Rumah Adat Panjalin, Warisan Sunda Kuno Majalengka

- May 27, 2017
Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki rumah adat masing-masing, begitupun di sekitar Karesidenan Cirebon khususnya Majalengka terdapat rumah adat peninggalan kebudayaan masyarakat Sunda kuno yaitu Rumah Adat Panjalin. Rumah adat Jawa Barat paling umum adalah rumah Panggung, namun rumah adat Panjalin agak sedikit berbeda dari rumah panggung suku Sunda kebanyakan. Karena penasaran, saya pun mencoba pergi mengunjungi TKP untuk melihatnya.

Kami berangkat dari pusat kota Majalengka menuju arah Sumberjaya lewat Jatiwangi. Rumah adat Panjalin terletak di Desa Panjalin Kidul RT 1  RW 5 Kecamatan Sumberjaya, sekitar 24 dari kota Majalengka. Ada dua rute yang dapat ditempuh yaitu lewat jalur Jatiwangi atau lewat Rajagaluh. Baca juga: Sejuknya perkebunan teh Sadarehe

Jalanan hari itu cukup padat karena masih long weekend menyambut puasa Ramadhan. Dari jalan raya Jatiwangi sebelum Pasar Sumberjaya sebelah kiri akan ada gapura bertuliskan gerbang masuk Desa Panjalin. Kami lalu belok kiri dan menyusuri jalan tersebut hingga sampai di percabangan dekat balai desa dan masjid. Dari pertigaan tersebut lalu belok kiri dan mentok ada gang, masuk saja ke dalam, Rumah adat Panjalin memang berada di gang sempit. Kalau anda bingung, Tanya saja ke warga sekitar pasti akan menunjukkan jalannya.
Rumah Adat Panjalin


Ruangan dibagi dua
Beberapa meter kemudian di samping kanan jalan maka akan ketemu rumah adat tersebut. Rumah adat ini berada di sekitar rumah-rumah penduduk dan kini dipagari. Sekilas rumah adat Panjalin bertipe rumah panggung dan seperti lumbung padi. Rumah panggung ini berukuran 9 x 9 m dengan 16 tiang penyangga dari kayu di bawahnya. Kayu penyangga rumah cukup tinggi berbeda dengan penyangga rumah adat Sunda pada umumnya. Atap rumah ini dulunya menggunakan rumbia namun sekarang diganti dengan genteng. Baca juga: Mau berenang di mata air Telaga Nilem?
Pintu masuk rumah cuma satu

Kayu pondasi rumah
Dinding rumah terbuat dari kayu dan sebagian dari bilik anyaman bambu. Lantai nya menggunakan anyaman bambu juga. Terdapat satu pintu dan satu tangga untuk masuk ke dalam rumah Panjalin. Ruangan dibagi menjadi dua yang dibatasi oleh pintu dan dinding kayu. Nampknya belum banyak orang yang datang mengunjungi objek wisata budaya ini kecuali beberapa masyarakat yang ingin berziarah.

Konon rumah adat ini dibangun oleh Eyang Sanata, yang merupakan keturunan Talaga. Beliau juga menyebarkan agama Islam di daerah ini, namun bukti otentik rumah adat Panjalin sebagai peninggalan Islam masih belum ada. Kini rumah adat Panjalin diurus oleh keturunan Raden Sanata. Bagi yang penasaran silahakn datang saja ke sana, gratis ko ga bayar. Baca juga: Main ke kebun teh Taraju yuk!
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search