4 Unsur Kehidupan di Bumi

- April 17, 2017
Sekitar 450 Sebelum Masehi, filsuf Yunani Empedoles menulis bahwa dunia ini tersusun atas empat unsur atau elemen yaitu tanah, udara, api dan air. Plato kemudian menyebutnya sebagai empat elemen dasar kehidupan. Namun dalam kehidupan modern saat ini, empat hal tersebut tidak masuk dalam elemen kehidupan namun lebih kepada esensi yang memberikan segala bentuk fisik. 

Gagasan tentang keempat elemen tersebut memberikan pengaruh terhadap ilmu pengetahuan barat saat itu. Keempat unsur tersebut merupakan aspek kimia penting sampai Robert Boyle mendemonstrasikan bahwa ada lebih dari empat elemen pada tahun 1661. 

Selama dua abad terakhir, manusia telah mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang elemen atom dan bagaimana mereka terbentuk. Satu hal yang kita pahami adalah bahwa setiap mahluk di bumi sebagian besar tersusun atas empat elemen atom yaitu Oksigen, Karbon, Hidrogen dan Nitrogen. Bersama-sama, mereka menyusun sekitar 96% tubuh kita.

Ada 92 elemen alami di Bumi dari hidrogen sampai uranium, jadi mengapa mayoritas kehidupan di Bumi ini tersusun atas empat elemen tadi?. Alasan dasarnya adalah karena kenyataannya bahwa mereka adalah elemen serbaguna yang mampu menghasilkan beragam jenis senyawa kimia. Mereka semua juga merupakan elemen yang paling melimpah di alam semesta. Untuk memahaminya kita harus melihat bintang di angkasa.

Elemen pertama yang muncul setelah Big Bang dikenal sebagai nukleosintesis. Unsur-unsur yang dihasilkan oleh Big Bang tersusun atas 75% hidrogen dan 25% helium dengan beberapa jejak lithium dan berilium. Ratusan jutan tahun kemudian, hanya empat unsur utama ini yang muncul lalu muncullah bintang pertama. Mereka terbentuk awan nebula besar dengan komposisi hidrogen dan helium. Saat bintang akan mati, inti bintang akan mengubah hidrogen menjadi helium.
4 Unsur Kehidupan di Bumi
Kita punya DNA bintang
Energi yang dihasilkan dari fusi nuklir ini memberikan bintang cahaya terang dan panas yang diperlukan untuk melawan gaya gravitasi sementara waktu. Seiring waktu jumlah helium di sekitar inti meningkat. Saat helium melimpah di inti, sebagian hidrogen menjadi karbon. Karbon berinteraksi dengan hidrogen menghasilkan nitrogen dan oksigen menghasilkan helium melalui proses siklus CNO. 

Bintang pertama di alam semesta diperkirakan berukuran sangat besar. Menjelang akhir hayatnya, mereka memproduksi elemen yang lebih berat seperti silikon, neon dan besi. Di luar besi, tidak ada elemen bintang yang dapat bereaksi fusi menghasilkan energi. Setelah beberapa ratus ribu tahun pertama tidak ada pasokan energi maka mereka meledak hancur menjadi supernova. Gas dan debu sisa bintang tersebut terlempar keluar alam semesta. Lambat alun gas dan debu ini berkombinasi membentuk bintang baru sampai mereka juga meledak kembali lewat supernova.

Lalu sekitar lima milyar tahun lalu awan dan gas debu membentuk bintang baru lagi. Berkat siklus hidup bintang sebelumnya, bintang baru ini tidak hanya kaya hidrogen dan helium namun karbon nintrogen, oksigen dan besi. Saat bintang terbentuk, debu di sekitar bintang membentuk piringan dan akhirnya planet terbentuk. Planet ketiga (Bumi) ini memiliki nasib baik yaitu tidak terlalu dekat dengan matahari dan tidak terlalu jauh. Hidrogen dan Oksigen melimpah dalam bentuk air, serta karbon dan nitrogen. Akhirnya kehidupan pertama muncul dari adanya elemen-elemen utama tadi.  

Atom dalam tubuh kita mengandung sejarah dari alam semesta. Hidrogen dalam tubuh kita lahir diantara empat unsur utama sekitar 13,7 milyar tahun lalu. Karbon, Nitrogen dan Oksigen dalam otot dan otak tercipta dari bintang yang mati lebih dari 5 milyar tahun lalu. Jadi kita adalah bagian dari alam semesta, yaitu punya DNA bintang. Maka setiap manusia punya kapasitas untuk bersinar (sukses) dalam kehidupannya. Tergantung apakah ia mampu mereaksikan energi bintang dalam dirinya atau tidak. 
Gambar: sciencenews.org
Comments
0 Comments

Berkomentar yang baik ya!

 

Start typing and press Enter to search