Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya

- December 24, 2016
Majalengka saat ini memiliki banyak spot wisata baru dan dua objek yang saya kunjungi beserta keluarga liburan kali ini adalah Terasering Argapura Panyaweuyan dan Curug Muara Jaya. Terasering Argpura merupakan sebuah wilayah pertanian di kaki gunung Ciremai tepatnya di Kecamatan Argapura Majalengka. Terasering Argapura tidak kalah dengan Subak di Bali. Kami berangkat bertiga dari kota Majalengka dengan motor. Dari pusat kota perjalanan dimulai menuju jalan Cigasong mengarah ke Maja. 

Setelah 20 menit perjalanan sampailah di terminal Maja dan ada papan bertuliskan arah menuju objek wisata Curug Muara Jaya di sebelah kiri. Setelah belok kiri jalanan akan menyempit namun masih beraspal bagus. Topografi mulai menanjak curam dengan udara yang semakin dingin. Di sepanjang perjalanan anda akan menjumpai kebun-kebun sayur warga. 

Setelah 12 km perjalanan akan ada persimpangan menuju Curug Muara Jaya. Kami tidak pergi ke curug dulu tapi ke Pangaweuyan dulu untuk melihat terasering. Memang waktu terbaik untuk melihat terasering Argapura adalah pagi hari karena kalau agak siang sudah panas. Dari persimpangan curug tadi perjalanan dilanjutkan dengan kontur yang semakin curam menanjak berkelok menaiki bukit. Dari sini saja sudah terlihat keindahan pemandangan bukit-bukit di kaki Ciremai.
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Terasering Argapura Panyaweuyan
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Curug Muara Jaya
Travelling ke Terasering Argapura dan Curug Muara Jaya
Kiran ngojay di Curug
Jalan menunju Lembah Panyaweuyan sempit dan berkelok seperti ke Puncak namun sempit. Daerah ini juga rawan longsor jadi lebih baik anda pergi saat cuaca cerah. Setelah 20 menit perjalanan dari persimpangan tadi sampailah di lokasi terasering Argapura. Sejauh mata memandang, area pertanian terasering dengan jenis komoditas bawang terhampar rapi dan indah. Objek wisata ini memang masih belum ramai dikunjungi tapi sudah mulai terkenal. 

Ada yang sengaja datang untuk mencari waktu fotografi. Kalau mau prewed disini pemandangannya bagus juga!. Jika ingin pergi ke puncak maka harus membayar 5.000 rupiah karena harus menginjak bawang. Ini untuk mengantisipasi kerugian petani di sana. Beberapa warung kecil juga tersedia untuk sekedar ngopi dan makan sambil menikmati pemandangan kebun bawang. Bawang disini dipanen satu tahun dua kali kata petani di sana. Jika anda ingin masuk ke kebun maka harus ijin petani dulu dengan membayar sewa jalan nya.

Setelah 1 jam di lembah Panyaweuyan, kami beranjak turun kembali menuju Curug Muara Jaya yang tadi sudah terlewati karena rutenya satu arah. Cuaca masih cerah jadi tentunya masih waktu tepat untuk berenang di ari terjun. Dari puncak Pangaweuyan kemudian turun hingga persimpangan menuju Curug. Dari persimpangan, kami turun lagi dan sekitar 600 m sampai di parkiran. Karcis masuk ke Curug Muara Jaya 15 ribu rupiah per orang. Dari parkiran untuk mencapai curug harus turun lagi menuruni tangga yang curam. Lokasi curug ini berada di kaki bukit Panyaweuyan tadi. Dari parkiran tadi perlu waktu 20 menit untuk sampai di Curug. Ada 2 tingkat curug yaitu Curug pertama yang paling tinggi sedangkan curug kedua ketinggiannya rendah.

Karena sudah cape jadi saya cukup menikmati dinginya air curug di bawah saja. Kiran sudah pasti mandi kalau lihat air. Saya ga bawa salin jadi cuma nemenin anak aja. Setelah puas berenang kami pulang kembali ke atas dan lumayan pegel juga sambil gendong anak. Di tengah perjalanan mampir dulu di warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman. Kami pesan mier rebus pakai telor untuk ngisi tenaga dulu.

Beres makan, perjalanan dilanjutkan kembali ke atas dan setelah solat zuhur di musola kemudian pulang kembali ke kota Majalengka dan tidur. Selamat berlibur.
Penulis: Guru Geografi, Blogger
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search