Fanatisme Buta Sepakbola Adalah Dampak Dari Kemiskinan - Gurugeografi.id

Fanatisme Buta Sepakbola Adalah Dampak Dari Kemiskinan

- September 26, 2018

Baca Juga

Beberapa hari ini dunia sepakbola Indonesia kembali
menuai sejarah kelam dengan aksi kekerasan saat laga Persib vs Persija yang memakan korban jiwa. Seolah tragedi ini tidak akan ada habisnya dari tahun ke tahun. Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada suporter Indonesia dan mengapa hal ini bisa terjadi?. Tentunya banyak ahli yang meneliti tentang fenomena fanatisme buta seperti ini. Sebagai guru tentu fenomena ini bisa dijadikan bahan pelajaran di kelas bersama siswa. Saya akan coba memberikan opini singkat berdasarkan pemahamanan saya, mungkin agak ngawur juga tapi karena masih pagi dan otak fresh maka saya buat tulisan aja. Memang masalah ini akan sangat kompleks sekali.

Coba kita lupakan dulu tentang suporter Persib vs Persija. Jauh sebelum tragedi GLBA terjadi, peristiwa anarkis, kekerasan hampir terjadi setiap hari. Contoh tawuran siswa, gengster motor saling bacok, bahkan tawuran warga di Jakarta yang katanya selalu terjadi tiap bulan. Artinya kekerasan berbasis massa selain di sepakbola juga terjadi dalam kehidupan di Indonesia. Di bidang politik, perang antar kubu politik di medsos makin memanas dan bisa saja beralih ke bentrok fisik suatu saat nanti.

Coba kita kembali lagi ke ranah olahraga lagi. Saat ASEAN Games apakah kita ada yang ribut?. Tentu tidak karena kita mensuport Indonesia. Saat pertandingan bulutangkis apakah ada yang ribut?. Saya rasa tidak. Lalu kenapa kalau main bola selalu ribut?. Ini adalah psikologi massa. Semakin banyak individu yang punya visi misi sama jika berkumpul maka ia akan menjadi sebuah gelombang gengster yang menganggap kelompok lain adalah musuh. Ini yang terjadi dalam sepakbola dan tidak bisa dihindari. 

Saya melihat hal lain bahwa klub yang selalu ribut adalah klub yang berada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di luar itu gak ada tuh yang ribut-ribut. Saya pernah kerja di Banjarmasin 4 tahun, gak pernah tuh ada ribut-ribut saat Barito Putra main. Atau di Persipura, apakah pernah suporternya marah saat timnya kalah?. Jarang tuh saya dengar.
Fanatisme buta berawal dari kemiskinan akut
Lalu apa yang terjadi sebenarnya?. Pangkal dari semuanya tidak lain adalah KEMISKINAN, KEMISKINAN AKUT tepatnya. Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah wilayah dengan populasi terbesar di Indonesia dan celakanya angka kemiskinannnya juga besar terutama Jawa Barat. Kemiskinan ini sangat berbahaya sekali karena memicu aksi-aksi kriminalitas lain. Dalam hadist pun ditulis bahwa kemiskinan mendekatkan pada kekufuran. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita. Orang kaya banyak tapi masih banyak yang tidak peduli sesama. Di satu sisi masyarakat miskin tidak mendapatkan pendidikan agama, budaya, adab yang kuar juga di daerah maka ya wasalam.

Saya orang Jawa Barat dan tentu sering melihat suporter bola di daerah. Saya melihat mereka didominasi anak-anak remaja tanggung yang labil dan sangat tidak jelas. Terlihat dari gaya berpakaian, perilaku dan lainnya. Ada anak perempuan juga merokok padahal mereka berusia pelajar, ini adalah masalah sosial suporter bola kita. Mereka seolah menjadi gengster bukan suporter. Inilah pekerjaan rumah kompleks pemerintah saat ini yaitu mengentaskan kemiskinan secara massal. Di Indonesia suporter bola ber-evolusi jadi gengster yang sudah buta segalanya. Yang ada di otaknya adalah anda bagian kami atau bukan?. Kalau bukan kita tumpas. Hal ini merupakan buah dari kemiskinan yang harus segera dicari solusinya. Kalau tidak maka saya yakin di laga berikutnya pasti akan ada korban lagi. Lho kok pesimis?. Ya iya pesimis, karena realitasnya juga demikian.

Walaupun ketua Persib dan Persija sudah sepakat damai tapi itu kan hanya dua orang saja, orang dewasa yang akalnya pasti sudah waras. Nah yang tidak waras adalah anggota-anggotanya yang masih remaja labil, emosi, miskin ekonomi dan miskin ahlak juga. Artinya memang manajemen manusia khususnya di Jawa ini harus segera diselesaikan. Coba kita lihat, olahraga yang sifatnya bukan tim banyak seperti bulutangkis, panjat tebing, tenis dll bisa nyumbang prestasi pada saat ASIAN Games atau Olimpiade namun olahraga yang sifatnya tim kita tidak bisa berprestasi. 

Apakah hal ini menandakan orang Indonesia susah diajak kerjasam bareng-bareng?. Mungkin iya, bandingkan dengan permainan tim dari negara lain misalnya yang seolah bermain dengan saling pengertian. Tim kita saat main bola misal masih saja egois, gocek sana sini dan tidak mau berbagi. Itulah refleksi mungkin memang sifat masyarakat Indonesia masih sulit diajak kerjasama bareng dan akhirnya sulit mencapai tujuan.

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik!. Komentar spam, link aktif akan langsung dihapus. Terimakasih.

 

Start typing and press Enter to search


Iklan Melayang