Guru Geografi: Meteorologi | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Meteorologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meteorologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 28

Esensi Manusia Sebagai Mahluk Tidak Tahu Diri Dalam Lingkungan

Esensi Manusia Sebagai Mahluk Tidak Tahu Diri Dalam Lingkungan

Beberapa bulan ke belakang kita semua menderita karena kemarau panjang dimana-mana dan terjadi gagal panen dan sumber air hilang. Berbagai linimasa mencatat hampir seluruh wilayah Indonesia terdampak akibat fenomena curah hujan sangat rendah tersebut.

BMKG sebagai otoritas paling terdepan dalam memberikan informasi kepada khalayak sudah mewanti-wanti akan datangnya kemarau panjang dikarenakan adanya anomali El Nino di Pasifik Timur.

El Nino sendiri adalah sebuah fenomena yang datang setiap 5-7 tahun sekali yang menyebabkan terjadinya fenomena cuaca lain di barat Pasifik atau Timur Pasifik. Menghangatnya perairan Pasifik di timur menyebabkan wilayah bagian barat akan mengalami defisit curah hujan.

Cuaca panas ekstrim terjadi di beberapa wilayah dan kota, membuat aktifitas manusia terganggu sampai di beberapa kota, air PDAM berhenti mengalir atau kotor. Akhirnya manusia menyerah dan di beberapa lokasi melakukan sholat istisqo meminta hujan kepada penguasa alam.

Bulan berganti dan angin muson barat kini mulai bergerak membawa awan-awan hujan masif ke Indonesia. Hasilnya di beberapa daerah yang tadinya kekeringan kini berubah menjadi berlimpah air karena curah hujan tinggi bahkan disertai petir.

Beberapa waktu lalu bahkan ada postingan di medsos terkait banjir yang melanda salah satu wilayah di Jawa Barat karena curah hujan yang sangat tinggi.

Tak ayal manusia pun bingung, kemarin diberi cuaca kering esktrim protes, sekarang diberi hujan berlimpah pun protes. Lalu maunya manusia itu apa?.

Perlu dipahami bahwa fenomena meteorologis adalah sesuatu yang umum terjadi di berbagai belahan dunia. Persoalan intensitas dan sebarannya yang tidak merata, itu adalah hal lain. Namun dalam ekologi lingkungan, hal tersebut adalah suatu mekanisme alam untuk menyeimbangkan diri atau menjaga keteraturan.

Jadi yang sepantasnya harus berbenah adalah si penghuni alam paling rakus yaitu manusia. Tata ruang wilayah yang tidak sesuai kaidah lingkungan adalah penyebab dari datangnya bencana. 

Lingkungan bumi terbentuk lebih dahulu dibandingkan manusia, artinya gejala meteorologis sudah biasa terjadi pada lingkungan. Lingkungan yang pada dasarnya harus menjadi sarana air permukaan mengalir dengan baik, kini tidak diperhatikan manusia. 

Semua gejala meteorologi seperti hujan, angin bahkan petir adalah sumber pendukung kehidupan. Namun manusia seringkali berkata jika ada sebuah kegiatan lalu terjadi kejadian cuaca ekstrim maka yang keluar adalah "Ya, karena cuaca tidak mendukung maka ...bla..bla..bla..".

Manusia sering menyalahkan cuaca karena kepentingannya jadi tidak terpenuhi, sementara itu ketika cuaca melimpah terjadi mereka juga akan protes.

Dalam Al Quran memang sudah dijelaskan bahwa "manusia itu mahluk yang suka mengeluh lagi kikir". Lalu kalau begitu apa esensi Tuhan menciptakan manusia kalau sudah tahu mereka akan merusak?.

Pasti ada rahasia dibalik rahasia, yang jelas manusia perlu berfikir ulang dan mencoba untuk menyelaraskan diri dengan kondisi alam. Tata ruang wilayah harus didesain agar fenomena hidrometeorologis dapat berjalan dengan baik.

Contoh paling sederhana juga adalah dalam perilaku membuang sampah. Entah di tahun berapa manusia Indonesia akan sadar akan pentingnya kebersihan. Ataukah memang manusia Indonesia sudah tidak bisa merubah budaya kotor yang yang sudah mengakar?.

Namun balik lagi bahwa manusia itu mahluk yang kecil tapi merasa ingin menguasai segalanya. Diberikan cobaan kemarau panjang sekitar 4 bulan saja teriak-teriak, lantas setelah itu diberi curah hujan melimpah juga sama mengeluhnya. Kapan manusia mau berfikir?

Selasa, April 19

Klasifikasi Awan Baru Menurut World Meteorological Organization (WMO)

Klasifikasi Awan Baru Menurut World Meteorological Organization (WMO)

Ada banyak jenis awan di atmosfer kita yang sering terlihat mulai dari kumulus, stratus, sirrus hingga cumulonimbus. Nah pada tahun 2017, World Meteorological Organization (WMO) telah mengidentifikasi jenis awan baru.

Hal ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan para ahli terkait bentuk-bentuk awan yang dijumpai pada atmosfer beberapa tahun kebelakang. 

Sistem klasifikasi awan saat ini berasal dari tahun 1802 ketika ahi meteoroogi amatir Luke Howard menulis esai mengenai Modifikasi Awan.

Awan tersebut diantaranya alto, cirus, cumulus, nimbus, stratus. Berikut ini daftar jenis awan baru menurut WMO:
Fluctus
Jenis Baru
1. Volutus adalah awan horizontal panjang berbentuk seperti tabung, biasanya di atmosfer bawah dan seperti bergulung. 

Fitur Tambahan
1. Asperitas adalah jenis awan seperti gelombang di bagian bawah dengan permukaan terlihat kasar jika terlihat dari bawah permukaan.
2. Fluctus adalah jenis awan formasi gelombang yang relatif berumur pendek, biasanya berada di atas permukaan awan, berbentuk ikal atau gelombang pecah.
3. Cavum adalah jenis awan dengan celah besar biasanya melingkar atau elips yang dapat muncul di awan cirrocumulus atau altocumulus.
4. Murus adalah jenis awan dinding yang terlokalisasi, sering tiba-tiba muncul dari dasar cumulonimbus berbentuk corong atau tornado.
5. Cauda adalah jenis awan berbentuk ekor memanjang pada bagian bawah atmosfer dan masih bagian presipitasi utama dari super cell cumulonimbus

Awan Aksesori
1. Flumen adalah kumpulan awan rendah yang bergerak ke arah atas dari awan badai raksasa.

Awan Spesial
1. Flamagenitus adalah jenis awan berbentuk seperti lidah akibat naiknya arus udara yang dipicu panas dari kebakaran lahan atau aktivitas gunung api.
2. Hommogenitus adalah jenis awan yang merupakan hasil dari aktivitas manusia misalnya jejak kondensasi pesawat atau kenaikan suhu di atas pembangkit listrik.
3. Hommomutatus adalah jenis awan berbentuk cirrus yang dihasilkan penyebaran kondensasi hasil mesin pesawat yang kemudian berubah meluas seiring waktu.
4. Cataractagenitus adalah awan berkembang secara lokal di sekitar air terjun besar karena naiknya udara.
5. Silvagenitus adalah awan yang berkembang secara lokal di atas hutan sebagai akibat dari peningkatan kelembaban karena penguapan dari kanopi pohon.

Untuk gambar lengkap awan-awan baru tersebut silahkan cek di artikel berikut: Jenis Awan Baru 

Senin, Januari 24

Terbentuknya Hujan Orografis dan Angin Fohn

Terbentuknya Hujan Orografis dan Angin Fohn

Kalian tentu sering mendengar kata hujan orografis dalam pelajaran geografi kan?. Kali ini saya akan bahas lagi tentang proses terbentuknya hujan orografis dan kaitannya dengan angin fohn.

Orografi adalah studi tentang relief topografi pegunungan dan segala hal termasuk perbukitan dan bagian-bagian yang termasuk dataran tinggi. Orografi sering disebut juga oreografi.

Hujan orografis atau presipitasi orografis adalah jenis hujan (bisa salju, es atau air) yang terbentuk saat udara lembab naik dari bawah menuju lereng pegunungan. Saat udara naik dan mendingin, awan topografi terbentuk dan menjadi bahan utama presipitasi.

Hujan atau presipitasi kemudian turun di sekitar lereng pegunungan tadi. Sementara itu di sisi pegunungan lainnya, curah hujan akan menjadi rendah dan disebut juga daerah bayangan hujan (rain shadow). 
Mekanisme hujan orografis dan angin fohn

Hujan lebat umumnya terjadi di wilayah lereng pegunungan tempat udara naik dari wilayah perairan yang hangat. Udara naik dari lembah menuju pegunungan disebut juga proses anabatik.

Hujan orografis termasuk kategori hujan lokal karena hanya meliputi area yang sempit yaitu di wilayah yang terdapat barrier atau penghalang seperti deretan pegunungan. 

Di Indonesia hujan orografis bisa terbentuk di wilayah pantai barat Sumatera yang memiliki deretan pegunungan dibandingkan wilayah pesisir timur yang merupakan wilayah dataran rendah.

Dataran tinggi secara umum mempengaruhi iklim global. Sebagai contoh dataran tinggi di wilayah Afrika Timur memengaruhi kekuatan angin monsun Hindia. 

Hujan orografik juga sangat berkaitan erat dengan terjadinya angin Fohn. Angin Fohn adalah angin yang bergerak menuruni lereng pegunungan dan bersifat panas, kering. 

Angin fohn pertama kali diteliti di wilayah pegunungan Alpen, perbatasan Italia dengan Jerman. Studi mengungkap bahwa angin ini berdampak pada kesehatan seperti penurunan daya tahan tubuh, gangguan kecemasan, arthritis, insomnia hingga keinginan bunuh diri.

Minggu, Februari 14

Awan Cirrus - Pengertian dan Ciri Fisiknya

Awan Cirrus - Pengertian dan Ciri Fisiknya

Kita semua tentu tahu bahwa ada banyak jenis bentuk awan di langit dan secara sekilas kita pasti mengenal bentuk-bentuk awan tersebut.

Jenis dan bentuk awan merupakan tanda komponen pembentuknya berbeda dan akan membawa jenis cuaca yang berbeda pula.

Meskipun pada dasarnya proses pembentukan awan namun bentuk tampilan awan di atmosfer dapat berbeda-beda. Perbedaannya ini muncul karena ketinggian formasi awan tersebut dan kondisi umum atmosfer disekitarnya.

Saat anda pergi ke luar dan melihat hari cerah dan hanya terdapat awan putih halus dan bergaris-garis di langit, itulah awan cirrus.

Awan cirrus adalah awan yang terbentuk dari kristal es. Formasi awan ini berada di atmosfer tinggi dan bisa dibilang awan ini adalah awan paling tinggi.

Alasan pembentukannya dari kristal ers adalah karena suhu dan ketinggian pembentukkannya sekitar 39 derajat di bawah nol.

Kalian tentu pasti memperhatikan awan ini terlihat tipis dan halus seperti seseorang menggores lukisan putih di kanvas biru. Hal ini karena angin bertiup 100-150 mil per jam saat awan cirrus terbentuk. Tidak ada awan lain terbentuk dan bergerak secepat ini.

Awan Cirrus di siang hari
 Perbedaan Cirrus dan Cumulus

Ada karakteristik jelas saat membedakan awan cirrus dan awan cumulus. Pertama dari sisi tampilan, awan cirrus berbentuk halus seperti kain sementara cumulus terlihat padat dan bergerombol.

Awan cirrus lebih tipis dibandingkan cumulus sehingga agak sulit terlihat mata. Awan cumulus sangat jelas sekali terlihat mata karena bentuknya yang bergumpal.

Selain itu awan cirrus ditemukan di lapisan troposfer atas sementara cumulus dapat ditemukan cukup dekat di troposfer bawah.

Awan cumulus adalah pertanda cuaca sedang dalam keadaan normal sementara awan cirrus bisa jadi pertanda akan terjadi badai.

Pembentukkan Awan Cirrus

Awan cirrus terbentuk dari kristal es di atmosfer karena wilayah pembentukkannya berkisar -60 derajat celcius sehingga air akan membeku.

Karena kristal es ini berada di troposfer atas maka mereka akan mengikuti angin kencang. Inilah mengapa awan cirrus sering cepat menghilang dan tidak menjadi padat.

Di sisi lain, tetesan air yang membentuk awan cumulus juga dapat membeku namuns sebagian besar ditemukan dalambentuk cair. Karena kelembaban tinggi, udara hangat naik dan menciptakan lapisan-lapisan seperti awan lenticular.

Selanjutnya, puncak awan secara bertahap mencapai bagian atmosfer lebih tinggi, bahkan di stratosfer yang lebih rendah. Begitu pula ketika awan besar ini menjadi dewasa, terjadi benturan air dan es yang menghasilkan muatan listrik yang menghasilkan guntur dan kilat.

Sabtu, Februari 13

Karakteristik Lapisan Stratosfer

Karakteristik Lapisan Stratosfer

Lapisan atmosfer yang berada di urutan kedua dari bawah permukaan bumi adalah stratosfer. Stratosfer adalah lapisan atmosfer yang menyebar hingga ketinggian sekitar 50 km dari permukaan bumi dan sangat ideal untuk lalu lintas pesawat terbang.

Lalu apa saja karakteristik lapisan stratosfer lainnya?. Simak deskripsinya berikut.
 
1. Ketinggian 
Stratosfer memiliki ketinggian dari 10 sampai 50 km dari permukaan bumi, namun rata-rata ketinggiannya ada di angka 40 km. Di wilayah kutub, stratosfer dimulai dari ketinggian 8 km dibandingkan di ekuator yang bisa dimulai dari 10 km.

2. Lapisan Inversi
Lapisan stratosfer bawah lebih dingin dan saat kita bergerak ke atas, lapisan ini akan bertambah panas. Hal ini berbeda dengan troposfer dan lapisan atmosfer lainnya dimana suhu turun seiring bertambahnya ketinggian. Penurunan suhu di stratosfer seiring naiknya ketinggian disebut inversi.

Oleh karena itu ada dua lapisan atau strata suhu berbeda di stratosfer yaitu lapisan dingin dan lapisan panas. Itulah emngapan lapisan kedua disebut starosfer (strata).
 
3. Lapisan Tenang dan Stabil
Stratosfer adalah lapisan yang sangat tenang dan stabil, tidak seperti troposfer yang banyak terjadi turbulensi. Lapisan stratosfer sangat tenang dan stabil karena tidak adanya aliran udara vertikal. 
 
Ini terjadi karena arus udara vertikal mengalir dari lapisan yang lebih hangat (bawah) ke lapisan yang lebih dingin (atas).
 
Di troposfer, udara vertikal selalu bergerak ke atas karena arus konveksi. Namun di stratosfer terjadi inversi suhu sehingga tidak ada atau sedikit aliran udara vertikal ke atas. Ini yang menjadikan stratosfer lebih tenang dan bebas gangguan cuaca.
Ciri umum stratosfer

4. Lokasi Pesawat
Stratosfer bebas dari gangguan cuaca seperti badai petir, awan, turbulensi, dll. Hal ini karena tidak adanya aliran arus konvensional, seperti dijelaskan di atas. Oleh karena itu, lapisan ini cocok untuk pesawat jet terbang. Pesawat selalu mengudara hingga ketinggian di atas 10 km. 

5. Aliran Jet
Stratosfer terdapat suatu aliran udara horizontal yang dinamakan jetstream. Jet strea ini mengalir cepat dari barat ke timur. Aliran udara ini memiliki kecepatan sekitar 340 km per jam. Pesawat udara yang terbang dari barat ke timur mendapatkan dorongan kecepatannya dengan dorongan dari aliran jet ini.

Dengan demikian, pesawat dapat menghemat waktu & biaya bahan bakar. Misalnya, penerbangan dari London (Eropa) ke New York (Amerika) membutuhkan waktu lebih singkat daripada penerbangan dari New York ke London karena aliran jet. 

6. Ozon
Stratosfer adalah wilayah dimana sekitar 90% ozon terbentuk. Ozon (rumus kimia O₃) adalah gas yang dibentuk oleh interaksi sinar matahari terhadap oksigen yang ada di stratosfer.

Ozon penting karena menyerap sinar ultraviolet matahari yang berbahaya. Sinar ultraviolet menghancurkan sel manusia dan berbahaya bagi kehidupan di bumi. Dengan demikian stratosfer mendukung kehidupan di bumi.
Aliran jet stream atmosfer
 Gambar: www.eurekalert.org

Minggu, Desember 27

Awan Topi Lentikular Muncul Di Puncak Gunung Ciremai

Awan Topi Lentikular Muncul Di Puncak Gunung Ciremai

Pagi hari ini seperti biasa saya pergi mencari sarapan ke luar rumah dengan jalan kaki melewati pesawahan di kampung. 

Rumah saya memang berada di kota Majalengka namun masih banyak pesawahan. Bulan ini memasuki puncak musim hujan dan hampir setiap sore hingga malam hujan terus turun di kota Majalengka.

Dampaknya pagi hari suhu udara sangat dingin dan membuat fenomena langka muncul di atas Ciremai. Fenomena tersebut adalah awan topi lentikular.

Saya bergegas mengambil kamera untuk mengabadikan fenomena atmosfer yang jarang terjadi ini. Lalu apakah kehadiran awan lentikular ini menjadi pertanda bahaya?. 

Tentu tidak karena fenomena atmosfer ini adalah murni karena faktor alam. Yuk kita simak faktor terjadinya awan lentikular ini.
 
Awan lentikular adalah awan berbentuk lensa atau melingkar yang terbentuk di troposfer dan biasa terbentuk karena pembentukannya searah dengan arah angin di puncak gunung. Ada tiga jenis awan lentikular: 
 
1. altocumulus standing lenticular (ACSL),
2. stratocumulus standing lenticular (SCSL),
3. cirrocumulus standing lenticular (CCSL)
Awan lentikular di puncak Ciremai
Proses terbentuknya awan lentikular
Saat udara mengalir di permukaan bumi, maka ia akan menghadapi beberapa hambatan. Hambatan ini bisa buatan manusia seperti bangunan atau alami seperti bukit, gunung atau lembah. Gangguan ini menyebabkan alian udara akan berubah

Semakin tinggi udara maka akan semakin dingin. Ketika dingin, kelembaban yang dikandungnya berubah menjadi tetesan air. Tetesan inilah yang membentuk awan. Dengan demikian, arus udara hangat mendingin bergerak naik gunung, menciptakan awan.

Awan lentikular adalah awan berbentuk lensa yang biasanya berkembang di sisi bawah gunung atau pegunungan. Ini terjadi ketika udara yang stabil dan lembab mengalir di atas gunung, menciptakan serangkaian gelombang berosilasi. 
 
Jika suhu di puncak gelombang udara sama dengan suhu titik embun, kondensasi terjadi dalam formasi bentuk lensa. Ketika udara jatuh ke dasar gelombang udara, di mana suhu udara dan suhu titik embun tidak sama maka penguapan terjadi. Dengan demikian, awan gelombang, atau serangkaian awan lentikular, mampu terbentuk.

Awan lentiluar menjadi pertanda cuaca sedang ektrim di puncak gunung dan bisa memicu hujan lebat di lereng gunung. Namun awan ini bukan menjadi pertanda akan adanya fenomena lain seperti gempa atau tsunami.

Jumat, Oktober 16

Angin Muson Barat dan Timur di Indonesia

Angin Muson Barat dan Timur di Indonesia

Kita tentu sering mendengar tentang istilah angin muson barat dan angin muson timur. Tapi bagaimana sih sebenarnya proses awal mula terbentuknya angin muson ini?.

Angin pada dasarnya adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Semua mekanisme angin dibentuk oleh konsep ini.

Banyak siswa yang masih belum paham tentang bagaimana mengaitkan konsep angin dengan tekanan dan suhu. Kita akan coba berikan penjelasannya berikut ini.

Angin muson yang melewati Indonesia terbentuk karena perbedaan panas yang diterima daratan Asia dan Australia. 

Terbentuknya Angin Muson Timur
Selama musim panas, bagian belahan bumi utara (Asia) akan lebih hangat dibandingkan lautan disekitarnya. Pemanasan ini akan memicu terjadinya evaporasi dan menghasilkan tekanan rendah.

Pada waktu yang sama di belahan bumi selatan yaitu Australia (musim dingin), suhu rendah dan udara dingin membentuk wilayah bertekanan tinggi. Angin lalu berhembus dari daratan Australia melewati ekuator menuju Samudera Hindia dan Indonesia.

Periode angin muson timur terjadi dari April sampai September. Udara yang dibawah dari Australia cenderung kering sehingga di Indonesia terjadi kemarau.
Pola angin muson barat dan timur Indonesia
Terbentuknya Angin Muson Barat
Angin muson barat terbentuk saat posisi matahari berada di belahan bumi bagian selatan (daratan Australia). Karena pemanasan tinggi selama musim panas maka wilayah Australia akan lebih hangat karena evaporasi tinggi sehingga menghasilkan tekanan rendah.

Sebaliknya wilayah Asia mengalami musim dingin karena intensitas penyinaran menurun sehingga menghasilkan tekanan tinggi.

Angin kemudian berhembus dari daratan Asia membawa uap air menuju Indonesia dan Samudera Hindia. Musim hujan kemudian terjadi di Indonesia selama periode ini. 

Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober hingga Maret. Di Indonesia puncak penghujan biasa terjadi pada bulan-bulan ini. 

Lalu kenapa saat angin muson barat tidak semua wilayah Indonesia mengalami musim hujan, justru saat angin muson timur hujan terjadi di beberapa wilayah?.

Nah inilah yang perlu kalian pahami, bahwa sistem cuaca di Indonesia itu kompleks bukan dibangun atas angin muson saja. Wilayah Indonesia terdiri atas kepualauan, morfologinya bermacam-macam dan diapit dua samudera.

Hal ini yang menyebabkan variasi curah hujan di Indonesia sangat banyak. Ada sekitar 234 lebih pola curah hujan di wilayah Indonesia. Jadi tidak sama turunnya hujan di Maluku dengan di Bogor misalnya.

Pola iklim di Indonesia terbagi menjadi pola ekuatorial, pola musim dan pola lokal. Untuk lebih jelasnya silahkan baca di artikel berikut: 3 Pola iklim Indonesia

Sabtu, Agustus 1

Faktor Cuaca Dingin Ekstrim di Indonesia

Faktor Cuaca Dingin Ekstrim di Indonesia

Beberapa waktu ini masyarakat ramai merasakan cuaca dingin terutama malam sampai dini hari tak seperti biasanya. Bahkan malam ini saja saya gak pakai AC, karena adem ayem.

Biasanya cuaca di Bekasi panas pol sampai malam juga, tapi kali ini nggak. Mengapa ya bisa begitu?. Apalagi di daerah dataran tinggi seperti Dieng yang heboh dengan embun salju lagi.

Yang jelas fenomena cuaca dingin di Indonesia bulan ini adalah fenomena biasa dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Jadi jika tahun depan terjadi lagi maka tidak akan heboh berlebihan lagi ya.

Fenomena suhu dingin di beberapa kota membuat heboh jagat medsos dan banyak yang penasaran apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Embun upas di dedaunan
Pertama, cuaca dingin akhir-akhir ini dipengaruhi oleh posisi matahari atau tepatnya gerak semu tahunan matahari. Belum pernah tahu tentang gerak semu tahunan matahari?. Cek gambarnya dibawah ini dulu ya!.
Gerak semu tahunan matahari
Gerak semu tahunan matahari adalah dampak dari revolusi bumi. Bulan Juli ini matahari masih berada diatas tropic of cancer atau di utara khatulistiwa. Jadi kita (Indonesia) menerima sedikit penyinaran dan menyebabkan cuaca menjadi lebih dingin.

Selain gerak semu tahunan tadi, kondisi atmosfer kita juga memengaruhi kondisi suhu disekitar lingkungan kita. Jika kondisi langit banyak awan maka radiasi panas akan dipantulkan kembali ke bumi dan permukaan bumi lebih hangat.

Sementara jika langit cerah tanpa awan maka panas akan dilepas ke luar angkasa sehingga suhu permukaan bumi akan lebih dingin. Jadi awan itu fungsinya menahan panas ya guys, makanya kalau mau hujan kan seringkali ktia gerak bukan?. Itu tanda awan melepas panas lho!.

Cuaca dan suhu dingin ini biasa terjadi di puncak musim kemarau, jadi tidak usah khawatir ya. Malah bisa menjadi atraksi wisata menarik seperti di Dieng, Bromo atau tempat dataran tinggi lain yang masih bisa memungkinkan terbentuknya embun es atau embun upas.

Lalu kenapa tidak semua lokasi terdapat embun upas?. Ada banyak faktor pendukung lainnya sehingga bisa muncul lapisan es tadi diantaranya ketinggian, kondisi angin, lingkungan sekitar (apakah banyak industri, kegiatan transportasi atau lainnya).

Puncak musim kemarau di Indonesia biasa terjadi di sekitaran bulan Agustus. Musim kemarau dipengaruhi oleh angin muson timur. Angin muson timur berhembus dari wilayah Australia membawa massa udara kering sehingga musim kemarau terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Angin muson barat dan timur yang melewati Indonesia

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
Iklan