawasan Pintu besar.

Perkembangan kota dari Batavia ke Jakarta tidak bisa dilepaskan dari peran perkembangan kawasan Gunung Sahari. Kedua hal ini memberikan pengertian baru bagi pasar tradisional Jawa mingguan yang didukung oleh deretan pertokoan yang rutin menjual kebutuhan sehari-hari dan kelontong.

Setelah Indonesia merdeka, di kawasan Merdeka Selatan sejak tahun 1960 dibangun gedung-gedung baru seperti gedung kedutaan Amerika dan Bank Indonesia di Jalan Thamrin. Soekarno lalu memerintahkan pendirian Monumen Nasional dengan bentuk kombinasi lingga yoni dengan tinggi melebihi menara Eiffel. Konsep tersebut mengandung makan simbolik persatuan kekuatan dasar dualistik untuk bangsa Indonesia merdeka.

Selepas kemerdekaan dan ibukota kembali ke Jakarta (sempat pindah ke Yogyakarta), dibangunlah kota Kebayoran Baru. Dalam waktu relatif singkat, kota-kota luar ini menyatu dengan Jakarta Raya. Pada 1948 populasi Jakarta masih 1.740.252 jiwa dan pada 1963 menjadi 3.100.000 dan terus meningkat sampai sensus 1980 mencatat angka 6.503.449 (11.023 jiwa per km persegi).
Perkembangan Tata Ruang Kota Jakarta
Proyek MRT di kota Jakarta saat ini
Sebuah gagasan pada tahun 1953 memproyeksikan luas kota menjadi 162 km persegi yang akan dibatasi oleh lingkaran jalan merangkap batas perluasan kota. Sejak 1959 perkembangan Jakarta menjadi bagian dari politik mercusuar dimana Indnoesia dijadikan pusat The New Emerging Forces.

Peristiwa G 30 S PKI tahun 1965 hanya mampu menghentikan sementara pengembangan tata ruang ibukota ini. Lau di era orde baru 1965-1985 rencan Induk pengembangan Jakarta dibuat. Bentuk dan arah perkembangannya ditentukan agar mekarnya seimbang ke segala arah dengan titik pusat Tugu Nasional di Medan Merdeka. Radius pancarnya semula 15 km kemudian diperpanjang menjadi 50 km sehingga mencakup Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. Konsep ini yang sekarang menjadi Megapolitan Jabodetabek. Perkembangan tata ruang Jakarta ini terus berlanjut hingga sekarang. Perluasannya kini sudah mencapai Cikarang di timur, di barat sudah mencapai Maja dan di selatan sudah menuju ke arah Sukabumi. 
Gambar: disini,disini
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search