Guru Geografi: Demografi - Blog Guru Geografi Gaul
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Demografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 24

Pengertian Antroposfer dan Teori Ekonomi Malthus

Pengertian Antroposfer dan Teori Ekonomi Malthus

Manusia merupakan salah satu mahluk penghuni planet bumi ini dan berkembang begitu pesat sejak awal kelahirannya. 
 
Manusia menjadi salah satu aspek kajian dalam geografi karena perilaku mereka menempati ruang dan seringkali merubah struktur ruang yang sudah ada dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. 
 
Antroposfer berasal dari kata antrophos berarti manusia dan sphere berarti lapisan, jadi antroposfer dapat didefinisikan sebagai lapisan manusia beserta segala hal yang berkaitan dengan perilakunya dalam suatu ruang. 
 
Objek material geografi yang bersifat fisik terdiri dari litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer dan yang bersifat sosial adalah antroposfer. 
 
Manusia dipisahkan menjadi satu lapisan khusus karena memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki pola-pola tertentu sama halnya seperti objek material yang bersifat fisik. 

Pola-pola kehidupan manusia di bumi ini dapat diukur berdasarkan aspek kuantitatif maupun kualitatif. Manusia yang hidup dan menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu wilayah dinamakan penduduk. 
 
Penduduk bumi semakin lama semakin tumbuh dan berkembang dengan pesat dibarengi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
 
Menurut data Bank Dunia terbaru, djumlah populasi manusia di bumi saat ini mencapai angka 7 miliar jiwa dan paling banyak tersebar di benua Asia. Ilmu yang khusus mempelajari tentang dinamika penduduk dinamakan demografi.
Dinamika antroposfer
Menurut ahli demografi Thomas Robert Malthus, pertumbuhan manusia berjalan sesuai dengan deret ukur (geometris) sedangkan ketersediaan sumber daya alam (makanan) bertambah menurut deret hitung (aritmatik). 
 
Artinya pertumbuhan manusia lebih cepat dibandingkan pertumbuhan sumberdaya alam. Kebutuhan manusia yang semakin lama semakin besar membuat ketersediaan pangan semakin hari semakin menipis dan seringkali mengakibatkan bencana seperti kemiskinan dan kelaparan di beberapa tempat. Dinamika penduduk dipengaruhi faktor kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan migrasi.

Malthus adalah ekonom Inggris abad 18 yang cukup terkenal di masanya. Dalam buku "An Essay on  the Principle of Population" ia berteori bahwa populasi manusia akan terus tumbuh sampai dihentikan oleh penyakit, kelaparan, perang atau bencana.

Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, para filsuf secara luas percaya bahwa kemanusiaan akan terus tumbuh dan condong ke arah utopisme. 
 
Malthus melawan keyakinan ini, dengan alasan bahwa segmen populasi umum selalu selalu miskin dan sengsara, yang secara efektif memperlambat pertumbuhan populasi.

Setelah mengamati kondisi di Inggris pada awal 1800-an, Malthus menulis "An Inquiry into the Nature and Progress of Rent" (1815) dan "Principles of Political Economy" (1820), di mana ia berpendapat bahwa lahan pertanian yang tersedia tidak cukup untuk memberi makan populasi dunia yang meningkat. 
 
Malthus secara khusus menyatakan bahwa populasi manusia meningkat secara geometris, sementara produksi pangan meningkat secara aritmatika. Dalam paradigma ini, manusia pada akhirnya tidak dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk mempertahankan diri mereka sendiri.

Teori ini dikritik oleh para ekonom dan akhirnya dibantah. Bahkan ketika populasi manusia terus meningkat, perkembangan teknologi dan migrasi telah memastikan bahwa persentase orang yang hidup di bawah garis kemiskinan terus menurun. Selain itu, interkoneksi global merangsang aliran bantuan dari negara-negara kaya pangan ke daerah berkembang.

Kamis, Desember 27

Pengertian dan Dampak Overpopulasi di Dunia

Pengertian dan Dampak Overpopulasi di Dunia

Apakah kamu merasa dunia ini semakin padat oleh manusia?. Jika iya maka kita sudah masuk dalam fase overpopulasi alias ledakan penduduk. 

Overpopulasi artinya adalah situasi dimana sudah terlalu banyak manusia tinggal dalam sebuah lokasi sementara kapasitas daya dukung dan daya tampung lahan sudah tidak lagi mendukung. 

Overpopulasi bukan hanya soal angka namun ada kaitan dengan penduduk dan sumber daya yang tersedia. 
 
Dulu mungkin jumlah manusia hanya beberapa saja dalam satu wilayah, namun perkembangan peradaban dan teknologi membuat manusia semakin tumbuh berkembang dari sisi kuantitas maupun kualitas di berbagai daerah. 
 

Pengertian Populasi
Sebelum kita bahas tentang overpopulasi sangat penting untuk memahmi dulu tentang konsep populasi. Populasi diartikan sebagai total individu atau spesies yang tinggal dan menghuni suatu wilayah atau lingkungan geografi dalam waktu tertentu. 

Populasi adalah konsep angka. Populasi tidak hanya digunakan untuk menghitung manusia yang tinggal dalam suatu daerah. Populasi juga adalah istilah ilmiah yang dapat digunakan untuk semua studi tentang spesies mahluk hidup seperti tumbuhan, hewan bahkan ganggang.
Pengertian dan Dampak Overopulasi di Dunia
Kepadatan penduduk melanda dunia
Populasi dunia menurut data PBB tahun 2016 adalah 7,4 milyar. Penting untuk dicatat bahwa bukan hanya jumlah orang yang tinggal di lokasi tersebut namun juga rasio dan hubungan antara jumlah penduduk dengan sumber daya berkelanjutan di daerah tersebut. 

Beberapa orang percaya bahwa overpopulasi adalah hal buruk karena sumber daya di bumi terbatas. Ada juga yang percaya bahwa ini tidak buruk karena bumi kita punya kapasitas sumber daya luar biasa dan terus beregenerasi. 

Sayangnya manusia lebih banyak mengambil sumber daya dengan rakus di bumi dibandingkan membuat proyek daur ulang dan mengurangi ketergantungan dengan bahan baku dari alam. 

Pohon dan hutan lebih banyak hilang dibandingkan dengan reboisasi dan inilah yang mengancam masa depan. Data iklim menunjukkan peningkatan suhu bumi yang positif 100 tahun terakhir. 

Dampak dari overpoulasi di bumi dapat dirasakan baik secara lokal maupun global. Contoh sederhana adalah berkurangnya kapasitas air tanah, amblesan tanah, kriminalitas, longsor, banjir dan masih banyak lagi. 

Populasi berlebih membuat konsumsi juga semakin naik dan ini membuat sumber daya alam semakin menipis waktu ke waktu. Jadi overpopulasi bisa menjadi masalah serius jika tidak ditanggulangi dan dicari solusinya dari sekarang. 

Lihatlah Jakarta hari ini, penuh, sesak, macet, sudah cari kerja dll. Apakah hal ini akan semakin memburuk 5, 10, 20, 50 tahun akan datang?. 
 
 
Gambar: disini

Rabu, September 13

Sensus, Registrasi dan Survei Penduduk

Sensus, Registrasi dan Survei Penduduk

Sumber data kependudukan sangat penting untuk memperoleh statistik tentang kondisi penduduk suatu negara. 

Sumber data kependudukan dalam proses pengumpulannya dapat digolongkan menjadi 3 yaitu sensus, registrasi penduduk, dan survei. 
 
Selain itu juga terdapat catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain dari instansi pemerintah. 

Baca juga:
Cara jawab soal prinsip geografi
Soal USBN Geografi 2017

Secara teoritis data registrasi penduduk lebih lengkap daripada sumber-sumber data yang lain, karena kemungkinan tercecernya pencatatan peristiwa-peristiwa kelahiran, kematian dan mobilitas penduduk sangat kecil. 

Namun demikian di negara-negara berkembang seperti juga Indonesia, data-data kependudukan dari hasil registrasi masih jauh dari level memuaskan. 

Hal ini disebabkan karena banyak kejadian-kejadian vital (seperti kelahiran dan kematian) yang tidak dicatatkan sebagaimana mestinya karena berbagai faktor eksternal. 

Sensus Penduduk
Sensus penduduk adalah keseluruhan proses pengumpulan, menghimpun dan menyusun, serta menerbitkan data-data demografi, ekonomi, dan sosial yang menyangkut semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau suatu wilayah tertentu. 


Secara lebih terperinci keterangan-keterangan apa yang dikumpulkan tergantung pada kebutuhan dan kepentingan negara, keadaan keuangan dan kemampuan teknis pelaksanaanya, serta kesepakatan internasional yang bertujuan supaya mudah memperbandingkan hasil sensus antara negara yang satu dengan negara lainnya.

Agar hasil Sensus Penduduk dapat diperbandingkan antara beberapa negara, maka disepakati untuk melaksanakan Sensus Penduduk tiap 10 tahun sekali (decennial census) yaitu pada tahun-tahun yang berakhiran dengan angka nol. 

Pelaksanaan Sensus Penduduk tiap sepuluh tahun sekali dimulai pada tahun 1790. Mulai tahun 1940 ada beberapa negara yang melaksanakan Sensus Penduduk tiap 5 tahun sekali (quinquennial census) yaitu pada tahun-tahun yang berakhiran dengan angka nol, dan angka lima.
Sensus, Registrasi dan Survei Penduduk
Petugas sensus sedang mendata warga
Registrasi Penduduk
Sistem registrasi penduduk merupakan suatu sistem registrasi yang dilaksanakan oleh petugas pemerintahan setempat yang meliputi pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, perubahan tempat tinggal (perpindahan/migrasi), dan pengangkatan anak (adopsi). 


Karena mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan kehidupan, maka disebut juga registrasi vital dan hasilnya disebut statistik vital. 

Registrasi ini berlangsung terus-menerus mengikuti kejadian atau peristiwa, karena itu statistik vital sesungguhnya memberikan gambaran mengenai perubahan yang terus menerus. 

Jadi berbeda dengan sensus dan survei yang menggambarkan karakteristik penduduk hanya pada suatu saat tertentu saja. Baca juga: Terbentuknya awan di langit

Karena mencatat bermacam-macam peristiwa, maka pencatatan penduduk ini dilakukan oleh badan-badan yang berbeda-beda. Di Indonesia, kelahiran dicatat oleh kantor pencatatan sipil dan kelurahan. 


Perkawinan dan perceraian dicatat oleh kantor Kementerian Agama dan pencatatan sipil. Sedang migrasi dicatat oleh Kementerian Kehakiman. 

 
Survei
Hasil Sensus Penduduk dan Registrasi Penduduk mempunyai keterbatasan. Keduanya hanya menyediakan data statistik kependudukan, dan kurang memberikan informasi tentang sifat dan perilaku penduduk. 


Untuk mengatasi keterbatasan ini, perlu dilakukan survei penduduk yang sifatnya lebih terbatas namun informasi yang dikumpulkan lebih luas dan mendalam. Biasanya survei kependudukan ini dilaksanakan dengan sistem sampel.

Biro Pusat Statistik telah mengadakan survei-survei kependudukan, misalnya Survei Ekonomi Nasional, Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS). 


Hasil dari survei ini melengkapi informasi yang didapat dari Sensus Penduduk dan Registrasi Penduduk. Survei pendduk juga sering dilakukan oleh pelaku industri untuk melihat perilaku konsumen di lapangan. 
 

Senin, Agustus 21

Animasi Fenomena Transisi Demografi

Animasi Fenomena Transisi Demografi

Di kelas XI tentu kamu akan berjumpa dengan materi kependudukan bukan?. Salah satu fenomena yang pernah saya ajarkan di kelas adalah tentang fenomena transisi demografi. 

Transisi demografi merupakan sebuah fenomena perubahan struktur penduduk dari fertilitas dan mortalitas yang tinggi menuju fertilitas dan mortalitas yang rendah. 
Gambar: disini
Animasi Fenomena Transisi Demografi
Fenomena ini terjadi di wilayah Eropa dan menjadi salah satu faktor dinamika penduduk di sana. Ada 4 fase transisi demografi dimana tiap fase memiliki ciri masing-masing. 

Beberapa faktor memperngaruhi terhadap adanya perubahan laju strukutr penduduk tersebut. Untuk lebih memahaminya coba lihat animasinya di bawah ini. 

Kalau kamu menggunakan android, usahakan sudah terpasang flashnya karena jika tidak animasi tidak bisa muncul. 

Kalau di laptop maka animasi sudah pasti muncul asal adobe flash terinstal. Selamat belajar. Kalau masih bingung silahkan tanya di komentar saja ya.

Sumber: Mike Curta Yt

Selasa, Juli 18

Faktor-Faktor Pro Natalitas dan Anti Natalitas

Faktor-Faktor Pro Natalitas dan Anti Natalitas

Pada postingan sebelumnya, saya sudah memberikan penjelasan tentang faktor mortalitas. Kali ini saya akan berikan sedikit penjelasan tentang faktor natalitas. 
 
Natalitas atau kelahiran merupakan fenomena alami yang menyebabkan adanya pertambahan penduduk. 

Setiap daerah atau negara memiliki tingkat natalitas yang beda-beda. Indonesia saat ini memiliki angka pertumbuhan penduduk yang masih tinggi yaitu di atas 1% tiap tahunnya. 
 
 
Pertumbuhan penduduk sebuah negara dikatakan seimbang jika mencapai zero population growth. Ada faktor pro natalitas dan anti natalitas yaitu:

Faktor Pro Natalitas
1. Kawin Usia Muda
Banyaknya penduduk usia muda yang sudah menikah di usia yang masih remaja membuat angka kelahiran cenderung tinggi. Ini karena produktifitas pasangan khususnya wanita yang masih muda masih sangat baik. 
 
2. Anggapan Banyak Anak Banyak Rezeki
Di beberapa negara termasuk Indonesia, masih banyak anggapan tentang banyak anak banyak rezeki. Memang hal ini ada benarnya namun tentunya kondisi dunia yang semakin cepat berubah membuat anggapan ini harus mulai ditinggalkan. 
 
Anak juga harus terpenuhi semua kebutuhannya. Jangan sampai banyak anak namun orang tua tidak mampu menafkahi semua kebutuhan mereka sehingga nantinya tidak tumbuh menjadi anak yang sehat dan berkualitas.
 
3. Rasa Malu
Ada beberapa komunitas mungkin yang masih menganggap malu jika pada usia tertentu belum punya anak. Hal ini menjadi aib keluarga dan akan dikucilkan. Ini yang menyebabkan banyaknya pasangan yang cepat memiliki anak sebelum usia tua.
 
4. Tingkat Kesehatan dan Ekonomi
Jika seseorang sehat dan memiliki kondisi keuangan yang stabil tentu memiliki anak tidak akan menjadi masalah. Mereka tidak akan khawatir jika punya anak banyak karena dapat terjamin kebutuhan hidupnya.
 
5. Seks Bebas
Perilaku seks bebas di kalangan remaja dapat memicu adanya kelahiran tak terduga atau juga Married By Accident. 
Faktor-Faktor Pro Natalitas dan Anti Natalitas
Faktor Natalitas
Faktor Anti Natalitas
1. Keluarga Berencana
Program Keluarga Berencana merupakan program pemerintah yang bertujuan menekan angka kelahiran tiap keluarga. Dalam program ini maksimal satu keluarga hanya punya dua anak saja. 
 
2. Anggapan Anak Adalah Beban
Di tengah kondisi dunia yang makin hingar bingar, ada beberapa orang yang menganggap anak adalah beban. Mereka lebih memilih hidup sendiri dan tidak mau ada tanggungan.
 
3. Aturan Batasan Usia
Adanya batasan usia menikah membuat seseorang tidak dapat menikah dan memiliki anak sebelum mencapai batas usia yang ditentukan.
 
4. Kondisi Kesehatan dan Ekonomi
Ada beberapa pasangan yang memang tidak bisa memiliki anak karena kondisi tertentu. Hal ini tentu akan membuat angka fertilitas menurun. Sementara tingkat ekonomi yang rendah bisa membuat seseorang berfikir beberapa kali sebelum membuat anak.
 
5. Malas Menikah
Tuntutan hidup yang tinggi membuat seseorang bisa memiliki pemikiran untuk malas menikah. Di Jepang contohnya saat ini memiliki angka kelahiran yang negatif karena rutinitas kerja yang terlalu tinggi.

Itulah beberapa faktor pro dan anti natalitas penduduk. 
 
Jangan lupa dukung video youtube guru geografi berikut ini!.

Kamis, Juli 13

Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas dan Anti Mortalitas?

Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas dan Anti Mortalitas?

Dinamika penduduk dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu kelahiran, kematian dan migrasi. Kematian atau mortalitas merupakan fenomena yang pasti akan dialami oleh manusia. 

Mortalitas pada dasarnya akan membuat jumlah penduduk suatu daerah menjadi berkurang. Tingkat kematian tiap daerah atau negara berbeda-beda.

Ada faktor pro (pendukung) dan anti (penghambat) terjadinya kematian penduduk. Berikut ini beberapa faktor pro dan anti mortalitas:
 

Faktor Pro Mortalitas
1. Gaya hidup buruk
Gaya hidup sangat memengaruhi terhadap kualitas kesehatan seseorang. Gaya hidup yang buruk atau tidak sehat akan mempercepat seseorang untuk menemui ajalnya. Kurangnya asupan gizi, stress, buruknya sanitasi, jajan sembarangan tentu akan membuat seseorang rentan terhadap penyakit.  
 
2. Minimnya sarana prasarana kesehatan
Fasilitas kesehatan yang memadai dan berkualitas sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan penduduknya.
 
 Kurangnya fasilitas kesehatan dan tenaga ahli sering membuat angka kematian meningkat. Daerah-daerah terpencil banyak menemui hambatan ini sehingga sering dijumpai kasus gizi buruk atau banyaknya angka kematian ibu dan bayi. 
 
3. Bencana alam
Bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, longsor dan banjir sering menelan korban jiwa. Bencana tsunami di Aceh tahun 2004 saja membuat 500.000 jiwa melayang.
 
4. Kurangnya kesadaran kebersihan
Coba lihat di lingkungan sekitar anda apakah ada sampah berserakan di pinggir jalan, sungai atau tempat lainnya. 
 
Sampah tersebut menimbulkan bau busuk, mengundang lalat dan mahluk penyebar penyakit lain. Ini adalah kebiasaan masyarakat yang tidak sadar kebersihan yang mengundang mereka untuk lebih cepat mati.
 
5. Kecelakaan lalu lintas
Mobilitas menjadi salah satu faktor paling dominan yang menyebabkan meningkatnya kematian. Setiap hari pasti akan dijumpai berita kecelakaan lalu lintas di televisi. Ini diakibatkan oleh kecepatan berkendara yang tentunya akan berbahaya jika tidak hati-hati di jalan.
 
6. Perang
Perang merupakan salah satu sarana pemusnahan penduduk secara massal. Lihat saja di Suriah dan Irak, kota beserta penduduknya musnah dalam sekejap akibat perang.
Perang menghancurkan kehidupan manusia
Faktor Anti Mortalitas
1. Gaya hidup sehat
Hidup sehat, membiasakan makan makanan bergizi dan rajin berolahraga akan menambah panjang hidup anda. Makan sayuran dan buah-buahan akan membuat tubuh lebih sehat.
 
2. Fasilitas kesehatan memadai
Tersedianya sarana pendukung kesehatan yang memadai hingga tingkat desa akan membuat pelayanan kesehatan menjadi prima. Masyarakat bisa cepat berkonsultasi ke dokter jika ia sakit sehingga memercepat harapan sembuh.
 
3. Lingkungan bersih dan sehat
Lingkungan yang bersih dari sampah dan terhindar dari polusi akan membuat hidup kita nyaman. Kebersihan lingkungan menjadi bagian yang sangat penting untuk memperpanjang umur hidup seseorang.
 
4. Program penyuluhan kesehatan
Pendidikan kesehatan perlu diberikan pada masyarakat agar mereka memahami tentang tata cara hidup sehat. Dengan demikian mereka memiliki wawasan ilmu kesehatan yang cukup untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.  
 
 
Gambar: usnews.com
 
Jangan lupa dukung chanel guru geografi di youtube berikut ini!
 

Senin, Mei 8

Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia

Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia

Penduduk Indonesia saat ini terus meningkat dari sisi kuantitas. Sensus 2010 menunjukkan bahwa populasi Indonesia mencapai 255 juta dan bertengger di posisi keempat terbesar di dunia. 

Untuk menganalisa lebih jauh tentang fenomena kependudukan di Indonesia maka dibutuhkan komposisi penduduk. Komposisi penduduk adalah pengelompokkan penduduk ke dalam kriteria-kriteria tertentu. 

Empat jenis komposisi penduduk yang umum digunakan biasanya adalah:
1. Komposisi Biologi, yaitu pengelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin.
2. Komposisi Ekonomi, yaitu pengelompokkan menurut aspek ekonomi seperti pendapatan atau konsumsi.
3. Komposisi Sosial, yaitu pengelompokkan menurut aspek sosial seperti pendidikan, pekerjaan dan kesehatan.
4. Komposisi Geografi, yaitu pengelompokkan menurut faktor geografis seperti tempat tinggal.

Dengan jumlah populasi sekitar 255 juta individu, Indonesia merupakan negara terbesar keempat berkenaan dengan ukuran populasi. Komposisi etniknya sangat beragam dari tiap daerah. Namun, lebih dari setengah populasi dapat diklasifikasikan sebagai milik dua kelompok etnis utama. Dua etnis ini memiliki pengaruh besar bagi penduduk Indonesia.

Dua kelompok etnis ini adalah Jawa (41% dari total populasi) dan Sunda (15% dari total populasi). Dua etnis ini berasal berasal dari Pulau Jawa, pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, hampir 60% dari total populasi negara. 

Jika Sumatera dimasukan, angka meningkat menjadi sekitar 80% dari total populasi yang mengindikasikan adanya konsentrasi penduduk di bagian barat Indonesia. Propinsi terpadat adalah Jawa Barat dengan >43 juta jiwa sementara Papua Barat memiliki penduudk paling minim yaitu 761 ribu penduduk.

Indonesia punya prinsip Bhineka Tunggal Ika yang artinya Berbeda Tapi Tetap Satu. Hal ini mencerminkan banyaknya suku bangsa, budaya, bahasa, agama yang tersebar di semua penjuru negeri. 

Ketika pergi ke Papua maka anda akan melihat banyak budaya animisme disana, saat kamu ke Aceh maka akan menemukan budaya Islam. Perbedaan tersebut bukanlah sebuah alasan perpecahan namun adalah kesatuan atas dasar NKRI.

Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan hasil dari proses kolonalisme yang panjang. Dalam rentang waktu 350 tahun bangsa Eropa (Belanda) memperluas kekuasaan politiknya di Indonesia, menaklukan kerajaan-kerajaan hingga batas-batas negara Indonesia. Baca juga: Terbentuknya awan di langit

Di sisi lain, keragaman budaya merupakan anugerah bagi perekonomian Indonesia khususnya di Asia Tenggara. Setiap budaya menawarkan suatu hal yang menarik dan mendatangkan jutaan turis asing setiap tahunnya.

Contohnya, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan budaya kontemporer Bali merupakan daya tarik wisata andalan Indonesia. 

Di sisi lain, memiliki banyak keyakinan, tradisi, etnis yang berbeda juga menjadi faktor pemicu bentrokan dan kekerasan antar kelompok yang beberapa tahun ini kembali muncul. 

Ada juga faktor ketidakadilan yang memberi sentimen negatif pada sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya perbedaan upah, stratifikasi sosial, pembanguan tidak merata menjadi alasan mengapa Indonesia kini memilih sistem otonomi daerah daripada model sentralistik era Soeharto. Baca juga: Patahan Lembang yang berbahaya
Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia
Populasi penduduk per propinsi
Pertumbuhan Penduduk Indonesia

Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata dari tahun 2000 hingga 2010 mencapai 1,49% dengan pertumbuhan tertinggi di Papua (5,46%) dan terendah di Jawa Tengah (0,37%). 

Program Keluarga Berencana dimulai tahun 1968 untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk. Tingkat pertumbuhan penduduk nasional adalah 1,2% menurut data World Bank tahun 2015.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa penduduk Indonesia diperkirakan melebihi 270 juta jiwa di tahun 2025 dan menyentuh 290 jutan di tahun 2045. Tahun 2050 jumlah penduduk diperkirakan mulai menurun.

PBB juga memprakirakan bahwa pada tahun 2050, dua per tiga penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan. Selama 40 tahun terakhir proses urbanisasi sangat cepat yang menyebabkan lebih dari separuh penduduk Indonesia kini bermukim di perkotaan. 

Dalam aspek ekonomi hal ini tentu baik karena akan meningkatkan pendapatan masyarakat kelas menengah.

Kota terbesar di Indonesai berada di Jawa dengan Jakarta sebagai ibukota negara dan rumah dari 10 juta jiwa. Arus mobilitas penduduk ini menyebabkan kepadatan dan kemacetan di jalanan ibukota. 
Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia
Piramida penduduk Indonesia 2010
Komposisi Umur

Salah satu kekuatan utama populasi Indonesia adalah jumlah penduduk usia muda yang paling banyak. Keadaan ini menyedikan jumlah tenaga kerja potensial. Usia rata-rata total Indonesia adalah 28,6 tahun. 

Ini menunjukkan bahwa separuh dari populasi yang lebih tua dari 28,6 tahun dan separuh lagi lebih muda dari angka ini. Dalam komposisi jenis kelamin, usia rata-rata wanita satu tahun lebih tua (29,1) dan laki-laki (28,1 tahun).

Di tahun 2010 sekitar 19% penduduk Indonesia berusia di bawah 10 tahun dan 37% berusia di bawah 20 tahun dan sekitar setengah dairi populasi di bawah 30 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dari sisi produktifitas maka ini adalah potensi besar bagi pengembangan industri kreatif. Baca juga: Awan cirrus, stratus dan cumulus

Namun catatan buruk adalah saat ini ada jutaan orang Indonesia yang menganggur dan tidak dapat diserap pasar tenaga kerja. Invasi tenaga kerja asing masih menjadi masalah. Hal tersebut menandakan kualitas pekerja Indonesia yang masih rendah.

Komposisi Agama
Dalam hal agama Indonesia mayoritas adalah Muslim dengan 87% dari total penduduk, namun Indonesia tidak memberlakukan Hukum Islam kecuali di Aceh. Meski berprinsip demokrasi sekuler, nilai-nilai Islam memang memainkan peranan besar dalam politik, sosial dan ekonomi penduduk. Contoh jika restoran restoran harus belabel halal. 

Selain itu ada 16,5 juta Protestan dan 6,9 juta Katolik dan 4 juta Hindu yang hidup di Indonesia. Selanjutnya ada minoritas Budha dan Kong Hu Cu yang merupakan keturunan etnis Tionghoa.  
 

Gambar: social.rollins.edu

Selasa, Maret 21

Rumus Hitung Sex Ratio dan Dependency Ratio

Rumus Hitung Sex Ratio dan Dependency Ratio

Dalam pelajaran geografi, menghitung sex ratio dan dependency ratio adalah satu materi penting di kelas XI.
 
Sex ratio merupakan angka yang menunjukkan perbandingan jumlah lakik-laki  dengan perempuan dalam suatu wilayah. 

Sementara dependency ratio merupakan angka yang menunjukkan beban ketergantungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif di satu wilayah.
 
Data yang dibutuhkan untuk menghitung sex ratio dan dependency ratio adalah jumlah penduduk per rentang usia dan jenis kelamin. 
 
SR dan DR ini dapat digunakan untuk menganalisa struktur penduduk suatu wilayah sehingga bida dibuat untuk merencanakan kebijakan di masa depan.  
 
Rumus Sex Ratio
Contoh kasus:
Di Kabupaten Culamega jumlah penduduk laki-laki berjumlah 500.000 jiwa sementara jumlah penduduk perempuan 400.000 jiwa. Berapakah Sex Ratio di daerah tersebut?

500.000 x 100 = 125, artinya ada 125 laki-laki per 100 perempuan.
400.000
Rumus Dependency Ratio
 
Di Kota Depok diketahui jumlah penduduk usia 0-14 tahun adalah 10.000 jiwa, penduduk usia 15-64 tahun adalah 20.000 jiwa dan penduduk diatas 64 tahun 5.000 jiwa. Berapakah angka ketergantungannya?

10.000 + 5.000 x 100 = 75
      20.000 

Jadi setiap 100 orang penduduk produktif menanggung 75 orang penduduk non produktif.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close