Minggu, Agustus 11
Rabu, Juli 19
Tahap-Tahap Sejarah Perkembangan Geografi
Zaman Kuno:
Pada zaman kuno, geografi sering kali terkait dengan pemetaan wilayah dan penjelajahan. Peradaban Mesir Kuno, Babilonia, Yunani, dan Romawi telah membuat peta-peta awal yang berfokus pada pemerintahan, perbatasan, dan fitur fisik. Herodotus, seorang sejarawan Yunani kuno, juga dikenal sebagai "Bapak Sejarah", menggabungkan catatan geografis dalam karyanya yang mencakup topografi, iklim, dan budaya.
Abad Pertengahan:
Pada Abad Pertengahan, pengetahuan geografis berkembang melalui perjalanan dan penjelajahan. Pelaut Arab seperti Ibn Battuta melakukan perjalanan jauh dan mengumpulkan pengetahuan tentang tempat-tempat yang dikunjunginya. Peta-peta dari periode ini sering kali memiliki kekurangan dan bias yang signifikan.
Zaman Penjelajahan:
Zaman penjelajahan pada abad ke-15 dan ke-16 membawa perubahan besar dalam geografi. Penjelajahan oleh penjelajah seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan membawa penemuan-penemuan baru dan pemetaan wilayah yang lebih akurat. Selama periode ini, juga muncul pemikiran ilmiah yang signifikan, seperti teori Bumi bulat oleh Eratosthenes.
Zaman Pencerahan:
Pada abad ke-18, geografi berkembang sebagai disiplin ilmiah yang terpisah. Ahli geografi seperti Alexander von Humboldt memainkan peran penting dalam mempromosikan pengamatan ilmiah dan metode penelitian. Karya-karya seperti "Kosmos" karya Humboldt menyediakan pemahaman terperinci tentang hubungan antara manusia dan lingkungan alam.
Abad ke-19:
Pada abad ke-19, geografi berkembang lebih jauh dengan penelitian ekspedisi, pemetaan yang lebih akurat, dan perluasan studi tentang interaksi manusia dengan lingkungan alam. Para geografer seperti Carl Ritter dan Friedrich Ratzel memperkenalkan konsep-konsep seperti determinisme lingkungan dan teori keturunan geografis.
Abad ke-20:
Pada abad ke-20, perkembangan teknologi seperti fotografi udara, penginderaan jauh, dan sistem informasi geografis (SIG) membantu geografi mengembangkan metode penelitian yang lebih maju. Disiplin ini juga terbagi menjadi sub-bidang seperti geografi fisik, geografi manusia, dan geografi regional.
Era Modern:
Pada era modern, geografi semakin mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi. Penggunaan sistem navigasi satelit (GPS) memungkinkan pemetaan dan pemantauan yang lebih akurat. Geografi juga telah berkontribusi pada pemahaman tentang perubahan iklim, urbanisasi, pembangunan berkelanjutan, dan tantangan lingkungan lainnya.
Perkembangan geografi terus berlanjut hingga saat ini, dengan fokus pada masalah global seperti perubahan iklim, urbanisasi yang cepat, pemanfaatan sumber daya alam, dan dinamika sosial-ekonomi dalam skala lokal, regional, dan global.
Rabu, September 21
Sejarah Imperialisme dan Kolonialisme: Jalur Sutra (Silk Road)
![]() |
| Peta jalur sutra |
![]() |
| Sisa kota kuno di Irak, dilalui jalur sutra |
Kamis, Juli 28
Perbedaan Konsep Kolonialisme dan Imperialisme Kuno dan Modern
![]() |
| Peta sebaran koloni negara barat |
| Parameter | Kolonialisme | Imperialisme |
|---|---|---|
| Definisi | Satu negara mengontrol penuh negara jajahan | Satu negara secara informal maupun formal politik dan ekonomi mendominasi negara jajahan |
| Sejarah | Mulai abad ke 15 saat Eropa mulai mengkoloni Afrika dan Asia | Mulai dikenal luas sejak era Romawi namun telah ada sejak peradaan masa lalu |
| Pergerakan Manusia | Orang dari negara induk pindah ke negara koloni tapi tetap loyal terhadap kebijakan negara induk | Tidak secara fisik pindah tapi dari jarak jauh mengontrol mekanisme politik dan ekonomi tanah jajahan |
| Tipe | Pencaplokan semua hal yang dimiliki negara jajahan | Menyebar pengaruh, menanamkan ekonomi baru dari negara induk |
| Etimologi | dari kata "colony" artinya petani | dari kata "imperium" artinya memerintah |
| Contoh | Eropa mengontrol India, Brasil, Australia, Aljazair | Amerika mengontrol Puerto Rico dan Filipina, Cina mengontrol Vietnam |
Selasa, Juni 21
Sejarah, Makna Filosofis Asal Mula Bendera Merah Putih Indonesia
Minggu, Maret 6
Pengertian Sejarah Secara Etimologi dan Menurut Para Ahli
Selasa, Agustus 10
Arti Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Seni dan Ilmu
![]() |
| Situs megalitik Gunung Padang memiliki nilai seni tingkat tinggi |
Sabtu, Juli 31
Faktor Pesatnya Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia
Sabtu, Maret 13
Teori Gujarat, Teori Mekkah, Teori Persia Tentang Masuknya Islam ke Nusantara
![]() |
| Makam Sultan Malik Al Shaleh |
Minggu, Maret 1
Sejarah Pertempuran Puputan Margarana di Bali
Melihat Indonesia sudah memerdekakan diri, Belanda menyusun konsep baru untuk negara jajahannya. Belanda yang ingin membentuk negara persemakmuran dibekas koloninya.
Salah satunya Negara Indonesia Timur (NIT) yang meliputi wilayah Bali. Dalam rangka pembentukan negara baru ini, pada Mei 1946, Belanda sempat membujuk I Gusti Ngurah Rai untuk bergabung dan menjadi tentara bagi negara NIT yang akan dibentuk.
Ngurah Rai adalah mantan anggota KNIL yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda menjadi perwira di korps Projada. Ngurah Rai adalah perwira yang berpengaruh bukan karena kompetensinya saja tapi juga karena darah biru yang dimilikinya.
Alasan itulah yang membuat Belanda mencoba memengaruhinya, akan tetapi bujukan Belanda ini ditolak mentah-mentah oleh Ngurah Rai.
Bahkan Ngurah Rai melalui suratnya, meminta Belanda untuk meninggalkan Pulau Bali karena menganggu keamanan dan ketentraman Pulau Bali. Ngurah Rai dengan tegas memilih ikut kepada Republik Indonesia dan keputusan dari pimpinan di Jawa.
![]() |
| I Gusti Ngurah Rai |
Perjalanan pasukan ke arah Gunung Agung ini beberapa kali mendapat upaya penyergapan oleh Belanda, akan tetapi dapat dipatahkan oleh pasukan Ciung Wanara seperti pertempuran di Tanah Arun, pada tanggal 9 Juli 1946 yang dimenangkan oleh pasukan Ciung Wanara pimpinan Ngurah Rai.
Pertempuran yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan membuat Inggris mencoba mendamaikan Belanda dan Indonesia. Akhirnya melalui diplomasi, Inggris berhasil mendudukan Belanda dan Indonesia dalam perjanjian Linggarjati.
Perjanjian yang berlangsung di Kuningan, Jawa Barat ini berlangsung dengan alot dan menghasilkan keputusan yang mengejutkan bagi sebagian pejuang Indonesia.
Pada perjanjian ini Belanda mengakui Jawa, Madura, dan Sumatra sebagai wilayah kekuasaan Indonesia secara de Facto. Pengakuan ini adalah pilihan sulit bagi sebagaian pejuang terutama mereka yang berjuang di Indonesia timur.
Perjanjian ini berarti juga menyerahkan wilayah timur Indonesia dalam kekuasaan Belanda kembali.
Kekecewaan ini dirasakan juga oleh masyarakat Bali, yang wilayahnya tidak menjadi bagian Republik Indonesia pasca perjanjian Linggarjati. Sebagai Komandan Resimen Sunda Kecil, Ngurah Rai berniat akan mempertahankan wilayah Bali dari Belanda.
Setelah melakukan Long March ke arah timur Pulau Bali, Pasukan Ngurah Rai kembali ke arah barat Pulau Bali. Dalam perjalanan tersebut mereka singgah di desa Marga, di wilayah Tabanan.
Pada 18 November 1946, pasukan Ciung Wanara melakukan penyerangan ke tangsi Polisi NICA di Tabanan. Penyerbuan ini berhasil merampas senjata dan amunisi dari Belanda.
Penyerbuan ini membuat Belanda marah, ditambah kepala Polisi NICA, yang bernama Wagimin ikut membelot dan bergabung dengan pasukan Ciung Wanara. Setelah melakukan pelucutan senjata, Ngurah Rai bersama pasukannya kembali ke desa Marga.
Belanda segera melakukan pencarian terhadap pasukan Ciung Wanara ke desa-desa. Akhirnya, Belanda berhasil menemukan pasukan Ciung Wanara yang sedang berada di desa Marga, Belanda segera mengepung desa tersebut. Ngurah Rai yang mengetahui pergerakan tentara Belanda ini segera menyebar pasukanya ke ladang jagung.
Belanda mulai melakukan serangan kepada pasukan Ciung Wanara, tepat didepan garis pertahanan pasukan tersebut. Dengan mudah pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan menewaskan banyak pasukan Belanda. Belanda segera melakukan gerakan mundur hingga ke desa Tunjuk.
Belanda yang kalah dalam serangan pertama, mengerahkan semua kekuatannya di Bali untuk datang membantunya. Pengepungan ini dihadapi oleh Ngurah Rai dengan melebarkan pertahanannya, agar dapat memukul mundur dengan segera.
Ribuan pasukan Belanda segera melakukan penyerangan terhadap pasukan Ngurah Rai yang berjumlah 96 orang. Belanda mencoba mendesak pasukan Ngurah Rai dengan cepat, bahkan pergerakan pasukan ini masih dibantu oleh pesawat pengebom yang didatangkan langsung dari Makasar.
Pasukan Ciung Wanara yang sudah mulai terdesak ini akhirnya mulai meneriakkan “puputan”. Dalam adat Hindu Bali, Puputan merupakan suatu perang suci yang akan dilakukan hingga titik darah pengahabisan.
Dengan semangat yang berkobar, pasukan Ciung Wanara melawan gempuran tentara NICA dari darat dan dari udara dengan semangat pantang menyerah. Pasukan NICA hanya mampu mengepung dan menembaki dari garis pertahanannya.
Pada sore hari tidak terdengar lagi perlawanan dari pasukan Ciung Wanara. Seluruh pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang gugur, termasuk juga Ngurah Rai. Akan tetapi, Belanda kehilangan lebih dari 400 tentara yang tewas dalam pertempuran ini.
Kekalahan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin Oleh Ngurah Rai mempermudah usaha Belanda dalam membentuk Negara Indonesia Timur. Dengan terbentuknya negara-negara federasi di kawasan nusantara membuat Belanda kembali memainkan politik “adu dombanya”.
Akan tetapi, negara Indonesia Timur ini harus bubar setelah pada tahun 1950, Republik Indonesia kembali bersatu. Untuk menghormati Ngurah Rai dan Pasukan Ciung Wanara yang gugur dalam puputan Margarana, pemerintah Indonesia membangun sebuah monumen, Taman Pujaan Bangsa.
Rabu, Januari 29
Perbedaan Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Nasional
Jadi Historiografi artinya adalah tulisan sejarah, baik itu yang bersifat ilmiah (problem oriented) maupun yang tidak bersifat ilmiah (no problem oriented).
Problem oriented artinya karya sejarah ditulis bersifat ilmiah dan berorientasi kepada pemecahan masalah (problem solving).
Sedangkan no problem oriented adalah karya tulis sejarah yang ditulis tidak berorientasi kepada pemecahan masalah dan ditulis secara naratif.
Secara lebih luas Louis Gottschalk menyebutkan arti Historiografi sebagai berikut :
1. Historiografi merupakan bentuk publikasi
2. Historiografi merupakan sebagai hasil karya, baik berupa tulisan maupun bacaan
3. Historiografi merupakan proses penulisan sejarah
4. Historiografi merupakan kerja keilmuan di bidang sejarah
Historiografi sejarah biasanya memiliki subjektifitas tinggi karena interpretasi ada pada penulis itu sendiri. Oleh sebab itu sering terdapat catatan sejarah dalam versi berbeda tergantung siapa penulis dan sumber datanya.
![]() |
| Relief cerita sejarah nenek moyang di Candi Borobudur |
a. Historiografi Tradisional
Historiografi Tradisional merupakan penulisan sejarah yang berasal dari masa tradisional, yakni masa kerajaan kerajaan kuno. Sifat Historiografi tradisonal sebagai berikut :
- Religio sentris/Istana sentris
- Religio Magis
- Raja/pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti)
- Regio sentris (kedaerahan)
b. Historiografi Kolonial
Historiografi Kolonial merupakan penulisan sejarah yang membahas masalah penjajahan. Sifat pokok Historiografi kolonial antara lain :
- Eropa sentris/Belanda sentris
- Permasalahan yang dibahas adalah aktivitas Bangsa Belanda
- Aktivitas rakyat tanah jajahan (Indonesia) hampir diabaikan sama sekali
Contoh Historiografi Kolonial : Indonesian Trade and Society karangan J.C. Van Leur, Indonesian Sociological Studies karangan Schrieke
c. Historiografi Modern/Nasional
Historiografi nasional merupakan penulisan sejarah yang mengungkapkan kehidupan bangsa Indonesia. Sifat Historiografi Nasional antara lain :
- Indonesia sentris
- Sesuai dengan cara pandang bangsa Indonesia
- Mengandung Character and nation building (pembangunan karakter bangsa)
- Disusun oleh orang orang Indonesia sendiri
Jadi alur sejarah kehidupan masyarakat Indonesia bisa dilihat dari mulai masa kerajaan kemudian masuk ke masa penjajahan kolonialimse lalu era kemerdekaan.
Jumat, Agustus 30
Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56
Lalu bagaimana sejarah singkat peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945?. Jadi ketika itu setelah Jepang menyerah kepada sekutu karena diserang bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perjuangan untuk memproklamirkan kemerdekaan nyatanya tidak berjalan mulus, ada perbedaan pendapat dalam pelaksanaan serta waktu proklamasi.
Perbedaan pendapat ini terjadi antara golongan pemuda yaitu Sukarni, Adam Malik, Kusnaini, Syahrir, Soedarsono, Soepomo dan kawan-kawan yang agresif untuk melaksanakan proklamasi secepat mungkin.
Perbedaan itu memuncuak dengan diamankannya Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok Karawang agar menghindari pengaruh Jepang.
Setelah diadakan pertemuan di Pejambon Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 dan diperoleh kepastian bahwa Jepang telah menyerah maka Dwitunggal Soekarno-Hatta setuju untuk dilaksanaka proklamasi kemerdekaan di Jakarta.
Untuk menyiapkan proklamasi itu maka pada tengah malam Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda di Oranye Nassau Boulevard (Jl. Imam Bonjol no 1) dimana telah berkumpul disana B.M Diah, Bakri, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, Chaerul saleh dkk untuk menegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak ukut campur tangan terkait proklamasi.
Setelah diperoleh kepastian maka Seokarno-Hatta mengadakan pertemuan pada larut malam dengan Ahmad Soebardjo, Soekarno, Chaerul Saleh, B.M Diah, Sayuti Melik, Dr. Buntaran, Iwa Kusumasumantri dan beberapa anggota PPKI untuk merumuskan redaksi naskah proklamasi. Pada pertemuan itu akhirnya konsep punya Soekarno yang diterima lalu diketik Sayuti Melik.
Di pagi hari pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta tepat pada Jumat Legi, jam 10 pagi waktu Indonesia barat (waktu 11.30 Jepang) Bung Karno didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi dengan khidmat dengan isi proklamasi berikut:
![]() |
| Pembacaan proklamasi oleh Soekarno 17 Agustus 1945 |
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang menggenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno Hatta
Sabtu, Juli 20
Ciri Kehidupan Zaman Praaksara
Tapi tahu gak bahwa sebelum mengenal tulisan, perabadan manusia ada yang dikenal sebegai peradaban praaksara.
Emejing banget kan dan gak kebayang gimana dulu manusia berkomunikasi tanpa tulisan.
Praaksara berasal dari kata pra dan aksara. Pra berarti ‘sebelum’ dan aksara adalah ‘tulisan’.
Praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal aksara atau tulisan. Dengan demikian, zaman praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan.
Selain istilah praaksara, dikenal juga istilah yang serupa untuk menggambarkan masa ketika suatu bangsa belum mengenal tulisan, yaitu nirleka. Kata nirleka berasal dari kata nir yang artinya ‘tanpa’ dan leka artinya ‘tulisan’.
Jadi, nirleka adalah zaman sebelum mengenal tulisan. Sebelum dikenal dengan istilah praaksara, gambaran mengenai perkembangan kehidupan dan budaya manusia sebelum mengenal tulisan disebut dengan prasejarah.
Akan tetapi, penamaan prasejarah dinilai kurang tepat karena jika dilihat dari segi bahasa, pengertiannya sudah tidak relevan.
![]() |
| Artefak kebudayaan Mesir kuno |
Dengan alasan tersebutlah, para ahli sepakat mengganti istilah prasejarah menjadi praaksara. Para ahli sepakat untuk memberikan batasan pada kedua zaman, antara zaman praaksara dan zaman sejarah.
Batasan yang dipakai, yaitu mulai adanya tulisan untuk mengacu pada zaman sejarah yang kemudian memunculkan persepsi bahwa zaman praaksara adalah zaman sebelum mengenal tulisan dan zaman sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan.
Seperti yang telah dijelaskan masa praaksara adalah zaman belum mengenal tulisan. Lalu, bagaimanakah pola kehidupan manusia praaksara dapat kita ketahui?
Berikut adalah sumber informasi yang digunakan untuk penelitian zaman praaksara.
a. Fosil
Fosil adalah sisa tulang-belulang binatang atau sisa tumbuhan zaman purba yang telah membatu karena proses kimiawi dan tertanam di dalam lapisan tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun.
b. Artefak
Artefak adalah benda-benda hasil kecerdasan manusia praaksara seperti perkakas, senjata, atau perhiasan yang dipakai oleh manusia praaksara sebagai penunjang kehidupannya.
Untuk mengetahui usia dari fosil atau artefak, digunakan cara berikut ini.
1.) Kimiawi
Melalui cara kimia, fosil atau artefak diteliti unsur-unsur kimia yang dikandungnya.
2.) Tipologi
Melalui cara tipologi dapat diketahui umur fosil atau artefak dengan cara mengelompokkan benda temuan ke dalam kelompok yang sejenis. Semakin sederhana bentuk benda akan ditentukan semakin tua usia benda tersebut.
3.) Stratigrafi
Melalui stratigrafi, usia fosil atau artefak dapat diketahui dengan cara meneliti lapisan tanah tempat ditemukannya fosil atau artefak tersebut. Lapisan tanah atas berumur lebih muda dibandingkan lapisan tanah di bawahnya.
Kapan Berakhirnya Zaman Praaksara?
Berakhirnya zaman praaksara atau dimulainya zaman sejarah pada setiap bangsa memiliki perbedaan. Hal tersebut tergantung kepada peradaban masing-masing.
Salah satu contohnya adalah bangsa Mesir yang sudah mengenal tulisan sekitar 4000 SM.
Artinya pada saat itu, bangsa Mesir memasuki zaman sejarah, sedangkan di Indonesia, zaman sejarah dikenal bermula sejak ditemukannya Prasasti Yupa yang merujuk pada munculnya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur sekitar abad ke-5 M.
Senin, Mei 13
Periodisasi Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Moh. Yamin, H.J. de Graaf
Catatan periodisasi bersifat subjektif dalam kerangka penulisannya. Subjektif artinya tergantung terhadap tulisan sejarawan.
Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo periodisasi dibuat berdasarkan derajat integrasi yang pernah dicapai Indonesia pada masa lampau yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang mampu memengaruhi perkembangan politik, kultur, budaya, dan perkembangan sosial di Indonesia sehingga kita dapat membuat periodisasi yang kita bedakan menjadi dua, yakni pengaruh Hindu dan pengaruh Islam.
Pembabakan pada masa itu dinamakan sebagai masa kerajaan. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat pada saat itu masih bersifat istana sentris atau berpusat kepada raja. Berikut adalah contoh periodisasi sejarah Indonesia menurut beberapa tokoh.
![]() |
| Candi Borobudur mahakarya sejarah bangsa Indonesia |
a. Prasejarah
b. Zaman Kuno
1.) Masa kerajaan-kerajaan tertua
2.) Masa Sriwijaya (dari abad VII – XIII atau XIV)
3.) Masa Majapahit (dari abad XIV – XV)
c. Zaman Baru
1.) Masa Aceh, Mataram, Makassar/Ternate/Tidore (sejak abad XVI)
2.) Masa perlawanan terhadap Imperialisme Barat (abad XIX)
3.) Masa pergerakan nasional (abad XX)
4). Masa Republik Indonesia (sejak tahun 1945)
2. Mohammad Yamin
a. Zaman Prasejarah sampai tahun 0
b. Zaman Protosejarah, tahun 0 sampai abad ke-4
c. Zaman Nasional, dari tahun abad ke-4 sampai abad ke-6
d. Zaman Internasional, yaitu abad ke-16 sampai kira-kira tahun 1900
e. Abad Proklamasi mulai kira-kira tahun 1900
3. H.J. de Graaf
Dalam buku yang berjudul Geschiedenis van Indonesia tahun 1949, H.J. de Graaf menuliskan periodisasi sejarah Indonesia sebagai berikut.
a. Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai 1650) yang meliputi:
1.) zaman Hindu;
2.) zaman penyiaran Islam dan berdirinya kerajaan Islam.
b. Bangsa Barat di Indonesia (1511-1800)
c. Orang Indonesia pada zaman VOC (1600-1800)
d. Organisasi VOC di luar Indonesia
e. Orang Indonesia dalam lingkungan Hindia Belanda (sesudah 1800) diakhiri dengan pemerintahan Ratu Wilhelmina.
Tujuan periodisasi sejarah adalah sebagai berikut.
a. Memudahkan pembaca untuk mengerti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau yang dikelompokkan dan disederhanakan menjadi kesatuan sehingga memudahkan pengertian.
b. Melakukan penyederhanaan terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau.
c. Menguraikan peristiwa-peristiwa sejarah secara kronologis sehingga akan memudahkan dalam upaya pemecahan suatu masalah.
Jumat, Mei 10
Perbedaan Fungsi Intrinsik dan Ekstrinsik Sejarah
I Gede Widja mengemukakan sejarah bukan sekadar uraian cerita kehidupan masa lampau.
Lebih jauh lagi, sejarah memiliki beberapa kegunaan sejarah yang dimaksud adalah kegunaan edukatif, kegunaan inspiratif, dan kegunaan rekreatif.
Secara khusus, fungsi sejarah terbagi atas dua bagian, yaitu fungsi intrinsik dan fungsi ekstrinsik.
Artinya sejarawan tidak selalu dari seseorang yang memiliki latar belakang keilmuan sejarah dalam pendidikannya.
Ketika manusia yang belum mengenal tulisan proses penyampaian tradisi tersebut melalui lisan (tradisi lisan) seperti mitos, legenda, hikayat, cerita rakyat, yang dalam kebenarannya sangat sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. P
ada manusia yang sudah mengenal tulisan, pengetahuan terkait dengan masa lampau didapat melalui informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
![]() |
| Bandung Lautan Api |
Tolak ukur moralitas tersebut menunjukkan sejarah bersentuhan langsung dengan pendidikan moral.
Serta para pejuang yang berani dalam berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Artinya peristiwa masa lampau dapat dijadikan sebagai rujukan atau acuan bagi seseorang untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan segala perubahannya karena pada dasarnya kehidupan manusia terus berubah meskipun tingkatan waktunya pun berbeda dari waktu ke waktu. Perubahan pun terjadi karena disengaja atau tidak disengaja.
Kamis, Mei 9
Konsep Diakronis dan Sinkronis Sejarah dan Contoh Soal
Dia memiliki makna ‘melewati’ atau ‘melintas’, sedangkan khronos diartikan sebagai ‘perjalanan waktu’.
Dengan demikian, diakronis dapat diartikan sebagai peristiwa yang dalam prosesnya melewati atau melintasi perjalanan waktu karena subjek dalam sejarah berhubungan dengan segala sesuatu dalam sudut pandang waktu.
Suatu peristiwa sejarah tidak berdiri sendiri, tetapi pasti diiringi oleh peristiwa sebelumnya atau yang sering disebut dengan sifat kausalitas (sebab-akibat). Dalam kata lain, berpikir diakronis harus bisa menjelaskan peristiwa secara kronologis dan kausalitas.
Bahkan, hingga bagaimana peristiwa tertentu berkembang/berlanjut.
Selain itu, cara berpikir diakronis dalam mempelajari sejarah artinya sejarah itu memanjang dalam waktu, sedangkan ilmu-ilmu sosial biasanya bersifat sinkronis yang artinya melebar dalam ruang.
![]() |
| Pembacaan Proklamasi oleh Soekarno |
Cara berpikir sinkronis sangat memengaruhi kelahiran sejarah baru yang sangat dipengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial. Pengaruh tersebut dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu konsep, teori, dan permasalahan.
Cara berpikir sinkronis dalam mempelajari sejarah, yaitu meneliti gejala-gejala yang meluas dalam ruang, tetapi dalam waktu yang terbatas. Kedua ilmu ini (sejarah dan ilmu sosial) saling berhubungan.
Contoh soal USBN sejarah konsep diakronis dan sinkronis cek di link berikut: Soal Sejarah USBN

















