Hasil-Hasil Kebudayaan Zaman Mesolitikum - Gurugeografi.id
Loading...

Hasil-Hasil Kebudayaan Zaman Mesolitikum

- February 17, 2019
Halo teman-teman kali ini saya akan coba mengulas sedikit tentang materi sejarah yaitu hasil kebudayaan zaman mesolitikum. Zaman Mesolitikum atau disebut juga dengan zaman batu tengah/madya yang berlangsung  pada  masa kala Holosen. Pada  zaman  Mesolitikum terdapat pengaruh  kebudayaan dari  wilayah daratan Asia, yaitu kebudayaan Bachson-Hoabinh. Alat-alat yang digunakan masih sama dengan zaman Paleolitikum. Terdapat beberapa ciri khusus yang terdapat pada zaman Mesolitikum seperti

1. Masyarakatnya sudah mampu membuat gerabah dari proses pembakaran tanah liat.
2. Adanya kjokkenmoddinger yang merupakan sampah-sampah  dapur  sisa  makanan  dari kulit kerang. Kjokkenmoddinger di Indonesia dapat ditemui di  wilayah  sepanjang pesisir Pantai Sumatra. 
3. Adanya abris sous roche yang  merupakan tempat tinggal manusia purba berupa gua-gua. Temuannya  dapat  dilihat  di  wilayah pedalaman Jawa, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

Kebuduyaan mesolitikum menurut sebaran lokasinya dibedakan menjadi berikut.
1. Kebudayaan Kapak Sumatra (Pebble Culture)
Penelitian mengenai kapak Sumatra diawali dari   ekskavasi  yang  dilakukan  oleh P.V. van  Callenfels pada 1925 di sepanjang pesisir  Pantai Sumatra Timur Laut  antara Langsa (Aceh) dan Medan. Hasil  penelitian menemukan adanya tumpukan kulit kerang yang telah menjadi fosil dan memiliki tinggi hingga mencapai tujuh meter  kemudian dinamakan kjokkenmoddinger. Selain dari penemuan sampah dapur, hasil ekskavasi adalah penemuan peralatan manusia purba berupa  kapak  Sumatra, alu, lesung, pisau batu,  dan  batu   penggiling.  Dinamakan kapak Sumatra  karena hanya ditemukan di Pulau Sumatra  dan  memiliki  bentuk  kapak yang berbeda dengan kapak genggam yang ditemukan di Pacitan.

Selain kapak Sumatra, ditemukan kapak  sejenis dengan  ukuran  lebih pendek  yang  disebut dengan hache courte atau kapak pendek. Proses pembuatan kapak pendek tersebut dengan cara  memecahkan  batu  di  dua  sisi  lengkungnya. Kebudayaan  kapak  Sumatra diperkirakan mendapat pengaruh dari kebudayaan Bachson-Hoabinhyang terpusat di Teluk Tongkin, Indocina (Vietnam, Kamboja, dan Laos) yang menyebar ke wilayah Indonesia melalui jalur darat. 

Manusia pendukung kapak Sumatra adalah golongan  manusia dari ras Melanosoid yang  dibuktikan  dengan  adanya  penemuan  fosil-fosil  manusia  Papua Melanosoid  yang  ditemukan  di  wilayah  sebelah Timur Sumatra. Terdapat  pula alat batuan lainnya berupa pipisan  (batu  penggiling  berikut  landasannya).  Fungsi  dari alat  pipisan  adalah  untuk  menghaluskan bahan cat  berwarna merah yang biasa dipakai dalam  sistem  kepercayaan  masyarakat  Mesolitikum.  Bahan cat yang  sudah dihaluskan  biasanya digunakan  untuk dibalurkan pada  tubuh  yang  diyakini  dapat menambah kekuataan fisik. Gambar: disini
Hasil-Hasil Kebudayaan Zaman Mesolitikum
Gua peninggalan zaman mesolitikum
2. Kebudayaan Tulang Sampung (Bone Culture)
Kebudayaan  Tulang  Sampung  merupakan  temuan  alat-alat  berasal  dari  tulang yang banyak ditemukan di daerah Sampung. Penemuan tersebut berdasarkan hasil penelitian dari van Stein Callenfels dari 1928 – 1931 di Gua Lawa, Sampung, Jawa Timur.  Alat-alat  tersebut  berupa  mata  panah dan flake,  batu-batu  penggiling,  alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa. Selain ditemukan di daerah Sampung, terdapat pula fosil yang  ditemukan di daerah  Besuki.  Manusia yang diduga menjadi  pendukung dari  kebudayaan  Tulang  Sampung  adalah  ras  Papua  Melanosoid.  Hal tersebut didukung  oleh  penemuan  fosil-fosil  manusia jenis ras Papua  Melanosoid di daerah ditemukannya kebudayaan Tulang Sampung

3. Kebudayaan Toala (Flake Culture) 
Kebudayaan Toala bercirikan alat-alat yang digunakan berupa alat serpih bergerigi. Istilah flake culture pertama kali disebutkan oleh seorang arkeolog bernama Alfred Buhler karena banyaknya temuan alat-alat serpih (flakes) di daerah tempat tinggal suku  Toala,  daerah  Lumacong, Sulawesi Selatan. Sebelumnya,  pada 1893 – 1896 dilakukan penelitian di daerah Lumacong oleh Fritz Sarasin dan Paul Sarasin yang menemukan  alat-alat  serpih,  mata  panah  bergerigi, dan alat-alat  yang  terbuat  dari tulang  di  sekitar  gua-gua  (abris  sous  roche)  yang  merupakan  tempat  tinggal  suku bangsa  Toala.  

Penelitian  lainnya  dilakukan  oleh  van  Stein  Callenfels  pada  1933-1934 dan van  Heekeren  pada  1937  yang  menyimpulkan  kebudayaan  suku  Toala termasuk  dalam  kebudayaan  zaman  batu  tengah  yang  berlangsung  sekitar  3000-1000 tahun Sebelum Masehi. Terdapat pula penelitian di wilayah Maros, Bone, dan Bantaeng Sulawesi Selatan yang menghasilkan temuan berupa alat-alat serpih, batu penggiling, gerabah, dan kapak Sumatra. Flake bergerigi juga ditemukan di gua-gua yang  berada  di  Pulau  Timur,  Flores, Roti di Nusa  Tenggara  Timur.  Sementara flake yang ditemukan di daerah Bandung terbuat dari batu hitam (obsidian).

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik!. Komentar spam, link aktif akan langsung dihapus. Terimakasih.

 

Start typing and press Enter to search

close