Revolusi Layanan Perkeretaapian Indonesia, Dulu dan Kini

- June 11, 2018

Baca Juga

Lebaran tinggal menunggu hitungan hari lagi
dan sebagian besar masyarakat sudah mulai bergegas untuk kembali ke tempat asal mula ia lahir. Hakikat dari sebuah perjalanan pada dasarnya adalah untuk kembali, begitu pula dengan kehidupan kita secara keseluruhan. Mudik adalah salah suatu kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu moda transportasi yang menjadi favorit para pemudik tentu adalah kereta api. Kereta api tiketnya relatif tidak terlalu mahal, bebas macet dan memuat banyak penumpang.

Melihat wajah layanan perkeretaapian Indonesia, tentu semenjak beberapa tahun lalu ada perubahan besar alias revolusi yang sangat hebat dan para pengguna termasuk saya sendiri merasakan perubahannya. Saya akan sedikit bercerita saja tentang pengalaman naik kereta api dulu sebelum revolusi dan kini setelah revolusi. Mudah-mudahan bisa menjadi sejarah dan cerita bagi rekan-rekan di masa depan tentang bagaimana pentingnya sebuah mindset pemimpin untuk merubah dan menggerakan revolusi.

Saya sering naik kereta api sejak dulu sekolah dari Tasik ke Yogyakarta karena semenjak kecil saya memang tinggal di Tasik namun kampung halaman saya di Yogyakarta. Dahulu ketika akan pergi naik kereta, kita harus datang ke stasiun untuk beli tiket dan ngantrinya gak ketulungan. Masih mending kebagian tiket, kalau engga bisa ngamuk-ngamuk. Belum lagi calo disana-sini yang menawarkan tiket dengan harga preman. Masuk stasiun dulu sangat mudah, penumpang dan para pengantar boleh masuk, ditambah pedagang bisa masuk juga. Hasilnya stasiun seperti pasar dan jauh sekali dari kesan nyaman, sangat jauh. 

Dari sisi kebersihan apalagi, banyak sampah dan semrawut abis. Kereta datang kemudian saat masuk gerbong, kita tidak tahu apakah dapat tempat duduk atau enggak, padahal udah pegang karcis. Nampaknya sisi kemanusiaan sudah tidak ada dalam kereta, dan kalau pun memilih saya mendingan naik truk pick up dengan kambing kali ya (dulu). Tempat duduk dan selasar jalan gerbong penuh sesak, AC tidak ada dan pedagang hilir mudik masuk. Di perjalanan kondektur kereta memeriksa karcis dan banyak sekali ternyata yang gak bayar karcis, alhasil bayar 20.000 ke kondektur. Waw, 20.000 kali 10 aja udah lumayan sehari. Tapi ini dulu ya!.
Revolusi Layanan Perkeretaapian Indonesia, Dulu dan Kini
KA Argo Bromo, pic: flickr
Lanjut lagi, gerbong selain sesak penumpang juga kotor dan ini dimanfaatkan dengan baik oleh beberapa orang untuk bersih-bersih. Orang ini bukan pegawai kereta resmi gak tahu siapa (kaya pak ogah dan juru parkir liar), tiap bersihkan kolong jok kereta minta recehan. Saya menemukan beberapa membawa handphone keren jaman dulu, saya pun kalah. Habis tukang bersih ilegal, lalu muncul lagi pengamen dari mulai kelas normal hingga bencong yang meresahkan. Gila ini layanan kereta macam apa. (Itu dulu). 

Itulah sedikit cerita perkeretapaian Indonesia dulu kala. Kini dalam beberapa tahun, semua berubah. Revolusi berhasil mengubah wajah layanan jasa transportasi kereta api Indonesia saat Ignasius Jonan dipercaya memimpin BUMN transportasi ini (dulu era SBY kalau gak salah). Jonan berhasil membawa prinsip dalam tubuh PT KAI dan merubah semua tata laksana layanan dari mulai sarana hingga prasarana menjadi manusiawi. Inilah tugas paling berat manusia dalam kehidupan yaitu memanusiakan manusia itu sendiri. Saya tidak tahu persis bagaimana perubahan rule dalam PT KAI sehingga bisa berubah 360 derajat, dan itu tentu PT KAI sendiri yang tahu, saya tidak terlalu penting mengetahui isi perusahaan. Tapi di luar itu semua, masyarakatlah yang bisa melihat perubahan tersebut.

Lihatlah kini tiket sudah bisa dipesan dari rumah dengan handphone tanpa harus ngantri ke stasiun. Masuk stasiun pun kini sudah seperti masuk hotel, bersih, rapi, harum dan nyaman. Tidak ada pedagang ilegal masuk stasiun karena sudah ditata dan calo pun sudah berangsur hilang. Di dalam stasiun berbagai fasilitas tersedia dan area merokok kini dipisah (sangat manusiawi). Kereta datang dan para penumpang tidak lagi berebutan masuk gerbong karena sudah pasti pas (mungkin untuk KRL masih perlu pembenahan sedikit). Masuk dalam gerbong kini sangat nyaman, bersih, dan yang pasti sejuk karena setiap gerbong pasti ada AC.

Perjalanan pastinya nyaman, tidak ada lagi pedagang di dalam gerbong, pengamen, banci kaleng, asap rokok seperti jaman dulu. Revolusi ternyata bisa mengubah peradaban masyarakat dan kini Indonesia sudah selangkah untuk menapak menjadi negara maju. Peran pemimpin sangat penting dalam merubah suatu peradaban. Semua pemimpin Indonesia pada dasarnya baik-baik, tinggal dipilih saja yang terbaik. Selain kereta api, moda transportasi lain juga berevolusi ke arah yang lebih manusiawi dan tentunya membuat Indonesia terus menapak untuk selevel dengan negara maju.

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik!

 

Start typing and press Enter to search