Guru Geografi | Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...

Featured

[Featured][recentbylabel]

Featured

[Featured][recentbylabel]

Minggu, Oktober 2

Ganti Ban Mobil Setelah 5 Tahun di B-Quik

Ganti Ban Mobil Setelah 5 Tahun di B-Quik

Hari ini mumpung minggu saya coba ganti ban mobil karena sudah 5 tahun. Sebenarnya kondisi kembang ban masih lumayan tebal.

Namun masalahnya permukaan ban sudah retak-retak dan ada bagian yang getas lalu mengelupas. Daripada terjadi apa-apa nanti saat perjalanan jauh mending ganti saja.

Selain itu di ban kiri belakang juga tertancap paku. Pantesan dari kemarin kok tekanannya berkurang setengahnya.

Daripada mengambil resiko, maka jadilah beli ban 4 buah sekalian. Pilihan jatuh ke Hankook dengan total 2.5 juta rupiah. Jadi harga per ban nya 600 ribuan. Harga sudah termasuk pemasangan dan spooring, balancing.

Ini bukan promosi merek ban ya, tapi berhubung kondisi dompet cukupnya segitu ya sesuaikan saja. Hankook adalah merek ban asal Korea yang punya pabrik di Cikarang. 

Jadi pada dasarnya kualitas ban gak jauh beda, hanya brand saja yang membuat agak tinggi harganya.

Saya sendiri ganti ban di B-Quik Cibubur karena lumayan dekat rumah. Ini saya cerita aja, ga niat promosi juga karena ga dibayar. Cuma untuk pelayanan di B-Quik ini oke sih, semua bagian standar dicek jadi customer tahu kekurangan kendaraannya.

Berhubung masih pagi jadi antriannya belum begitu banyak dan bisa selesai 2 jam lah.

Jadi coba sering cek kondisi ban kendaraan anda biar nyaman dan mengurangi resiko kecelakaan di jalan.

Ada beberapa pendapat mengenai seberapa lama umur ban ideal itu. Ada yang bilang 5 tahunan, ada yang bilang sesuai kondisi fisik yang nampak di ban.

Jadi ini tergantung analisis anda sebagai pemilik kendaraan. Yang tahu kondisi, perasaan adalah pemiliknya. Silahkan anda menganalisis kondisi ban mobil anda sendiri.
Kerusuhan Suporter di Stadion Kanjuruhan Malang Tewaskan 129 Orang, Bukti Watak Primitif Susah Diobati

Kerusuhan Suporter di Stadion Kanjuruhan Malang Tewaskan 129 Orang, Bukti Watak Primitif Susah Diobati

Sepakbola Indonesia kembali berduka setelah laga Liga 1 antara Arema vs Persebaya tadi malam, kerusuhan terjadi dan menelan 129 korban jiwa hingga data tadi pagi.

Kejadian ini menjadi headline di Indonesia sampai media internasional yang membandingkan dengan kejadian di Hillsborough Inggris dekade silam.

Suporter Aremania mengamuk setelah timnya dikalahkan Persebaya 2-3 di kandang sendiri. Sekitar 3.000an suporter turun ke lapangan merusak fasilitas stadioan, mobil damkar sampai polisi.

Jumlah aparat yang tidak sebanding dengan suporter membuat kericuhan tidak bisa dihindarkan. Untungnya para pemain sudah diamankan oleh panitia hingga keluar stadion.

Kerusuhan hingga menelan korban ratusan jiwa ini seolah menjadi hal yang memang tidak bisa dirubah dalam perilaku suporter di Indonesia.
Perilaku anarkis hasil otak primitif

Para suporter ini masih saja membawa jiwa primitif dan tidak menerima jika tim idolanya kalah. Budaya suporter primitif ini nampaknya tidak bisa dihilangkan dalam sepakbola Indonesia.

Sejak dulu sampai sekarang meskipun ada jargon "edukasi suporter", tetap saja terulang lagi. Sepakbola sudah seperti media judi bagi suporter. Gak menang ya gak untung. 

Perilaku anarkis menjadi ciri khas masyarakat Indonesia jika tidak puas akan sesuatu. Kerusuhan-kerusuhan seringkali terjadi di beberapa daerah entah itu saat sepakbola, tawuran gengster, atau demonstrasi.

Secara ilmiah hal ini juga berkaitan dengan perilaku "otak primitif" yang mana akan memicu reaksi terhadap suatu hal yang terjadi seketika di lapangan.

Biasanya usia remaja yang otaknya belum dewasa yang masih memiliki pola otak primitif ini. Namun di Indonesia orang usia dewasa pun nampaknya masih memiliki otak primitif.

Kerusuhan di Kanjuruhan Malang yang menewaskan 129 orang ini seperti sebuah ketololan yang membudaya di ekosistem suporter bola kita. Selain itu manajemen stadion dan pengamanan yang masih lemah menambah potensi korban jiwa.

Pemerintah harus bertindak tegas karena jangan sampai ada fenomena mati konyol seperti itu lagi. Sepakbola itu adalah hiburan bukan tempat perang. Jika di Indonesia masih menjadi tempat perang maka liga kompetisi lebih baik dibubarkan saja karena memang potensi rusuh tidak bisa dihilangkan dari mentalitas suporter Indonesia.
[Dinamika Penduduk] Definisi Ledakan Penduduk (Overpopulasi) dan Dampaknya

[Dinamika Penduduk] Definisi Ledakan Penduduk (Overpopulasi) dan Dampaknya


Ledakan penduduk atau overpopulasi adalah fenomena dimana pertumbuhan penduduk melebihi daya dukung lingkungan itu sendiri.

Daya dukung lingkungan (carriying capacity) yaitu kemampuan sebidang lahan dalam mendukung kehidupan manusia (Sumarwoto, 2000)

Pada lingkungan overpopulasi, jumlah manusia lebih banyak dibandingkan ketersediaan sumber daya pendukung kehidupan seperti air, tanah, makanan, udara bersih dan lainnya.

Ledakan penduduk secara berkesinambungan menyebabkan penurunan kualitas hidup manusia dan bahkan memicu disintegrasi sosial.

Diperkirakan ada sekitar 81 juta manusia bertambah tiap tahun. Seiring fenomena imigrasi yang marak, penurunan angka kematian, terobosan ilmu pengobatan dan naiknya angka kelahiran maka populasi akan semakin bertambah tiap tahun dan menjadi ledakan penduduk jika tidak diantisipasi.

Ledakan penduduk memicu beberapa masalah lingkungan sebagai berikut:

1. Berkurangnya Sumber Daya Alam
Karena populasi manusia terus bertambah dengan cepat maka sumber daya alam yang dapat habis seperti tanah subur, terumbu karang, air tawar, bahan bakar fosil, dan hutan belantara terus menurun tajam. Lihat saja bagaimana menyeramkannya deforestasi di hutan Amazon dan Indonesia. Hal ini menciptakan tuntutan kompetitif pada sumber daya pendukung kehidupan yang vital dan berkontribusi pada penurunan kualitas hidup yang luar biasa.

Menurut sebuah studi yang digagas oleh UNEP Global Environment Outlook, konsumsi manusia yang berlebihan dari sumber daya alam yang tidak terbarukan dapat melampaui sumber daya yang tersedia dalam waktu dekat dan akan habis untuk generasi anak cucu di masa depan.

2. Hilangnya Habitat
Hilangnya berbagai ekosistem termasuk lahan basah, satwa liar, hutan hujan, terumbu karang, bentuk kehidupan air, dan padang rumput sangat dipengaruhi oleh ledakan penduduk. Di luar populasi yang berlebihan, kegiatan seperti pertanian yang berlebihan, pencemaran lingkungan, dan pengembangan lahan yang ekstensif menjadi semakin intensif.

Misalnya, hutan hujan awalnya menutupi 14% dari seluruh permukaan bumi. Saat ini, hutan hujan hanya menutupi sekitar 6% dari permukaan bumi.

Dalam emapat dekade kedepan mungkin hutan hujan akan hilang sama sekali. Selain itu, karena pencemaran lingkungan, 30% terumbu karang laut telah hilang karena pengasaman dan pemanasan global sejak tahun 1980. Selain itu, lebih dari separuh lahan basah asli telah hilang.

3. Memicu Perubahan Iklim
Semakin banyak jumlah orang maka semakin banyak jumlah kendaraan dan industri serta perjalanan udara. Lebih jauh lagi, lebih banyak populasi berarti peningkatan penggunaan sumber energi seperti batu bara dan kayu bakar yang berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, karena akumulasi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia dan jejak karbon di atmosfer, maka efek rumah kaca semakin intens, lalu memicu pemanasan global dan perubahan iklim yang meningkat. Efek dari perubahan iklim dan pemanasan global sangat besar yang mengakibatkan kelaparan ekstrim, kekeringan, banjir, dan hilangnya habitat hingga mengancam kelangsungan hidup peradaban manusia.

4. Kepunahan 
Overpopulasi telah memaksa hutan di perbatasan semakin terdesak dan hilang, polusi yang meningkat, dan perusakan ekosistem alami yang telah berkontribusi besar pada kepunahan massal spesies. Jumlah spesies yang terancam terus berlipat ganda di seluruh dunia sementara beberapa diantaranya telah benar-benar punah.

Hal ini karena aktivitas manusia seperti pengasaman sistem air, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, polusi, penangkapan ikan yang berlebihan, perburuan, dan penghancuran sistem alam yang disengaja maupun tidak langsung yang diperlukan untuk kelangsungan hidup spesies yang berbeda. Aktivitas manusia ini hanya mengubah kombinasi proses alam, sehingga menghancurkan ekosistem alami yang mendukung keanekaragaman hayati.

5. Krisis Air Bersih
Ledakan penduduk di bumi telah menghancurkan sebagian besar sistem air tawar dunia. Sebagian besar danau, sungai, sungai dan air tanah yang membentuk air tawar telah dibuat tidak terjangkau atau menjadi terlalu tercemar. Menurut pandangan global tentang sumber daya air, aktivitas yang dipengaruhi oleh populasi berlebih ini hanya menyisakan kurang dari 1% air tawar di planet ini yang siap diakses untuk kebutuhan hidup manusia.

Kerentanan/krisis air sudah mempengaruhi banyak negara yang kelebihan penduduk, terutama di beberapa negara berkembang, karena permintaan akan air cenderung lebih banyak daripada air yang dapat diakses. Jutaan spesies ikan dari ekosistem air tawar berada di ambang kepunahan. Dengan demikian, seiring bertambahnya jumlah penduduk manusia, demikian pula masalah aksesibilitas air tawar yang berkualitas semakin meningkat.

6. Menurunnya Harapan Hidup
Overpopulasi menurunkan standar hidup karena menciptakan tekanan pada sumber daya vital untuk bertahan hidup dan meningkatkan kesulitan mengakses pasokan makanan, air, energi, kesehatan, keamanan, dan tempat tinggal yang berkualitas secara konsisten. Akibatnya, orang miskin menjadi lebih miskin, dan mereka sering memilih kondisi hidup yang buruk untuk bertahan hidup.

Akhirnya, hal itu menimbulkan harapan hidup yang lebih rendah. Situasi ini serius di negara-negara berkembang seperti Asia selatan dan Afrika sub-Sahara di mana sebagian besar penduduk miskin tunduk pada pola makan yang tidak memadai dan buruk.

7. Memicu Endemi dan Pandemi
Menurut WHO, ledakan penduduk merupakan salah satu penyebab utama cepatnya kemunculan dan munculnya penyakit pada manusia. Kelebihan penduduk memperburuk berbagai faktor lingkungan dan sosial seperti polusi, kekurangan gizi, kondisi hidup yang padat, dan kurangnya perawatan kesehatan yang membuat masyarakat miskin rentan terhadap penyakit menular. Penyakit seperti TBC, malaria, HIV, disentri hingga Covid 19 menyebar lebih cepat di daerah padat penduduk. 

8. Pertanian Intensif
Di daerah di mana populasinya tinggi, orang menggunakan praktik pertanian yang dapat menghasilkan lebih banyak produk makanan dengan input yang lebih murah dan tanpa merambah ke tanah sekitarnya karena kebijakan perlindungan lingkungan baru-baru ini. Pertanian intensif telah mengakibatkan, dan telah menyebabkan penipisan kesuburan tanah, munculnya kembali parasit, munculnya parasit baru, hilangnya ekosistem, pencemaran sistem air, dan penurunan keanekaragaman hayati.

9. Meningkatnya Pengangguran, Tingkat Kejahatan, dan Kekerasan
Di negara-negara yang kelebihan penduduk, pekerjaan yang tersedia lebih sedikit daripada populasi pencari kerja secara keseluruhan. Hal ini berkontribusi pada tingginya tingkat pengangguran. Pada gilirannya, kurangnya pengangguran menyebabkan meningkatnya tingkat kejahatan karena pencurian, kartel narkoba, dan kelompok-kelompok milisi yang dieksploitasi sebagai pilihan untuk memperoleh sumber daya dan kebutuhan dasar seperti makanan, standar hidup yang baik, dan kekayaan. Kekerasan dan konflik muncul ketika orang mulai bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas.

Jumat, September 30

Persebaran Wilayah Fauna Dunia menurut Alfred Russel Wallace

Persebaran Wilayah Fauna Dunia menurut Alfred Russel Wallace

Wallace membagi zona fauna dunia menjadi 6 yaitu neartik, paleartik, neotropik, oriental, ethiopian dan australis. 

Fauna di dunia berkembang sejak zaman kambrium hingga sekarang (holosen). Persebaran fauna di dunia tidak merata karena faktor penghambat seperti fisiografis wilayah.

Fisiografis wilayah meliputi laut, rawa, sungai, gunung, padang pasir, iklim, dan edafik. Letak posisi benua di bumi juga berubah dari zaman ke zaman sehingga mempengaruhi pola persebaran fauna yang ada saat ini.

a. Wilayah Neartik
Wilayah fauna neartik persebarannya meliputi Amerika Utara, Greenland dan Meksiko bagian utara. Zona Amerika Utara bagian timur memiliki fisiografis hutan gugur, Amerika Utara bagian tengah meliputi padang rumput dan Amerika utara bertipe hutan konifer.

Lingkungan Greenland ditutupi salju dengan ketebalan antara 2-15 m. Fauna zona neartik diantaranya beruang cokelat, berang-berang, antelop, karibu, bison dan kalkun. 

Beberapa fauna salju lain seperti beruang kutub, serigala dan beruang grizzly ditemukan di zona neartik.

b. Wilayah Neotropik
Wilayah fauna neotropik mencakup Meksiko bagian selatan, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Fauna neotropik sebagian besar hidup di hutan hujan tropis seperti Amazon dan wilayah beriklim sedang di selatan Argentina dan Chile.

Fauna khas neotropik adalah anaconda, armadillo, alpaka, trenggiling, arapaima, burung burung kaiman, kapibara.

c. Wilayah Australis
Wilayah fauna Australis mencakup Australia, Maluku, Papua dan Selandia Baru. Sebagian besar wilayah zona Australis beriklim tropis dan sebagian beriklim sedang. Kondisi sebagian besar Australia beriklim ganas seperti gurun Victoria.

Contoh fauna Australis adalah kangguru, platipus, buaya, kiwi, wallaby, koala, cenderawasih, kasuari, Tasmanian Devils.

d. Wilayah Oriental
Wilayah fauna oriental meliputi Asia bagian tengah ke selatan dan tenggara. Di Indonesia, fauna oriental mencakup Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Bali.

Wilayah oriental sebagian besar memiliki hutan hujan tropis sehingga biodiversitasnya tinggi. Contoh fauna oriental adalah harimau, gajah, orang utan, badak, macan tutul, bekantan.

e. Wilayah Paleartik
Wilayah fauna paleartik meliputi hampir seluruh Eurasia, sebagian daerah Himalaya, Afganistan, Pakistan, Turki, Afrika Utara, Inggris, Jepang.

Lingkungan fisiografis wilayah paleartik cukup bervariatif dari sisi iklim dan kenampakan alam. Fauna paleartik diantaranya lynx, landak, rusa kutub, serigala, bison.

f. Wilayah Ethiopian
Wilayah fauna Ethiopian mencakup Afrika di bawah Sahara sampai Madagaskar dan Arab bagian selatan. Kenampakan fsiografis zona ethiopian terdiri atas gurun pasir, hutan hujan hingga sabana. Fauna ethiopian antara lain kuda nil, singa, zebra, hyena, simpanse, babon, jerapah, gajah.

Gambar: bigcommerce.com

Kamis, September 29

Karakteristik Batuan Beku Ekstrusif: Batu Apung (Pumice)

Karakteristik Batuan Beku Ekstrusif: Batu Apung (Pumice)


Salah satu jenis batuan beku ekstrusif yang umum ditemukan adalah batu apung. Batu apung adalah batuan berpori dengan komposisi riolit.

Batu apung mengandung kristal berukuran mikro dari jenis silikat seperti feldspar dan ferro magnesium dan juga beberapa jenis kaca.

Tekstur batu apung biasanya memiliki lubang udara atua vesikuler yang menyerupai buih atau busa. Batuan ini memiliki tekstur sangat scoriaceous dengan banya lubang atau rongga.

Lubang-lubang udara ini kadang bergabung membentuk saluran memanjang di seluruh permukaan batuan. Zeolit dapat mengisi rongga ini. Kepadatan batu apung sangat rendah sehingga dapat dengan mudah mengambang di air

Batu apung terbentuk saat letusan gunung api riolitik dimana material dari lubang kepundan dilontarkan ke udara sangat jauh dan kontak dengan udara di sekitar. Hal inilah yang mengakibatkan banyaknya lubang vesikuler terbentuk.

Batu apung banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia seperti bahan kosmetik karena dapat menghilangkan sel kulit mati dan mencerahkan kulit. Selain itu batu apung bisa dimanfaatkan untuk campuran kosntruksi beton bangunan.

Berikut ini spesifikasi batu apung:

Grup: Batuan beku
Asal: Ekstrusif
Ukuran butir: Halus
Bentuk kristal: Anhedral
Klasifikasi: Felsic ke mafic
Proses terbentuk: Erupsi eksplosif
Warna: Sedang
Jenis-Jenis Hutan di Indonesia: Hutan Tropis, Hutan Musim, Sabana, Bakau

Jenis-Jenis Hutan di Indonesia: Hutan Tropis, Hutan Musim, Sabana, Bakau

Hutan adalah salah satu wilayah ekosistem yang pasti dijumpai di wilayah permukaan bumi terutama di ekuator. Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki persebaran jenis hutan ang bervariatif di dunia.

Berbagai jenis hutan dari dataran rendah hingga dataran tinggi terbentuk di kepulauan Indonesia. Berikut ini beberapa jenis hutan di Indonesia yaitu:

1. Hutan musim
Hutan musim ini tersebar di wilayah yang dipengaruhi oleh perubahan musim. Saat kemarau tiba, vegetasi di hutan musim akan meranggas dan kembali mekar di saat musim penghujan. Hutan musim sering disebut juga hutan homogen atau satu jenis tumbuhan saja. Vegetasi umum khas wilayah hutan musim adalah jati dan jambu mete.

Persebaran hutan musim di Indonesia adalah di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

2. Hutan Hujan
Hutan hujan tropis, adalah hutan yang terdapat di wilayah yang memiliki curah hujan relatif tinggi. Vegetasi pada hutan ini berdaun lebat dan dasar hutan yang lembap dan gelap karena sinar matahari tidak dapat menembus kerapatan dedaunan. Tanah dan udara di hutan tropis sangat lembap karena uap air sulit terevaporasi. Banyak tumbuhan merambat, lumut dijumpai di hutan hujan. 

Persebaran hutan hujan di Indonesia adalah di Sumatra, Kalimantan, Papua dan sebagian Sulawesi dan Jawa.
Hutan Tropis

3. Hutan bakau
Hutan bakau atau mangrove banyak tumbuh di daerah dataran rendah pantai berlumpur dengan arus laut tidak besar. Ekosistem mangrove ini bermanfaat untuk menahan abrasi dan menjadi rumah bagi biota-biota seperti kepiting, ikan, bangau, burung-burung dan lainnya.

Persebaran bakau di Indonesia ada di Sumatera bagian timur, Jawa utara, Bali dan Papua.

4. Hutan Sabana
Sabana atau savana adalah padang rumput yang tumbuh di wilayah dengan curah hujan minim. Hutan sabana banyak ditumbuhi rumput dengan beberapa vegetasi keras seperti akasia atau lontar di dalamnya. Hutan sabana banyak tersebar di Nusa Tenggara dan ujung timur Jawa. Selain itu sabana bisa dijumpai di lereng bayangan gunung api seperti di kaki Gunung Ciremai atau Gunung Merbabu.
Sabana Merbabu

Lalu apa saja manfaat dari hutan-hutan yang ada di Indonesia?. Berikut penjelasannya.
1. Menyimpan serta mengatur persediaan air karena akar, batang dan daun berfungsi menyerap, menahan air dari hujan.
2. Menyuburkan tanah karena sisa-sisa tumbuhan dan hewan mati dapat membentuk humus/bunga tanah yang penting bagi nutrisi tanaman dan hewan.
3. Mengontrol erosi, longsor karena daya ikat akar terhadap butir-butir tanah.
4. Menjaga keseimbangan air tanaha karena curah hujan ditangkap oleh tubuh hutan.
5. Menghasilkan bahan-bahan industri yang penting bagi kehidupan manusia.
6. Menyerap polusi sehingga membantu mengurangi terjadinya global warming.
7. Hutan adalah rumah/habitat bagi berbagai hewan/biota Indonesia yang unik.

Selasa, September 27

Faktor Pendorong dan Penghambat Terwujudnya Integrasi Bangsa

Faktor Pendorong dan Penghambat Terwujudnya Integrasi Bangsa

Masyarakat Indonesia adalah komunitas multikultural besar di dunia dan bahkan yang terbesar. Perbedaan ini menjadikan Indonesia memerlukan sebuah alat untuk mewujudkan suatu integrasi.

Integrasi bangsa harus dipelihara agar tidak menjadi disintegrasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Integrasi adalah suatu pembaruan hingga mnejadi kesatuan utuh atau bulat. 

Sejarawan dan ahli politik asal Inggris William Howard Wriggins menjelaskan bahwa integrasi adalah penyatuan (suku) berbeda dari suatu masyarakat menjadi satu kesatuan utuh menjadi sebuah satu bangsa.

Bangsa adalah kelompok manusia yang heterogen dalam hal sifat namun memiliki kehendak tujuan yang sama. Ernest Renan berpendapat bahwa bangsa terbentuk dari orang-orang yang memiliki latar belakang sejarah, perjuangan, penderitaan dan hasrat untuk bersatu.

Jadi integrasi nasional penting dalam sebuah negara majemuk seperti Indonesia. Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang dibentuk berdasarkan ikatan bersama dalam sejarah penjajahan dan penderitaan selama masa kolonialisme.

Ada beberapa faktor yang mendorong dan menghambat terwujudnya integrasi nasional di Indonesia. Berikut beberapa penjelasannya di bawah.
1. Faktor pendorong integrasi
- Ernest Renan berpendapat bahwa faktor pendorong terwujudnya integrasi bangsa adalah adanya perasaan senasib dan memiliki tujuan yang sama.
- Sejarah kolonialisme penjajahan Belanda selama ratusan tahun memberikan dorongan terbentuknya integrasi nasional. Hal ini karena adanya perasaan senasib sependeritaan dari Aceh sampai Papua sehingga terbukalah satu tujuan bersama yaitu bangsa merdeka. 
- Keinginan bersatu seperti dalam pakta Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
- Rasa cinta tanah air dan bangsa yang diwujudkan dalam upaya merebut kemerdekaan, menegakkan kedaulatan baik melalui perjuangan fisik bersenjata atau diplomasi.

2. Faktor penghambat integrasi
- Adanya sifat etnosentrisme yaitu pandangan yang melebih-lebihkan suku/kebudayaan sendiri disertai sikap meremehkan suku lainnya.
- Adanya ketidakadilan dalam hal pembangunan ekonomi dan infrastruktur wilayah sehingga munculnya rasa diskriminasi dan ketidakpercayaan pada pemerintahan pusat. 
Notification
Jangan lupa follow dan subscribe blog dan chanel guru geografi ya.
Done
close