Guru Geografi: Demografi | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Demografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, Oktober 15

Perbedaan Masalah Kependudukan Kuantitatif dan Kualitatif di Indonesia

Perbedaan Masalah Kependudukan Kuantitatif dan Kualitatif di Indonesia


Indonesia menempati peringkat keempat dalam jumlah populasi penduduk dunia di bawah India, Cina dan Amerika Seritak. Ada beberapa permasalahan yang mendasar yang harus siperhatikan dalam kependudukan di Indonesia.

Permasalahan kependudukan di Indonesia mencakup berbagai aspek kuantitatif dan kualitatif yang memengaruhi pertumbuhan, distribusi, serta kualitas penduduk. Berikut adalah beberapa permasalahan utama dari kedua sisi tersebut:

Permasalahan Kuantitatif Penduduk

Pertumbuhan Penduduk yang Cepat: Indonesia memiliki populasi yang tumbuh sangat cepat, dengan tingkat kelahiran yang tinggi. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat mengakibatkan masalah dalam penyediaan layanan kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, dan sumber daya alam yang semakin terbatas.

Distribusi Penduduk yang Tidak Merata: Penduduk Indonesia cenderung terkonsentrasi di pulau Jawa dan Bali. Ini menyebabkan ketimpangan dalam distribusi sumber daya dan infrastruktur, sementara beberapa wilayah di luar Jawa menghadapi depopulasi.

Urbanisasi yang Cepat: Indonesia mengalami urbanisasi yang pesat, dengan banyak penduduk berpindah dari desa ke kota. Urbanisasi yang tidak terkendali dapat menghasilkan masalah seperti kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk yang tinggi, dan kekurangan perumahan.

Tingkat Kemiskinan yang Tinggi: Tingkat kemiskinan di kalangan penduduk masih tinggi, terutama di pedesaan. Ini berkaitan dengan masalah akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak.

Masalah Kependudukan Remaja: Indonesia memiliki populasi muda yang besar. Ini menciptakan tantangan dalam menyediakan pendidikan yang memadai, pelatihan vokasional, dan lapangan kerja bagi generasi muda.

Permasalahan Kualitatif:

Kualitas Kesehatan: Masalah kesehatan seperti malnutrisi, kualitas air minum yang buruk, serta akses terbatas ke layanan kesehatan berkualitas masih menjadi masalah. Ini dapat mengakibatkan tingkat kematian bayi yang tinggi dan penyakit menular.

Pendidikan yang Terbatas: Meskipun tingkat melek huruf telah meningkat, kualitas pendidikan masih menjadi permasalahan. Kurangnya akses ke pendidikan berkualitas dan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dapat menghambat perkembangan ekonomi.

Ketimpangan Gender: Meskipun kemajuan telah dicapai dalam upaya pemberdayaan perempuan, ketimpangan gender masih ada dalam akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kesetaraan hak-hak perempuan.

Isu Kesejahteraan Sosial: Masalah seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketidaksetaraan sosial masih menjadi permasalahan yang harus diatasi. Banyak penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Isu Lingkungan: Pertumbuhan penduduk yang cepat juga berdampak pada lingkungan, dengan masalah deforestasi, polusi, dan degradasi lahan yang semakin serius. Kebijakan yang berkelanjutan diperlukan untuk mengatasi masalah lingkungan ini.

Untuk mengatasi permasalahan kuantitatif dan kualitatif dalam kependudukan, pemerintah Indonesia harus melaksanakan kebijakan yang holistik untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk, mengendalikan pertumbuhan penduduk, dan mendistribusikan sumber daya secara lebih merata. Hal ini melibatkan berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, serta pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan.

Sabtu, Maret 4

Rumus Proyeksi Penduduk Geometri [Part 2]

Rumus Proyeksi Penduduk Geometri [Part 2]

Proyeksi penduduk geometri merupakan metode untuk memperkirakan jumlah penduduk di masa depan berdasarkan pertumbuhan penduduk yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Berikut adalah langkah-langkah untuk menghitung proyeksi penduduk geometri:

Tentukan data awal: data awal yang diperlukan adalah jumlah penduduk pada suatu waktu tertentu, misalnya jumlah penduduk pada tahun 2020.

Tentukan laju pertumbuhan: laju pertumbuhan penduduk harus dinyatakan dalam bentuk persentase per tahun. Misalnya, jika laju pertumbuhan penduduk adalah 2% per tahun, maka angka ini harus dikonversi menjadi 0,02.

Tentukan periode proyeksi: periode proyeksi adalah waktu di masa depan yang ingin diproyeksikan jumlah penduduknya. Misalnya, jika ingin memproyeksikan jumlah penduduk pada tahun 2030, maka periode proyeksinya adalah 10 tahun.

Hitung jumlah penduduk pada tahun yang diinginkan: rumus untuk menghitung jumlah penduduk pada tahun tertentu dalam proyeksi penduduk geometri adalah:

Jumlah Penduduk = Jumlah Penduduk Awal x (1 + Laju Pertumbuhan)n

Misalnya, jika jumlah penduduk pada tahun 2020 adalah 100.000 dan laju pertumbuhan penduduk adalah 2% per tahun, dan periode proyeksinya adalah 10 tahun, maka jumlah penduduk pada tahun 2030 adalah:

Jumlah Penduduk = 100.000 x (1 + 0,02)10 = 121.899

Maka dengan itu jumlah penduduk pada tahun 2030 diproyeksikan akan sekitar 121.899 jiwa.

Kamis, Februari 2

Contoh Soal Menghitung Kepadatan Aritmatik dan Agraris

Contoh Soal Menghitung Kepadatan Aritmatik dan Agraris


Kepadatan penduduk adalah suatu perbandingan yang menggambarkan jumlah populasi per satuan luas wilayah. Kepadatan penduduk akan mempengaruhi kualitas hidup penduduk itu sendiri.

Dalam geografi dikenal istilah kepadatan penduduk aritmatik dan kepadatan penduduk agraris. Kepadatan penduduk aritmatik adalah suatu cara untuk menghitung jumlah penduduk per unit luas suatu wilayah, biasanya dalam km² atau mil². Rumus yang digunakan adalah:

Kepadatan penduduk = Jumlah penduduk / Luas wilayah

Dengan demikian, hasil dari perhitungan ini adalah jumlah orang per unit luas, seperti orang/km² atau orang/mil². Kepadatan penduduk aritmatik berguna untuk menentukan bagaimana tingkat pemukiman dan penggunaan lahan di suatu wilayah, dan juga membantu dalam perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya.

Contoh Soal
Luas sebuah negara adalah 500.000 km² dan jumlah penduduknya adalah 25 juta orang. Berapa kepadatan penduduk negara tersebut?

Rumus: Kepadatan penduduk = Jumlah penduduk / Luas negara

Kepadatan penduduk = 25.000.000 / 500.000 = 50 orang/km²

Jadi, kepadatan penduduk negara tersebut adalah 50 orang/km².

Sementara itu kepadatan penduduk agraris adalah jumlah luas lahan pertanian yang digunakan per satuan populasi di suatu wilayah. Ini menunjukkan tingkat intensitas penggunaan lahan pertanian dan berkaitan dengan faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk, perluasan perdagangan dan industrialisasi, dan perubahan pola pertanian. Semakin tinggi kepadatan agraris, semakin besar tekanan yang diterima sumber daya alam dan lingkungan.

Berikut adalah contoh soal menghitung kepadatan agraris:

Sebuah kota memiliki luas lahan pertanian sebesar 10.000 hektar dan jumlah penduduk sebanyak 100.000 orang. Berapakah kepadatan agraris kota tersebut?

Jawab: Kepadatan agraris = Luas lahan pertanian / jumlah penduduk = 10.000 hektar / 100.000 orang = 0,1 hektar/orang

Sebuah negara memiliki luas lahan pertanian sebesar 20 juta hektar dan jumlah penduduk sebanyak 200 juta orang. Berapakah kepadatan agraris negara tersebut?

Jawab: Kepadatan agraris = Luas lahan pertanian / jumlah penduduk = 20 juta hektar / 200 juta orang = 0,1 hektar/orang

Senin, Januari 30

Faktor Yang Mempengaruhi Kepadatan Penduduk

Faktor Yang Mempengaruhi Kepadatan Penduduk


Kepadatan penduduk adalah salah satu masalah di perkotaan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

Manusia semakin lama semakin bertambah populasinya semenjak berakhirnya Perang Dunia. Hal ini berdampak pada semakin padatnya wilayah perkotaan.

Lantas apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat kepadatan penduduk?. Berikut beberapa diantaranya:

Pertumbuhan penduduk: tingkat kelahiran yang tinggi dan tingkat kematian yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan penduduk yang cepat dan meningkatkan kepadatan penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dipicu juga oleh beberapa fenomena seperti pernikahan usia dini, tidak menjalankan KB atau kehamilan di luar nikah.

Urbanisasi: perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan akan menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk di kota-kota. Faktor kurangnya lapangan kerja di desa memaksa penduduk desa untuk mengadu nasib di kota yang memiliki beragam jenis profesi.

Pembangunan infrastruktur: fasilitas seperti jalan, transportasi, dan perumahan yang baik akan menarik penduduk untuk tinggal di suatu daerah dan meningkatkan kepadatan penduduk di sana. Manusia membutuhkan berbagai infrastruktur atau utilitas penunjang dalam kehidupannya. Semakin banyak utilitas maka penduduk akan semakin ramai di daerah tersebut karena kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Ekonomi: tingkat ekonomi yang tinggi akan menarik penduduk untuk tinggal di suatu daerah dan meningkatkan kepadatan penduduk di sana. Aneka sumber penghidupan seperti industri, supermarket, mall dan akses ekonomi lainnya membuat orang semakin banyak berdatangan ke suatu wilayah.

Politik: kebijakan pemerintah yang mengizinkan atau mendorong perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dapat mempengaruhi kepadatan penduduk di daerah tersebut. Program transmigrasi salah satunya akan meningkatkan jumlah penduduk di wilayah tujuan.

Selasa, Januari 24

Cara Menghitung Proyeksi Penduduk Geometri

Cara Menghitung Proyeksi Penduduk Geometri

Proyeksi penduduk geometri adalah metode untuk menghitung perkiraan jumlah penduduk di masa depan dengan menggunakan rasio pertumbuhan geometri. 

Untuk menghitung proyeksi penduduk geometri, Anda akan memerlukan data populasi saat ini dan tingkat pertumbuhan geometri. Berikut adalah langkah-langkah untuk menghitung proyeksi penduduk geometri:

1. Tentukan jumlah penduduk saat ini (P0) dan tingkat pertumbuhan geometri (r) dalam persentase.

2. Hitung jumlah penduduk di masa depan dengan menggunakan rumus:

Pn = P0 * (1 + r)^n

di mana Pn adalah jumlah penduduk di masa depan, P0 adalah jumlah penduduk saat ini, r adalah tingkat pertumbuhan geometri dalam bentuk desimal, dan n adalah jumlah periode waktu di masa depan yang ingin Anda proyeksikan.

Misalnya, jika Anda ingin mengetahui jumlah penduduk dalam 5 tahun ke depan pada suatu wilayah dengan data penduduk saat ini 100.000 jiwa dan tingkat pertumbuhan geometri sebesar 1,5%, maka Anda akan menghitung:

P5 = P0 * (1 + 0,015)^5
P5 = 100.000 * (1.07)
= 107.728 jiwa

Proyeksi penduduk geometri dihitung dengan menggunakan data saat ini dan tingkat pertumbuhan geometri yang diharapkan, jadi hasil akan berubah jika tingkat pertumbuhan geometri berubah.

Ingat bahwa proyeksi penduduk geometri hanya merupakan perkiraan dan tidak selalu akurat karena tidak mengambil beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk seperti migrasi, kematian, dan kelahiran.

Di bawah ini adalah data pergerakan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun. 

Data pertumbuhan penduduk Indonesia

Kamis, Januari 19

Fenomena Antroposfer Kekinian: Anti Natalitas di Negara Sekuler

Fenomena Antroposfer Kekinian: Anti Natalitas di Negara Sekuler


Berita headline beberapa bulan ke belakang ini dihebohkan dengan fenomena resesi hubungan coitus di negara-negara sekuler seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman dan lainnya.

Hal ini tentu akan memicu terjadinya anti-natalitas dan menurunkan angka pertumbuhan penduduk suatu negara. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi dan apakah Indonesia akan mengalami hal serupa?.

Fenomena kependudukan resesi seks mengancam populasi suatu negara karena lambat laun jumlah penduduk akan merosot drastis dan piramida penduduk akan lebih menuju tipe konstruktif.

Penduduk usia lanjut akan mendominasi sementar jumlah penduduk usia muda produktif semakin berkurang, sementara itu pembangunan negara terus berlanjut. Berikut ini faktor terjadinya resesi pernikahan di negara sekuler:

1. Finansial
Faktor keuangan alias finansial adalah faktor utama yang memicu resesi seks karena saat ini harga kebutuhan semakin melonjak, apalagi setelah Covid 19. Masyarakat di negara-negara sekuler cenderung lebih memilih sendiri karena biaya hidup tentu akan jauh lebih hemat dibanding jika berkeluarga.

Beban ekonomi pendidikan anak, susu, baju dan lainnya terasa berat sehingga memutuskan untuk tidak menambah beban di saat berkeluarga.

2. Malas Menikah
Rutinitas yang padat membuat orang semakin malas menikah. Kalaupun ingin melampiaskan hawa nafsu biologis maka bisa dilakukan dengan pacar atau tanpa ikatan perkawinan. Mereka bebas untuk menggunakan jasa PSK misalnya sebagai alternatif. Dengan begitu tidak ada beban setelah melakukan hubungan karena sifatnya hanya transaksional sementara.

3. Pandemi Covid
Pandemi covid membuat orang sekarang maki berfikir untuk membangun keluarga. Biaya kesehatan dirasa semakin mahal sehingga jika punya anggota keluarga baru maka akan menambah beban pengeluaran obat jika sakit. Apalagi kita tidak tahu di masa depan akan ada pandemi apa lagi.

4. Anak adalah beban
Memiliki anak membuat kepala keluarga harus menanggung beban kebutuhan mereka. Hal ini yang menjadi pemikiran kaum sekuler. Memutuskan tidak memiliki anak dan tidak menikah adalah jalan hidup orang di era seperti sekarang.

5. Gender
Persepi orang terkait gender membuat manusia semakin pelik. Di negara sekuler wanita dianggap sebagai orang yang pekerjaan utamanya adalah di rumah karena ini adalah fitrah gender. Dalam Islam pun demikian bahwa laki-laki dan wanita itu fitrahnya berbeda, penciptaannya pun berbeda.

Hal ini yang ditentang kaum liberal yang menyatakan bahwa perempuan setara dengan wanita dalam segala hal. Jadilah perempuan yang berkarier sudah mapan enggan untuk melepaskan kegiatannya dan terjun ke dunia rumah tangga. Mereka sudah bisa punya uang sendiri sehingga bebas melakukan apapun.

Bahkan lahirnya kaum LGBT pun sekarang karena pengaruh asas liberalisme yang terlalu menggaungkan hak asasi manusia namun mereka menanggalkan fitrah penciptaan manusia dan perintah Allah.

Minggu, Oktober 2

[Dinamika Penduduk] Definisi Ledakan Penduduk (Overpopulasi) dan Dampaknya

[Dinamika Penduduk] Definisi Ledakan Penduduk (Overpopulasi) dan Dampaknya


Ledakan penduduk atau overpopulasi adalah fenomena dimana pertumbuhan penduduk melebihi daya dukung lingkungan itu sendiri.

Daya dukung lingkungan (carriying capacity) yaitu kemampuan sebidang lahan dalam mendukung kehidupan manusia (Sumarwoto, 2000)

Pada lingkungan overpopulasi, jumlah manusia lebih banyak dibandingkan ketersediaan sumber daya pendukung kehidupan seperti air, tanah, makanan, udara bersih dan lainnya.

Ledakan penduduk secara berkesinambungan menyebabkan penurunan kualitas hidup manusia dan bahkan memicu disintegrasi sosial.

Diperkirakan ada sekitar 81 juta manusia bertambah tiap tahun. Seiring fenomena imigrasi yang marak, penurunan angka kematian, terobosan ilmu pengobatan dan naiknya angka kelahiran maka populasi akan semakin bertambah tiap tahun dan menjadi ledakan penduduk jika tidak diantisipasi.

Ledakan penduduk memicu beberapa masalah lingkungan sebagai berikut:

1. Berkurangnya Sumber Daya Alam
Karena populasi manusia terus bertambah dengan cepat maka sumber daya alam yang dapat habis seperti tanah subur, terumbu karang, air tawar, bahan bakar fosil, dan hutan belantara terus menurun tajam. Lihat saja bagaimana menyeramkannya deforestasi di hutan Amazon dan Indonesia. Hal ini menciptakan tuntutan kompetitif pada sumber daya pendukung kehidupan yang vital dan berkontribusi pada penurunan kualitas hidup yang luar biasa.

Menurut sebuah studi yang digagas oleh UNEP Global Environment Outlook, konsumsi manusia yang berlebihan dari sumber daya alam yang tidak terbarukan dapat melampaui sumber daya yang tersedia dalam waktu dekat dan akan habis untuk generasi anak cucu di masa depan.

2. Hilangnya Habitat
Hilangnya berbagai ekosistem termasuk lahan basah, satwa liar, hutan hujan, terumbu karang, bentuk kehidupan air, dan padang rumput sangat dipengaruhi oleh ledakan penduduk. Di luar populasi yang berlebihan, kegiatan seperti pertanian yang berlebihan, pencemaran lingkungan, dan pengembangan lahan yang ekstensif menjadi semakin intensif.

Misalnya, hutan hujan awalnya menutupi 14% dari seluruh permukaan bumi. Saat ini, hutan hujan hanya menutupi sekitar 6% dari permukaan bumi.

Dalam emapat dekade kedepan mungkin hutan hujan akan hilang sama sekali. Selain itu, karena pencemaran lingkungan, 30% terumbu karang laut telah hilang karena pengasaman dan pemanasan global sejak tahun 1980. Selain itu, lebih dari separuh lahan basah asli telah hilang.

3. Memicu Perubahan Iklim
Semakin banyak jumlah orang maka semakin banyak jumlah kendaraan dan industri serta perjalanan udara. Lebih jauh lagi, lebih banyak populasi berarti peningkatan penggunaan sumber energi seperti batu bara dan kayu bakar yang berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, karena akumulasi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia dan jejak karbon di atmosfer, maka efek rumah kaca semakin intens, lalu memicu pemanasan global dan perubahan iklim yang meningkat. Efek dari perubahan iklim dan pemanasan global sangat besar yang mengakibatkan kelaparan ekstrim, kekeringan, banjir, dan hilangnya habitat hingga mengancam kelangsungan hidup peradaban manusia.

4. Kepunahan 
Overpopulasi telah memaksa hutan di perbatasan semakin terdesak dan hilang, polusi yang meningkat, dan perusakan ekosistem alami yang telah berkontribusi besar pada kepunahan massal spesies. Jumlah spesies yang terancam terus berlipat ganda di seluruh dunia sementara beberapa diantaranya telah benar-benar punah.

Hal ini karena aktivitas manusia seperti pengasaman sistem air, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, polusi, penangkapan ikan yang berlebihan, perburuan, dan penghancuran sistem alam yang disengaja maupun tidak langsung yang diperlukan untuk kelangsungan hidup spesies yang berbeda. Aktivitas manusia ini hanya mengubah kombinasi proses alam, sehingga menghancurkan ekosistem alami yang mendukung keanekaragaman hayati.

5. Krisis Air Bersih
Ledakan penduduk di bumi telah menghancurkan sebagian besar sistem air tawar dunia. Sebagian besar danau, sungai, sungai dan air tanah yang membentuk air tawar telah dibuat tidak terjangkau atau menjadi terlalu tercemar. Menurut pandangan global tentang sumber daya air, aktivitas yang dipengaruhi oleh populasi berlebih ini hanya menyisakan kurang dari 1% air tawar di planet ini yang siap diakses untuk kebutuhan hidup manusia.

Kerentanan/krisis air sudah mempengaruhi banyak negara yang kelebihan penduduk, terutama di beberapa negara berkembang, karena permintaan akan air cenderung lebih banyak daripada air yang dapat diakses. Jutaan spesies ikan dari ekosistem air tawar berada di ambang kepunahan. Dengan demikian, seiring bertambahnya jumlah penduduk manusia, demikian pula masalah aksesibilitas air tawar yang berkualitas semakin meningkat.

6. Menurunnya Harapan Hidup
Overpopulasi menurunkan standar hidup karena menciptakan tekanan pada sumber daya vital untuk bertahan hidup dan meningkatkan kesulitan mengakses pasokan makanan, air, energi, kesehatan, keamanan, dan tempat tinggal yang berkualitas secara konsisten. Akibatnya, orang miskin menjadi lebih miskin, dan mereka sering memilih kondisi hidup yang buruk untuk bertahan hidup.

Akhirnya, hal itu menimbulkan harapan hidup yang lebih rendah. Situasi ini serius di negara-negara berkembang seperti Asia selatan dan Afrika sub-Sahara di mana sebagian besar penduduk miskin tunduk pada pola makan yang tidak memadai dan buruk.

7. Memicu Endemi dan Pandemi
Menurut WHO, ledakan penduduk merupakan salah satu penyebab utama cepatnya kemunculan dan munculnya penyakit pada manusia. Kelebihan penduduk memperburuk berbagai faktor lingkungan dan sosial seperti polusi, kekurangan gizi, kondisi hidup yang padat, dan kurangnya perawatan kesehatan yang membuat masyarakat miskin rentan terhadap penyakit menular. Penyakit seperti TBC, malaria, HIV, disentri hingga Covid 19 menyebar lebih cepat di daerah padat penduduk. 

8. Pertanian Intensif
Di daerah di mana populasinya tinggi, orang menggunakan praktik pertanian yang dapat menghasilkan lebih banyak produk makanan dengan input yang lebih murah dan tanpa merambah ke tanah sekitarnya karena kebijakan perlindungan lingkungan baru-baru ini. Pertanian intensif telah mengakibatkan, dan telah menyebabkan penipisan kesuburan tanah, munculnya kembali parasit, munculnya parasit baru, hilangnya ekosistem, pencemaran sistem air, dan penurunan keanekaragaman hayati.

9. Meningkatnya Pengangguran, Tingkat Kejahatan, dan Kekerasan
Di negara-negara yang kelebihan penduduk, pekerjaan yang tersedia lebih sedikit daripada populasi pencari kerja secara keseluruhan. Hal ini berkontribusi pada tingginya tingkat pengangguran. Pada gilirannya, kurangnya pengangguran menyebabkan meningkatnya tingkat kejahatan karena pencurian, kartel narkoba, dan kelompok-kelompok milisi yang dieksploitasi sebagai pilihan untuk memperoleh sumber daya dan kebutuhan dasar seperti makanan, standar hidup yang baik, dan kekayaan. Kekerasan dan konflik muncul ketika orang mulai bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas.

Kamis, Desember 24

Pengertian Antroposfer dan Teori Ekonomi Malthus

Pengertian Antroposfer dan Teori Ekonomi Malthus

Manusia merupakan salah satu mahluk penghuni planet bumi ini dan berkembang begitu pesat sejak awal kelahirannya. 
 
Manusia menjadi salah satu aspek kajian dalam geografi karena perilaku mereka menempati ruang dan seringkali merubah struktur ruang yang sudah ada dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. 
 
Antroposfer berasal dari kata antrophos berarti manusia dan sphere berarti lapisan, jadi antroposfer dapat didefinisikan sebagai lapisan manusia beserta segala hal yang berkaitan dengan perilakunya dalam suatu ruang. 
 
Objek material geografi yang bersifat fisik terdiri dari litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer dan yang bersifat sosial adalah antroposfer. 
 
Manusia dipisahkan menjadi satu lapisan khusus karena memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki pola-pola tertentu sama halnya seperti objek material yang bersifat fisik. 

Pola-pola kehidupan manusia di bumi ini dapat diukur berdasarkan aspek kuantitatif maupun kualitatif. Manusia yang hidup dan menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu wilayah dinamakan penduduk. 
 
Penduduk bumi semakin lama semakin tumbuh dan berkembang dengan pesat dibarengi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
 
Menurut data Bank Dunia terbaru, djumlah populasi manusia di bumi saat ini mencapai angka 7 miliar jiwa dan paling banyak tersebar di benua Asia. Ilmu yang khusus mempelajari tentang dinamika penduduk dinamakan demografi.
Dinamika antroposfer
Menurut ahli demografi Thomas Robert Malthus, pertumbuhan manusia berjalan sesuai dengan deret ukur (geometris) sedangkan ketersediaan sumber daya alam (makanan) bertambah menurut deret hitung (aritmatik). 
 
Artinya pertumbuhan manusia lebih cepat dibandingkan pertumbuhan sumberdaya alam. Kebutuhan manusia yang semakin lama semakin besar membuat ketersediaan pangan semakin hari semakin menipis dan seringkali mengakibatkan bencana seperti kemiskinan dan kelaparan di beberapa tempat. Dinamika penduduk dipengaruhi faktor kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan migrasi.

Malthus adalah ekonom Inggris abad 18 yang cukup terkenal di masanya. Dalam buku "An Essay on  the Principle of Population" ia berteori bahwa populasi manusia akan terus tumbuh sampai dihentikan oleh penyakit, kelaparan, perang atau bencana.

Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, para filsuf secara luas percaya bahwa kemanusiaan akan terus tumbuh dan condong ke arah utopisme. 
 
Malthus melawan keyakinan ini, dengan alasan bahwa segmen populasi umum selalu selalu miskin dan sengsara, yang secara efektif memperlambat pertumbuhan populasi.

Setelah mengamati kondisi di Inggris pada awal 1800-an, Malthus menulis "An Inquiry into the Nature and Progress of Rent" (1815) dan "Principles of Political Economy" (1820), di mana ia berpendapat bahwa lahan pertanian yang tersedia tidak cukup untuk memberi makan populasi dunia yang meningkat. 
 
Malthus secara khusus menyatakan bahwa populasi manusia meningkat secara geometris, sementara produksi pangan meningkat secara aritmatika. Dalam paradigma ini, manusia pada akhirnya tidak dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk mempertahankan diri mereka sendiri.

Teori ini dikritik oleh para ekonom dan akhirnya dibantah. Bahkan ketika populasi manusia terus meningkat, perkembangan teknologi dan migrasi telah memastikan bahwa persentase orang yang hidup di bawah garis kemiskinan terus menurun. Selain itu, interkoneksi global merangsang aliran bantuan dari negara-negara kaya pangan ke daerah berkembang.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close