Kuliah Filsafat, Membedakan Ilmu Filsafat dan Ilmu Agama - Guru Geografi
News Update
Loading...

Rabu, Oktober 4

Kuliah Filsafat, Membedakan Ilmu Filsafat dan Ilmu Agama


Pada kuliah semester awal ini pastinya akan ada tentang filsafat, begitupula kuliah sabtu kemarin di pascasarjana manajemen lingkungan Universitas Pakuan. Mata kuliah filsafat ini diampu oleh Prof. Dr. Isman Kadar, MM.

Beliau sudah malang melintang di berbagai profesi khususnya di Bappeda Kab. Bogor, jadi pengalaman beliau yang ingin kami serap.

Lalu apa sih pentingnya memahami filsafat itu?. Bagi kita akademisi, filsafat adalah sebuah cara berfikir yang rasional. Lalu apa bedanya dengan agama?. Apakah filsafat tidak bisa menyatu dengan agama?.

Saya sendiri bertanya di sesi kuliah tersebut, "apakah kita harus mempelajari filsafat atau ilmu agama dulu?'.

Perlu diingat bahwa filsafat adalah cara berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara agama itu adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan. Jadi memang berbeda arah.

Manusia pertama homo sapiens dahulu tentu tahu bagaimana membuat api, membaut kapak genggam dari berfikir setelah panca indera mereka merasakan semua yang ada di sekitar. Lalu otak memproses untuk mencari solusi.

Lantas apakah saat itu sudah ada agama?. Tentu belum, agama {awalnya kepercayaan) berkembang di era mesolitikum yaitu animisme dan dinamisme. Manusia itu mahluk materialistik, untuk mempercayai sesuatu yang kuasa, memerlukan manifestasi atau wujud. 

Jika hanya abstrak saja, sulit dicerna. Oleh karena itu dahulu manusia ada yang menyembah api, matahari, batu dll. Objek-objek tadi itu adalah untuk merepresentasikan kemahakuasaan Tuhan, karena tadi manusia tidak percaya kalau tidak ada wujudnya.

Fenomena tersebut tentu terjadi sebelum era agama samawi lahir di bumi. Manusia sudah berfilsafat menemukan Tuhan mereka dengan cara mereka sendiri sesuai kondisi lingkungannya.

Agama memiliki batasan yang sudah ditentukan oleh Tuhan lewat ayat-ayatnya. Namun filsafat ini bisa membuat otak manusia berfikir tidak terbatas, sampai-sampai bisa mengambil kesimpulan bahawa Tuhan itu tidak ada.

Manusia berfikir tentang fenomena apa saja di bumi sejak ia diturunkan ke planet ini. Sementara itu agama mulai ada beberapa ribu tahun ke depannya. 

Manusia juga membutuhkan ilmu untuk menafsirkan ayat-ayat Allah (dalam Quran misalnya). Jadi memang Tuhan memberikan manusia otak supaya berfikir bahwa semuanya itu diciptakan sebagai anugerah dan juga sebagai ujian agar patuh kepadaNya.

Jadi tidaklah baik membenturkan filsafat dengan agama karena keduanya memang berbeda. Filsafat harus diarahkan agar sesuai dengan ketentuan Allah, jadi kita berfikir untuk menyadari bahwa semuanya itu memang milik Allah.

Share with your friends

Yuk, berkomentar di blog ini!.

Maaf, komentar spam, link, ujaran kebencian tidak akan dipublish.

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close